Agung's posts with tag: me and her
Dulu waktu baru memulai kotakkue, gue sempet pesen stiker berlogo kotakkue lengkap dengan nomor telepon ida dan alamat blog ida22.multiply.com. Setelah sekarang punya kotakkue.com, ida rada males pake stiker itu lagi karena takut yang ngeliat malah nyasar ke blog pribadinya yang isinya campur aduk antara jualan makanan dan hal lain. Tapi kalo dibuang begitu aja kok sayang, karena masih ada stok ratusan lembar. Sebagai solusinya, tulisan alamat ida22.multiply.com digunting sehingga cuma tersisa logo dan nomor telepon aja. Trus potongan tulisan ida22.multiply.com-nya buat apa? Cocok sebagai aksesori para fans berat, tentu.

|  | pas lagi mau makan malam di kantor taman, mega kuningan, kami melewati sebuah benda ajaib: mesin otomat kopi. Istri langsung kegirangan, "wah suamiii... di sini ada mesin kopi! Kita coba yuk!" Tapi dengan pertimbangan akan ada larangan bawa makanan / minuman dari luar di tempat makan nanti, maka niat mencoba ditunda sampai pulangnya nanti.
Ada 3 kombinasi bahan yang disediakan mesin ini, yaitu kopi, susu, dan coklat. Jadi kopi yang bisa dia keluarkan adalah kombinasi dari ketiga bahan ini, yaitu kopi + coklat, kopi + susu, kopi + susu + coklat, kopi + double susu, dst. Harganya 5.000 per gelas, dan dia bisa mengenali duit kertas pecahan 1.000, 5.000, 10.000, dan 20.000. Sayangnya, dia hanya mampu mengeluarkan kopi panas, nggak bisa bikin kopi es.
Maka kami beli dua gelas.
(Noraknya orang yang jarang ketemu mesin otomat). |
 ...yang istrinya mau memulai bisnis sendiri. - Pertama-tama, bersyukurlah - karena di luar sana banyak bapak-bapak pegawai lain yang sampai stress, gila, korupsi, dllsb karena keseringan denger istrinya bilang "Papih, aku mau beli..." Sedangkan istri lu bilang, "...saya mau jual..."
- Nggak usah banyak cingcong dengan jabatan dan status. Katakanlah sekarang elu adalah seorang "Business Development Head" atau "Assistant Sales Manager" atau "Assistant Vice President" atau "Senior Human Capital Head" atau apapun, dan istri lo memutuskan mau mulai jualan cendol, dan elo merasa hina karena seorang "Senior Human Capital Head" harus bersanding dengan seorang tukang cendol, maka elo melihat dari perpektif yang salah. Kondisi sebenarnya adalah, elu sekarang hanyalah seorang buruh, jongos, dan istri lo sedang merintis jalan untuk menjadi seorang owner. Lagipula, Bob Sadino juga dulunya cuma seorang "tukang telur". Liat aja apa jadinya dia sekarang.
- Nggak usah sok kaya / sok mapan dengan bilang, "Memang uang bulanan kamu kurang ya, sampe perlu jualan segala? Gue tambahin deh!" Berapa sih gaji bulanan lu sebagai seorang pegawai? Sepuluh juta? Lima belas? Dua puluh? Asal tau aja, minggu lalu gue baru ketemu seorang "tukang sayur" dari Pasar Unit II Tulang Bawang Lampung yang omzet per bulannya rata-rata 160 juta. Ini rata-rata lho, jadi ada kalanya lebih dari itu. Dengan asumsi keuntungan bersih 10%, maka pendapatan dia adalah 16 juta per bulan. Contoh lainnya, seorang ibu penjual beras, dari hasilnya berdagang plus pinjem ke bank mampu beli 1 hektar lahan karet. Setelah pinjaman lunas dan lahan karet jadi milik, dia menjaminkan lahan itu untuk mengambil pinjaman lagi. Pinjamannya dipake untuk membangun ruko 2 pintu. Sekarang, cicilan ke bank dibayar dari hasil penjualan lahan karet dan sewa ruko. Di luar itu, pendapatan dari kios beras masih mengalir, sekitar 10 jutaan nett per bulan. Gimana tuh, wahai para "Head" dan "Manager" kantoran?
- Masih terkait poin sebelumnya, terkadang urusannya sama sekali bukan uang. Punya bisnis sendiri adalah salah satu bentuk aktualisasi diri, sebuah kebanggan tersendiri yang nggak ada urusannya dengan uang belanja. Punya bisnis sendiri besar banget pengaruhnya buat rasa percaya diri seseorang, terlepas dari ukuran bisnisnya. Dana kalo elo merasa terancam / keberatan dengan kehadiran seorang istri yang semakin PD dan berkembang, gue sarankan elo introspeksi deh.
- Nggak usah banyak ribut kalo istri lo minta dukungan modal. Jangan lihat itu sebagai pengeluaran ekstra - siapa tau elo justru sedang melakukan investasi awal di embrio sebuah perusahaan multi - nasional. Pernah denger tentang "Mrs. Fields Cookies"? Di era 90-an perusahaan Amerika ini pernah punya outlet di deket Jembatan Dukuh Atas, Jakarta. Pemiliknya, si Mrs. Fields, tadinya hanya ibu rumah tangga biasa dengan pendidikan akhir SMA, yang merasa minder setiap kali dateng di acara kantor suaminya. Jabatan suaminya udah lumayan tinggi, dan istri-istri temen-temen kantor suaminya juga rata-rata berpendidikan tinggi. Begitu tau Mrs. Fields hanya lulusan SMA, mereka cuma memandang sebelah mata. Mrs. Fields berpikir, dia juga ingin punya sesuatu yang bisa dibanggakan, maka mulailah dia berbisnis kue kering. Bum - sekarang dia jauh lebih kaya ketimbang suaminya maupun istri-istri teman kantor suaminya.
- Nggak usah menggunakan premis "kewajiban istri melayani suami" secara berlebihan. Ya memang benar kewajiban istri adalah melayani suami, tapi kalo elo komplen karena biasanya dibikinin kopi dan sekarang istri sibuk ngurus bisnis sehingga nggak sempet bikinin kopi lagi, gue sarankan beli kopi kemasan sachet di warung. Tuh baca, di kemasannya ada petunjuk cara bikinnya. Jangan sebut diri lo seorang "Head" / "Manager" / "Executive" kalo nggak bisa ngikutin petunjuk itu.
Poin gue adalah, mau nggak mau memang perlu ada hal-hal yang dikorbankan kalo istri yang tadinya hanya mengurus rumah tangga sekarang punya kesibukan ekstra. Nggak perlu membebani istri lo dengan tuntutan yang nggak esensial.
Intinya, wahai para suami, selama bisnisnya halal, masih dikelola tanpa menelantarkan keluarga, dan bisa membuat istri kalian lebih maju, restuilah. Buat para istri yang ragu untuk memulai bisnis karena suami mengajukan keberatan yang bukan-bukan, silakan forward posting ini. Semoga bisa membuka wawasan mereka :-) (didedikasikan buat istri yang omzet bisnisnya sekarang 1500% lebih gede dibanding omzetnya saat baru mulai, 1 tahun yang lalu).

|  | Lagi-lagi istri berhasil membuat kejutan ultah yang nggak terduga. Setelah sebelumnya bikin surprise party dengan mendatangkan rombongan MP-ers di tengah malam, kali ini istri punya ide yang berbeda.
Awalnya, pas jam 12 teng, istri memotongkan kue ultah buatan sendiri. Ini nggak terlalu surprise karena pas pulang kantor kuenya udah ketahuan duluan lagi nongkrong di kulkas. Abis makan kue, istri bilang, "suami, cepetan tidur ya... besok harus bangun pagi-pagi." "Kenapa?" "Ya kan besok akhir pekan, kita mau jalan-jalan..."
Paginya, jam 7 kurang gue udah dibangunin. "Suami, cepetan bangun, kadonya udah nunggu di depan!" "Kenapa kadonya nggak dibawa ke sini aja sih!" "Nggak bisa, harus ke depan." Maka gue ke depan, dan ternyata... udah menunggu sebuah bajaj lengkap dengan supirnya, yang bernama Bang Taufik.
"Suami, ini kadonya. Katanya dulu suami ingin nyoba nyupir bajaj... ini istri nyewa bajaj sampe jam 9 untuk suami... nanti suami nyoba narik bajaj ya! Cari penumpang ya!"
Ya ampuun... ada-ada aja deh idenya istri. Gue emang pernah bilang, ingin tau rasanya nyupir bajaj barang sehari. Nggak nyangka ternyata hari ini jadi kenyataan! "Sekarang suami belajar nyupir bajaj dulu ya, nanti diajarin sama bang Taufik ini," kata istri.
Maka gue menumpang bajaj tersebut ke seputaran jalan Cilacap - Bandung - Semarang yang tergolong sepi. Sementara itu, istri mendahului sampai di lokasi naik sepeda. Di jalan, bang Taufik mencoba membesarkan hati gue yang dalam hitungan menit akan mencoba jalur karir baru sebagai tukang bajaj, "Bawa bajaj itu gampang kok mas, kaya bawa vespa gitu. Mas pernah bawa vespa, kan?" "Belum, bang." O-Ow.. gawat - mungkin begitu pikiran Bang Taufik. "Kalo bawa motor bebek, pernah?" "Belum pernah juga, bang."
Sesampainya di jalan Cilacap, gue pindah duduk di kursi kemudi. Gue mencoba menyalakan mesin bajaj dengan menarik starternya - itu lho, besi panjang di sebelah kiri kursi kemudi. Nggak berhasil- berhasil. Ternyata berat banget!! "Sini, saya aja yang nyalain," kata Bang Taufik, "Ntar tangannya sakit kalo belum biasa. Sambil diputer gasnya ya." -Ngeengg...!- bajaj berhasil nyala. "Koplingnya tahan, masukin gigi satu, sambil pelan-pelan digas ya!" Bang Taufik memberikan petunjuk. Gue mengikuti petunjuk tersebut Trus bajajnya mati. "Loh bang, kok mati?" "Coba sini saya liat." Bang Taufik mengutak-utik bajajnya, dan nggak lama kemudian melaporkan,"Waah.. kabel gasnya putus!" "Yaaah... saya muternya kekencengan ya bang? Maaaappp." "Ya udah nggak papa. Tapi masalahnya saya nggak bawa kabel cadangan nih. Saya mau ke Senen dulu ya, beli kabel gas, nanti ke sini lagi," katanya. Maka acara kursus nyupir bajaj terpaksa ditunda dulu untuk sementara, dan gue jalan kaki pulang ke rumah.
Sekitar jam 8, Bang Taufik udah muncul lagi di depan rumah. Maka seperti tadi, gue numpang sampe jalan Cilacap, terus di sana kursus nyupir bajaj dimulai kembali. "Ini kabelnya baru kok, jangan takut putus, tapi muternya juga jangan kenceng-kenceng ya!"
Gila, ternyata nyupir bajaj sama sekali nggak gampang. Bener-bener harus pake feeling karena nggak ada indikator apapun yang menunjukkan posisi gear. Kadang gue rasa masih gigi dua, ternyata udah masuk gigi empat. Kadang perasaan udah muter gas, ternyata belum. Sementara kalo muternya kekencengan, takut kabelnya putus lagi. Kalo kurang kenceng, mesin mati. Serba salah.
Baru beberapa menit nyoba, kabel gas kembali bermasalah. Gue udah cemas aja, tapi ternyata nggak putus, cuma lepas. Bang Taufik kembali sibuk mengutak-utik. Beberapa menit kemudian beres. Tapi gue jadi nggak enak banget, ngerusakin bajaj orang sampe dua kali gini. "Bang, udahan aja deh nyetir bajajnya, nggak enak nih bajajnya rusak melulu gara-gara saya," kata gue "Lho kok udahan... jangan putus aja, namanya juga baru belajar, ya biasa kalo kabelnya putus melulu," Bang Taufik dengan sabarnya membesarkan hati. Mengharukan, rupanya dia sungguh-sungguh mau ngajarin sampe gue bisa nyetir bajaj. Padahal kalo gue cepat putus asa kan lebih menguntungkan buat dia, urusan cepet beres sementara duit yang diterima tetep sesuai perjanjian.
Akhirnya gue mencoba lagi, dan alhamdulillah kali ini nggak pake acara kabel putus. Gue muter-muter di seputaran jalan Cilacap - Semarang - Bandung berkali-kali di bawah tatapan curiga dari para penduduk setempat. Soalnya selain bajajnya muterin tempat yang sama berkali-kali, posisinya memang nggak biasa, gue nyupir bajaj sementara Bang Taufik setengah nyantol di pintu belakang kayak stuntman lagi adegan kebut-kebutan. "Bang, bajaj giginya sampe berapa sih?" "Sampe empat, tapi kalo lagi belajar sampe gigi tiga aja dulu ya..." jawab Bang Taufik penuh antisipasi.
Cukup satu jam muter-muter, gue udah capek dan mengarah balik lagi ke rumah, diiringi senyum lega Bang Taufik yang rupanya rada setress gue bawa ngebut. "Ini baru belajar kok maunya jalan kenceng aja, saya jadi ngeri..." katanya. Alhamdulillah kami berhasil sampe di rumah lagi dengan selamat. Sayangnya Bang Taufik nggak punya telepon yang bisa dihubungi. "Bang, kalo kapan-kapan saya mau latihan nyupir bajaj lagi gimana caranya nyari abang?" "Ya udah nanti saya deh yang nelepon, kalo hari sabtu atau minggu gitu ya, biar jalanan nggak macet."
Terima kasih buat Bang Taufik yang dengan sabar udah mengajari gue nyupir bajaj, dan terutama buat istri yang selalu punya ide surprise yang menyenangkan buat suami. Terima kasih ya, istri! Luv u banget!

|
 Sejak memutuskan beli kamera pohon beberapa bulan yang lalu, gue udah berniat agar benda ini nggak sekedar buat 'punya-punyaan' - tapi juga harus menghasilkan duit. Yah, minimal dia harus bisa membayar harganya sendiri. Makanya gue semangat banget waktu Ida ngasih tau ada lomba foto ibu dan anak dari majalah 'Mother and Baby'. Hadiahnya lumayan menggiurkan, yaitu 10 juta untuk juara pertama. Kalo sampe masuk final aja bisa dapet 1 juta. Kebetulan, walaupun nggak langganan, Ida punya 3 edisi majalah tersebut yang memuat kupon untuk ikutan lomba foto. Maka sejak beberapa minggu yang lalu, gue dan Ida sibuk merancang 3 pose foto untuk diikutkan dalam lomba. Maunya sih biar fotonya keliatan beda dari foto yang biasa dikirim oleh peserta lain, gitu. Setelah melalui beberapa sesi pemotretan yang cukup melelahkan, akhirnya berhasil juga punya 3 foto yang menurut kami cukup layak untuk dikirim ke lomba. Masalahnya sekarang, setiap foto harus dilampiri dengan formulir asli DAN potongan kotak susu Lactamil, susu khusus ibu hamil / menyusui. Kemarin gue udah beli 3 kotak susu Lactamil di Hero, tapi masalah lain timbul: lagi hamil aja Ida males disuruh minum susu ibu hamil, apalagi pas nggak lagi hamil seperti sekarang. Padahal deadline pengiriman udah di depan mata, yaitu tanggal 15 Agustus 2007 (lusa). Mau buang susunya, dan diambil kotaknya, kok ya sayang amat. Kan buang - buang makanan itu dosa. Maka, apa boleh buat, demi 10 juta, tadi siang gue memutuskan untuk... minum susu ibu hamil. Mohon doa restunya ya, semoga nggak percuma gue bela-belain minum susu ibu hamil.
 Senangnya punya istri yang hobi masak adalah bisa makan yang enak-enak. Susahnya adalah... mau nggak mau harus terlibat dalam aneka aktivitas terkait masak-memasak yang umumnya relatif kurang menarik bagi para suami. Yang terbaru adalah... "Suamiii.. kita ke toko Titan yuk!" "Apaan lagi tuh?" "Toko bahan dan peralatan masak-memasak, di Fatmawati." "Hmm... jauh ya. Emang apa hebatnya sih si toko Titan ini?" "Dia punya bahan-bahan makanan yang jarang dijual di toko lain. Trus beberapa bahan yang biasanya dijual dalam satuan besar, di sini bisa diketeng. Misalnya... [istri menyebutkan beberapa jenis krim dan mentega bernama ajaib]." "Oh... hebat sekali ya." "Trus ada lagi!" "Apa?" "Dia bikin blog contest! Jadi buat orang-orang yang pernah berkunjung ke sana, boleh bikin posting tentang pengalamannya belanja di toko Titan, trus nanti dinilai. Yang menang dapet hadiah sejuta lho!" Kata-kata 'sejuta' terdengar menyenangkan, maka hari ini gue sebagai suami yang baik dan benar pergi mengantar istri ke toko Titan. Di jalan, istri nggak henti-hentinya terus menumbuhkan antusiasme suaminya dalam menikmati acara kunjungan ke toko bahan kue. "Katanya, di sana ada cafe kecil buat para suami yang nungguin istrinya belanja. Di cafe itu suami-suaminya bisa duduk-duduk, beli minuman... lucu ya?" Sebenernya sih gue akan lebih setuju kalo di cafe tempat nunggu itu ada warnetnya. "Bagus sekali. Mungkin bisa jadi ajang berbagi rasa dengan topik 'deritaku menunggu istri belanja bahan kue'" Berdasarkan ancer-ancer yang diterima istri dari temannya sesama anggota NCC, kalo dari arah Panglima Polim toko Titan ini ada di sebelah kanan jalan, setelah belokan menuju Pondok Indah. Katanya sih reklame tokonya akan terlihat jelas dari jalan, tapi ternyata kalo dari arah Panglima Polim reklame itu nyaris tertutup seluruhnya oleh reklame toko lain. Jadi, buat yang mau ke sana, patokan yang lebih 'aman' ya itu tadi, belokan menuju Pondok Indah, setelah pertigaan D'Best - Cipete Raya. Kesan pertama yang terasa saat memasuki toko yang nggak terlalu besar ini adalah: baunya sedap! Aroma aneka bubuk dan sirup coklat, mentega, krim, saus, dan segala macem hal yang sedap-sedap mendadak bikin perut jadi laper. Tapi berhubung statusnya adalah toko bahan makanan, dengan sangat menyesal nggak banyak benda yang bisa langsung dicomot dan dimakan. Kesan ke dua muncul saat gue sok-sokan ikut melihat-lihat berbagai benda ajaib yang dipajang di sana dan nemu sebuah cetakan kue lucu berbentuk mobil. Kue yang dicetak pake benda itu beneran akan berbentuk mobil 3 dimensi, bukan cuma gambar gepeng siluet mobil. Tadinya sih begitu nemu benda itu, gue mau beli dan kapan-kapan mau minta dibuatin cake coklat berbentuk mobil sama istri. Tapi.. begitu liat harganya... ANJRIT... lebih dari 400 ribu perak!! Cetakan kaleng yang panjangnya cuma sekitar 30 cm ini harganya 400 ribu?! Alamak... "Ya tentu aja mahal, itu kan buatan Wilton..." kata istri. Maka kesan ke dua gue atas toko ini adalah... mendebarkan. Maksudnya berdebar-debar nunggu berapa nilai total belanjaan istri nantinya, gitu. Setelah kapok nemu cetakan borju itu, gue duduk manis di cafe sambil minum frestea. Selain gue ada seorang bapak yang kayaknya juga lagi nungguin istrinya belanja sambil makan kacang asin. Wajahnya nampak seasin kacangnya. Semenit... lima menit... sepuluh menit... gue masih betah nunggu di situ. Tapi akhirnya gue memutuskan untuk nunggu di luar aja. Bukan apa-apa, baunya jek... bikin laper! Serius! Gue salut deh sama para pegawai di sana, apa nggak laper mulu ya kerja di tempat yang baunya kaya kue gini? Untuk sedikit meredakan pemberontakan di sektor perut, akhirnya gue ngeloyor ke mini market terdekat untuk beli sepotong roti. Udah abis roti satu, rokok sebatang, koran pos kota dan kompas (dibaca, bukan dimakan) istri belum keluar juga dari dalem toko. Akhirnya gue memberanikan nyali untuk masuk lagi ke toko. Si bapak yang tadi makan kacang masih ada. Tumpukan kulit kacang di mejanya udah mirip tumpeng. "Suamiii... dari mana aja, tadi istrinya nyariin..." "Suaminya ngerokok di luar. Istri.. semua ibu-ibu yang tadi dateng bersama kita udah pulang, istrinya belum ingin pulang ya?" "Belum... belum... suami liat sini deh..." katanya dengan penuh semangat. Dia nunjukin section dus kue, secara dalam menunjang bisnis penjualan risol kribo gue memegang jabatan 'basah' sebagai packaging manager - maksudnya tukang bikin kardus kue. Asli gue bengong liat koleksi kardus kue yang ada di sini. Lo sebutin deh mau kardus kue kaya apa aja, ada di sini! Mulai dari yang memanjang untuk tempat brownies, sampe yang besar untuk kue ulang tahun. Juga ada kardus yang berjendela, biar kue di dalamnya bisa diintip dari luar. Selain kardus juga ada berbagai wadah plastik untuk coklat dan cake. ck... ck... ck... pantesan ni toko ngetop banget di kalangan ibu-ibu tukang masak! Sesudah entah berapa jam ngubek di toko itu, akhirnya istri berkenan untuk pulang. Dia seneng banget karena nemu berbagai bahan yang selama ini nggak pernah berhasil ditemukan di supermarket biasa. Sedangkan gue juga seneng, karena ternyata bahan-bahan yang dibeli justru jauh lebih murah dari perkiraan gue - jadi kesan ke dua ternyata tidak terbukti! :-) foto: istri gembira di kasir toko Titan buat yang mau ikutan blog contest juga, buruan! deadlinenya besok lho! keterangan lengkap bisa dibaca di sini.
 Di tempat kerjanya yang baru, Ibu guru Ida dapet tugas mengajukan usulan program untuk dijadikan 'after school activity' (ASA). ASA adalah program 'ekstra kurikuler' selama setengah jam bagi para balita untuk dilaksanakan sesudah jam belajar.
"Kira-kira enaknya aku ngajuin bikin ASA apaan ya? Guru-guru lainnya ada yang bikin cooking, dancing, drawing... trus aku bikin dong?" Sebagai suami yang penuh pengertian dan tanggung jawab, gue tentunya mencoba mengajukan usulan solusi. "TURTLING aja." "Turtling? Apaan tuh?" "Ya 'memelihara turtle'. Jadi kamu bawa tuh kura-kura kita dari rumah, trus anak-anaknya diajak ngasih makan kura-kura." "Trus?" "Trus ya udah, mereka nonton kura-kura makan. Jadi nanti di program descriptionnya kamu bisa tulis, 'Turtling: children will feed the turtles and then sitting on their ass for half an hour - watching turtles eat. And we will charge the parents 70K rupiah for that.' Keren kan? Kreatif!" "Suami ngk-ngk*!" "Ya udah, kalo 'turtling' kurang menarik, gimana kalo 'hamstering'?" "Ck!"
Seperti biasa ide suami ditolak mentah-mentah oleh istri. Padahal kan alternatifnya bisa banyak, bisa chickening, dogging, catting....
::posted by e-mail::
*'ngk-ngk' adalah bahasa ciptaan kami yang bisa berarti apa aja, seperti 'smurf' gitu. gambar dari wanderingturtle.com 

|  | Ini kali ke dua gue kurang 'jodoh' dengan acara ultahnya MP. Kalo taun lalu gue terpaksa cuma ikut setengah acara karena harus cepet2 pulang menghadiri pernikahan temen, taun ini lagi-lagi harus pulang cepet karena alasan berbeda yaitu NGANTUK. .
Jadi ceritanya, jauh sebelum hari H, Ida udah confirmed untuk nerima pesenan beberapa ratus risol kribo dan kue lumpur keju. Eh, hari kamis malem tiba2 ibu Pijeh Pinkq nelepon, minta dibuatin kue ultah MP ukuran raksasa.
Maka sejak Jum'at malam 6 Juli 2007 Ida bekerja keras menyelesaikan tumpukan order. Gue sendiri sempet tidur dan mulai bantu - bantu sekitar jam 12 malem. Turut memeriahkan suasana, hadir bintang tamu Sigit.
Jam 8 pagi akhirnya beres juga tuh kue raksasa, dan gue berangka ke Setu Babakan sendirian tanpa Ida. Idanya teler kecapean masak sejak kemarin siangnya.
Sesampainya di lokasi gue juga merasa sedikit nggak napak tanah saking ngantuknya, akhirnya jam 11 diam2 mengendap-endap nyegat kopaja dan pulaaang.... huuf sampe rumah lega banget bisa ketemu bantal.
Sori ya temans, nggak bisa berpartisipasi banyak di acara tahun ini. Mudah2an tahun depan nggak ada halangan ya. Oh iya kelupaan: catatan khusus buat MC barens: penampilannya bener2 luar biasa deh. Nggak kalah dengan MC profesional, seru banget! udah gitu niat banget berkostum ala betawi mulai dari bawah sampe atas, lengkap dengan sederatan cicnin akik di tangan! hehehehe... belum lagi koleksi pantunnya itu lho... ckckckck... salut, salut!! Gue nggak akan heran kalo tau2 abis ini akan ada yang minta dia jadi MC di acara di luar MP. Serius! |
 Pada suatu siang, di kota Bandung. Gue dan Ida lagi naik angkot yang lumayan penuh. Di hadapan kami duduk seorang ibu yang udah rada 'sepuh'. Setelah beberapa saat angkot berjalan, istri mulai colek-colek. "Suami... suami... " "Apa?" "Itu... ibu di depan kok 'gitu' sih?" "Gitu gimana?" "Itu... nyureng terus..." FYI, nyureng = mengerutkan pangkal alis, ekspresi yang biasanya muncul saat orang lagi mikir. Tapi kalo dalam kasus si ibu ini, ekspresinya lebih mirip orang kejepit. "Ya biarin ajalah, terserah dia mau nyureng atau enggak." "Kakinya ketindihan kardus si mas yang di sana itu ya?" "Enggak." Beberapa saat lagi berlalu. "Suamiii...." "Apa sih!" "Aku pusing liat dia nyureng gitu terus!" "Pusing kenapa sih?" "Akunya jadi ingin ikutan nyureng..." "Aneh-aneh aja sih istriii..." "Beneran, aku jadi ikutan pusing... aduuh... kapan sih ibu itu mau turun?!" Nggak lama kemudian... "Alhamdulillaah... suamiiii... ibu itu turun..." "..." "Huuuf... akunya jadi lega..." "..." "SUAMIII..!!! KENAPA SEKARANG KAMUNYA IKUTAN NYUREENG...!!"Huahahaha... sekarang gue punya cara baru untuk mengintimidasi istri, yaitu cukup dengan 'nyureng'.... istri yang aneh... Gambar dipinjem dari picturequest
 Soal masak - memasak, dari dulu Ida memang udah hobi. Tapi intensitas hobinya yang satu ini jadi meningkat pesat waktu beberapa minggu yang lalu dia menemukan website Natural Cooking Club. Website yang memuat resep-resep plus aneka tips memasak ini juga punya milis, dan punya kegiatan kursus masak mingguan yang dikelola secara sangat profesional. Ida sempet ikutan kursusnya satu kali, dan abis itu jadi rewel minta beliin oven tangkring. Walaupun rada nyebelin karena sejak keranjingan masak jadi males olah raga dan sepedaan, tapi dampak positifnya adalah gue jadi dapet pasokan makanan enak-enak. Tapi yang nggak terduga adalah efeknya terhadap Ibu gue. Pasalnya, di NCC itu banyak ibu-ibu rumah tangga yang berbisnis makanan dengan omzet yang cukup mencengangkan (seriously - I'm talking about seven to eight figures numbers here). Ida lantas bercita-cita ingin ikutan berbisnis makanan dan menceritakan niatnya ini kepada Ibu. Sebagai veteran pebisnis makanan, kontan Ibu menyambut gembira. Dengan bersemangat Ibu berjanji akan menurunkan ilmu masaknya kepada Ida. Tadinya gue kira Ibu cuma basa-basi doang. Eh, tau-tau hari Sabtu kemarin muncul dua orang bapak tua di rumah gue, mengaku ditelepon ibu untuk menservis kompor! Bukan cuma itu; hari ini Ibu juga diam2 udah mengutus Lis, asistennya urusan sapu-menyapu untuk belanja bahan makanan di supermarket. Sorenya, waktu Ida bangun tidur siang, Ibu udah standby di dapur siap menurunkan ilmu pertamanya! Dari tiga orang anak perempuan ibu, nggak ada satupun yang tertarik mewarisi ilmu masak-memasak - apalagi berniat untuk menjadikannya sumber penghasilan. Makanya ibu semangat banget waktu tau menantunya ternyata berminat menekuni bidang yang jadi keahliannya dulu. Dipikir-pikir, nggak papa deh Ida jadi males olah raga - karena hobinya ternyata bisa memberikan semangat hidup baru buat mertua... Foto: Ibu dan Ida di dapur.
 Sejak 2 malam yang lalu, ada pihak ke tiga mengganggu keharmonisan rumah tangga kami. waktu kami tidur, dia masuk-masuk ke kamar, berbuat hal-hal yang mencurigakan di dalam lemari, dan manjat2 jendela. Dia adalah seekor tikus remaja. Maksudnya, tikusnya masih terlalu kecil untuk dibilang 'tikus' tapi terlalu besar untuk dibilang 'anak tikus'. Buat gue yang memiliki 'super power' berupa mampu tidur di mana aja kapan aja sekalipun ada petasan banting meledak di sebelah kuping, kehadiran si tikus nggak terlalu mengganggu. Tapi buat Ida yang kalo diliatin aja bisa terbangun, tikus itu bikin dia serasa ingin gila. Belum lagi dia cemas memikirkan bayi Rafi - kalau2 jarinya digerogotin tikus. Thanks to Ade yang telah bikin Ida makin stress dengan menceritakan kisah kerabatnya yang jarinya digerogotin tikus waktu tidur. Kemarin pagi, waktu suami lagi mau berangkat ke kantor, Ida rewel minta dicariin tikus. Sebagai suami yang bertanggung jawab gue udah berusaha membantu, tapi apa daya tikusnya nggak ketemu2. Akhirnya gue berangkat ke kantor dengan janji akan melanjutkan perburuan si tikus sore harinya.
Sorenya, setelah gue pulang dari kantor, bener aja istri menagih janji. Maka suami segera mengambil balok kayu ganjel kasur dan mulai berburu tikus sementara istri langsung mengambil posisi nangkring di atas tempat tidur - karena kuatir ketabrak tikus panik. Selama proses perburuan berlangsung, Ida mengiringi dengan aneka keluh kesah pengalamannya sesiangan diteror tikus. "Tau nggak sih, aku nggak bisa tidur siang gara2 tuh tikus bunyi2 kelotakan di sana-sini. Terus yah, masa tikus itu bisa manjat kabel listrik loh! Dia tadi naik lewat kabel situ (menunjuk kabel AC yang menjuntai) trus naik sampe sana (menunjuk AC di bagian atas kamar)" Ngeliat Ida lagi sibuk menunjuk-nunjuk gitu jadi menimbulkan ide kreatif di benak suami. Dengan ujung jari gue senggol-senggol tangan kirinya - sehingga menimbulkan sensasi mirip diendus-endus tikus. Kontan Ida mencelat, "WHUAAAAA.... APAAAN ITUUUUUUUU..... WAAAAAAA...."Wuah... leganya. Setelah 9 bulan menahan diri nggak ngagetin istri hamil, akhirnya semalam gue bisa melakukannya lagi. Huhuy! Hihihi... tampangnya lucuuu deh kalo lagi kaget. Terima kasih ya istri, telah menghibur suami yang lelah sepulang kerja
kisah Ida kaget yang terdahulu bisa diklik di sini Indo-Blogger Search.

< < sebelumnya
17.00 Bukaannya melaju terus hingga lewat dari jam 17.00 udah mencapai bukaan
9. Dokter udah dihubungi, juga para mertua. Sekitar jam 17.20, Ida mulai
didorong ke ruang bersalin. Ini pertama kali gue masuk ruang bersalin, dan gue
nggak nyangka ruangannya sesempit ini. Di sudut ada sepasang tabung kaca
raksasa - alat vacuum untuk membantu kalo bayinya mendadak macet di tengah
jalan. Mudah-mudahan nggak perlu make benda itu, pikir gue dalam
hati. Ida makin rewel, "Dokternya mana suster, kok nggak
dateng-dateng, sakit sekali ini..." "Tenang Ibu,
dokternya lagi di jalan, kan rumahnya dekat... sebentar lagi juga sampai. Tapi
kita ini bukan nunggu dokter lho bu... kita nunggu bukaannya sempurna sampai
bukaan 10. Kalaupun bukaannya sudah sempurna sebelum dokternya datang, ya kita
semua di sini punya kualifikasi bidan untuk membantu kelahiran. Jadi ibu nggak
perlu kuatir, ya..." Excellent answer, bener-bener menenangkan perasaan.
Buat para ibu yang masih bingung mau melahirkan di mana, gue highly recommend
RS YPK deh. Menjelang jam 17.30 ibunya Ida dateng dari hotel,
ikutan masuk ke ruang bersalin untuk nengok anaknya. "Mama...
sini aja.." kata Ida. Para suster saling berpandangan, rada sungkan untuk
mengusir, tapi apa boleh buat. "Maaf ibu, yang nungguin di dalam satu saja,
sebab ruangannya sempit. Mau ditunggui ibunya atau suaminya?" Sekarang
giliran ibunya Ida yang liat-liatan sama gue. Nampaknya beliau belum siap
mental untuk ikutan nonton proses kelahiran, sehingga akhirnya gue mengambil
inisiatif, "Saya aja yang di dalam suster." Ibunya
Ida segera menimpali dengan nada lega, "Iya suster, saya nunggu di luar
aja deh." Beberapa menit kemudian, para suster yang berjaga
dalam ruangan tiba-tiba berteriak, "Bukaannya udah sempurna ini! Ayo
kita mulai aja." Pas saat itu HP bunyi. Dari Bayu. "Wah,
Bay, sori banget ya gue belum bisa keluar sekarang, soalnya... ini udah di
ruang bersalin. Bayinya udah mau keluar. Sori ya, tolong doain ya!" Nggak
nyangka ternyata anak gue cinta banget sama Oom Bayu, lahirnya nunggu Oom Bayu
dateng dulu. Sementara itu, dokternya belum juga dateng. Para
suster nampak udah mantap bersiap-siap, tiba-tiba jreng... datanglah sang
dokter. "Tahan... tahan dulu ya, dokternya udah
datang," Dokter make baju operasi dan sarung tangan karet, lalu
mengambil alih komando. "Oke ibu, sekarang semuanya tergantung ibu
ya, ini akan sepenuhnya mengandalkan tenaga ibu. Masih ingat senam hamilnya
kan? Yak, kalau sudah siap ikuti aba-aba saya untuk mendorong ya
bu..." Nah, di titik inilah keyakinan gue dari tadi pagi sedikit-sedikit mulai luntur.
Maksud gue, seluruh proses kehamilan Ida dari hari pertama hingga hari ini
berjalan relatif tanpa gangguan. Memang bulan lalu sempet ada kontraksi dini,
tapi bisa diatasi tanpa ada kebocoran air ketuban. Selama Ida hampir nggak pernah
sakit, nggak pernah jatuh. Hari ini juga semuanya berjalan sesuai rencana
dan prosesnya bisa dikontrol. Tapi justru di detik-detik menjelang kelahiran
keadaan bisa berbalik 180o. Sekarang gue ngerti kenapa banyak cerita tragis
seputar proses kelahiran justru di detik2 terakhirnya: karena semuanya
tergantung pada kekuatan si ibu. Sekalipun semuanya normal, dalam arti bayi
nggak sungsang, bukaan sempurna dan jalan lahir memadai, kalo ibunya tiba-tiba
kehabisan tenaga saat proses kelahiran akibatnya bisa fatal. Yang paling
berbahaya adalah ketika bayi udah separuh jalan keluar, tiba-tiba ibunya nggak
mampu lagi mendorong - bayi bisa kejepit di tengah-tengah, dan resikonya bisa
aneka ragam mulai dari kelainan saraf hingga kematian karena nggak bisa nafas. "Siap
ibu? Yak dorong...!" Ida mencoba mendorong tapi belum berhasil. Gue sibuk
mengabadikan pake digicam. Huh, untung memory cardnya udah gue
kosongin. Rupanya patokan untuk mendorong keluarnya bayi adalah
kontraksi di perut ibunya. Jadi para suster yang membantu selalu nanya
"sakitnya masih nggak? Kalo sakitnya hilang berhenti dulu"
Saat istirahat itu dipake untuk mengambil nafas dan menyusun tenaga sambil
menunggu gelombang kontraksi berikutnya datang. Dan di saat bukaan udah
sempurna begini, jeda waktu istirahatnya nggak akan terlalu lama - oleh karena
itu managemen energi bener-bener penting dalam proses ini. "Sudah
terasa sakit lagi ibu? Oke, ayo dorong lagi. Nggak papa bu, tendang aja
saya," kata dokternya mempersilakan Ida menggunakan badannya sebagai
pijakan kaki. Satu lagi hikmah yang gue temukan: untung dokternya gede dan
kekar - Mayor Angkatan Darat pula. Coba kalo kurus kecil dan cungkring, bisa mental
kali menahan tekanan segitu besarnya. FYI, tekanan mengejan pada saat melahirkan
sedemikian besarnya sehingga para ibu dilarang untuk menutup mata (karena
pembuluh darah mata bisa pecah), menggembungkan pipi (karena pembuluh darah
pipi bisa pecah), maupun mengatupkan rahang (karena lehernya bisa jadi menggembung
seperti kodok bangkong). Beberapa kali Ida mencoba mendorong tanpa hasil sampe
akhirnya... nah tuh, apaan tuh bulet-bulet berlendir nongol... eh ternyata
kepala anak gue! Memang luar biasa design Sang Pencipta bayi karena
ternyata kepala bayi yang baru lahir itu sama sekali nggak terlihat seperti
tulang. Di tangan dokter yang menyambutnya, kepala anak gue nampak lembek dan
berdenyut seperti balon berisi air. Rupanya tulang tengkorak kita yang sekarang
keras ini, dulunya lembek dan elastis supaya gampang melewati jalan lahir.
Rupanya ini juga sebabnya kenapa para bayi yang lahir dengan divacuum kepalanya
jadi memanjang, karena saat lahir tulangnya masih sangat lunak. Yah pikir2
tulang manapun kalo direndem air selama 9 bulan bisa jadi empuk juga kali
nggak? Saat kepala bayi udah keluar, dokter berhenti sebentar untuk melepaskan lilitan
tali pusar di leher. Selama ini hasil USG menunjukkan adanya tali pusar melintang
di leher, tapi nggak bisa memastikan apakah posisinya hanya sekedar numpang
lewat atau betulan melilit seperti laso. Ternyata memang melilit. Kalo kata
orang Jawa sih, bayi-bayi yang lahir dengan terlilit tali pusar nanti setelah
besar akan pantes pake baju apa aja. Gue sih nggak terlalu setuju ya, secara
ada beberapa orang yang gue tau lahir terlilit tali pusar suka aneh juga dandanannya. Setelah
lilitan tali pusar berhasil dilepaskan, proses kelahiran berlangsung lancar.
Dalam beberapa menit aja seluruh badan bayi udah keluar sempurna. Sama sekali
nggak kaya di film-film di mana bayi-bayi yang baru dilahirkan langsung bisa
nangis kenceng, anak gue cuma teronggok tak berdaya di atas meja - keriput berlumuran
lendir dan darah. Suster mengorek-ngorek mulutnya untuk mengeluarkan sisa
lendir, lantas dipindahkan ke meja sebelah untuk dilap dan ditimbang. Baru setelah
itu kedengeran tangisnya, itu juga dengan suara yang seperti tertahan. Keliatannya
masih banyak lendir di saluran pernafasannya. Waktu itu jam tangan
menunjukkan angka 17.55. Waktu ini yang dipake sebagai catatan resmi
waktu kelahiran bayi gue. Aneh. Tiba-tiba aja hari ini gue udah jadi seorang
bapak. Epilog Bayu dan
Ade tercatat sebagai MPers pertama yang menyaksikan kehadiran anak gue ke
dunia. Bayu malah mengabadikan proses gue mengadzani si bayi - sementara gue
sendiri nggak kepikiran. Sedangkan Ai, sesama ibu guru di tempat ngajar Ida, ikutan
jadi orang pertama yang nengok karena 'kebetulan' lagi lewat di deket RS. Malemnya,
seluruh keluarga gue, minus ibu yang masih terikat di kursi roda dan kakak gue
yang tinggal di Makassar, berbondong-bondong dateng ke RS. Lagi-lagi 'kebetulan',
hari itu adalah ulang tahun kakak gue yang tertua, jadi semuanya lagi pada
ngumpul di rumah. Seperti udah diatur dalam skenario maha besar, kelahirannya
disambut oleh banyak orang. Menjelang tengah malam, setelah semua tamu pulang, gue
pulang sebentar untuk ngambil baju di rumah. I looked
up to the sky, and there it is... the full moon. My favourite celestial object
is also coming to witness the birth of my son. Nadiv Rafi
Nugroho.
foto-foto lengkap proses kelahiran bayi kami bisa diklik di album yang ini.
Terima kasih... ...buat para
MPers yang udah repot-repot meluangkan waktu untuk kirim SMS, PM, nelepon, dan menengok, terima kasih
banyak ya.
Posting-posting yang berkaitan dengan kelahiran bayi kami antara
lain bisa diklik di: eh kalo ada yang kelewat mohon dikoreksi ya... maklum
gue postingnya udah telat banget sih, huhuhu... kebiasaan buruk menunda
pekerjaan :-p Thanks again, guys. You're the best!
<<sebelumnya
12.00 Orang tua Ida datang dari Bandung, diantar adiknya
Ida (Novel). Lagi-lagi dilatarbelakangi sebuah peristiwa 'kebetulan'. Weekend
itu, sebenernya si Novel yang sekarang kerja di Jakarta nggak berencana pulang
ke Bandung. Tapi karena mendengar ada promosi travel Cititrans "beli
tiket one-way dapat tiket pp" maka Jumat malam berangkatlah dia ke
Bandung. Eh... ternyata kepulangannya itu seperti disiapkan untuk mengantar
kedua orangtua Ida berangkat ke Jakarta! Yah namanya orang tua,
ngeliat anaknya merintih-rintih gitu malah jadi ikutan bercucuran air mata. Merasa
ditangisi, Ida jadi ikutan cengeng deh. Berantakan sudah semua upaya hiburan
gue dari tadi, termasuk dongeng "kanguru dan buah nenas".
Soal sakit menjelang melahirkan ini emang serba salah sih. Progres bukaan
jalan lahir memang sakit, jadi sakit adalah baik - dalam arti prosesnya berjalan
lancar. Tapi sakit kan juga nggak enak, dan nggak ada sesuatu yang bisa dilakukan
untuk meringankannya, maksud gue dibius, misalnya. Bius malah akan mematikan
kontraksi otot yang mendorong bukaan jalan lahir.
15.00 Akhirnya proses bukaan mencapai kemajuan: bukaan 3. Nanin kirim SMS:
[gimana
perasaannya menyambut kelahiran bayi, lo mondar-mandir di lorong nggak spt para
ayah di film2?] gue jawab dengan, [oh enggak. hanya para ayah dungu yang melakukan hal seperti itu] Dari tadi pagi gue liat pelayanan di RS ini cukup meyakinkan kok, jadi
gue nggak (belum) punya alasan untuk kuatir. Detak jantung bayi diperiksa berulang-kali
dan gue juga bisa denger sendiri keadaannya baik-baik aja. Dokter juga tadi
udah menjelaskan bahwa proses dari bukaan 1 ke bukaan 5 memang lama, tapi dari
bukaan 5 ke 10 akan cepet sekali. Sekarang udah bukaan 3, berarti ada kemajuan
yang menggembirakan. Gue bahkan bisa dengan santainya meninggalkan RS
sebentar, ngurus penginapan di hotel terdekat buat para mertua.
16.00 Bukaan 4. Latihan senam hamil selama ini ternyata membantu banget. Ida
inget pesan instruktur senam hamilnya untuk nggak membuang banyak energi dengan
berteriak-teriak. Kalaupun sakit, lebih baik mengatur nafas biar badan tetep dapet
oksigen. SMS dan telepon terus bermunculan, antara lain dari Bayu dan Ade yang
lagi nengok kelahiran Freya, putri
Victor dan Lala. Katanya mereka mungkin akan mampir juga sepulang dari sana.
Kedua orangtua Ida memutuskan untuk mampir dulu ke hotel, mandi dan
ganti baju. bersambung>>  Indo-Blogger Search.
<<sebelumnya
08.30 Ida udah ada di ruang observasi, udah ganti baju dan dipasangin alat2
pengukur kontraksi dan detak jantung bayi. Cairan yang keluar udah diperiksa,
dan positif air ketuban. Ida dipasangin alat-alat untuk ngukur detak jantung
bayi sekaligus kekuatan kontraksi. Udah terjadi bukaan 1. Via
telepon, dokter menginstruksikan para suster untuk melakukan induksi
(memasukkan obat pemicu kontraksi ke dalam cairan infus). Berbekal
pengalaman waktu kontraksi dini bulan
lalu, proses pemasangan infus berjalan relatif lebih lancar. FYI, waktu masuk
RS bulan lalu itu adalah saat pertama kali dalam sejarah hidup Ida merasakan
yang namanya diinfus - sehingga hebohnya kaya orang mau dieksekusi. Waktu itu
sampe terjadi dialog konyol sbb: "SUSTEEEER... SAYA MAU DIAPAIN SUSTEEER...." "Mau
dipasangin infus, ibu tenang dulu ya...." "SAKIT NGGAK SIH
SUSTEEER... HIIY... JARUMNYA KOK GEDE AMAT GITUUUU..." "Enggak...
nggak sakit kok.. yang penting ibu tenang dulu ya... nih, saya pasang ya...
" "ADUHADUHADUHHHH... SAKIIIIT SUSTERRRR... HIIII... SUSTER
BOHONGGG.. TADI BILANGNYA NGGAK SAKIT... SUSTER BOHONGGGG..." dst dst
dst. Ternyata, hikmah kejadian waktu itu adalah untuk latihan
mental buat Ida dalam menghadapi proses yang sebenarnya. 10.00 Dokternya datang. Dokter Finekri ini sebenarnya bukan dokter yang dulu
menjadi pilihan kami. Dulu di awal masa kehamilan, kami memutuskan untuk
mencari dokter yang prakteknya nggak jauh-jauh dari rumah DAN pasiennya nggak
ngantri. Biasanya orang bela-belain ngantri untuk bisa ditangani oleh dokter
terkenal, tapi pertimbangan kami adalah: semakin banyak pasien seorang dokter,
semakin besar kemungkinan si dokter nggak available pada saat kelahiran karena
waktunya bersamaan dengan kelahiran pasien yang lain. Waktu itu kami berkenalan
dengan Dokter Fernandi Moegni, putra seorang dokter kandungan terkenal. Setelah
mencoba beberapa kali sesi konsultasi kami merasa cocok dengan penanganan
dokter Fernandi, tapi di tengah masa kehamilan mendadak dokter Fernandi
mengabarkan bahwa dia harus PTT di luar kota. Dia menawarkan dokter pengganti,
yaitu dokter Finekri. Tadinya kami sempet ragu karena harus beradaptasi lagi
dengan dokter yang belum kami kenal, tapi ternyata penanganan dokter Finekri
juga sama baiknya dengan dokter Fernandi - sehingga kami memutuskan untuk
mempercayakan seluruh proses pemeriksaan kehamilan hingga waktunya melahirkan.
Di hari H ini kami baru menemukan satu faktor plus lagi yang sebenernya
bersifat non-teknis tapi bisa sangat menentukan yaitu... rumah dokter Finekri
nggak jauh dari lokasi RS! Hmm... nemu satu lagi hikmah yang urun peran
menciptakan takdir buat Ida... Dokternya cuma meriksa sebentar, habis itu pergi lagi.
Katanya, "Ibu tenang aja, ini baru bukaan 1. Prosesnya masih akan
lama, bisa sampe 24 jam maksimal. Tapi baik dari posisi bayi, detak jantung,
hingga kondisi saluran lahir semuanya dalam kondisi baik - insya Allah ibu bisa
melahirkan normal." Sepeninggal dokter, Ida mulai merasa kesakitan. "Suster,
habis diinfus kok perut saya jadi mules-mules ya? Tadi pagi kayaknya nggak gini
deh." "Ya emang infusnya itu yang bikin sakit, supaya anaknya cepat
lahir bu. Namanya juga diinduksi, ya pasti sakit," jawab susternya
santai. Karena dari menit ke menit perutnya terasa makin sakit, akhirnya Ida mau
juga dihibur dengan dongeng. Seperti pernah gue posting di sini, kalo Ida
lagi kumat resek / cengengnya maka gue akan menghibur dengan dongeng. Selain
dongeng "kancil dan pemburu", gue juga punya dongeng "putri
raja dan selendang sutera", "supir bajaj dan kue cubit",
"7 kurcaci dan gajah ungu", serta yang terbaru adalah dongeng
"kangguru dan buah nenas". Dulu waktu pertama kali
gue menceritakan dongeng "kanguru dan buah nenas" Ida
merasa dongeng tersebut terlalu garing sehingga distop sebelum selesai.
Sekarang berhubung lagi mules akhirnya dia mau juga dengerin dongeng
itu. "Pada suatu hari, hiduplah sebuah buah nenas...
eh.. kok kalimatnya nggak enak ya..." "Aduuh..." "Ya
udah gini deh, nggak usah pake 'pada suatu hari' ya, langsung aja gini, Di
sebuah dusun, buah nenas hidup serba kekurangan. Satu demi satu sanak keluarganya
telah menjadi dipotong orang menjadi nenas kaleng. Akhirnya dia memutuskan
untuk merantau ke kota..." "Aduh... aduh... nggak
jadi deh, nggak jadi minta dongeng deh, perutku tambah mules denger dongeng
garing kamu itu. Udah sini pijitin aja! Nggak usah pake dongeng, ya!" Lagi-lagi
kreativitas seorang suami telah dihambat oleh istrinya. bersambung>>  Indo-Blogger Search.
Prolog Sebenernya udah lama banget gue ingin nulis
journal ini, tapi nggak sempet-sempet karena kerjaan numpuk di kantor. Akhirnya baru bisa selesai ketulis setelah pake acara cuti 2 minggu dari kantor. Pengalaman 1 hari bersejarah
yang gue tuliskan di sini semakin memperkuat keyakinan gue bahwa segala sesuatu
terjadi dalam rangkaian yang saling terkait satu dengan lainnya. Mungkin ini
yang disebut 'takdir' - di mana peran masing-masing peristiwa baru bisa
dipahami setelah peristiwa tsb lewat. Itulah sebabnya gue mengkategorikan posting-posting ini ke dalam tag 'miracles' - tag yang tadinya gue kira nggak akan gue gunakan lagi. Biar nggak kepanjangan,
cerita ini akan gue muat dalam 4 journal bersambung. Ini, adalah bagian pertamanya. Silakan dibaca semua kalo nggak
bosen :-) Minggu 5 November 2006 06.45 Gue terbangun denger kesibukan Ida buka-tutup
lemari pakaian. "Istrinya mau ke mana?" "Mau
ke kawinan. Udah kamunya tidur lagi aja, kayaknya belum sehat abis sakit
kemarin." "Ikut." "Nggak
usaah..." "Nanti kalo tau-tau mau melahirkan di sana
siapa yang mau nolongin, hayo?" "Ya kan di sana
banyak orang, saudara2ku. Udah kamu nggak usah ikut aja." "Ya
tapi kan orang-orang itu semuanya pada repot, nantinya malah panik ngurus ada
orang mau melahirkan." "Ya enggak lah, gimana sih. Lagipula anaknya
kayaknya belum mau keluar hari ini kok. Dari bangun tadi perutnya nggak sakit
sama sekali. udah, suaminya di rumah aja, ya?" "Istri macam apa
mau bepergian tanpa ijin dan ridho suami...." "HIIIIH...
kenapa sih larinya harus ke situ lagi, ke situ lagi...!" "Ya
emang bener kok!" Abis itu Ida masih sempet nerusin masak nasi tim di
dapur, dan nggak lama kemudian masuk ke kamar lagi dengan tampang
bingung. "Kenapa aku kok basah2 gini ya? Tapi baru sedikit. Apa ini
yang namanya pecah ketuban?" "Waduh, nggak tau ya. Belum pernah sih. Coba
tanya Ibu," Ida nanya Ibu dan mendapat jawaban, "ya
mungkin aja air ketubannya keluar sedikit-sedikit. Biasanya sih campur darah
juga." Ida balik ke kamar, "Iya tuh kata Ibu mungkin juga air ketuban
keluarnya sedikit-sedikit campur darah. Tapi ini belum ada darahnya. Jadi
gimana ya, iya atau bukan ya?" "Sakit
nggak?" "Nggak." "Ya udah mending
mandi aja dulu sana, sambil kita liat perkembangan." Habis itu
kami bagi tugas. Ida mandi, sementara gue nungguin nasi tim mateng. Keluar
dari kamar mandi, Ida laporan lagi, "Kayaknya bener deh, ini air ketuban...
keluarnya makin banyak, trus sekarang mulai campur darah." "Kalo
gitu aku sekarang sarapan nasi tim dulu ya, sementara kamu nelepon dokter." "Kok
nggak sakit sama sekali ya? Katanya orang kalo mau melahirkan sakit. Boong
tuh." Nggak kaya penggambaran di film yang kayanya heboh banget menjelang
proses kelahiran, pagi itu kami masih sempet sarapan tenang-tenang, bahkan
milih2 baju dulu di lemarin. Sedangkan seluruh perlengkapan yang mungkin
diperluin Ida kalo nginep di RS udah disiapin sejak kemarin-kemarin dalam satu
tas khusus. Sekitar jam 8 pagi, kami pamitan sama Ibu untuk berangkat ke RS bersambung>>  Indo-Blogger Search.
...air ketubannya pecah deh. Kami berangkat ke RS. Mohon doanya.

|  | Oh boy... what a tough weekend. Jumat sore (27 Okt) Ida nelp ke kantor membawa kabar buruk, "Tau nggak, masa air kita mati!!" Belakangan, berdasarkan hasil koordinasi dengan para tetangga, gue baru tau bahwa air (PAM) mati total sejak sehari sebelumnya (Kamis 26 Okt). Gara-gara kami pasang bak penampungan air bawah tanah, kami nggak tau bahwa air mati dan asik-asik aja make air sejak hari Kamis. Kalo tau gitu kan bisa ngirit air. Ibu yang lagi dalam masa penyembuhan buru-buru diungsikan ke rumah kakak gue, sementara gue dan Ida bertahan di rumah sambil berharap semoga air keluar lagi dalam waktu dekat. alhamdulillah, dari hasil mengais-ngais sisa air di ember dan botol Aqua, kami berhasil mengumpulkan cukup air untuk bertahan malam itu. Tahu sendiri ibu hamil kan suka beser dan butuh banyak air. Sabtu pagi (28 Okt), air belum nyala juga. Ida nelepon ke Palyja, dijawab sama petugasnya bahwa bak penampungan sedang dikuras dan "mungkin" nanti malam bisa nyala lagi. "Mungkin" lho ya. Huh, padahal malemnya kan ada acara kawinan Amel dan Yani... masa ke kawinan nggak mandi dulu? Akhirnya, terpaksa deh check-in di Hotel Formule 1 Menteng, hotel baru yang konon murah meriah. Lagian kami juga cuma butuh tempat mandi doang kok! Foto-foto hotel itu bisa diklik di sini. Waktu check-in, kami nggak lupa membawa sebuah koper berisi... 14 (EMPAT BELAS) botol Aqua besar @ 1.5 liter untuk mengisi persediaan air di rumah... yah... keadaan telah memaksa kami berbuat nista dengan mencuri air dari hotel... maafkan ya hotel Formule 1. Sabtu sore kami kopdaran di MacD Thamrin. Lumayan banyak juga yang dateng, dan seperti biasa acaranya nggak jauh dari foto-fotoan. Daftar peserta lengkap beserta foto-foto lainnya bisa diliat di albumnya Ciput (males nge-link, hehehehe... banyak sih). Dari sana, sebagian peserta yang udah berganti kostum berangkat ke gedung Caraka Loka. Next event: kawinan Amel dan Yani. Di kawinan Ida girang banget ketemu dengan group musik idolanya, Debu. Gue sendiri sih belum pernah nonton mereka manggung, baru denger ceritanya, itu juga dari Ida. Kata Ida, group Debu itu bisa nyasar ke Indonesia dari kampung halamannya di Amerika sono karena wangsit yang diterima lewat mimpi. Mimpi yang menyesatkan, menurut gue. Pesan moralnya, lain kali sebelum tidur jangan lupa baca doa. Pulang kawinan kami langsung ke hotel lagi, tugas lain telah menanti: mengisi botol Aqua... Lumayan, satu koper itu sekarang berisi sekitar 21 liter air bersih. Mudah-mudahan cukup untuk bertahan malam ini. Oh iya, btw tadi siang gue nelepon Palyja lagi dan dijawab "mungkin malam ini pak" "Perasaan kemarin juga bilangnya malam ini deh mas." "Iya pak, kemarin ada sedikit hambatan di proses pengurasan, tapi sampai siang ini sudah banyak kemajuan kok pak, jadi kami perkirakan malam ini akan nyala" "Jam?!" "Kurang lebih jam 8 pak." Ok deh... |
Sejak bertahun-tahun yang lalu, ibu gue punya kebiasaan membeli stok minuman ringan untuk suguhan tamu Lebaran jauh sebelum hari H. Tinggal telepon ke agen, nanti mereka antar ke rumah.
Tahun ini, Ibu berencana melakukan hal yang sama - seandainya nggak dihalangi oleh si menantu sok tau yang mengeluarkan hak veto. "Jangan Bu...! Kalo ibu beli sekarang, nanti minumannya dihabisin Agung sebelum Lebaran. Tau sendiri dia kalo udah ketemu coca-cola suka lupa diri!" "Oh iya ya..." maka ibu dengan mudahnya terbujuk hasutan si menantu dan membatalkan niat pesen minuman.
Tadi siang, H minus satu, mendadak ibu memanggil gue dengan nada panik. "Ya ampuuun Aguuunggg... besok Lebaran, padahal ibu belum pesen minuman!!"
Agen minuman langganan dihubungi, tapi..."Maaf, hari ini kami nggak bisa antar, soalnya pegawai kami udah pada mudik semua. Kalo mau ambil aja ke sini..."
Maka bisa ditebak buntutnya gue lagi yang ketempuhan, di tengah panas terik matahari Jakarta harus berangkat ke agen minuman beli 2 krat teh botol dan 1 krat coca-cola literan. Untung dapet pinjeman mobil dari kakak gue yang lagi berkunjung.
Waktu berangkat beli sih nggak terlalu masalah ya, tinggal masukin krat dan botol kosong yang nggak terlalu berat ke mobil, dan sesampainya di agen bisa minta tolong penjualnya masukin minuman2 itu ke mobil.
Yang jadi masalah adalah proses nuruninnya dari mobil ke dalam rumah. Coba aja itung: seandainya botol2 itu berisi air murni dengan berat jenis = 1, maka 1 krat coca-cola isi 12 botol @ 1 liter = 12 kilogram. Tapi ini kan coca-cola, dengan segala larutan dan endapannya, yang gue yakin berbobot jauh di atas itu. Belum lagi 2 krat teh botol @ 24 botol @ 220ml, yang kalo berat jenisnya sama dengan 1 setara dengan 10.56 kilogram. Masih ditambah lagi dengan berat krat dan botolnya sekalian. Ih, bisa encok gue ngangkatnya.
Begitu sampe depan rumah mikir sebentar gimana caranya ngangkut benda-benda ini ke belakang... dan... YES! Dapet ide!
Segala musibah itu ada hikmahnya, termasuk musibah Ibu sakit sehingga harus menggunakan kursi roda. Tinggal copot dudukan busanya, maka benda itu bisa jadi solusi transportasi yang praktis...
 Maka proses penurunan minuman dari mobil berjalan dengan aman dan nyaman, bebas encok.
Selamat lebaran semuanya!
 Deadline kelahiran anak udah makin deket, sementara gue dan Ida masih belum punya calon nama anak. Maka belakangan ini kami sibuk browsing ke sana ke mari mencari nama buat calon anak kami. Tentunya bantuan datang dari sana-sini. Nanin meminjamkan buku nama2 bayi, sementara Weny tadi siang mengirimkan file zip ini, berisi sejumlah file word dan excel yang memuat nama2 bayi.  Thanks ya temans! Buat yang juga lagi bingung cari nama, silakan download aja file kiriman dari Weny, siapa tau berguna. Oh iya, ukuran filenya 400-an KB. Gambar bayi berasal dari sini Attachment: namabayi.zip
Alhamdulillah, pagi ini Ida udah boleh pulang. Tentunya dokter berpesan agar jangan banyak tingkah dulu, jadi Ida akan istirahat di rumah sampe hari Minggu. Senin depan baru mulai kerja lagi.
| |