Agung's posts with tag: malehormon

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag malehormon
ReviewReviewReviewReviewTakenJul 17, '08 2:59 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Buat yang lagi bete: abis kena semprot boss di kantor, kena macet di jalan, kena copet di bis, atau gabungan ketiganya; film ini cocok untuk kalian.

Ceritanya sederhana aja: Bryan (Liam Neeson) adalah seorang veteran agen rahasia yang ngamuk berat gara2 anak gadisnya diculik orang waktu lagi liburan di Perancis. Bryan yang tinggalnya di Los Angeles langsung nyusul ke Paris dan memburu para penculik anaknya.

Walaupun cerita tentang seorang ayah yang kalap karena keluarganya dijahatin bukan tema yang baru (misalnya Ransom - Mel Gibson atau Firewall - Harrison Ford) tapi Taken tetep menarik buat ditonton. Yang bikin seru menurut gue adalah gaya penggarapan film ala Eropa (sutradaranya orang Perancis) yang terkesan beda, lebih 'dingin' dan 'sadis' ketimbang film2 Hollywood yang sering gue tonton. Kalo di film Hollywood adegan berantem sering keliatan terlalu dikoreografi biar rada artistik, di film ini si Liam Neeson asik2 aja main langsung patahin tangan dan leher orang tanpa banyak basa-basi. Selain itu, penonton juga boleh deg-degan menunggu ending film karena para pembuat film Eropa terkenal kurang fanatik dengan happy ending.

Yang jelas, para penonton (baca: gue) bisa turut menikmati ngeliat satu demi satu para penculik dipatah-patahin sama Liam Neeson. IYAAAK! HAJAR AJA BOS! TENDANG! INJEK!

Makanya; lagi bete? Nonton Taken.


ReviewReviewReviewReviewBeowulfNov 16, '07 1:01 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
"suami, kita mau nonton apa sih?"
"beowulf"
"apa - wolf?"
"beowulf"
"itu film apa?"
"film beowulf"
"maksudnya, filmnya tentang apa, gituuu..."
"pokoknya ada panah-panahan, pedang-pedangan, trus ada naganya juga deh. Kayaknya seru"
"trus ceritanya gimana?"
"nggak tau"


Kurang lebih sebegitulah referensi yang gue punya saat memutuskan nonton film ini: cuma liat trailernya yang kayaknya seru, banyak orang saling bunuh-bunuhan, dan ada monsternya. MY kind of movie.

Begitu film mulai... hmmm... kok orang-orangnya nampak agak aneh, ya? Apanya sih yang aneh? Setelah film berjalan beberapa menit baru ngeh.... YA ALLAH, TERNYATA INI FILM ANIMASI!

Gambar animasi paling realistis yang pernah gue tonton sebelumnya adalah Final Fantasy (2001), dan ternyata Beowulf mampu menyuguhkan gambar yang lebih realistis lagi sampe gue nyaris ketipu. Tapi untuk sementara para aktor belum perlu takut kehilangan pekerjaan karena tetep aja keliatan kok animasinya. Kata seorang temen yang pakar animasi, saat berinteraksi dengan manusia betulan sebenernya kita menangkap ribuan detil kecil yang nggak kita sadari seperti gerakan mata, atau gerakan otot dan kulit. Nah, detil2 kecil ini yang kadang kelewat saat pembuatan film animasi - bisa jadi karena kelalaian pembuatnya, atau bisa juga karena keterbatasan waktu dan biaya. Makanya kita masih bisa membedakan mana gambar animasi dan mana yang orang betulan. Itu kata temen gue lho...

Ringkasan cerita

Ada sebuah kerajaan yang hidup menderita karena setiap kali bikin pesta, mereka diganggu monster raksasa berwujud aneh. Ini sebenernya masalah perbedaan perspektif aja sih, karena dari sudut pandang si monster justru kerajaan itulah yang berisik mengganggu tidurnya. Pesan moralnya, dalam hidup bermasyarakat kita harus menjunjung tinggi toleransi dan "tepo seliro".

Lanjut.

Putus asa dirongrong monster, rajanya membuat sayembara: bagi siapapun yang mampu membunuh Grendel, si monster usil, akan dihadiahi setengah harta kerajaan. Maka datanglah ksatria Beowulf dari tanah seberang, membawa pasukan kecilnya yang berjumlah 14 orang, untuk menjawab tantangan. Singkat cerita, Beowulf dengan tangan kosong - tanpa senjata apapun - bahkan tanpa baju dan celana, mampu mengalahkan Grendel. Ini sebenarnya salah Grendel sendiri yang kurang kreatif saat bertarung. Daripada capek-capek memukul, menendang dan membanting yang hanya berbuah kekalahan, seharusnya dia cukup menyentil bagian "tertentu" dari Beowulf yang lagi telanjang bulat itu, dijamin pasti menang. Untungnya ini film epik, bukan film warkop, jadi adegan sentil-menyentil dirasa kurang 'klop' dengan tema cerita secara keseluruhan.

Lanjut.

"Underneath your glamour, you are as much a monster as my son, Grendel"
Grendel's mother to Beowulf
Biarpun Grendel adalah monster, dia punya ibu juga. Ibu mana sih yang rela anaknya dibunuh orang? Maka ibunya Grendel beralih wujud jadi naga raksasa dan mengacak-acak rumah penduduk. Raja pusing lagi, dan kembali minta Beowulf untuk sekalian menyelesaikan ibunya Grendel 'secara adat'. Beowulf berangkat mendatangi sarang monster, tapi sesampainya di sana dia bukannya berantem malah ternganga-nganga liat kecantikan ibunya Grendel. Gimana nggak nganga, kalau ibunya Grendel sedang berwujud Angelina Jolie bugil berkulit emas, yang saat muncul dari dalam air lapisan emasnya luntur dan hanya tersisa di 'bagian-bagian tertentu' yang kurang penting. Gue rasa Lembaga Sensor Film dibikin pusing sama film ini: serba salah, kalo disensor nanti penonton kehilangan alur cerita penting karena dialog jalan terus saat adegan bugil berlangsung. Mau nggak disensor, nanti banyak yang protes. Akhirnya mereka memilih untuk nggak menyensor sambil berharap semoga nggak ada orang iseng yang nulis review tentang kebugilan film ini di blog. Jadi saran gue sih, buat yang berniat nonton film ini, buruan deh nonton sekarang juga sebelum ditarik dari peredaran gara2 diprotes FPI.

Lanjut.

Ibunya Grendel menawarkan perjanjian kerja sama dengan Beowulf, yaitu apabila Beowulf bersedia untuk :
(1.) menyerahkan piala wasiat kerajaan, dan...
(2.) menitipkan benih anak di rahimnya (sebagai ganti anak yang telah dibunuh Beowulf)
...maka dia akan membuat Beowulf dibanjiri harta dan kekuasaan, langgeng menduduki tahta raja. Atau dengan kata lain, film ini bisa dijuduli "PINTU HIDAYAH: DERITA DUNIA AKIBAT TERJERAT PESUGIHAN".

Lanjut.

Alur waktu bergeser beberapa puluh tahun ke depan. Beowulf udah mapan menduduki tahta raja dan dielu-elukan orang sebagai pahlawan, ketika pada suatu hari ada seorang gembel iseng ngorek-ngorek rawa dan nemu piala wasiat yang dulu diserahkan Beowulf kepada ibunya Grendel. Beowulf pucat pasi, karena bila piala itu telah kembali ke tangannya maka itu pertanda bahwa ibunya Grendel akan segera mengakhiri perjanjian kerja sama. Bener aja, nggak lama kemudian muncul seekor naga raksasa mengacak-acak rumah penduduk. Beowulf langsung mendatangi sarang naga untuk membuat perhitungan dengan ibunya Grendel.

Bagaimana kelanjutannya? Berhasilkah Beowulf mengalahkan naga dan menyelamatkan kerajaan? Saksikan saja di bioskop kesayangan Anda.

Komentar gue

Walaupun ceritanya relatif gampang ditebak, film ini adalah tontonan yang menghibur. Dengan sangat kupernya, setelah nonton gue baru tau bahwa cerita film ini berasal dari legenda lama, dan bukan kali pertama diangkat ke layar lebar.

Buat penggemar animasi komputer, silakan terkagum-kagum melihat kehalusan teknik animasi yang canggih. Penokohan Beowulf juga kuat. Dia memang pahlawan yang pemberani, ksatria, tapi dia juga kejam, narsis, dan serakah. Gak heran mengingat sutradaranya adalah Robert Zemeckis, sutradara kawakan yang pernah menggarap film dengan tema yang beraneka: mulai dari sci-fi seperti trilogi "Back to the Future", sampe thriller kaya "What Lies Beneath". Beowulf adalah film full animasi yang ke dua setelah "Polar Express", tapi duluuu... banget dia pernah juga bikin film campuran animasi dan live action berjudul "Who Framed Roger Rabbit". Sebagai teman yang baik, Zemeckis juga nggak lupa mengajak sobat lamanya Alan Silvestri, untuk menata musik di film ini. Hasilnya, jangan heran kalo lagu temanya yang keren itu masih terngiang-ngiang di kuping setelah filmnya selesai!

Buat para orang tua yang punya anak kecil, gue sarankan anaknya dititip dulu aja di rumah eyangnya kalo mau nonton film ini. Selain adegan bugil-bugilan yang lumayan eksplisit, adegan berantemnya juga sadis. Biarpun ini film animasi, tapi kalo gambarnya realistis gitu kan efeknya lumayan sangar juga. Beberapa menu kekerasan yang muncul antara lain: adegan perut orang ketancep tombak, tangan Grendel diputusin, dan badan orang terbelah dua.

Gambar gue pinjem dari official website film Beowulf.


ReviewReviewReviewReviewBatman: Dead EndOct 16, '07 1:35 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Ngomong-ngomong soal Batman Vs. Predator, ternyata ada lho fanfilm tentang Batman vs. Predator dan Alien!

Fanfilm adalah film 'amatir' (dalam konotasi 'tidak dibuat untuk tujuan komersial') yang dibuat para fans suatu tokoh / cerita. Tapi jangan salah, walaupun fanfilm umumnya dibuat secara rumahan dengan anggaran terbatas, nggak sedikit yang hasilnya keren.

Batman: Dead End (selanjutnya disingkat BDE) ini salah satu yang dapet banyak pujian. Nggak heran karena Sandy Collora, si pimpro-nya, punya pengalaman cukup banyak sebagai concept artist / creature fx crew / set designer. Di IMDB, BDE dapet skor 7.5 / 10 dari 1900-an orang, dan mengundang 102 komentar. Sebuah prestasi yang lumayan banget untuk ukuran sebuah film amatir berdurasi 8 menit 4 detik!

Film dibuka dengan adegan Batman ngejar Joker yang kabur dari penjara Arkham. Di sebuah gang sempit, Batman berhasil menyudutkan Joker. Tiba-tiba muncul Alien yang menyeret Joker ke atas gedung dan menyerang Batman. Nggak lama kemudian, muncul pula si Predator ikutan nimbrung.


Satu hal yang istimewa dari film ini adalah: walaupun dibuat dengan anggaran terbatas, BDE tetep mampu menampilkan special effect yang meyakinkan. Yah, okelah, buntut si Alien keliatan banget digantung pake tali, tapi selebihnya bagus kok. Bahkan di akhir cerita bermunculan beberapa Predator dengan variasi kostum yang lebih keren dari yang pernah muncul di film Predator 'asli'.

Filmnya bisa didownload gratis di sini. Kalo mau download, gue sarankan pake download manager soalnya ukuran medium-res-nya aja 48 MB. Atau boleh juga kapan-kapan mampir ke rumah gue bawa CD kosong :-))



ReviewReviewReviewReviewTransformers - The GameJul 28, '07 4:26 AM
for everyone
Category:Video Games
Genre: Action
Console:PlayStation 2
Kalo kerjaan lo di kantor lagi numpuk, boss resek, rekan sekerja culas, mau pulang jalanan macet, di tengah jalan kena ranjau paku, mau nyari jalan pintas malah kena tilang, sampe rumah genteng bocor, sampah belum diangkut, dan di deket ruang makan mendadak bau tikus mati; maka ini adalah game yang cocok buat lo.

Transformers - The Game (selanjutnya gue singkat TTG) memberikan pilihan: Autobots atau Decepticons - dan dua-duanya memungkinkan elo untuk ngamuk ngancurin segala sesuatu. Bedanya adalah, kalo elo jadi Decepticons maka tindakan destruktif akan diganjar dengan poin, sedangkan kalo jadi Autobots justru akan merugikan elo. Contohnya stage 1 sebagai Decepticons: tugas lo adalah menghancurkan pangkalan militer dalam waktu yang terbatas. Pelurunya unlimited, jadi lo bisa suka-suka nembak ke sana ke mari dan tau-tau aja stage tsb tamat.

Tapi stage2 selanjutnya kayaknya nggak segampang itu, dan menurut gue salah satu kelemahan TTG adalah save point-nya yang terlalu berjauhan satu dengan lainnya.Artinya kalo lo udah mulai sebuah stage, berhasil menyelesaikan 3/4nya dan tiba-tiba mati, maka lo harus ngulang dari awal stage. Ini bikin frustrasi banget.

Untungnya gambar yang ditampilkan cukup menghibur. Transformasi para robot persis seperti di filmnya, dan dalam gerakan yang lebih lambat sehingga malah lebih bisa dinikmati. Selain itu, kalo lo males ngejalanin misi yang bikin frustrasi, lo bisa berkelana nggak tentu arah ala GTA. Alur cerita TTG, kayaknya sih, cukup setia dengan plot filmnya. Malah di beberapa bagian memberikan informasi tambahan di balik peristiwa yang muncul di film, seperti misalnya gimana prosesnya sampe si bumblebee memilih bentuk mobil tua warna kuning. Tapi nggak tau juga ya, ke belakangnya apakah akan tetep setia dengan cerita filmnya, soalnya gue baru nyampe stage 2.

Kesimpulan akhir: bintang 4 dari gue.

Gambar: screen capture Bumblebee vs Barricade bertempur di tengah kota. Dipinjem dari sini.


ReviewReviewReviewReviewSpiderman 3May 2, '07 2:43 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure

Ini adalah film yang paling gue tunggu dengan harap-harap cemas di tahun 2007 ini. Di satu sisi gue udah nggak sabar ingin liat spiderman beraksi lagi, tapi di sisi lain rada kuatir juga denger rencana banyaknya super-villain yang akan dimunculkan di sini. Bukan apa-apa, soalnya gue masih trauma sama film "Batman & Robin" di mana muncul Batman, Robin, Batgirl, Dr. Freeze, dan Poison Ivy ngeriung nggak jelas dan menghasilkan salah satu film Batman ternorak yang pernah dibuat orang.

"Batman & Robin" dengan 2 super-villain aja udah norak, apalagi Spiderman 3 yang menampilkan New goblin, Sandman, dan Venom sekaligus?

Tapi begitu film dimulai... pheeew... gue bisa bernafas lega. Tangan dingin Sam Raimi yang udah sukses meramu 2 film Spiderman sebelumnya ternyata masih menunjukkan kesaktiannya.

Ringkasan cerita:

Film ini menceritakan kehidupan Spiderman yang lagi mulai 'menanjak'. Kehadirannya diterima masyarakat, berhasil pacaran sama Mary Jane, kuliah lancar, pokoknya tenang tenteram. Eh taunya muncul si Harry Osborn (James Franco), anaknya Norman Osborn sang Green Goblin yang masih penasaran ingin balas dendam kepada Spiderman. Disusul dengan Flint Marko alias Sandman (Thomas Hayden Chuch), buronan yang bertanggung jawab atas kematian paman Ben, dan terakhir Eddie Brock (Topher Grace) fotografer rival Peter Parker di Daily bugle yang belakangan berubah jadi Venom. Turut memeriahkan suasana, hadir juga Gwen Stacy (Bryce Dallas Howard), pacar Eddie Brock yang naksir Spiderman.  

Udah, segitu aja ya ringkasannya, biar nggak jadi spoiler! Maap kalo terlalu ringkas, namanya juga ringkasan.

Tanggapan gue:

Yang pertama-tama patut diacungi jempol adalah duet Kathy Driscoll dan Francine Maisler yang dengan jagonya memilih Bryce Dallas Howard untuk memerankan Gwen Stacy. Sosoknya bener2 mirip banget dengan gambaran Gwen Stacy di komik selama ini, lengkap dengan bibir sexy dan mata kucingnya. Coba bandingin sendiri:

Secara umum hasil karya mereka dalam memilih pemain sangat memuaskan, Tobey pas banget memerankan sosok Peter Parker yang cenderung nerd dan nggak terlalu menganggap diri super, apalagi keputusan mengajak  Rosemary Harris sebagai Bibi May, pas buanget! Gue cuma nggak setuju sama Kirsten Dunst sebagai MJ - karena menurut gue seharusnya sosok MJ jauh lebih 'hot' dari yang diperankan Kirsten. Tokoh MJ di komik itu seharusnya  super-model, lho!

Kehadiran Thomas H Church awalnya sedikit membuat gue risih karena masih terbayang-bayang peran dodolnya sebagai Lowell di serial tivi "Wings". Tapi seiring berjalannya film, aktingnya semakin meyakinkan kok.  Sedangkan Topher Grace sebagai Venom... hmmm.... seharusnya yang namanya Eddie Brock itu badannya jauh lebih gede - mirip binaragawan gitu (coba aja perhatiin di komik, badan Venom selalu digambarkan jauh lebih gede dari Spiderman).

Yang gue suka dari film ini adalah, walaupun muatan cerita yang mau disampaikan cukup banyak, semuanya bisa disampaikan secara runut. Selama ini kan gue sering merewelkan kaitan sebab-akibat antar adegan, seperti "loh, kok tiba2 tokohnya melakukan itu? kenapa? apa latar belakangnya? dst- dst", nah di film Spiderman 3 pertanyaan rewel tersebut lumayan mendapat jawaban yang memuaskan. Tapi walaupun mampu bercerita dengan enak, tetep aja menurut gue film ini akan jauh lebih fokus kalo super-villainnya dikurangi. Seharusnya fokus aja antara Spiderman vs. Venom, nggak usah pake ada Sandman segala. Masalahnya, sebagai sutradara Sam Raimi punya penuh menentukan lakon dan personally dia nggak suka sama karakter Venom. Maka buat para penggemar Venom siap-siap kecewa ya liat tokoh ini tampil rada cemen dan terlalu 'lemah' untuk ukuran seorang Venom.

Soal special effects, ah udahlah nggak usah dibahas lagi. Top banget. Gerakan symbiotes-nya persis sama seperti yang selama ini digambarkan di komik - cair tapi lengket. Dan nggak cuma mengandalkan SFX yang canggih, tapi juga kreatif mengolah latar belakang sebuah peristiwa sehingga jadi adegan yang menegangkan. Contohnya adegan crane ngamuk yang membabat gedung tetangga: perhatikan urutan kerusakan yang dibuat oleh crane - makin lama bikin situasinya makin tegang dan sulit ditangani!  

Pertanyaannya sekarang adalah; film ini bener-bener nggak menyisakan nafas buat sequel Spiderman berikutnya. Venom sebagai super-villain paling populer udah dikeluarin, lantas siapa dong yang bakal tampil sebagai super-villain di Spiderman 4? Atau Sam Raimi memang berencana mengakhiri sequel Spiderman di nomor 3 aja?     



Blog EntryPadibu itu untuk apa ya mbak?Dec 16, '06 12:47 PM
for everyone
Gue pilek. Berhubung sekarang di rumah ada bayi, maka gue butuh masker supaya nggak menulari. Sepulang kantor gue mampir ke apotik di daerah Cikini Raya untuk beli masker.

Apotik ini sebenernya apotik lama, tapi kayaknya dia mau niru servicenya apotik2 'modern' seperti Century dan Guardian dalam melayani pengunjung, yaitu kalo ada pengunjung dateng langsung disambut dan dibantu oleh pramuniaga.

"Selamat sore Pak, ada yang bisa dibantu?" demikian sang mbak pramuniaga ber-rok mini menyambut gue.
"Saya butuh masker mbak," jawab gue.
"Oh ada Pak, di sebelah sini... eh, atau sebaiknya saya panggil 'MAS' aja ya?" katanya sambil mengerling centil.
Gue, sayangnya, nggak terlalu berminat menanggapi. Pertama karena lagi pilek. Kedua karena memang kurang hobi bercentil-centil dengan pramuniaga.

Tadinya gue kira cuma mbak yang itu doang yang centil. Eh taunya setelah bayar-membayar gue mendengar dialog yang lebih spektakuler antara mbak pramuniaga yang lain dengan seorang oom-oom pengunjung.

Oom berbaju polo corak meriah dan berkalung emas itu nampak sedang menimang-nimang sebotol PADIBU (obat penambah "vitalitas"* pria) sambil bertanya, "...jadi, ini bisa untuk menambah gairah ya mbak?"
"Oh iya Pak, dijamin deh, namanya aja PADIBU - PAPAH DI ATAS BUNDA... hihihihi..."
*gubrax*

Hmm... kayaknya ada yang salah deh dengan definisi 'customer service' yang diterapkan apotik tersebut. Siapa sih trainernya, pingin kenal gue.

*kenapa sih obat-obat sejenis selalu dibilang penambah vitalitas? Vital kan artinya 'hidup' - seharusnya yang disebut obat penambah vitalitas itu obat penguat jantung...

ReviewReviewReviewReviewSuperman ReturnsJul 2, '06 12:04 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

==WARNING==

Buat yang baca review ini untuk nyari referensi apakah film "Superman Returns" layak tonton atau enggak, gue sarankan jangan terusin baca. Penulisnya udah terlalu bias untuk menilai film ini secara obyektif.

G
ue baru bisa memaafkan Gene Hackman di film "Behind Enemy Lines" (2001) waktu dia berperan sebagai komandan yang rela mempertaruhkan jabatan demi menyelamatkan seorang anak buahnya. Sebelum itu, gue dendam kesumat sama dia, gara-gara perannya sebagai Lex Luthor di 3 film Superman. Sebegitu kuatnya efek film Superman buat gue, sampe bisa bikin gue sebel liat tampang aktor pemeran penjahatnya!

Film "Superman Returns" ini udah seru sejak proses pembuatannya. Bayangin, sutradaranya sampe gonta-ganti 3 kali, belum lagi kehebohan waktu milih pemerannya. Satu nama yang sempet berkibar untuk memerankan adalah Nicolas Cage, yang gue sambut dengan "aduh... jangan dia dong... jangan dia... " Bukan apa2, masa Superman kok tua dan setengah botak gitu?

Selain Cage, nama-nama seperti Josh Hartnett (Pear Harbour), Paul Walker (the Fast and the Furious), Brendan Fraser (Bedazzled), David Boreanaz (TV seri Angel), dan Jerry O' Connell (TV seri My Secret Identity dan Sliders) juga sempet dicasting untuk berperan sebagai Superman. Semuanya gagal; yang mana membuat gue sangat lega karena nggak ada satupun yang pantes meneruskan tahta Christopher Reeve. Hartnett terlalu bloon, Walker terlalu berandalan, Fraser terlalu komedi, Boreanaz terlalu "oh lihatlah daku nan cool dan sexy", dan O'Connell... bahkan nampak lebih bloon dari Hartnett.

Sutradara Bryan Singer yang dibajak di tengah proyek film X-Men 3 ngotot nyari pemeran Superman yang belum terkenal, seperti dulu Christopher Reeve juga bukan siapa-siapa sebelum main Superman. Untunglah tahta Superman akhirnya jatuh ke tangan orang yang menurut gue cukup 'pantes' yaitu Brandon Routh. Lucunya, si Brandon ini yang sebelumnya bekerja sebagai bartender di sebuah tempat boling pernah memenangkan hadiah $100 dalam sebuah lomba kostum - di mana dia berperan sebagai Clark Kent!

Routh punya bentuk muka dan postur tubuh yang rada mirip dengan Reeve. Eh... bentar, baru sadar nih: pemeran Superman yang dulu inisialnya "C.R.". Yang sekarang "B.R.". Berarti... buat yang punya nama Agus Rusmiyanto, Arif Rohmad, dan Alex Reksadiputra, serta yang punya nama berinisial A.R. lainnya, siap2 dari sekarang deh. - siapa tau kepilih sebagai pemeran di sequel film Superman tahun 2009. **garing**

Tapi biarpun gimana, tetep the best Superman buat gue adalah Christopher Reeve. Selain mirip dengan penggambaran tokoh Superman di komik, dia juga cocok memerankan tokoh "pembela kebenaran" karena sorot matanya yang simpatik, sikap yang "don't worry, everything's going to be all right" dan gerak-geriknya yang 'berwibawa' (halah). Sedangkan di tangan Routh, Superman menjelma jadi sosok yang lebih manusiawi, punya ego sebagai lelaki yang nggak kepingin kalah bersaing dengan lelaki lain, bahkan sedikit narsis. Keliatannya emang tren film belakangan ini begitu, ya? Berusaha memanusiakan para superhero.

Lex Luthor di film ini diperankan oleh Kevin Spacey (Pay It Forward, Dr. Evil di Austin Powers: Goldmember). Dia berhasil menghidupkan Lex Luthor yang lebih kompleks ketimbang versi Gene Hackman. Kalo ditonton lagi sekarang, Luthor versi Hackman itu sangat komik banget, lebih banyak konyolnya ketimbang jahatnya. Apalagi kalo udah muncul berdua dengan sidekicknya, si Otis. Sedangkan Spacey memerankan Luthor yang lebih berdarah dingin, licik dan berbahaya.

Lois Lane... ah, kenapa juga harus Kate Bosworth yang meranin. Menurut gue dia sama sekali nggak meyakinkan sebagai reporter senior yang pernah menang Pulitzer. Gayanya mirip mbak-mbak kantoran biasa, bagian keuangan, administrasi, atau sejenisnya. Kalo gue disuruh jadi bagian casting, gue akan menunjuk Evangeline Lily, yang lagi naik daun di serial televisi "Lost". Cantik, nampak pintar, gesit, serta cukup atletis. Liat aja sendiri.

Ok, cukup dengan para pemainnya. Sekarang tentang cerita filmnya sendiri.

Diceritakan, Superman habis ngilang dari muka bumi selama 5 tahun. Gara-garanya para ahli menemukan tanda-tanda bahwa Planet Krypton, kampung halaman Superman, masih ada. Maka superman pergi ke sana, berharap masih ada sanak keluarga yang selamet barang satu - dua orang. Ternyata dia pulang lagi ke rumah keluarga Kent di Kansas dengan tangan hampa. Lucu, seinget gue di film Superman yang versi Reeve dulu diceritain bahwa Bapak dan Ibu Kent udah meninggal dua-duanya. Tapi... ya sud lah, suka-suka si Bryan Singer mau bikin cerita gimana, kan?

Gara-gara Superman pergi kelamaan, Lois Lane udah keburu 'tunangan' dengan seseorang dan punya anak satu. Yah seperti kata tokoh Doni di film Jomblo, "Cinta mungkin bisa melakukan segalanya, kecuali satu: cinta tak bisa menunggu" (halah lagi). Sementara itu, Lex Luthor berhasil bebas dari hukuman dan mulai menyusun rencana jahat. Dia berhasil menemukan rahasia kryptonite dari serpihan meteorit yang jatuh di Addis Ababa, Ethiopia. Tolong koreksi kalo salah ya, tapi seinget gue di salah satu episode serial "Smallville" pernah diceritakan tentang meteorit mengandung kryptonite yang jatuh di sana - kayaknya si Singer sengaja memasukkan detil ini sebagai trivia. Akhirnya, tentu aja Luthor memanfaatkan penemuan ini untuk mencoba mengalahkan Superman. Berhasilkah Superman menghentikan rencana jahat Luthor? (halaaaah...!)

Menurut gue, ide membuat Lois Lane udah terikat dengan seseorang bahkan udah punya anak segala adalah ide yang kreatif banget. Setting ini memungkinkan cerita berkembang ke berbagai arah, serta menjanjikan sequel yang (mudah2an) nggak terlalu mengada-ada. Adegan klasik Superman menyelamatkan pesawat jatuh juga diolah secara kreatif. Kalo di film2 Superman terdahulu penyebab pesawat jatuhnya paling cuma karena mesin mogok atau kesamber gledek (adegan ini muncul dalam berbagai versi film Superman, baik film animasi maupun film orang). Sedangkan di film ini pesawatnya mogok akibat Luthor iseng main2 dengan kristal ajaib milik Superman. Udah gitu, bukan cuma satu pesawat yang harus ditolong, melainkan dua. Pokoknya, seru deh!

Dan oh ya, satu lagi: gue bersyukur banget Singer nggak mengganti main theme-nya. Main theme yang dipake masih milik film Superman yang lama, ciptaan John Williams. Tuh lagu emang cocok banget menggambarkan kehebatan Superman, dan saking semangatnya mau nonton Superman gue nyanyiin 8 not pertamanya berkali-kali sejak dua hari sebelum nonton - bikin semua orang di sekitar gue serasa ingin gila.

Anyway, gue kasih 4 bintang untuk film ini. 5 bintang hanya gue kasih kalo pemeran Lois Lane-nya Evangeline Lily.

Referensi:



ReviewReviewReviewReviewReviewMetal Gear Solid 3 : Snake EaterJan 25, '06 2:18 AM
for everyone
Category:Video Games
Genre: Adventure
Console:PlayStation 2
Alhamdulillah... semalem akhirnya gue berhasil menamatkan game gila ini... Data save terakhir tercatat bulan Juni 2005 (kayaknya nggak bosen2nya gue mengemukakan fakta bahwa udah segitu lamanya gue absen dari dunia per-PS-an), pada stage terakhir. Bayangin betapa gemesnya waktu gue nyampe di stage ini (pada bulan Juni 2005 seperti tersebut di atas), gue save karena waktu itu udah ngantuk, dan besokannya PS nggak mau nyala lagiiii....!!! Grrr...! Bener-bener tinggal satu stage itu doang...!
Waktu itu saking penasarannya gue sampe beli 1 cd Metal Gear baru. Harapan gue kali-kali aja yang rusak CD-nya. Ternyata realita pahit yang gue hadapi. Sesudahnya, pernah juga gue berjam-jam mencetin tombol reset, berharap kali2 aja PS gue bisa nyala lagi, sementara layar tetap aja gelap gulita.
Tapi sekarang semua itu udah berlalu... akhirnya game itu berhasil juga gue taklukkan! Cihuy...!
Ceritanya, di game terakhir ini Solid Snake harus ngalahin The Boss, mentornya yang dulu ngajarin teknik CQC (Close Quarter Combat - pertarungan jarak dekat). Jadi bolak-balik gue terpaksa restart karena si boss ini kaya nggak ada matinya. Kalo dipukul / ditendang, dia bisa aja ngeles terus bales melintir / miting / mbanting. Kalo ditembak, nggak kena. Dibom, cuma kena dua kali. Selalu dua kali. Di percobaan ke tiga dan seterusnya nggak pernah kena. Udah mana si boss ini kalo nembak nggak putus-putus karena peluru dia unlimited. Ditambah lagi ada time limit maks. 10 menit!
Sampe akhirnya gue nemu kelemahannya: ternyata dia lebih mudah ditonjok / ditendang pada saat lagi nembak. Sebisa mungkin deketin dia dari samping, atau kalaupun dari depan jalannya harus setengah melingkar biar nggak segaris sama jalur tembakannya. Begitu udah deket, hajar!
Setelah stage ini, udah nggak ada bagian-bagian yang susah lagi. Tinggal nonton adegan penutup aja. Tips dari gue: tonton terus sampe akhir, karena di bagian ujung sekali, setelah daftar2 nama pengisi suara, akan ada dialog telepon tentang konspirasi tingkat tinggi yang melibatkan CIA :-)

Pertama kali gue kenal sama tokoh Solid Snake adalah dari game PS 1, Metal Gear solid. Banyak orang menyangka inilah game pertama dari Serial petualangan Solid Snake, tapi sebenernya dia udah sempet muncul di konsol2 yang lebih kuno seperti Sega dan Nintendo. Tentunya dengan kualitas gambar yang seadanya dan penampilan si Snake lebih mirip apel daripada orang.

Yang bikin gue cinta mati sama serial ini adalah, di sini pemain nggak cuma dituntut untuk adu cepet pencet tombol, tapi juga ada teka-tekinya. Di beberapa bagian bener-bener harus mikir supaya bisa lanjut ke level selanjutnya, dan kadang solusinya sama sekali nggak melibatkan aktivitas tembak-menembak! Di akhir game juga akan ada ranking, semakin sedikit orang yang kita tembak, semakin tinggi rankingnya.

Selain itu, pengolahan alur cerita dan penokohannya nggak kalah deh sama novel atau film. Ada latar belakang buat setiap tokohnya. Metal Gear Solid 1 malah mirip film Indonesia: setiap tokoh penting yang berhasil dikalahkan oleh Solid Snake akan ngoceh menceritakan latar belakang hidupnya sebelum menghembuskan nafas terakhir :-)

Walaupun game ini bersetting dan bertokohkan karakter Amerika, aroma kejepang-jepangannya masih sangat terasa. Kelihatan dari filosofi-filosofi para tokohnya yang seringkali mengingatkan pada filosofi Samurai. Misalnya, tokoh the boss yang gue ceritain di atas itu, sebenernya dateng ke rusia untuk menjalankan misi dari pemerintah (amerika). Ternyata ada hal yang berjalan di luar rencana, dan tokoh si boss ini difitnah oleh pemerintahnya sendiri, dibilang berkhianat dan dikirimlah solid snake untuk memberantasnya. Tapi si boss walaupun udah dikhianati pemerintahnya, tetep menjalankan tugas 'sebagai seorang ksatria' dan di akhir cerita menyerahkan hasil penyelidikannya kepada Solid Snake supaya muridnya ini bisa pulang dan jadi pahlawan di negaranya. Banzai..!

Entah terinspirasi tren prequelnya star wars atau gimana, MGS 3 ini menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelum MGS 1. Makanya jangan heran kalo senjata-senjatanya terkesan 'jadul' dibandingkan dengan yang ada di MGS 1 dan 2. Yang menarik adalah desain Metal Gearnya sendiri, robot pemusnah yang selalu muncul di akhir cerita. Berhubung ini tahun 60-an, robotnya juga masih setengah tank!

Dari segi grafis, game ini sekali lagi jadi terobosan barunya Hideo Kojima karena ini pertama kalinya ada game petualangan yang bersetting di hutan, lengkap dengan seluruh flora dan fauna yang interaktif. Maksudnya, kalo si Snake ngelewatin rerumputan, maka akan terlihat rumputnya goyang-goyang kesenggol. Saat dia tiarap di tanah kadang ada kelinci atau ular lewat. Bahkan di beberapa bagian akan muncul kupu-kupu! Game-game pendahulunya juga udah ada sih yang settingnya di hutan, tapi tanamannya kurang realistis karena mirip potongan kertas kaku gitu. Si Hideo ini emang tergila-gila sama detil. Di MGS 2, ada seember es di bar yang kalo iseng ditungguin akan kelihatan proses mencairnya; dari balok-balok es sampe jadi air semua.

Dari segi gameplay, game ini jauh lebih menantang banget karena Soliton radar yang dulu muncul di MGS 1 dan 2 sekarang udah nggak ada lagi. Nembakin musuh juga harus lebih hati-hati, karena selain bisa kedengeran sama temennya, tentara musuh juga 'diabsen' secara berkala via radio. Kalo ada satu yang nggak jawab, maka seluruh pasukan musuh langsung waspada karena tau markasnya udah kemasukan musuh!

Kesimpulannya: ini game top abis!!!

Kalo mau liat foto2 serial MGS, bisa klik kedua group di bawah ini:
Metal Gear Solid
Snake Eater


ReviewReviewGarasiJan 22, '06 11:24 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romance
Buat gue, ada 5 motivasi mengapa gue mau nonton sebuah film sampe selesai. Berikut ini adalah daftar motivasi2 tersebut, berurut mulai dari yang terkuat :
  1. Penasaran ingin tau kayak apa endingnya
  2. Udah tau kira2 endingnya kaya apa, tapi penasaran ingin tau gimana penyelesaian konfliknya
  3. Nggak penasaran kayak apa endingnya, atau kayak apa penyelesaian konfliknya, tapi adegan-adegannya enak untuk dinikmati (mis: lucu, pengambilan gambarnya bagus, special effectnya canggih, dllsb)
  4. Filmnya garing setengah mampus, tapi pemeran ceweknya cakep (contoh yang paling tepat untuk film jenis ini: Career Opportunities - dibintangi Jennifer Connelly yang tampil bertank-top dari awal sampe akhir film)
  5. Udah kadung beli tiket, dan nggak punya kegiatan lain yang lebih menarik / di luar kayaknya lagi ujan - itung2 sekalian neduh

Film "Garasi", dengan sangat menyesal, masuk kategori ke lima.
Ceritanya tentang 3 orang anak band indie kota Bandung yaitu Aga, Gaia, dan Awan yang latihan nge-band di garasi maka menamakan bandnya "Garasi". Seperti biasa yang umum terjadi di film2 tentang band musik lainnya, mereka cekcok kecil2an saat band-nya mulai ngetop, serta sedikit dibumbui 'dilema' percintaan ala kadarnya. Karakter Aga sangat Rangga-AADC banget, lengkap dengan rambut keriting dan adegan kehujanan saat lagi pacaran. Sedangkan karakter Gaia... yah... gimana ya? Gini deh: seandainya gue diserahi naskah film yang pas gue baca garingnya setengah mampus, maka gue akan mencari bintang yang paling enggak bisa membuat orang nonton dengan motivasi ke empat (lihat daftar di atas). Dan untuk film ini, maka gue akan mengontak... hmm... siapa ya...? Mungkin Jessica Alba deh, dengan pesan agar beliau mengenakan kostum persis seperti di film "Into the Blue". Terserah mau nyambung atau enggak dengan konteks filmnya, yang penting penonton melek. Oh iya... vokal Gaia kenapa juga sih harus Cranberries abis gitu?
Yang menyelamatkan film ini dari kehancuran total adalah penampilan trio Arie Dagienkz, Desta Club 80's dan David Tarigan sebagai para pemilik toko kaset d'Lawas. Juga Aries Budiman, pemeran Awan, nampak paling manusiawi dan lumayan menyegarkan.
Kualitas gambar dan aktivitas kamera juga lumayan lah, yang jelas jauh lebih bagus dari "Kejar Jakarta". Dan kali ini gue berjanji nggak akan recet soal detil2 nggak penting seperti kemunculan angkot warna coklat di luar trayeknya, atau kegemaran tokoh Aga menyepi di stasiun kereta yang pada realitanya bau pesing banget.

Gambar: dari official website garasi


ReviewReviewReviewReviewFight Night: Round 2Jan 19, '06 1:57 AM
for everyone
Category:Video Games
Genre: Sports
Console:Game Boy
Mengingat sekarang udah muncul Fight Night round 3, kayaknya ini review udah basi kali ya. Tapi krn PS gue abis mati suri selama 6 bulan lebih, maka game yang gue beli bulan juni 2005 ini baru bisa dimainin sekarang. Jadi, harap maklum yak!

Tadinya EA sports, produsen game ini, punya seri tinju yang dikasih judul ”Knock Out Kings” (KOK). Gue pertama kali main serial KOK mulai dari KOK 1999 sampe kalo nggak salah yang terakhir KOK 2002. Entah kenapa serial KOK kemudian nggak muncul lagi, dan sebagai gantinya ya si ”Fight Night” (FN) ini.

Dari segi tema, FN nggak beda jauh dengan KOK: tentang simulasi kejuaraan tinju dunia. Selain bisa langsung main dengan karakter2 juara2 tinju dunia, kita juga bisa bikin petinju baru di career mode. Di career mode ini kita dikasih 1 petinju yang masih culun, terus pelan2 dilatih dan diadu ngelawan petinju2 yang udah ada di peringkat tinju dunia sampe akhirnya ngelawan sang juaranya. Nanti kalo udah jadi juara giliran kita yang ditantang sama petinju2 lain untuk mempertahankan gelar.

Satu-satunya yang membedakan FN dari KOK adalah dari segi konfigurasi kontrolnya. Kalo di KOK semua gerakan pukulan dipicu dari tombol x, o, segi tiga dan kotak, di FN (konon mulai dari FN yang pertama, nggak yakin jg soalnya belum pernah main) pukulan digerakkan pake analog stick kanan. Akibatnya, kita gak usah pusing lagi ngapalin urutan2 pencetan kombo yang bisa mencapai 10 langkah bahkan lebih! Selain itu, penggunaan analog juga lebih mudah diasosiasikan dengan gerakan pukulan yang sebenernya. Misalnya, pukulan hook yang melingkar itu juga digerakkan dengan cara memutar analog stik setengah lingkaran. Pukulan straight, tinggal dorong analog stick 45 derajat ke arah kanan atau kiri tergantung mau mukul pake tangan yang mana. Lebih gampang diinget kan? Tapi buat yang masih fanatik dengan sistem pencet2 tombol, tetep dimungkinkan karena konfigurasi kontrolnya bisa dicustomize. Gue sendiri lebih suka pake sistem analog stick ini krn kalo lagi kepepet tinggal gerakin asal2an aja ke segala arah, dijamin akan keluar pukulan walaupun nggak bisa ditebak itu pukulan jenis apa.

Yang menarik, di FN2 ini kita juga bisa langsung mengendalikan cutman (orang yang kerjanya ngobatin luka petinju di sela pertandingan). Selain itu, waktu create boxer untuk dimainin dalam career mode, kita bisa ubah2 hampir sebagian besar fitur2 wajah seperti bentuk mata, bentuk kepala, posisi dagu, dll masih dengan analog stick. Prosesnya jadi mirip bikin patung dari tanah liat. Petinju yang kita buat di career mode akan bertambah tua, dan di umur 40-an akan mulai menurun kemampuannya. Dilatih kaya apapun, statistiknya akan terus2an minus sehingga akan makin sering kalah. Di umur 65, dia akan pensiun paksa. Petinju bikinan gue yang di awal karir udah susah2 gue buatin body atletis, giliran udah makin tua jadi makin bengkak kaya george foreman gitu. Simulasi penggunaan energinya juga makin realistis. Petinju yang terlalu boros mukul di ronde2 awal, nanti di ronde2 akhir akan jadi loyo dan lamban. Peranan pukulan jab juga udah sesuai dengan ”realita di lapangan”. Di game2 KOK yang lain, jab hanya sebagai pukulan pemancing doang, nggak pernah bisa bikin lawan KO. Sedangkan di FN2, asal dikeluarin secara combo, jab bisa juga bikin KO. Toh buktinya petinju betulan seperti Muhammad Ali dan Shane Mosley juga terkenal sering mukul jatuh lawan pake jab!

Intinya, ini game oke banget deh (tentunya bagi para penggemar game tinju). Cuma seandainya gue jadi developer game ini, maka ada beberapa hal yang akan gue masukin sebagai improvement:
  1. Petinju2 Prince Naseem, Mike Tyson, dan George Foreman; kenapa nggak pernah muncul di serial KOK maupun FN ya? Padahal yang kalah terkenal seperti Chris Byrd aja ada.
  2. Efek pertandingan: kalo di suatu pertandingan petinjunya luka parah, maka dia butuh waktu istirahat lebih lama untuk bisa bertanding lagi. Dan yang seru: gue akan bikin petinjunya bisa mati kalo kena pukulan yang keras banget!
  3. Pukulan favorit yang sering dipake sama petinju makin lama akan makin ampuh. Misalnya, kalo petinju A lebih banyak make hook kanan untuk mukul, maka selanjutnya hook kanannya akan lebih keras dari pukulan dia yang lain dan bisa bikin damage yang lebih besar.
  4. One hit victory: kemungkinan untuk menang KO dengan hanya satu pukulan telak. Di FN2 ini memang dimungkinkan untuk memukul jatuh lawan hanya dengan 1 pukulan, tapi bisa dipastikan lawannya pasti bangun lagi.


Kira2 ada nggak ya game developer di eagames yang baca multiply gue? :-)

foto dari sportsmedia.ign.com


ReviewReviewReviewReviewReviewMIRROR: paket lengkap hiburan keluargaNov 7, '05 1:28 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy

Kadang baca resensi sebelum nonton film ada manfaatnya, kadang malah bikin tambah ancur.

Waktu pertama kali ngeliat iklan film "MIRROR" di tivi, gue dan para keponakan gue langsung tertarik.

"Wah, kayaknya seru nih film, yang main Nirina, lagi. Nonton yuk!"
"Yuk, yuk!"

Tapi abis itu gue baca reviewnya di sinemaindonesia.

Buset dah, resensinya sadis banget nyelain ni film. Yang katanya nggak serem lah, nggak logis lah, malah jadi lucu lah.

Keponakan gue jadi pesimis, "Apa mending nggak jadi nonton aja ya?"
"Lho, ya nggak papa, persepsi orang kan beda-beda. Siapa tau menurut dia jelek, tapi menurut kita bagus?" Lagipula, ada Nirina-nya gitu loh.

Maka pergilah gue nonton bersama Kanta, Nara, dan Sasa.

Film dibuka dengan adegan Nirina ngibulin temen2nya sekelas bahwa Doni, salah satu temen mereka, meninggal krn kecelakaan. Gara-gara pengaruh resensi sinemaindonesia nih, gue jadi langsung nemuin beberapa kejanggalan: Nirina ngumumin berita kecelakaan itu sambil nunjukin foto (/poster?) close-up si Doni ini, dalam ukuran kira-kira A3 (segede buku gambar). Dapet dari mana dia foto segede gitu? Apa dia segitu niatnya dateng ke Rapico, nyetak foto gede, yang biasanya nggak bisa sehari jadi, khusus untuk iseng doang? Trus dari mana dia tau bahwa Doni akan telat hari itu? belom2 udah nemu satu kejanggalan. Tapi, halah... lucu banget sih si Nirina itu ya!

Abis itu adegan Nirina nakut2in temen2nya yang lagi praktikum di lab. Satu hal yang langsung menarik perhatian: ni sekolah segede tangsi gitu, muridnya cuma 10 kali yah... kok sepiiii banget sampe si Nirina bisa dengan santai dandanin mukanya jadi serem, make2 kostum kuntilanak, nyari2 posisi untuk ngumpet ngagetin temennya tanpa kepergok murid lain dan "lho, ngapain lu dandan kaya kuntilanak gitu?"

Anyway, Nirina yang imut2 itu keserimpet kostum hantunya sendiri dan kejedot sampe pingsan. Kasihan sekali, sampe hampir nangis gue liatnya. Pas mendusin (ada yang bingung baca istilah ini? hihihihi...) dia cuci muka, dan ketemu sama seseorang yang belakangan diketahui adalah Pak Soleh, penjaga sekolah. Tanpa penjelasan apapun sebelumnya, Pak Soleh rupanya lagi putus asa dan >hngk< tau2 gantung diri aja gitu.

Mungkin akan lebih logis kalo dikasih sedikit latar belakang sbb:

"Pak Soleh, penjaga sekolah dengan gaji pas-pasan, punya anak banyak. Pada suatu hari, Pak Soleh nonton tivi, dan ada pengumuman pemerintah =BBM NAIK= Hah.. Pak Soleh kaget. Besokannya dia pergi ke tukang minyak tanah, ternyata harga pasaran Rp 3.000 per liter. Loh...kapan kata pemerintah 'cuma' Rp 2.000? Pak Soleh kaget lagi, tapi hatinya sedikit terhibur saat melihat Pak Wapres datang berkunjung ke kampungnya. Dengan harapan mendapat sedikit inspirasi, Pak Soleh menghadiri acara pertemuan dengan Wapres. Eh taunya Pak Wapres malah ngelawak. Kata pak Wapres, duit kompensasi cepek ceng itu lebih dari cukup sebab inflasi kan cuma 3%. Tadinya Pak Soleh mau nyeletuk, maksudnya 300 kali pak? Tapi Pak Soleh menahan diri, takut terlihat kurang sopan. Paling enggak, yah lumayan ada dana kompensasi, daripada nggak sama sekali, pikir Pak Soleh. Maka dia ikutan ngantri di kantor pos. Gila, orang2 pada kalap dorong-dorongan. Pak Soleh nyaris tewas, untung masih selamat. Pak Soleh masih bisa menerima uang kompensasi.Tapi... heh, kok cuma 200 ribu? Yang 100 ribu buat biaya administrasi, kata petugasnya sambil memilin kumis. Pak Soleh menghela nafas. Beban hidup kian berat dirasakannya. Untunglah, bagi Pak Soleh, di tengah himpitan nasib, masih ada sedikit penghibur. Ada Nirina, murid yang lucu imut menyegarkan, menyejukkan mata. Pak Soleh berangkat kerja dengan bersemangat. Tau-tau... di pintu dia berpapasan dengan Nirina... dalam kostum kuntilanak. Maka putuslah semua harapan bagi Pak Soleh, hingga akhirnya dia memilih jalan pintas mengakhiri hidup."

Ok, anyway, sejak kejedot, Nirina bisa ngeliat bahwa kalo orang yang mau meninggal nggak punya bayangan di kaca. Kata Ida, "kalo ceritanya gini aku tau nih, pastiiii terakhirnya dia sendiri yang ngeliat bayangannya menghilang di kaca!" Ah, sayangku cinta, orang bikin film tuh susah tauk. Masa segitu cepetnya kamu menebak ending, bahkan tanpa nonton filmnya?

Nirina pulang ke rumahnya yang kosong melompong (karena orang tuanya lagi ke luar kota). Tiba-tiba, dia diganggu hantu Pak Soleh. Kenapa hantu Pak Soleh jadi ngintil ke rumah Nirina? Ya itu tadi, karena secara tidak langsung Nirina lah yang menyebabkan bapak yang malang itu putus asa (lihat penjelasan di atas - logis kan?). Nirina ketakutan, jadi dia nginep di rumah tetangga. Eala, ternyata tetangganya juga nggak punya bayangan di kaca. Keesokan harinya, Nirina ketemu sama arwah anak SD yang lari-lari di jalanan setelah ketabrak mobil... eh salah, itu mah film The Eye yah? Maap, abis mirip sih. Maksudnya, ketemu keluarga itu jalan di trotoar dalam keadaan udah jadi arwah. Yang luar biasa, kecelakaan lalu lintas terjadi di tengah kota Bandung pada saat hari masih sore, di mana secara umum kecepatan rata2 yang berlaku adalah 2km/jam saking macetnya. Mungkin kecelakaannya sendiri nggak terlalu parah kali yah, mungkin si bapak tetangga itu cuma serempetan doang. Tapi serempetannya sama angkot, terus si bapak buka kaca dan teriak "Maneh Anjing!" trus digebukin deh. Entahlah, nggak diceritakan dalam film. sampai titik ini sudah ada 1 gantung diri dan 1 kecelakaan mobil di film. Keep on watching, masih akan ada lagi.

Karena setress, darah mengalir dari benjolan bekas jatuh di jidat Nirina (yang mana bisa tetap nampak imut walaupun jidatnya benjol, suatu prestasi yang sulit ditandingi artis lainnya). Ibu gurunya memperhatikan, dan mengobati Nirina sambil meracau memanggil Nirina sebagai "Fifi".

"Ibu, saya Nirina bu, bukan Fifi" (Nama karakternya sih Kikan, tapi kayaknya lebih adem nyebut Nirina sebagai Nirina... hiii... lucu sekali sih orang itu).
"Oh maaf, Fifi itu anak ibu, dia sudah meninggal..."
"Meninggalnya kenapa bu, (a) gantung diri atau (b) kecelakaan mobil?"
"Yang (a) nak, gantung diri."
"Oh syukurlah bu, berarti tidak keluar dari pakem film ini yah..."
(tiga baris terakhir hanya rekaan belaka, -red)

Selesai diobati bu guru, Nirina masuk kelas dan melihat bahwa bu guru tidak muncul di cermin. Kebetulan, bu guru pamitan mau tugas ke luar kota. Nirina berusaha mencegah.

"Bu jangan pergi bu, kalau ibu pergi ibu akan mengalami (b) kecelakaan mobil!"
"Ibu harus pergi, Nirina."

Maka nggak heran kalo sorenya Nirina nonton tivi dan ngeliat berita kecelakaan. Gurunya meninggal, tapi nggak seperti Pak Soleh, hantunya nggak silaturahmi ke rumah Nirina. Mungkin takut dicelain, "Lo dibilangin nggak nurut sih Bu, gue bilang juga apa, kecelakaan kan?!"

Habis itu hidup Nirina jadi diuber-uber hantu. Lagi makan di cafe excelso aja, ketemu cleaning service hantu. Cleaning service hantunya ngikutin lagi, sampe ke parkiran mobil yang sepi banget (yang mana juga merupakan barang langka di Bandung... coba deh kapan2 cari parkir di Bandung Indah Plaza, atau Istana Plaza). Sementara itu teman Nirina yang bernama Doni mencoba memanfaatkan peluang, PeDeKaTe sama Nirina mumpung semua orang jadi males deket2 dia, takut ketularan sial.

Awalnya sih Nirina males, dan sangat jelas bagi penonton apa alasan di balik sikap tersebut. Let me put it this way; lo nonton AADC - ada Nicolas Saputra sama Dian Sastro... hmmm cocok lah. Cinta Silver, Luna Maya sama sapa tuh pemeran cowoknya, hmmm... serasi deh. Nah ini, Nirina sama si Doni ini, gue aja yang bapaknya bukan pamannya bukan nggak ridho banget. Kayak nggak ada pemeran cowok yang lain sih. Mana aktingnya datar banget. Dia ngomong "sebenarnya aku cinta kepadamu" dengan ekspresi dan intonasi yang sama seperti kalo orang ngomong "bang beli somay jangan pake pare, saos yang banyak."

Tapi berhubung keadaan makin lama makin sulit, semua orang pada menjauh, Nirina lama2 mau juga sama Doni. Pake ngajak jalan2 segala ke danau, tempat favorit Nirina kalo lagi bete karena di sana dia bisa main sama kunang-kunang. Tiap kali diuber setan, Nirina berpaling pada Doni. Sampe akhirnya Nirina ngeliat bayangannya sendiri mulai menghilang dari cermin. Nirina panik, beli tabloid mistik, dan dibaca saat lagi nyetir mobil dalam kecepatan tinggi. Maka terjadilah (b).

Nirina pergi ke Pak Leo, paranormal yang dia liat iklannya di tabloid. Sama Pak Leo, Nirina disuruh pulang aja. Eh taunya di rumah lagi rame. ada jenazah di ruang tengah. Ternyata itu adalah jenazah Nirina sendiri! Hah, Nirina kaget. Pantesan selama ini anak kecil itu suka bilang 'gue liat orang mati keluyuran di mana-mana, mereka bahkan nggak tau bahwa mereka udah mati.' Eh itu sih film Sixth Sense ya? Maap salah, abis mirip sih. Nirina berusaha berkomunikasi dengan orang-orang, nggak ada yang bisa liat dia. Dia bisa nembus ngelewatin orang-orang. Maklum, sekarang kan udah jadi arwah. Loh, trus, kenapa semalem dia bisa mencet bel rumah Pak Leo? Harusnya nembus juga dong? Oh itu lain, itu kan bel pintunya paranormal, udah dibaca-bacain sehingga bisa dipencet baik oleh hantu maupun manusia.

Sebagai adegan terakhir, Pak Leo menyarankan agar Nirina menyampaikan apa yang hendak diucapkannya sejak lama, agar arwahnya menjadi tenang. Tapi, bagaimana caranya? Petunjuk: danau, kunang-kunang.

Akhir kata, gue memberikan 5 bintang untuk film ini karena sebagai hiburan dia adalah paket lengkap:

  • Ada Nirinanya
  • Lucu
  • Tidak berbahaya bagi jantung
  • Merangsang kreativitas menulis review
  • Merangsang daya kritis
  • Memberikan gambaran indah tentang kota Bandung (bebas macet sampe bisa kecelakaan sore-sore dan gampang cari parkir)


Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.