Agung's posts with tag: places

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag places
Photo Albumsniping lampung (24 photos)Mar 26, '08 7:38 AM
for everyone

yang gue paling suka dari kerjaan gue sekarang adalah, banyak assignment motret dokumentasi meeting atau wawancara nasabah ke berbagai pelosok tanah air :-) Di sela2 acara gue suka melarikan diri buat motret komunitas pasar, komunitasnya para nasabah kantor gue.

Tanggal 25-26 Maret kemarin gue abis jalan-jalan ke Lampung, dan ini beberapa hasil perburuan gue. Sebagian besar gue ambil pake lensa 75-300, jadi bisa motret orang-orang di pasar tanpa ketauan. Seru, serasa kaya sniper membidik mangsa.... hehehehe..

Sayangnya setelah beberapa lama muterin pasar sambil nenteng kamera, kehadiran gue mulai menarik perhatian dan para calon 'model' mulai pada bergaya - jadinya nggak bisa candid lagi deh.

Seluruh foto di album ini nggak ada yang gue olah pake fotoshop, seada-adanya aja termasuk beberapa kesalahan tipikal pemula. Data teknisnya ada di keterangan setiap foto.

Category:Other

Gue inget banget, waktu juara dunia tinju Elly Pical sedang jaya-jayanya dulu, dia selalu berlatih di daerah puncak. Alasannya adalah: di dataran tinggi udaranya lebih 'tipis' sehingga paru-parunya harus bekerja ekstra keras untuk menyedot udara. Hasilnya, angka VO2-Max alias kapasitas maksimal paru-parunya untuk menghimpun oksigen meningkat, sehingga lebih optimal untuk mendukung staminanya. Selain itu, di daerah puncak banyak tanjakan-tanjakan curam yang ideal untuk melatih kekuatan otot kaki. Konon Bang Elly sanggup lari 5 KM naik-turun tanjakan setiap harinya.

Seandainya sekarang Elly Pical masih aktif bertinju, gue yakin dia akan berlatih di Hotel Puri Asri, Magelang.

Takdir mengirimkan gue terdampar di hotel ini selama 3 hari 2 malam tanggal 8-10 November 2007, dalam rangka menghadiri sebuah workshop nasional yang diadakan oleh kantor. Sehubungan dengan pekerjaan gue di bagian communication, maka tugas gue di sana adalah meliput acara: memotret dan merekam dalam video. Dan apakah ada di antara kalian, wahai para pembaca, yang pernah liat seksi dokumentasi duduk manis di satu titik secara terus-menerus? Tentu saja tidak, bukan? Artinya, gue harus sering mondar-mandir ke sana-sini. Nggak masalah sih, seandainya lokasinya bukan di Hotel Puri Asri Magelang.

Hotel Puri Asri ini dibangun di atas lahan seluas 18 hektar yang berupa...lembah. Jadi lobby-nya terletak di pinggir jalan, dan kamar-kamarnya terletak nun jauh di bawah sana, beberapa PULUH meter lebih rendah. Memang sih, pihak hotel menyediakan beberapa buah mobil suzuki carry yang dimodifikasi jadi mirip mobil golf (terbuka) untuk mengantar para tamu ke kamar masing-masing... tapi apa iya selama nginep di sana lo mau terus-terusan mengandalkan mobil-mobil yang jumlahnya terbatas itu? Nggak mungkin, kan? Artinya, cepat atau lambat, lo harus jalan kaki.

###

Hari pertama, komentar gue: "Wah hotelnya asik ya, alami banget, berbukit-bukit gini!"

Di sela-sela acara gue menyempatkan diri meninjau aneka fasilitas hotel: ada kolam untuk berbecak air, fitness center, karaoke, aneka permainan anak, bendi, kolam renang pun lebih dari satu. Di dasar lembah ada sungai, dan di pinggirnya kita bisa main ping-pong sambil menikmati gemericik air. Di sebuah sudut juga ada papan catur raksasa, bidak caturnya gede-gede dan dijalankan di atas ubin warna hitam putih. Di sudut lainnya ada lapangan badminton. Mau main volley pantai di pinggir kali? Bisa juga! Tau nggak, untuk menjaga agar pemandangan dari hotel tetap alami, pihak hotel membeli sawah di seberang kali - hanya untuk memanjakan mata para tamu doang. Sawahnya boleh digarap oleh para petani setempat, hasilnya juga untuk mereka.

Hotel ini juga punya gedung pertemuan berlantai dua dengan kapasitas lebih dari 500 orang (berdiri). Kalo masih kurang, ada gedung pertemuan ke dua dengan kapasitas lebih kecil. Berhubung peserta workshop lumayan banyak, kedua gedung ini dipakai. Dari pagi sampai sore, gue sibuk mondar-mandir dengan riang gembira di antara kedua gedung pertemuan ini untuk mengabadikan acara. 

Sekitar jam 8 malam, acara makan malam bersama di restoran hotel, nggak jauh dari lokasi kedua gedung pertemuan. Abis makan gue mampir ke kamar untuk mandi dan istirahat sebentar, karena sesudahnya ada acara 'hiburan malam' bersama artis setempat. Saat itulah gue mulai merasa males."Betis gue kok nyut-nyutan ya...?"

###

Hari ke dua, komentar gue: "Kenapa sih, tanahnya nggak diratain dulu sebelum dibangun jadi hotel?!"

Betis dan paha gue serasa dibetot-betot, gue nyaris ngesot dari tempat tidur menuju kamar mandi. Saat diumumkan sarapan udah menanti di restoran, pikiran gue: "Ufff... apa nggak bisa room service aja ya?" Tau nggak, saking miringnya lahan hotel ini, mesin mobil-mobil suzuki carry milik hotel sampe harus meraung-raung dengan RPM tinggi, walaupun penumpangnya hanya satu orang.

Seperti kemarin gue masih harus mondar-mandir di antara dua gedung pertemuan yang SEANDAINYA berada pada ketinggian yang sama jaraknya nggak sampe 20 meter, tapi KENYATAANNYA terdapat perbedaan ketinggian sebesar kurang lebih 10 meter (jangan langsung percaya, mungkin ini cuma hiperbola orang yang lagi ngos-ngosan). Berdasarkan rumus Pythagoras, di mana c2=a2+b2, maka jarak yang mesti gue tempuh dari gedung pertemuan A ke B tentunya lebih dari 22 meter dan NANJAK. Memang sih, untuk memudahkan para pengunjung jalan-jalan, pihak hotel udah membangun undak-undakan di seluruh area hotel. Tapi, nanjak adalah nanjak, mau lewat undak-undakan atau enggak, buat gue sama nyebelinnya.

Dampak positifnya adalah: konsumsi rokok jadi berkurang karena boro-boro mau ngisep rokok, mau nyedot udara aja udah susah. Dampak negatifnya adalah, gue jadi agak kurang penyabar. Contohnya, sehabis makan siang gue mampir ke kamar, dan sesudahnya kembali bertugas di gedung pertemuan, lantas di sana baru sadar bahwa tripod ketinggalan di kamar, rasanya ingin banting-banting alat pecah belah.

###

Hari ke tiga, gue nggak berkomentar. Gue rela telat sarapan asalkan bisa punya waktu lamaan untuk mengistirahatkan kaki yang merana.

Kesimpulannya: hotel ini cocok buat tempat liburan keluarga dengan anak-anak kecil, juga pas buat ajang pertemuan bisnis... hanya pastikan dulu bahwa JANGAN SAMPE ELO JADI PANITIANYA - apalagi jadi seksi dokumentasi. Oh iya, kelupaan: cocok juga buat berlatih tinju. Jangankan Elly Pical, sepulang dari sana gue pun merasa VO2 Max gue meningkat drastis. Efek sampingnya, jadi rada-rada trauma kalo liat aneka jenis tanjakan dan undak-undakan.


Buat yang ingin liat foto-foto Hotel Puri Asri Magelang, silakan klik di sini



Photo AlbumHotel Puri Asri in Pictures (30 photos)Nov 18, '07 11:37 AM
for everyone

Foto berbagai sudut Hotel Puri Asri Magelang, hotel yang cucok buat tempat latihan tinju.

Review lengkapnya bisa dibaca di sini.



Hari Minggu 4 November 2007, gue dan Ida mampir ke Bandung secara dadakan. Ngeliat prospek suram di arah balik Cipularang yang macet total, ditambah kondisi belum punya bookingan travel untuk pulang ke Jakarta, kami memutuskan untuk naik kereta api. Itung-itung nostalgia.

Sebelumnya gue udah menduga bahwa sejak ada tol Cipularang dan maraknya layanan travel Jakarta - Bandung P.P., pasti akan mengancam KA Parahyangan, tapi gue nggak nyangka efeknya akan separah ini.

Dulu, kalo lo mau naik kereta dari Bandung ke Jakarta di hari Minggu, mesti nyiapin sabar yang banyak karena antrenya bisa berjam-jam. Atau kalo nggak sabar, ya harus rela beli karcis berdiri. Atau beli dari calo. Jangankan beli tiket keretanya, jalan menuju stasiun pun akan macet total. Jadi sekalipun lo udah pegang tiket di tangan, lo harus siapin waktu ekstra untuk menuju stasiun. Nggak heran kalo kereta api ekspres Parahyangan sempet jadi 'tambang emas' buat PT Kereta Api.

Kemarin ini, pemandangannya bener-bener beda banget. Loket yang dulunya diantri ratusan orang, sekarang kosong melompong. Nggak ada cerita antri-antrian: gue tinggal dateng dan beli tiket - selesai. Pemesanan tiket untuk hari yang sama, yang dulu nggak dilayani, sekarang bisa.

Terus terang gue miris ngeliat kondisi kaya gini. Di atas kertas seharusnya kereta api bisa mengungguli transportasi via tol. Karena punya jalur sendiri yang bebas macet, seharusnya kereta api bisa punya jadwal yang lebih konsisten. Tapi kenyataannya kereta 'ekspres' Parahyangan langganan telat dari dulu sampe sekarang. Bahkan kereta eksekutif Argobromo Argogede yang dengan penuh percaya diri memasang angka '250' (melambangkan kereta ekspres yang mampu melalap jalur Jakarta - Bandung hanya dalam tempo 2 jam, dan diluncurkan pada ulang tahun RI ke 50 tahun 1995) nggak pernah berhasil mencapai rekor tersebut. Yah, mungkin pernah satu kali, yaitu waktu peresmian dan penumpangnya adalah Presiden Suharto...

Kendalanya konon banyak, mulai dari usia lokomotif yang udah lewat masa pensiun, kondisi alam pegunungan yang banyak tanjakan, kondisi rel yang kurang terawat, jalur lintasan yang padat, dsb dsb. Akhirnya, kemarin itu gue berangkat dari Bandung jam 19.30 dan baru sampe Jakarta 3 jam 20 menit kemudian.

Di atas kertas, seharusnya kereta api bisa lebih aman dari mobil. Kenyataannya, masih banyak aja ancaman keselamatan para pengguna kereta. Mulai dari penduduk yang suka iseng ngelemparin kereta pake batu, copet berkeliaran, sampe kelalaian petugas kereta sendiri yang berakibat kecelakaan besar. Nggak usah jauh-jauh, minggu lalu baru terjadi kebakaran di sebuah gerbong. Dalam usaha memadamkan api, kereta berhenti di sebuah stasiun, gerbong yang terbakar dilepas dari rangkaian, dan... meluncur (lupa masang rem?) mundur menghantam loko kereta berikutnya. Korbannya: 2 orang tewas.

Apa iya sih segitu suramnya masa depan perkeretaapian kita?

ReviewReviewDaiso - toko paling berisik!Jun 26, '07 12:29 PM
for everyone
Category:Other
Konsep toko ini mungkin udah nggak asing lagi buat kebanyakan orang, yaitu menjual aneka barang dengan satu harga yang sama yaitu 17 ribu (inget Valu$?). Yang membedakan adalah, manajemen toko ini dengan sangat kejamnya mewajibkan para pramuniaganya untuk berteriak-teriak mempromosikan barang dagangannya!

Jadi nggak peduli apakah ada orang lewat atau enggak, dua orang pramuniaga akan berdiri di depan pintu toko menerikaan "DAISO!! SEMUA BARANG TUJUH BELAS RIBU, ASLI DARI JEPANG, SILAKAN MAMPIR!!" . dan bukan cuma di pintu aja, melainkan para pramuniaga yang bertugas di dalem juga harus ikutan2an teriak-teriak nggak jelas gitu.

Mungkin maksudnya biar mengundang rasa penasaran orang untuk mampir kali ya... tapi kalo buat gue sih malah bikin senewen karena denger orang teriak terus2an, belum lagi nggak tega ngebayangin para pramuniaga itu pasti sakit leher harus teriak terus-terusan tanpa pengeras suara. Bener2 sadis deh manajemennya.

Setelah 5 menit iseng mampir liat2, gue dan Ida memutuskan untuk keluar - tanpa niatan untuk mampir lagi.

Oh ya, toko ini terletak di pertokoan Paris van Java, Bandung. Entah ya kalo dia punya cabang di tempat lain.


Photo Albumperesmian taman menteng (39 photos)Apr 29, '07 10:29 AM
for everyone

Sabtu tanggal 28 April kemarin, taman menteng yang menempati lokasi stadion persija, akhirnya diresmikan. Gue cuma numpang lewat sebentar di sana, dan inilah sebagian penangkapan kamera gue.

FYI, keberadaan taman ini menuai banyak protes, antara lain karena dianggap kontradiktif dengan tujuan awal (katanya ditujukan untuk daerah resapan tapi 40% areanya tertutup beton), dan karena waktu dibangun nggak lewat amdal. Sebagian menuding pembangunan taman ini sekedar akal2an untuk menutupi proyek yang sebenarnya, yaitu... gedung parkir. Tau sendiri dong, hari gini parkir sejamnya 2000 perak per satu mobil; kalo mobilnya ada satu gedung duitnya berapa tuh.

Cuma kaya nggak tau Sutiyoso aja, biar kata didemo kayak apapun tetep maju terus pantang malu.

Sebagian link yang membahas mengenai protes berbagai pihak atas taman menteng bisa diklik...

ReviewReviewReviewReviewTravelers' Tale - Belok Kanan: Barcelona!Mar 11, '07 12:15 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Travel
Author:Adhitya Mulya et. al
Sinopsis:
Buku ini bercerita tentang 4 orang sahabat sejak bangku SMA: Francis, Yusuf, Farah dan Retno - yang sekarang tinggal mencar di berbagai penjuru dunia. Salah satu dari mereka akan kawin di Barcelona dan mengundang 3 teman lamanya itu. Undangan ini jadi 'kejutan' bagi mereka karena ternyata ada di antara mereka yang diam2 HHC pada si calon pengantin. Eh, atau tepatnya, ada saling-silang perHHCan di antara mereka berempat. Buku ini menceritakan pengalaman mereka ber-backpacking menuju Barcelona.


Pertama-tama gue mau minta maaf pada keempat penulis buku ini karena ternyata tempat input nama penulis di Multiply terbatas. Pas gue mau masukin empat-empatnya nggak muat. Jadi, gue tulis di sini aja ya, para penulis buku ini adalah:


Gak kebayang deh gimana caranya nulis buku berempat. Walaupun bab-babnya dipisah berdasarkan narasi dari 4 tokoh cerita yang jelas ditulis oleh 4 orang yang berbeda, tapi gimana ya cara nentuin plot utamanya? Trus gimana caranya nulis dialog saat keempat tokoh itu akhirnya ketemu dan ngobrol? Yang jelas, dari keempat tokoh cerita itu, gue berani taruhan iris kuping bahwa tokoh Yusuf ditulis oleh Adhit. Gaya penulisannya yang 'khas' (mulai dari kebiasaannya mengaku-ngaku ganteng, style jokenya yang ironis waktu mengkaitkan praktikum pembedahan kodok dengan saat berseminya cinta, sampai minatnya yang detil terhadap fakta-fakta sejarah) nampak mendominasi buku ini. Sementara Ninit kayaknya kebagian tugas menghidupkan tokoh Farah (tapi gue nggak berani taruhan iris kuping krn nggak terlalu yakin).

Buku ini ditulis berdasarkan pengalaman keempat penulisnya mengunjungi berbagai pelosok dunia. Buat pengunjung setia blog mereka, akan dengan mudah mengenali penggalan kisah dan foto yang pernah mereka posting. Ya, buku ini ada ilustrasinya lho, berupa foto-foto tempat yang jadi setting cerita. Sayangnya beberapa fotonya jadi kurang efektif karena dicetak hitam-putih - sementara obyeknya sendiri berwarna gelap (contohnya foto di halaman 106, 108, atau 159). Untungnya foto di halaman2 awal bab berwarna semua, dan bagus-bagus semua.

Sebagai sebuah bacaan, buku ini adalah 2-in-1. Maksudnya, bisa dilihat sebagai karya fiksi yang mengambil setting berbagai tempat di dunia, atau sebagai referensi wisata yang dikemas dalam jalinan fiksi. Yang jelas, perpindahan sudut pandang 4 tokoh yang bergantian muncul dari bab ke bab bikin buku ini enak dibaca. Rasanya ingin buru-buru pindah bab karena ingin segera tau apa yang terjadi dengan tokoh lainnya. Para penulisnya juga cukup mampu menahan diri dengan tidak berpanjang-panjang ngoceh tentang pernak-pernik tempat yang mereka jadikan setting - sehingga nggak membosankan. Biar bagaimanapun, tokoh-tokoh utama cerita ini adalah orang-orangnya, bukan lokasinya.

Yang bisa dibilang kelemahan dari buku ini adalah karakterisasinya. Seperti gue bilang di awal review ini, tokoh Yusuf tampil sangat kuat dan dominan sementara yang tiga lagi nampak masih samar. Maksudnya, kalo gue ditanya 'seperti apa sih sifat tokoh-tokoh dalam buku ini?' maka gue hanya bisa menjelaskan tentang tokoh Yusuf - sementara untuk yang lainnya gue merasa nggak bisa menjelaskan banyak hal. Selain itu yang juga rada mengganggu buat gue adalah mulai dari halaman 191 sampai akhir, buku ini terkesan mendadak ingin buru-buru selesai dan mengaplikasikan solusi gampang bin kebetulan untuk beberapa permasalahannya. Terus terang gue juga nggak punya ide yang lebih baik sih tentang bagaimana seharusnya mengakhiri cerita ini, tapi somehow endingnya terasa kurang sreg buat gue.

Terlepas dari kekurangan di bagian akhir, secara keseluruhan buku ini adalah buku yang menarik, baik sebagai referensi para (calon) backpacker maupun para penikmat fiksi. Tema yang diangkatnya terasa segar dan baru di tengah membanjirnya buku-buku "Jomblo-wannabes" yang ceritanya muter-muter sampe kusut di seputar perjalanan para remaja jomblo mencari pacar. Gue nggak akan heran kalo ada banyak pembacanya yang mulai mempertimbangkan untuk mencoba backpacking setelah membaca buku ini! Empat bintang dari gue.

Btw, buat para pembaca buku-bukunya Adhit (terutama Jomblo) pasti kenal dengan joke-joke 'obsesif'-nya terhadap penyiksaan secara anal. Nah, di buku ini kalian bisa melihat bahwa obsesi itu nampaknya menular ke penulis lainnya (baca halaman 53). I think you are contagius, Dhit!


Photo AlbumBlitz Megaplex bersama tante winda (13 photos)Jan 7, '07 11:02 AM
for everyone

wuah, ini albumnya udah telat banget, tapi mendingan telat daripada enggak sama sekali, kan?

Sabtu 18 November 2006, Tante Winda berkunjung ke rumah neneknya bayi Rafi di Bandung. Setelah acara foto-foto, giliran bapak dan bundanya bayi Rafi nyulik tante Winda ke Paris van Java - tempat penongkrongan baru di Bandung - yang rupanya pas hari itu lagi grand opening. Wuah, manusia di mana-mana, puenuuuuuh... banget! Untung tante Winda udah parkir mobil duluan di Hotel Sukajadi.

Terima kasih ya tante Winda, udah mau diculik bapak dan bundanya Rafi cari hiburan di malam minggu yang indah :-)

Blog Entrysikap yang positifJan 7, '07 10:41 AM
for everyone
harga-harga naik...

jalanan macet...

kerjaan numpuk...

banjir...

genteng bocor...

internet lemot...

anak sakit...

putus cinta...

boss resek...

mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya.

hidup terasa berat, bikin patah semangat.

tapi, kita harus tetap menjaga sikap yang positif, yaitu sikap...




ingat, pake "F" ya... biar aPdol gitu loh

foto diambil di perempatan selepas tol Pasteur

truk Bandung tea...!

huhuhu...tetap semangat!

ReviewReviewReviewReviewFormule 1 Hotel, Menteng, JakartaOct 29, '06 8:15 AM
for everyone
Category:Other
Gue lupa kapan tepatnya hotel ini mulai beroperasi, yang jelas umurnya baru beberapa bulan. Menurut salah seorang temen yang kerjanya di holding company pemilik hotel ini, Hotel Formule 1 memang membidik pasar kaum muda yang ramai nongkrong malem2 di Menteng.

"Lo bayangin dong gung, orang segitu banyak nongkrong di Menteng, mungkin ada yang kenal2an, trus mau 'lanjut', tapi nggak ada 'tempat' deket situ, kan repot... masa mau di rumput. Makanya kita provide lah, hotel yang yah istilahnya 'harga mahasiswa' gitu lah..." kata sumber gue tersebut.

Nggak tau ya apakah yang dia omongin itu memang bener strategi perusahaannya atau bisa2nya dia aja menganalisa, tapi yang jelas room rate hotel ini memang luar biasa 'ekonomis', maksud gue untuk ukuran hotel yang berada di pusat keramaian seperti Menteng. Semua kamar dijual sama rata 239 ribu net (harga Oktober 06).

"Lo boleh cek gung, hotel2 transit umumnya pasang rate 250 ribu untuk short time (6 jam), malah ada yang lebih mahal. Tapi di hotel gue, rate lebih murah untuk 24 jam. Kebersihan dijamin. Lokasi strategis. Mau parkir ngumpet? Ada parkir basement!"

Ngeliat tampilan luarnya, gue memang tertarik sih nyobain hotel itu. Abis warnanya lucu, kuning dengan kotak-kotak hitam kaya taksi cab di New York (padahal cuma sering liat di film :-p). Gue emang pernah ngomong sama Ida, "kapan2 nyobain nginep di hotel itu yuk...!" tapi setelah dipikir2, ngapain juga nginep di hotel yang jaraknya cuma beberapa ratus meter dari rumah? Taunya kesempatan nyoba hotel ini datang gara2 Palyja resek itu mematikan air di rumah gue.

Kesan efisien memang terasa banget sejak langkah pertama memasuki gedung hotel ini. Seperti kata "sumber" gue yang tadi, hotel ini nggak punya department F&B (makanya bagian bawah hotel penuh dengan toko makanan - kalo butuh makanan beli aja di bawah), juga nggak ada room service apalagi bell boy. Resepsionis juga cuma seorang, itupun kadang nggak di tempat. Pas ada tamu dateng, resepsionisnya dipanggilin dulu dari belakang.

Kamarnya sangat minimalis, dengan sentuhan yang sangat "hotel transit sekali" adalah pesawat televisi yang digantung di langit-langit :-) Nggak ada air panas di kamar mandi, nggak ada welcome drink, complimentary drink di kamar adalah aqua botol keciiiil, dan yang paling kocak adalah viewnya. Jangan banyak cingcong nanya "viewnya pool atau beach" kaya di hotel Aston Bali, lha wong pas buka jendela kamar pemandangannya adalah.. tangga besi.. hehehehe..

Tapi secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang room ratenya sebanding, hotel ini cukup 'memuaskan'... apalagi bagi sepasang suami istri yang sekedar butuh tempat numpang mandi. Faktor lokasi strategis, dan yang istimewa: keamanannya juga cukup diperhatikan. Liftnya dilengkapi dengan pengaman kunci kamar ala hotel bintang 4 (walaupun lifnya lift barang! hihihi...), demikian juga dengan pintu akses menuju deretan kamar. Artinya, orang yang bukan tamu nggak bisa selonongan masuk hotel ini.

Secara keseluruhan, dibandingkan dengan hotel lain yang setaraf, gue kasih 4 bintang deh! Lima bintang kalo ada air panas di kamar dan channel tivinya nggak banyak yang kresek2.

Foto-foto lengkap tentang hotel ini bisa diklik di album yang ini.


Photo AlbumHotel Formule 1 in pictures (9 photos)Oct 29, '06 4:26 AM
for everyone

Foto-foto hotel Formule 1, Menteng. Diambil bulan Oktober 2006. Review lengkapnya bisa dibaca di sini.

Blog Entrytips kunjungan efektif dan efisien ke BandungSep 17, '06 12:04 PM
for everyone

Banyak orang yang berkunjung ke Bandung untuk liburan mengeluh, "Kenapa sih orang2 pada seneng banget jalan2 di Bandung, isinya cuma macet gitu! Kalo mau nyari macet sih di Jakarta juga banyak, nggak usah jauh2 ke Bandung!"

Sebagai penggemar kota Bandung, gue tentunya sangat prihatin mendengar keluhan ini. Untuk menikmati Bandung dalam waktu yang singkat, kuncinya sebenernya hanya pada masalah timing dan penentuan rute. Kalo kedua hal ini disiasati secara tepat, gue jamin kunjungan ke Bandung lo akan efektif, efisien, dan menghasilkan.

Sebelum jalan-jalan ke Bandung, sebelumnya tentukan dulu tujuan lo, mau ngapain di sana? Biasanya sih orang main2 ke Bandung untuk 2 hal: nyoba makanan enak, dan belanja baju murah. Kalo memang kedua hal itu yang jadi tujuan lo, coba deh panduan gue berikut ini:

Hari: Sabtu
Kenapa harus hari Sabtu? Karena di hari Minggu ada pasar kaget di Gasibu, yang mana akan menimbulkan kemacetan di banyak titik - mengingat lokasi itu ada di tengah kota. Lagipula kalo ternyata lo capek setelah muter2 seharian, lo masih bisa punya pilihan untuk buka kamar dadakan di hotel terdekat - not recommended di bulan2 liburan sekolah atau waktu long weekend. Nggak akan dapet!
05.00 Lo harus udah mulai masuk pintu tol di Jakarta, minimal pintu tol di seputaran Cawang. Silakan atur sendiri mau berangkat jam berapa dari rumah biar bisa sampe pintu tol jam segini.
07.00 Kalo elo berangkat tepat jam 5, maka jam segini biasanya udah mulai masuk pintu tol Pasteur. Tujuan pertama: ke Prima Rasa cabang Kamuning. Rute yang lo ambil: keluar tol, lurus naik fly-over, turun menjelang Dago, belok kanan untuk mengarah ke Dago bawah, belok kiri di Jl. RE Martadinata (Riau), masuk ke jl. Kamuning lewat Gandapura. Jam segini lo bisa memilih kue yang lo mau secara nyaman dan manusiawi. Telat 1 jam aja, siap2 ketemu antrian ibu2 kalap berebut brownies. Oleh2 yang bisa lo beli di sini: Brownies, Roti Pizza, Picnic Roll.
07.30 Selesai belanja di Prima Rasa. Telusuri lagi jalan Riau mengarah ke Dago. Di perempatan yang ada Kimia Farmanya, belok kanan. Belok kiri saat ada Kimia Farma lain di sebelah kiri jalan. Lo memasuki Jalan Sulanjana. Tujuan: Bubur Mang Oyo, bubur ayam terenak nomor 2 di Indonesia. Jam segini juga belum ngantri. Rekomendasi: Bubur ayam komplit dengan telur pindang dan ati ampela.
08.15 Selesai makan bubur, masih butuh oleh2? Telusuri Dago menuju ke atas. Di sebelah kiri jalan lo akan menemukan salah satu cabang Kartika Sari dan Mobil Keliling penjual Brownies Kukus Amanda.
09.00 Kalo elo menelusuri Dago sampe ke Mobil Keliling Amanda, artinya lo mencapai titik yang udah rada atas (mendekati simpang besar Dago). Puter balik di sekitar situ, mengarah lagi ke Dago bawah. Sekarang waktunya belanja di FO. Parkir mobil lo di halamannya Happening / Rich & Famous, di seberang Holiday Inn. Habis itu lo nyeberang, cegat angkot yang mengarah ke Dago atas. Pilih aja angkot yang bertuliskan "Dago" di kaca depannya - jangan kuatir, dia nggak akan melenceng ke mana2.

Lho, ngapain mondar-mandir? Supaya waktu lo nggak habis untuk keluar masuk parkiran, cukup parkir mobil di FO yang letaknya paling ujung.

Gue sarankan lo mulai berkelana di FO yang di sebelahnya Grande (gue lupa namanya). Di sana jual jeans murah2 BANGET. Jangan lupa mampir di Victoria kalo mau beli kaos unik Mahanagari. (updated: Mahanagari-nya udah pindah, sorry) Kalo hobi ngumpulin mobil2 miniatur, mampir deh ke Gift Shop Celebrate. Koleksinya banyak, dan kalo lo beruntung ketemu dengan pemiliknya, lo bisa diajak masuk ke ruang penyimpanan khusus di lantai atas. Di sana dia punya banyak stok yang nggak pasaran dengan harga lebih murah dari di Jakarta!

11.00 Jam segini biasanya tingkat kepadatan FO udah mulai 'mengerikan'. Segera keluar dari sana, selesai tidak selesai kumpulkan di kasir. Kalo lo belum mencapai titik yang deket dengan tempat parkir lo, segera cegat angkot yang pertama lewat. Ambil angkot yang jalurnya lewat BIP.
11.15 Waktunya makan siang, tujuan Bakmi Akung. Ambil jalur Dago turun terus sampe Merdeka, luruuus terus sampe mentok di pertigaan Hotel Panghegar, belok kiri, luruuus lagi ngelewatin Jl. Veteran alias Jl. Bungsu. Nyeberang Jalan Sunda sampe mentok dan arus lalu lintas mengarah ke kanan ke arah simpang 5. Ikuti arus, di sebelah kiri akan terlihat jejeran toko sepeda. Di simpang 5, belok kiri ke arah Gatot Subroto. Belok kanan di monumen tank mungil segede starlet terus luruuuus terus ikutin jalan besar (di sebuah titik jalan akan memecah 2, ikutin jalan yang besar). Lo akan menemukan Mi Akung di sebelah kiri jalan, menjelang perempatan besar.

Kalo lo berhasil mencapai tempat ini sebelum jam 12, lo beruntung. Setelah jam tsb lo bisa cengok nungguin antrian tempat. O iya, di sini juga tersedia musholla. Sekalian aja sholat di sini.

13.00 Cabut dari Mi Akung, lo puter balik menelusuri jalan arah lo dateng tadi. Pasang mata ke arah sebelah kanan jalan, siap2 ketemu Batagor Riri. Kalo udah ketemu, parkir aja di sebelah kiri jalan, jangan puter balik. Inget, timing is critical. Beli batagornya dibungkus aja, ga usah makan di sana. Pastinya udah kenyang makan mi, kan?
13.30 Teruskan perjalanan menelusuri jalur kedatangan lo tadi sampe ketemu simpang lima. Belok kanan menuju jalan Sunda. Luruuuuusss sampe mentok di sebuah taman besar. Belok kanan. Lihat di sebelah kiri, setelah taman ada belokan ke kiri pertama. Cuekin aja. Lanjut terus, belok kiri di belokan ke dua (setelah GOR Saparua). Luruuuus sampe ketemu perempatan besar, di sebelah kiri ada The Summit, di sebelah kanan ada Heritage. Lo parkir di The Summit. Nah, belanja deh di situ.

Di jam segini tingkat kepadatan FO udah mendekati histeris, tapi santai aja. Tas belanjaan lo udah terisi sebagian dari hasil perburuan di Dago, kan? Tempat yang perlu dikunjungi di deretan FO Jl. Riau ini adalah Heritage, Summit, dan For Men. Boleh Juga mampir di Edward Forrer di seberang Summit. JANGAN mampir di Coralia, Renariti atau China Emporium - buang2 waktu aja.

16.00 Lo akan butuh waktu lebih lama untuk belanja sore ini, jadi baru selesai sekitar jam 4 sore. Sekarang waktunya minum2 yoghurt dingin di Cisangkuy. Telusuri Jl. Riau ke arah Jl. Laswi (arah sebaliknya bila menuju Dago). Belok kiri kalo di sebelah kanan ada KFC. Lo akan ketemu mesjid besar bernama Istiqomah. Belok kanan di depan mesjid itu, terus luruuus sampe ketemu SMA 20 di sebelah kiri. Belok kiri setelah SMA itu. Luruuuus ikutin jalan, nah, gue rada lupa nih belokan ke berapa - lo tanya aja sama tukang kuda yang banyak mangkal di situ. Cisangkuynya udah nggak jauh.

Buat yang nggak doyan yoghurt (spt gue) lo bisa pesen milkshake juga di Cisangkuy.

17.00 Cabut dari Cisangkuy. Mungkin lo belum terlalu lapar sekarang, tapi perjalanan menuju tempat makan malam terbaik harus dimulai dari sekarang. Tujuan: makan malam di Sierra, Dago Pakar. Keluar dari jalanan yang ada Cisangkuynya itu, lo akan ketemu dengan jalan Diponegoro. Ikutin jalan itu luruuuus.... nanti lo akan ketemu perempatan Sulanjana - Dago. Belok kanan di sana, menuju ke atas. Luruuuuus aja. Ikuti petunjuk jalan, ada banyak sign menuju Sierra.

Kalo karena satu dan lain hal lo baru bisa nyampe di titik ini setelah jam 18.00, mending batalin rencana ke Dago Pakar daripada kelaparan di jalan. Akan sangat macet dan ngantri. Mending sebelum perempatan Dago - Sulanjana lo belok kiri ke jalan Maulana Yusuf. Di sana ada sate terenak di Indonesia, menyediakan sate ayam, kambing, sapi, ati-ampela, usus, dan kulit. Komplit!

18.00 Kalo timing lo pas, jam segini lo udah sampe di Sierra. Ambil tempat duduk di teras, biar bisa liat pemandangan lampu2 kota Bandung. Nikmati juga pemandangan orang2 yang telat dateng dan nggak kebagian kursi sambil nganga kelaparan :-) Bisa juga numpang sholat maghrib di sini.
19.30 Kenyang makan, telusuri rute kedatangan lo tadi untuk turun balik ke Bandung. Di simpang besar Dago (yang ada Mc D di sebelah kanan) belok kanan. Kalo lo ambil lurus, lo akan terjebak di kemacetan parah Dago setiap malam minggu. Setelah belok kanan, telusuri jalan turun melewati Cihampelas. Silakan mampir kalo mau beli jeans atau beli baju2 army look di seberang Ci-Walk. Setelah menyusuri Cihampelas, lo akan ketemu jalan layang. Belok kanan di situ, lo udah menuju Jakarta.

Selamat jalan2 di Bandung!

Foto dari sini

Google Custom Search

Photo AlbumOleh-oleh Pasar Seni ITB 2006 (63 photos)Sep 11, '06 12:51 PM
for everyone

Ikutan aaah.... kayaknya lagi pada rame nih upload foto Pasar Seni ITB 2006.

Hari Minggu 10 September 2006 kemarin, gue, istri, Ade dan Bayu piknik bersama ke pasar seni ITB. Penuhnya ngujubilah, tapi berhubung acara ini cuma ada 5 tahun sekali, yah... dibela-belain deh.

Di sana janjian ketemuan Winda dan Tei, dan pas udah sorean ketemu juga dengan rombongan MPers lainnya.

Dibandingin sama Pasar Seni ITB sebelumnya (2000), Pasar Seni kali ini terasa lebih 'ala kadarnya'. Pemanfaatan area yang jauh lebih sempit, serta wahana permainan yang kalah lucu. Tapi sebagai sebuah event, Pasar Seni tetap istimewa. Gue yakin dengan segala keterbatasannya sekarang masih mampu menghibur penonton.

Ini dia foto-foto kami selama di sana, cerita lengkapnya ada di keterangan masing-masing foto ya!

Photo AlbumMakassar trip in pictures (51 photos)May 19, '06 3:17 PM
for everyone

Ini dia foto-foto selama di Makassar.
Cerita lengkapnya bisa dibaca di journal gue:
Klik di sini untuk baca bagian pertama.
Klik di sini untuk baca bagian ke dua.
Klik di sini untuk baca bagian ke tiga.


Sabtu 13 Mei 2006

H
ari ini kakak gue yang paling tua dateng, dengan demikian Ibu dikerumuni oleh 4 anak, 3 menantu, dan 4 cucu. Kondisi ibu udah makin membaik, minimal udah nggak demam lagi dan udah mau makan. Berdasarkan penjelasan dokter, kemungkinan parahnya kondisi ibu antara lain disebabkan oleh pengobatan yang selama ini dijalani di Jakarta.

Seperti udah gue ceritain di bagian pertama, Ibu punya dokter langganan yang rutin ngobatin ibu dengan sebuah suntikan 'mujarab'. Efek suntikan ini rata-rata cuma bertahan sebulan, makanya Ibu harus ke dokter itu sebulan sekali.

Denger deskripsi tentang dokter langganan ibu ini, dokter-dokter di Makassar menduga bahwa suntikan "mujarab" itu sebenarnya adalah steroid! Ciri-cirinya ya begitu itu, badan yang sakit-sakit bisa langsung segar bugar kaya disulap. Konon di kalangan kedokteran, steroid disebut sebagai 'obat dewa' karena keampuhannya 'mengobati' berbagai penyakit. 'Mengobati' dalam tanda kutip karena efek steroid ini 'semu', sekedar memberi rasa nyaman tanpa menyembuhkan sumber penyakitnya. Akibatnya, penyakit di persendian Ibu semakin lama jadi semakin parah.

Dokter-dokter di Makassar juga bilang, steroid punya efek samping mengurangi kemampuan tubuh mengendalikan kadar gula darah. Orang sehat aja bisa naik kadar gula darahnya kalo terus-terusan disuntikin steroid; apalagi pengidap diabetes seperti Ibu. Suntikan steroid biasanya hanya diberikan sebagai alternatif terakhir, kalau udah terpaksa sekali, itupun dengan frekuensi yang sangat jarang - bukannya rutin sebulan sekali seperti yang diberikan dokter di Jakarta. Seandainya dokter itu waras dan menjalankan kode etik kedokteran secara baik dan benar, seharusnya sebagai dokter umum dia merujuk Ibu pada dokter ahli urusan syaraf dan tulang - bukannya main suntik steroid padahal dia tahu betul Ibu mengidap diabetes.

Dugaan bahwa suntikan dari dokter langganan Ibu adalah steroid makin menguat saat dokter di Makassar juga menjelaskan bahwa terapi steroid sangat populer di kalangan penderita alergi dan asma - matched dengan fakta bahwa 80% pasiennya adalah penderita asma. Memang kalo diinget-inget, tu dokter emang rada meragukan sih kompetensinya. Sekali waktu gue pernah demam tinggi, berobat ke dokter kesayangan Ibu itu dan divonis "masuk angin" lantas dikasih resep antibiotik aneh-aneh seharga ratusan ribu rupiah. Seminggu gue makan tu obat-obatan tanpa ada perbaikan, akhirnya gue pindah dokter dan ketahuan bahwa sebenernya gue sakit thypus! Padahal selama seminggu itu gue udah makan segala macem, termasuk yang asem-asem dan pedes-pedes. Untung nggak 'lewat'. Trus pernah juga di kesempatan lain, dengan positive thinking bahwa doctors are human and it's human to make mistake, gue panas tinggi lagi dan kembali berobat pada dokter bego itu. Lagi-lagi diagnosanya "masuk angin", dikasih obat mahal-mahal, seminggu nggak beres, pindah dokter dan ketahuan bahwa gue sebenernya kena demam berdarah!

Sekarang gue lagi pikir-pikir gimana caranya memperkarakan dokter langganan Ibu itu. Mungkin di negara kacau ini ujungnya nggak akan sampe pada pencabutan ijin praktek si dokter (mengingat di daerah-daerah terpencil seorang lulusan SMP bisa sukses praktek jadi dokter bertahun-tahun sebelum akhirnya ketahuan). Tapi kalo gue berhasil mengumpulkan bukti kuat bahwa dia memang melakukan malpraktek, sebuah publikasi virtual mungkin cukup ampuh untuk menurunkan jumlah pasiennya secara signifikan - dan buat si dokter itu sama parahnya dengan kehilangan ijin praktek.

We'll see.


Karena yang jagain Ibu udah makin banyak, malemnya gue dan Ida jalan-jalan sekalian belanja keperluan Ibu. Lagi-lagi kami diantar Pak Aswadi. tujuan: mall.

Kami menuju ke mal yang konon terbesar di Makassar. Kalo orang Jawa tergila-gila pada huruf O sehingga kalo punya anak dikasih nama agung nugrOhO, punya kota dikasih nama sOlO, punya jalanan dikasih nama MaliObOrO, dan kalo bingung nanya 'OnO OpO thO', maka orang Makassar tergila-gila pada NG. Orang-orang dipanggil daeNG, jalanan dan daerahnya dikasih judul LatimojoNG, MamajaNG, dan BawakaraeNG, kalo lapar minta makaNG, makanannya disebut Nyuk-NyaNG (bakso), dan kalo punya Mal tentu aja dikasih nama PanakkukaNG.

Mal Panakkukang ini secara menakjubkan mirip sekali dengan Mal Kelapa Gading. Mulai dari suasana jalanan yang menuju ke sana - lengkap dengan Karaoke NAV, sampe supermarket di dalamnya yang bermerk Diamond dan posisinya berdekatan dengan foodcourt. Persis banget deh!

Karena males makan berjejal-jejal sambil dikerumuni asep rokok, kami makan di sebuah resto bernama Indigo. Penampilannya mirip-mirip resto Platinum, yang waktu itu dipilih jadi tempat kopdar MPers waktu bagi-bagi kalender. Ida pesen rawon, yang waktu nongol ternyata baunya mirip coto sehingga Ida memutuskan pesen kangkung cah sapi.

Selesai makan, seperti biasa gue motret-motret keadaan sekitar termasuk motretin toko J.CO donuts yang baru buka di sana. Eh, tau2 gue didatengin sama dua orang berseragam J.CO.

"Maaf Pak, bapak dari mana ya?"
"...? Dari Jakarta. Kenapa emangnya?"
"Begini Pak, peraturan di toko ini dilarang memotret Pak."

Whaaaat...? Gue bahkan nggak masuk ke area tokonya. Orang gue lagi berdiri di tengah-tengah mal, kan terserah gue mau motret ke mana? Sejak kapan ada larangan motret di mal? Tapi... baiklah. Kedua petugas J.CO telah meminta gue untuk tidak memotret tokonya. Fine. Mari kita hormati permintaan mereka.

Ooops... lho kok malah nongol di sini sih fotonya? Aduh, maaf lho mas-mas J.CO, ini pasti kesalahan teknis deh. Orang dilarang motret kok malah diposting di internet sih... maaf, maaf lho.... sengaja!

Ealaaaa... ini kok malah mucul satu lagi, gimana sih... aduh, ck. Emang repot deh kalo hari gini mau ngelarang2 orang motret, sekalinya dilarang malah nongol di internet. Kacau, kacau! Gini aja deh mas, kalo keberatan silakan tuntut aja lah. Kali aja mas bisa nemu pasal larangan memotret di dalam mal. Monggo lho!

Mengingat malam itu tempat gue di kamar RS telah tergusur oleh kedatangan kakak gue yang tertua, gue nginep di rumah kakak gue yang nomer 3. Tepatnya sih 'numpang begadang', karena malam itu gue manfaatkan dengan ngetik sampe Subuh.

Minggu 14 Mei 2006

U
dah lupa bangun jam berapa, pokoknya semua orang udah pada rapi jali siap jalan. Tentunya untuk menghemat waktu gue langsung ikutan cabut tanpa mandi. Di tengah perjalanan menuju RS, rombongan mampir dulu di sebuah resto bernama "Nelayan". Coba tebak hidangan apakah gerangan yang disajikannya?

Untungnya resto ini punya ayam goreng mentega yang cukup oke, jadi gue rada terhibur dikit lah. Ipar gue akhirnya pesen Kudu-kudu goreng, dan percayalah, tampangnya setelah digoreng jauh lebih ajaib ketimbang waktu masih mentah. Apalagi setelah dicuwil sana sini, bentuknya jadi makin nggak keruan - seperti seonggok onderdil motor yang kusut. Selain Kudu-kudu juga ada hidangan telur Ikan Tuing-tuing. Bentuknya mirip biji delima tapi warnanya coklat dan konon rasanya lembek-lembek amis. Gue, tentu aja males mencicip walaupun hanya sesendok.

Dari resto "Nelayan" rombongan berpisah jalan. Sebagian menuju RS, sementara gue dan Ida mampir beli oleh-oleh wajib dari Makassar: Minyak Tawon.

Toko yang jual Minyak Tawon ini namanya "Sulawesi Art Shop", dan sesuai dengan namanya, dia jual berbagai cindera mata khas Sulawesi - bukan cuma dari Makassar doang. Ada miniatur rumah Toraja, gantungan kunci berbentuk badik, mutiara, sirup Markisa, kacang disko, serta aneka rupa madu dan minyak gosok dari seluruh penjuru Sulawesi - termasuk minyak lawang, minyak kayu putih, dan minyak telon. Minyak Tawon sendiri punya 2 varian tambahan selain Minyak Tawon versi 'original' yang bertutup botol merah, yaitu:

  1. Minyak Tawon tutup putih; harganya 3 kali lipet yang tutup merah karena konon bahan-bahannya lebih murni sehingga lebih 'mujarab' dan tentunya lebih panas.
  2. Minyak 608 (udah kaya model Levi's), yang lebih panas lagi dari Minyak Tawon tutup putih. Baunya sih seperti Minyak Tawon, tapi panasnya seperti minyak lawang.

Selain kedua varian tersebut, juga ada Minyak Tawon versi balsem.

Setelah ngumpul sebentar plus numpang mandi (khusus gue) di RS, kami berangkat ke airport jam 2 waktu setempat. Kali ini pulangnya naik AdamAir, ngaret setengah jam dari jadwal sehingga baru sampe Jakarta sekitar jam 7 malem.

Begitu sampe rumah, langsuuuung buka MP!

=TAMAT=


Foto: sunset dari jendela pesawat menuju Jakarta.


G
ara-gara sakit, ada kebiasaan Ibu yang berubah. Yang tadinya siang-siang bolong masih doyan aja minum teh anget, sekarang minta AC kamar disetel pol. Minta blower AC maksimal di angka 18o C, yang saat berpadu dengan hawa dingin dari luar gue yakin akan menghasilkan suhu di bawah angka tersebut . Bahkan gue yang bersemboyan “cold is always better than hot” akhirnya nyerah juga. Jaket masih terasa kurang, sehingga gue kerudungan sarung sebelum begadang nungguin ibu. Sekalian gue manfaatin kesempatan itu untuk ngetik sebuah personal project yang udah lama nggak kelar-kelar. Sekali lagi membuktikan, selalu ada hikmah dari setiap kejadian.

Sekitar jam 2-an datang seorang suster untuk ngecek tekanan darah dan suhu. Waktu itu kondisi kamar gelap total, satu-satunya sumber cahaya cuma dari layar laptop. Posisi duduk gue waktu itu pas di depan pintu. Jadi saat buka pintu, suster malang itu disambut pemandangan kamar gelap, ada cahaya remang-remang menerangi seonggok bayangan berkerudung sarung. Logis bila kemudian mbak suster berujar,

“Whuaaa...!”

“Tenang-tenang suster, ini saya, lagi kedinginan...!”

Sementara itu kakak gue sedemikian excited-nya melihat penampilan gue sampe ingin mengabadikannya. “Hihihihi... ya ampuuuun... tampangmu kayak wewe gombel! Mana kamera, mana kamera, sini ta’ foto...!” Dia langsung sibuk mengacak-acak ke sana kemari mencari kamera, dan dengan teriakan penuh kemenangan dia menyomot.... MP3 player gue.

“Eh... tapi... ini bukan kamera ya? Ini apaan sih?” katanya kebingungan sambil membolak-balik benda itu. Memang gitulah kalo orang gaptek sok mau iseng.

Selain karena sibuk ngetik, malam itu gue kurang berselera tidur karena rupanya jalan raya di depan RS adalah tempat favorit untuk para anak GAWL Makassar main tarik-tarikan motor. Nanti kalo udah capek tarik-tarikan, mereka pada nongkrong di pinggir jalan, setel musik kenceng-kenceng kaya tukang getuk lindri, minum-minum, lantas botolnya dibuang ke tengah jalan.

Tapi sekali lagi, setiap kejadian ada hikmahnya. Karena nggak tidur semaleman, gue bisa menyaksikan saat-saat terakhir sebelum bulan terbenam di ufuk barat. Bagus banget, mana kebetulan lagi purnama dan sinarnya membayang di permukaan laut. Gue kira pemandangan kaya gini cuma ada di postcard.

12 Mei 2006

Berdasarkan pemeriksaan hasil ronsen dan serangkaian tes yang udah dijalankan kemarin, tim dokter memutuskan pagi ini ibu akan menjalani operasi ringan untuk mengeluarkan nanah yang terakumulasi di persendiannya. Gue sendiri nggak nungguin operasinya, krn lagi tidur pules sehabis begadang semaleman.

Siangnya, gue dan Pak Aswadi sholat Jum’at di mesjid deket hotel. Rupanya ada yang beda dengan acara sholat Jum’at kali ini. Sebelum pak khatib naik mimbar, pak Camat naik duluan untuk menyampaikan himbauan agar masyarakat nggak bertindak anarkis. Tema ceramah Jum'atnya juga senada. Rupanya, akibat langsung bersarang di kamar RS sejak dateng, gue sampe lupa bahwa penduduk kota ini lagi dihantui kerusuhan. Dalam perjalanan pulang Pak Aswadi sengaja ngambil jalan muter biar gue bisa liat-liat keadaan di daerah pertokoan. Sebagian besar toko tutup, kalopun buka cuma buka separo pintu, biar bisa cepet ditutup lagi kalo ‘ada apa-apa’. Sementara itu, di depan Polwiltabes Makassar segerombolan orang berkaos item lagi demo. Padahal perlu dicatat dan digarisbawahi, saat itu matahari lagi terik-teriknya. Gue sama sekali nggak mudeng apa sebenernya yang mereka tuntut. Pangkal permasalahannya kan karena ada orang membunuh pembantu, itupun pelakunya juga udah ditangkep. Terus mau apa lagi? Apa lagi yang mau didemo? Minta pelakunya disate di tengah lapangan? Atau sekedar caper?

Sampe di RS, istri hamil tau-tau ingin sambel mangga. Tepat di depan RS ada resto padang dan bakso, kalo mau jalan ke sanaan dikit juga ada yang jual ayam goreng, tapi tetep... yang dimaui adalah sambel mangga. Maka lagi-lagi Pak Aswadi bertugas nganter ke sebuah resto seafood bernama Bahari.

Bentuknya sumpah aneh abis, mirip setrika terbalik.

Celakanya jalan-jalan ke kota pesisir seperti Makassar adalah: resto-resto andalan di sini sebagian besar jualan seafood, sementara gue nggak doyan ikan. Koleksi ikannya sih lengkap banget, aneka bentuk dan warna ada. Yang warnanya belang-belang kuning seperti ikan hias sampe nggak terlihat seperti makanan juga ada. Tapi yang paling aneh adalah ikan yang disebut ikan Kudu-kudu. Bentuknya sumpah aneh abis, mirip setrika terbalik. Kulitnya item dan keras, di bagian atas bermotif polkadot sementara di bagian samping bermotif segi enam seperti tempurung kura-kura. Penjualnya dengan bangga memamerkan ikan bertampang purba itu dari dalam kotak es, sementara dengan sangat menyesal gue pesen ayam goreng. Konon ikan Kudu-kudu itu hidangan istimewa karena sulit ditangkep, tapi sori nih mas, kita mah doyannya makanan yang lumrah-lumrah aja deh.

Namanya resto seafood, tentu nggak banyak yang bisa diharapkan dari rasa ayam gorengnya. Lembek dan berminyak banget. Tapi kayaknya resto “Bahari” ini cukup terkenal juga di sini, buktinya Pak Walikota juga memilih resto ini sebagai tempat makan siang. Seperti umumnya pejabat daerah, kedatangan Pak Walikota menimbulkan kehebohan di seantero restoran. Beliau dikawal oleh seorang pria yang sangat mengikuti "pakem" banget: berkulit gelap, kumis baplang, pake kaos item bertuliskan judul sebuah kongres politik, dan jangan lupa: seluruh jari tangan penuh dengan cincin batu akik segede-gede belimbing wuluh. Sayangnya dia pake sepatu, jadi gue nggak bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga atau enggak.

Selesai makan, gue dan Ida jalan kaki balik ke RS. Waktu menyusuri pantai Losari, Ida kumat.

"Yang..., kira-kira sore nanti kamu capek nggak ya?"

Sayangnya dia pake sepatu, jadi gue nggak bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga atau enggak.
"Hmm. Kenapa, ingin makan apa lagi?"
"Enggak.. aku ingin main bebek-bebekan..."

Udah ratusan kilometer dari Jakarta, nyeberang laut pula, dan istri ingin main bebek-bebekan yang mana di Taman Mini juga buanyak. Tapi berhubung gue adalah seorang suami yang bertanggung jawab memberikan nafkah lahir dan bathin kepada istri, sore harinya gue dan Ida main bebek-bebekan di pantai Losari. Buat yang tertarik nyoba hal yang sama, gue kasih tau aja nih, nggenjotnya lumayan pegel. Dan airnya agak bau.

Selesai main bebek-bebekan kami pulang ke RS, ketemu Nara keponakan gue, yang dengan ceria berkata, "Oom Aguuung... besok aku juga mau dong main bebek-bebekan! Temenin ya!"
"Tuh sana ajak tante Ida aja, dia yang doyan main gituan."

Akibat main bebek-bebekan, malam itu gue cuma kuat melek sampe jam 2. Capek bo'.


Foto: di depan pantai Losari, dengan topi serba guna peninggalan acara jalan-jalan ke Solo.


Blog EntryMakassar trip hari 1: Mi, Ji, Toh, keluar!May 15, '06 11:41 AM
for everyone

M
inggu ini diawali dengan berita kurang menyenangkan dari kakak gue yang tinggal di Makassar: ibu gue masuk RS! Sejak kakak gue pindah ke Makassar, Ibu memang sering mondar-mandir ke sana sebagai variasi kalo lagi bosen di Jakarta. Pas lagi di sana, tau-tau sakit. Masuk RS, lagi.

Cukup kaget juga gue dengernya, mengingat selama ini Ibu termasuk manula yang sehat dan nggak bisa diem. Waktu masih di Jakarta, kalo siang-siang iseng nggak ada kerjaan, suka ngajak Lis - asistennya urusan sapu-menyapu - makan gado-gado di Plaza Indonesia. Atau kalo obatnya abis suka pergi sendiri naik taksi ke Pasar Baru. Selain itu ikut pengajian dua kali seminggu di dua tempat yang berbeda.

Memang kadang Ibu suka mengeluh persendiannya sakit dan kaku, tapi dia punya dokter langganan yang punya suntikan manjur. Tiap kali disuntik sama dokter itu, sakitnya hilang. Tapi hanya tahan sekitar sebulan. Makanya Ibu rutin berobat ke dokter itu sebulan sekali.

Denger kabar Ibu sakit, kakak gue yang tinggal di Jakarta langsung berangkat ke Makassar. Ida juga jadi rewel ngajakin segera pergi ke sana.
"Akunya jadi sedih denger Ibu sakit..." kata Ida sambil bercucuran air mata. "Kamu pasti nggak sedih ya?"

Menurut gue, kalo semua orang panik dan sedih saat ada orang sakit, nanti nggak ada yang bisa mikir dengan kepala dingin - urusan malah akan jadi kacau semua. Daripada sedih nggak ada gunanya, mending gue ekstra lembur ngeberesin semua kerjaan kantor biar bisa minta cuti hari Kamis.

Waktu dapet kabar dari kakak gue, pertanyaan pertama gue adalah, "Kapan kondisi Ibu bisa cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?" Senewen gue mikir Ibu sakit di seberang pulau yang mungkin kualitas dokternya masih kurang jelas. Kakak gue jawab belum tau. Pokoknya sekarang Ibu nggak bisa jalan. Boro-boro jalan, kesenggol bantal aja seluruh sendinya sakit-sakit. Selain itu, Ibu juga demam cukup tinggi, sampe 390 C.

Kamis, 11 Mei 2006

Gue dan Ida berangkat ke Makassar naik penerbangan Batavia Air pertama jam 5 pagi. On time, jam 5 teng take-off dan sampe Makassar jam 8 waktu setempat. Langsung dijemput sama Pak Aswadi, supir kantornya ipar gue, dan dibawa ke RS tempat Ibu dirawat. Namanya RS Stella Maris.

Reaksi pertama gue waktu ngeliat bentuknya RS Stella Maris ini adalah: makin nggak sabar ngebawa Ibu pulang ke Jakarta. Gimana enggak, gedungnya gedung tua peninggalan Belanda. Lift cuma dua, itu juga ditempelin pengumuman "khusus untuk pasien dan petugas". Pantesan waktu demam tinggi Ibu sempet ngeliat 'makhluk-makhluk ajaib' berkeliaran di kamarnya. Mungkin para penunggu lama gedung spooky ini kali, pikir gue.

Tapi ternyata belakangan terbukti gue terlalu underestimate RS tua ini. Pelayanan kesehatan di sana OK banget: dokternya ramah dan komunikatif, perawatnya juga helpful banget. Untuk lengkapnya, bisa dibaca di review.

Hari itu Ibu dironsen seluruh persendiannya. Gue ikutan ke kamar ronsen dengan tujuan bantuin para perawat dan petugasnya nggeser-geser badan Ibu supaya pas dengan posisi mesin ronsennya. Di situlah gue semakin menyadari betapa kayanya budaya Indonesia. Nggak usah jauh-jauh mikirin tarian dan nyanyian daerah, yang gue maksud di sini jauh lebih umum dan 'sehari-hari', yaitu intonasi.

Korslet komunikasi pertama terjadi waktu petugas ruang ronsen menyambut kedatangan Ibu dengan kalimat mengejutkan: "Ibu ini habis jatuh!"
"Heh? Kapan?" tanya gue kaget. Setahu gue Ibu nggak pake acara jatuh kok.
"Bukan, Ibu ini habis jatuh! Kenapa lututnya bengkak!!"
Gue mikir sebentar. Kayaknya ada yang salah nih. Setelah mikir dulu, baru gue ngeh, bahwa ternyata si mas-mas petugas ronsen itu NANYA, sementara dari intonasi nadanya gue kirain dia NGASIH TAU. Jadi sebenernya dia mau ngomong, "Apakah Ibu ini habis jatuh? Kok lututnya bengkak?" gitu loooh... Huh, dasar guenya yang telmi.

Waktu mau bayar obat di apotek, kakak gue juga mengalami korslet yang sama. Berhubung kakak gue nggak bawa duit tunai di dompetnya, dia nanya apakah di sini bisa pake debit card. Kata petugas apoteknya, "Di sini tidak bisa debit!"
"Kalo credit card bisa nggak?"
"Credit card bisa! Tapi Ibu KELUAR SAJA DULU SANA!"
"Hah, kenapa saya diusir?"
"Sebab kalau pake credit card nanti Ibu ada kena charge 3%, lebih baik Ibu pergi cari ATM saja dulu di luar sana!"
Ternyata maksudnya, "Di sini sih kalo mau pake credit card bisa-bisa aja, tapi kena charge 3%. Kan sayang. Mendingan Ibu ambil cash aja dulu di ATM, ntar balik lagi ke sini."

Logat dan intonasi ala Makassar ini juga jadi bahan obrolan favorit gue dan kakak-kakak gue dengan para suster.
"Suster, suster, ajarin dong kapan harus pake 'MI', kapan harus pake 'JI'," kata kakak gue. FYI, orang Makassar tuh punya sejumlah kata-kata pelengkap yang sulit dicari terjemahannya, tapi perlu untuk melengkapi kalimat biar 'afdol'. Jadi fungsinya mirip dengan 'dong', 'deh', 'sih' -nya logat Jakarta. Kalo nggak salah inilah yang namanya 'partikel', ya? Contoh penggunaannya antara lah, "Sudah MI!" atau "Sudah JI!". Tadinya gue kira penggunaan MI dan JI ini dibedakan tergantung jenis kelamin lawan bicara, tapi ternyata enggak juga.

Kalo udah ditanyain gini, paling para suster itu cuma ketawa-ketawa kegelian, mungkin sambil mikir 'nih tamu-tamu dari Jawa norak bener sih, liat orang Makassar ngomong aja heran'.

"Itu susah ditentukan, Ibu. Ibu harus ada sering-sering bicara dengan orang Makassar, baru nanti lama-lama Ibu bisa sendiri TOH?" 'Toh' ini juga salah satu celetukan favorit mereka, dan dengan kampungnya kakak-kakak gue pada kesenengan membeo-beo, "Iya TOH suster?"

Kadang kami coba-coba niru gaya bicara mereka, seperti "Suster, apa ini sudah ada waktunya untuk suster ambil Ibu saya punya tensi, TOH?"
Yang dijawab "Sudahlah Ibu, saya jadi pusing..."

Malam itu gue cuma ngendon di kamar RS. Selain karena tujuan utama dateng ke sini untuk ngejagain Ibu, juga karena hilang selera jalan-jalan ngeliat matahari terik banget.



LinkBandung PhotoblogMay 3, '06 11:50 AM
for everyone
Link: http://bandung.wordpress.com/

Buat obat kangen kepada kota paling funky seindonesia...



Oleh-oleh dari Bali... kali aja ada yang butuh referensi tentang hotel ini.

Hari 2

Watersport idaman Ida

Mencicipi sarapan pertama di hotel. Yah, mungkin karena target market yang beda dengan hotel2 di Kuta, sarapan di sini sangat Europe-oriented banget. Perut melayu gue cuma menemukan nasi dan bihun goreng sebagai teman favoritnya. Sedangkan sisanya, makanan2 bule seperti bacon dan sereal. Mana baconnya bacon 'betulan' lagi, bukan beef bacon! Untuk urusan sarapan, kelengkapan menu dan rasa masih diungguli oleh Hotel Alam Kulkul.


Baru bangun, langsung sarapan

Habis sarapan, Ida berenang-renang sementara gue keluyuran menjelajahi daerah di sekeliling hotel. Banyak tempat yang menawarkan watersport, salah satunya Flying Fish idaman Ida. Ida ngeliatin orang-orang yang main Flying Fish, hilir mudik sampe membal-membal di atas air, dengan tampang kepingin.
"Orang hamil nggak boleh ya main itu?"
"Yah... mengingat di Jakarta aja kamu nggak mau naik bajaj karena terlalu banyak getaran, aneh aja kalo tau2 di sini kamu main gituan..."
"Yah.... tapi nanti kalo udah nggak hamil lagi kan bisa ya main itu ya... "
"Iya, tapi nantiiii... tau deh berapa tahun lagi... makanya sekarang puas-puasin jalan-jalan, mungkin ini terakhir kalinya kita bisa jalan-jalan bebas kaya gini sampe beberapa tahun yang akan datang."
"Yah, kamu jangan bilang ini jalan-jalan terakhir dong... emangnya kamu nggak mau ngajak anaknya jalan-jalan di Bali?"
"Emangnya kamu mau ngajak bayi merah keluyuran panas-panasan di Bali?"
"Hu-uh!"
"Hu-uh!"

Abis berenang, kami mencoba meja ping-pong yang tersedia di deket kolam. Terus terang seumur-umur gue belum pernah main ping-pong, dan nampaknya demikian pula halnya dengan Ida. Jadi permainan ping-pong kami siang itu lebih banyak diisi dengan acara mengejar bola ke sana sini. Rupanya permainan kami diamati secara senewen oleh para mas-mas penjaga handuk di deket kolam, sampe akhirnya mereka ngomong, "Pak, apa nggak mending istrinya diajak main bilyar aja, kan kesian kepanasan..."

Yaudah, kami pindah ke meja bilyar. Lagi-lagi nggak ada satupun dari kami yang berpengalaman main bilyar, cuma modal sok tau aja. Ida sih merasa tau peraturan permainan bilyar, yang menurut dia adalah sebagai berikut:
1. Bola dalam susunan segitiga boleh dipukul sembarangan, asal pecah aja.
2. Kalo dari formasi awal ada bola yang masuk ke lubang, pemain boleh mukul lagi. Kalo nggak ada yang masuk, giliran pindah ke pemain lawan.
3. Bola yang jadi sasaran adalah bola dengan nomer terkecil yang belum masuk ke lubang.
4. Giliran berpindah kalo pemain gagal memasukkan bola saat dapat giliran mukul.
5. Kalo lawan mendapat giliran dari pemain yang gagal memasukkan bola DAN gagal mengenai bola sasaran, maka pemain tsb bebas memindah-mindahkan bola putih ke posisi yang dianggap paling strategis.
6. Kalo saat mau mukul banyak bola yang berserakan / mengganggu posisi tangan, maka bola2 tersebut boleh disusun ulang agar keadaan menjadi cukup nyaman / tidak ribet untuk memukul.

Terus terang peraturan tersebut, khususnya poin 5 dan 6 terdengar mencurigakan buat gue, tapi berhubung gue nggak tau sama sekali gimana peraturan aslinya, maka ya terpaksa nurut aja deh. Permainan berakhir dengan bola lebih banyak dimasukkan oleh gue, sementara Ida ngambek nggak mau main lagi.

Nggak kerasa pas liat jam udah lewat waktu makan siang, maka kami memutuskan untuk mulai mencari mobil sewaan. Abisnya, belajar dari pengalaman semalem, ongkos taksi PP menuju ke keramaian sama dengan ongkos nyewa mobil selama 48 jam.

Berhubung daerah ini lebih sepi dari Kuta, tempat penyewaan mobilnya juga lebih terbatas dan akibatnya lebih jual mahal pula. Karimun yang gue inget banget di bulan Desember gue sewa seharga 120 ribu per hari, di sini ditawarin dengan harga 165 ribu. Itu juga udah harga untuk turis lokal, kata pemilik mobilnya. Untuk bule 195 ribu per hari. Yea right. Langsung gue tinggal nyari tempat penyewaan lainnya dan akhirnya memutuskan untuk nyewa Katana aja seharga 100 ribu.

Setelah punya mobil, kami segera meluncur ke Denpasar.

Ayam Taliwang idaman SBY


resto Taliwang Baru langganan Ida
Tadinya sih kami mau nyobain nasi-something yang direkomendasikan lengkap dengan alamatnya oleh Shanti, tapi ternyata udah hampir jam 4 sementara kata Shanti jam 2 aja tuh nasi udah hampir abis. Jadinya ganti tujuan, kali ini menuju ke resto Ayam Taliwang yang lokasinya nggak jauh dari mantan rumah Ida waktu tinggal di Denpasar dulu.

Nggak nyangka, ternyata resto sederhana ini adalah kegemaran presiden SBY. Dindingnya dihiasi beberapa foto kunjungan SBY ke sana, lengkap dengan tanggalnya. Keliatannya SBY udah sering dateng ke sini sejak sebelum jadi presiden. Hmm... nggak kebayang kaya apa ribetnya situasi di sini kalo pas lagi dikunjungi SBY, mungkin nggak ngerima tamu umum kali.

Ida bernostalgia, dulu waktu masih tinggal di seberang resto ini sering diutus ibunya beli ayam di sini untuk lauk di rumah. Menu ayam di sini rada unik: ayam dijual per ekor, nggak bisa pesen sepotong-sepotong kaya di KFC. Ternyata ayamnya kecil-kecil... udah ayamnya memang ayam kampung, nampaknya masih remaja pula... kasian, mereka belum lama melihat indahnya dunia udah keburu naik pemanggangan.Uniknya lagi, resto ini menyediakan odol di wastafel dengan sebuah pengumuman tertempel di kaca: untuk menghilangkan bau terasi, gunakan odol... hehehe... dan setelah gue coba, ternyata odolnya nggak terlalu efek juga tuh.

Kenyang makan, Ida masih terobsesi nonton sunset. Terakhir kali kami ke Bali bulan Desember kan musim ujan tuh, hampir tiap hari mendung melulu plus kami juga lebih banyak jalan-jalan sehingga pas sunset selalu lagi berjauhan dengan pantai. Kali ini kami berhasil mencapai pantai sekitar jam 5 lewat, dan surprised ngeliat situasinya yang jauh lebih rame.
Di satu sisi gue turut gembira karena ini menandakan pariwisata Bali udah berangsur pulih, sementara di sisi lain sebel juga karena nyari parkir jadi susah.


Anjing pinter di pantai Kuta

Dasar apes, walaupun kali ini cuaca cerah, tetep aja nggak bisa liat sunset utuh karena di sekitar horizon banyak awan tipis ngeriung... yah tapi lumayan lah, pemandangannya cukup bagus juga kok. Yang menarik, gue ngeliat seekor anjing yang pinter banget. Entah sengaja dilatih atau emang bisa sendiri, anjing itu berkeliaran ke sana ke mari untuk nyari... sampah! Dia gali2 pasir, dan kalo nemu sampah berupa botol minuman plastik dia serahin ke majikannya. Lucu juga kali ya, kalo anjing-anjing liar di Bali dilatih melakukan hal yang sama. Lumayan buat jaga kebersihan pantai, sekalian buat contoh bagi para turis bahwa anjing aja ngerti bahwa sampah nggak boleh dibuang sembarangan. ..

Setelah matahari nggak keliatan lagi, kami jalan-jalan ke Starbuck untuk beli kopi, trus balik lagi ke pantai untuk ketemuan sebentar dengan temen kantor gue yang kebetulan juga lagi liburan ke Bali. Dia bener-bener liburan full, ikutan tour jalan-jalan ke seluruh penjuru Bali dan hari itu baru balik dari Tanah Lot.

Sekitar jam 7, kami beranjak dari Kuta.

Mal idaman gue

Dulu waktu gue menginjak Bali untuk pertama kalinya, gue ngelewatin mal Bali Galeria dan udah kepingin mampir ke sana. Tapi sayangnya anggota rombongan yang lain pada memveto keinginan gue tersebut. "Udah jauh-jauh sampe Bali masa mampirnya ke mall lagi sih? Dasar anak mall! Udah, ke mallnya nanti aja kalo udah pulang ke Jakarta."

Waktu itu memang hidup gue susah dipisahkan dengan mall. Entah kenapa kalo udah masuk mall rasanya hati gue tenteram banget walaupun cuma muter-muter seharian tanpa beli apa-apa. Tapi apa daya gue kalah suara dengan yang lain, jadi keinginan tersebut terpendam sampe sekarang. Nah, berhubung perjalanan pulang dari Kuta menuju Nusa Dua melewati mal ini, maka gue memutuskan untuk mampir ke sana. Akhirnyaa... bisa juga mampir ke Bali Galleria, yipiii... :-)

Sayangnya, kadang saat menjadi nyata sebuah impian tak seindah yang dibayangkan sebelumnya. Mal itu ternyata nggak seindah tampak luarnya. Udah mana AC-nya gerah, lagi. Trus di tengahnya ada sebuah air mancur raksasa yang berisik banget. Toko-tokonya nampak rindu order. Yang keliatan rame cuma Gramedia. Tapi, seperti halnya Gramedia Matraman dan Merdeka Bandung yang pernah gue kunjungi, di sini nampaknya berlaku kebijakan hemat energi - khususnya energi untuk menyalakan AC - sehingga situasinya jauh lebih gerah daripada di luar.

Abis dari sana kami langsung pulang dan tidur cepet, berharap bisa nonton sunrise besok pagi.

Bersambung



Pages:123

Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.