Agung's posts with tag: tophits

S atu setengah tahun yang lalu, gue cuma tau kode html untuk bikin
tulisan bold dan italic. Sekarang, bermodalkan latihan di MP dan nanya
sana-sini, ternyata bisa juga gue mengutak-atik CSS. Padahal
berdasarkan tes IQ, gue dinyatakan punya kemampuan analisa non-verbal
yang 'cukup' (istilah halus untuk 'pas-pasan'), atau dengan kata lain
otak gue sebenernya nggak didesain untuk memahami kode-kode ajaib HTML
dan CSS. Kesimpulannya: kita bisa menguasai bidang apa aja, asal kita
mau belajar - terserah apapun kata tes IQ.
Berbekal kesimpulan tersebut, maka hari Sabtu kemarin gue mulai belajar sesuatu yang baru: main gitar! Sebenernya
sih udah lama gue kepingin menguasai alat musik yang satu ini, tapi
nggak kebayang gimana caranya menyelipkan jadwal kursus di tengah
jadwal yang udah numpuk ini. Jadi bertahun-tahun niat kursus main gitar
cuma sekedar niat doang.
Bulan lalu, Kanta, keponakan gue yang sekarang duduk di kelas 1 SMA,
ikutan kursus gitar di Purwacaraka cabang Cikini. Lokasi yang cukup
deket dengan rumah, jadwal pertemuan yang cuma 1 x 45 menit / minggu
dan di hari Sabtu pula, bikin gue teringat niat lama dan
akhirnya...memutuskan untuk ikutan daftar!
Istri tercinta nggak abis2nya ngetawain suaminya yang udah tua bangka
ini berangkat les gitar bersama keponakan yang masih SMA. Udah mana
kursus tersebut kayaknya membidik pangsa pasar pelajar sehingga di form
pendaftaran ada isian "asal sekolah", "kelas", dan "nama orang tua".
Mbak-mbak petugas pendaftaran juga nampaknya setengah nggak percaya
mendengar hubungan antara gue dan Kanta.
"Ini siapanya?"
"Oom."
"Ini, oomnya Kanta?"
"Iya."
"Mau ikutan kursus di sini?"
"Iya, boleh kan?"
Tentu aja boleh, walaupun aneh. Sebagai akibatnya, semua orang di sana,
mulai dari mbak2 petugas pendaftaran sampe guru kursusnya, manggil gue
"oom" - saking pada bingung mau manggil apa dan belum pernah punya
murid setua ini.
Kemarin kursus pertama gue, dan hari ini gue beli gitar di Gunung Agung biar bisa latihan di rumah.
Ya, gue mulai kursus gitar.
Setua ini.
Karena gue yakin apapun bisa dipelajari, selama kita mau.
Ada yang mau gabung?


Menjawab pertanyaan Ima di journalnya Wiku, inilah manfaat yang gue rasakan setelah 1,5 tahun ikutan MP:
- Promosi dagangan VCO secara mudah dengan jangkauan luas. Sekitar 30% pembeli VCO gue mengaku mendapatkan informasi dari internet, salah satunya ya section market di MP gue ini.
- Belajar dan berlatih html secara menyenangkan.
Dulu waktu pertama kali join, mau bikin hyperlink aja musti liat
contekan dulu. Sekarang bangsanya kode styling aja mah bisa langsung
ketik, nggak butuh frontpage
- Belajar dan berlatih nulis. Dari reply-reply di MP, gue dapet feedback sebagai acuan untuk terus belajar nulis.
- Dapet surprise party waktu ultah, untuk pertama kali dalam hidup gue. Memang pemrakarsanya adalah istri tercinta, tapi jadi lebih seru dengan kehadiran tim rusuh MP!
- Bisa nyobain main paintball. Temen2 kuliah / kantor rata2 udah merasa ketuaan untuk main paintball, untung masih ada tim rusuh MP.
- Dapet "kado" pernikahan yang berkesan banget. Thanks for coming, guys! It was a day full of magical moments.
- Pergi ke kota manapun, bisa ketemu temen. Di Bandung bisa ketemu Tei, di Bali ketemu Deky...
- Dapet inspirasi untuk bikin proposal unik ke Ida

- Dapet informasi berharga sehingga nggak repot waktu perpanjang SIM!
- Punya sekumpulan tester untuk game-game baru.
Sebuah game nggak akan ketauan seru atau enggaknya sebelum diujicoba.
Thanks to tim rusuh MP yang udah jadi tester game waktu di kopdar
Cipanas.
- Ngerasain malam tahun baru paling seru seumur hidup gue!
- Bisa masuk Detikinet

- Bisa dapet info tentang nonton bareng Voltus, yang akhirnya memperkenalkan gue dengan Noer yang selalu segar. Nggak nyangka gue bisa nonton lagi salah satu serial paling inspiratif dalam hidup gue.
- Bisa beli voucher hotel murah... dan ngajak istri jalan-jalan ke Bali.
- Yang paling penting: bisa dapet sekumpulan temen baru
yang beraneka ragam latar belakangnya, sehingga bisa dapet pengalaman
baru, belajar hal2 baru dari mereka, dan hmmm... dinamika interaksinya
lebih seru dari telenovela. Kadang yang offline lebih heboh daripada
yang online!
Gimana dengan kalian, manfaat apa yang udah didapat dari Multiply?
Apaa... belum join MP? Buruan gih daftar... buruaan... ga nyesel deh!
Keterangan foto: gue, di warnet Atheroz Bandung, sepulang resepsi kawinan temennya Ida tanggal 25 Feb 2006 jam 23.22. Istri sampe bete nungguin.


Hari 2 Watersport idaman Ida Mencicipi
sarapan pertama di hotel. Yah, mungkin karena target market yang beda
dengan hotel2 di Kuta, sarapan di sini sangat Europe-oriented banget.
Perut melayu gue cuma menemukan nasi dan bihun goreng sebagai teman
favoritnya. Sedangkan sisanya, makanan2 bule seperti bacon dan sereal.
Mana baconnya bacon 'betulan' lagi, bukan beef bacon! Untuk urusan
sarapan, kelengkapan menu dan rasa masih diungguli oleh Hotel Alam Kulkul.  Baru bangun, langsung sarapan Habis
sarapan, Ida berenang-renang sementara gue keluyuran menjelajahi daerah
di sekeliling hotel. Banyak tempat yang menawarkan watersport, salah
satunya Flying Fish idaman Ida. Ida ngeliatin orang-orang yang main Flying Fish, hilir mudik sampe membal-membal di atas air, dengan tampang kepingin. "Orang hamil nggak boleh ya main itu?"
"Yah... mengingat di Jakarta aja kamu nggak mau naik bajaj karena
terlalu banyak getaran, aneh aja kalo tau2 di sini kamu main gituan..." "Yah.... tapi nanti kalo udah nggak hamil lagi kan bisa ya main itu ya... "
"Iya, tapi nantiiii... tau deh berapa tahun lagi... makanya sekarang
puas-puasin jalan-jalan, mungkin ini terakhir kalinya kita bisa
jalan-jalan bebas kaya gini sampe beberapa tahun yang akan datang." "Yah, kamu jangan bilang ini jalan-jalan terakhir dong... emangnya kamu nggak mau ngajak anaknya jalan-jalan di Bali?" "Emangnya kamu mau ngajak bayi merah keluyuran panas-panasan di Bali?" "Hu-uh!" "Hu-uh!" Abis
berenang, kami mencoba meja ping-pong yang tersedia di deket kolam.
Terus terang seumur-umur gue belum pernah main ping-pong, dan nampaknya
demikian pula halnya dengan Ida. Jadi permainan ping-pong kami siang
itu lebih banyak diisi dengan acara mengejar bola ke sana sini. Rupanya
permainan kami diamati secara senewen oleh para mas-mas penjaga handuk
di deket kolam, sampe akhirnya mereka ngomong, "Pak, apa nggak mending
istrinya diajak main bilyar aja, kan kesian kepanasan..." Yaudah,
kami pindah ke meja bilyar. Lagi-lagi nggak ada satupun dari kami yang
berpengalaman main bilyar, cuma modal sok tau aja. Ida sih merasa tau
peraturan permainan bilyar, yang menurut dia adalah sebagai berikut: 1. Bola dalam susunan segitiga boleh dipukul sembarangan, asal pecah aja.
2. Kalo dari formasi awal ada bola yang masuk ke lubang, pemain boleh
mukul lagi. Kalo nggak ada yang masuk, giliran pindah ke pemain lawan. 3. Bola yang jadi sasaran adalah bola dengan nomer terkecil yang belum masuk ke lubang. 4. Giliran berpindah kalo pemain gagal memasukkan bola saat dapat giliran mukul.
5. Kalo lawan mendapat giliran dari pemain yang gagal memasukkan bola
DAN gagal mengenai bola sasaran, maka pemain tsb bebas
memindah-mindahkan bola putih ke posisi yang dianggap paling strategis.
6. Kalo saat mau mukul banyak bola yang berserakan / mengganggu posisi
tangan, maka bola2 tersebut boleh disusun ulang agar keadaan menjadi
cukup nyaman / tidak ribet untuk memukul. Terus
terang peraturan tersebut, khususnya poin 5 dan 6 terdengar
mencurigakan buat gue, tapi berhubung gue nggak tau sama sekali gimana
peraturan aslinya, maka ya terpaksa nurut aja deh. Permainan berakhir
dengan bola lebih banyak dimasukkan oleh gue, sementara Ida ngambek
nggak mau main lagi. Nggak kerasa pas liat jam udah lewat
waktu makan siang, maka kami memutuskan untuk mulai mencari mobil
sewaan. Abisnya, belajar dari pengalaman semalem, ongkos taksi PP
menuju ke keramaian sama dengan ongkos nyewa mobil selama 48 jam. Berhubung
daerah ini lebih sepi dari Kuta, tempat penyewaan mobilnya juga lebih
terbatas dan akibatnya lebih jual mahal pula. Karimun yang gue inget
banget di bulan Desember gue sewa seharga 120 ribu per hari, di sini
ditawarin dengan harga 165 ribu. Itu juga udah harga untuk turis lokal,
kata pemilik mobilnya. Untuk bule 195 ribu per hari. Yea right.
Langsung gue tinggal nyari tempat penyewaan lainnya dan akhirnya
memutuskan untuk nyewa Katana aja seharga 100 ribu. Setelah punya mobil, kami segera meluncur ke Denpasar. Ayam Taliwang idaman SBY  resto Taliwang Baru langganan Ida Tadinya
sih kami mau nyobain nasi-something yang direkomendasikan lengkap
dengan alamatnya oleh Shanti, tapi ternyata udah hampir jam 4 sementara
kata Shanti jam 2 aja tuh nasi udah hampir abis. Jadinya ganti tujuan,
kali ini menuju ke resto Ayam Taliwang yang lokasinya nggak jauh dari
mantan rumah Ida waktu tinggal di Denpasar dulu. Nggak
nyangka, ternyata resto sederhana ini adalah kegemaran presiden SBY.
Dindingnya dihiasi beberapa foto kunjungan SBY ke sana, lengkap dengan
tanggalnya. Keliatannya SBY udah sering dateng ke sini sejak sebelum
jadi presiden. Hmm... nggak kebayang kaya apa ribetnya situasi di sini
kalo pas lagi dikunjungi SBY, mungkin nggak ngerima tamu umum kali. Ida
bernostalgia, dulu waktu masih tinggal di seberang resto ini sering
diutus ibunya beli ayam di sini untuk lauk di rumah. Menu ayam di sini
rada unik: ayam dijual per ekor, nggak bisa pesen sepotong-sepotong
kaya di KFC. Ternyata ayamnya kecil-kecil... udah ayamnya memang ayam
kampung, nampaknya masih remaja pula... kasian, mereka belum lama
melihat indahnya dunia udah keburu naik pemanggangan.Uniknya lagi,
resto ini menyediakan odol di wastafel dengan sebuah pengumuman
tertempel di kaca: untuk menghilangkan bau terasi, gunakan odol... hehehe... dan setelah gue coba, ternyata odolnya nggak terlalu efek juga tuh. Kenyang
makan, Ida masih terobsesi nonton sunset. Terakhir kali kami ke Bali
bulan Desember kan musim ujan tuh, hampir tiap hari mendung melulu plus
kami juga lebih banyak jalan-jalan sehingga pas sunset selalu lagi
berjauhan dengan pantai. Kali ini kami berhasil mencapai pantai sekitar
jam 5 lewat, dan surprised ngeliat situasinya yang jauh lebih rame.
Di satu sisi gue turut gembira karena ini menandakan pariwisata Bali
udah berangsur pulih, sementara di sisi lain sebel juga karena nyari
parkir jadi susah.  Anjing pinter di pantai Kuta Dasar
apes, walaupun kali ini cuaca cerah, tetep aja nggak bisa liat sunset
utuh karena di sekitar horizon banyak awan tipis ngeriung... yah tapi
lumayan lah, pemandangannya cukup bagus juga kok. Yang menarik, gue
ngeliat seekor anjing yang pinter banget. Entah sengaja dilatih atau
emang bisa sendiri, anjing itu berkeliaran ke sana ke mari untuk
nyari... sampah! Dia gali2 pasir, dan kalo nemu sampah berupa botol
minuman plastik dia serahin ke majikannya. Lucu juga kali ya, kalo
anjing-anjing liar di Bali dilatih melakukan hal yang sama. Lumayan
buat jaga kebersihan pantai, sekalian buat contoh bagi para turis bahwa
anjing aja ngerti bahwa sampah nggak boleh dibuang sembarangan. .. Setelah
matahari nggak keliatan lagi, kami jalan-jalan ke Starbuck untuk beli
kopi, trus balik lagi ke pantai untuk ketemuan sebentar dengan temen
kantor gue yang kebetulan juga lagi liburan ke Bali. Dia bener-bener
liburan full, ikutan tour jalan-jalan ke seluruh penjuru Bali dan hari
itu baru balik dari Tanah Lot. Sekitar jam 7, kami beranjak dari Kuta. Mal idaman gue Dulu
waktu gue menginjak Bali untuk pertama kalinya, gue ngelewatin mal Bali
Galeria dan udah kepingin mampir ke sana. Tapi sayangnya anggota
rombongan yang lain pada memveto keinginan gue tersebut. "Udah
jauh-jauh sampe Bali masa mampirnya ke mall lagi sih? Dasar anak mall!
Udah, ke mallnya nanti aja kalo udah pulang ke Jakarta." Waktu
itu memang hidup gue susah dipisahkan dengan mall. Entah kenapa kalo
udah masuk mall rasanya hati gue tenteram banget walaupun cuma
muter-muter seharian tanpa beli apa-apa. Tapi apa daya gue kalah suara
dengan yang lain, jadi keinginan tersebut terpendam sampe sekarang.
Nah, berhubung perjalanan pulang dari Kuta menuju Nusa Dua melewati mal
ini, maka gue memutuskan untuk mampir ke sana. Akhirnyaa... bisa juga
mampir ke Bali Galleria, yipiii... :-) Sayangnya, kadang
saat menjadi nyata sebuah impian tak seindah yang dibayangkan
sebelumnya. Mal itu ternyata nggak seindah tampak luarnya. Udah mana
AC-nya gerah, lagi. Trus di tengahnya ada sebuah air mancur raksasa
yang berisik banget. Toko-tokonya nampak rindu order. Yang keliatan
rame cuma Gramedia. Tapi, seperti halnya Gramedia Matraman dan Merdeka
Bandung yang pernah gue kunjungi, di sini nampaknya berlaku kebijakan
hemat energi - khususnya energi untuk menyalakan AC - sehingga
situasinya jauh lebih gerah daripada di luar. Abis dari sana kami langsung pulang dan tidur cepet, berharap bisa nonton sunrise besok pagi.
Bersambung


I used
to hate kids. Even when I was a kid, I hate other kids. Kondisi
di mana jarak usia gue dengan kakak2 gue terpaut cukup jauh (8 tahun
dengan
kakak yang di atas gue langsung) membuat gue terbiasa hidup steril dari
interaksi dengan anak-anak lain. Ditambah lagi, kebetulan gue tinggal
di daerah
yang minus anak-anak. Di rumah gue terbiasa baca, nggambar, atau main
robot-robotan sendirian. Di sekolah, gue lebih suka menyepi di
perpustakaan
karena kurang tertarik berinteraksi dengan anak-anak lain. Gue
sedemikian
akrabnya dengan ibu tua penjaga perpustakaan sampe suka dikasih bonus
poster
dari majalah Sigma. Kalo
rumah gue kedatangan tamu anak2nya saudara, gue bete setengah mati. Rumah jadi
berisik, dan parahnya selalu adaaaa... aja mainan gue yang mereka rusakin.
Masih untung kalo cuma rusak, seringkali waktu mau pulang anak-anak itu jadi
rewel minta dikasih kenang-kenangan barang satu potong mainan. Mainan GUE. Ibu
selalu berusaha memberi pengertian bahwa gue harus berbagi dengan mereka yang
mainannya nggak sebanyak gue, tapi menurut pikiran gue waktu itu: soal
punya mainan banyak atau enggak, itu kan problem mereka, kenapa juga harus gue
yang ikutan jadi susah? Waktu
kuliah, jurusan paling berat bagi gue adalah Psikologi Perkembangan karena gue
harus berurusan dengan klien-klien anak-anak. Anak-anak adalah makhluk yang
paling sulit diajak berkomunikasi, nggak bisa ditebak tindakannya, dan
potensial merusak barang-barang. Sebuah divider ruangan di klinik LPT
Salemba pecah gara2 ulah klien2 gue. Baca di
sini kalo mau tau cerita lengkapnya. Sebagai
oom, gue adalah sosok kontroversial buat keenam keponakan gue. Di satu sisi gue
begitu menarik karena punya banyak mainan, bisa nggambar, dan bisa jadi lawan
seimbang untuk main Playstation, di sisi lain gue galaknya setengah mati. Pernah
suatu kali keenam anak ini meminjam mainan-mainan action figure Starwars gue,
dan entah gimana tau2 gue menemukan kepalanya Han Solo udah nggeletak di
lantai. Langsung enam-enamnya gue sidang di dalam kamar, nggak boleh ada yang
keluar sebelum ngaku siapa pelaku yang telah memenggal Han Solo gue. Hasilnya
bukannya ngaku malah pada nangis... semuanya... enam-enamnya... sehingga nggak
lama kemudian ibu-ibunya pada masuk satu per satu ke kamar untuk menjemput
anaknya yang bergelimang airmata campur ingus sambil sakit hati atas kekejaman sang
oom nan bengis. Waktu
pertama kali kenal sama Ida, gue langsung tau bahwa persepsi terhadap anak-anak
akan jadi perbedaan yang cukup besar di antara kami. Menurut Ida, anak-anak
adalah makhluk-makhluk lucu yang menggemaskan, sedangkan menurut gue mereka adalah
makhluk-makhluk ajaib yang sulit dimengerti dan menjengkelkan. Sengaja gue
sering bikin Ida senewen dengan ide-ide gue tentang anak-anak. Mulai dari
konsep marmut
vs anak-anak, sampe rencana2 yang akan gue lakukan
terhadap anak2 gue kalo mereka nakal. Misalnya,
pada suatu hari gue dan Ida jalan-jalan di Taman Lembang dan gue bilang, "Taman
ini cocok sekali lho untuk ngajak jalan-jalan anak-anak..." "Iyaaa..."
kata Ida excited, "Banyak mainannya ya, anak-anak pasti
senang...!" "Bukan...
tapi karena di tengahnya ada danau. Kalo anaknya rewel atau banyak cingcong,
tinggal cemplungin sebentar di danau biar kapok." ...atau... "Ya
ampuuun... liat deh kereta bayi ini, lucu sekali ya...?" kata Ida "Jangan
cuma liat keretanya, liat juga dong label harganya, amit-amit. Tau nggak,
daripada beli kereta bayi mahal gini, mendingan anak kita nanti dibeliin container
plastik yang di Carrefour tuh... kan ada rodanya, anaknya taro aja di dalem
situ, tinggal kasih tali, trus diseret deh. Harganya nggak sampe 60 ribu." ...atau... "Liat
deh, itu bapaknya lagi nggendong bayinya, keliatannya dia sayang sekali ya sama
anaknya..." (kata Ida dengan nada menyindir) "Iya
tapi liat dong betapa merana tampangnya, pasti dia kurang tidur." ...atau... (waktu
lagi jalan-jalan ke Bali) "Bayangin
dong kalo kita jalan2 ke Bali gini sambil bawa anak... wuiii... kayak apa tuh
repotnya. Bagasi pasti overweight, belum lagi ntar anaknya rewel di pesawat,
nangis nggak brenti-brenti bikin malu orang tua, trus kita nggak bisa
jalan-jalan ke mana2 karena takut anaknya kepanasan, cari tempat makan juga harus
milih yang menunya bisa dimakan sama anak-anak, mau berduaan taunya anaknya
ngompol..." Seringkali
celetukan sinis gue suka bikin Ida senewen beneran mengkhawatirkan nasib anak-anaknya
kelak, tapi sebenernya gak gitu2 amat lah. Sejak awal kenal Ida gue udah tau
bahwa konsekuensi mengawini seseorang yang begitu tergila-gila pada anak-anak
adalah someday kehidupan gue akan dimasuki oleh anak-anak - entah anak sendiri
atau adopsi. Lagipula, dari hasil
interaksi baik dengan keenam keponakan maupun klien2 bocah, sedikit-sedikit gue
mulai menemukan sisi-sisi menarik dari anak-anak. Gue menemukan bahwa
ternyata gue bisa belajar untuk mencintai tanpa syarat dari anak2. Anak-anak
mampu menyayangi seseorang "just because"... kalau
mereka memilih untuk menyayangi seseorang, ya mereka akan menyayangi orang itu
- apapun balasan yang mereka terima. Seorang klien gue di psikologi
perkembangan adalah anak berusia 5 tahun yang kekejaman ibu kandungnya melebihi
fantasi para penulis skenario film ibu
tiri. Anak itu setiap hari disabet rotan, dicubit, ditempeleng, dan disundut
rokok. Disuruh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat sejak bangun pagi sampe
malem, dan kalo salah sedikit aja disiksa. Toh setelah digali melalui wawancara
mendalam dan serangkaian tes, anak itu sama sekali nggak menyimpan dendam
kepada ibunya. Dia tetap sayang. Takut mungkin, tapi dia tetap menyayangi
ibunya yang kejam itu. Walaupun
sering gue marahin, keenam keponakan gue sayang banget sama gue. Waktu gue ulang
tahun ada satu yang ngasih kado bros beli di warung mainan depan
sekolah, pake uang sakunya sendiri. Ada juga yang kalo dibeliin kaos gambar
tokoh2 komik / starwars, minta dibeliin satu lagi yang ukuran besar
"untuk oom Agung, karena oom Agung pasti suka". Di sisi lain,
mereka
juga nggak mempan disuap. Lo mungkin bisa menyenang-nyenangkan hati mereka dengan
ngasih mainan, coklat, atau sogokan lainnya, tapi selama mereka belum
memutuskan untuk menyayangi elo, ya mereka nggak akan menyayangi elo. Being
loved by kids, is a gift from God. =$$$= Kamis
lalu, penjelasan dokter mengabarkan bahwa Tuhan sedang mengirimkan hadiahNya
untuk gue. Mungkin gue nggak se-excited Ida dalam menyambut kehadiran sosok
yang mungkin akan menghancurkan seluruh mainan starwars gue, but I'm willing to
learn. I'm happy - I'm happy because God grants me this kind of responsibility
- and I'm happy for her.


Sinemaindonesia
(selanjutnya gue tulis SI ajah, pegel bok nulisnya) adalah salah satu
account yang wajib gue kunjungi setiap kali abis ada launching film
Indonesia baru. Posting-posting user ini sebagian besar dalam bentuk
review, dan yang direview selalu cuma film Indonesia. Tadinya,
gue tertarik dengan review2nya SI karena sudut pandangnya yang kritis,
dan dibawakan dengan gaya yang sarkas tapi lucu. Contohnya kutipan dari
film "Sebut Namaku 3X" ini: " ...Yang
kami dapatkan adalah setan perempuan yang harus masuk ke tubuh seorang
cewek SMA untuk bisa membalas dendam karena diperkosa di toilet
sekolah. Agak aneh. Karena ketika kami masih SMA, untuk merokok sebatang bertiga saja selalu ketahuan...
" SI juga sempet diulas di detikinet,
dan disebut sebagai review film yang bisa "menyorot sinema lokal tanpa
harus jadi filsuf". Baca reviewnya SI kadang bikin gue mengingat
bagian-bagian film yang pernah gue tonton dan bikin gue mikir lagi,
"iya juga ya... tapi waktu nonton gue nggak kepikir ke sana..." Buat
gue, review SI jadi semacam pembanding karena mereka mampu menyajikan
perspektif yang beda dengan gue. Tapi lama kelamaan,
akhirnya gue harus mengakui bahwa review SI jadi terkesan seperti
dipaksakan untuk lucu / sinis, padahal filmnya nggak separah itu.
Kadang ungkapan yang mereka gunakan jadi terlalu berlebihan. Ambil
contoh review mereka tentang film Psikopat: " Gambar burem, seolah-seolah film ini disyut dengan menggunakan lensa yang terbuat dari plastik. Dan kami semua di Sinema Indonesia bakal rela patungan buat memberi editornya duit per bulan. Asal saja dia mau berhenti bekerja sebagai editor.
"
Mungkin maksudnya sekedar lucu-lucuan, tapi jelas ini arogan banget.
Dengan kata lain, kalimat itu kan berbunyi : "udahlah, lo nggak becus
kerja, mending besok-besok nggak usah kerja lagi aja sama sekali." Belakangan gue menangkap kecenderungan SI ke arah sana: mereview
film sekedar untuk nyela dan mengolok-olok, bukan untuk ngasih
penilaian yang obyektif. Parahnya lagi, sekalipun isi posting2 mereka
penuh dengan celaan ke sana dan ke sini, mereka sendiri kayaknya alergi
banget dengan yang namanya kritik. Kalo ada reply yang nggak setuju
dengan pandangan mereka, atau penilaian yang lain dengan penilaian mereka,
akan disebut "flammers" dan buntutnya kena delete. Terus terang lama kelamaan gue jadi nggak terlalu 'respek' lagi dengan penilaian SI. Kasus terakhir yang paling heboh adalah review mereka tentang film Jomblo.
SI menganugerahi 2 kancut* untuk film ini, sementara ternyata para
pengunjung mereka cukup banyak yang suka. Reply2 di review Jomblo ini
terpecah dua, sebagian setuju dengan SI, sebagian lagi menganggap film
ini lumayan - bahkan menghibur. Lagian namanya juga film, orang akan
bicara soal selera di sini. Film yang buat sebagian orang jelek, bisa
aja bagus banget buat sebagian orang lainnya. Fenomena seperti itu kan
lumrah banget. Yang nggak lumrah adalah, SI kembali mengadakan
pembersihan besar2an atas reply2 para pengunjung - lagi2 dengan dalih flammers.
Sebuah tindakan yang malah mengundang reaksi lebih keras dari para
pengunjung. Lagian, siapa sih yang seneng kalo replynya didelete? Malam ini gue kembali login ke sana, dan surprised banget saat menemukan box ini di review film Jomblo:
Lho... lho.. lho, kenapa nih? Apa bener SI lantas membubarkan diri
begitu aja, hanya karena tipis kuping menerima reply orang atas celaan2
mereka sendiri? Gue nggak tau pasti. Tapi kalo memang itu
yang terjadi, paling enggak gue pribadi - sebagai orang yang juga suka
bikin review aneh2 tentang film indonesia - bisa introspeksi dan
diingatkan kembali bahwa "What goes around, comes around"
Kalo memang lo segitu demennya nyela, siap2lah untuk dicela balik.
Nggak kepingin dicela? ya jangan nyela. Sesederhana itu, sebenernya. Makasih ya SI... atas pelajaran berharga yang lengkap dengan contoh nyatanya. *sistem
rating ciptaan SI untuk film2 yang dinilai jelek, dari 1 kancut sampe 5
kancut. Makin banyak kancutnya, makin jelek filmnya.


F ilm Jomblo jadi salah satu film yang
gue tunggu-tunggu, karena gue ngikutin perkembangan beritanya dari awal sekali.
Gue ngikutin waktu milis PSTC heboh
denger rencana pembuatan film Jomblo, yang berlanjut dengan spekulasi seru tentang
siapa pemain yang pas membawakan tokoh2 di novel itu. Sempet muncul nama Udjo
Project P sebagai kandidat pemeran Agus dan Tika Panggabean sebagai Teh Guti,
tapi entah kenapa nggak jadi. 'Sayembara' untuk nyari pemain juga pernah gue
posting di
sini. Udah gitu, gue juga sempet nonton
shootingnya yang kebetulan berlokasi nggak jauh dari rumah gue. Waktu itu yang
diambil adalah adegan si Agus nyolokin kabel telepon ke listrik sama adegan dia
pamitan mau dugem ke Teh Guti. Gue juga denger beberapa gosip yang menyebutkan
film Jomblo udah beredar duluan sebelum tanggal edarnya, dan bahwa film ini
ternyata jeleknya bukan main. Belum lagi pemberitaan tentang film Jomblo di
majalah Cinemags yang gencar banget, bikin makin penasaran aja. Makanya,
waktu denger film Jomblo akan turun ke bioskop tanggal 9 Februari, gue langsung
berencana untuk nonton di hari pertama pemutaran. Ide untuk ngajak anak2 MP
muncul spontan aja, "seru kali ya, kalo
nontonnya rame2.." tanpa bermaksud
mendahului jadwal nonton bareng MP yang terdaftar di jurnal
ibu bupati. Ida memposting rencana
nonton dadakan ini dan mendapat respon yang lumayan. 13 calon penonton menyatakan
berminat, dan kebetulan Shanti yang
kantornya "cuma
sekedipan mata" dari
Setiabudi Building menyanggupi untuk beli tiket duluan. terjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan sampe sekarang, yaitu... Hari
H, siang. Beberapa kali gue SMS-an sama Shanti soal pembelian tiket dan pemberitahuan
bahwa ternyata dia dan Alan nggak bisa ikutan nonton yang jam 20.30 bareng kita
karena 'boss Iyog' di rumah bisa ngamuk kalo ditinggal kelamaan. Selain itu
juga terjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan sampe sekarang, yaitu adanya
'donatur misterius' yang menjadi penyandang dana bagi Soraya! Sampe
hari ini identitas donatur misterius itu masih belum diketahui, termasuk oleh
Soraya-nya sendiri. Sempet gue mengira sang donatur adalah seorang anak MP yang
saat gue konfirmasikan kepada ybs langsung dibantah. Hmm... jadi siapa ya donatur
misterius tersebut? Hanya Shanti yang tau dan dia sama sekali nggak mau ngebocorin.
Hari
H, malem. Gue sampe di Setiabudi Building sekitar jam 7 kurang. Memang filmnya
baru akan main jam 20.30, tapi setahun pengalaman di kantor yang sekarang
mengajarkan gue sebuah pepatah berharga: "Tundalah
apapun semaumu, asalkan jangan menunda PULANG".
Contohnya: niat
pulang udah timbul jam 5, tapi tergoda syaiton untuk santai2 dan browsing
internet sejenak, berakhir dengan munculnya seseorang bertampang panik yang
berkata "Ooohhh... thanks God elo belum pulang Gung, ini ada =blablabla= yang
gue barusan dapet dan harus disiapin untuk besok pagi-pagi sekali , jadi harus
selesai malam ini - ditunggu sama boss..." - or something
like that, dan entah gimana endingnya selalu gue
baru nyampe rumah jam 12 malem. Rule of thumb: begitu ada niat pulang,
pulanglah segera. Never look back. And
don't forget to turn off the cellphone. Baru
mendarat di Setiabudi Building, langsung ketemu sama Wiku yang
celingukan bingung mau ngapain. Langsung aja gue ajak nongkrong di Frankfurter,
tempat janjian ketemu sama Ida yang baru mau berangkat dari rumah. Nggak lama
kemudian Ari
bupati nongol, yang mana membuat gue mulai
panik dan nelepon Ida, "Kamu dah sampe mana? Buruan, bentar lagi aku
jadi obat nyamuk nih... !" Nggak
lama kemudian Eriq si adik bungsu kita bersama dateng, disusul kemunculan
Sigit, terus bareng2 makan hotdog bongsor Frankfurter yang gondrong dengan
parutan keju parut, lantas naik ke bioskop jam 8 lewat. Ketemu dengan Shanti
dan Alan yang
baru keluar. "Bagusss banget filmnya," kata
Shanti. Jam
20.20, semua anggota udah lengkap kecuali Bayu dan Ade.
Cinta kami
memang sehidup semati, dalam susah dan senang, - kecuali untuk urusan nonton
film Jomblo. "Bayu dan Ade gimana nih
yang?" kata Ida sambil berjalan ke pintu teater 4. "Bentar,
aku coba telepon dulu," jawab gue. Bayu
menjawab telepon dengan latar belakang suara kebisingan lalu lintas, "ya,
ya... sebentar lagi, kami di seberang Setiabudi..." katanya. OK sip,
cepetan ya, kata gue. Gue
tutup telepon, abis itu... loh... mana Ida? Yak... ternyata gara-gara film
Jomblo Ida sayangku cinta permata hatiku telah tega meninggalkan suaminya di
depan pintu teater... mana tiket gue dibawa sama dia, lagi! Gue telepon ke HP,
baru Ida nongol lagi. Itu juga cuma buat ngasih tiket doang, abis itu masuk lagi...!
Cinta kami memang sehidup semati, dalam susah dan senang, - kecuali untuk
urusan nonton film Jomblo. Untunglah
Bayu dan Ade muncul nggak lama kemudian, jadi masih kebagian nonton beberapa
trailer. X-Men III nampak cukup potensial untuk jadi pilihan nonton bareng MP,
bagaimana ibu PJ?
Habis itu film dimulai, disambut rombongan MP dengan TEPUK
TANGAN serasa nonton di bioskop Rivoli.
Soal
filmnya, rasanya gue udah terlalu bias untuk mereview jadi mendingan nggak usah
aja kali ye. Yang jelas Shanti ngasih bintang
empat di reviewnya. Soraya, sama sekali nggak
mengecewakan donatur misteriusnya karena nampak sangat 'terlibat' selama film
berlangsung. Beberapa kali terdengar dia menjawab / berkomentar sendiri,
misalnya: [adegan:
Agus berantem sama Rita yang lagi terbakar cemburu] Tokoh
Rita: "Ngapain coba kamu pake acara nganter2in cewek itu...!" Tokoh
Agus: "Tapi kan waktu itu udah jam 3 pagi...!" Tokoh
Rita: "Terus kenapa? Wajar kan cewek pulang sendiri jam 3 pagi?!" Soraya:
"Ya enggak dong, gimana sih!" atau [Adegan2
yang menampilkan tokoh Doni si playboy] Soraya
menggerutu: "Ih sembarangan amat... dasar cowok suka seenaknya sendiri!" Seandainya
sutradaranya ikutan nonton di sebelah Soraya, pasti dia menitikkan air mata
haru melihat penghayatan penonton yang setinggi ini. Film
selesai, dan rata2 rombongan MP memberikan 3 bintang atau lebih atas film ini.
Habis itu, sesuai permintaan Ari -
Harigini yang nggak ikutan nonton tapi bersedia
nimbrung kalo pada mau pintong (istilah
yang baru kali ini gue denger), rombongan minus Soraya, Bayu dan Ade beranjak
ke rumah gue. Mampir dulu di Alfamart 24 jam Duku Atas untuk mengisi perbekalan,
baru lanjut ke rumah. Ari Harigini ternyata udah duluan nyampe dan lagi bengong
di depan pager sambil bete. Seperti
biasa di rumah gue acaranya nggak jauh dari login ke MP dan foto-foto. Khusus
buat Eriq, malam itu menjadi malam bersejarah karena account MP-nya diupgrade
ke Gold Account. Bayu tanpa Ade bergabung lagi. Lewat
tengah malam, Eriq si adik bungsu mengalami kecelakaan kecil saat iseng
memasuk-masukkan jari ke kuping cangkir DAN
NYANGKUT NGGAK BISA LEPAS LAGI. Persis seperti
yang suka menimpa anak2: masuk2kin kepala ke celah pegangan tangga habis itu
nyangkut. Dengan panik Eriq berusaha membebaskan jarinya, adu cepat dengan Wiku
yang lagi menyiapkan kamera untuk mengabadikan kejadian langka ini. Tapi sayang
sekali saudara-saudara... Eriq lebih gesit mencapai wastafel dan berhasil
membebaskan jarinya dengan bantuan kucuran air sebelum Wiku berhasil
menjepretkan kamera. Sekitar
jam 3-an, Ari Bupati, Ari Harigini, Wiku dan Eriq pulang sementara sisanya
meneruskan sampe pagi. Bener-bener acara nonton paling seruuu...! Kalo pesertanya
lebih banyak lagi, kayak apa ramenya ya...
Foto-foto lengkap nonton bareng Jomblo bisa diliat di sini.

 PENGUMUMAN: Ternyata posting gue yang satu ini beredar luas di jagad maya lewat milis dan blog. Mau baca lebih lanjut? Klik di sini. Stapler adalah benda berguna yang sering membantu kita. Mulai dari orang kantoran sampe tukang manisan, semua merasakan manfaatnya. Kalo sampe ilang serasa bencana Orang yang suka minjem stapler dan ga balikin, terancam sanksi sosial berupa dicuekin di kantin. Stapler memegang peranan penting dalam kehidupan. Tapi apa balasan kita? Boro-boro menghargai, ngasih nama yang jelas aja enggak. Benda malang ini telah lama hidup dengan nama yang sangat ambigu. Kadang memang kita menyebutnya stapler, sesuai nama aslinya. Tapi nggak jarang kita telah melekatkan nama-nama yang kurang terhormat bagi pembantu setia ini. Sebut saja misalnya CEKREKAN, CEPRETAN, JEGREKAN, bahkan ada yang menyebutnya CEPROTAN. Keterlaluan sekali bukan? Benda ini pasti punya nama resmi dalam bahasa Indonesia. Masalahnya, namanya apa? Jawabannya gue temukan dari majalah Tempo edisi 6-12 Februari 2006, halaman 10, dalam kolom surat pembaca. Kutipannya adalah: ...imbauan kepada seluruh masyarakat untuk memperlakukan uang rupiah dengan baik, di antaranya dengan tidak melipat, mengokot (stapling)...
STAPLING = MENGOKOT Dengan demikian aman untuk kita simpulkan bahwa ternyata nama resmi untuk stapler adalah: PENGOKOT  Seandainya gue jadi si stapler, mungkin gue lebih memilih dinamain cekrekan daripada pengokot - entah kenapa tapi yang terbayang di benak gue saat mendengar kata itu adalah sebuah benda lembek yang bau, berjamur, dan nyaris busuk - tapi ya sudahlah. Mari bersama-sama kita gunakan istilah resmi ini, untuk mempercepat proses penyerapannya dalam kehidupan bermasyarakat. Misalnya: ...di kantor: "Boss, ini reportnya perlu dikokot atau cukup dimasukkan ke map?" ...di tukang foto kopi: "Bang, gimana sih lu, masa mengokot aja nggak becus... kan jadi rusak fotokopian gue!" ...juga saat bercakap dengan teman: "Bawel banget sih jadi orang, lama-lama gua kokot juga bibir lu...!" Gambar pengokot gue ambil dari sini  

Rekan-rekan,
Ibu bupati kita Ari
telah dihubungi oleh panitia Blog Awards 2006 untuk dimasukkan ke dalam
panitia penilai sebagai wakil dari komunitas Multiply Indonesia.
Menurut gue, panitia Blog Awards sudah menghubungi orang yang tepat
sekali banget yaitu ibu bupati kita Ari, namun berhubung beliau
orangnya low-profile dan nggak enakan maka beliau nampak ragu memenuhi
permintaan tersebut.
Oleh karena itu, gue menerbitkan posting ini sebagai bentuk dukungan
kita kepada beliau. Silakan nyatakan pendapat Anda pada polling di
atas.
Posting ibu bupati mengenai blog awards 2006 bisa diklik di sini.
Foto diambil dari albumnya Alan yang ini
 

Ada satu hal yang selalu bikin gue senewen dengan MP gue selama ini,
yaitu title barnya. Gara2 gue naro script hitcounter di head
sectionnya, akibatnya kode2 ajaib jadi ikutan muncul. Ini yang gue
maksud:
Tadinya waktu MP menyamakan title bar untuk semua posting, gue nggak
terlalu peduli. Tapi belakangan ini, MP mulai meletakkan judul posting
ke dalam title bar. Jadi, misalnya gue posting sebuah journal berjudul "Kiat Pemberantasan Korupsi" di Mbot's HQ, maka title barnya seharusnya berbunyi "Mbot's HQ - Kiat Pemberantasan Korupsi". Sedangkan dengan kehadiran script hit counter di head, maka title barnya akan berbunyi: "var
sc_project=1&^%&%&* *(&(IYI*))%@$@$+)+!#!#
%^%&%$#-!$$%#%QE& ^^^#* &%!@#X*$ %-^@F$D @#!SS#$
FNM*_#$%Mbot's HQ - Kiat Pemberantasan Korupsi". Nyebelin sekali, kan.
Emang apa sih pentingnya title bar? Kalo kata Enda Nasution, yang
disebut2 sebagai bapak blog indonesia itu lho, title bar adalah patokan
para search engine untuk menemukan posting kita. Kalo title barnya
nggak jelas, maka posting kita akan luput dari pencarian mereka -
padahal banyak isi posting di MP yang bagus dan bermanfaat untuk
kemajuan peradaban manusia (taelaaaaaaaaaaa...). Lengkapnya bisa dibaca
di sini.
Satu-satunya cara untuk mengenyahkan kode2 brengsek itu dari title bar adalah dengan tidak menaruh script hit counter di sana.
Sedangkan di sisi lain gue udah kadung jatuh cinta dengan si hit
counter, karena ngeliatin naik turunnya grafik pengunjung MP gue
merupakan salah satu keasikan tersendiri  . Seperti udah pernah gue bahas di sini, head section adalah satu-satunya pilihan tempat yang strategis untuk naro hit counter; kecuali kalo kita upgrade ke Gold Account ke atas. Dengan gold account, kita bisa atur2 isi navigation bar di kanan, yang biasanya berisi iklan2 google.
Gue pikir2, biayanya setahun 24,95 dollar atau sekitar 250 ribuan...
sementara gue kan udah mendapatkan banyak manfaat dari MP. VCO
gue aja udah laku berapa dus tuh berkat bantuan MP. Belum lagi manfaat
bertambahnya temen, makhluk2 MP yang ajaib2 ini... ah kayaknya
sumbangan 250 perak gue ke MP cukup sepadan dengan apa yang udah gue
terima selama ini.
Maka akhirnya, di sebuah weekend yang iseng, gue memutuskan untuk
mengupgrade account gue.... begitu klik submit nomor credit card, cek
"my account" udah langsung upgraded ke Gold! Hore...!
Ternyata selain bisa edit navigation bar kanan, kita juga bisa liat
detailed view history dari hari pertama buka account MP, termasuk view2
oleh para tamu yang bukan anggota MP..! Jadi selama ini MP nyimpen data
lengkap untuk semua user, baik gold maupun non-gold, karena begitu user
itu upgrade, datanya langsung tersedia. Gila, nggak kebayang servernya
MP segede apa tuh.
Tapi satu fasilitas yang segera gue manfaatkan (tentunya selain
mindahin hit counter ke navigation bar kanan) adalah memangkas menu di
home gue. Jadi kalo sekarang lo buka halaman depan mbot.multiply.com,
nggak akan ada lagi kotak2 journal, review, etc etc di bawah welcome
page. Sebagai gantinya, gue pasang drop down menu di sebelah kanan.
Dengan demikian, gue harap bisa membuat loading time MP gue jadi lebih
cepet - suatu hal yang gue rasakan sendiri saat buka MP dari warnet.
Lamanyaaaa... setengah mati kebanyakan muatan yang harus didownload.
Lagipula, navigation bar kanan itu selalu diload belakangan, jadi
sambil nunggu seluruh halaman terload, pengunjung udah bisa mulai baca
isi posting gue. Bandingin sewaktu dulu semua masih gue taro di head
section, nge-load seluruh halaman jadi lebih lama karena musti nunggu
seluruh muatan di head terdownload, baru isi postingnya muncul
belakangan.
Anyway, buat yang suka utak-atik design MP-nya, gue saranin upgrade ke gold. Lebih banyak hal yang bisa lo coba2 di sini


Pengantar: Tips
ini dibuat oleh orang yang nggak pernah makan sekolahan HTML, jadi harap maklum
kalo ada istilah2 yang kurang pas bahkan 'kampring'. Buat yang lebih tau, jangan
sungkan2 lho untuk meralat. Makasih sebelumnya. Permasalahan: Multiply
udah memberikan pilihan untuk mengutip (quote) sebagian isi posting
yang mau kita reply. Tapi permasalahannya, gimana kalo yang mau kita kutip ada dua
bagian, atau bahkan beberapa
bagian? Pendahuluan: Multiply
ini didesain dengan menggunakan CSS.
Dalam CSS-nya multiply, ditentukan format berbagai "bagian"
(atau "DIV" - singkatan dari Division kali ya?) dengan memberikan
nama kepada bagian tersebut. Contohnya: udah
ditentukan di file CSS tersebut bahwa DIV yang namanya "header"
(bagian atas) memiliki background image shading abu-abu. Jadi, apapun yang
diapid di antara kode <div class="header">
dan </div> otomatis akan memiliki format seperti yang udah
ditentukan di dalam file CSS-nya, yaitu ada background image warna
abu-abu. Hal
yang sama juga berlaku untuk quote box-nya reply. Format quote box reply diatur
di CSS-nya dengan DIV bernama "quotet" dan link berisi nama orang
yang kita quote bernama "quotea". Biar nggak bingung lihat
image di bawah ini:  Dengan demikian bisa disimpulkan bahwa
efek pengutipan saat reply bisa kita atur secara manual dengan menambahkan kode
<div class="quotet"> dan <div
class="quotea">. Caranya: - Ambil
contoh kasus replynya Bayu di
review gue tentang film "Flightplan".
Bayu waktu itu mereply sbb:
 | Tumben gung, gak banyak komentar...? =D
Tapi
emang ni pilem patut dipuji dalam maenin teka-tekinya, kereeenn... penuh story
twist disana-sini. Walaupun buat gw saat2 jawabannya terungkap malah jadi rada
basi... Terlalu banyak kebetulan yang dipaksakan... Tapi dari segi experience,
oke deh...! |
- Gue
ingin mengutip 2 bagian terpisah dari reply tersebut, yaitu bagian "Tumben
gung...dst." dan "Tapi
emang ni pilem...dst." Maka yang gue
lakukan adalah mengcopy paste (secara manual) bagian yang ingin gue kutip dan
menambahkan kode-kode div yang sesuai biar tampilannya nanti jadi mirip. Selain
kode div, link menuju multiplynya Bayu, tulisan "kangbayu wrote"
dan image tanda kutipnya juga perlu ditambahkan secara manual. Sehingga kode
yang gue tulis adalah:
<div
class=quotet> <div
class=quotea> <a
href=http://kangbayu.multiply.com>Bayu Amus</a>
berkata:</div> <img
align=left src=http://images.multiply.com/common/misc/quote-start.gif> <i>Tumben
gung, gak banyak komentar...? =D</i>
<img
src=http://images.multiply.com/common/misc/quote-end.gif></div> Hasilnya
adalah seperti image yang gue muat di atas. - Perhatikan
bahwa dengan mengutip manual seperti ini, gue jadi bisa meng-customize tulisan
"kangbayu wrote" menjadi "kangbayu berkata",
"kangbayu ngomong", "kangbayu bilang", atau
apapun sesuka gue :-). Selain itu, kalo elo punya image tanda kutip sendiri
yang udah dihost di salah satu imagehosting di net, lo bisa pake untuk
menggantikan quote-start.gif dan quote-end.gif, tanda kutip standarnya multiply.
Selamat
mencoba! Buat
yang mau liat-liat file CSS-nya multiply, klik di
sini.

...Yang Terhormat, HR Manager"
Begitulah pembukaan
surat lamaranku
"sanggup kerja keras baik panas maupun hujan
siang malam tak kenal waktu"
Kepada...
...petugas kantor pos
kutitipkan surat lamaran
dengan perangko sesuai ongkos
kira-kira sampainya tiga harian
Kepada...
...teman sekantor
kutitipkan absen
agar tak kena tegor
karena bolos tiap senen
sedangkan
Kepada...
...mas-mas depan mesjid
kutitipkan sendal jepit
sekian.
Terinspirasi journal ini yang mana merupakan buah karya yang terinspirasi dari journal yang itu.
*iya, iya, gue tau posting ini garing*
Disclaimer: Cerita di bawah ini hanyalah rekaan belaka. Tapi... bukan nggak mungkin ada unsur true-storynya juga sih.... 
Di sebuah rumah... ”Mamaaaa.... ! Mamaaaaa.....!!!!” ”Ada apa sih Della anakku sayang... kok teriak-teriak...?” ”Mama, akhirnya aku bisa jadi foto model betulan Ma...!” ”Ah, yang bener??” ”Iya Ma...! Barusan aku ditelepon... katanya 2 hari lagi pemotretan!” ”Aduh, senangnya! Akhirnya tercapai juga ya cita2mu.” ”Iya Ma... berkat doa Mama... ” ”...hiks...” ”Lho, mama kok malah jadi sedih..?” ”Nggak nak... mama cuma terharu... kalo inget perjuangan beratmu dulu....” “Maksud
mama... waktu aku difoto yang katanya untuk iklan sabun kecantikan,
ternyata keluarnya jadi iklan obat kutu air itu ya...?” “Iya... juga
waktu kamu shooting seminggu untuk iklan batu batere, ternyata
munculnya cuma sedetik... disorot dari belakang, lagi." “Ah mama... sudahlah ma, itu udah berlalu...” “Terus waktu kamu...” “Mama. Please deh.” “Ok. Ok.” ”Pokoknya sekarang aku dapet tawaran pemotretan lagi Ma, doain semuanya lancar ya!” “Pasti nak, Mama selalu mendoakan yang terbaik... hiks... mama jadi terharu lagi...”
Dua hari kemudian, di rumah yang sama... “Mamaaa... Della berangkat ya, mau pemotretan...!” “Iya sayang, coba sini mama liat dulu anak mama yang cantik ini..” “Tuh, udah cantik kan ma..?” “Iya, tapi, ya ampuun, make-up kamu kok tipis sekali sih sayang? Nanti kan bisa kelihatan pucat kalo difoto!” “Ah mama, nanti di sana juga ada tukang make-upnya ma...!” “Bagus nggak? Ntar takutnya orangnya asal2an. Sini, mama betulin dulu ya make-upnya!”
Satu jam kemudian... ”Udah belum Ma? Ntar Della telat nih...!” “Bentar.. bentar lagi selesai deh...”
Satu setengah jam kemudian... “Ma...?” “Iya iya, udah nih udah...! Sana berangkat, ati2 ya...!”
Malam harinya.... “Gimana pemotretan hari ini sayang?” “Wah seru ma, ternyata difotonya rame-rame...!” “Kamu... difoto seluruh badan kan? Bukan cuma difoto jempolnya kayak...” “...kayak waktu iklan obat kutu air? Enggak kok ma! Fotonya setengah badan!” "Keliatan jelas nggak?" "Jelas
banget, aku paling depan, di sebelah kiri, pake baju pink. Tadinya sih
aku mau ditaro di belakang, tapi aku protes keras, Ma! Untung akhirnya
dipindah juga ke depan." “Ah senangnya....” “Katanya bulan depan iklannya siap edar, tungguin ya Ma!” “Emangnya untuk iklan apa sih?” “Nggak tau, katanya sih iklan billboard untuk layanan masyarakat gitu deh...” “Wah, hebat deh anak mama...!”
Tiga minggu kemudian, di sebuah arisan ibu-ibu... “Gimana kabarnya Mbakyu...?” “Yah gini-gini aja lah Jeng... agak sedikit repot akhir-akhir ini...” “Repot apa sih Mbakyu, bisnis ya?” “Ah
enggak, cuma... itu lho.. si Della anak saya itu kan sekarang jadi foto
model, jadi... yah... gitu deh, agak repot panggil tukang untuk betulin
pagar. Takutnya kalo iklannya udah keluar nanti banyak fans yang dateng
mau kenalan... yah Jeng kan tau sendiri ya, jaman sekarang kita harus
hati-hati... Jadi pagar saya tinggiin dikit, biar privacy nggak
terganggu gitu loh.“ “Oh ya? Foto model untuk iklan apa sih Mbakyu?” “Katanya
sih iklan untuk di billboard gitu deh. Minggu depan juga udah keluar.
Nanti Jeng liat ya, si Della itu yang difoto paling depan, di sebelah
kiri, yang pake baju pink!”
Seminggu kemudian, di sebuah rumah... “Dellaaa...” “...ya ma...” “Gimana nak, iklannya udah keluar?” “...udah...” “Loh, kok lesu?” “nggak papa...” “Mana, mana? Mama mau liat!!” “Ah udahlah ma, nggak usah... “Lho... kenapa??” “Tuh mama liat aja sendiri, di perempatan deket rumah kita juga ada.” “Kenapa sih kamu jadi nggak bersemangat gini? Mau mau liat sekarang ah!”
Sekitar setengah jam kemudian.... “....” “Mama?” “...kenapa nak...?” “Udah, liat iklannya?” “...udah...” “...gimana menurut mama?” “Mama mau keluar aja dari arisan ibu-ibu...” “Lho?”
Seminggu kemudian, di arisan ibu-ibu... “Eh udah ngumpul semuanya ya? Yuk kita kocok!" “Belum, masih kurang satu... bu Marto...” “Oo... dia tadi udah nelepon, hari ini nggak ikut arisan. Nggak enak badan katanya...” “Alaaa... nggak enak badan apa nggak enak ati... hihihihi....” “Emang kenapa sih?” “Loh, belum tau ya? Itu lho, gara2 iklannya Della, anaknya yang dia bangga-banggain udah jadi foto model itu...!” “Kenapa sih, kenapa sih?” “Hihihihihihi...
aku sih kalo jadi dia, bakalan nggak keluar rumah setahun kali...
hihihihi... mana katanya udah renovasi pagar rumah segala...” “Aduh.. kenapa sih, aku nggak mudeng deh...” “Mending liat sendiri deh iklannya... tuh ada di perempatan deket sini!”
Sekitar 2 jam kemudian, di sebuah mobil.... “Pak supir... pelan sedikit pak... saya mau lihat iklan yang itu...” “Baik bu.”
“...” “...” “..... hmff...hihihihihi.....” “kenapa bu, kok ketawa sendiri?” “ah nggak papa... jalan lagi pak... hihihihi....bu Marto, bu Marto... ada2 aja deh ah....”

10 Manfaat / Aspek positif dari sebuah Sony Playstation (PS) bagi seorang suami
- Menambah motivasi untuk segera pulang ke rumah. Suami terhindar dari niatan keluyuran ke tempat yang kurang bermanfaat.
- Menyalurkan hobi tanpa perlu menanggung resiko.
Daripada kebut-kebutan di jalan; boros BBM dan beresiko ditilang polisi
kan mending main NFS: Most Wanted. Daripada main bola ntar kesandung
dan lecet kan mending main WE. Daripada keluyuran ke tempat billiar dan
bercengkrama dengan oknum2 yang dandanannya patut dipertanyakan kan
mending main Pool Paradise.
- Meningkatkan kesehatan dengan berkurangnya konsumsi rokok, karena untuk memainkan PS membutuhkan kedua belah tangan sehingga repot kalo masih harus megang rokok lagi.
- Mengurangi resiko rumah kemalingan / kerampokan, terutama bila PS dimainkan malam hari dan secara beramai-ramai dengan teman-teman dari asrama Brimob / Marinir.
- Efisiensi pengeluaran untuk hiburan,
karena 1 game PS seharga 10 ribu bisa asik dimainkan sampe
berminggu-minggu. Bandingkan dengan tiket nonton yang bisa same 60
ribu, itu pun asiknya cuma 2 jam (3 jam kalo filmnya King Kong), PS jauh lebih efisien.
- Melatih kemampuan bahasa Inggris, terutama kalo udah mentok di stage tertentu dan terpaksa buka gamefaqs.com untuk cari bocoran.
- Melatih kekuatan jempol, akan sangat berguna bila kita bertamu ke rumah orang yang tombol bel pintunya keras / seret.
- Menambah koleksi alat rumah tangga, karena koleksi CD game PS yang udah error / baret sangat cocok / indah untuk dijadikan tatakan gelas.
- Menumbuhkan sikap disiplin, khususnya disiplin dalam hal men-save game. Ibarat kata pepatah, "Save dulu permainan, sesal kemudian tak berguna".
- Membuat tujuan rekreasi akhir pekan menjadi lebih terencana.
Bila biasanya sering terjadi bingung / perselisihan mengenai tempat
rekreasi, dengan adanya PS maka bisa dipastikan tujuan akan mengarah ke
seputaran Mangga Dua / ITC / tempat2 penjual game PS lainnya. Akan
lebih praktis bukan?
Posting ini gue persembahkan khusus bagi istri tercinta
yang hari ini sedang berduka lara menyaksikan PS suaminya yang udah 6
bulan teronggok rusak kembali nyala dan berfungsi dengan sempurna.
Istri khawatir, benda tersebut akan merenggut perhatian suami dan
membuat istri menjadi merengut. (hei... berima lho...! hehehe).
Hang on Solid Snake, I'll guide you to safety...!

 | Category: | Movies | | Genre: | Mystery & Suspense |
Sinopsis: Film ini dibuka dengan adegan yang memancing rasa penasaran penonton: Ujang (diperankan Daan Aria) berlari di tengah kegelapan, sambil diuber oleh beberapa orang di belakangnya. Habis itu alur bergerak mundur, menceritakan awal kisah di 3 minggu sebelumnya. Ujang datang dari kampungnya, Cibatu, ke Jakarta, untuk menyusul Dadang (diperankan Iyang Darmawan, 40 thn) yang katanya udah hidup sukses. Kenyataannya, Dadang sebenarnya hidup susah di daerah kumuh. Tetangganya pun aneh-aneh. Ada seorang bapak yang entah kenapa selalu latihan tai-chi siang malam. Juga ada seorang perempuan yang entah kenapa selalu berteriak-teriak menyanyikan lagu Peter Pan sambil memegang gagang sapu. Dan ada Mak Tiur, pedagang warung nasi (diperankan Tika Panggabean) yang entah kenapa berkawat gigi. Cuplikan dialog Ujang saat berpamitan mau cabut dari warung Mak Tiur: "Saya pulang dulu ya, mangga..." "Ah, mangga aku sudah habis...!" [Rasa pedih yang ditimbulkan adegan tersebut setara dengan pedihnya nonton juara dunia kita Ellyas Pical dipukul KO oleh petinju Thailand Khaosai Galaxy tahun 1987.] Dadang dililit hutang, dan dikejar-kejar debt-collector sangar. Entah kenapa dia nggak pindah aja ke perkampungan kumuh lain. Di bawah ancaman debt-collector, Dadang berjanji akan melunasi hutangnya besok, tanggal 7. Untuk menyambung hidup, Dadang dan Ujang bekerja sebagai polisi-cepek dan demonstran bayaran. Sampai akhirnya debt-collector datang lagi, dan memukuli Dadang. Entah kenapa, saat itu kalender di dinding menunjukkan tanggal 4. Mungkin itu angka hoki dari digit depan umur Iszur Muchtar, pemeran tokoh Dewo, pada bulan Mei 2006 nanti. Dewo adalah penjahat pembobol bank yang bisa ditemui Dadang dan Ujang gara-gara mereka berlindung di dalam mobil Dewi (diperankan Wulan Guritno), istri Dewo, dari kejaran para debt-collector. Kebetulan sekali, hari itu Dewo sedang menunggu kedatangan 2 orang calon direktur untuk direkrut ke dalam perusahaan fiktifnya. Entah kenapa Dewo percaya saat Dadang dan Ujang muncul dan mengaku sebagai kedua calon direktur tersebut. Entah kenapa Dewo memutuskan untuk merekrut keduanya. Entah kenapa dua calon direktur yang asli nggak muncul menemui Dewo lantas membongkar kedok Dadang dan Ujang. Dewo memanfaatkan Dadang dan Ujang untuk membobol bank. Adapun cara membobol bank menurut duo-dinamik Bayu dan Chandra (sutradara, merangkap penggagas cerita, merangkap penulis skenario, pokoknya juragan-lah) adalah: - Datang ke bank yang hendak dibobol
- Menemui 'orang dalam'
- Tanda tangan akte kredit
- Bawa pulang uang satu travel bag.
Ah... seandainya para penjahat yang berhasil membobol bank hingga triliunan rupiah menggunakan cara seperti ini, pasti mereka semua lebih mudah ditangkap karena susah berjalan akibat terserang hernia akut. Memang sih, yang namanya film pasti ada unsur penyederhanaan biar semua penonton ngerti apa yang sedang terjadi di layar. Dan pembobolan bank, memang sesuatu yang cukup sulit untuk digambarkan. Tapi kalo sulit, kenapa harus memilih pembobolan bank sebagai bentuk kriminalitas Dewo? Kenapa nggak kejahatan bentuk lain aja, yang lebih 'visual' dan mudah dimengerti? Bikin bakso tikus, misalnya ? Atau jualan tahu berformalin? Atau nipu para calon TKW? Atau terlibat pembuatan film jelek yang membahayakan kecerdasan bangsa karena bisa bikin IQ penontonnya turun 15 point? Di lain kesempatan, Ujang berkenalan dengan Dewi di diskotik. Entah kenapa Dewi giras melihat Ujang, lantas berniat memperalatnya sebagai sarana manas2in agar Dewo cemburu. Cuplikan adegan di diskotik: Ujang nampak pusing mendengar musik di diskotik yang berisik. Seseorang menghampiri dan bertanya, "Kamu oke?" "Bukan, saya Ujang." Bartender juga bertanya, "Kamu oke?" "Bukan, saya Ujang," jawab Ujang lagi. Akhirnya Ujang menemui DJ dan bertanya, "Kamu oke?" "Ya, saya oke!" jawab DJ. Mendengar jawaban DJ, Ujang menghentikan lagu, mengambil mike, dan mengumumkan, "Saudara-saudara, dia ini lho yang namanya Oke...!" [Pedihnya nonton adegan ini sepedih nonton Liem Swie King yang waktu itu udah ketuaan dan kelelahan mencuri waktu dengan sok-sok ganti sepatu dan kaos kaki di tengah pertandingan Piala Thomas 1988.] Awalnya Ujang menolak, tapi akhirnya mau juga setelah Dewi mengancam akan membocorkan identitas gadungan Dadang dan Ujang kepada Dewo. Dewi dan Ujang makan malam, dan entah kenapa Ujang memilih wig keriting mirip Edi Brokoli plus kaca mata sebagai alat penyamaran. Juga entah kenapa Dewi nggak ilfeel dan memutuskan untuk pulang aja saat melihat penampilan Ujang malam itu. Singkat cerita, aksi 'pembobolan bank' Dewo mulai terendus polisi. 'Orang dalam' di bank sudah ditangkap, dan sekarang giliran Dadang dan Ujang jadi buronan. Entah kenapa Dadang dan Ujang masih memegang tas berisi uang, padahal kemarin baru aja mereka menyetorkan hasil 'pembobolan bank' kepada boss Dewo. Dadang dan Ujang dikejar-kejar oleh para tukang kepruk suruhan Dewo, antara lain diperankan oleh Joehana (38 tahun). Saat berusaha melarikan diri, Dadang dan Ujang secara tidak sengaja ditabrak oleh sebuah mobil hitam yang lagi ditumpangi oleh.... yak benar, oleh Dewi, istri Dewo (bagi yang menonton adegan ini di VCD, gue persilakan pencet tombol pause dan keluar sebentar untuk garuk2 aspal. Ini merupakan reaksi yang sangat wajar dan manusiawi. Sebenarnya gue ingin melakukan hal yang sama, sayang nontonnya di bioskop). Keliatannya tokoh Dadang dan Ujang ini punya sejenis kemampuan navigasi seperti burung merpati; tiap kali terancam bahaya, mereka selalu mampu menemukan lokasi mobil Dewi. Keadaan sedikit bertambah runyam karena Neng, pacar Ujang yang menyusul ke Jakarta ditangkap oleh penjahat suruhan Dewo. Tapi untunglah semuanya beres berkat kerja sama Dadang, Ujang, dan Dewi serta kehadiran para polisi tepat pada waktunya. Komentar: Konon film ini tadinya mau dibuat sebagai propaganda anti-urbanisasi oleh Pemda DKI. Seperti dituturkan Bayu Sampurno, "Memang ide awal film ini bekerja sama dengan Pemda DKI, untuk membendung kaum urban yang datang ke ibukota. Namun akhirnya, Pemda DKI sendiri ada masalah, hingga tak menyediakan alokasi anggaran yang direncanakan. Sehingga akhirnya tak jadi ada kerjasama," Nampaknya Dewi Fortuna masih berpihak kepada Pemda DKI, sehingga mereka selamat, dan nggak terseret lebih jauh dalam pembuatan film ini. Luar biasa, bahkan Pemda DKI pun masih memiliki cukup akal sehat untuk mengambil keputusan yang bijak. Mungkin mereka kuatir juga, apa jadinya film propaganda anti-urbanisasi yang diperankan oleh sekelompok artis Bandung yang sukses di Jakarta? Lain halnya dengan duo Bayu dan Chandra. Mereka pantang menyerah hingga akhirnya selesailah film berbudget 1.8 miliar ini. "Film ini bukan film plesetan atau komedi, tapi drama komedi," demikian kata Denny Chandra, personil Project P. Padahal, menurut gue, film ini justru lebih cocok disebut film misteri, saking banyaknya pertanyaan yang gak terjawab hingga akhir film. Misalnya, ...kenapa Project P, group komedi yang akhir-akhir ini udah hidup tenang dan mapan menyambut hari tua bersama anak-istri, mau membuang waktu 28 hari untuk membuat film ini? ...kenapa kamera gemar sekali menyorot gambar orang dari samping atau belakang? ...kenapa suaranya hilang-timbul? ...kenapa sekalipun udah menurunkan standar ekspektasi serendah mungkin, tetep aja gue merasa bahwa film ini jelek? Eh maaf, maksud gue, jelek sekali? ...kenapa walaupun udah pake 2 sutradara (Bayu Sampurno dan Chandra Endroputro) hasilnya masih aja seperti ini? dan misteri yang paling besar adalah: ...kenapa Bayu dan Chandra bisa merasa diri mereka lebih lucu dari Project P? [Kutipan wawancara dengan Chandra Endroputro di official website Kejar Jakarta] "pada saat reading, saya mencoba menangkap gaya mereka. Saya biarkan mereka berimprovisasi sebebas mungkin, asal tidak melenceng dari naskah dan tidak terseret ke gaya parodi khas Project-P. Kalau tidak lucu, saya marahi." ujarnya sambil tertawa. Akhir kata, gue merekomendasikan film ini untuk ditonton para produser dan sutradara film Bangsal 13, Mirror, dan Cinta Silver. Paling enggak, mereka masih bisa bersyukur karena saat ini bisa dipastikan bahwa film mereka bukan yang terjelek sepanjang sejarah perfilman Indonesia. referensi dan gambar: 
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
==SPOILER ALERT!! Review ini mengandung 80% spoiler, jangan baca kalo nggak ingin tau duluan ceritanya==Kalo gue baca info trivia dari IMDB.com, Peter Jackson emang udah lama ngebet ingin bikin King Kong setelah selesai bikin film The Freighteners th 1996. Tapi thn 98 keluar film Godzilla dan Mighty Joe Young, dua-duanya tentang binatang2 bongsor ngacak-acak kota. Studio Universal kuatir para penonton akan berkomentar "kalo berani bikin satu lagi film model begini, gue kasih payung cantik deh lu" - maka proyek King Kong 1996 dibatalkan. Cerita film King Kong 2005 ini sangat mirip dengan yang versi 1933**, sampe nama tokoh2nya pun sama. Sutradara desperado Carl Denham (Jack Black) berhasil mengibuli aktris desperado Ann Darrow (Naomi Watts) untuk ikutan dalam produksi film yang udah mau dibubarin oleh pihak penyandang dana. Turut juga dalam rombongan; aktor Bruce Baxter (Kyle Chandler) dan penulis naskah Jack Driscoll (Adrien Brody). Mereka semua dikibulin mentah2 sama Carl Denham, dibilangin shootingnya di Singapura padahal diam2 sang sutradara mau mengarahkan kapal ke pulau antah berantah yang cuma ada di peta kuno. Sepertiga pertama dari film berdurasi 3 jam ini berisi penjelasan-penjelasan tentang latar belakang para tokohnya. Nggak lantas jadi boring sih, tapi sesudahnya bikin gue jadi bertanya-tanya: "emangnya penting ya, ngabisin 1 jam pertama hanya untuk nerang2in karakter tokoh2 yang sebagian besar toh akan bergelimpangan mati 15 menit kemudian?" Singkat cerita, rombongan akhirnya sampe di pulau misterius itu, dan kejadian2 selanjutnya dalam 20 langkah mudah adalah: -
Rombongan turun ke pulau -
Rombongan ditangkep sama suku primitif -
Rombongan berhasil lolos balik ke kapal -
Suku primitif nyusul ke kapal -
Suku primitif nyulik Ann Darrow -
Rombongan turun lagi ke pulau, nyariin Ann Darrow -
Ann Darrow dicomot sama King Kong -
King Kong lari ke hutan -
Rombongan nyusul ke hutan -
Ann Darrow jadian sama King Kong -
Rombongan diinjek-injek dinosaurus -
Jack Driscoll ketemuan Ann Darrow -
Jack dan Ann kabur sambil dikejar King Kong -
King Kong dibius oleh rombongan -
King Kong jadi tontonan di New York -
King Kong ngamuk -
King Kong ketemuan sama Ann Darrow -
King Kong ditembakin pesawat -
King Kong mati -
Ann Darrow jadian sama Jack Driscoll Entah karena mencoba setia sama film King Kong pertama atau emang Peter Jackson yang doyan sama dialog2 puitis, banyak obrolan di film ini yang bikin gue mikir "mosok iya sih ada orang ngomong kaya gitu di kehidupan nyata?". Ambil contoh dialog antara Ann dan Jack di kapal, atau yang paling spektakuler celetukannya Carl di akhir film: "Oh no, it wasn't the airplanes. It was beauty killed the beast." Sekarang coba bayangin ada King Kong manjat Monas, ditembakin sama pesawat F-5E TNI-AU dan buuum... jatuh mati, tau-tau ada seorang mas-mas menyeruak kerumunan hanya untuk ngomong "menurut saya bukan pesawat yang menyebabkan kematiannya. Si cantik telah membunuh si buruk rupa." "Halah, apa seeeh masss...?!!" Sedangkan dari segi plot, film ini mengandung banyak sekali "Loh kok", misalnya: -
"Loh, kok rombongan bisa dengan gampang ngejar King Kong dalam semalam, padahal King Kong yang segede-gede.... yah, segede King Kong itu udah lari jauh ngeloncatin jurang dan ngedaki gunung?" -
"Loh, kok Jack Driscoll gampang amat nemuin Ann Darrow di tengah pulau segede gitu?" -
"Loh, kok sisa rombongan tau-taunya bahwa temen2nya lagi terdesak di dasar jurang YANG ITU dan bukan di dasar jurang YANG SANA?" -
"Loh, kok orang yang belum pernah nembak sebelumnya bisa nembak tepat sambil merem?" -
"Loh, kok kapal sekecil gitu muat ngangkut King Kong pingsan ke New York?" Tapi kemudian gue tersadar, semua "Loh kok" tersebut nggak ada artinya dibanding satu "Loh kok" yang paling utama dan mendasar, yaitu: "LOH, KOK BISA-BISANYA ADA GORILLA SEGEDE GITU??" Kalo untuk yang mendasar aja gue nggak rewel dan masih mau nonton filmnya, kenapa juga gue masih recet ngeributin hal-hal lain yang kurang esensial? Maka gue memutuskan untuk tutup mulut dan menikmati special effects-nya. Eh maaf, tepatnya "BUKA MULUT dan menikmati special effects-nya", karena kualitas special effects-nya dijamin akan bikin elo semua TERNGANGA. Ini adalah jenis special effects yang membuat elo males mikirin "ini kira-kira gimana cara bikinnya ya?" - sama seperti War of The Worlds. King Kongnya keliatan betulan banget deh, sorot matanya beremosi, gerakan-gerakannya realistis, dan gue sependapat sama semua orang: adegan ngelawan 3 dinosaurus itu edan benerrrr... Pikir2 nih ya… kayaknya udah waktunya bikin award khusus untuk special effects. Bukan, bukan sekedar kategori di Oscar, tapi penghargaan yang khusus menilai special effects doang dan mengabaikan filmnya. Selama ini kan orang kurang menghargai film2 ber-special-effects canggih krn dianggap kurang 'berbobot', kurang 'oscar' dan terlalu 'pop-corn' - kecuali Lord of The Rings III - yang kok ya ndilalah* disutradarai oleh Peter Jackson, sutradara film King Kong ini. Maksud gue, special effects itu kan salah satu bentuk karya seni yang patut diapresiasi. Hanya ada satu penghargaan untuk special effects di oscar adalah penyederhanaan yang kebangetan, karena di dalam 'special effects' itu sendiri ada banyak sekali kategori dengan tantangan yang berbeda-beda. Seandainya gue disuruh jadi juri penghargaan special effects, King Kong 2005 akan gue anugerahi penghargaan "makhluk fantasi paling realistik". Sekarang mari mengomentari para pemainnya: Pilihan untuk mempercayakan peran utama kepada Naomi Watts adalah keputusan yang jitu. Menurut gue, dia ini sedikit banyak mengingatkan pada Sharon Stone dalam versi baik-baik. Kalo Sharon Stone kan sorot matanya seolah berkata "Jangan takut dek, sini tante ajarin, nanti lama-lama pinter deh". Sedangkan kalo Naomi Watts lebih ke "Gue minta baik-baik nih, tolong jangan ganggu gue... tapi kalo lo nggak bisa dibilangin ya.. jangan kaget kalo gue lawan." Yaaa.. pokoknya gitu deh, ngerti kan maksud gue? Buat yang belum ngerti juga, silakan perhatikan foto di bawah ini:  ... ... Yak, cukup. Silakan lap ilernya dan lanjutkan membaca. Jack Black lagi-lagi jadi orang obsesif yang ambisius, sejenis dengan perannya di The School of Rock. Pertanyaannya sekarang, peran obsesi pada musik udah, obsesi pada king kong udah, habis ini dia bakalan terobsesi sama apa ya? Sementara itu penampilan Kyle Chandler gue jamin bakalan bikin patah hati para penggemar serial "Early Edition" yang pernah diputer di tv lokal (ANTV?) beberapa tahun lalu. Kalo di Early Edition dia jadi Gary Hobson yang simpatik, di film King Kong ini dia sukses banget bikin eneg penonton dengan perannya yang cunihin abis. Kakak gue yang dulu waktu nonton Early Edition berkomentar "ini pasti pemerannya baik hati betulan ya, kelihatan dari tampangnya" dengan suksesnya tertipu mentah-mentah saat mengomentari tokoh Bruce Baxter sebagai "ih nyebelin banget sih tampang pemainnya" tanpa menyadari bahwa kedua tokoh itu diperankan orang yang sama. *sebuah ungkapan bahasa Jawa yang rada sulit dicari padanan katanya dalam bahasa Indonesia. Terjemahan gampangnya sih "kebetulan", tapi lo nggak bisa pake kata ini untuk menggantikan seluruh kata "kebetulan" dalam bahasa Indonesia. Contoh penggunaan ndilalah yang kurang tepat: - Prestasi atlet kita merupakan hasil kerja keras dan latihan, bukan faktor ndilalah semata. - Saya ndilalah sedang lewat sini, jadi sekalian mampir. **seolah-olah gue udah nonton. 
Perilaku bank-bank belakangan ini memang mengindikasikan mereka lagi
butuh dana. Bunga deposito naik, dari rata-rata 8% per tahun ke 11-12%
(walaupun biasanya ini hanya berlaku untuk saldo 100 juta ke atas - di
bawah itu masih berkisar di 3-5% per tahun). Makanya reksadana doyong
karena rame2 diobral oleh para investor. Bagi mereka, ketimbang
mengandalkan return reksadana yang cuma 1% per bulan, dengan resiko
loss cukup besar, mendingan naro duit di bank yang lebih karuan
kepastiannya.
Berbagai strategi dijalankan para bank untuk menarik duit nasabah.
Ada yang nawarin undian berhadiah, bebas administrasi, sampe hadiah
langsung. Hadiah langsungnya juga bervariasi, mulai dari boneka sampe
perlengkapan rumah tangga.
Tapi baru kali ini, baru sekali-kali ininya gue denger bank menawarkan promosi seperti ini:
(klik pada gambar kalo mau liat lebih jelas)
Yup, buka rekening tabungan berhadiah INDOMIE.
Sumpah gue ngakak abis baca iklan ini.
Maksud gue, oke-lah, memang lagi butuh dana, tapi... Indomie? Serius nih?
Mari kita bayangkan peristiwa-peristiwa yang mungkin timbul di kantor bank tersebut:
=$$$=
Seorang pengusaha sukses, pake jas Armani, jam Rolex, kaca mata
bingkai emas, dan sepatu Aigner menghampiri Customer Service Bank Mega.
"Mbak, saya mau buka rekening di bank ini, supaya praktis karena lokasinya dekat rumah." "Oh silakan, Pak..." "Sekalian saya mau buka juga untuk dua anak saya." "Baik pak, silakan diisi formulirnya." ... ... "Hendak masukkan setoran awal berapa, Pak?" "Taruh di masing-masing rekening 100 juta deh mbak, sekalian buat uang jajan anak-anak." ... ... "Sudah beres semuanya ya mbak?" "Sudah Pak, terima kasih telah menggunakan jasa perbankan kami." "Sama-sama. Selamat siang." "Tunggu sebentar Pak." "...Ya?" "Karena bapak telah membuka 3 rekening dengan setoran awal masing-masing di atas Rp 100 ribu rupiah, maka....TADAAA.... Bapak berhak mendapatkan TIGA KARDUS INDOMIE GORENG persembahan Indofood dan Bank Mega....Kardusnya perlu diikat rafia pak, biar bawanya gampang, gitu?"
=$$$=
Di sebuah rumah... "Bibiiikkk.... laper bik, bikinin Indomie dong!" "Maaf, Indomienya habis tuan..." "Lah, kenapa nggak beli?" "Di warung juga dari kemarin barangnya kosong tuan..." "Ck, gimana sih ini. Ya udah, ini 100 ribu, buka rekening gih sana di Bank Mega, jangan lupa lusa rekeningnya ditutup lagi ya!"
=$$$=
Di sebuah pesta reuni... "Eeeh... apa kabar sekarang? Kerja di mana?" "Di bank..." "Bank apa?" "Euh...bank Mega..." "Weits, KENYANG DONG... KAN STOK INDOMIE AMAAAN... ! Ada sisa stok nggak, boleh dong nih kita nitip beli barang 5 dus..."
=$$$=
Di kantor bank Mega lagi... "Sudah selesai ibu, rekening tabungan
ibu siap digunakan. Dan ini, hadiah langsung 1 dus Indomie bagi ibu,
persembahan Indofood dan Bank Mega..." "Wah dapet Indomi! Lumayan...Indominya rasa apa ya mbak?" "Euh... apa ya ini... oo rasa Mi Goreng, Bu..." "Waah... jangan rasa mi goreng deh mbak, suami saya kurang doyan!" "Kalo gitu...rasa ayam bawang barangkali bu?" "Nahhh... itu baru pas....!" "Silakan ibu..." "Eh mbak..." "Ya...?" "...anak saya doyannya rasa soto mie.
Boleh nggak saya ambilnya setengah - setengah, setengah dus rasa ayam
bawang, setengah dus rasa soto mie gitu.... eh atau kalo dibikin
sepertiga-sepertiga gimana mbak, kasih rasa baso sapinya juga deh,
pembantu saya doyannya rasa baso sapi sih...."
 | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Kadang baca resensi sebelum nonton film ada manfaatnya, kadang malah bikin tambah ancur. Waktu pertama kali ngeliat iklan film "MIRROR" di tivi, gue dan para keponakan gue langsung tertarik. "Wah, kayaknya seru nih film, yang main Nirina, lagi. Nonton yuk!" "Yuk, yuk!" Tapi abis itu gue baca reviewnya di sinemaindonesia. Buset dah, resensinya sadis banget nyelain ni film. Yang katanya nggak serem lah, nggak logis lah, malah jadi lucu lah. Keponakan gue jadi pesimis, "Apa mending nggak jadi nonton aja ya?" "Lho, ya nggak papa, persepsi orang kan beda-beda. Siapa tau menurut dia jelek, tapi menurut kita bagus?" Lagipula, ada Nirina-nya gitu loh. Maka pergilah gue nonton bersama Kanta, Nara, dan Sasa. Film dibuka dengan adegan Nirina ngibulin temen2nya sekelas bahwa Doni, salah satu temen mereka, meninggal krn kecelakaan. Gara-gara pengaruh resensi sinemaindonesia nih, gue jadi langsung nemuin beberapa kejanggalan: Nirina ngumumin berita kecelakaan itu sambil nunjukin foto (/poster?) close-up si Doni ini, dalam ukuran kira-kira A3 (segede buku gambar). Dapet dari mana dia foto segede gitu? Apa dia segitu niatnya dateng ke Rapico, nyetak foto gede, yang biasanya nggak bisa sehari jadi, khusus untuk iseng doang? Trus dari mana dia tau bahwa Doni akan telat hari itu? belom2 udah nemu satu kejanggalan. Tapi, halah... lucu banget sih si Nirina itu ya! Abis itu adegan Nirina nakut2in temen2nya yang lagi praktikum di lab. Satu hal yang langsung menarik perhatian: ni sekolah segede tangsi gitu, muridnya cuma 10 kali yah... kok sepiiii banget sampe si Nirina bisa dengan santai dandanin mukanya jadi serem, make2 kostum kuntilanak, nyari2 posisi untuk ngumpet ngagetin temennya tanpa kepergok murid lain dan "lho, ngapain lu dandan kaya kuntilanak gitu?" Anyway, Nirina yang imut2 itu keserimpet kostum hantunya sendiri dan kejedot sampe pingsan. Kasihan sekali, sampe hampir nangis gue liatnya. Pas mendusin (ada yang bingung baca istilah ini? hihihihi...) dia cuci muka, dan ketemu sama seseorang yang belakangan diketahui adalah Pak Soleh, penjaga sekolah. Tanpa penjelasan apapun sebelumnya, Pak Soleh rupanya lagi putus asa dan >hngk< tau2 gantung diri aja gitu. Mungkin akan lebih logis kalo dikasih sedikit latar belakang sbb: "Pak Soleh, penjaga sekolah dengan gaji pas-pasan, punya anak banyak. Pada suatu hari, Pak Soleh nonton tivi, dan ada pengumuman pemerintah =BBM NAIK= Hah.. Pak Soleh kaget. Besokannya dia pergi ke tukang minyak tanah, ternyata harga pasaran Rp 3.000 per liter. Loh...kapan kata pemerintah 'cuma' Rp 2.000? Pak Soleh kaget lagi, tapi hatinya sedikit terhibur saat melihat Pak Wapres datang berkunjung ke kampungnya. Dengan harapan mendapat sedikit inspirasi, Pak Soleh menghadiri acara pertemuan dengan Wapres. Eh taunya Pak Wapres malah ngelawak. Kata pak Wapres, duit kompensasi cepek ceng itu lebih dari cukup sebab inflasi kan cuma 3%. Tadinya Pak Soleh mau nyeletuk, maksudnya 300 kali pak? Tapi Pak Soleh menahan diri, takut terlihat kurang sopan. Paling enggak, yah lumayan ada dana kompensasi, daripada nggak sama sekali, pikir Pak Soleh. Maka dia ikutan ngantri di kantor pos. Gila, orang2 pada kalap dorong-dorongan. Pak Soleh nyaris tewas, untung masih selamat. Pak Soleh masih bisa menerima uang kompensasi.Tapi... heh, kok cuma 200 ribu? Yang 100 ribu buat biaya administrasi, kata petugasnya sambil memilin kumis. Pak Soleh menghela nafas. Beban hidup kian berat dirasakannya. Untunglah, bagi Pak Soleh, di tengah himpitan nasib, masih ada sedikit penghibur. Ada Nirina, murid yang lucu imut menyegarkan, menyejukkan mata. Pak Soleh berangkat kerja dengan bersemangat. Tau-tau... di pintu dia berpapasan dengan Nirina... dalam kostum kuntilanak. Maka putuslah semua harapan bagi Pak Soleh, hingga akhirnya dia memilih jalan pintas mengakhiri hidup." Ok, anyway, sejak kejedot, Nirina bisa ngeliat bahwa kalo orang yang mau meninggal nggak punya bayangan di kaca. Kata Ida, "kalo ceritanya gini aku tau nih, pastiiii terakhirnya dia sendiri yang ngeliat bayangannya menghilang di kaca!" Ah, sayangku cinta, orang bikin film tuh susah tauk. Masa segitu cepetnya kamu menebak ending, bahkan tanpa nonton filmnya? Nirina pulang ke rumahnya yang kosong melompong (karena orang tuanya lagi ke luar kota). Tiba-tiba, dia diganggu hantu Pak Soleh. Kenapa hantu Pak Soleh jadi ngintil ke rumah Nirina? Ya itu tadi, karena secara tidak langsung Nirina lah yang menyebabkan bapak yang malang itu putus asa (lihat penjelasan di atas - logis kan?). Nirina ketakutan, jadi dia nginep di rumah tetangga. Eala, ternyata tetangganya juga nggak punya bayangan di kaca. Keesokan harinya, Nirina ketemu sama arwah anak SD yang lari-lari di jalanan setelah ketabrak mobil... eh salah, itu mah film The Eye yah? Maap, abis mirip sih. Maksudnya, ketemu keluarga itu jalan di trotoar dalam keadaan udah jadi arwah. Yang luar biasa, kecelakaan lalu lintas terjadi di tengah kota Bandung pada saat hari masih sore, di mana secara umum kecepatan rata2 yang berlaku adalah 2km/jam saking macetnya. Mungkin kecelakaannya sendiri nggak terlalu parah kali yah, mungkin si bapak tetangga itu cuma serempetan doang. Tapi serempetannya sama angkot, terus si bapak buka kaca dan teriak "Maneh Anjing!" trus digebukin deh. Entahlah, nggak diceritakan dalam film. sampai titik ini sudah ada 1 gantung diri dan 1 kecelakaan mobil di film. Keep on watching, masih akan ada lagi. Karena setress, darah mengalir dari benjolan bekas jatuh di jidat Nirina (yang mana bisa tetap nampak imut walaupun jidatnya benjol, suatu prestasi yang sulit ditandingi artis lainnya). Ibu gurunya memperhatikan, |
|