Agung's posts with tag: jalanan
Beberapa hari yang lalu gue jalan-jalan ke kota Palembang, dalam rangka tugas kantor. Di jalan gue ketemu sama sebuah rambu lalu lintas dengan sebuah kata yang bagi gue asing. Mungkin di kota-kota lain juga ada sih rambu yang memuat kata yang sama, tapi yang pertama kali gue liat adalah yang di Palembang ini. Ini dia rambunya: "APILL" What the hell is APILL?
Seperti biasa, gue cari di google dengan keyword "APILL jalan" - maksudnya untuk menyaring hasil pencarian berbahasa non-indonesia, dan kepanjangannya gue temukan di blog rizkibeo, dalam posting berjudul "tentang lampu merah": Di Indonesia, istilah bakunya disingkat APILL atau Alat Pemberi Isyarat Lampu Lalulintas
Ealaaa... ternyata APILL itu = traffic light toh... Gue nggak tau sejak kapan istilah ini diluncurkan, tapi beberapa halaman di internet yang memuat kata ini punya tanggal muat yang cukup lama.
Kali ini, kayaknya jelas akibat guenya yang kuper. Mari kita saksikan berapa orang lagi yang sama kupernya dengan gue, lewat hasil polling. Ayo, isi pollingnya! NB:Kalo kapan-kapan lo kena tilang gara-gara nyerobot traffic light yang kondisinya kaya gini, mungkin lo bisa membela diri dengan bilang: "ABIS APILL-NYA NYEMPIL SIH PAK...!"nggak lantas jadi bebas tilang sih, tapi kan lebih berirama, gitu. 
Iseng-iseng motret kemacetan parah di depan kantor tadi sore, jadi timbul ide untuk bikin wallpaper kampanye b2w... buat para penggemar b2w, silakan dicopy dan dipasang di komputer masing-masing. Kali aja bisa 'ngeracunin' kader-kader baru b2w :-) Untuk ngeliat versi besarnya, klik pada gambar berikut, lantas klik tombol kanan mouse dan pilih 'save picture as..." Ukurannya 1024 x 768 px.  Keterangan gambar: kemacetan di depan Graha Irama (kantor Indorama) HR Rasuna Said, Jakarta hari Senin 19 November 2007 sekitar jam 7 malem.

|  | Hari Rabu 10 Oktober kemarin lumayan sibuk buat gue. Ada satu temen yang nggak masuk sehingga kerjaannya numpuk ke gue, plus ada yang mau resign sehingga lagi-lagi gue bertugas memilih menu makanan berbuka, plus masih harus ngerjain kerjaan gue sendiri. Baru keluar dari kantor sekitar jam 9, trus mampir dulu di Menteng karena Ida ngidam minta dibungkusin Hoka-Hoka Bento (itu lho, restoran yang dulu jual nasi campur tai tikus, trus waktu customernya komplen malah customernya dimasukin ke penjara). Gue sih sampe sekarang amit-amit makan di situ lagi, apa daya istri doyan banget. Kembali ke topik cerita. Waktu lagi nunggu pesenan dibungkus, HP bunyi. Ternyata dari pinkq. "Mbot, tau nggak eriq, kecelakaan, sekarang masuk rumah sakit." "Haaah??!! Serius loh?" "Serius. Dia kecelakaan waktu naik sepeda, sekarang tangan kirinya patah, kepalanya dijahit, sepedanya belah jadi dua." Langsung teringat posting eriq beberapa hari yang lalu, yang lagi seneng-senengnya abis beli sepeda baru. Kasihan eriq, pikir gue, jangan-jangan dia diserempet pengendara kendaraan bermotor yang nggak bertanggung jawab... padahal lagi seneng-senengnya punya sepeda baru... udah mana kalo bepergian dia suka bawa-bawa gadget mahal-mahal... trus gimana dengan barang-barangnya itu? Jangan-jangan abis dijarah orang nggak bertanggung jawab...Wah, pokoknya segala pikiran buruk melintas di kepala, sambil prihatin memikirkan nasib si adik bungsu yang satu ini. Gue buru-buru nelepon istri di rumah, nyuruh siap-siap berangkat. Abis itu nelepon bayu yang rumahnya deketan, ngajak nengok bareng. Bayu setuju. Gue pulang, kasih bungkusan Hoka-Hoka Bento buat istri (yang mana ternyata kali ini nggak ada tai tikusnya. Mungkin karena pesanannya take away, tai tikusnya dipisah bareng sambel dan saos... mungkin lhooo.) abis itu nyuruh istri buru-buru makan. Alan nelepon, nanya detil kejadiannya. Sayangnya gue juga nggak tau banyak. Nggak lama kemudian bayu dan ade dateng naik taksi, trus kami langsung berangkat menuju RS Tebet. Di UGD udah banyak orang berkumpul, antara lain chika, nozqa, aryan, pinkq dan (ehm, tentunya) prazz. Juga ada ayahnya eriq. Kami satu per satu memperkenalkan diri. Pas sampe giliran gue... "Selamat malam oom, saya Agung..." "OH INI DIA YA ORANGNYA, YANG SUKA NGAJAK-NGAJAKIN ERIQ NAIK SEPEDA..!!??" "Eh... iya sih oom.. tapi... kan bukan saya aja yang..." "AAAH... NGAKU AJA, ERIQ SUKA BILANG DIAJAK AGUNG MBOT NAIK SEPEDA, INI KAN ORANGNYA..??!!" Memang sih gue tau si oom satu ini sedang dalam konteks bercanda, tapi kan kaget juga coy, baru dateng udah 'ditembak' kaya gitu. Berdasarkan penuturan ayahnya eriq, ternyata kejadiannya adalah: eriq terjatuh dari sepeda gara-gara menuruni jembatan penyeberangan model lama (yaitu jembatan berundak-undak yang bagian tengahnya ada ramp - BUKAN jembatan penyeberangan busway yang ramp semuanya) dengan cara MENAIKI SEPEDANYA (bukan dituntun). Sepeda eriq rupanya melaju terlalu cepat di luar kendali sehingga akhirnya nyungsep di dasar tangga. Huuuu... kalo begini ceritanya sih artinya kecelakaan terjadi akibat kecerobohan eriq... - padahal sebelumnya gue udah prihatin karena nyangka dia ditabrak orang. Jadi inget posting eriq beberapa hari sebelumnya tentang Markus Stoeckl yang memecahkan rekor dunia sepeda turun gunung tercepat hingga lebih dari 200 km / jam... jangan-jangan eriq mau niru aksi serupa tapi dalam skala lokal yaitu turun jembatan penyeberangan.. Buru-buru gue keluar ruangan, nelepon Alan untuk melaporkan kronologis kejadian yang baru gue denger dari ayahnya eriq. Eh, taunya alan malah ngaku dosa: "Wah, jangan-jangan gara-gara gue juga gung, karena hari ini gue abis chatting di YM sama eriq, ngomongin sepeda freestyle... itu lho, yang stunt-stunt lompatin bangku, lompatin pager... jangan-jangan dia mau niru itu." Denger pengakuan alan, buru-buru gue masuk lagi untuk ngadu sama ayahnya eriq, "Oom.. barusan ada yang ngaku nih oom, ngajar-ngajarin eriq sepeda freestyle... harusnya dia tuh oom yang perlu dimintai pertanggungjawaban... namanya alan, oom... tapi sayang orangnya ada di jogja..." "IYA TAPI KATANYA YANG PERTAMA NGAJAK-NGAJAKIN NAIK SEPEDA NAMANYA AGUNG MBOT..." "...ya tapi kan saya nggak pernah nyuruh dia turun jembatan penyeberangan naik sepeda oom.." Repot dah. Abis itu kami rame-rame ngobrol ngalor ngidul bareng ayahnya eriq sementara nunggu eriq lagi dijahit pipinya yang sobek. "Memang eriq itu susah betul dibilangin. Dulu waktu pacaran sama rebbi itu, oom juga udah bilangin, 'mana mungkin orang bisa kenal-kenalan di internet terus sampai kawin'. Eh dia malah ngotot, katanya temennya ada yang kenalan di internet terus sampe kawin....namanya.... Agung.. LOH, KAMU LAGI YA BIANG KELADINYA? SI ERIQ UDAH KAMU AJARIN APA AJA SIH SELAMA INI?!?" Hwaa... gue lagi, gue lagi yang kena. Untungnya topik segera beralih ke arah yang lebih menarik, "Tapi jangan kuatir oom," kata seseorang yang gue lupa siapa, "eriq sudah dapat gantinya yang lebih baik yaitu chika ini... kenalkan oom, ini calon menantu oom..." "Ooh... ini ya calonnya eriq? Kalo begitu nanti kamu bantuin calon ibu mertua zikir biar eriq cepet sembuh ya..." Gara-gara kehadiran ayahnya eriq, suasana di ruang UGD melah mirip suasana arisan - karena beliau malah asik-asik aja bercanda-canda sama kita-kita, sama sekali nggak menunjukkan raut muka prihatin. Gue tanya, "Oom, nanti kalo eriq udah sembuh, boleh naik sepeda lagi nggak?" "Oh, boleh dong! Harus, malah. Dia nggak boleh kapok. Masa baru jatuh sekali udah kapok, nggak boleh itu." Nggak lama kemudian, MP 01 alias Y.M. Ibu Presiden Srisariningdiyah berkenan hadir di lokasi, pas berbarengan dengan selesainya pak dokter menjahit robekan di pipi. Kami berbondong-bondong masuk diiringi tatapan senewen dari tim dokter untuk sekedar menyapa eriq. Eriq kayaknya masih belum ngeh gitu, cuma bergumam, "kok banyak banget sih yang dateng.." Abis itu giliran ibunya eriq dateng, dan bercerita versinya tentang kronologi kecelakaan. "Saya kira eriq udah nggak mau pergi ke mana-mana lagi, orang biasanya kalo malem dia cuma asik aja di depan komputer. Eh taunya waktu saya sedang shalat witir, dia pergi tanpa pamit naik sepeda, trus tau-tau aja saja dapat telepon dari satpam, mengabarkan 'anak ibu jatuh dari jembatan penyeberangan, sepedanya belah dua, harap segera ke sini karena dari tadi tidak berhenti mengaduh-aduh...' coba bayangkan gimana paniknya saya..." Pertanyaan yang tadi gue ajukan ke ayahnya, sekarang gue tujukan ke ibunya, "tante, dengan adanya kejadian ini, eriq masih boleh naik sepeda nggak?" "NGGAK BOLEH! Saya juga dari awalnya nggak sreg liat dia naik sepeda, orang udah bagus-bagus naik Terios kok malah naik sepeda.. katanya gara-gara dia suka diajakin temennya, siapa tuh namanya, yang suka naik sepeda..." Gue buru-buru minggir. Berhubung hari semakin malam, kami pamit sama keluarganya eriq. Eh kebetulan Ibu Presiden mengumumkan bahwa kedatangannya ke RS ini adalah dengan diantar oleh Paton, sosok misterius yang selama ini terkesan disembunyikannya dari interaksi dengan para MPers. Langsung dong, kami semua setengah memaksa untuk mengantar ibu presiden hingga ke mobil supaya bisa kenalan dengan 'calon bapak presiden MP indonesia' ini. Gue, tentunya, sangat bersyukur karena waktu berangkat tadi tidak lupa membawa kamera. Ibu presiden berusaha mencegah, katanya dia takut Paton ngambek kalo disatronin rame-rame. Sayangnya gertakan ini kurang mempan. Di lapangan parkir, bener aja... Ibu Presiden disambut oleh seorang pria yang nampak sedikit shock melihat kilatan-kilatan lampu flash yang mengepungnya bak serbuah paparazzi... tapi nggak terlihat tanda-tanda ngambek kok. Malah dia menyambut perkenalan kami dengan ramah. Setelah puas kenalan dengan paton, kami semua bubar jalan dan gue nggak sabar ingin segera nyampe rumah dengan niat.... buruan upload foto! |
 Bulan ini, DPRD DKI Jakarta kembali tampil dengan produk barunya: Perda no. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Perda ini mengancam berbagai pelanggaran ketertiban umum dengan hukuman kurungan mulai 10 hingga 180 hari, atau denda mulai dari 100 ribu hingga 50 juta perak. Ringkasan peraturannya gue baca di Majalah Tempo edisi 17 - 23 September 2007 halaman 42. Antara lain ngatur tentang larangan orang ngasih uang ke pengemis, beli barang dari pedagang asongan, buang sampah sembarangan, buang air sembarangan, dan... ngangkut barang bau dan berdebu dengan angkutan terbuka. Dan seperti biasa, gue nggak bisa menahan diri untuk membayangkan yang enggak-enggak. ***
Di suatu siang yang panas... "Selamat siang, Pak. Bisa pinggirkan mobilnya sebentar?" "Ada apa ya? Saya buru-buru nih." "Ehm. Begini Pak, Anda telah melanggar Perda no. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum dengan ancaman hukuman kurungan 10 hingga 60 hari atau denda 100 ribu hingga 20 juta." "Apaaa?? Emangnya saya salah apa?" "Mobil yang Anda kendarai ini... Mobil terbuka kan pak?" "Iya, ini Mercy SLK Convertible. So?" "Begini Pak, Perda melarang MENGANGKUT BARANG BERDEBU DAN BERBAU BUSUK DENGAN ANGKUTAN TERBUKA. Faktanya, mobil Anda terbuka dan Anda sendiri.... Bau, Pak." "KURANG AJAR KAMU YA!!""Mohon maaf pak, memang sudah peraturannya demikian." "Ok, ok... Tapi peraturannya kan melarang barang berdebu DAN berbau busuk. Artinya kalo cuma berbau busuk DOANG nggak melanggar dong?" "Betul juga ya, pak." "Nah saya kan cuma bau doang, nggak pake berdebu. Artinya boleh jalan lagi dong?" "Hmmm.... Yah apa boleh buat, silakan pak." Angin berhembus. "Pak... Pak... Tunggu dulu." "Ada apa lagi?" "Barusan ada angin lewat, Pak." "Trus?" "Nampaknya sekarang bapak berdebu. Sebentar ya pak saya cek.... Yak! Ternyata betul. Sekarang bapak telah memenuhi syarat sebagai barang yang BERDEBU DAN BERBAU BUSUK. Selamat. Silakan pinggirkan lagi mobilnya pak." ***
Pesan moralnya: buat para pemilik mobil sport convertible di jakarta, kalo mau bepergian jangan lupa mandi dulu. *posted by e-mail 

|  | Tadinya agenda kami untuk hari Minggu 2 September 2007 ini sederhana aja: nyekar ke makam bapak gue, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Nggak nyangka akhirnya hari ini jadi hari yang heboh banget! Tapi ceritanya panjang nih, buat yang lagi sibuk nggak usah dibaca juga nggak papa kok :-)
Gue dan istri berangkat dari rumah jam 3 sore. Tujuan: TPU Tanah Kusir. Tadinya kami bercita-cita naik Patas 16 jurusan Lebak Bulus, trus nyambung lagi naik Metro Mini jurusan Bintaro dari Arteri Pondok Indah. Ternyata P16-nya nggak lewat-lewat. Akhirnya naik bis Patas AC jurusan Ciputat (nomornya lupa, kalo nggak salah 76 deh).
Turun di perempatan Melawai, naik Metro Mini 74 jurusan Bintaro. Baru jalan sebentar, sampe di perempatan deket Bulungan tiba-tiba... BRAAAK.... Metro Mini gue nabrak Metro Mini depan yang lagi ngetem!! Untungnya nggak terlalu keras, jadi nggak ada penumpang yang cedera (minimal di Metro Mini gue ya, nggak tau deh di Metro Mini depan gimana). Yang jelas kaca belakang Metro Mini depan rada retak dikit.
Mudah diduga, insiden ini disusul dengan adu teriak antara supir dan kenek Metro Mini gue vs supir dan kenek Metro Mini depan. Dengan urat leher bermunculan, supir Metro Mini gue teriak ke keneknya, "UDAH TANYA AJA, DIA POOLNYA DI MANA, NTAR KITA BERESIN DI POOL!" Tentunya kenek Metro Mini gue menyampaikan pesan tersebut kepada kenek Metro Mini depan,"POOLNYA DI MANA? NTAR KITA BERESIN DI POOL!" Teriakan tersebut dibalas oleh teriakan lain dari kenek Metro Mini depan yang sayangnya kurang jelas terdengar. Supir Metro Mini gue nampak kurang sabar, lantas dia memberikan instruksi kepada keneknya, "CK, UDAH DEH, LAMA!! KITA JALAN AJA!"
Ngeeeng... Metro Mini gue kembali melaju. Di deket RSPP, nyaris terjadi insiden ke dua. Tiba-tiba ada motor memotong dari arah kanan, nyaris tegak lurus dengan arah lintasan Metro Mini. Ciiiit....! Metro Mini gue banting setir ke kiri diiringi alunan backing vocal jeritan para penumpang. Supir Metro Mini gue kembali berteriak kepada si pengendara motor, yang intinya menghimbau agar 'lain kali hati-hati dalam mengemudikan motor dan tidak suka memotong jalur lintasan kendaraan lain khususnya yang berukuran jauh lebih besar'. Teriakan tersebut dibalas oleh pengendara motor, yang intinya adalah himbauan agar supir Metro Mini 'lebih sering menggunakan matanya saat mengemudikan kendaraan'. Tentunya yang gue tuliskan di sini hanya inti percakapannya saja, sementara pemilihan kata dalam dialog yang sebenarnya cenderung lebih 'kasual'.
Menjelang pasar Mayestik, Metro Mini yang tadi ditabrak dari belakang rupanya masih panas hati. Dengan manuver yang lebih pantas dilakukan oleh kendaraan seukuran sepeda mini ketimbang Metro Mini, dia memotong Metro Mini dari sebelah kiri lantas menghentikan kendaraannya secara diagonal di tengah jalan. Pokoknya persis adegan di game NFS-Underground.
Karena jalan terblokir, terpaksa deh Metro Mini gue berhenti. Adu teriak kembali terjadi. Parahnya, yang terpaksa berhenti bukan cuma Metro Mini gue, melainkan praktis seluruh pengguna jalan di seputaran RSPP, Mayestik, Barito, hingga Bulungan. Dengan kata lain: macet total.
Beberapa pemuda berbaju lusuh yang entah muncul dari mana naik ke Metro Mini gue sambil berteriak-teriak, sementara supir Metro Mini gue nampak makin kesal. "UDAH LO PADA NGGAK USAH BERISIK DEH! ORANG SAMA-SAMA KULI AJA... NGAPAIN RIBUT SIH? URUSAN GUE BUKAN SAMA ELU-ELU PADE, TAPI SAMA JURAGAN LO! NTAR GUE BERESIN DI POOL!!"
Merasa terintimidasi oleh adegan demi adegan yang terjadi, beberapa penumpang memutuskan turun - termasuk gue. Pertimbangan gue antara lain karena setelah berada di luar Metro Mini, pencahayaan serta sudut untuk memotret bisa lebih leluasa.
Akhirnya, setelah adu teriak tanpa menemukan mufakat, kedua Metro Mini bermasalah berkenan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin sedikit banyak dipengaruhi oleh desakan puluhan pengguna jalan lainnya yang klaksonnya udah pada nyaris putus karena dipencetin terus dari tadi.
Gue dan istri melanjutkan perjalanan dengan selamat naik Metro Mini nomor 71. Nyekar sebentar di kuburan, trus kami melanjutkan perjalanan naik taksi. Tujuan kali ini adalah ITC Permata Hijau. Agendanya: beli baby walker untuk bayi Rafi. Dia sekarang udah bisa jalan sedikit-sedikit, dan mulai bosan dikurung terus di box bayi. Tadinya Ida mau beliin baby walker yang bentuknya mirip bangku beroda, tapi gue nggak setuju. Masalahnya dengan baby walker jenis itu, anak nggak belajar melangkah melainkan mengayuh seperti bebek berenang. Akibatnya malah anak semakin males berjalan karena cukup dengan mengayuh-ngayuh sedikit aja dia bisa bergerak jauh lebih cepat. Gue lebih suka baby walker yang didorong, karena anak dibiasakan untuk melangkahkan kaki - bukan mengayuh.
Setelah muter-muter di lantai dasar tanpa hasil, akhirnya kami sampe di sebuah toko di lantai 1 yang koleksinya lengkap banget. Dia jual aneka perlengkapan dan mainan bayi dan balita. Udah gitu untuk setiap item-nya dia juga menyediakan pilihan yang banyak banget. Dengan kata lain: ini tempat yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di bulan-bulan nanggung saat belum gajian.
Setelah tawar-menawar, akhirnya kami berhasil memboyong sebuah baby walker tipe dorong yang nampaknya cukup seru karena dilengkapi aneka tombol warna-warni yang bisa bunyi dan nyala. Tombolnya cukup banyak untuk membuat bayi Rafi kalap.
Berhubung udah kadung sampe di ITC Permata Hijau yang punya Carrefour di lantai basement, maka sambil menenteng dus baby walker seukuran 3 kardus indomi kami lanjut ke Carrefour untuk belanja popok dan susu bayi. Untung di sana ada penitipan barang, jadi untuk sementara gue bisa terbebas dari dus baby walker.
Proses belanja beres dalam tempo kurang dari setengah jam. Pas lagi bayar-bayaran di kasir, istri pergi duluan untuk ngambil titipan barang dan kembali dengan wajah berseri-seri. "Suami... suami... ayo cepetan bayarnya, ada Tukul! Ayo, kita foto bareng Tukul!"
Maka dengan tergopoh-gopoh membawa tentengan 4 kardus susu plus seplastik besar popok bayi plus beberapa barang lainnya, gue menuju ke tempat yang ditunjukkan istri, yaitu kios penjual minuman di depan dekat eskalator. Ternyata bener ada Tukul, lagi jalan-jalan bareng keluarganya. Tentu aja kehadirannya langsung menyedot perhatian pengunjung. Dia lagi dikerubuti orang yang minta foto bareng. Kasihan juga liatnya, orang cuma mau beli minuman doang jadi lama banget karena para fans bergantian minta foto bareng.
Puas foto bareng Tukul, perut lapar. Maka tujuan berikut adalah bubur ayam terenak di Indonesia, bubur Barito. Selesai makan, pas lagi bengong-bengong nunggu taksi, istri teringat pada niatnya kemarin yaitu ingin ngasih kado kue buat Ade dan Bayu yang hari Senin 3 September besok akan merayakan ulang tahun perkawinan yang pertama. "Telepon dulu," kata gue, "ntar tau-tau mereka nggak pulang ke kos." Maka istri nelepon Ade, ngibul dengan bilang kami akan mampir sepulang 'kondangan di bilangan Haji Ten'. Memang bener sih ada kondangan di Haji Ten, tapi kejadiannya udah sekitar 2 bulan yang lalu!
Ade memberikan jawaban positif sambil bertanya-tanya, kenapa tumben amat kami mendadak ingin bertamu malam-malam. Tanpa memberikan keterangan lebih lanjut, istri cuma bilang kami akan mampir sekitar jam 9 malam. Setelah teleponan dengan Ade, kami berhasil mencegat sebuah taksi dan meluncur pulang.
Sampe rumah sekitar jam 7 malem. Gue langsung sibuk bongkar pasang baby walker baru, sementara istri mengurus plastik-plastik belanjaan. Tiba-tiba..."Suamiiii.... susunya bayi ke mana ya?" "Lah, masa nggak ada?" "Nggak ada, ini cuma ada belanjaan peralatan masak." "Waduh... berarti... KETINGGALAN DI KIOS MINUMAN TEMPAT FOTO BARENG TUKUL!!" "Waaaa...."
Sial bener, 4 kotak besar susu bayi itu harganya nyaris sama dengan si baby walker. Istri langsung mengambil inisiatif, "Ya udah, aku balik lagi deh ke sana, kali aja masih ada." "Heh? Susu 4 kotak ditinggal di tempat rame gitu, pastinya udah disikat orang lah!" "Ya coba aja dulu, siapa tau kan?"
Maka istri balik lagi ke Permata Hijau, sementara gue meneruskan acara bongkar pasang baby walker. Sesuai dugaan, bayi Rafi seneng banget dengan mainan barunya.
Jam 8 lewat, istri pulang lagi dengan membawa kantong plastik berisi 4 kotak susu bayi. "Ketemu, susunya?" "Ketemu, disimpenin sama mbak-mbak yang jual minuman!" Ya ampun, baiknya si mbak itu. Gue doakan banyak rejeki deh. Buat yang sering belanja di Carefour Permata Hijau, gue himbau agar jangan lupa beli minuman di kios depan kasir di sana ya! Pokoknya cari aja kios minuman yang terdekat dari eskalator lantai 1, mengarah ke sebelah kanan.
Berhubung ada insiden susu ketinggalan, maka acara pembuatan kue untuk Ade dan Bayu jadi ikutan molor. Jam 10 malem baru selesai. "Telepon dulu, jangan-jangan udah pada tidur," kata gue. Maka istri menelepon Ade, yang ternyata masih bangun. Skenario masih tetap sama, yaitu ada kondangan di Haji Ten. Padahal, kondangan apaan sih yang baru bubar jam 10 malem?
Sambil menenteng bayi Rafi yang kebetulan terbangun, kami bertiga naik taksi ke Kramat Sentiong, tempat kosnya Ade dan Bayu. Wah, Ade sampe berkaca-kaca terharu menerima kado dari Ida. Senangnya kalo bikin surprise yang berhasil! Kesan-kesan Ade bisa dibaca di sini.
Sepulang dari rumah Ade dan Bayu, istri langsung tidur kecapean, sementara gue... hmm... ngapain lagi kalo bukan posting pengalaman seru hari ini :-)) |
 Sepulang dari acara bersepeda di kota toea, pundak kiri gue terasa kaku. Dalam perjalanan pulang udah terasa makin sulit mengendalikan sepeda, tapi gue paksain aja. Paling cuma capek, pikir gue. Malemnya, tu pundak terasa makin parah. Tangan kiri gue nggak bisa diangkat tinggi-tinggi. Megang kuping sendiri aja nggak bisa. Besokannya, sepulang dari kantor, gue memutuskan untuk berkunjung ke rumah Maman, naik ojek. By default, para tukang ojek yang mangkal di depan kantor gue akan langsung membawa gue pulang begitu gue nangkring di jok - nggak usah pake ngomong. Makanya kali ini gue bilang, "nggak ke rumah bang, ke rawajati timur. mau ke rumah temen." "mau main ya boss?" kata tukang ojeknya berbasa-basi "bukan, mau urut. Ini pundak gue kaku." "Oooh... kalo pundak kaku itu biasanya karena kurang minum air putih boss. Saya dulu juga pernah gitu, kurang banyak minum air putih badan terasa pada kaku. Makanya kalo pagi bangun tidur, jangan langsung ngopi boss, minum air putih dulu barang segelas..." tukang ojeknya menjelaskan panjang lebar. "Oh, gitu ya?" jawab gue sekedarnya. Buat gue, hubungan antara kurang minum dan badan pegel sama ngaconya seperti hubungan antara tangan kedutan dan mau dapet duit. Tapi demi sopan santun tentunya gue nggak buru-buru membantah pendapat tersebut. Toh ini cuma obrolan basa-basi. Anehnya, setelah ketemu dengan Maman, dia juga heran dengan kondisi pundak gue kali ini. "Ini bukan keseleo biasa nih gung. Kaya ada yang ganjel, gitu," kata Maman. Pulang dari tempat Maman, tumben nggak ada perbaikan yang berarti dengan lengan gue. Masih tetep aja kaku. Akhirnya tadi sore gue memutuskan untuk ke dokter spesialis bedah tulang di RS MMC, namanya dokter Thamrin Hasbullah. Pundak gue dipencet-pencet dan digerak-gerakin oleh pak dokter, terus disuruh rontgen. Foto rontgen-nya langsung jadi, trus gue kasih liat ke pak dokter. "Hmm... benar dugaan saya, ada endapan di sendi Anda. Kemungkinan ini adalah endapan uric acid (asam urat) yang telah mengkristal. Saat digerakkan, dia bergesekan dengan jaringan sendi, sehingga terasa sakit. " "Penyebabnya apa dok?" "Ya terutama makanan yang memicu produksi uric acid, misalnya suka makan jeroan, emping, udang, kol, bayam..." "Saya nggak doyan jeroan dan udang dok. Kol dan bayam sih makan tapi rasanya nggak banyak. Kenapa tiba-tiba bisa jadi endapan?" "Begini: pada dasarnya tubuh kita memproduksi uric acid setiap hari. Endapan bisa terbentuk di sendi bila konsentrasi uric acid dalam darah meningkat. Konsentrasi uric acid dalam darah bisa meningkat kalau kita makan makanan yang memicu produksi uric acid, ATAU kalau kurang minum..." Exactly like abang ojek said. Pesan moralnya: nilailah omongannya, bukan siapa yang ngomong. Dan kalo lo mendengar seseorang menyampaikan informasi yang konyol, coba introspeksi dulu - siapa tau justru elo sendiri yang kurang wawasan...  Artikel tentang uric acid serta asal muasal gambar ilustrasi bisa diklik di sini.
Apa jadinya kalo sebuah traffic light mengidap inferiority complex alias minder? Mungkin seperti ini:  ...dan ngomong-ngomong, rumah pojokan di seberang jalan, sekitar 10 meter di belakang traffic light minder itu, adalah rumah salah satu pejabat tinggi kepolisian.  Memang sih, yang berwenang ngurusin traffic light maupun dedaunan di jalan bukannya polisi, tapi minimal kan si bapak pejabat polisi itu bisa iseng2 nyeletuk, "Eh traffic light ini kok ketutupan daun sih? Coba kamu, wahai kroco, segera hubungi pihak berwenang deh, jangan sampai ada pelanggaran lalu lintas gara2 orang nggak liat traffic lightnya.." Atau minimal nyuruh salah satu kroco penjaga yang hari itu apes telat dateng, "Sebagai hukuman, kamu saya perintahkan potong daun di deket traffic light situ! Laksanakan!"FYI, menurut artikel di Gatra, listrik untuk menyalakan sebuah traffic light itu senilai Rp. 500 ribu per bulan. Asalnya dari duit pajak elu-elu semua, dan tujuannya untuk mengatur lalu lintas - bukan untuk ditutupin daun. Lokasi: perempatan jalan Sutan Syahrir dan Teuku Umar, Menteng.

|  | Tadi sekitar jam 11-an gue mengarah pulang ke kantor di Kuningan setelah ngeliput sebuah acara di Bekasi. Keluar dari tol muaceeeet... banget (untung supirnya bukan Kasirun). Ternyata biang keladinya adalah serombongan angkot merah jurusan Cibubur, entah mau menuju ke mana. Setelah berhasil menyalib rombongan angkot itu, jalanan jadi kosong melompong (liat foto terakhir).
Huh, gara2 konvoi angkot, gue jadi buang waktu ekstra nyaris setengah jam di jalan! |
Hari ini gue masih penasaran dengan kasus yang gue posting kemarin, khususnya untuk menjawab pertanyaan "benarkah Pak Muhammad Siri Mahmud itu kombes polisi?"Mas Tian udah ngasih nomor kontak BNN, tapi berhubung dari kantor gue nggak bisa akses MP maka gue nyari sendiri di google dan akhirnya nemu website bnn yang memuat nomor teleponnya. Gue telepon ke sana, pilih sambungan ke operator. "BNN selamat siang," terdengar suara seorang mbak-mbak menjawab "Selamat siang mbak, ini saya dari Wijaya Florist (ngarang aja biar cepet) mau kirim paket bunga untuk Bapak Muhammad Siri Mahmud, apa benar masih berkantor di BNN ya?" " Pak Siri Mahmud? Ooo... beliau sudah 2 tahun yang lalu PENSIUN, pak!" "Oh, jadi sekarang sudah tidak di situ lagi ya? Jadi ini paketnya nggak bisa saya kirim ke sana ya mbak?" "Nggak bisa Pak, saya juga nggak tau alamat rumahnya." "Ok mbak, terima kasih." Ternyata si bapak itu beneran pernah kerja di BNN tapi udah pensiun... tapi apakah kombes beneran atau enggak masih belum jelas sih. Gue juga nggak tau apakah semua orang yang kerja di BNN itu polisi? Atau ada tenaga dari lembaga lain? Pesan Sponsor:
Hari ini, gue dapet e-mail forward-an dari seorang temen dengan subject "Kualitas
Polisi Indonesia". Gue baca selintas, isinya tentang pengalaman
seorang cewek yang ribut di jalanan sama seorang polisi gara2 mobil serempetan.
Topik yang cukup sering beredar di kancah perforward-an, jadi awalnya gue nggak
terlalu tertarik. Tapi minat gue jadi sedikit terbangkitkan waktu gue
liat di bagian bawah e-mail ada signature nama lengkap, alamat kantor dan nomor
telepon si penulis. Pikir gue, kalo identitasnya lengkap gini minimal gue bisa
cross-check sama yang bersangkutan, apa bener ini kisah nyata atau sekedar hoax.
Isi lengkap e-mail yang cukup panjang itu bisa lo baca di sini, tapi
kurang lebih ringkasannya adalah: Tanggal 8 Mei
kemarin, penulis e-mail yang bernama Jeannie Kiagoes lagi berangkat ke kantor
naik mobil bareng suaminya. Di daerah Deplu Raya Pondok Pinang, mobil mereka
ditabrak dari kiri oleh sebuah mobil Carens warna abu-abu dengan nomor polisi B 8273 BR. Jeannie
dan suaminya turun, berhadapan dengan pengemudi Carens yang mengumumkan dirinya
adalah seorang KOMBES Polisi (setingkat Kolonel) dan menyatakan akan
mengganti kerusakan - tanpa meminta maaf. Jeannie lantas nyeletuk,
"Bapak, ngaku2 KOMBES POLISI tapi nyetir mobil sembarangan dan gak
nyontohin yang bener ke masyarakat". Bapak yang mengaku Kombes tadi
marah mendengar perkataan itu dan menunjukkan sikap akan memukul Jeannie. Suami
Jeannie melerai sambil mengatakan bahwa istrinya adalah perempuan dan sedang
hamil pula. Setelah kejadian tersebut, "pak Kombes" cabut
tapi tak lupa meninggalkan nama dan nomor HP-nya. Di email
yang gue terima, ditulis dengan jelas bahwa pengemudi Carens tersebut mengaku
bernama Kombes Muhammad Siri Mahmud, dengan nomor telepon 0813 183 75 848.
Sedangkan identitas Jeannie juga tertulis jelas di signaturenya yaitu Ms. Jeannie Kiagoes Free Trade Agreements Cluster Bureau for Economic Integration
and Finance ASEAN Secretariat 70A, Jalan Sisingamangaraja Jakarta 12110 - Indonesia Tel.
+6221 - 726 2991, 724 3372 ext.381 Fax. +6221 - 739 8234, 724 3504, 720 0848 email: jeannie@aseansec.org Sebagai orang yang sempet punya cita-cita jadi wartawan tapi belum
kesampean, rasa penasaran gue mulai timbul. Bener nggak sih kisah yang
diceritain di email ini? Bisa aja ini cuma propaganda seseorang yang ingin
mendiskreditkan polisi, ATAU ulah iseng seorang temen Jeannie yang ingin bikin
temennya kerepotan nerima telepon / email gelap. Maka gue angkat telepon, dan
pertama-tama gue hubungi Jeannie di nomor yang tercantum di signaturenya.
Automatic greeting yang menyambut gue mengkonfirmasikan bahwa nomer yang gue
hubungi memang betul kantornya ASEAN. Gue tekan nomor extension, dan akhirnya
terhubung dengan Jeannie Kiagoes sendiri. Lewat telepon, Jeannie membenarkan
bahwa dialah yang menulis email itu dan kejadian yang diceritakannya
bener-bener terjadi. Dia cuma mengirimkannya ke beberapa orang temen plus milis
yang dia ikuti, tapi nggak nyangka bahwa ternyata e-mail itu nyebar ke mana2
(jadi inget kasus pengokot). Setelah
menanyakan alamat e-mail gue, Jeannie lantas memforwardkan sebuah e-mail yang
berisi tanggapan teman-temannya atas peristiwa tersebut. Yang
menarik adalah; di email yang diforwardkan oleh Jeannie ini ada tanggapan dari
Bapak Benyamin Selawah, Divisi Telematika InterPol yang menyatakan
bahwa TIDAK ADA KOMBES BERNAMA MUHAMMAD SIRI MAHMUD DI DATABASE KEPOLISIAN!
Sebaliknya, di bagian lain dari e-mail itu juga ada 'laporan' beberapa orang
teman Jeannie yang mencoba menghubungi Pak Muhammad Siri ini dan menerima
pengakuan dari ybs bahwa dia memang betul seorang Kombes Polisi, pernah bertugas
di Sulawesi dan sekarang bertugas di Badan Narkotika Nasional. Nah lo,
mana yang betul nih? Jadi makin penasaran deh gue. Tadinya gue mau langsung
menghubungi Pak Muhammad Siri ini dari telepon kantor, tapi takutnya tau-tau
telepon gue dilacak trus kantor gue disangkutpautkan dengan 'tindakan menghina
aparat negara' kan repot. Sedangkan mau gue telepon dari HP gue sendiri,
resikonya kalo ternyata si Pak Muhammad Siri ini bertindak aneh dan meneror HP
gue, kan males juga. Awalnya gue mencoba melupakan urusan aneh ini, tapi
kok ya penasaran juga. Akhirnya tau nggak... gue memutuskan untuk beli kartu
perdana Simpati, KHUSUS untuk nelepon si Pak Muhammad Siri ini! Hehehehe...
temen-temen gue sampe pada heran, "lo tuh iseng banget, tau nggak
sih?" Bukan, ini bukan iseng. Ini naluri jurnalistik! Rekaman
lengkap pembicaraan gue dengan Pak Muhammad Siri bisa didownload dari attachment
posting ini, ukurannya 1.6 MB dalam format wma, durasinya 7 menit. Gue rekam
pake MP3 player yang didekatkan sama HP yang disetel pake loudspeaker, jadi
lumayan banyak distorsi sinyal di situ, tapi mudah-mudahan dialognya cukup terdengar
jelas. Dengan pe-denya gue memperkenalkan diri sebagai, "Agung dari
website mbot-multiply.com" - jadi kedengerannya seperti reporter dari Detik.com
or something, hihihihi... Intinya, Pak Muhammad Siri membenarkan bahwa udah
terjadi insiden lalu lintas dengan Jeannie, tapi dia membantah udah menabrak -
melainkan hanya 'serempetan sedikit'. Dia merasa udah menawarkan ganti rugi,
tapi malah menerima penghinaan dari Jeannie. Karena penghinaan Jeannie telah
menghina polisi dan tindakan itu adalah tindakan yang "tidak
benar". Pak Muhammad Siri membantah akan memukul Jeannie, dan
juga ketika gue tanya pendapatnya tentang pernyataan Benyamin Selawah bahwa
nggak ada kombes bernama Muhammad Siri, tanggapannya adalah, "Jangan
dimain-mainkan! Anda punya kenalan polisi atau tidak?" (Lho, apa
hubungannya pak?) Pak Muhammad Siri juga 'menantang' dirinya tidak takut
bila urusan ini dibawa ke Kapolri atau SBY sekalipun, dirinya terbuka untuk
didatangi bila hendak menyelesaikan urusan ini. Denger dia ngomong gitu ya
sekalian aja gue tanya, "Kalo gitu boleh tau alamat rumah
bapak?" Eh, dia nggak mau ngasih, heheheh... Ditanya soal di mana kantor
tempat bertugasnya sebagai polisi, dia juga menolak untuk menjawab, sebab
"Saya ini orangnya tertutup..." Lah, tadi katanya terbuka,
pak... Sayangnya, berhubung kartu perdana gue cuma punya pulsa 10 ribu, maka pembicaraan
mendadak terputus gara2 pulsa abis. Pertanyaannya sekarang adalah: - Jadi, Pak
Muhammad Siri ini polisi betulan atau bukan?
- Kalau ya, kenapa Pak
Benyamin Selawah menyatakan nggak ada kombes bernama Muhammad Siri? Apakah
databasenya nggak lengkap? Apakah dia hanya search di kalangan para Kombes
sementara Pak Muhammad Siri sebenernya bukan Kombes tapi sekedar mengaku-ngaku
Kombes? (jangan-jangan cuma Ajun Brigadir Polisi Dua, gitu). Atau, apakah
sekedar melindungi identitas sesama polisi dari aib? (kalo yang ini yang
terjadi, sayang sekali, efeknya justru sebaliknya).
Gue teringat sama salah satu
reply di email Jeannie yang ke dua, yang menginformasikan bahwa Pak Muhammad
Siri ini sekarang bertugas di Badan Narkotika Nasional. Gue lantas nyoba nyari
nomor telepon BNN, antara lain dengan nanya ke SMS polisi 1717 dan nelepon 108,
tapi nggak ada satupun nomer yang nyambung ke sana. Ada yang punya kenalan di
BNN, sekedar untuk mengkonfirmasi apa memang betul Pak Muhammad Siri ini
bertugas di sana? Anyway, pesan moralnya adalah: hari gini,
di jaman internet gini, main gertak dengan bawa-bawa nama besar kepolisian
untuk menyelesaikan urusan serempetan di jalan adalah tindakan yang tidak
bijaksana.
image gue pinjem dari sini
Pesan Sponsor:
Attachment: itv_msiri.zip

|  | Yah, kejadiannya nggak persis seperti itu sih. Jadi ceritanya dalam rangka mengoptimalkan gedung parkir di taman menteng, Pemda memberlakukan larangan parkir di sepanjang jalan HOS Cokroaminoto Menteng. Lucunya, biarpun ada larangan parkir di pinggir jalan besar ini, bukan berarti jalanannya jadi lebih lega karena ada sebagian jalan yang ditutup dengan pembatas - entah apa tujuannya. Hikmahnya buat para pengendara sepeda, lumayan ada 'jalur khusus sepeda' yang 'relatif' aman dari kendaraan bermotor - walaupun ada juga sih satu dua sepeda motor yang nyelonong masuk ke situ.. :-p
yah, walaupun bukan jalur sepeda betulan, bisa sedikit punya mimpi indah kalo jakarta udah punya jalur sepeda sendiri :-)) |
 Mudah2an belum pada bosen ya baca gue ngebahas tentang B2W. Selama ini gue banyak denger komentar orang tentang B2W, dan setelah nyoba ber-B2W secara langsung, gue bisa menilai bahwa anggapan-anggapan itu nggak benar / minimal nggak tepat. Di antaranya adalah: Naik sepeda lebih lambat daripada naik kendaraan bermotorMemang bener, bahwa kecepatan maksimum kendaraan bermotor bisa jauh di atas kecepatan sepeda. Tapi pertanyaannya, di tengah kemacetan Jakarta yang udah parah ini, berapa sih kecepatan maksimum yang bisa dicapai kendaraan bermotor? Coba perhatiin speedometer lo sendiri, seberapa sering jarumnya bisa mendekati angka 60-an, atau minimal 50-an deh. Yang ada kan baru jalan 30 udah kena lampu merah, balik ke 0 lagi. Jalan 20 sebentar, kena macet. Jalan 40, ketemu metromini ngetem. Sedangkan kalo naik sepeda, angka 20-an KM/H bisa dicapai tanpa harus ngoyo dan yang penting: konstan. Belum lagi sepeda bisa lebih fleksibel memilih jalan, melewati tempat2 yang mungkin nggak bisa dilewati mobil. Akhirnya, kalo ditotal-total waktu tempuh sepeda bisa sama atau bahkan lebih cepat dari kendaraan bermotor lainnya! Rumah gue terlalu jauh dari kantor, gue nggak akan kuat nggenjot sejauh itu.Sebenernya jumlah kilometer nggak terlalu relevan untuk menghitung effort yang harus dikeluarkan saat bersepeda. Yang lebih memegang peranan adalah kondisi jalanannya. Sebagai contoh: dari persimpangan Ciawi ke Taman Safari itu kilometernya nggak terlalu jauh, tapi kayaknya yang sanggup lewat sana naik sepeda hanya para atlet dan orang yang udah terlatih banget. Sebaliknya, dari Fatmawati ke Stasiun Kota itu jaraknya panjang, tapi berhubung jalannya relatif rata, gue juga sanggup! Di rute yang relatif datar, lo nggak perlu genjot terus2an kok. Kalo lagi capek ya biarin aja sepedanya gelinding sendiri. Pertanyaannya sekarang, apa iya rute dari rumah lo ke kantor seganas itu sehingga nggak mungkin dilewati dengan sepeda? Naik sepeda itu nggak nyaman. Kalo yang dimaksud dengan 'nyaman' adalah duduk santai di dalam kabin ber-AC, sepeda seanjrit apapun nggak akan sanggup memenuhinya. Tapi bersepeda juga punya 'kenyamanan' tersendiri, yaitu kesadaran bawa di jalanan, kita punya pilihan! Kalo lo kejebak macet saat naik mobil, lo cuma bisa pasrah. Kondisi jalanan telah menentukan nasib lo untuk stuck di titik itu. Tapi kalo lo naik sepeda, lo bisa naik ke trotoar, tuntun spedanya ke jalur seberang, naik jembatan penyeberangan, masuk ke gang sempit, dll. Naik sepeda itu berbahaya.Nggak lebih berbahaya dari naik motor, menurut gue. Biar gimanapun sepeda nggak bisa melaju secepat motor, jadi kalaupun jatuh bantingannya nggak akan sekeras bantingan jatuh dari motor. Lagipula, lo bisa melindungi diri dengan berbagai perlengkapan yang membantu menjaga keselamatan, misalnya helm, spion supaya bisa ngeliat kendaraan dari belakang, lampu sen, dan baju dengan warna menyolok biar mudah dilihat sama pengguna jalan lainnya. Kalo berangkat naik sepeda, nanti di kantor jadi capek dan ngantuk. Di awal-awalnya mungkin iya, karena badan lo belum terbiasa. Tapi setelah biasa, maka olah raga sebelum ngantor malah bikin daya konsentrasi lo meningkat. Baca posting gue yang ini deh kalo nggak percaya. Di kantor udah capek, masa iya pulangnya gue harus capek lagi genjot sepeda?Pada dasarnya, fisik lo nggak terlalu aktif saat ngantor. Paling apa sih aktivitas fisik orang saat ngantor? Paling duduk, ngetik, jalan sebentar ke WC atau dispenser air minum. Kalopun lo ngerasa capek setelah ngantor, itu lebih kepada capek secara psikis / pikiran. Justru pada saat seperti itu lo butuh olah raga sebagai penyegaran! Kalo naik sepeda, nanti terkena polusi malah makin nggak sehat. Makanya pake masker yang bener, yaitu masker yang bisa menyaring bukan cuma debu tapi juga gas yang berbahaya. Bisa dibeli di Ace Hardware. Jakarta terlalu panas, nggak nyaman untuk bersepeda. Ini katanya pak Nurrachman, kepala Dinas Perhubungan Jakarta, waktu ditanya kemungkinan Jakarta punya jalur sepeda sendiri. Pada kenyataannya, kalo lo berangkat ke kantor naik sepeda, artinya lo berangkat pagi-pagi sebelum cuaca panas. Sore waktu pulang, cuaca udah nggak panas. Lagipula, gue sih lebih memilih kepanasan tapi bisa terus maju ke tujuan, daripada kepanasan tapi stuck di tempat akibat macet! Image: tag B2W di sepeda Ida. Pesan Sponsor:
Satu problem yang selama ini menghambat gue untuk mencoba B2W adalah
karena nggak ada tempat untuk numpang mandi di sekitar kantor. Sementara namanya
juga abis nggenjot, walaupun sebentar pasti keringetan. Padahal sebagai karyawan
yang menjunjung tinggi profesionalisme, gue nggak ingin menurunkan motivasi
kerja rekan-rekan sekantor dengan membuat polusi udara. Cukup lama
juga gue kasak-kusuk mengumpulkan info mengenai alternatif tempat numpang
mandi, sampe akhirnya mendapatkan 3 alternatif dengan problematikanya masing-masing:
- Mesjid di belakang kantor. Menurut salah seorang temen yang mudik ke Surabaya
seminggu sekali, kalo keretanya sampe di Jakarta subuh, maka dia suka numpang
mandi dulu di mesjid itu. Problem: kamar mandinya ada di tempat wudhu perempuan,
sehingga secara 'resmi' tentunya gue nggak boleh berkeliaran di sana. Kalo ada
banyak jemaah perempuan yang lagi mau sholat Dhuha, atau diusir sama penjaga,
maka acara mandi gue bisa terhambat.
- Kamar mandi satpam.
Berdasarkan info dari Rivo di
journal gue yang ini, para
tenant di gedung kantor gue (Graha Surya Internusa, Kuningan) boleh numpang
mandi di locker satpam. Problem: kemungkinan pada saat gue sampe di kantor kondisinya
lagi dalam keadaan ngantri.
- Janitor Room di lantai gue. Ada sebuah ruang tempat
para petugas cleaning service mencuci pel, baknya seukuran 1 M3 dan
lubangnya bisa disumbat. Problem: ya karena bak itu sehari-harinya dipake buat nyuci pel
- artinya sebelum dipake mandi harus dibersihin dulu, belum lagi kalo pagi akan
sangat dibutuhkan oleh para petugas cleaning service. Kan gue nggak enak kalo
pekerjaan mereka terhambat hanya gara2 baknya lagi dipake mandi oleh
gue!
Walaupun masing-masing alternatif memiliki resiko, tapi berhubung alternatifnya
udah ada 3 maka pada hari Kamis 26 April 2007 yang lalu gue mencoba B2W untuk
pertama kalinya. Berhubung semalem habis hujan, kemungkinan jalanan
akan becek, maka gue memilih untuk bersandal jepit aja. Praktis - ekonomis.
Pagi-pagi nelepon tukang ojek langganan, berpesan agar dia nggak usah jemput
gue hari itu. Berangkat dari rumah sekitar jam 7.30 tanpa mandi, langsung
mengambil rute Teuku Cik Ditiro - Latuharhary - Kuningan. Rute ini gue ambil
untuk menghindari tanjakan jembatan Kuningan yang lumayan tinggi itu. Berhasil
sampe di kantor jam 8 kurang 10, artinya perjalanan gue cuma memakan waktu 20
menit - alias sama dengan kalo gue berangkat naik ojek! Gue langsung mencoba
alternatif tempat mandi pertama yaitu mesjid. Kebetulan kamar mandinya lagi
kosong, jadi gue main nyelonong aja masuk dan numpang mandi. Sedikit masalah
kecil yang cukup merepotkan timbul, yaitu gue nggak mengantisipasi kemungkinan
kalo kamar mandinya nggak menyediakan gantungan handuk! Bayangin, gue masuk
kamar mandi yang lumayan sempit itu dengan membawa satu buah tas besar berisi
pakaian ngantor dan peralatan mandi, ditambah dengan segala perintilan bersepeda
seperti masker, helm, kacamata... dan sama sekali nggak ada tempat untuk naro
benda2 itu. Akhirnya, pintu kamar mandi gue buka sedikit, tali tas gue
sangkutin di ujung kanan atas pintu, terus gue tutup lagi. Dengan demikian tas
akan aman tergantung di sana. Fiuuuh... beres. Ternyata salah satu manfaat B2W
adalah melatih kreativitas dalam melakukan problem solving! Hehehe... cuma abis
itu gue mandi secara pelan-pelaaan.... sekali, secara takut airnya nyiprat ke
tas yang berisi pakaian ngantor. Seperti halnya pengalaman
orang2 lain yang ber- B2W, gue disambut dengan pertanyaan-pertanyaan penuh
keheranan dari temen-temen gue. "Ke kantor naik sepeda? Nggak capek?
Nggak ngantuk? Kurang ongkos?" dsb dsb. Hmmm.. untuk
lengkapnya nanti gue tulis di posting yang terpisah aja deh! Sore hari,
waktunya untuk pulang. Nah, kali ini perjalanan lebih seru. Gue inget,
dulu pernah naik ojek dari kantor dan dibawa ngelewatin jalan2 kecil yang ntar
nongolnya di daerah Guntur. Karena pada dasarnya gue lebih suka bersepeda di
jalan sepi, maka untuk rute pulang gue memutuskan untuk melewati rute yang
pernah dipake sama tukang ojek gue itu. Pertama-tama, gue melintasi
kompleks Patra. Sampe di belakangnya gedung Granadi, gue belok kanan menuju
perkampungan. Ketemu jembatan dan sebuah mesjid di pinggir kali. Di depan
mesjid itu ada jalan menyusuri pinggir kali. Ukuran jalannya lumayan lebar sih,
sekitar 2 meter-an, tapi berhubung gue merasa kurang PD dan khawatir akan
kemungkinan limbung lantas nyemplung ke kali, maka sepeda gue tuntun aja
deh. Habis itu gue ketemu sebuah tanah luaaaas.... yang kayaknya dimanfaatkan
untuk pembuangan sampah dan puing proyek. Lagi-lagi gue melupakan sebuah faktor
yang membedakan perjalanan gue sekarang dengan waktu bareng tukang ojek dulu yaitu:
abis ujan sesiangan, yang telah mengubah tanah lapang itu menjadi kolam raksasa.
Ketinggian airnya sampe sekitar 20 cm, plus tanah merah lembek itu melesak ke
bawah kalo digiles ban sepeda. Udah mana licin banget, lagi. Wuah, dengan
segenap perjuangan gue ngelewatin tempat itu, sambil setengah nyesel kenapa
tadi nggak lewat jalan besar aja. Setelah sukses melewati empang raksasa, gue nongol di
Casablanca, deket underpass. Puter balik ke arah halte di belakang tukang
tanaman, gue memasuki arena offroad tahap II yaitu di belakang Nyi Ageng
Serang, Pasar Festival, dan MMC. Sayangnya waktu itu udah terlalu gelap dan gue
udah telanjur nggak selera untuk foto2 (krn udah kadung repot mengendalikan
sepeda), tapi kalo gue kasih liat fotonya lo nggak akan percaya bahwa daerah
itu ada di belakang HR Rasuna Said. Tanah lapang penuh genangan air warna
coklat yang licin dan lengket banget. Di satu sisi gue bersyukur pake sandal
jepit, di sisi lain juga senewen karena kaki gue berulang-kali ter-expose
cipratan air coklat itu. Kalo begini caranya, resiko ber-B2W bukan lagi
kecelakaan lalu-lintas atau polusi, melainkan... CACINGAN. Udah gitu
gue sempet kehilangan orientasi pula di sana, karena gelap dan nggak ada
petunjuk arah sama sekali. Sempet mondar-mandir di area itu dan berulangkali
kepentok jalan buntu, akhirnya gue nemu sebuah pager besi panjaaang... dan
jalanan di baliknya nampak familiar. Gue telusuri pagar besi itu sampe nemu
sebuah celah sempit yang hanya cukup untuk satu orang. Untung naik sepeda, jadi
gue bisa turun dan menarik sepeda gue melewati celah itu. Setelah lolos dari
celah di pager gue celingukan dan menyadari bahwa gue udah sampe di... Jalan
Malabar, Guntur! Horeee... berhasil! Alhasil, perjalanan pulang gue memakan waktu 43 menit.
Tetep lebih cepet daripada kalo naik busway, tapi
lain kali gue inget2 deh, kalo abis ujan nggak mau lewat situ lagi! Foto: gue
di depan rumah, lagi siap2 mau berangkat ngantor Pesan Sponsor:
 Dalam rangka mempertahankan bahkan kalo bisa terus menurunkan harga gue sebagai sapi, gue mentargetkan olah raga 6 kali seminggu, @ minimal 1 jam. Tapi pada kenyataannya, 3 hari terakhir ini (Jum'at - Minggu) program olah raga gue terhambat oleh berbagai kendala. Yah, di hari Sabtu ada sih olah raganya dikit, yaitu bersepeda ke pertokoan Roxy Mas untuk beli beberapa pernaik-pernik sepeda, tapi kayaknya masih belum memenuhi syarat. Rencananya sih hari ini gue mau membayar utang absen olah raga selama 3 hari, tapi... ealaaah.. ada lagi hambatan, yaitu temen-temen sedivisi pada berencana karaoke bareng. Sempet dilema juga; di satu sisi gue merasa bersalah udah melalaikan olah raga selama 3 hari. di sisi lain gue juga kepingin karaokean bareng mereka. Akhirnya gue ambil win-win solution yaitu tetep ikut karaoke, tapi gue menuju tempat karaoke dengan naik sepeda alias B2K (Bike to Karaoke) hehehe... Yah, itung2 sebagai pengganti B2W karena sampe hari ini masih belum punya solusi mau mandi di mana sesampainya di kantor. Habis maghrib gue berangkat, mampir dulu di Glodok Elektronik depan Sarinah Thamrin untuk beli lampu yang bisa dipasang di kepala (apa sih nama resmi benda itu? head-lamp ya?). Di sana dapet yang lumayan murah, di bawah 50 ribu udah dengan 19 LED yang cukup terang. Jam 19.00 temen-temen gue nelepon dari kantor gue di Kuningan, melaporkan bahwa mereka mau berangkat ke tempat karaoke. Gue juga mulai jalan di saat yang sama, dari depan Sarinah Thamrin. Tujuan: NAV Karaoke, Fatmawati. Gue emang udah siap mental sebelumnya bahwa jalanan di jam seperti itu akan 'mengerikan',tapi gue bener2 nggak nyangka akan separah itu. Bahkan dengan naik sepeda pun susah bergerak. Kemacetan mulai menggila dari depan Chase Plaza, terus berlanjut sampe seputaran Atma Jaya. Di titik ini gue udah nyaris putus asa dan mau puter balik aja - pulang dan main sama bayi Rafi - tapi pikir2 sayang amat udah kadung gaya-gayaan beli lampu. Kalo nggak dipake sekarang kapan lagi gue main sepeda malem2? Sebenernya gue udah terpikir untuk pindah jalur aja ke jalur cepat, tapi gue ragu-ragu ngeliat banyak petugas polisi berjaga. Kira2 kalo sepeda masuk jalur cepat, dimarahin nggak ya? Ya, gue tau sepeda nggak mungkin ditilang, tapi kan kalo disuruh push-up di tengah kemeriahan lalu lintas gitu tengsin juga coy. Di depan gedung ex-Anggana Danamon (yang sekarang udah jadi gedungnya Sampoerna dan gue nggak tau apa nama barunya) sempet terjadi insiden kecil, yaitu gue kehilangan keseimbangan saat lagi terjebak kemacetan dan rubuh membentur... sebuah bis PPD. Nggak ada luka tapi kaos kesayangan gue jadi item dekil kesenggol bodi bis. Selepas bottle-neck Atma Jaya, gue akhirnya nekad aja masuk ke jalur cepat - toh udah nggak ada polisi. Dari titik itu sampe ke lokasi NAV Fatmawati relatif nggak ada hambatan berarti, kecuali sedikit tambahan pengetahuan yang belum pernah gue sadari sebelumnya yaitu bahwa ternyata jalan Fatmawati dari arah Melawai itu merupakan tanjakan yang panjaaaaang sekali. Sudut kemiringannya sih kecil, kalo naik mobil nggak akan kerasa deh, tapi kalo naik sepeda kayanya nggak abis2 deh tuh tanjakan. Satu-satunya hal yang bisa gue manfaatkan untuk memotivasi diri sendiri adalah, "inget, nanti pas perjalanan pulang, ini akan jadi turunan yang panjaaaang.... sekali... ayo, ayo semangat!" Berhubung gue pake masker, cuek aja gue ngomong ke diri gue sendiri demi memompa semangat. Toh nggak ada orang yang bisa liat mulut gue komat-kamit. Jam 8 kurang 5, alias 55 menit dari titik start di sarinah, gue berhasil memasuki area parkir NAV Fatmawati, berbarengan dengan temen-temen gue! Jadi ternyata naik sepeda dari Thamrin - Fatmawati itu butuh waktu yang sama dengan naik mobil dari Kuningan - Fatmawati!Temen-temen gue langsung pada terkagum-kagum sampe ada salah satu yang mulai serius mikirin kemungkinan ber-B2W karena ngeliat sepeda non-anjrit gue aja ternyata cukup memenuhi syarat untuk menempuh perjalanan sejauh itu. Tapi ya pastinya problemnya akan sama aja dengan gue, yaitu nggak punya tempat untuk mandi. Jam 23.00, temen-temen gue masih aja asik2 nyanyi bahkan saat ditanya petugas mereka dengan cerianya ngejawab, "perpanjang aja maaas....!" Sedangkan berhubung gue naik sepeda, kayaknya terlalu sok PD sekali kalo berencana pulang bareng mereka after mitnait. Gue pamit pulang duluan, diiringi dengan pertanyaan temen-temen gue, "emangnya nggak ngeri ya, naik sepeda malem2 gini?" Gue jawab dengan yakinnya, "enggak dong, kan udah beli lampu"Sesuai perkiraan, perjalanan pulang terasa jauh lebih menyenangkan karena didominasi turunan. Tapi selepas Blok M plaza, tiba-tiba gue didekati serombongan anak2 muda* bersepeda trondol yang nampak mencurigakan. Gue langsung teringat pertanyaan temen-temen gue menjelang pulang tadi dan menyadari bahwa maksud pertanyaan mereka nampaknya nggak berhubungan sama keberadaan lampu. Gue sih nggak terlalu kuatir dengan sepedanya ya, secara ini sepeda murah meriah, kalo mereka mau iseng ambil ya ambil aja gih sana - gue tinggal nerusin pulang naik taksi. Tapi masalahnya dalam ransel gue ada sebuah kamera pohon yang cicilannya baru lunas 5 bulan lagi... huhuhuhu.... buru2 gue pindah ke jalur lambat dan mendekati kumpulan taksi2 yang lagi istirahat. Untungnya rombongan itu nampak nggak terlalu tertarik dengan gue dan melanjutkan perjalanan nun jauh di depan sana. Terlepas dari gerombolan bersepeda trondol, gak ada lagi hambatan berarti di perjalanan pulang gue, kecuali waktu melintas di kolong jembatan Semanggi mendadak teringat legenda manusia harimau yang sempetnaik daun di awal 80-an. Konon di era tersebut, ada beberapa saksi mata yang ngeliat harimau berkepala manusia mondar-mandir di kolong Jembatan Semanggi... hiiiy.... buru-buru deh gue pindah ke gigi maksimal terus ngebuuut... Untuk rute pulang gue ambil jalan yang sedikit beda dari berangkatnya, yaitu dari Sudirman turun di Dukuh Atas, lewat Taman Lawang, Latuharhary, Mesjid Sunda Kelapa, Syamsu Rizal, Jalan Cilacap, Finish. Total waktu yang gue butuhkan untuk rute pulang Fatmawati - Menteng: 41 menit. Not bad, eh?  *secara gue kan udah tua gitu loh foto: lampu baru gue dan sarung tangan gel - dua benda yang sangat berjasa bagi gue malam ini.
Malam ini ada kelas kegemaran gue di gym, jam 19.10. Berhubung berniat ikut kelas itu, jam 18.00 teng gue udah nongkrong di halte busway Indorama. Pikir gue, alokasi waktu 1 jam 10 menit pastinya cukup dong untuk menempuh jarak dari Kuningan ke Cikini. Gue menyiapkan 2 rencana perjalanan: Plan A: naik Transjakarta sampe halte Halimun, transfer ke koridor IV sampe halte Pasar Rumput, sambung naik Metro Mini P-17 sampe Cikini. Atau kalo ternyata halte Halimun terlalu rame maka... Plan B: naik Transjakarta sampe halte Halimun, sambung naik Kopaja 66 sampe deket markas PM, sambung lagi naik Metro Mini P-17 sampe Cikini. Gue beruntung karena hanya 5 menit nunggu bisnya udah dateng. Rada tersendat di jembatan Kuningan seperti biasa, tapi jam 18.25 udah mendekati perempatan Latuharhari menjelang halte Halimun. Eh... nggak taunya.... gue nancep di situ sampe nyaris 20 menit! Penyebabnya? Lihat gambar:  Permasalahannya adalah; dalam perjalanan menuju halte Halimun, bus Transjakarta harus melewati 2 jalur kereta api - yang ternyata di sore hari yang indah tersebut alangkah ramai dilewati kereta api. Kurang dari 5 menit sekali, ada kereta lewat! Udah gitu nutup palang perlintasannya dong... luamaaaaaaaaaaaaaaaaaa banget!! Mungkin saat keretanya baru sampe stasiun Cilebut palangnya udah ditutup. Belum lagi arus kendaraan pribadi plus Kopaja yang saling silang berebut jalan. Kendaraan dari arah Sunda Kelapa mau belok ke arah Duku Atas VS kendaraan dari arah Pasar Rumput mau ngarah ke Menteng VS kendaraan dari Duku Atas mau lanjut ke Manggarai VS kereta api dari dan ke Manggarai. Runyam. Ngeliat kejadian ini, gue jadi rada pesimis juga membayangkan hari depan Transjakarta. Sekarang kan 'konon' problem utama ketidaknyamanan penumpang Transjakarta adalah waktu tunggu yang lama karena armada masih sedikit. Tapi kalo kondisinya kaya gini, percuma aja nambah armada, wong lawannya kereta api. Bisa-bisa armada tambahan malah numpuk percuma di perempatan sinting itu. Saran gue untuk pengelola Transjakarta (atau siapapun yang berwenang ngurusin kemacetan lalu lintas): 1. Rel kereta apinya dibikin layang (fly over); atau 2. Bus2 Transjakarta koridor VI dibikin amfibi biar bisa nyeberang Kali Ciliwung. Btw, akhirnya setelah dengan susah payah turun di halte Halimun (situasi di sana udah CHAOS akibat tabrakan arus penumpang mau turun VS penumpang mau naik) gue memutuskan untuk melanjutkan perjalanan naik... taksi. Itupun masih telat 5 menit di kelas favorit gue. Ck.
 Kemarin pagi, pas mau berangkat ke kantor, ujan turun. Berhubung sebelumnya udah ada 'agreement' dengan sang tukang ojek langganan bahwa bila hari hujan mending beliau nggak usah jemput aja sekalian karena gue males naik ojek sambil ujan2an, maka otomatis hari ini beliau nggak nongol di depan pager rumah. Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif transportasi umum menuju kantor, akhirnya gue memutuskan untuk naik bajaj aja sampe halte busway terdekat trus lanjut naik busway. Eh, nggak lama kemudian, lewatlah bajaj versi baru yang berbahan bakar gas itu. Kebetulan gue belum pernah ngerasain naik benda ini, maka guepun naiklah dengan cerianya, dan berikut ini kesan-kesan gue: Getarannya jauh lebih sedikit dari bajaj versi lama. Ruang tempat duduk penumpang terasa lebih lega karena interiornya serba lurus tanpa lekukan2 yang kurang perlu. Waktu mau belok, bajaj versi baru ini mampu melakukan sebuah hal yang jarang bisa dilakukan oleh bajaj lama yaitu: nyalain lampu sen. Selain itu dia juga mampu menyalakan wiper. Dan oh iya... entah dengan yang lainnya ya, tapi bajaj yang gue naikin ini FULL MUSIC! Yah, gue nggak bisa berharap banyak dari pilihan lagu sang pemilik bajaj, tapi minimal lumayan lah - ada hiburan dari sepasang speaker besar di belakang sandaran duduk penumpang. Hebat kan? Tarifnya sama aja dengan bajaj versi lama. Yang jelas, saat naik bajaj baru ini gue nggak berani ngerokok sama sekali. Pertama karena bajajnya masih bersih banget, jadi sungkan. Kedua karena gue setress ngebayangin ada sebuah tabung gas bercokol di bawah pantat gue, kalo tiba-tiba bocor kan gawat... *posting yang kurang penting ya?
masih di hari yang sama dengan acara membuat mesin ajaib yang ini, sekitar jam 12 malem lewat beberapa menit, gue, Ida, Bayu, Ade dan Sigit yang lagi ngobrol2 di ruang makan dikejutkan suara berisik dari jalanan. Ada suara mobil dengan gas yang menderu-deru, musik disetel kenceng, ditambah suara teriakan2 plus sirene polisi. Kami bergegas keluar dan ternyata... suara2 berisik itu dateng dari serombongan anak2 GAWL bermobil mewah yang masing2 mobil ditempeli kertas bertuliskan acara "sahur on the road" alias amal bagi2 makanan gratis buat orang di jalan. Tema acaranya sih kayaknya positif sih, tapi kalo ngeliat dari ulah mereka di jalanan yang main geber2an gas sambil nongolin setengah badan keluar jendela dan saling berteriak-teriak satu dengan lainnya... hmm... sori aja, gue jadi terpaksa su'udzon nih. Beneran niat beramal atau...?Untungnya acara sahur on the road MP bbrp waktu yang lalu nggak over-acting kaya gini ya... jadi gue masih bisa tetep bangga jadi bagian dari komunitas MPers Indonesia :-)) KONVOI.WMV (1.2 MB)
| |