Agung's posts with tag: miracles
Mungkin waktu group musik Andra & the Backbone menciptakan lagu "sempurna" , bukan adegan2 seperti ini yang ada di benak mereka. Tapi thanks to Trini, pneghuni kubikel tetangga di kantor, gue mendapat ide untuk memvisualisasikan lagu "sempurna" dengan cara yang berbeda. Video klip amatrian ini adalah kado ulang tahun pertama bayi rafi. Sebagian kredit foto adalah milik Alan. Selamat ulang tahun bayi, terima kasih buat 365 hari yang penuh kesempurnaan... bayi_final_web2.wmv (17.7 MB)

< < sebelumnya
17.00 Bukaannya melaju terus hingga lewat dari jam 17.00 udah mencapai bukaan
9. Dokter udah dihubungi, juga para mertua. Sekitar jam 17.20, Ida mulai
didorong ke ruang bersalin. Ini pertama kali gue masuk ruang bersalin, dan gue
nggak nyangka ruangannya sesempit ini. Di sudut ada sepasang tabung kaca
raksasa - alat vacuum untuk membantu kalo bayinya mendadak macet di tengah
jalan. Mudah-mudahan nggak perlu make benda itu, pikir gue dalam
hati. Ida makin rewel, "Dokternya mana suster, kok nggak
dateng-dateng, sakit sekali ini..." "Tenang Ibu,
dokternya lagi di jalan, kan rumahnya dekat... sebentar lagi juga sampai. Tapi
kita ini bukan nunggu dokter lho bu... kita nunggu bukaannya sempurna sampai
bukaan 10. Kalaupun bukaannya sudah sempurna sebelum dokternya datang, ya kita
semua di sini punya kualifikasi bidan untuk membantu kelahiran. Jadi ibu nggak
perlu kuatir, ya..." Excellent answer, bener-bener menenangkan perasaan.
Buat para ibu yang masih bingung mau melahirkan di mana, gue highly recommend
RS YPK deh. Menjelang jam 17.30 ibunya Ida dateng dari hotel,
ikutan masuk ke ruang bersalin untuk nengok anaknya. "Mama...
sini aja.." kata Ida. Para suster saling berpandangan, rada sungkan untuk
mengusir, tapi apa boleh buat. "Maaf ibu, yang nungguin di dalam satu saja,
sebab ruangannya sempit. Mau ditunggui ibunya atau suaminya?" Sekarang
giliran ibunya Ida yang liat-liatan sama gue. Nampaknya beliau belum siap
mental untuk ikutan nonton proses kelahiran, sehingga akhirnya gue mengambil
inisiatif, "Saya aja yang di dalam suster." Ibunya
Ida segera menimpali dengan nada lega, "Iya suster, saya nunggu di luar
aja deh." Beberapa menit kemudian, para suster yang berjaga
dalam ruangan tiba-tiba berteriak, "Bukaannya udah sempurna ini! Ayo
kita mulai aja." Pas saat itu HP bunyi. Dari Bayu. "Wah,
Bay, sori banget ya gue belum bisa keluar sekarang, soalnya... ini udah di
ruang bersalin. Bayinya udah mau keluar. Sori ya, tolong doain ya!" Nggak
nyangka ternyata anak gue cinta banget sama Oom Bayu, lahirnya nunggu Oom Bayu
dateng dulu. Sementara itu, dokternya belum juga dateng. Para
suster nampak udah mantap bersiap-siap, tiba-tiba jreng... datanglah sang
dokter. "Tahan... tahan dulu ya, dokternya udah
datang," Dokter make baju operasi dan sarung tangan karet, lalu
mengambil alih komando. "Oke ibu, sekarang semuanya tergantung ibu
ya, ini akan sepenuhnya mengandalkan tenaga ibu. Masih ingat senam hamilnya
kan? Yak, kalau sudah siap ikuti aba-aba saya untuk mendorong ya
bu..." Nah, di titik inilah keyakinan gue dari tadi pagi sedikit-sedikit mulai luntur.
Maksud gue, seluruh proses kehamilan Ida dari hari pertama hingga hari ini
berjalan relatif tanpa gangguan. Memang bulan lalu sempet ada kontraksi dini,
tapi bisa diatasi tanpa ada kebocoran air ketuban. Selama Ida hampir nggak pernah
sakit, nggak pernah jatuh. Hari ini juga semuanya berjalan sesuai rencana
dan prosesnya bisa dikontrol. Tapi justru di detik-detik menjelang kelahiran
keadaan bisa berbalik 180o. Sekarang gue ngerti kenapa banyak cerita tragis
seputar proses kelahiran justru di detik2 terakhirnya: karena semuanya
tergantung pada kekuatan si ibu. Sekalipun semuanya normal, dalam arti bayi
nggak sungsang, bukaan sempurna dan jalan lahir memadai, kalo ibunya tiba-tiba
kehabisan tenaga saat proses kelahiran akibatnya bisa fatal. Yang paling
berbahaya adalah ketika bayi udah separuh jalan keluar, tiba-tiba ibunya nggak
mampu lagi mendorong - bayi bisa kejepit di tengah-tengah, dan resikonya bisa
aneka ragam mulai dari kelainan saraf hingga kematian karena nggak bisa nafas. "Siap
ibu? Yak dorong...!" Ida mencoba mendorong tapi belum berhasil. Gue sibuk
mengabadikan pake digicam. Huh, untung memory cardnya udah gue
kosongin. Rupanya patokan untuk mendorong keluarnya bayi adalah
kontraksi di perut ibunya. Jadi para suster yang membantu selalu nanya
"sakitnya masih nggak? Kalo sakitnya hilang berhenti dulu"
Saat istirahat itu dipake untuk mengambil nafas dan menyusun tenaga sambil
menunggu gelombang kontraksi berikutnya datang. Dan di saat bukaan udah
sempurna begini, jeda waktu istirahatnya nggak akan terlalu lama - oleh karena
itu managemen energi bener-bener penting dalam proses ini. "Sudah
terasa sakit lagi ibu? Oke, ayo dorong lagi. Nggak papa bu, tendang aja
saya," kata dokternya mempersilakan Ida menggunakan badannya sebagai
pijakan kaki. Satu lagi hikmah yang gue temukan: untung dokternya gede dan
kekar - Mayor Angkatan Darat pula. Coba kalo kurus kecil dan cungkring, bisa mental
kali menahan tekanan segitu besarnya. FYI, tekanan mengejan pada saat melahirkan
sedemikian besarnya sehingga para ibu dilarang untuk menutup mata (karena
pembuluh darah mata bisa pecah), menggembungkan pipi (karena pembuluh darah
pipi bisa pecah), maupun mengatupkan rahang (karena lehernya bisa jadi menggembung
seperti kodok bangkong). Beberapa kali Ida mencoba mendorong tanpa hasil sampe
akhirnya... nah tuh, apaan tuh bulet-bulet berlendir nongol... eh ternyata
kepala anak gue! Memang luar biasa design Sang Pencipta bayi karena
ternyata kepala bayi yang baru lahir itu sama sekali nggak terlihat seperti
tulang. Di tangan dokter yang menyambutnya, kepala anak gue nampak lembek dan
berdenyut seperti balon berisi air. Rupanya tulang tengkorak kita yang sekarang
keras ini, dulunya lembek dan elastis supaya gampang melewati jalan lahir.
Rupanya ini juga sebabnya kenapa para bayi yang lahir dengan divacuum kepalanya
jadi memanjang, karena saat lahir tulangnya masih sangat lunak. Yah pikir2
tulang manapun kalo direndem air selama 9 bulan bisa jadi empuk juga kali
nggak? Saat kepala bayi udah keluar, dokter berhenti sebentar untuk melepaskan lilitan
tali pusar di leher. Selama ini hasil USG menunjukkan adanya tali pusar melintang
di leher, tapi nggak bisa memastikan apakah posisinya hanya sekedar numpang
lewat atau betulan melilit seperti laso. Ternyata memang melilit. Kalo kata
orang Jawa sih, bayi-bayi yang lahir dengan terlilit tali pusar nanti setelah
besar akan pantes pake baju apa aja. Gue sih nggak terlalu setuju ya, secara
ada beberapa orang yang gue tau lahir terlilit tali pusar suka aneh juga dandanannya. Setelah
lilitan tali pusar berhasil dilepaskan, proses kelahiran berlangsung lancar.
Dalam beberapa menit aja seluruh badan bayi udah keluar sempurna. Sama sekali
nggak kaya di film-film di mana bayi-bayi yang baru dilahirkan langsung bisa
nangis kenceng, anak gue cuma teronggok tak berdaya di atas meja - keriput berlumuran
lendir dan darah. Suster mengorek-ngorek mulutnya untuk mengeluarkan sisa
lendir, lantas dipindahkan ke meja sebelah untuk dilap dan ditimbang. Baru setelah
itu kedengeran tangisnya, itu juga dengan suara yang seperti tertahan. Keliatannya
masih banyak lendir di saluran pernafasannya. Waktu itu jam tangan
menunjukkan angka 17.55. Waktu ini yang dipake sebagai catatan resmi
waktu kelahiran bayi gue. Aneh. Tiba-tiba aja hari ini gue udah jadi seorang
bapak. Epilog Bayu dan
Ade tercatat sebagai MPers pertama yang menyaksikan kehadiran anak gue ke
dunia. Bayu malah mengabadikan proses gue mengadzani si bayi - sementara gue
sendiri nggak kepikiran. Sedangkan Ai, sesama ibu guru di tempat ngajar Ida, ikutan
jadi orang pertama yang nengok karena 'kebetulan' lagi lewat di deket RS. Malemnya,
seluruh keluarga gue, minus ibu yang masih terikat di kursi roda dan kakak gue
yang tinggal di Makassar, berbondong-bondong dateng ke RS. Lagi-lagi 'kebetulan',
hari itu adalah ulang tahun kakak gue yang tertua, jadi semuanya lagi pada
ngumpul di rumah. Seperti udah diatur dalam skenario maha besar, kelahirannya
disambut oleh banyak orang. Menjelang tengah malam, setelah semua tamu pulang, gue
pulang sebentar untuk ngambil baju di rumah. I looked
up to the sky, and there it is... the full moon. My favourite celestial object
is also coming to witness the birth of my son. Nadiv Rafi
Nugroho.
foto-foto lengkap proses kelahiran bayi kami bisa diklik di album yang ini.
Terima kasih... ...buat para
MPers yang udah repot-repot meluangkan waktu untuk kirim SMS, PM, nelepon, dan menengok, terima kasih
banyak ya.
Posting-posting yang berkaitan dengan kelahiran bayi kami antara
lain bisa diklik di: eh kalo ada yang kelewat mohon dikoreksi ya... maklum
gue postingnya udah telat banget sih, huhuhu... kebiasaan buruk menunda
pekerjaan :-p Thanks again, guys. You're the best!
<<sebelumnya
12.00 Orang tua Ida datang dari Bandung, diantar adiknya
Ida (Novel). Lagi-lagi dilatarbelakangi sebuah peristiwa 'kebetulan'. Weekend
itu, sebenernya si Novel yang sekarang kerja di Jakarta nggak berencana pulang
ke Bandung. Tapi karena mendengar ada promosi travel Cititrans "beli
tiket one-way dapat tiket pp" maka Jumat malam berangkatlah dia ke
Bandung. Eh... ternyata kepulangannya itu seperti disiapkan untuk mengantar
kedua orangtua Ida berangkat ke Jakarta! Yah namanya orang tua,
ngeliat anaknya merintih-rintih gitu malah jadi ikutan bercucuran air mata. Merasa
ditangisi, Ida jadi ikutan cengeng deh. Berantakan sudah semua upaya hiburan
gue dari tadi, termasuk dongeng "kanguru dan buah nenas".
Soal sakit menjelang melahirkan ini emang serba salah sih. Progres bukaan
jalan lahir memang sakit, jadi sakit adalah baik - dalam arti prosesnya berjalan
lancar. Tapi sakit kan juga nggak enak, dan nggak ada sesuatu yang bisa dilakukan
untuk meringankannya, maksud gue dibius, misalnya. Bius malah akan mematikan
kontraksi otot yang mendorong bukaan jalan lahir.
15.00 Akhirnya proses bukaan mencapai kemajuan: bukaan 3. Nanin kirim SMS:
[gimana
perasaannya menyambut kelahiran bayi, lo mondar-mandir di lorong nggak spt para
ayah di film2?] gue jawab dengan, [oh enggak. hanya para ayah dungu yang melakukan hal seperti itu] Dari tadi pagi gue liat pelayanan di RS ini cukup meyakinkan kok, jadi
gue nggak (belum) punya alasan untuk kuatir. Detak jantung bayi diperiksa berulang-kali
dan gue juga bisa denger sendiri keadaannya baik-baik aja. Dokter juga tadi
udah menjelaskan bahwa proses dari bukaan 1 ke bukaan 5 memang lama, tapi dari
bukaan 5 ke 10 akan cepet sekali. Sekarang udah bukaan 3, berarti ada kemajuan
yang menggembirakan. Gue bahkan bisa dengan santainya meninggalkan RS
sebentar, ngurus penginapan di hotel terdekat buat para mertua.
16.00 Bukaan 4. Latihan senam hamil selama ini ternyata membantu banget. Ida
inget pesan instruktur senam hamilnya untuk nggak membuang banyak energi dengan
berteriak-teriak. Kalaupun sakit, lebih baik mengatur nafas biar badan tetep dapet
oksigen. SMS dan telepon terus bermunculan, antara lain dari Bayu dan Ade yang
lagi nengok kelahiran Freya, putri
Victor dan Lala. Katanya mereka mungkin akan mampir juga sepulang dari sana.
Kedua orangtua Ida memutuskan untuk mampir dulu ke hotel, mandi dan
ganti baju. bersambung>>  Indo-Blogger Search.
<<sebelumnya
08.30 Ida udah ada di ruang observasi, udah ganti baju dan dipasangin alat2
pengukur kontraksi dan detak jantung bayi. Cairan yang keluar udah diperiksa,
dan positif air ketuban. Ida dipasangin alat-alat untuk ngukur detak jantung
bayi sekaligus kekuatan kontraksi. Udah terjadi bukaan 1. Via
telepon, dokter menginstruksikan para suster untuk melakukan induksi
(memasukkan obat pemicu kontraksi ke dalam cairan infus). Berbekal
pengalaman waktu kontraksi dini bulan
lalu, proses pemasangan infus berjalan relatif lebih lancar. FYI, waktu masuk
RS bulan lalu itu adalah saat pertama kali dalam sejarah hidup Ida merasakan
yang namanya diinfus - sehingga hebohnya kaya orang mau dieksekusi. Waktu itu
sampe terjadi dialog konyol sbb: "SUSTEEEER... SAYA MAU DIAPAIN SUSTEEER...." "Mau
dipasangin infus, ibu tenang dulu ya...." "SAKIT NGGAK SIH
SUSTEEER... HIIY... JARUMNYA KOK GEDE AMAT GITUUUU..." "Enggak...
nggak sakit kok.. yang penting ibu tenang dulu ya... nih, saya pasang ya...
" "ADUHADUHADUHHHH... SAKIIIIT SUSTERRRR... HIIII... SUSTER
BOHONGGG.. TADI BILANGNYA NGGAK SAKIT... SUSTER BOHONGGGG..." dst dst
dst. Ternyata, hikmah kejadian waktu itu adalah untuk latihan
mental buat Ida dalam menghadapi proses yang sebenarnya. 10.00 Dokternya datang. Dokter Finekri ini sebenarnya bukan dokter yang dulu
menjadi pilihan kami. Dulu di awal masa kehamilan, kami memutuskan untuk
mencari dokter yang prakteknya nggak jauh-jauh dari rumah DAN pasiennya nggak
ngantri. Biasanya orang bela-belain ngantri untuk bisa ditangani oleh dokter
terkenal, tapi pertimbangan kami adalah: semakin banyak pasien seorang dokter,
semakin besar kemungkinan si dokter nggak available pada saat kelahiran karena
waktunya bersamaan dengan kelahiran pasien yang lain. Waktu itu kami berkenalan
dengan Dokter Fernandi Moegni, putra seorang dokter kandungan terkenal. Setelah
mencoba beberapa kali sesi konsultasi kami merasa cocok dengan penanganan
dokter Fernandi, tapi di tengah masa kehamilan mendadak dokter Fernandi
mengabarkan bahwa dia harus PTT di luar kota. Dia menawarkan dokter pengganti,
yaitu dokter Finekri. Tadinya kami sempet ragu karena harus beradaptasi lagi
dengan dokter yang belum kami kenal, tapi ternyata penanganan dokter Finekri
juga sama baiknya dengan dokter Fernandi - sehingga kami memutuskan untuk
mempercayakan seluruh proses pemeriksaan kehamilan hingga waktunya melahirkan.
Di hari H ini kami baru menemukan satu faktor plus lagi yang sebenernya
bersifat non-teknis tapi bisa sangat menentukan yaitu... rumah dokter Finekri
nggak jauh dari lokasi RS! Hmm... nemu satu lagi hikmah yang urun peran
menciptakan takdir buat Ida... Dokternya cuma meriksa sebentar, habis itu pergi lagi.
Katanya, "Ibu tenang aja, ini baru bukaan 1. Prosesnya masih akan
lama, bisa sampe 24 jam maksimal. Tapi baik dari posisi bayi, detak jantung,
hingga kondisi saluran lahir semuanya dalam kondisi baik - insya Allah ibu bisa
melahirkan normal." Sepeninggal dokter, Ida mulai merasa kesakitan. "Suster,
habis diinfus kok perut saya jadi mules-mules ya? Tadi pagi kayaknya nggak gini
deh." "Ya emang infusnya itu yang bikin sakit, supaya anaknya cepat
lahir bu. Namanya juga diinduksi, ya pasti sakit," jawab susternya
santai. Karena dari menit ke menit perutnya terasa makin sakit, akhirnya Ida mau
juga dihibur dengan dongeng. Seperti pernah gue posting di sini, kalo Ida
lagi kumat resek / cengengnya maka gue akan menghibur dengan dongeng. Selain
dongeng "kancil dan pemburu", gue juga punya dongeng "putri
raja dan selendang sutera", "supir bajaj dan kue cubit",
"7 kurcaci dan gajah ungu", serta yang terbaru adalah dongeng
"kangguru dan buah nenas". Dulu waktu pertama kali
gue menceritakan dongeng "kanguru dan buah nenas" Ida
merasa dongeng tersebut terlalu garing sehingga distop sebelum selesai.
Sekarang berhubung lagi mules akhirnya dia mau juga dengerin dongeng
itu. "Pada suatu hari, hiduplah sebuah buah nenas...
eh.. kok kalimatnya nggak enak ya..." "Aduuh..." "Ya
udah gini deh, nggak usah pake 'pada suatu hari' ya, langsung aja gini, Di
sebuah dusun, buah nenas hidup serba kekurangan. Satu demi satu sanak keluarganya
telah menjadi dipotong orang menjadi nenas kaleng. Akhirnya dia memutuskan
untuk merantau ke kota..." "Aduh... aduh... nggak
jadi deh, nggak jadi minta dongeng deh, perutku tambah mules denger dongeng
garing kamu itu. Udah sini pijitin aja! Nggak usah pake dongeng, ya!" Lagi-lagi
kreativitas seorang suami telah dihambat oleh istrinya. bersambung>>  Indo-Blogger Search.
Prolog Sebenernya udah lama banget gue ingin nulis
journal ini, tapi nggak sempet-sempet karena kerjaan numpuk di kantor. Akhirnya baru bisa selesai ketulis setelah pake acara cuti 2 minggu dari kantor. Pengalaman 1 hari bersejarah
yang gue tuliskan di sini semakin memperkuat keyakinan gue bahwa segala sesuatu
terjadi dalam rangkaian yang saling terkait satu dengan lainnya. Mungkin ini
yang disebut 'takdir' - di mana peran masing-masing peristiwa baru bisa
dipahami setelah peristiwa tsb lewat. Itulah sebabnya gue mengkategorikan posting-posting ini ke dalam tag 'miracles' - tag yang tadinya gue kira nggak akan gue gunakan lagi. Biar nggak kepanjangan,
cerita ini akan gue muat dalam 4 journal bersambung. Ini, adalah bagian pertamanya. Silakan dibaca semua kalo nggak
bosen :-) Minggu 5 November 2006 06.45 Gue terbangun denger kesibukan Ida buka-tutup
lemari pakaian. "Istrinya mau ke mana?" "Mau
ke kawinan. Udah kamunya tidur lagi aja, kayaknya belum sehat abis sakit
kemarin." "Ikut." "Nggak
usaah..." "Nanti kalo tau-tau mau melahirkan di sana
siapa yang mau nolongin, hayo?" "Ya kan di sana
banyak orang, saudara2ku. Udah kamu nggak usah ikut aja." "Ya
tapi kan orang-orang itu semuanya pada repot, nantinya malah panik ngurus ada
orang mau melahirkan." "Ya enggak lah, gimana sih. Lagipula anaknya
kayaknya belum mau keluar hari ini kok. Dari bangun tadi perutnya nggak sakit
sama sekali. udah, suaminya di rumah aja, ya?" "Istri macam apa
mau bepergian tanpa ijin dan ridho suami...." "HIIIIH...
kenapa sih larinya harus ke situ lagi, ke situ lagi...!" "Ya
emang bener kok!" Abis itu Ida masih sempet nerusin masak nasi tim di
dapur, dan nggak lama kemudian masuk ke kamar lagi dengan tampang
bingung. "Kenapa aku kok basah2 gini ya? Tapi baru sedikit. Apa ini
yang namanya pecah ketuban?" "Waduh, nggak tau ya. Belum pernah sih. Coba
tanya Ibu," Ida nanya Ibu dan mendapat jawaban, "ya
mungkin aja air ketubannya keluar sedikit-sedikit. Biasanya sih campur darah
juga." Ida balik ke kamar, "Iya tuh kata Ibu mungkin juga air ketuban
keluarnya sedikit-sedikit campur darah. Tapi ini belum ada darahnya. Jadi
gimana ya, iya atau bukan ya?" "Sakit
nggak?" "Nggak." "Ya udah mending
mandi aja dulu sana, sambil kita liat perkembangan." Habis itu
kami bagi tugas. Ida mandi, sementara gue nungguin nasi tim mateng. Keluar
dari kamar mandi, Ida laporan lagi, "Kayaknya bener deh, ini air ketuban...
keluarnya makin banyak, trus sekarang mulai campur darah." "Kalo
gitu aku sekarang sarapan nasi tim dulu ya, sementara kamu nelepon dokter." "Kok
nggak sakit sama sekali ya? Katanya orang kalo mau melahirkan sakit. Boong
tuh." Nggak kaya penggambaran di film yang kayanya heboh banget menjelang
proses kelahiran, pagi itu kami masih sempet sarapan tenang-tenang, bahkan
milih2 baju dulu di lemarin. Sedangkan seluruh perlengkapan yang mungkin
diperluin Ida kalo nginep di RS udah disiapin sejak kemarin-kemarin dalam satu
tas khusus. Sekitar jam 8 pagi, kami pamitan sama Ibu untuk berangkat ke RS bersambung>>  Indo-Blogger Search.

|  | Rekaman saat2 menegangkan tanggal 5 November 2006 menjelang kelahiran putra pertama kami, Nadiv Rafi Nugroho di RS YPK. Cerita lengkapnya bisa dibaca di link2 berikut:
|

I used
to hate kids. Even when I was a kid, I hate other kids. Kondisi
di mana jarak usia gue dengan kakak2 gue terpaut cukup jauh (8 tahun
dengan
kakak yang di atas gue langsung) membuat gue terbiasa hidup steril dari
interaksi dengan anak-anak lain. Ditambah lagi, kebetulan gue tinggal
di daerah
yang minus anak-anak. Di rumah gue terbiasa baca, nggambar, atau main
robot-robotan sendirian. Di sekolah, gue lebih suka menyepi di
perpustakaan
karena kurang tertarik berinteraksi dengan anak-anak lain. Gue
sedemikian
akrabnya dengan ibu tua penjaga perpustakaan sampe suka dikasih bonus
poster
dari majalah Sigma. Kalo
rumah gue kedatangan tamu anak2nya saudara, gue bete setengah mati. Rumah jadi
berisik, dan parahnya selalu adaaaa... aja mainan gue yang mereka rusakin.
Masih untung kalo cuma rusak, seringkali waktu mau pulang anak-anak itu jadi
rewel minta dikasih kenang-kenangan barang satu potong mainan. Mainan GUE. Ibu
selalu berusaha memberi pengertian bahwa gue harus berbagi dengan mereka yang
mainannya nggak sebanyak gue, tapi menurut pikiran gue waktu itu: soal
punya mainan banyak atau enggak, itu kan problem mereka, kenapa juga harus gue
yang ikutan jadi susah? Waktu
kuliah, jurusan paling berat bagi gue adalah Psikologi Perkembangan karena gue
harus berurusan dengan klien-klien anak-anak. Anak-anak adalah makhluk yang
paling sulit diajak berkomunikasi, nggak bisa ditebak tindakannya, dan
potensial merusak barang-barang. Sebuah divider ruangan di klinik LPT
Salemba pecah gara2 ulah klien2 gue. Baca di
sini kalo mau tau cerita lengkapnya. Sebagai
oom, gue adalah sosok kontroversial buat keenam keponakan gue. Di satu sisi gue
begitu menarik karena punya banyak mainan, bisa nggambar, dan bisa jadi lawan
seimbang untuk main Playstation, di sisi lain gue galaknya setengah mati. Pernah
suatu kali keenam anak ini meminjam mainan-mainan action figure Starwars gue,
dan entah gimana tau2 gue menemukan kepalanya Han Solo udah nggeletak di
lantai. Langsung enam-enamnya gue sidang di dalam kamar, nggak boleh ada yang
keluar sebelum ngaku siapa pelaku yang telah memenggal Han Solo gue. Hasilnya
bukannya ngaku malah pada nangis... semuanya... enam-enamnya... sehingga nggak
lama kemudian ibu-ibunya pada masuk satu per satu ke kamar untuk menjemput
anaknya yang bergelimang airmata campur ingus sambil sakit hati atas kekejaman sang
oom nan bengis. Waktu
pertama kali kenal sama Ida, gue langsung tau bahwa persepsi terhadap anak-anak
akan jadi perbedaan yang cukup besar di antara kami. Menurut Ida, anak-anak
adalah makhluk-makhluk lucu yang menggemaskan, sedangkan menurut gue mereka adalah
makhluk-makhluk ajaib yang sulit dimengerti dan menjengkelkan. Sengaja gue
sering bikin Ida senewen dengan ide-ide gue tentang anak-anak. Mulai dari
konsep marmut
vs anak-anak, sampe rencana2 yang akan gue lakukan
terhadap anak2 gue kalo mereka nakal. Misalnya,
pada suatu hari gue dan Ida jalan-jalan di Taman Lembang dan gue bilang, "Taman
ini cocok sekali lho untuk ngajak jalan-jalan anak-anak..." "Iyaaa..."
kata Ida excited, "Banyak mainannya ya, anak-anak pasti
senang...!" "Bukan...
tapi karena di tengahnya ada danau. Kalo anaknya rewel atau banyak cingcong,
tinggal cemplungin sebentar di danau biar kapok." ...atau... "Ya
ampuuun... liat deh kereta bayi ini, lucu sekali ya...?" kata Ida "Jangan
cuma liat keretanya, liat juga dong label harganya, amit-amit. Tau nggak,
daripada beli kereta bayi mahal gini, mendingan anak kita nanti dibeliin container
plastik yang di Carrefour tuh... kan ada rodanya, anaknya taro aja di dalem
situ, tinggal kasih tali, trus diseret deh. Harganya nggak sampe 60 ribu." ...atau... "Liat
deh, itu bapaknya lagi nggendong bayinya, keliatannya dia sayang sekali ya sama
anaknya..." (kata Ida dengan nada menyindir) "Iya
tapi liat dong betapa merana tampangnya, pasti dia kurang tidur." ...atau... (waktu
lagi jalan-jalan ke Bali) "Bayangin
dong kalo kita jalan2 ke Bali gini sambil bawa anak... wuiii... kayak apa tuh
repotnya. Bagasi pasti overweight, belum lagi ntar anaknya rewel di pesawat,
nangis nggak brenti-brenti bikin malu orang tua, trus kita nggak bisa
jalan-jalan ke mana2 karena takut anaknya kepanasan, cari tempat makan juga harus
milih yang menunya bisa dimakan sama anak-anak, mau berduaan taunya anaknya
ngompol..." Seringkali
celetukan sinis gue suka bikin Ida senewen beneran mengkhawatirkan nasib anak-anaknya
kelak, tapi sebenernya gak gitu2 amat lah. Sejak awal kenal Ida gue udah tau
bahwa konsekuensi mengawini seseorang yang begitu tergila-gila pada anak-anak
adalah someday kehidupan gue akan dimasuki oleh anak-anak - entah anak sendiri
atau adopsi. Lagipula, dari hasil
interaksi baik dengan keenam keponakan maupun klien2 bocah, sedikit-sedikit gue
mulai menemukan sisi-sisi menarik dari anak-anak. Gue menemukan bahwa
ternyata gue bisa belajar untuk mencintai tanpa syarat dari anak2. Anak-anak
mampu menyayangi seseorang "just because"... kalau
mereka memilih untuk menyayangi seseorang, ya mereka akan menyayangi orang itu
- apapun balasan yang mereka terima. Seorang klien gue di psikologi
perkembangan adalah anak berusia 5 tahun yang kekejaman ibu kandungnya melebihi
fantasi para penulis skenario film ibu
tiri. Anak itu setiap hari disabet rotan, dicubit, ditempeleng, dan disundut
rokok. Disuruh mengerjakan pekerjaan-pekerjaan berat sejak bangun pagi sampe
malem, dan kalo salah sedikit aja disiksa. Toh setelah digali melalui wawancara
mendalam dan serangkaian tes, anak itu sama sekali nggak menyimpan dendam
kepada ibunya. Dia tetap sayang. Takut mungkin, tapi dia tetap menyayangi
ibunya yang kejam itu. Walaupun
sering gue marahin, keenam keponakan gue sayang banget sama gue. Waktu gue ulang
tahun ada satu yang ngasih kado bros beli di warung mainan depan
sekolah, pake uang sakunya sendiri. Ada juga yang kalo dibeliin kaos gambar
tokoh2 komik / starwars, minta dibeliin satu lagi yang ukuran besar
"untuk oom Agung, karena oom Agung pasti suka". Di sisi lain,
mereka
juga nggak mempan disuap. Lo mungkin bisa menyenang-nyenangkan hati mereka dengan
ngasih mainan, coklat, atau sogokan lainnya, tapi selama mereka belum
memutuskan untuk menyayangi elo, ya mereka nggak akan menyayangi elo. Being
loved by kids, is a gift from God. =$$$= Kamis
lalu, penjelasan dokter mengabarkan bahwa Tuhan sedang mengirimkan hadiahNya
untuk gue. Mungkin gue nggak se-excited Ida dalam menyambut kehadiran sosok
yang mungkin akan menghancurkan seluruh mainan starwars gue, but I'm willing to
learn. I'm happy - I'm happy because God grants me this kind of responsibility
- and I'm happy for her.


|  | Ini foto-foto hasil jepretannya Dwi, fotografer yang direkomendasi penuh sama Ninit. Fotonya bagus-bagus, dan komentar dari para temennya Ida yang cewe2, "Lo nemu fotografer di mana sih, kok cakep2 amat?" Buat yang berminat mengontak Dwi, baik untuk urusan profesional maupun personal, bisa ke nomor 08122002999. O iya, dia juga yang berurusan untuk cetak undangan gue.
Cerita lengkap di balik foto2 ini bisa diklik di sini dan di sini. |

Unfolding Miracles part 2 (tamat)
Ini journal tentang 2 hari paling bersejarah dalam hidup gue, tanggal 2 dan 3
Juli 2005.
Bagian ini khusus membahas tentang tanggal 3 Julinya.
Subuh.
"Gung! Ayo bangun, subuhan dulu!" terdengar suara ibu. Gue
bangun. Memandangi langit-langit. Mikir, udah pagi lagi ya? I'm gonna get
married today.
Ucek-ucek mata. Ngulet. Nelen ludah. =sakit= Nelen ludah lagi. =sakit=
Waduh, nggak bener nih. Nyoba ngomong, "Tes... tes...
satu dua tiga...
tes..." Fals.
Kesimpulan: gue sakit leher. Aaaarrrggghhhh....!!!
Buru-buru bangun. Mikir sambil mondar-mandir. Gimana nih, gue kan harus
nyanyi hari ini? Gue harus cari cara membereskan sakit leher ini segera.
Nggak ada ide sama sekali. Rogoh-rogoh kantong, menemukan alat bantu paling
efektif untuk menumbuhkan ide-ide cemerlang. Menarik sebatang alat bantu
tersebut. Menyulut. Menyedot. Ssssp... ahhhhh.... ... ...
...lho, gimana sih, katanya sakit leher, kok malah
ngerokok?! Dasar bego.
But it works. Muncul ide: beli Degirol aja. Kalo baru sakit leher gini doang,
belum batuk betulan, Degirol ampuh. Berarti harus ke apotik. Jam
segini? Berarti harus apotik yang 24 jam. Dago.
Ambil kunci mobil, langsung meluncur ke Dago. Mungkin ada juga sih apotik 24
jam di sekitar mess, tapi gue taunya yang di Dago. Sehabis beli Degirol gue
liat-liat jam. Ah, masih sempet. Maka mampirlah gue di warnet yang dulu pernah
gue datengin bareng
Sigit, nggak jauh dari situ. Cuma sebentar banget di sana, klik di sini untuk ngeliat
posting gue di Hari - H.
Pagi.
Pulang lagi ke mess, orang-orang udah pada sibuk hilir-mudik. Sebagian malah
udah ada yang berangkat ke salon. Gue sarapan pake bakpau Cik-yen yang gue beli
semalem. Mandi, trus langsung pake baju penganten.
Ibu manggil. "Sini, kamu latihan sungkeman biar nanti nggak salah." Ibu
duduk di kursi. Gue berlutut di depannya. "Pertama, tangannya di satukan di
depan bathuk(=jidat)..." Gue mengikuti. "Terus sini bathuknya taro di
dengkulnya ibu..." Gue mengikuti. "Udah." Gue masih nempel di dengkul
ibu. "Udah, cah gendeng! Sekarang angkat kepalanya." Gue mengangkat
kepala. "Tangannya di depan bathuk lagi... jangan ketinggian kaya nyembah
patung! Ayo ulang!"
...ribet benerrr jadi orang Jawa ya.
Setelah beres dengan sungkeman drill, orang-orang ngumpul untuk doa bareng.
Salah satu ipar gue, Kak Uli, belum-belum udah nyicil tersedu-sedu. Dia emang
juara deh kalo soal nangis. Abis itu tante Ning nyusul. Fenomena yang dari dulu
gue nggak pernah mudeng; kenapa sih orang mesti nangis kalo ada yang kawin?
Mungkin sedih memikirkan "Ah kasihan, sebentar lagi dia akan mengalami nasib
seperti gue..." heheheh...
Udah siap semua, tapi panitia yang katanya mau ngawal rombongan belum dateng.
Gue nelep ibunya Ida. "Ibu, kita semua udah siap, tapi jemputannya belum
dateng. Kita berangkat sendiri aja ya, saya kan tau di mana
gedungnya." "Eee.. jangan, rombongan kita juga belum jalan, ntar Agung sampe
duluan di gedung kan nggak lucu. Udah tunggu aja."
Ya udah, nunggu lagi deh. Jalan mondar-mandir, ngerokok-rokok, sambil
nenteng-nenteng kotak mas kawin yang sampe detik itu baru gue dan dua kakak gue
yang tau kayak apa bentuknya. Orang-orang pada nanya, "deg-degan nggak?" Itu
juga pertanyaan gue sih sebenernya. Kenapa gue nggak deg-degan sama sekali yak?
Selain itu gue juga nunggu2 saat di mana orang kalo mau kawin biasanya malah
mempertanyakan keputusannya sendiri, bahkan sampe ada yang pikir-pikir untuk
membatalkan. Temen-temen gue banyak yang gitu. Bukan cuma satu-dua orang yang
cerita sama gue, "Makin deket ke harinya, gue makin bertanya-tanya pilihan gue
ini bener nggak ya? Apa iya gue betah hidup sama orang itu?" Kenapa gue
enggak ya?
Sedikit telat dari rencana, akhirnya dua mobil yang mau nganter rombongan
dateng. Nggak langsung jalan juga, mereka masih berkoordinasi dulu sama
rombongan Ida, biar nyampenya duluan mereka atau minimal bareng. Keliatannya
penting banget masalah siapa dateng duluan dalam urusan pernikahan.
Aba-aba yang ditunggu akhirnya diterima, dan rombongan berangkat. Gue naik
mobil Mas Yogi, ipar gue. Cuaca cerah banget, jalanan sepi. Hari yang sempurna
untuk kawin. Belakangan gue dikasih tau sama ibunya Ida bahwa cuaca menjelang
hari H sebenernya jelek banget, ujan mulu. Sampe hari Kamis masih ujan, terus
ujannya brenti hari Jum'at sampe Minggu (hari H), abis itu ujan lagi. Makanya
gue bilang di journal yang
ini, gue dapet kado istimewa dari Allah!
Pas ngelewatin daerah rumahnya Ida, kebetulan rombongan Ida muncul dari
belokan dan bergabung sama rombongan gue. Nyampe gedung nggak sampe 10 menit
kemudian, dan setelah turun dari mobil gue langsung menaiki tangga gedung. Masih
dengan bawa-bawa kotak mas kawin.
Di puncak tangga disambut bapak-ibunya Ida, sementara lagi-lagi Idanya
disumputin di belakang. "Lho Agung, kok sendirian? Rombongannya mana?" tanya
ibunya Ida. "Gak tau ya bu, pada cari parkir kali. Kita masuk aja duluan
yuk!" "Eee... jangan! Tunggu dulu biar masuknya barengan ya."
Lagi-lagi nunggu. Keluarga gue yang banyak banget itu bermunculan, habis itu
nurut dibarisin 2-2 sama panitia.Baris. Di depan pintu, gue dikalungin bunga
sama bapaknya Ida. Baris lagi menuju meja besar di tengah ruangan. Gue duduk di
meja, keluarga gue nyebar menempati kursi-kursi di sekitar meja besar itu.
Gue melihat sekeliling. Andy, bagian dokumentasi video dan Dwi, dokumentasi
foto rekomendasi dari Ninit, udah
hadir. Funny, these people look sooo... nervous. Apanya sih yang musti
di-nervousin? Cuma salaman dan beberapa kalimat, that's it. Maksud gue, how bad
can it be? Kalopun gue salah sebut, kan tinggal diulang. Asal jangan salah sebut
nama aja. Atau kayak kakak gue, waktu lagi baca saritilawah di acara pengajian
kakak gue yang lainnya lagi, dia dengan takzim membaca, "Aku berlindung pada setan yang terkutuk...."
hehehehe....grogi membawa murtad.
Pak penghulu dateng. Di meja itu gue berhadapan dengan Pak Penghulu dan
bapaknya Ida. Di sebelah kanan saksi-saksi dari pihak gue, di sebelah kiri
saksi-saksi dari pihak Ida. Semuanya pada oom. Kursi di sebelah kiri gue masih
kosong, buat tempat duduk Ida nantinya.
Acara dimulai.
Sambutan dari panitia. Abis itu pembacaan Al-Quran. Bacaannya bagus banget,
dan dibaca luar kepala. Gue bertanya-tanya, kalo yang level baca Qur-an di acara
kawinan gini aja sebagus ini, gimana kalo yang ikut MTQ ya?
The Main Event. Pak Penghulu membacakan intro dan berpesan, nanti setelah
akad selesai penonton harap jangan tepuk tangan, karena lebih baik baca
Alhamdulillah. Bapaknya Ida mengulurkan tangan, bersalaman sama gue. Tangan kiri
gue menekan tombol 'record' di Epraizer. And here we
goes...
"Ananda Agung Nugroho, bapak nikahkan...dst... dst..." "Saya terima
nikahnya... dst...dst..." Rekamannya bisa didenger di sini.
And that's it. Nggak sampe 1 menit, semuanya udah beres. Gue sekarang udah
jadi suami orang. Abis itu Pak Penghulu memimpin gue membacakan ikrar. Intinya,
janji seorang suami bahwa dia akan memperlakukan istrinya dengan baik. Tiba-tiba
aja gue mengerti kenapa gue sama sekali nggak deg-degan menyambut ini semua;
karena tanpa sadar janji ini udah sejak jauh-jauh hari gue niatkan. Jadi, apa
yang hari ini terjadi cuma sekedar membacakan janji itu di depan umum, that's
it.
Ida muncul beberapa menit kemudian, digandeng sama ibunya. Abis itu
penyerahan mas kawin.
"Agung harus menyerahkan langsung mas kawin ini kepada Ida ya," kata
Penghulunya. "Biasanya manggil apa ke Ida?" "Sayang, pak..." Penonton heboh.
Ida nampak agak tengsin. "Ya udah, serahkan sambil bilang, 'Sayang, terimalah
mas kawin ini...bla...bla...bla..." Gue menirukan. Habis itu Ida memberikan
jawaban, juga dengan didikte Pak Penghulu. Habis itu pasang cincin. Trus duduk
lagi. Penonton pada ribut, "Buka... buka...." Sebagian besar dari mereka masih
penasaran kayak apa bentuk mas kawinnya. Nanin dan Cipta yang hadir sejak pagi
juga udah standby dengan kamera,
Ida membuka kotak. "Tuuuh kan... bener tebakanku!"
abis itu tanda tangan banyak banget formulir dan buku nikah, dilanjutkan
dengan wejangan dari Pak Penghulu. Tapi Pak Penghulu yang ini rupanya jenis yang
sopan, wejangannnya serius dan berlandaskan Qur-an dan Hadist. Biasanya, dari
pengalaman gue beberapa kali menghadiri akad nikah, yang namanya wejangan Pak
Penghulu hampir pasti "nyerempet-2". Misalnya, "suami yang biasanya merokok,
harap dikurangi, sebab mulai sekarang gilirannya dirokok..." atau "...istri yang
berbakti, suami pulang kantor dibukakan sepatu. Suami yang berbakti, istri
dibuka-bukain..." gitu-gitu deh.
Selesai acara akad, salam-salaman sama keluarga yang deket2 aja, abis itu gue
dan Ida digiring ke kamar 'istirahat'. Ternyata di gedung itu ada satu kamar
berisi satu tempat tidur besar lengkap dengan kamar mandi, buat ngendonnya para
penganten kalo lagi rehat. And i can help wondering, beneran pernah ada nggak
pasangan penganten yang betul2 fully utilized kamar itu, maksud gue lengkap
dengan tempat tidur besarnya? Hmm....
Baru sebentar di kamar penganten, Ismail, crewnya Dwi ketok-2 ngajak foto
studio. Rupanya mereka udah bikin studio mini lengkap dengan backdrop dan lampu
di belakang panggung. Lucunya, Andy ternyata juga menyiapkan studio yang sama.
Jadinya sehabis difoto sama Dwi, pindah ke backdrop sebelah untuk difoto sama
Andy.
Balik lagi ke kamar istirahat, ngerokok-rokok sebentar, tau-tau udah
diketok-ketok lagi. Acara resepsi segera dimulai.
Siang.
Kembali bikin barisan di depan pintu, kali ini formasinya sedikit beda. Ada
Ida di sebelah gue, dan rombongan kedua belah pihak keluarga bergabung di
belakang. Panitia udah menyiapkan penari lengser, yang belakangan gue baru tau
merupakan bagian dari resepsi pernikahan adat sunda(?-CMIIW). Seperti udah
diceritain sama Ida di journalnya yang ini,
awalnya sempet bingung mau pake tari-tarian apa di acara resepsi pernikahan gue
ini. Masalahnya kami sama sekali nggak mengacu sama adat salah satu suku
tertentu. Sempet muncul ide mau panggil barongsay aja sekalian, karena seru dan
menghibur penonton, tapi nggak berhasil dapet penari barongsay sampe detik
terakhir. Maka akhirnya pake campuran aja, ada lengsernya seperti adat sunda,
tapi nanti sendra tarinya pake tarian kontemporer. Jadi ada sepasang penari yang
didandani seperti orang2 tua (konon biasanya cuma ada 1 penari, cuma entah
kenapa kok ini ada 2) yang menyambut rombongan penganten masuk ruangan, dan
'membuka jalan' menuju pelaminan.
Emang cukup lucu juga sih, tingkahnya para penari lengser ini. Tapi
problemnya, rias wajah mereka rupanya relatif mengerikan bagi anak-anak.
Hidayah, salah satu sepupunya Ida yang masih balita, nangis jejeritan ngeliat
wujudnya si lengser, sementara dia terjebak di gendongan bapaknya yang mana
tertarik banget pingin lihat. Alhasil tu anak kejer sampe urat lehernya keluar
semua, sementara bapaknya asik-asik aja nonton sampe tergeli-geli. Bener-bener
deh, nih acara kawinan nggak ada khidmat2nya blas, hehehe.
Para penari lengser berhasil menjalankan tugasnya dengan baik, habis itu
acara sendra tari, dilanjutkan dengan acara sungkeman. Gue berhasil sungkeman
dengan relatif mulus, nggak kalah dengan orang-orang Jawa lainnya, sekalipun
awalnya ibu sempet nampak agak was-was.
Sungkeman selesai, mulai deh acara salam-salaman. Sms masuk dari Udin, komplen kenapa peta di undangan gue
mengarahkan dia melewati daerah Gasibu yang lagi macet banget. Memang sih di
daerah situ kalo weekend suka macet karena ada pasar kaget, tapi rupanya kali
ini kemacetannya luar biasa karena selain pasar kaget juga ada panggung hiburan!
Wah ya maap, waktu nyebar undangan mana gue tau hari ini bakal ada panggung?
Shanti, Alan, dan Iyog muncul duluan mendahului
rombongan multipliers lainnya yang konon masih pada nyalon. Sigit yang gue serahi mandat megang HT
bikin gue senewen karena sampe siang belum nongol juga. Sebagai orang yang
mengenal hampir semua temen gue, baik temen2 kampus, BPPN, maupun multipliers,
Sigit gue cadangkan untuk jadi penghubung antara gue dan MC. Tadinya rencana
gue, kalo gue liat temen-temen BPPN udah pada ngumpul, misalnya, gue akan kontak
MC via Sigit untuk manggil2in mereka foto bareng di atas panggung. Rencana
terpaksa dibatalkan deh.
Udah lewat tengah hari, rombongan multipliers muncul. Whuaaa... gue dan Ida
surprise banget nerima kado foto dan piala dari mereka. "They are so nice ya,"
kata Ida terharu. Satu-satu pada naik panggung, mengucapkan selamat ke gue dan
Ida. Di situlah rupanya gue missed si kebo, arrrghhh...! Lagian dia nggak kaya
Cak Nono sih, yang waktu salaman nyebutin alamat multiply-nya secara lengkap,
"bambangpriantono.multiply.com" Abis itu mereka berbondong-bondong naik ke
panggung organ tunggal dan nyanyi "That's What Friends Are For" dan "Greatest
Love of All". Wah suaranya Pritha oke
banget dah! Gue dan Ida nimbrung waktu lagu "I Finally Found Someone" dan
"Kemesraan", sayangnya gue nggak terlalu apal lagu itu jadi cuma berani mangap
pas refrain doang. Abis itu Cak
Nono nyanyi "Semua Karena Cinta".
Setelah semua nyanyi, giliran gue yang sebenernya udah males-malesan nyanyi
akibat minder sama suaranya Pritha dan Cak Nono, didorong-dorong sama Ida. Maka
nyanyilah gue, kali pertama dalam hidup gue nyanyi di depan umum. Untung Degirol
telah membuktikan keampuhannya melenyapkan sakit leher gue. Soal kualitas suara
yang gue hasilkan, yaah... mohon dimaklum dan diikhlasin aja deh ya... itung2
amal, gitu.
Selesai acara foto-foto dan nyanyi2, rombongan multipliers pamitan. Kirain
bubar, ternyata belakangan gue tau masih nyangkut di parkiran, foto2 sama
spanduk! Ckckck... bener2 nggak ada matinya. Ruangan tiba-tiba udah kosong, dan
gue mendadak inget, temen2 BPPN belum sempet diajak foto bareng! Wah, maap yah
teman-teman!
Dengan badan serasa remuk, gue dan Ida makan secara terburu-buru karena masih
ditunggu session foto berikut di kamar penganten. Dwi cs gue liat tampangnya
udah kayak orang abis gali sumur. Pastinya capek banget, dengan kamera segede
bayi gitu. Tetep aja, pas ditawarin makan pada nggak mau dengan alasan "udah kok
tadi." Boong banget, orang gue liat mereka sibuk terus di depan panggung, kapan
makannya, coba?
Dari gedung, naik mobil penganten bergambar si_mbot dan ida_baik balik ke
rumahnya Ida. Langsung foto-foto lagi di kamar penganten. Aduh, sumpah deh,
belom pernah gue se-eneg ini difoto. Rasanya muka gue sampe tipis kebanyakan
kena jepret blitz. Tapi... ya udah lah. Demi event yang (insya Allah) sekali
seumur hidup, maka gue dan Ida berpose seromantis yang kami bisa dalam kondisi
kaki pegel dan badan linu-linu. Untungnya Dwi cs berhasil menuntaskan kerjaannya
tanpa lama-lama, sehingga gue dan Ida bisa mulai bergerak.
Dari rumah Ida, gue berangkat ke mess untuk ngambil mobil dengan dianter
bapaknya Ida. Abis itu seharusnya sih bisa langsung ke Sheraton,
tapi... "Yang, payung-payung yang mau diundi ntar malem mana ya?" kata
Ida. Hngk. Rupanya masih ketinggalan di rumah Ida. Balik lagi deh ke sana.
Dari sana baru bisa berangkat ke Sheraton.
Malam.
Di hotel rasanya baru rebahan sebentar tau-tau udah jam 6 aja. Siap-siap
lagi, berangkat ke Sierra. Nanin dan Cipta nelepon, "Mau bareng nggak? Kita kan
dari Santika, jadi akan lewat Sheraton." "Nggak usah deh," kata gue, "Gue
kan harus sampe sana duluan. Ntar kalo nungguin kalian telat." Eee... taunya
mereka duluan yang nyampe sana, hehehe.
Kebetulan banget, di Sierra kita dapet tempat di lantai 2 yang cuma sedikit
pengunjungnya, jadi bisa merajalela seperti di rumah sendiri. Seperti biasa,
kamera-kamera bekerja keras menangkap momen, dan dengan betenya gue cuma bisa
nonton karena nggak bawa kamera. Para hadirin nampak blend-in dengan gampang,
termasuk Iqbal yang baru kali ini ketemu
langsung dengan para multipliers di bawah pimpinan bupati Ari.
Kalo menurut teori gue, para multipliers bisa cepet blend in karena
lingkungan multipliers nggak mengenal pembedaan "anggota kelompok dan
non-anggota kelompok". Bandingkan kalo misalnya elo lagi ngumpul2 bareng
katakanlah temen2 kuliah, trus kedatengan satu orang baru dari luar kampus. Maka
orang baru ini akan dilihat sebagai orang 'asing' karena datang dari luar
kelompok. Sedangkan di multiply, semua orang sama baru kenalnya, dan
masing-masing dateng dengan mind-set akan ketemu orang-orang yang memang belum
mereka kenal sebelumnya. Makanya multipliers lebih terbuka sama orang baru.
Setuju nggak sama teori gue, hmm?
Yang jelas, gue dan Ida ngerasa enjoy banget malam itu. Kalo pinjem
istilahnya Bayu, suasananya "surealis". Malam itu kita semua duduk bareng,
foto-foto, ketawa-ketawa, seperti sekumpulan orang yang lagi reunian. Padahal,
sebagian besar baru kenal nggak sampe setahun yang lalu, itupun cuma kenal
tulisan-tulisannya, foto-fotonya, reply-replynya. Aneh banget!
Dasar tim rusuh nggak boleh liat band nganggur dikit, lagi tengah2 makan tau2
Bayu dan Pritha ngilang. Eee... nggak lama kemudian terdengar suara mereka lagi
nyanyi di panggung lantai 1. Abis itu giliran Cak Nono, nyanyi lagi lagu yang
sama dengan aransemen beda. Payung diundi, dan dimenangkan oleh Winda, Iwan, dan Bayu. Acara bubar sekitar jam 1/2 10
malem, dan gue sama Ida langsung balik ke hotel.
Nggak butuh waktu terlalu lama sebelum gue ketiduran saking capeknya. Tapi
sedetik sebelum bablas, gue tau bahwa gue akan mengenang hari ini sebagai hari
yang penuh keajaiban. Mulai dari cuaca yang mendadak begitu kooperatif setelah
beberapa hari sebelumnya ujan mulu, gue yang tanpa deg-degan menyambut akad
nikah, sampe keakraban surealis di antara para multipliers.
Miracles do happen.


Ini journal tentang 2 hari paling bersejarah dalam hidup gue, tanggal 2 dan 3
Juli 2005.
Bagian ini khusus membahas tentang tanggal 2 Julinya.
Sabtu 2 Juli 2005.
Pagi.
Seperti gue tulis di sini, gue bangun pagi. Cukup mengherankan mengingat
malam sebelumnya gue tidur hampir jam 2 karena setelah bikin hiasan mobil
penganten kelincahan nyari
warnet dulu. Hiasannya belum selesai, karena gue nggak punya tinta merah
untuk ngewarnain pitanya si
ida_baik.
Tanpa repot mandi, gue menolak tawaran sarapan kornet dari ibu dan
memilih bubur Mang Oyo,
terus mampir ke warnet deket situ. Temen-temen gue pada SMS, mereka mulai
berdatangan di Bandung. Salah satunya Nanin dan Cipta, sang suami. Gue bilang
sama mereka, nanti makan siangnya bareng gue aja, biar gue tunjukin tempat makan
yang enak.
Abis dari warnet, gue ke Gramedia beli cat. Abis itu mampir ke Sweetheart,
beli rollcake buat dimasukin dalam hantaran nanti malem. Pulang lagi ke mess,
nerusin ngewarnain hiasan. Menjelang jam 12, Nanin dan Cipta dateng. Gue mandi.
Berangkat makan siang di Resto Roemah Nenek. Ventha n
family sms lagi, dan gue ajakin bergabung, langsung ketemu di lokasi.
Sebelum berangkat, Ibu nanya2, "Mau pulang jam berapa?" "Nggak tau deh.
Yah, pokoknya sebelum waktunya berangkat ke rumah Ida, pasti udah pulang deh!"
Sampe pintu depan ketemu Oom gue. (FYI; gue dan rombongan mendominasi mess
ini, dari 15 kamar yang ada di sana, 10 di antaranya berisi sanak keluarga gue -
khusus menyambut keriaan tanggal 3 Juli). "Mau pulang jam berapa?" Eala,
ada apa sih kok semua orang mendadak concern amat gue pulang jam berapa? Gue berikan
jawaban yang sama. "Jangan sore-sore ya, kita mau ada acara sedikit di
sini." "Acara apaan?" "Siraman." Whoaaa... males banget! Pantesan di kolong meja
kamar gue nampak menyembul beberapa batang bunga aneka warna, dibungkus
koran. "Nggak mau ah, males!" jawab gue. "Lhooo... kok
gitu..." "Ngapain sih pake siram2an segala, udah tanggung ni acara kawinan
tanpa adat, kenapa juga harus maksa siraman. Udah ya, aku pergi dulu!" habis itu
gue cabut.
Siang
Dalam perjalanan menuju Roemah Nenek, Cipta teringat pada Sigit, sahabat karibnya.
"Sigit udah nyampe Bandung gung?"
"Udah dari semalem"
"Nggak kita ajak sekalian nih, ke Roemah Nenek?"
"Ajak aja. Paling nggak mau."
Cipta langsung nelepon Sigit. Ngomong sebentar, terus ngoper teleponnya ke gue.
"Ada di mana Git?"
"Di Kampung Dawuuuuun...." jawabnya dengan tingkat kecentilan yang
sangat kurang sesuai dibandingkan tanggal yang tertera di KTP.
"Mau makan siang bareng kita nggak, di Roemah Nenek?"
"Enggak aaah...."
"Bareng siapa aja sih?"
"Adaaaa, aja!"
"Enggak mau dia," kata gue sambil mengembalikan HP Cipta, "Lagi bareng cewe-cewe multiply, kita mana laku."
Ventha dan rombongan berhasil nyampe duluan di Roemah Nenek. Makan bareng di
situ sampe sekitar jam 3. Dari sana Ventha pulang ke tempat nginepnya, sementara
gue nerusin jalan2 bareng Nanin dan Cipta. Pertamanya mampir dulu ke rumah Ida,
ngedrop hiasan mobil penganten. Cuma ketemu sama ibunya, karena konon penganten
nggak boleh ketemuan sebelum hari H. Habis itu ke gedung Dapenpos, survey lokasi
biar mereka nggak nyasar besok. Dilanjutkan dengan mampir ke Hero, beli sabun,
odol, sampo.
Ida nelepon. "Kamunya ada di mana?" "Lagi jalan2 sama Nanin - Cipta,
abis katanya nggak boleh ketemu kamu dulu, ya udah aku jalan-jalan sama yang
lain..." "Ih kamu gitu, nggak solider sama istri..." "Hehehe..." "Abis
ini udah kan, mau pulang, kan?" "Nggak ah, mau ke Cargo dulu (=salah satu FO
di jalan Supratman). Abis kalo aku pulang sekarang, orang-orang udah pada nunggu
mau nyiramin. Akunya males..." "Eh tunggu deh... sekarang jam berapa
sih...." "Jam 4 kurang." "Ya ampun! Ngaco kamu, rombongan kamu kan mau
dijemput jam 1/2 6!" "Loh, bukannya nanti berangkat abis
Maghrib?" "Sembarangan! Jam 1/2 6, sayangku cintaaaaa..." "Ya udah ntar
aku pulang jam 5 deh..." "Terlalu mepet! Pulang sekarang aja!" "Nggak
mauuu... nanti disiramin...!" "....... ya udah terserah sana." (dengan nada
mengancam).
Gue sedikit terpana mendengarnya, kemudian meneruskan jalan-jalan di Cargo.
Cipta borong beberapa kemeja, sementara gue hampir beli sebuah celana pendek
tapi setelah dipikir-pikir belinya ntaran aja deh kalo ngga lagi keburu-buru
kaya gini.
Sore
Jam 5 lewat gue sampe lagi di mess. Begitu masuk kamar Ibu udah menanti.
"Ayo!" "Ayo apa?" "Mandi-mandi." "Ini emang aku mau mandi kok"
(sambil nyomot handuk). "Bukan mandi gitu. Ibu udah siapin airnya di kamar
sebelah." "Emang kenapa mandinya harus di kamar sebelah?" (pertanyaan dalam
rangka belaga dongo) "Itu airnya udah dipakein bunga biar wangi seger. Ayo
cepet!" "Nggak mau." "Ayo tho... kamu kan sebentar lagi mau
kawin..." "Lha trus apa hubungannya sama mandi kembang?" "Ck!
Sekali-sekali nggak pake ngeyel kenapa sih! Kalo mau kawin harus ada aturannya,
biar nggak kayak kucing!" Kenapa juga musti kucing? "Nggak mau." "Ayo tho... ini terakhir kalinya
ibu mandiin kamu..." "Dari dulu juga udah terakhir kali ibu mandiin aku,
kenapa sekarang tiba-tiba kepingin sih? Nggak mau." Akhirnya ibu mengeluarkan
senjata pamungkas, curang sekali: "Wong cuma diminta mandi aja kok nggak mau
nurut sih gung... nanti kalo ibu mati baru nyesel deh kamu..."
Ah nggak aci banget, pake bawa-bawa mati segala sih. Akhirnya ya udah
deh gue nurut dibawa ke kamar mandi sebelah. Baknya udah penuh kembang aneka
warna.
"Duduk situ." kata ibu. "..." gue duduk di atas kloset. "..." (ibu
komat-kamit baca doa). Ambil gayung, isi penuh dengan air bunga.
Dan... =BYUUUUURRR= ...diguyur deh
gue. Beberapa buah bunga nyangkut dengan menyedihkannya di rambut. Ibu ngisi
lagi gayungnya. =BYUUUUURRR= Man, this
is ridiculous. Ibu reload gayung lagi. =BYUUUUURRR=
"Oke, udah ya, puas kan, udah main siram-siraman? Sekarang aku mau mandi
beneran." habis ngomong gitu gue langsung ngacir keluar masih dengan bercelana
pendek yang basah netes-netes.
Dua detik kemudian ibu membuntuti di belakang, sambil bawa segayung air
bunga, "Heh! Heh! Heh! Cah gendeng! Belum selesai ini, kok main lari aja!
Heh!" Tapi gue udah berhasil meloloskan diri masuk ke kamar mandi satunya,
dan mandi betulan nggak pake kembang-kembangan. Keluar dari kamar mandi gue udah
langsung rapi pake baju koko, untuk menjaga kemungkinan seandainya ibu iseng
ngeguyur lagi begitu gue buka pintu.
Menjelang Maghrib telepon bunyi. Ternyata dari Andi, orang bagian dokumentasi
video. Untuk fotografi gue pake jasanya Dwi, yang dapet rekomendasi abis-abisan
dari Ninit. "Mas Agung, acara kita malam ini jam berapa ya?" "Jam 1/2 7-an
kali Mas. Kenapa?" "Waduh." "Waduh kenapa?" "Saya masih di tol nih
mas..." [Ck!!]"...tol mana mas?" "Sadang... baru masuk..."
Abis dapet kabar itu gue nelepon ibunya Ida. Enaknya gimana ini, apa acara
diundur mulainya sampe video dateng? "Kebetulan acara pengajiannya juga molor
nih gung, belum selesai sampe sekarang. Agung ke sini sekitar jam 7 aja,
mudah-mudahan di jam itu videonya udah dateng."
Sementara kakak gue Mbak Wati
berkomentar, "Makanya, mau disiramin ibu nggak nurut sih.
Videonya jadi telat deh..." Sebuah logika sebab-akibat yang sangat
kontroversial. Padahal dia lulusan S1 Matematika Murni.
Malam
Jam 7 kurang 1/4 baru rombongan berangkat dari mess. So much for setengah 6
plan. Berangkatnya pake dikawal 2 mobil panitia gitu. Kayaknya acara kali ini
jauh lebih serius deh, ketimbang acara lamaran funkeh tempo
hari.
Sampe rumah Ida sekitar jam 7 seperempat. Kayaknya beneran resmi nih acara
kali ini. Semua orang nampak serius dan jaim. Andi ternyata udah dateng, masalah
video beres. Oomnya Ida yang dulu salah-salah mulu waktu nyebut nama keluarga
gue kembali diserahi tugas pidato. Tapi kali ini kelihatannya beliau udah
berlatih keras, nggak ada kesalahan sama sekali.
Intinya, rombongan gue yang udah jelas datang berbondong-bondong bawa
seserahan dalam kotak-kotak cantik berpita genit hasil karya Mbak Heni itu
ditanya apa maksud dan tujuannya, yang kemudian dijawab bahwa kedatangan malam
ini bermaksud menyampaikan tanda kasih kepada calon mempelai wanita, bila tuan
rumah sudi menerimanya. Merupakan jawaban yang cukup valid; seandainya
keberadaan tenda yang khusus dipasang di depan rumah, bunga-bunga bertebaran,
dan hidangan melimpah ruah diabaikan. Lucu bener ya, basa-basinya orang mau
kawin.
Pesan ibu sejak sebelum berangkat tadi, gue nggak boleh makan tanpa
penjelasan lebih lanjut kecuali "...karena memang caranya gitu." Maka malam itu
gue bak ayam jago mati di lumbung padi, kelaparan di tengah makanan melimpah
yang kelihatannya enak-enak. "Gung, elo nggak makan?" tanya Nanin dan
Cipta. "Nggak boleh." "Kenapa?" "Karena ibu gue orang Jawa." "Kalo
gitu kami juga nggak makan deh," kata mereka sok solider. "Ya udah, kalo gitu
kita makannya abis pulang dari sini aja, nanti gue ajak makan sate terenak di
Indonesia. Mau?" "Mau, mau!"
Eh, setelah terjadi dialog tersebut, datanglah Sasa (10 th), keponakan gue yang
gayanya suka kaya orang tua. "Oom Agung, mama (=mbak Wati) dan semuanya
sudah memutuskan bahwa malam ini Oom Agung nggak boleh keluyuran ya. Nanti
sesudah acara selesai harus langsung pulang ke mess." "O, nggak perlu Sa. Oom
Agung udah bisa membuat keputusan sendiri dan malam ini Oom Agung memutuskan mau
makan sate di luar."
Acara berlangsung sampe hampir jam 9-an, dan selama itu pula gue kelaparan di
tengah2 orang2 yang lagi pada makan enak. Untung ada hiburan pelipur lara:
rombongan Multipliers dataaang...!!!
Sigit yang nongol pertama kali,
dibuntuti oleh Ari, Wib, Nena dan Rully, serta Noer yang selalu segar. Habis itu gue
udah nggak inget lagi urutan siapa aja yang nongol, pokoknya barisan gelombang
ke dua dipimpin sama Bayu dan Ade. Maap kalo gue nggak konsen
mengingat siapa aja yang nongol malam itu, maklum orang lagi kelaparan, dan
gelap-gelap pula. Pokoknya makasih banget buat semuanya!
Nggak seperti gue yang merana udah berhari-hari nggak boleh ketemu Ida,
rombongan multipliers boleh langsung masuk dan ketemu Ida, bahkan sempet
foto-foto di kamar penganten segala. Sementara itu, nggak lama setelah
kedatangan mereka, rombongan keluarga gue mulai menunjukkan tanda-tanda mau
pamit. Nanin bisik-bisik, "gung, jadi nggak nih kita makan sate?" "Jadi,
jadi... tenang aja." "Trus gimana caranya, kata Sasa tadi lo nggak boleh
keluar." "Ya nanti gue langsung naik mobil kalian aja, makanya ayo buruan bergerak!"
"Mengingat hari sudah larut malam, dan besok masih ada acara, maka dengan ini
kami hendak mohon diri," terdengar suara Oom gue pamitan, masih dengan gaya
resminya. Semua tamu salam-salaman, dan pas gue pamitan sama neneknya Ida,
beliau bilang, "Loh, trus agung nggak pamitan sama Ida?" "Nggak boleh ketemu
sih..." kata gue. "Ah, boleeeeh... Ida, sini!" Huaa... akhirnya setelah
2 minggu cuma teleponan, malam itu gue bisa ketemu Ida. Horeee...! Ida tampil cantik jelita seperti putri Nubia. Liat aja sendiri kalo nggak percaya. Sejak Ida
pindah ke Jakarta awal 2005, ini ada periode terlama gue nggak ketemu dia.
Biasanya paling sedikit seminggu sekali ketemu. "Agung, hiasan mobil
pengantennya udah dipasang lho! Tuh kalo mau liat, mobilnya dititip di rumah
tetangga yang di sebelah sana," kata ibunya Ida. Wah, kesempatan yang menarik sekali untuk
meloloskan diri nih, pikir gue.
Maka dengan diiringi Nanin dan Cipta, gue jalan kaki ke gang sebelah untuk
belaga "ngecek mobil penganten". Sementara itu Cipta udah ngasih kode ke sopir
mobil sewaannya untuk datang mendekat. Untung sopirnya gesit, dia langsung
majuin mobil mendekati mulut gang. Nanin dan Cipta naik duluan, sementara gue
rada mingser-mingser dikit di balik kerimbunan pepohonan dan..hup!... langsung naik ke
mobil. "Jalan pak, jalan! Buruan!"
Mobil sewaan langsung bergerak maju, passs ngelewatin salah satu mobil
rombongan gue. Untung kacanya gelap. "Tolong ke Jl. Maulana Yusuf, Pak." kata
gue. .
Nggak usah pake kelaparan aja sate di jalan Maulana Yusuf ini udah enak
banget, apalagi malam itu. Gue kalap makan sate ayam, kambing, dan usus. Nanin
dan Cipta juga setuju sama rekomendasi gue atas tempat ini. Gue nelepon Bayu,
minta tolong sampaikan maaf ke para multipliers karena ngabur duluan tanpa
pamit. Terpaksa, daripada gue terkurung lagi di mess...
Selesai makan sekitar jam 10-an, gue langsung dianter Nanin - Cipta pulang ke
mess. Orang2 udah pada pake daster, dan ngobrol2 di depan tivi. Jam 1/2 11 mulai
pada masuk kamar. Gue juga. Di kamar, gue ngedengerin lagu "Firasat" yang
rencananya mau gue nyanyiin besok. Latihan nih ceritanya.
"Kemarin... kulihat awan membentuk wajahmu... desau
angin...." "Shhhh! Gung! Ini udah malem, mbok gek ndhang turu (=cepat
tidur). Sesuk arep kawin kok malah nyanyi2 nggak karuan..." Ibu yang sekamar
sama gue rupanya kesulitan mengapresiasi karya musik anak negeri di tengah
malam. Ya sudah, gue keluar dan... nyanyi di taman. Masalahnya gue belum apal ni
lagu dan belum ada kesempatan latihan dari kemarin. Gawat kan?
Menjelang jam 12 gue udah pegel nyanyi, masuk kamar lagi. Naik tempat tidur.
Rebah-rebahan. Menatap langit-langit. Balik kanan. Balik kiri. Tiba-tiba teringat sesuatu. Bangun lagi.
Lompat dari tempat tidur. "Ealaaaa Gung...! Tidur gung tiduuuurrr....!" Ibu
kembali terganggu dengan aktivitas gue. "Bentar bu... mas kawinnya... mau
aku cek sekali lagi..."
Buru-buru gue buka kotak
mas kawin, dan... tuuh, bener aja feeling gue. Berapa baju terlepas dari
hooknya dan bergeletakan di dasar kotak. Untung gue bawa peralatan lengkap dari
Jakarta. Langsung gue bawa kotak itu ke ruang kosong di depan kamar, dan gue
perbaiki di sana. Saat itulah mbak Doti yang rupanya belum tidur kelayapan
menemukan gue bersama kotak itu. "Oooo... gini toh mas kawinnya...!" kata dia
penuh kemenangan.
Lewat tengah malam.
Sekitar setengah jam gue berkutat dengan baju-baju kecil itu, baru deh bisa
lega. Gue langsung masuk kamar dan tidur. A big day is waiting for me
tomorrow....
[bersambung]


Sori banget,
baru sekarang gue sempet nulis a proper thank you note buat kalian
semua, para multipliers yang bener-bener udah menciptakan miracle di
rangkaian acara pernikahan gue.
Khusus buat Ari, yang udah bersusah-payah survey piala, ngumpulin foto,
dan mengkoordinir kedatangan para multipliers, yang gue tau pasti
menghabiskan banyak waktu dan tentunya pulsa HP, gue dan Ida
mengucapkan
thank you very very very much
we owe you big time!
Juga buat Bayu, one of my oldest contact in this multiply world yang
dengan cucuran darah keringat dan air mata dalam arti nyaris harfiah
udah ngedesainin kado istimewa khas multipliers, thanks a lot, bro!
For the rest of the gank, yang udah bela-belain macet-macetan,
panas-panasan, capek-capek dateng baik ke acara serah-serahan, acara
resepsi pernikahan, acara dinner bareng di sierra, yang gue tau
besokannya pasti jadi pada ngantuk di kantor, maupun yang nggak sempet
/ nggak bisa dateng tapi gue tau banget udah niat / udah urun rembug
soal piala dan kado, udah mengirimkan doa dan ucapan selamat buat gue
dan Ida, dan udah nulis journal-journal seru dan upload album-album
foto keren selama acara 2-3 Juli kemarin di Bandung, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan amiiin untuk doa-doanya.
You know what?
Seeing a multiply people in person is like watching a novel adapted into a movie.
You read their story, and then you begin to imagine
you imagine how these people talk, walk, shake hands, smile, and interact.
Most of the time, the adaptation failed
because our imagination flies higher than reality
But on July 2nd and 3rd,
I saw the best adaptation ever
That was the time when reality is no longer virtual
and went beyond the wildest imagination.
I thank God I was there
to witness the big family gathered
and realize one more time
that miracles do happen!
Thank you, guys!
Image: desain kartu ucapan terima kasih di souvenir gue.


Penghulu: Loh, apa-apaan ini, kok mas kawinnya bentuknya begini?
Gue: Ada 2 alasan, pak... pertama – alasan filosofis, dan ke dua – alasan pragmatis...
Udah gue ceritain di sini, gue mau mas kawin gue disusun dalam bentuk yang nggak terduga.. khususnya sama Ida.
Awalnya, gue sama sekali nggak kebayang tu duit mau dibikin jadi apa.
Cuma gue udah manas2in Ida dengan bilang bahwa gue udah punya rencana
bikin sesuatu yang “unik”, yang tanpa alasan jelas suka diartikan oleh
Ida sebagai “memalukan”.
“Kamu mau bikin apa siiih?”
“Huuu.... ada deh... pokoknya rahasia...”
“Akunya penasarannnn...”
“Biarin”
“Akunya jadi sedih, akunya mau nangis aja ah...”
“Nangis gih sana. Nggak mempan.”
Sementara itu gue pusing mikirin duit-duit itu, sampe akhirnya gue
jalan-jalan ke Office 2000 di mal ambas. Gue nemu di salah satu
displaynya, ada angsa yang terdiri atas banyak banget lipetan kertas
berbentuk segi tiga. Jadi yang perlu dibuat cuma lipetan bentuk segi
tiga kecil2, abis itu tinggal disusun sesuka hati mau jadi bentuk apa
aja bisa.
Tadinya gue mau menggunakan teknik itu untuk bikin mas kawin gue,
tinggal tuker aja uang 372.005 itu jadi pecahan yang kecil2 misalnya
1000-an, dibentuk jadi lipetan2 segi tiga, terus disusun jadi bentuk
yang familiar buat ida misalnya bentuk kepala si mbot. Tapi rencana ini
terbentur 2 problem kecil:
-
Ngelipetin uang kertas dalam jumlah banyak butuh banyak waktu, yang mana gue nggak punya.
-
Gue nggak tau caranya ngelipet bentuk segi tiga itu. (bentuk segi
tiganya bukan sembarangan, ada rongganya sehingga bentuk2 itu bisa
saling terkoneksi satu dengan lainnya)
Maka ide yang ini didrop.
Karena hambatan pada ide di atas, khususnya pada poin nomor 2, maka
akhirnya gue memutuskan untuk bikin sesuatu yang emang gue bisa aja
deh, yaitu duitnya dilipet jadi bentuk baju. Teknik ini gue pelajari
waktu lagi nongkrong di kantin jaman kuliah dulu (see, nongkrong di
kantin nggak selamanya sia-sia kan, ada gunanya juga ternyata di
kemudian hari).
Eh loncat dikit, teknik ini ditularkan dari satu orang ke orang lain.
Temen yang ngajarin gue itu juga diajarin sama temennya, sementara gue
setelah menyerap ilmunya juga mengajarkan pada temen yang lain lagi.
Temen yang gue ajarin praktek bikin lipetan yang sama dari uang 50
ribu, terus disimpen di dompet, dipajang di bagian yang ada plastiknya,
yang suka dipake buat simpen foto.
Pada suatu hari, temennya temen gue buka2 dompetnya temen gue (bingung
nggak baca kalimatnya? Baca sekali lagi kalo bingung, hehehe) dan
menemukan lipetan duit itu.
“Hiii... lucunya, liat dong liat...!” katanya temennya temen gue. Habis
itu tuh lipetan diambil, ditimang-timang, dibawa jalan2 buat dipamerin
ke orang2, habis itu... nggak balik.
Kata temen gue, “huuu.. kalo mau nilep duit bilang aja terus terang, pake sok2an bilang lucu, lagi!”
hehehehe... back to the story.
Gue akhirnya memutuskan mau bikin lipetan bentuk baju aja. Dulu gue
juga pernah bikinin buat salah satu temen gue yang kawin. Waktu itu
uangnya dibentuk jadi baju, terus ditempel-tempel di karton dan
dipigura. Gue juga tadinya mau bikin yang sama, tapi dengan sedikit
modifikasi. Kalo dulu mas kawinnya temen gue itu ditempel gitu aja di
karton, kali ini gue mau tempel dan di atasnya dikasih gambar-gambar
kepala gitu. Jadinya kaya komik.
Tapi lagi-lagi ide ini gue drop sendiri dengan alasan:
-
Nggambarnya pasti lama, sementara waktu gue udah nggak banyak lagi.
-
Bikin piguranya juga pasti lama.
-
Hasil akhirnya pasti akan terkesan bercanda banget. Memang kawinan
gue ini penuh dengan hal2 yang terkesan bercandaan, mulai dari undangan
sampe souvenirnya, tapi kayaknya kalo mas kawinnya juga segaring itu
keterlaluan deh.
Jadi sekarang problem gue: gimana caranya menyusun baju-baju kecil itu biar tampil menarik, tanpa terkesan terlalu bercanda?
Seperti biasa, orang kalo lagi kepepet suka muncul ide kreatif. Sekitar
2 minggu sebelum hari H, gue ditugasin beli peralatan untuk game
workshop di kantor. Salah satu benda yang harus gue beli adalah bandul
untuk bikin pendulum. Bandulnya bebas, apa aja yang penting cukup berat
untuk dijadiin pendulum. Ide gue waktu itu adalah mur, tapi waktu gue
dateng ke toko bahan bangunan deket rumah gue, mereka nggak jual mur.
Adanya hook2 kecil yang biasa dipasang di balik pigura, supaya
piguranya bisa digantung di dinding.
Waktu itu gue nggak jadi beli hook2 itu karena terlalu ringan untuk
dijadiin bandul. Tapi saat gue desperate nyari ide buat mas kawin ini,
ide tentang hook2 kecil itu muncul kembali. Bentuk dan ukurannya pas
banget untuk dipasang di baju2 kecil gue, jadi ceritanya baju2 itu ada
gantungannya seperti baju di lemari. Wuah.... gue excited banget sama
ide gue sendiri.
Langsung tersusun rencana, baju2 kecil itu akan gue pasangin hook, terus gue gantung di seutas tali – seperti jemuran.
Muncul problem berikut: talinya diiketin di mana?
Gue butuh 2 batang kayu yang bisa berdiri tegak untuk diiketin tali
tempat nyantolnya baju2 kecil. Ide pertama gue: pake batang2 stick
eskrim. Gue pernah liat di suatu tempat, batang2 stick eskrim seperti
sticknya paddle pop dijual satu set dengan lem kayu dan ditempeli label
“mainan kreatif bagi anak2” (padahal menurut gue sih, kalo gini yang kreatif
penjualnya).
Gue coba inget-inget, di mana ya tempat yang menjual paket seperti itu?
Setelah mikir sampe capek, akhirnya gue inget juga: ternyata gue
ngeliatnya di Gramedia PI Mall, dan itu juga udah sekian tahun yang
lalu, yang mana sekarang benda itu belum tentu masih available. Mikir
lagi deh. Bongkar-bongkar laci kamar. Apa ya, yang bisa dipake? Pensil?
Bolpen? Ranting pohon mungut di jalan? Motong tripleks? Pindah bongkar2
laci di ruang makan, sampe akhirnya nemu bahan yang perfect banget:
sumpit dari bakmi GM!!
Ini sumpit GM versi lama, yang bentuknya kotak (yang baru bentuknya
silinder). Yang kotak ini punya keunggulan: penampangnya lebih lebar,
sehingga akan lebih stabil kalo diberdiriin.
Kamis 30 Juni, H-3, gue baru sibuk2 beli peralatan tambahannya ke
Gunung Agung Kwitang. Gue beli kotak kado yang udah siap pake,
berbagai macam kertas dan lem, double stick, etc etc. Gue nggak mau
ambil resiko ada barang yang kurang di tengah waktu yang mepet ini,
jadi gue beli kertasnya dobel2.
Sore gue mulai proses pembuatan dengan langkah2 sebagai berikut:
-
Kotak kado siap pakai gue potong sudut2 sikunya, sehingga ke empat dindingnya bisa kebuka ke luar.
-
Kotak itu dengan susah payah (karena gue sebenernya sama sekali nggak
berbakat soal kerajinan lipat-gunting-tempel) gue lapisin dengan kertas
emboss warna putih. Kertasnya benjol2 kaya ada gelembungnya gitu.
-
Gue potong styrofoam setebal 1 cm seukuran dasar kotak. Bikin 2 biji,
gue tumpuk dan gue tempel pake double tape. Dibalut pake kertas emboss
lagi. Dengan demikian gue punya landasan setebal 2 cm untuk tempat
berdirinya si sumpit. Kenapa gue nggak sekalian aja beli styrofoam yang
tebelnya 2 cm? Karena waktu belanja di Gunung Agung gue juga belum
kepikiran gimana caranya bikin landasan itu, hehehe..
-
Motong sumpitnya biar tingginya sesuai dengan tinggi kotak. Problem:
gue nggak punya alat potong yang sesuai. Tadinya mau beli gergaji
tripleks, tapi gue pikir2, udah lama banget gue nggak make benda itu,
paling yang ada ntar mata gergajinya putus mulu. Akhirnya gue pake
cutter ukuran besar. Nggak nyangka, cutter ternyata juga sanggup motong
kayu. Cuma lamaaaa.... dan pegel banget!
-
Dua batang sumpit itu gue tancepin di landasan styrofoam. Ah ternyata gampang banget, langsung bisa berdiri tegak!
-
Tali kasur gue iketin di antara 2 batang sumpit itu. Sip!
-
Hook2 mulai gue pasangin di lipetan2 baju. Done!
-
Satu baju yang udah ada hooknya gue cantelin di tali. Loh.. kook nyoooot... tiang sumpitnya jadi doyong?? Wah gawat.
-
Semua baju yang udah ada hooknya (7 biji) gue cantelin. Nyoooot.... makin doyong. Gue mulai panik.
-
Mondar-mandir keluar masuk kamar mikir gimana ini solusinya?
-
Dapet ide: potongan sumpit gue pasang melintang di atas 2 tiang, gue
lem pake lem fox. Dengan demikian jarak antara 2 tiang akan tetep sama,
nggak akan doyong.
-
Ide di atas cukup bagus, kecuali: sumpit itu ternyata ada coating
lilinnya, sehingga lem fox jadi nggak terlalu mempan!
Grrr...gjkgjgkgkgkg... gemes !
- Gue coba iketin tali kasur tambahan di titik pertemuan tiang dan sumpit yang melintang. Problem: talinya melorot mulu.
-
Gue olesin lem fox di iketan talinya. Berhasil! Setelah kering,
talinya jadi keras kaya semen putih! Sekalian aja gue olesin lem fox di
tali gantungannya, biar talinya makin kaku.
-
Selesai..! wah legaaa...

Di tengah proses pembuatan mas kawin ajaib itu, gue pikir2... trus
alasannya kenapa dong gue bikin mas kawin ini jadi bentuk baju? Masa
nggak ada “makna di baliknya”? Gue pikirin sekalian, just in case
ditanya sama penghulunya. Sampe akhirnya gue nemu alasan yang menurut
gue bagus banget, gue nelep Ida.
“Yang, mas kawinnya udah hampir jadi nih! Hiii, aku nggak sabar pingin ngasih liat ke kamu”
“Awas lo ya kalo malu-maluin!”
“Hihihihihi... aku bahkan udah menyiapkan jawaban kalo penghulunya
nanya kenapa aku bikin jadi begini! Eh atau kamu ya nanti yang nanya.
Kalo kotaknya udah kebuka, kamu nanya ya, kenapa mas kawinnya seperti
ini!”
“Nggak mau! Pasti alasannya bikin malu, atau jangan-jangan jorok!”
Terpukul gue mendengar pemikiran su'udzon calon istri sendiri, tapi ya
sudahlah... memang sudah nasib barangkali, selalu dicurigai... 
Jumat 1 Juli, H-2. Tu kotak mas kawin gue simpen di lemari, bener2
nggak boleh ada seorangpun yang liat. Teleponan sama Ida lagi.
“Apa sih yaaang... isi kotak itu??”
“Hihihihi, liat aja besok. Pokoknya kalo ditanya, aku akan memberikan jawaban yang berkaitan dengan status kamu sebagai istri!”
“Apaan sih... jangan-jangan kamu bikin jemuran ya, biar aku kerjanya ngurus cucian mulu, gitu?”
=Tebakan yang luar biasa tepatnya, bikin gue sempet speechless. Mungkin
ini pertanda emang udah ada ikatan batin antara gue dan ida. I can't
hide anything from her.=
“Idih, ngapain juga dibentuk jadi jemuran, ngaco banget...” kata gue menutupi rasa kaget.
Sabtu 2 Juli, H-1. Malem2 gue periksa isi kotak mas kawinnya. Waaaa...
baju2 kecil itu pada lepas dari hooknya, dan bergeletakan di dasar
kotak! Untung gue bawa peralatan lengkap, langsung gue bawa keluar
kamar dan gue perbaikin. Saat itulah gue k etauan sama salah satu kakak
gue. Tapi ya udahlah, udah tinggal besok inilah.
Minggu 3 Juli, Hari H.
Setelah ijab kabul selesai, penonton yang udah penasaran pada teriak,
“buka... buka...” Ida buka kotak itu dan langsung ngakak, “Tuuu kan,
tebakanku bener...!”
Sayang, baik penghulunya maupun Ida sendiri nggak ada yang nanya sama
gue apa makna di balik mas kawin berbentuk baju itu. Seandainya
ditanya, gue udah menyiapkan jawaban:
Ada 2 alasan... pertama – alasan filosofis, dan ke dua – alasan pragmatis...
alasan filosofisnya: baju itu adalah benda yang kita gunakan untuk
menutup aurat. Artinya, dia menjaga kehormatan kita, plus memperindah
penampilan kita. Selain itu, dia juga selalu melekat pada kita. Kalau
kita kehujanan dia ikut basah, kalau kita kepanasan dia ikut kepanasan.
Ditambah lagi, nggak pernah ada baju yang protes waktu dilepaskan.
Saya, berniat menjalankan peran seperti baju ini. Menjaga kehormatan
istri, mengangkat derajatnya di mata masyarakat. Juga berniat untuk
selalu setia, sehidup-semati, dalam susah dan senang, tapi tetap
memberikan ruang kepada istri sebagai sebuah pribadi yang mandiri,
tidak akan mengekang, atau memaksakan pendapat kepadanya....
sedangkan alasan pragmatisnya: memang saya bisanya bikin baju.. masa mas kawinnya kapal-kapalan, kan kurang seru...
  

a really really quick one...
Hari-H nih jek. Bagun pagi, leher sakit banget. Maka gue langsung
kepikiran buat beli permen woods atau degirol. Pilihan pertama tentu
apotik kimia farma yang buka 24 jam, yang ada di Dago. Dan karena
lokasinya deket warnet, why not? hehehehe...
Semalem acara serah2an berjalan lancar. Dapet kado dari Allah: nggak ujan sama sekali Rombongan
MP hadir, banyak banget! Gue nggak ngira sampe sebanyak itu. Thanks ya
guys! Acara dikhiri dengan aksi melarikan diri oleh gue, I'll spare the
details later.
***
Isi kotak mas kawin akhirnya semalem bocor ke beberapa kakak gue.
Malem2 gue cek ada beberapa lem-leman yang lepas, maka gue bawa ke
ruang kosong dan gue betulin di situ. Eh ternyata mereka pada masuk.
Tapi biarin lah, udah mau harinya ini.
***
Laporan cuaca: Bandung hari ini lebih dingin dari kemarin, tapi
tetep cerah. Just like the old days, waktu pertama kali gue
menginjakkan kaki di kota ini 15 yrs ago...
Mudah2an cuaca bertahan begini terus sampe siang, ya.
See ya all, wish me luck.
Selamat pagi semuanyaa... Sekarang jam 10 kurang 10 pagi, dan gue udah di warnet lagiii... hehehe... quick update aja, tadi pagi ibu nelepon ke rumah mbak Henny dan dapet kabar bahwa dia udah berangkat ke Bandung. Waduh, ibu ceria banget dengernya, considering hantaran2 yang hancur lebur itu. "mau sarapan apa bu?" "aku punya kornet, trus itu si Lis lagi masak nasi." "nggak mau bubur?" "ah enggak." "ya udah aku mau pergi makan bubur ya" "ini kornetnya?" "amit-amit bu, udah nyampe bandung sarapannya kornet... hiii... " Maka gue langsung meluncur ke Sulanjana, markasnya mang Oyo. Kaca mobil gue buka, angin pagi berhembus. Oh, i love this city! Mungkin karena dulu gue berkenalan sama Bandung lewat orang yang juga cinta mati sama kota ini, persepsinya menular ke gue. Entah kenapa, kalo ke Bandung, baru lewat tol Pasteur aja rasanya udah seneng banget! Dan gue enjoy2 aja tuh, keluyuran sendirian kayak sekarang ini. Dulu gue juga sering gitu, cuti dari kantor beberapa hari, ke Bandung khusus buat keluyuran sendirian. Di jalan, Ventha temen gue sms, ngasih tau dia udah nyampe Bandung. Nanin juga sms, bilang bahwa dia akan nyampe Bandung sekitar jam 12. Gue bilang, nanti gue samperin, kita cari makanan enak. Gue sms sigit nggak ada reply. Belum bangun kali dia, semalem nyampe bandara aja udah jam 11.15. Nggak tau deh rombongan Ari cs nyampe Bandung jam berapa. Ok guys,segitu dulu aja. gue mau ke gramedia, beli cat merah buat ngewarnain pitanya ida_baik yang mau ditempel di mobil penganten. Sampe ketemu di update berikut!
Ida kalo tau pasti ngamuk berat nih sama gue…sekarang jam 1 lewat 10
AM, dan gue malah keluyuran ke warnet… hehehe… abisnya nggak tahan gue,
ada pengalaman seru yang mau gue share ke elo semua.
Hari ini gue akhirnya berangkat dari Jakarta jam 4.30 PM. Acara ke
plaza Indonesia yang gue tulis di journal sebelumnya tuh dalam rangka
mau beli bunga buat Ida. Waktu dia ultah minggu lalu gue belum punya
kado apa2, dan gue kapok ngirim bunga lewat internet seperti tahun lalu
karena setelah sampe di tujuan bunganya kurang1 biji, harusnya 6
tinggal 5. Btw gue belinya di indokado.com. Jangan pada ngirim bunga
dari situ, ya! Sebenernya gue paling benci ngasih bunga, karena menurut gue bunga
tuh sama sekali nggak ada manfaatnya. Dimakan nggak bisa, disimpen
nggak bisa, bahkan soal wangi pun masih wangian bayfresh! Tapi
berhubung Ida paling seneng dikasih bunga, ya udahlah...
Nah, karena urusan beli bunga yang terhambat demo itu, gue jadi telat
deh berangkatnya. Sampe rumah masih harus packing segala, lagi. Untung
masih sempet posting di multiply, hehehehe... posting ternyata lebih
penting dari packing. Setelah menjejalkan sejumlah kaos, kemeja, dan
celana dalem ke dalam koper, gue langsung menyatakan siap berangkat.
Ibu menyambut gembira banget, karena udah bosen dari tadi nungguin
nggak berangkat-berangkat.
Akhirnya here we go, berangkat bertiga (gue, ibu dan Lis - asisten ibu
bagian nyapu2) naik mobil panther pinjeman. Berkat cadangan logistik
ibu yang cukup untuk bertahan hidup selama sebulan itu, mobil jadi
penuh sesak walaupun orangnya cuma tiga. Padahal panther, gitu loh.
Barang yang terakhir dimuat ke mobil adalah kotak2 hantaran yang udah
disusun rapi sama mbak Henny, kakak gue yang waktu jaman muda dulu
pernah bisnis parcel lebaran.
Sesuai permintaan Ida, kotak2 hantarannya nggak dibentuk macem model
binatang2an, tapi cuma dikasih pita dan kain cantik. Kotak-kotak itu
dinaikin terakhir ke mobil supaya pita2nya nggak gepeng ketiban2 koper.
"kita akan sampe di Bandung jam berapa sih gung?" tanya ibu.
"palingan maghrib bu. Kan sekarang ada jalan tol baru." Kata gue.
Jam 5.30 PM
Panther pinjeman berjalan tersendat-sendat di antara ribuan mobil lain
yang terjebak kemacetan. Lokasi: tol dalam kota, sekitar cawang.
"mana... katanya maghrib mau nyampe, jam segini masih di sini..." kata ibu kritis
"ya kan itu kalo nggak pake macet bu."
"palingan jam 10 nih kita baru nyampe"
jam 6.30 PM
Udah ngambil tiket, masih macet banget tapi udah mulai nggelinding.
Kebanyakan orang mengarah ke jatiwaringin dan sekitarnya, arus orang
pulang kantor. Gue terus ambil jalur kanan, lumayan dapet jalan.
Tapi problem baru timbul.
Gue ngantuk.
Banget.
Saking ngantuknya, sampe mobil2 di depan gue nampak kembar2 gitu, dan
beberapa kali gue sadar bahwa mobil di sebelah gue udah dekeeet
banget... pertanda gue udah nggak lurus megang stir.
Untung nggak lama kemudian nemu tempat pemberhentian, dan untuk pertama
kalinya dalam sejarah gue nyerah sama kondisi tubuh gue. Biasanya
walaupun ngantuk gue masih bisa ngontrol, kali ini rasanya parah banget
ngantuknya. Waktu acara lamaran dulu itu malah gue tidur jauh lebih
sedikit tapi waktu nyetir konsen2 aja tuh.
Gue tidur barang 15 menit di sana, diiringi komentar ibu "pasti semalem
kamu nggak tidur, ngetik2 di depan komputer sampe pagi ya? Ngetik apaan
aja sih kamu ini..."
Jam 6.45
Gue udah di jalan lagi. Lumayan, merem 15 menit bikin gue seger lagi.
Kalo lagi kondisi ngantuk berat gitu, dibawa tidur sebentar - asalkan
bener2 pules - bisa menolong banget.
Jalanan juga udah nggak tll macet, bisa lari sekitar 120-an.
Dan terjadilah peristiwa itu, nggak lama setelah belokan masuk tol sadang.
Gue lagi di jalur kanan, mau nyusul mobil depan yang kebetulan panther
juga. Panther lawan panther, dua2nya lambret tapi sok tarik2an,
akhirnya jadi lama banget nggak ada yang dapet jalan.
Karena posisi mobil depan agak diagonal sama mobil gue, jadi gue nggak
bisa sepenuhnya ngeliat ada apa di depan. Makanya gue kaget setengah
mati waktu tuh mobil mendadak banting stir ke kiri dan jreeeeenggg....
di depan gue tau2 aja udah ada sejumlah petugas lagi perbaikin jalan!!!
Damn, gue syok banget, maka sambil ikutan banting stir kiri (nggak
sempet liat spion di belakang ada mobil apa enggak, cuma baca bismillah
aja semoga kosong) gue injek rem pol. Ini sebenernya tindakan yang
salah banget, mobil bisa terguling diginiin. Tapi namanya juga orang
kaget, mana baru bangun tidur pula... maklumin deh ya.
CIIIITTTTTTT....!!! ban gue sampe bunyi kayak di film gitu. Untung
mobil masih stabil, dan gue liat mobil depan juga udah rada menjauh,
jadi gue banting kanan lagi dan langsung lepas rem. Pheeew... mobil
jalan lagi dengan selamet, cuma...
"Aduh... aduh..." si Lis aduh2an dari bangku belakang.
"Kenapa Lis?"
"Ini... ini... hantarannya... terguling...."
"Berapa yang terguling?"
"Semua..."
Gue noleh sebentar ke belakang. Hwaaa.... kotak2 cantik itu porak
poranda nggak karuan di lantai mobil. Alat2 kosmetik yang rata2
berbentuk silinder bergelindingan dengan ceria ke seantero mobil,
sementara si Lis sibuk nyungsep2 untuk mungutin.
"Udah, biarin aja Lis, besok pagi kan bu Henny dateng, biar dia nanti yang betulin."
"Mbak Henny-nya nggak bisa dateng pagi besok..." celetuk ibu dengan
tampang cemas, "Anaknya ada acara di sekolah... dia baru bisa dateng
sore..."
Great!
Pas waktu itu telepon bunyi. Ida.
"Halo-halo... sampe di mana kamunya?"
"Sampe tol... eh yang, masa barusan aku hampir kecelakaan lho!" (dengan nada ceria)
"Hah? Trus?"
"Nggak papa sih... aku sempet ngerem... tapi hantarannya nih... berantakan..."
"yaaah.... ah tapi besok kan ada mbak Henny bukan?"
"Mbak Henny dateng sore."
"Waaah.... Mbak Dotty?"
"Sore juga."
"Aduh, gimana dong. Berantakan banget, emang?"
"Banget-banget"
"Aduuuh... Mbak Watty?"
"Dateng pagi sih. Tapi dia nyampul buku aja nggak becus."
"Nah lo! Trus gimana?"
"Ya terpaksa deh... aku yang akan membereskan semuanya. Tenang yang, nanti aku susun lagi!"
"Kamu?" (dengan nada ragu)
"Iya! Hiii... nanti aku bikin bentuk binatang-binatang ya! Bentuk bekicot, mau? Tuh bajunya bisa digulung2 jadi rumahnya!"
"Yang!!"
"Habis gimana?"
"Aku berdoa aja deh, semoga mbak Henny bisa dateng siangan"
Jam 8.05
Ngelewatin pintu tol Pasteur.
"Tuh, bu, siapa bilang jam 10 nyampenya, hm?"
Kita mampir dulu makan di Nyonya Rumah yang lokasi baru, abis itu
berhubung udah deket sama rumah Ida, gue mampir ke sana sebentar untuk
ngedrop spanduk dan bunga.
Rumahnya bener2 bikin pangling, beda banget sama biasanya. Di tengah
rumah ada pelaminan kecil, jadi rencananya nanti pas acara hantaran si
Ida akan duduk di situ.
Gue juga udah liat kamar pengantennya. Buset, ibunya Ida bener2 serius
rupanya ngerjainnya. Tu kamar beneran seperti kamar yang akan
ditempatin seterusnya. Sampe ada lemarinya segala! Trus ada lampu model
minimalis mirip sama yang diincer Ida waktu di mega mall pluit dulu.
Ibunya ketawa-ketawa pas gue kasih liat spanduk dan potongan styrofoam bentuk mbot dan Ida baik.
"Itu buat di mana?"
"di mobil, bu."
"jadi mobilnya rame banget ya, udah ada bunganya, ada gambarnya."
"perlu ada lampu kelap-kelipnya sekalian barangkali, bu?"
Sayangnya gue belum boleh ketemu Ida. Aturan yang menjengkelkan banget,
karena sejak tahun 2005, waktu Ida udah pindah ke jakarta, gue belum
pernah nggak ketemu dia selama ini. Kan kangen gitu ceritanya gue ini.
Cuma sebentar di rumah Ida, gue dan rombongan langsung cabut lagi ke
mess tempat kita akan nginep di jl. Karawitan. Lis dengan tampang
prihatin nurun2in kotak2 hantaran yang sekarang udah nggak berbentuk
itu, sementara gue langsung gelar2 segala peralatan gambar dan cat
untuk nerusin ngewarnain styrofoam. Rada kagok rasanya, gue udah lama
banget nggak pegang cat dan kuas b |
|