What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag joke
Sehubungan dengan adanya seorang user Multiply yang menghantui posting-posting gue tentang penayangan blogger di QTV di sini, di sini, dan di sini minta ditulisin transkrip dialog selama acara, maka dengan bermodalkan sebagian kecil daya ingat dan sebagian besar daya ngarang, berikut ini gue persembahkan:
TRANSKRIP(yang kayanya sih) LENGKAP (walaupun mungkin ngaco) ACARA BLOGGERS INDONESIA DI QTV
Ari Presiden
"Selamat siang Mbak Ari, mungkin bisa dijelaskan dulu mengenai 'apa itu blogger...'" "Blogger, adalah sebuah komunitas di mana saya sendiri menjabat sebagai presidennya." "Oh, begitu... menarik sekali ya mbak Ari." "Maksudnya?! Anda tertarik jadi presiden MP? Mau kudeta ya?" "Euh... gimana ya..." "Jangan tanya gimana mas, soalnya susah sekali lho, untuk menjadi seorang presiden MP. HA! HA! HA!" "OK deeh... bila demikian halnya mari kita beralih kepada bung Saranto..." "Tapi sebelumnya saya ingin sharing beberapa pengalaman saya selama menjabat sebagai Presiden MP..." "Mungkin bisa di lain kesempatan saja ya Mbak," "Ya sudah deeeh... tapi jangan lupa lho Mas..." "Jangan lupa apanya ya, mbak?" "...bahwa saya ini... presiden MP..."
Saranto
"Mas Saranto, jadi blog Anda ini khusus membahas tentang sepeda motor, ya?" "Betul sekali Mas." "Mengapa Anda memilih tema motor, Mas?" "Sebab kalo saya milih tema bajaj, pasti Anda akan tanya juga 'kenapa blog Anda tentang bajaj...' gitu kan?" "Iya juga sih..." "Nah, makanya.." "BAIKLAH. Pertanyaan selanjutnya, sejauh ini sudah seberapa banyak, Mas?" "Masih dua, Mas." "Hanya dua? Pengunjung blog Anda hanya dua?!" "Oh, nanyain jumlah pengunjung blog? Kirain nanyain jumlah roda motor..."
Yeyen
"Mbak Yeyen, bisa tolong ceritakan awal perkenalan Anda dengan dunia blog?" "Wah dulunya saya ini gaptek, Mas..." "Oh ya? Tentunya berkat nge-blog sekarang sudah tidak gaptek ya?" "Loh, Mas tau nggak, yang tempo hari orang pada rame soal deface-deface situs, memangnya itu kerjaan siapa, coba Mas?" "Hah, jadi... itu semua perbuatan Mbak Yeyen?" "Bukan. Makanya saya nanya; Mas tau nggak?" (Srimulat style: on)
Vilia
"Kita beralih pada Vilia, pelaku bisnis fashion online... mudah-mudahan yang ini lebih nyambung yats...Mbak Vilia, Anda saat ini mengelola situs Fasity.com ya mbak... bisa diceritakan lebih lanjut tentang situs fasity.com ini?" "Fasity itu singkatan dari 'Fashion Community'" "Oh, begitu... bagus sekali ya namanya, Fashion Community disingkat jadi 'Fasity'" "Ya, untungnya saya fokus pada bidang fashion dalam membangun komunitas ini. Soalnya kalo misalnya komunitas ini fokus pada manajemen sumber daya manusia, maka namanya menjadi 'Employee Organization Society' disingkat EMPO'-SITY.COM - kan pengunjung bisa salah paham dikira situs lenong, Mas."
Bayu
"Saudara Bayu, saya sangat berharap Anda bisa memberikan wawancara yang lebih berbobot dibandingkan dengan rekan-rekan Anda sebelumnya..." "Bobot? Nyindir ya? Soalnya saya lihat kamera yang Anda gunakan tidak non-fat." "Oh maaf.. maaf bung Bayu. Kita langsung ke topik aja ya, bisa diceritakan sedikit mengenai blog Anda yang 'mak-nyus' itu?" "Blog kok bisa 'mak-nyus'... gimana sih maksudnya?" "Ya... maksudnya blog Anda kan antara lain memuat review makanan, tentunya makanan yang enak-enak alias 'mak-nyus' kan?" "Ah enggak juga. Tergantung nasib aja mas, kadang nemu juga kok makanan keasinan, makanan kegosongan, kurang lada, kurang rasa..." "...tapi banyak juga yang enak-enak, kan?" "Ada sih..." "Nah, pasti kalo ketemu yang enak Anda bilang 'mak-nyuuuus'!" "Itu kan Bondan, Mas.Bukan saya. Salah orang kali." "...maksud saya.. ah sudahlah."
Mbot
"Harapan terakhir... semoga yang ini rada waras dikit... Mas Agung, bisa cerita sedikit tema blog Anda?" "tema utama blog saya: 'ocehan nggak guna seorang pegawai biasa-biasa aja...'" "Oh... OK pemirsa, bila demikian halnya lebih baik saya akhiri sampai di sini siaran kita kali ini..."
Cerita berikut adalah kisah nyata yang dialami seorang temen. Nggak ada yang dilebihkan atau dikurangi, tapi asal tau aja nih, ceritanya JOROK banget... buat yang gampang jijik, atau abis makan, atau lagi makan, atau lagi berusaha keras untuk doyan makan... gue sarankan untuk jangan baca. Beneran lho, ini jorok banget!
Gue udah peringatkan lho ya...
Buat yang nekad, silakan sorot / highligt tulisan di dalam box berikut ini.
WARNING terakhir.
Jangan salahin gue kalo jadi eneg.
Pada suatu hari, seorang temen yang kita sebut aja bernama Hetty (tentunya bukan nama sebenarnya), turun kereta di Stasiun Gambir. Karena kebelet pipis, dia segera menuju toilet dan menyerbu masuk ke salah satu bilik kosong di sana. Trus klek, kunci pintu.
Saat itulah dia baru menyadari bahwa di dalam kloset teronggok sebuah 'benda peninggalan' pengguna toilet sebelumnya yang secara kurang bertanggung jawab meninggalkan 'TKP' tanpa menyiramnya terlebih dahulu. Sesaat Hetty memandanngi benda ajaib tersebut penuh kebimbangan, namun berhubung desakan kantong kemih udah nggak tertahankan lagi, dia langsung aja melampiaskan diri.
Setelah selesai, sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab dan peduli terhadap sesama, Hetty bersuaha menyiram toilet dengan menggunakan segayung air. Tapi di luar dugaan, sang 'benda peninggalan' tetap bertahan di tempatnya, nggak mempan terhadap guyuran air segayung. Nampaknya sudah agak lengket, gitu. Hetty terperangah, tapi nggak putus asa. Keran air dibuka maksimal, dan dia terus mengguyur berkali-kali. Tetep aja nggak mempan.
"Mbaaaak... masih lama nggak ya... buruan dong pleaseee..." terdengar ketukan bernada putus asa di pintu. Hetty mulai keringetan panik. Entah udah berapa gayung yang diguyurkannya, tetap belum membuahkan hasil. Akhirnya dia mencoba cara terakhir, yaitu mengisi ember sampai penuh, lantas mengerahkan segenap kekuatan untuk mengangkatnya dan... BYUUUUUR... menyiramkan air seember penuh ke dalam kloset.
Air bergolak di dalam kloset dan perlahan surut, tapi... ya ampun, si dia masih aja bercokol di tempatnya!! Luar biasa, entah habis makan apa pemiliknya. Jangan-jangan suka ngemil lem aica aibon. Hetty berpikir, kalau dia keluar dari toilet dengan membiarkan benda itu tetap di tempatnya, dia pasti akan jadi 'tertuduh' di mata khalayak ramai yang mengantri di depan pintu. Hetty tak rela nama baiknya tercemar. Akhirnya ia mengambil sebuah langkah drastis yaitu..... MEMBUNGKUS TANGAN DENGAN TISU GULUNG, MEMUNGUT BENDA SIALAN TADI DENGAN TANGANNYA SENDRI, DAN MEMBUANGNYA DI TEMPAT SAMPAH!
Setelah melakukannya, Hetty mual-mual... tapi minimal dia lega telah mempertahankan nama baiknya.
Nah bagaimana dengan kalian? Kalau kalian ada dalam situasi dan kondisi Hetty, apakah kalian akan melakukan hal yang sama? Seberapa jauh kalian rela berkorban demi harga diri?
Selama bulan Oktober - November, ada 5 orang di divisi gue yang ulang tahun. Berhubung kelimanya udah masuk golongan 'boss', maka todongan traktiran berada di level yang lebih tinggi dari sekedar sate atau mi ayam seputar kantor. Maka hari ini, kami sedivisi beramai-ramai ditraktir di restoran buffet sebuah hotel bintang lima di bilangan Mega Kuningan, dengan kelima orang tersebut sebagai penyandang dana patungan.
Di sana, terjadi percakapan semi fiktif yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:
"Ih... ih... ih... liat deh nama makanan yang itu!"
"Ya ampun... joroknya..." "Katanya hotel bintang lima, kok makanannya jorok gini sih..." "Tega banget orang disuruh makan gituan." "Butuh berapa orang ya, untuk bikin sepanci gede gitu...." "Pantesan rasanya asin-asin gimanaaa.... gitu." "Hiy... geli' gue ngebayanginnya, eneg tauu..."
"Pada ngomongin apaan sih?" "Itu lho, liat deh, masa makanan yang itu namanya...
"ITU BACANYA KON-JI, DODOOOL... Artinya 'bubur'!" "Lha iya, bubur conge, kan?" "Hus, bukan. Liat dong, 'e'-nya ada dua. Jadi bacanya harus dipanjangin, kaya manggil dari kejauhan, gitu. Bubur Congeeeeeeee....." "huhuhuhuhu..." "hihihihihihihi..."
Minggu lalu pas lagi belanja keperluan bikin risol kribo di Hero, gue nemu susu Indomilk kemasan khusus yang berhadiah "mainan lipat binatang lucu". Karena penasaran selucu apakah binatang yang dimaksud, gue beli sekotak (kalo gak salah isi 6).
Sesampainya di rumah, gue buka kotaknya dan sampai hari ini gue masih belum nemu di mana lucunya. Kalo 'melas' mungkin iya, tapi kayaknya lucu sih enggak deh.
Di tempat kerjanya yang baru, Ibu guru Ida dapet tugas mengajukan usulan program untuk dijadikan 'after school activity' (ASA). ASA adalah program 'ekstra kurikuler' selama setengah jam bagi para balita untuk dilaksanakan sesudah jam belajar.
"Kira-kira enaknya aku ngajuin bikin ASA apaan ya? Guru-guru lainnya ada yang bikin cooking, dancing, drawing... trus aku bikin dong?" Sebagai suami yang penuh pengertian dan tanggung jawab, gue tentunya mencoba mengajukan usulan solusi. "TURTLING aja." "Turtling? Apaan tuh?" "Ya 'memelihara turtle'. Jadi kamu bawa tuh kura-kura kita dari rumah, trus anak-anaknya diajak ngasih makan kura-kura." "Trus?" "Trus ya udah, mereka nonton kura-kura makan. Jadi nanti di program descriptionnya kamu bisa tulis, 'Turtling: children will feed the turtles and then sitting on their ass for half an hour - watching turtles eat. And we will charge the parents 70K rupiah for that.' Keren kan? Kreatif!" "Suami ngk-ngk*!" "Ya udah, kalo 'turtling' kurang menarik, gimana kalo 'hamstering'?" "Ck!"
Seperti biasa ide suami ditolak mentah-mentah oleh istri. Padahal kan alternatifnya bisa banyak, bisa chickening, dogging, catting....
::posted by e-mail::
*'ngk-ngk' adalah bahasa ciptaan kami yang bisa berarti apa aja, seperti 'smurf' gitu. gambar dari wanderingturtle.com
... seneng buanget kalo disangka berumur lebih muda,
sekalipun perbedaannya nggak signifikan ("yang bener mbak
udah 35 tahun 2 bulan? Tadinya saya kira masih 34 tahun 9 bulan lho,
serius!") .
... rencana reuni bareng temen-temen lama mendadak
batal karena alasan-alasan 'domestik' (anak mendadak rewel, pembantu minta pulang, nunggu
tukang sampah belum ngangkut, dsb).
... atau lebih parah lagi, rencana reuni bareng
temen-temen lama mendadak batal karena alasan-alasan kesehatan.
... atau
lebih parahnya lagi, lo janjian bareng temen2 lama untuk begadang nonton bola
semalem suntuk, siapin rokok, kopi, kacang, kue, trus ketiduran jam 21.30
... atau
lebih parahnya lagi, rencana reuni terpaksa dibatalkan karena mayoritas peserta
sakit dan/atau sibuk ngurus anak sakit.
... atau kalopun jadi reuni,
sebagian besar acara lo isi dengan berlarian ke sana ke mari ngejar anak.
... abis
itu lo pamit pulang karena anak mulai rewel minta diajak ke Timezone.
... dulu
'180' adalah top speed mobil pinjeman dari bokap. Sekarang; gula darah.
... kabar
pernikahan teman semakin berkurang, digantikan dengan kabar perceraian dan/atau
poligami.
... dulu, lo sibuk mikirin gimana caranya ngabur keluar
sekolah. Sekarang; gimana caranya bayar uang pangkal anak masuk
sekolah.
... high calcium milk
... long weekend 3 hari,
jalan-jalan ke luar kota bareng keluarga, trus bolos 2 hari karena masuk angin.
... lo
ketemu temen lama, nanya sekarang kerja di mana, terus nitip cv.
...
koleksi VCD / DVD dulu: Van Damme, Stallone, Schwarzenegger. Sekarang: Barney,
Dora, Thomas.
... anti hair loss shampoo
... dulu: mall ideal = yang pengunjungnya keren-keren.
Sekarang: yang ada carrefour / hypermart-nya, biar bisa belanja bulanan.
Ini film udah jadul banget, tayang di bioskop tahun 2004 tapi waktu itu gue nggak sempet nonton. Sebenernya waktu itu tertarik juga untuk nonton karena reviewnya di beberapa media cukup menjanjikan. Sayangnya film ini nggak bertahan lama di bioskop.
Eh, ndilalah 2 minggu yang lalu gue nemu VCD film ini dijual di mal Ambassador. Maka tercapailah cita-cita gue.
Film ini bercerita tentang petualangan Santoso (Bramantyo) mahasiswa baru di sebuah universitas yang konflik dengan seniornya, Vanco (Arie Wiraswan). Di kolam renang kampus Santoso nyaris ribut dengan Vanco karena membela Limin (Dennis Adhiswara) yang lagi dicelup-celupin ke kolam.
Mereka lantas dilerai oleh penjaga kolam (Sunaryo Hadi) dan disarankan untuk menyelesaikan permasalahan dengan cara... adu gebuk bantal. Di 'pertarungan' pertama ini Santoso kalah, sehingga akhirnya dia, Limin, plus 2 orang temennya Sly (Rahadian) dan Zulfikar (Mualimin) memutuskan untuk berguru ilmu gebuk bantal kepada bapak penjaga kolam yang ternyata adalah seorang 'suhu' ilmu gebuk bantal.
Di review gue untuk film 'Koper' gue bilang, "kalo mau bikin film aneh jangan nanggung" dan ternyata inilah dia film aneh yang nggak tanggung-tanggung. Mungkin buat beberapa orang film ini norak dan garing, serta cenderung jorok (dalam arti sebenarnya), tapi ampun deh, gue ketawa sampe nangis nonton ni film.
Bayangin aja (SPOILER ALERT), emangnya ada ya, konflik senioritas di kampus diselesaikan dengan cara gebuk bantal? Huhuhu... trus bisa-bisanya para pemain film ini ngelakuin adegan2 gebuk bantal dengan tampang sangar dan serius kaya lagi menghadapi pertarungan hidup dan mati. Udah gitu adegan romantisnya dong... nggak kalah noraknya... hehehe... jadi ceritanya si Santoso ini kan naksir cewek yang tinggal di kos2an sebelah. Nah, di salah satu adegan digambarkan dia berbunga-bunga karena bisa berdekatan sama si cewek ini waktu... beli gorengan bareng! Jadi adegannya si Santoso bareng cewek ini berdiri makan gorengan di pinggir jalan tapi diiringi dengan musik instrumental romantis gitu... hehehehe... gelo! Pada akhirnya Santoso berhasil ngajak kencan si cewek, dan tau nggak jalan-jalannya ke mana? Ke BONBIN coy, nggak lupa sambil bawa bekal minum dalam termos aluminium bergambar bunga plus makanan dalam rantang susun, hihihihi...
Pokoknya banyak banget adegan2 ancur dan sinting bertebaran di film ini. Misalnya waktu tokoh Sly dipalak sama preman, terjadi dialog sebagai berikut:
Preman: Heh! Punya duit nggak lo?! Sly: Nggak punya bang... Abang punya nggak? Preman: Ya... ada sih... Sly: Ya udah sini pake duit abang aja dulu!
Trus dengan begonya si preman malah ngasih duit ke Sly! Hehehe... sinting, sinting, sinting. Tokoh Limin di film ini digambarkan sangat mengidolakan Lamting (atlet taekwondo / aktor sinetron). Tiap kali muncul dia pake kaos bertuliskan "Lamting idolaku". Nah, di adegan puncak pertarungan gebuk bantal digambarkan Limin sebelumnya udah diancam oleh tim lawan untuk mengalah. Limin digebukin di atas batang pinang tanpa berani ngebales sampe (sorry) ingusnya nempel ke batang pinang. Saat kondisi makin kritis tiba-tiba muncul Lamting (diperankan oleh Lamting sendiri) sebagai komentator pertandingan. Limin jadi termotivasi minimal untuk jangan sampe terpukul jatuh dan akhirnya memang berhasil menang karena... lawannya kepleset ingus! hehehehe...
Selain jadi pemeran Limin, Denis Adhiswara juga bertindak sebagai sutradara di film ini. Sedangkan Budi Lestari, produsernya, adalah bapaknya Dennis. Modal untuk bikin film ini sebesar 1.5 miliar didapat dari hasil jual mobil dan tanah. Walaupun menghabiskan biaya yang lumayan gede, tapi secara teknis film ini nampak sangat ala kadarnya banget. Shootingnya cuma pake 1 handycam. Nggak heran di beberapa adegan yang mempertontonkan dialog antar 2 orang, kualitas suara waktu kamera menyorot orang pertama beda banget dengan waktu kamera menyorot orang ke dua. Di beberapa adegan bahkan dialognya nggak kedengeran karena suaranya mendem (untung nontonnya di VCD, bisa direwind). Tapi secara keseluruhan, gue terhibur banget nonton film gila ini. Usul buat para pembuat film; daripada bikin film horror melulu, mending bikin film model gini ajalah sekali-sekali, biar penonton nggak bosen gitu loh. (FYI sebentar lagi akan tayang film baru yang lagi2 bertema horror, judulnya "ROH").
Satu lagi film Indonesia yang bercerita tentang kehidupan anak band. Atau, lebih tepatnya mungkin, satu lagi film yang ceritanya sih mau cerita tentang kehidupan anak band.
Alkisah tersebutlah sebuah band bernama Topeng yang beranggotakan Canting (Luna Maya), Veruska (Rianti Cartwright), Prana (Vino Bastian), Brazil (Catherine Wilson), dan Kuta (Lukman Sardi). Semua anggota band tersebut terlibat cinta segi tiga: Canting, pacaran dengan cowok bernama Armand yang saat ini ngantor bersama pacarnya yang diperankan Davina; Brazil punya resolusi pribadi ingin tidur dengan 100 pria dan saat ini lagi pacaran dengan sepasang brondong kembar (yang mana menduduki nomor urut 24 dan 25); Prana udah punya istri tapi di luaran asik-asikan ngajak kawin anak orang; Kuta pacaran sama suami orang (yup, ceritanya doi homo gitu deh...), dan Veruska hamil gara2 pacaran dengan seorang psikolog yang kecanduan narkoba dan fetish dengan buah-buahan.
Jadi bayangin aja betapa dahsyatnya cita-cita plot film ini. Dia memuat segala topik (yang biasanya) kontroversial di tengah masyarakat: perselingkuhan, kumpul kebo, poligami, aborsi, narkoba, free sex, homoseksualitas... wuah, pol-polan deh. Pokoknya jenis plot yang suka muncul sebagai nominasi festival film internasional, yang kalo DVDnya beredar di Mangga Dua dengan cover berhias gambar daun nyiur logo festival film orang akan berbondong-bondong beli karena penasaran ingin liat adegan telanjangnya*.
Sayangnya, hukum alam tetap berlaku di mana "PLOT {jenis apapun} + (f) PUNJABI = ...ya... gitu deh." ~(f) bisa diisi dengan Raam, Dhamoo, Manoj, dll.~
Pikir-pikir seandainya pada tahun 1977 dulu scriptmya George Lucas jatuh ke tangan mas Raam, mungkin sekarang ini kita lagi nonton serial tivi "Star Wars XVI: Getar Asmara di Ujung Senja" dengan Anjasmara sebagai Luke Skywalker beradegan nyedot es jeruk satu gelas dua sedotan bareng Tamara Blezynski di pantai Ancol. Terima kasih ya Tuhan, karena Engkau tidak membiarkan hal itu pernah terjadi.
Maka jangan heran kalo film ini "ya gitu deh" dari berbagai aspek. Misalnya, editing yang ajaib banget - kaya satu adegan baru jalan 2 detik dan belum ngasih pesan apapun tau2 udah pindah ke adegan lain yang nggak ada hubungannya sama sekali. Juga pengambilan gambar yang 'aneh' karena sering banget diambil secara medium shot dengan para tokoh membelakangi kamera. Apa di antara crew film nggak ada yang bertugas teriak "whoi mas, kameranya di sini.."? Selain itu yang bikin gue senewen adalah gambarnya statis bangeeet. Jadi aktornya udah ngeluyur ke kanan, kiri, atas, bawah, kadang malah udah keluar frame, tapi kameranya teteeep aja nyorot ke situ-situ melulu. Gue rasa begitu denger sutradara ngomong "ACTION" kameramen nyalain kamera trus cabut makan siang di warung sebelah, ntar abis ngerokok 2 batang baru balik lagi untuk matiin kamera. Trus musik pengiringnya dong... kadang adegan udah sampe ke bagian yang nanggung dan ujug2... jrengg... lagu baru mulai. Kayaknya mas-mas yang bagian nyetel tape lagi meleng karena godain figuran lewat. Settingnya... kenapa harus lilin melulu sih? Serius ni film banyak banget lilinnya. Pokoknya tiap kali adegannya mau rada2 romantis / syahdu dikit, langsung deh lilin beraksi. Apa nggak ada benda lain yang sama romantisnya, gitu loh. Jangan2 ketitipan pesan sponsor "hemat energi" dari PLN. Ini contoh salah satu adegannya, kalo ga percaya. Itung aja ada berapa lilinnya:
Sedangkan para pemainnya... aduh. Catherine Wilson dengan baju minim dan rambut kriting zig-zagnya itu nampak sangat "Warkop 80's" sekali, dan adegan ranjangnya kaya lagi bercanda. Vino nampak tertekan membawakan perannya. Luna Maya ceritanya di sini jadi cewek 'tough' yang kalo marah suka maki-maki dengan kata2 "+@! b@b1". Awalnya sih kaget denger dia maki gitu, tapi abis itu sepanjang film dia maraaah aja nggak kejuntrungan, dikit-dikit maki "+@! b@b1"... "+@! b@b1"... dan lama2 si "+@! b@b1" jadi sangat melelahkan buat kuping. Lukman Sardi sebagai homo juga kerjanya marah2 mulu sama pasangan homonya, tapi nggak jelas sebenernya dia mau nuntut apaan. Pokoknya asal si pacar nelepon untuk membatalkan janji karena harus nemenin istrinya, dia marah secara hiperbolis sampe banting HP segala (ups... jadi inget seorang teman di MP). Rianti Cartwright berakting "ya... gitu deh", tapi yang lumayan menarik adalah adegannya waktu periksa ke dokter kandungan. Dokternya lumayan deh, rada lucu dikit tapi kayaknya mustahil ada dokter sengocol itu. Masa nyampein hasil tes HIV positif kaya ngasih tau undangan rapat RT. Sedangkan yang paling TOP OF THE POP bagi gue adalah Raymond Tungka sebagai anak kembar yang dipacarin sama Catherine Wilson.
Jadi ceritanya dalam rangka memenuhi target meniduri 100 pria, Catherine Wilson meniduri 2 kakak beradik kembar (Oya dan Oyi) yang dua-duanya diperankan oleh si Raymond. Kedua anak kembar ini nggak tau bahwa mereka pacaran dengan orang yang sama, sampe pada suatu hari salah satu dari mereka nggambar wajah si Catherine dan yang satunya langsung curiga, "Loh, ngapain lo nggambar2 cewek gue?"
Singkat cerita kedua anak kembar ini lantas sadar selama ini udah digilir sama Catherine dan sebagai balasannya mereka mau ngerjain Catherine dengan cara bertukar peran. Jadi pada saat Oyi dapet giliran jalan bareng Catherine, yang muncul adalah Oya dan sebaliknya. Trus, gimana caranya biar Catherine nggak curiga? Mereka menyamar dengan cara... tukeran anting. DUH. Trus setelah sekian lama mereka ngerjain Catherine, si Oyi mulai nggak tega. "Lama-lama gue jadi kasian sama Brazil," katanya "Ah gimana sih, kok elo jadi lemah gini!" kata kembarannya.
Adegan berganti, cerita berjalan membahas tokoh2 lainnya hingga balik nyeritain anak kembar itu lagi dan dengan setengah nggak percaya gue mendengar mereka berdialog: "Lama-lama gue jadi kasian sama Brazil," "Ah gimana sih, kok elo jadi lemah gini!" Loh... loh... loh... kok kayak pernah denger??
Lama kelamaan problematika masing-masing tokoh makin ruwet tak terkendali hingga sang sutradara pun tak kuasa menyelesaikannya. Akhirnya terjadilah takdir yang telah digariskan di film2 Indonesia sejak jamannya Oom Roby Sugara dahulu kala yaitu: mereka semua mati. Ceritanya mereka berlima mau berangkat manggung trus mobilnya kecelakaan dan empat di antaranya mati. Yang lolos dari maut adalah Luna Maya, dan temen-temennya pada nitip pesen terakhir untuk disampein ke keluarga masing-masing. Itulah sebabnya film ini dijuduli "Pesan dari Surga".
Ooo... gitu toh.
*contoh kasus: film2 sejenis "Irreversible"-nya Monica Belucci gitu loh.
Hari senin kemarin, terdengar sedikit kehebohan di kalangan temen2 kantor gue. Mereka nampak sedang mengerumuni sesuatu sambil cekikikan secara mencurigakan. Gue, tentu aja langsung mendekat.
Ternyata mereka lagi mengerumuni sebuah bulletin nasabah. Buat yang punya rekening tabungan di bank pastinya pernah nerima bulletin seperti ini, yang disisipkan di dalam amplop berisi laporan saldo bulanan. Isinya biasanya nggak jauh dari perkenalan produk-produk baru bank serta tak lupa kata sambutan dari boss bank yang bersangkutan.
Berhubung sebentar lagi musim liburan, maka bulletin nasabah bulan ini nggak lupa memuat artikel berjudul "TIPS AGAR FIT SELAMA BERLIBUR". Isinya ya kurang lebih hal-hal yang mungkin bayi Rafi juga udah tau seperti "jangan jajan sembarangan" atau "jangan mengabaikan jadwal makan" atau "jangan lupa membawa cemilan yang bergizi untuk bekal di jalan". Tapi ada satu poin yang amat sangat menarik perhatian dari tips tersebut yaitu:
"luangkan waktu untuk berolahraga, misalnya sempatkan diri untuk berenang di hotel atau LEMASKAN OTOT-OTOT YANG KAKU DI KAMAR HOTEL ATAU DI KAMAR KECIL."
... ...... ...sebentar, sebentar...
Kira-kira aktivitas APAKAH yang secara SPESIFIK dilakukan di KAMAR HOTEL atau KAMAR KECIL yang dapat melemaskan otot??
Repotnya lagi, poin yang ambigu ini juga dapat mengundang spekulasi yang lebih lanjut seperti:
Apakah bila kita merasa ada sebagian "OTOT" yang kaku maka kita sebaiknya segera menuju ke kamar hotel atau kamar kecil?
Apakah bila kita memasuki kamar hotel atau kamar kecil dengan "OTOT" yang kaku maka setelahnya kita akan menjadi LEMAS?
Apakah ada alternatif lain di luar kamar hotel dan kamar kecil yang juga dapat me-LEMAS-kan "OTOT" yang kaku?
Apakah dengan demikian kita patut berhati-hati dalam memasuki kamar hotel atau kamar kecil karena setelah keluar dari sana kita dapat menjadi LEMAS?
"OTOT" apakah yang bila menjadi kaku hanya dapat di-LEMAS-kan di kamar hotel atau kamar kecil?
Apakah proses pe-LEMAS-an otot yang terjadi di kamar hotel atau kamar kecil terjadi secara suka rela atau harus melalui paksaan tertentu?
Di manakah kita bisa menemukan hotel tertentu yang menyediakan fasilitas untuk me-LEMAS-kan OTOT kaku di kamar hotel atau minimal kamar kecilnya?
Bener-bener sebuah tip yang kontroversial.
Buat mas / mbak yang kerjanya nulis bulletin nasabah, mbok ya lain kali kalo bikin tips yang tidak terlalu menimbulkan keresahan masyarakat gitu loh.
"Suami lagi ngapain...?" "Lagi standby." "Standby untuk apa?" "Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."
Cerita berawal beberapa minggu yang lalu, di mana boss di kantor
merencanakan untuk menggelar workshop penyusunan budget 2007 di
Bandung. Tadinya yang ditunjuk sebagai panitia urusan akomodasi adalah
temen gue yang bernama Nanda, tapi karena ybs sakit pada saat-saat
genting menjelang hari-H, maka guelah yang mendapat "kehormatan"
menduduki "tahta" sebagai seksi akomodasi.
Singkat cerita, dengan perjuangan yang sulit dan berliku, akhirnya gue berhasil membooking hotel Bilique
di bilangan Setiabudi Bandung. Boss menugaskan gue melakukan seluruh
proses booking, tapi guenya nggak perlu ikut workshop. Nanti saat
workshop berlangsung, gue tinggal oper urusan akomodasi di lapangan
kepada the one and onlyOom Jo.
Tanggal 11 September, sehari sebelum para peserta dijadwalkan mulai
check-in ke hotel, seluruh urusan booking hotel dan ruang meeting udah
gue beresin dari Jakarta, termasuk booking restoran2 tempat makan
malam. Gue udah happy aja ngebayangin mulai tanggal 12-16 September
kantor akan kosong yang mana merupakan iklim yang sangat kondusif untuk
makan siang secara molor dan pulang kantor secara on-time. Sementara
itu, Om Jo kebagian tugas menjemput boss yang baru pulang dari luar
negeri (Thanks God kali ini dia nggak makan indomie sebelum berangkat).
Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor, terjadi perbincangan yang kurang lebih berbunyi sbb: "Jo, gimana hotel, udah beres?" "Udah mbak." "Jadinya kita pake berapa kamar?" "Hmm... lupa. Daftarnya ada di Agung." "Trus nanti kita makan malam di mana aja?" "Tauk ya. Agung tuh yang atur." "Mobilnya cukup nggak nih untuk ngangkut peserta dari hotel ke restoran?" "Cukup kali ya? Daftarnya ada di Agung." "Haduuuuh....gimana sih ini, jadi nggak tenang saya, ya udah kalo gitu Agung besok diajak aja ke Bandung!"
=GUBRAXXXXX!!=
Seandainya si boss mau nunggu beberapa puluh menit lagi untuk
menanyakan pertanyaan2 tsb di kantor.... tapi ternyata takdir
menentukan lain. Maka besokannya berangkatlah gue ke Bandung diiringi
derai air mata istri yang
seumur-umur pernikahan belum pernah ditinggal lebih dari 1x24 jam.
Setelah gue sampe di Bandung, terjadilah pembicaraan telepon di awal
posting ini.
"Suami lagi ngapain...?" "Lagi standby." "Standby untuk apa?" "Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."
Jadi begini ya, istri. Di Indonesia dikenal sebuah kegiatan bernama
"standby". Untuk lebih jelasnya tergambar dari jadwal kegiatan gue
selama di Bandung berikut ini:
12 September 2006
18.00
Sampe di Bandung mendahului rombongan untuk 'mempersiapkan segala sesuatu'
(yang mana udah siap dari kemarin). Makan malam di Suis Butcher
Setiabudi. Menu: Chicken Cream Soup dan Tenderloin steak. Beli Tiramisu
juga, dibungkus.
19.30
Sampai di hotel Bilique, ngecek ruang meeting yang akan dipake besok. Ada sedikit kesalahan lay-out ruang.
23.00
Kesalahan lay-out ruang
berhasil diperbaiki oleh pihak hotel. Gue balik ke kamar, standby
sambil main game di laptop. Makan Tiramisu.
13 September 2006
01.00
Rombongan dari Jakarta
sampe di hotel. Ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Bikin desain
kartu ucapan terima kasih bagi peserta meeting hari pertama.
03.00
Tidur
08.30
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30
Mengemban misi, "nyetak digital ucapan terima kasih buat peserta". Berangkat naik angkot ke Balubur.
10.15
Selesai nyetak digital di Balubur, jalan-jalan ke warnet Atheroz di Sulanjana. Ngempi.
11.30
Mulai lapar. Pergi dari
Atheroz menuju resto "Nyonya Rumah" di Tirtayasa. Eh, kebetulan di
tengah jalan ketemu mertua. Nemenin mertua makan ikan bakar di jalan
Diponegoro sambil ngobrol ketawa-ketawa.
12.30
Mertua selesai makan ikan, gue melanjutkan perjalanan ke Nyonya Rumah. Makan sate campur gado-gado lontong... hmmm... yummy.
13.45
Selesai makan siang, balik ke hotel.
14.15
Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
16.00
HP bunyi, dari Oom Jo di
ruang meeting. "Friend, kita lagi coffee break nih, banyak makanan."
Turun ke ruang meeting, nyemil sambil ngopi.
16.30
Balik ke kamar, melanjutkan standby sambil bobo siang.
18.00
Mandi, siap2 makan malam
19.00
Makan malam BBQ di depan api unggun. Steaknya empuk dan sedap. Gue makan 3 potong.
21.00
Jalan2 ke Kampung Daun, booking tempat untuk acara makan malam besok.
23.00
Balik ke hotel, orang2 lagi pada karaokean. Ikutan nyanyi sampe serak.
14 September 2006
02.00
Capek karaokean, pindah ke Famestation nonton band.
03.00
Balik ke kamar hotel, tidur.
08.30
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30
Mengemban misi, "mau
nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke dua".
Berangkat naik angkot ke Balubur. Kenapa nggak sekalian dicetak
kemarin? Supaya hari ini ada alasan jalan2, gitu loh.
10.00
Selesai nyetak, jalan2 ke warnet Atheroz. Ngempi.
11.30
Lapar. "Hmmm... makan siang di mana ya?"
Oh iya, besok kan rombongan mau makan malam di Bumbu Desa, kalo gitu
makanannya harus dibooking dari sekarang dong. Berangkat ke Resto Bumbu
Desa Pasir Kaliki untuk ngatur menu.
11.40
Pas lagi nunggu angkot mendadak timbul ide, "jalan2 dulu ah ke toko Celebrate Dago, liat2 mainan".
12.20
Puas liat2 mainan, betulan berangkat ke Bumbu Desa PasKal, pesen makanan.
12.50
Selesai urusan di Bumbu Desa, jalan2 di Istana Plaza cuci mata.
13.30
Makan siang di resto "The Taste". Menu: Nasi tutug oncom dengan dada ayam goreng kering. Hmmm... yummy....
14.00
Selesai makan siang, beli donat J.Co buat cemilan di hotel. Balik naik angkot.
14.30
Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
15.00
Boss nelepon dari ruang meeting "Gung, kamu ada di mana?" "Di kamar, kenapa mbak?" "Ooo... kirain udah pulang ke Jakarta, abis perasaan selama di sini saya nggak pernah ketemu kamu."
Huhuhu... nyindir niii....
16.00
Siaran ulangan. "Coffee break friend...". Turun ke ruang meeting, numpang nyemil doang, naik lagi ke kamar, nerusin bobo siang.
18.00
Mandi dan siap2 makan malam.
19.00
Makan malam di Kampung
Daun. Menu: karedok, sate ayam dan kambing, gurame bakar. Selesai makan
dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul, sambil cengengesan.Standby.
22.00
Bersama rombongan balik ke hotel.
22.30
Karaoke lagiiii....
15 September 2006
03.00
Selesai karaoke, tidur.
08.00
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30
Kembali mengemban misi,
"mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke
tiga". Kali ini beberapa temen gue kebetulan mau belanja di FO Dago.
Nebeng sampe Dago.
Boss mengadakan meeting kecil dengan panitia, say thank you atas partisipasi dan "kerja keras"-nya. Peserta ternyata langsung membubarkan diri, acara makan di Bumbu Desa dibatalkan.
16 September 2006
10.00
Pulang ke Jakarta, bawa oleh2 kue Prima Rasa.
Atau berdasarkan definisi, "standby" di Indonesia berarti:
stand.by /[stænd-bahy]/ -verb, noun, adjective, slang. Kata
lain untuk kegiatan nongkrong-nongkrong, ketawa-ketawa, ngerokok,
tidur-tiduran, main-main, serta kegiatan kontra-produktif lainnya
sebagai akibat dari ketidakjelasan pengaturan tugas dan/atau saat
seseorang dilibatkan dalam sebuah kegiatan yang sama sekali tidak
memerlukan kehadirannya. Merupakan kegiatan yang paling digemari serta
paling dikuasai oleh orang Indonesia.
Contoh lain aplikasi istilah "standby":
Kalo di kelurahan lagi ada acara panggung tujubelasan, lantas
semalam sebelum hari H para pemuda setempat kedapatan ngobrol ngalor
ngidul semaleman di lokasi acara, sambil ngopi dan ngemil kacang asin,
maaf, mereka bukannya lagi iseng. Mereka lagi standby.
Kalo lagi ada acara bakti sosial yang butuh kegiatan
mengangkat-angkat barang sumbangan tapi ternyata ada sebagian peserta
yang bukannya bantuin nggotong malah nongkrong sambil cengengesan,
maaf, mereka bukannya males. Mereka sedang sibuk standby.
Kalo abis lebaran orang pada masuk kantor cuma buat
salam-salaman dan ngemil lapis legit serta bertukar pengalaman mudik
dilanjutkan dengan browsing detik.com sampe sore, mereka bukannya
kurang kerjaan. Lha itu, mereka lagi repot-repotnya standby.
Jadi, standby ya standby, nggak perlu penjelasan standby untuk apa -
yang penting standby, gitu loh istri.... jadi jangan sirik yah kalo
suami 4 hari terkesan cuma tidur2an dan piknik dibayarin kantor, ini
suami lagi sibuk standby...
Di sebuah minggu pagi yang cerah, gue sarapan bubur ayam bareng Eriq, Bayu dan Putra.
Selesai makan, Eriq beraksi menjepret2kan kamera pohonnya. Abis itu gue
lupa untuk tujuan apa, Eriq membuka-buka tempat batre kameranya. Kalo
nggak salah dia mau ngasih liat bentuk batre yang dipake oleh kamera
tsb. Tiba-tiba dia teriak, "Adooow..!!"
"Kenapa riq?"
"Kesetrum batre," jawabnya.
"Gue baru tau, batre kecil gitu bisa nyetrum juga ya?"
"Ya iyalah, asal lo pegang 2 plat logamnya ini, dia nyetrum."
"Oo.."
Berikutnya Eriq mengajukan pertanyaan spektakuler, "Emangnya dulu waktu kecil nggak pernah njilat batre 9 volt ya?" seolah-olah menjilat batre adalah kegiatan yang lazim dilakukan anak2 seperti main gundu atau layangan.
"Ya enggak lah, ngapain juga jilat2 batre, kaya nggak ada kegiatan lain
yang lebih menarik aja! Gue rasa cuma elu doang riq anak kecil yang
suka jilat batre."
Tak disangka tak dinyana, Bayu nyeletuk dengan kalem: "gue juga pernah..."
Sedangkan Putra mengaku belum pernah jilat batre.
Pertanyaannya sekarang: hayoo... siapa lagi pernah kesetrum krn jilat batre 9 vol? Silakan isi pollingnya ya!
ren terbaru di dunia pertelevisian
Indonesia yang serba latah ini adalah: bikin kuis SMS tengah malam.
Durasi kuisnya (kalo nggak salah) setengah jam. Cara mainnya, pemirsa
di rumah kirim SMS ke nomor yang mereka sebutin. Nanti pengirim SMS
yang beruntung akan ditelepon dan diberi kesempatan untuk menjawab
pertanyaan yang terpampang di layar. Pertanyaannya jenis utak-atik kata
gitu deh.
Tapi bukan cara mainnya yang mau gue bahas di sini, melainkan nasib pembawa acaranya.
Lo
bayangin aja: musti melek jam 2 pagi, bawain acara kuis yang disiarkan
langsung, tanpa tau apakah di luar sana ada yang nonton atau
enggak. Kalopun ada yang nonton, kurang jelas apakah mereka akan cukup
peduli untuk kirim sms seharga 2000 perak. Hasilnya, gadis malang
pembawa acara harus ngoceh nyaris non-stop selama setengah jam dengan
bahan obrolan yang makin lama makin garing.
Kutipan dari acara "SMS Iseng" dari TPI, kurang lebih sbb:
"Yak
pemirsa... saya beri waktu satu menit untuk mengirimkan SMS sekarang
juga! Ingat, satu menit lho ya... wah waktu yang sangat singkat sekali
bukan? Yak sambil menunggu sms anda masuk, mungkin anda sekarang bisa
membayangkan apa yang bisa Anda lakukan dengan hadiah 10 juta ini.
Mungkin anda mau berlibur? Jalan-jalan barangkali? Misalnya... ke...
puncak... menikmati udara segar bersama keluarga... Bisa! Bisa dengan
hadiah 10 juta ini. Wah... nampaknya waktu satu menit sudah habis,
pemirsa. Apakah Anda sudah mengirimkan SMS? Apa, belum? Yak, kalau
begitu waktu akan saya tambah menjadi satu setengah menit lagi,
mulai dari sekarang. Nah sambil menunggu sms yang masuk, saya hendak
mengajak anda membayangkan apa yang bisa dilakukan dengan uang hadiah
sebesar 10 juta. Hmmm... mungkin anda bisa jalan-jalan ke bandung?
Belanja-belanja di factory outlet? Bisa! Atau mungkin... "
...dst dst.
Tiap
malem tuh cewek harus ngomong sendirian di depan kamera, ngoceh hal-hal
ga jelas, gue sih khawatirnya keterusan. Keterusan hobi ngomong
sendiri, maksudnya.
Tapi seapes-apesnya cewek pembawa acara "SMS Iseng" masih lebih apes nasib pembawa acara "Kuis BOLAM"
dari Lativi. Jobdescnya sama, aturan main sama, cuma untuk "Kuis BOLAM"
masih harus ditambah dengan resiko masuk angin akibat harus pake baju
minim dan hadiah yang kalah pamor...
Pesan moralnya: jangan kira pekerjaan sebagai pembawa acara tivi itu gampang dan enak.
emalem ceritanya gue tumben bisa pulang
kantor saat matahari masih menyala. Semangat masih tinggi, jadi gue
langsung menuju tempat olah raga. Di locker, gue ketemu dua orang
cowok. Dua-duanya bertubuh kekar atletis, ototnya betonjolan. Yang satu
nampak udah mau pulang, sementara yang satunya baru dateng.
"Weh,
baru dateng lu Man?" tanya yang udah mau pulang. FYI, "Man" dilafalkan
'men' lho ya, bukannya namanya firman atau iman atau sukarman.
"Iya nih. Cape banget gue hari ini," kata yang baru dateng dengan suara berat dan gaya cool.
Habis
itu mereka berdua ngobrol ini itu soal program latihan sampe akhirnya
yang cowok yang udah selesai latihan pamitan mau pulang. Pembicaraan
tersebut berlangsung dengan sangat cool, kalimat pendek2, pokoknya
macho.
"OK Man, gue cabut dulu ya." kata yang udah mau pulang.
"OK," kata yang baru dateng.
Baru beberapa langkah temennya pergi, mendadak cowok yang baru dateng terdiam seperti baru inget sesuatu.
"Eh Man!" dia memanggil temennya.
"Yes?"
Dengan nada dan ekspresi yang sangat berbeda dengan sebelumnya, dia mengumumkan,
"Semalem marmut gue melahirkan..."
"Wah selamat ya", kata temennya dengan nada yang tak kalah lembut, turut berbahagia.
Habis
itu mereka berdua ngobrol lagi sebentar, membahas proses kelahiran si
marmut. Gue, tentu aja, segera menyingkir untuk mencari tempat yang
aman untuk ketawa.
Pesan moralnya:
Tidak semua pria kekar memelihara doberman, kalajengking, atau buaya.
Udah lama nih nggak nerusin serial "penemuan hari ini". Hari ini serial
"penemuan hari ini" kembali dengan sebuah penemuan yang mungkin
memecahkan rekor sebagai penemuan paling nggak penting yang pernah gue posting selama ini. Mungkin bahkan lebih nggak penting ketimbang penemuan gue yang ini.
Buat para penggemar rokok Gudang Garam
Filter mungkin tau bahwa di bagian bawah bungkusnya tersembunyi sebuah
nomer. Tapi akhir-akhir ini nomer tersebut menghilang, digantikan
dengan kode CMYK percetakan, seperti ini:
Baru hari ini gue menemukan bahwa ternyata nomer rahasia itu bukannya
dihilangkan, tapi cuma sekedar pindah tempat. Sekarang dia berada di
bagian TUTUP, seperti ini:
Nah, semoga para pembaca yang selama ini kebingungan mencari ke mana
perginya nomer di bungkus Gudang Garam Filter bisa terbantu dengan
informasi ini.
Eh sebentar... apa? Apa manfaatnya nomer tersebut bagi kita? Wah, banyak sekali. Contohya:
Buat game "menebak angka" ketika memasuki periode garing dan basi kehabisan bahan obrolan saat lagi nongkrong bareng temen.
Buat panduan "nomor keberuntungan hari ini".
Buat inspirasi menentukan trayek bis yang akan dicegat saat lagi nggak tau ingin pergi ke mana.
As requested by Ari di journal yang ini, nih gue upload lagu Ngapain Kumati. Gimana ri, masuk kan?
Lagu ini gue persembahkan bagi para pria patah hati di luar sana - ingat: putus cinta bukan berarti putus nyawa..!
Gue sertakan juga liriknya:
Ngapain Kumati
Biar aja nggak pa-pa Biarpun kau nggak mau kepadaku Tlah kuhabiskan sejuta rupiah Membawakanmu aneka hadiah
* Ngapain ku mati karenamu Sedangkan banyak cewek antri mendambakanku Ngapain ku buang-buang waktu Hanya demi cinta yang kurang jelas juntrungannya Jangan kira ku akan menunggu nanti juga kamu yang akan menyesal telah menolak aku
Bukannya mau nyombong masih banyak yang lain mengharapku Mulai dari perawan pedesaan Hingga si manis yang putri pak guru
kembali ke *
Tuh, baru aja ada telpon untukku ngajakin jalan ngajakin dugem banyak yang mau menghibur daripada basi Mending happy happy sampai tua bangka
UPDATED: Versi yang jauh lebih "dalem" penghayatannya bisa didownload di sini. Live in concertnya, bisa ditonton di sini
"Kroco..
sini." "Ya, Bapak Pimpinan." "Habis ada gempa
ini, kroco." "Betul Bapak Pimpinan." "Sebagai
partai besar di sini, kita harus turut berduka cita." "Setuju
sekali Bapak Pimpinan." "Kita harus pasang spanduk." "Pasang
spanduk, Bapak Pimpinan." "Tulisannya, 'turut berduka cita atas
bencana gempa'" "Ehm..." "Kenapa, kroco?
Kurang OK ya?" "Anu Bapak Pimpinan, menurut hemat saya,
kita kan berduka cita karena bencana gempanya menimbulkan korban jiwa, Bapak
Pimpinan." "Iya. Terus kenapa?" "Jadi
kita kan berduka cita kepada korbannya, bukan bencananya. Sebab kalau ada bencana tapi tidak ada korban kan
kita tidak perlu bikin spanduk, Bapak Pimpinan. Maaf lho ini Bapak Pimpinan,
bukan bermaksud kurang ajar." "Ya tapi kalau tidak ada korban kan namanya
bukan bencana, kroco..." "Tapi kan yang bikin kita berduka karena
korbannya banyak, Bapak Pimpinan." "Kroco, kamu bikin
saya pusing." "Maaf, Bapak Pimpinan." "Percuma
ngomong sama kamu. Kacung kampret... sini!!" "Ya, Bapak
Pimpinan." "Kamu dengar tadi saya suruh apa kepada si
kroco ini?" "Dengar sedikit sih pak. Spanduk, bencana,
turut berduka, gempa, korban." "Ya udah sana.
Bikin." "Eee... jadinya kita berduka cita atas
apanya nih pak, gempanya atau korbannya?" "Atas
gempanya kek, atas korbannya kek, terserahhh...! Yang penting kita berduka
cita! Bikin sana, buruaaan...!! Keburu ada gempa lagi, tauk!" "Baik pak, baik pak... segera pak!"
Beberapa
hari kemudian... "Bapak Pimpinan, spanduknya sudah saya
pasang di depan." "Ya, kacung kampret, saya sudah
lihat." "Bagaimana pak, betul kan pak?" "Grrrhhh...."
(sambil menarik-narik rambut).
(lokasi: kantor sebuah
parpol di Pegangsaan, Jakarta Pusat)
aat mempelajari hal baru, gue biasanya berusaha bikin
struktur pemahaman sendiri biar pengetahuan baru itu lebih mudah dicerna. Waktu
harus ngapalin puluhan teori psikologi di bangku kuliah, misalnya, gue bikin singkatan-singkatan,
diagram, dan contoh-contoh kasus yang aneh-aneh dan kalo bisa jorok biar
belajarnya jadi menyenangkan. Makin aneh dan jorok contoh kasusnya, makin
nempel teorinya. Salah satu yang paling sukses adalah waktu gue menularkan
cerita adaptasi dari buku humornya James Dananjaya untuk menjelaskan teori
prototaxic, parataxic, dan syntaxic dari Sullivan. Waktu itu menjelang sidang
sarjana, di mana semua orang nampak panik di depan diktat masing-masing berusaha
menghafal segudang teori, dan gue berkeliling mendatangi mereka satu per satu
berbagi contoh2 kasus jorok. Untuk teorinya Sullivan ini cerita gue berjudul "Orang
Arab dan Kambing Tetangga" - sebuah cerita yang terlalu rasis dan jorok untuk
di-share di sini, tapi waktu itu lumayan bisa menghibur temen2 gue yang lagi
stress. Repotnya, setelah sidang ujian selesai mereka pada mengeluh krn
ternyata cuma inget cerita jorok gue dan lupa isi teorinya Sullivan, hehehe...
Sekarang,
sebagaimana pernah gue ceritain di sini, gue kan
ceritanya lagi kursus gitar klasik nih. Tau sendiri dong, namanya gitar klasik
penuh dengan aturan njelimet yang dikemas dalam nama2 aneh dari bahasa apaan
tauk, entah spanyol entah itali entah latin deh tuh. Bahkan cara duduk dan
megang gitar aja ada aturannya.
Tentu aja semakin terstruktur pelajarannya, semakin
besar dorongan dalam diri gue untuk membuat struktur sendiri. Dan dengan sangat
menyesal, struktur karangan gue ini rupanya bikin guru gitar gue serasa ingin
gila krn setelah sekian bulan les sama dia, gue nggak hapal-hapal nama-nama not!.
"Mas Agung, ini not apa, coba?" "Hmmm...
apa ya... pokoknya itu petik tiga-pencet satu!" "Namanya
mas, namanya!" "Ya nggak penting lah namanya, pokoknya
bunyinya gini kan" (sambil memperdengarkan not tersebut). "Ya
betul, tapi namanya apa?" "Saya sih nyebutnya petik tiga-pencet
satu..." "hgjgkjgjkgjgjkgjgkgk..." (gemes).
Ya, cara
gue menghafal not adalah bukan dari namanya, tapi dari senar ke berapa yang
harus dipetik oleh tangan kanan dan di fret ke berapa tangan kiri harus
memencet... hehehe...
Untuk lengkapnya, not balok berdasarkan
"Sistem Petik-Pencet" gue adalah:
Posisi not
Senar yang
dipetik
Fret yang
dipencet
Nama Not
di atas garis yang paling atas
1
3
?
di garis yang paling atas
1
1
?
di spasi yang paling atas
1
nggak ada (lepas)
?
di garis nomer 2 dari atas
2
3
?
di spasi nomer 2 dari atas
2
1
?
di garis tengah
2
nggak ada (lepas)
?
di spasi di bawahnya garis tengah
3
2
?
di garis nomer 2 dari bawah
3
nggak ada (lepas)
?
di spasi paling bawah
4
3
?
di garis paling bawah
4
2
?
di bawah garis paling bawah
4
nggak ada (lepas)
?
di garis bantu 1 di bawah
5
3
?
di bawah garis bantu 1 di bawah
5
2
?
di garis bantu 2 di bawah
5
nggak ada (lepas)
?
di bawah garis bantu 2 di bawah
6
3
?
di garis bantu 3 di bawah
6
1
?
di bawah garis bantu 3 di bawah
6
nggak ada (lepas)
?
Jadi kalo disuruh main sebuah lagu, gue ngomong
sendiri: "satu-tiga, dua-lepas, dua-lepas, dua-lepas...."
dst. Di puncak rasa frustrasinya, si guru sampe bilang, "Saya heran liat ada orang nggak ngerti nama not tapi kok bisa
main lagu sih?"
Dan... oh iya, jangan lupa saat mulai belajar kord,
terjadi dialog berikut:
"Mas Agung, kord C itu terdiri dari not apa
aja?" "satu-lepas, dua-satu, tiga-lepas..." "hgjgkjgjkgjgjkgjgkgk..."
"Oh iya.. bassnya pake lima-tiga..." "......"
(speechless)
...huihihihihihi....
Buat yang lagi mau belajar gitar klasik: DON'T TRY
THIS AT HOME, ya!
ada suatu hari, keponakan gue yang bernama Nara ditelepon sama ibunya.
"Nara, hari ini mama akan terlambat jemput Nara karena masih ada urusan. Nara pulang sendiri aja dulu ke rumah eyang (=rumah gue), nanti Mama jemput di sana agak sorean. Bisa?"
Berhubung jarak antara sekolah Nara dengan rumah gue cuma sekitar 700 meter, Nara menjawab mantap, "Bisa Ma."
"Nanti Nara pulangnya bareng sama Nabil aja, kan searah tuh."
"Ok," kata Nara. Nabil adalah anak tetangga gue, umurnya sebaya dengan
Nara, dan rumahnya cuma berselang 2 rumah dari rumah gue.
Menuruti pesan Mamanya, Nara mendatangi Nabil.
"Nabil," kata Nara, "Hari ini Mamaku nggak bisa jemput. Boleh nggak aku pulang jalan kaki bareng kamu?"
"Hmmm.. sebenernya aku lagi nungguin Mamaku jemput," jawab Nabil, "Tapi ayo deh kita pulang jalan kaki sama-sama!"
Maka pulanglah kedua anak itu berjalan kaki. Setelah sampai di rumah
gue, Nara berkata kepada Nabil, "Terima kasih ya Nabil, udah nemenin
jalan kaki pulang."
"Sama-sama", jawab Nabil sambil balik badan.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Nara, bingung melihat Nabil malah menjauhi rumahnya yang udah tinggal bbrp langkah lagi.
Jawaban Nabil: "Aku mau balik ke
sekolah lagi, karena sebentar lagi mamaku kan mau jemput aku ke sana,
nanti kalo aku nggak ada Mamaku bingung..."