Agung's posts with tag: indonesiaville

|  | pas lagi mau makan malam di kantor taman, mega kuningan, kami melewati sebuah benda ajaib: mesin otomat kopi. Istri langsung kegirangan, "wah suamiii... di sini ada mesin kopi! Kita coba yuk!" Tapi dengan pertimbangan akan ada larangan bawa makanan / minuman dari luar di tempat makan nanti, maka niat mencoba ditunda sampai pulangnya nanti.
Ada 3 kombinasi bahan yang disediakan mesin ini, yaitu kopi, susu, dan coklat. Jadi kopi yang bisa dia keluarkan adalah kombinasi dari ketiga bahan ini, yaitu kopi + coklat, kopi + susu, kopi + susu + coklat, kopi + double susu, dst. Harganya 5.000 per gelas, dan dia bisa mengenali duit kertas pecahan 1.000, 5.000, 10.000, dan 20.000. Sayangnya, dia hanya mampu mengeluarkan kopi panas, nggak bisa bikin kopi es.
Maka kami beli dua gelas.
(Noraknya orang yang jarang ketemu mesin otomat). |
Kemarin salah satu temen gue lagi browsing dan mengomentari sebuah berita sambil geleng kepala," Homeless woman lived in man's closet for year... ada-ada aja ya..." Berita yang dikomentarinya menceritakan tentang seorang perempuan tunawisma berumur 58 tahun di Jepang yang berhasil ngumpet di lemari penyimpanan seseorang selama setahun, tanpa ketahuan. Pemilik rumahnya mulai curiga karena sering kehilangan makanan, padahal nggak ada tanda-tanda kerusakan di pintu atau jendela. Akhirnya dia memasang kamera pengawas, dan terbongkarlah keberadaan si nenek. Berita lengkapnya bisa diklik di sini. (btw, kalo kasus ini terjadi di Indonesia, mungkin pemilik rumahnya udah manggil paranormal, lantas rumahnya didiagnosa berada pas di lokasi taman bermain anak jin iprit sehingga solusinya harus bikin selametan dan potong kambing barang seekor. Kalo sesudahnya makanan masih aja ilang, paranormalnya bakal berkelit dengan bilang si empunya rumah PASTI udah melanggar salah satu persyaratan). Anyway, balik ke si berita si nenek Jepang, pagi ini gue menemukan berita yang lebih menarik lagi di koran Pos Kota. Ini dia beritanya, ada di halaman 1:  Pertama: "closet" (lemari) berubah jadi "toilet". Ke dua: "nenek-nenek umur 58 tahun" berubah jadi "cewek". Di bagian akhir artikel tercantum nama penulisnya, Agus W. Nah, Mas Agus, gue sarankan sampeyan mulai sekarang rada rajin buka kamus kalo lagi nyadur berita ya. Tulisan "closet" di berita ini beda lho, dengan "closet" yang tertulis di papan pengumuman WC umum "DILARANG MEMBUANG TISU KE DALAM CLOSET". Dan, ehm... coba jangan terlalu sering download JAV biar fantasinya nggak mengaburkan akurasi berita :-)
 Setelah mengultimatum situs video-sharing Youtube karena jadi sarana penyebaran film Fitna, lantas Multiply dan Myspace yang katanya juga bakal ikut kena berangus, berikut daftar situs lainnya yang mungkin (kali aja) akan ikutan diblokir: Yahoo.comalasan:nama "Yahoo!" mengisyaratkan sebuah teriakan, yang mana bertentangan dengan adat ketimuran. Menurut adat ketimuran tidak sopan untuk berteriak-teriak / mengganggu sekitar. Apabila banyak orang gemar berteriak-teriak, dikhawatirkan akan menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat - oleh karena itu situs ini harus diblokir. Detikinet.comalasan:karena situs ini sering memuat pernyataan-pernyataan seorang tokoh yang mengangkat diri sendiri sebagai "pakar" - sementara 68% masyarakat yakin bahwa 68% omongannya asal cuap. Hal ini sudah dan akan terus menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat, oleh karena itu pilihannya: entah detikinetnya yang harus memblokir si pakar, atau si pakarnya yang sebaiknya diblokir jangan ngomong. Flickr.comalasan:karena situs ini berawalan dengan huruf F sehingga sebagian masyarakat mungkin mengasosiasikannya dengan film "Fitna" sehingga menjadi resah. Alasan yang sama berlaku juga untuk situs friendster.com, freewebs.com, dan situs2 "F" lainnya. Disney.comalasan:banyak menampilkan tata cara berpakaian yang kurang sesuai dengan adat ketimuran (bebek nggak pake celana, tikus nggak pake baju, dsb) yang dapat meresahkan masyarakat. Harus diblokir segera. KLM.com alasan:karena belanda. Dan belakangan ini semua yang kebelanda2an bikin masyarakat resah. Granmeliajakarta.com alasan: karena lokasi hotel ini dekat dengan kedutaan belanda sehingga masyarakat yang hendak menuju hotel ini menjadi teringat dengan Belanda sehingga membuat masyarakat resah. situs-situs lain yang berakhiran *.com alasan: karena situs berakhiran *.com mengingatkan masyarakat pada youtube.com sehingga berpotensi membuat masyarakat resah. Demikian prakiraan sementara mengenai fenomena pemblokiran internet di negeri tercinta ini. Mari berdoa bersama semoga kita semua kembali waras dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. gambar: ilustrasi reaksi salah satu pengguna internet menghadapi pemblokiran.
Memang... kita nggak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya, atau sebuah film dari judulnya... atau dari posternya... tapi rasanya sih sulit ngebayangin, kualitas kaya apa yang bisa diharapkan dari film berjudul SKANDAL CINTA BABI NGEPET: DEMI CINTA AKU TERPAKSA JADI BUDAK SETAN
Abis ini kira-kira muncul film apa ya? ..."DESAH GELISAH KUNTILANAK BISPAK: biar bau menyan asal prima di pelayanan"...?..."AKU DIHAMILI POCONG BENCONG: kutunggu tanggung jawab cintamu"...?..."GEJOLAK ASMARA SUNDEL BOLONG VS. PREDATOR: biar sangar asal barang impor"...?(Mudah-mudahan penilaian gue salah... buat yang udah nonton cerita-cerita ya, filmnya kaya apa... gue kayaknya nggak kuat deh nonton film ini.)
 Masih dalam rangka rencana pindah rumah dalam waktu dekat, gue berniat menghentikan segala jenis langganan - termasuk di antaranya langganan telepon dari Telkom. Tadi siang, gue menghubungi call center 147. "Halo Telkom?" "Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu?" "Siang Mas. Begini, saya kan sebentar lagi mau pindah rumah, jadi saya mau berhenti langganan telepon nomor 314-****. Gimana prosedurnya mas?" "Bapak harus datang ke kantor layanan Telkom terdekat, membawa rekening telepon terakhir. Setelah itu bapak diminta untuk menyimpan uang deposit. Pada akhir bulan berjalan, uang deposit akan dipotong sesuai jumlah pemakaian terakhir, dan Bapak kami minta datang kembali ke kantor layanan Telkom untuk mengambil pengembalian sisa depositnya. Baru setelah itu sambungan telepon akan kami putus." "Wedewww... ribet amat ya Mas. Bisa diselesaikan lewat telepon aja nggak?" "Mohon maaf sekali Pak, tidak bisa. Bapak harus datang langsung ke kantor pelayanan Telkom." "OK, kalo misalnya saya langsung pindah aja nih Mas, nggak pake pemutusan sambungan, gimana?" "Maka bapak akan dikenakan biaya abonemen bulanan yang jumlahnya akan semakin banyak, pak. Oleh karena itu kami sarankan untuk datang ke kantor layanan Telkom." "Kalo biaya abonemen bulanannya juga nggak saya bayar terus-terusan, gimana Mas?" "Maka setelah 4 bulan berturut-turut, sambungan telepon Bapak akan kami putus secara otomatis." "Nah, memang itu tujuan saya, kan? Kayaknya lebih praktis begitu deh Mas. Terima kasih ya, selamat siang..." Telkom, Telkom... Jaman macet gini kok ya hobi bener nyuruh orang mondar-mandir ke kantor layanan....
 Nggak nyangka deh, my-indonesia.info, situs lucu-lucuan yang gue review di sini, ternyata mengundang reaksi yang heboh di jagad blog. Gue baru tau tentang keberadaan situs ini kemarin, tapi rupanya dia udah rame jadi omongan para blogger sejak kurang lebih minggu ke dua Desember 2007. Hari ini gue googling dengan keyword "my-indonesia.info" dan hasil pencariannya mencapai 36.300 halaman! Untuk sebuah situs yang barusan diluncurkan, ini luar biasa. Tapi sayangnya, hasil pencarian teratas didominasi oleh posting para blogger yang intinya mempertanyakan pertanyaan yang sama dengan gue, "Serius loh, bikin website sampe ngabisin ongkos 17.5 M?!"Tadinya gue mau mengkompilasi semua posting yang membahas tentang my-indonesia.info, tapi ngeliat jumlahnya yang segitu banyak, gue langsung berubah pikiran. Sebagai gantinya, gue akan rangkum sebagian kecil dari pertanyaan para dedengkot blog itu di sini, sebagai tambahan informasi buat yang juga penasaran denga keberadaan website pariwisata yang satu ini. soal SEOSEO adalah singkatan dari "Search Engine Optimization", alias jurus-jurus yang dilakukan para webmaster agar website binaannya bisa terendus hidung search engine seperti Yahoo atau Google, sukur-sukur kalo bisa menduduki peringkat teratas dalam hasil pencarian. Ada banyak jurus SEO yang canggih-canggih, tapi umumnya yang paling mendasar adalah dengan mengisi meta-data. Meta-data, menurut definisi gue (jangan diapalin, soalnya mungkin definisi ini ngaco) adalah sederetan informasi yang diletakkan di bagian "head" sebuah website, yang berisi ringkasan tema website tersebut. Meta-data ini nggak terbaca oleh mata pengunjung website (kecuali oleh para pengunjung iseng yang memilih "view source"), tapi jadi informasi utama yang dibaca oleh para search engine. Itulah sebabnya, meta-data jadi "jurus dasar" SEO. Anehnya, website my-indonesia.info yang diklaim pengelolanya sebagai website yang telah diperkuat dengan jurus2 SEO, malah mengosongkan meta-datanya! soal server di 4 benuaBerita di detikinet menyebutkan bahwa my-indonesia.info didukung oleh 4 buah server yang terletak di 4 benua, biar aksesnya kenceng dari belahan manapun di dunia (nggak kaya kotakkue.com, yang cuma kenceng kalo diakses dari Indonesia doang). Kenyataannya, banyak orang yang menemukan bahwa server my-indonesia.info hanya terletak di Indonesia doang - jadi nggak ada itu server di 4 benua. Apa bener begitu? Seorang blogger bernama Johan yang mengaku terlibat dalam pembangunan infrastruktur server my-indonesia.info menjelaskan dalam salah satu postingnya, nggak bener kalo dibilang server my-indonesia.info cuma ada di lokal. Sebagai buktinya, dia mengajukan sederetan penjelasan teknis yang terus terang gue juga nggak mudeng bacanya. Tapi kalo nggak salah ngerti sih, dia bilang bahwa kalo orang mengakses situs my-indonesia.info dari Indonesia, maka yang tertangkap adalah kinerja server Indonesia juga. Sedangkan orang yang mengakses dari benua lain akan menerima data dari server yang terdekat dengan lokasinya.Ini kalo nggak salah nangkep lho ya... Penjelasan Johan ini diuji coba oleh seorang blogger bernama Andri, yang kurang lebih hasilnya mendukung penjelasan tersebut. Tapi tetep, Andri berpendapat dana yang dikeluarkan terlalu gede, sekalipun servernya betulan ada di 4 benua. soal keterlibatan Indo.comVendor yang memenangkan proyek pembuatan website my-indonesia.info adalah indo.com, sebuah website yang udah lama mondar-mandir di bidang pariwisata. Blog SEOkita mengajukan pertanyaan yang menurut gue valid banget, yaitu "mana kepentingan dinas pariwisata, dan mana kepentingan indo.com?" Maksudnya gini: Sebagian dari dana 17.5 M itu digunakan untuk mengadakan penyuluhan bagi para hotel-hotel kecil agar lebih "sadar pentingnya peran internet bagi kemajuan pariwisata". Dengan kata lain, hotel2 kecil itu diajari, salah satu cara mendapatkan tamu dari luar negeri adalah dengan mengadakan booking online - lewat internet. Caranya adalah dengan mendaftarkan diri ke situs my-indonesia.info. Hotel-hotel yang udah mendaftarkan diri akan muncul dalam menu "budget trips to indonesia", dan kamar mereka bisa dibooking lewat internet. Apakah "partisipasi" ini gratis? Ternyata enggak. Menurut SEOkita, mereka harus bayar 10 juta biaya pendaftaran plus komisi bila ada tamu yang booking via internet. Bayar komisinya ke siapa? Ke Indo.com. Jaringan booking onlinenya juga ternyata nyambung dengan website indo.com. Dengan kata lain, indo.com untung 4 kali dalam urusan my-indonesia.info ini: - Dapat proyek gede, 17.5 M
- Biaya 'penyuluhan' (baca: marketing sistem online booking milik Indo.com sendiri) ke pelosok nusantara dibayari dari anggaran my-indonesia.info
- Dapat biaya pendaftaran 10 juta per hotel
- Dapat komisi dari tamu yang booking online
soal masa aktif domainPihak indo.com mengklaim bahwa domain my-indonesia.info udah ada sejak 2002. Tapi saat ditelusuri oleh beberapa blogger, ketahuan bahwa domain yang aktif sekarang baru mulai terdaftar sejak 2004. Lantas indo.com berkelit lagi dengan bilang, antara tahun 2002 hingga 2004 domain itu pernah lepas dari tangan mereka (entah kenapa bisa lepas, mungkin licin) sehingga harus dibeli kembali. Okelah, anggep aja seperti itu kejadiannya. Tapi terus kenapa masa berlaku domain ini hanya sampe Februari 2008? Jadi situs yang konon 'dikembangkan' sejak 2006, dirilis pada Desember 2007, udah ngabisin duit rakyat sebesar 7.5 M, lantas 2 bulan kemudian habis masa berlakunya? Yang bikin lebih heran lagi, detikinet menurunkan berita " ada kemungkinan domain my-indonesia.info akan diganti". Lho? Ini ibarat lo mau buka toko, sejak sebelum tokonya buka udah rajin bagi2 brosur memperkenalkan nama tokonya, tokonya buka 2 bulan, habis itu ganti nama. Gimana sih? Selain berbagai urusan ajaib tadi, masih ada sejumlah kejanggalan-kejanggalan di seputar my-indonesia.info, seperti kehadiran 2 sub-domain nggak jelas yaitu blogs.my-indonesia.info dan forum.my-indonesia.info. Yang sub-domain blogs.my-... dibikin pake CMS wordpress kaya blog iseng-iseng, templatenya gratisan pulak. Yang forum.my-... nggak tau bikinnya pake apa, yang jelas dua-duanya masih kosong. Ini maksudnya apa? Latihan bikin website? Pake duit 17.5 M? Yang mana sebagian adalah duit pajak gue? Gak ridho banget gue, serius! Yang juga ajaib adalah pengakuan pengelola situs bahwa 40% anggaran digunakan untuk pemasangan iklan di media-media online internasional. Sekarang coba deh buka google, trus ketik keyword "indonesia tourism" - yang katanya udah 'dioptimalkan' di google. Kalo memang bener pengelola keluarin dana pemasangan iklan, maka seharusnya link menuju my-indonesia.info akan muncul di deretan iklan di bagian kanan, atau di urutan teratas pencarian dengan background warna tertentu. Contohnya seperti ini:  Perjanjian pemasangan iklan dengan google Adwords menyebutkan, sekalipun kita membayar google untuk menampilkan link kita di hasil pencarian, google tetap akan memisahkan iklan dari hasil pencarian umum. Iklan ya iklan, nggak akan dicampur dengan hasil pencarian. Nah, balik ke pengakuan pengelola yang katanya udah membelanjakan 40% anggaran buat pasang iklan... mana? Kok di google nggak ada? Link my-indonesia.info muncul di hasil pencarian biasa, bukan sebagai iklan. Apa kebetulan Indo.com "kelupaan" masang iklan di google, search engine paling kondang di dunia? Blog brokencode mempertanyakan, daripada ngabis2in duit untuk belanja iklan, kenapa nggak mengerahkan para pemilik website untuk mengoptimasi my-indonesia.info (dengan cara membuat link sebanyak-banyaknya menuju ke sana, untuk mendongkrak popularitasnya di mata search engine). Biayanya akan jauh lebih murah daripada pasang iklan, dan jelas lebih efektif. Di kolom komentar sejumlah blog memang muncul penjelasan dari pihak-pihak yang terkait dengan indo.com, tapi rata-rata bernada defensif dan sama sekali nggak menjawab pertanyaan mendasar yang udah gue sebut di awal posting ini. Silakan baca kolom komentar di SEOkita da juga blog ard4art. Pesan moralnya, buat yang mau 'adu kreativitas' anggaran negara, mending main2 di bidang yang lebih 'eksklusif' seperti pengadaan semen, kerikil, pasir, batu kali, aspal, kabel listrik... pokoknya yang sulit diamati masyarakat. Kalo di internet, wah... susah deh... di Indonesia banyak webmaster yang jago-jago, soalnya.

|  | tulisan lengkapnya ada di bagian review |
 Dari blogwalking ke blognya "Menteri Desain Indonesia", gue dapet informasi tentang keberadaan website milik Kementrian Budaya dan Pariwisata Indonesia, my-indonesia.info. Menurut detikinet, pembangunan website ini menelan biaya... siap-siap tarik nafas... minum dulu biar nggak kaget... tarik kursi, duduk dulu.... kipas-kipas... udah? Yak... biayanya adalah... (*masukkan backsound Indonesian Idol di sini: yang tedeng-tedeng-tedeng... gitu loh*)... Rp17.5 Miliar Perinciannya adalah; Rp 2 miliar untuk 'pengembangan situs' selama tahun 2006, Rp 5.5 miliar untuk 'pengembangan situs selama tahun 2007, dan Rp 10 miliar anggaran untuk 'pengembangan dan promosi' tahun 2008. Sebagai perbandingan, dari hasil googling dengan keyword "dedicated web hosting" gue dapet info bahwa rata-rata layanan webhosting internasional dengan spesifikasi yang bisa dibilang 'super' berkisar pada USD 500 per bulan. Oke deh, biar aman gue kasih anggaran webhosting sebesar USD 1000 per bulan, alias USD 12000 per tahun. Berhubung berita di detikinet menyebutkan bahwa servernya terletak di 4 benua, maka USD 12000 dikali 4 = USD 48000 per tahun atau Rp 480 juta (biar gampang ngitungnya pake kurs 1 USD = Rp 10.000 aja - lebihannya itung2 buat 'uang rokok'). Untuk sewa 3 tahun sejak tahun 2006 sampai 2008, maka kurang lebih dana yang dibutuhkan untuk webhostingnya adalah Rp 1.44 miliar. Dengan kata lain, biaya di luar webhosting (ongkos webdesign, promosi, dllsb) adalah lebih Rp 16 miliar. Waaww...sungguh webdesigner yang sangat beruntung sekali, bukan? Dengan anggaran yang segede itu, gue sebagai pembayar pajak yang tertib dan bertanggung jawab tentunya berharap hasilnya akan keren banget. Dan... yak, harapan gue terkabul. Website ini bener-bener menghibur. Mari kita mulai dari atas: header. Di setiap halamannya ada header foto yang berganti-ganti secara random. Di bagian "calendar event". webmasternya kayaknya lagi terlalu sibuk ngitung duit sampe ngelamun pas lagi cropping gambar: tulisan calendar-nya kepotong, dul.  Selain ngelamun waktu cropping gambar, si webmaster juga bengong waktu ngedit teks. Di bagian "Cultural Activities > Baduy" 2/3 tulisan terformat dalam bold - kayaknya lupa ngasih tag penutup.  Biar para turis yang mau dateng ke Indonesia nggak kesasar, website ini juga menyediakan "map" - maksudnya peta, bukan tempat nyimpen surat tanah. Mari kita klik.  Sebuah animasi flash muncul, menunjukkan di mana letak Indonesia. Kalo diklik, maka akan muncul...  ...and that's it. Udah nggak bisa diapa-apain lagi. Paling kalo dimouse-over di atas kota-kota besar, muncul nama kotanya. Kenapa nggak sekalian dijadiin menu navigasi aja sih? Jadi kalo diklik bisa langsung keluar daftar kegiatan wisata di kota tersebut, misalnya. Tapi... yah, minimal peta flash ini bermanfaat buat membantu para turis belajar kalo mau ulangan "peta buta" (FYI buat para pembaca kelahiran 80-an: itu nama pelajaran waktu menteri pendidikannya masih Daoed Yoesoef). Yang juga nggak kalah keren adalah deskripsi tentang budaya. Di bagian budaya Jawa Barat, ada tulisan tentang "Kuda Renggong" : Kuda Renggong Kuda Renggong Art look like Singa Depok from Kabupaten Sumedang at the performance side.
Mari kita bayangkan dialog Mr. dan Mrs. Smith dari pedalaman Amerika yang lagi merencanakan kunjungan ke Indonesia: "Hey, this one sounds interesting: Kuda Renggong" "What's Kuda Renggong?" "Well... you know, kinda like Singa Depok thing" "What's Singa Depok?" "The one that's similar with Kuda Renggong, of course". "...." *jedot-jedotin kepala ke monitor*
Hmmm... trus apanya lagi ya, yang lucu? Oh iya, bagian "Culinary". Coba buka bagian "Culinary" untuk "West Java". Di bagian atas ada gambar ikan bakar, dijuduli "Sundanese food". Ok deh. Trus ada sederetan piring dan mangkok, juga dijuduli "Sundanese food". Sip. Eh, di bagian bawahnya ada lagi gambar berjudul "Sundanese food", yaitu: Pertama: itu bukan gambar makanan, kecuali bagi para pelaku kuda lumping yang memang biasa makan lampu . Ke dua: gue 99% curiga bahwa itu adalah foto Kya-kya, tempat jajanan malam di Surabaya - yang mana sampai detik ini belum ada rencana pindah lokasi ke Jawa Barat. Konon promosi paling ampuh adalah promosi dari mulut ke mulut. Artinya butuh testimonial dari para turis, dong. Coba deh buka bagian "testimonial", maka elo akan menemukan testimonial dari... 2 orang yaitu mas Wai Lok dan mbak May Huang, dua-duanya dari Hong Kong. Hmm... jadi, setelah ngabisin Rp 7.5 miliar (budget untuk tahun 2006 dan 2007) baru bisa nangkep 2 orang turis? Kesimpulannya, buat yang lagi iseng dan butuh hiburan, mampir2 deh ke my-indonesia.info. Daripada duit 17.5 miliar mubazir, mending buat lucu-lucuan... :-))) UPDATE:Ternyata udah ada bertia di detikinet juga yang membeberkan perincian penggunaan anggaran 17.5 M itu... dan isinya lebih lucu lagi. Baca juga 43 komentar yang masuk... ada yang ngeliat data teknis situsnya dan menemukan bahwa servernya di Indonesia. huhuhuhu... selengkapnya baca di sini. 
 Mulai musim hujan, mulai juga musim banjir. Seperti yang udah-udah, berita tentang banjir mulai bermunculan di media massa. Satu hal yang mengganggu gue adalah, seringkali berita-berita itu menggunakan ukuran banjir yang kurang akurat. Contoh:Banjir di kelurahan anu telah mencapai ketinggian sebetis orang dewasa...Kecamatan anu terendam banjir setinggi dada orang dewasa...Jalan anu terendam banjir setinggi perut orang dewasa... Ini, menurut gue, nggak jelas banget. Tinggi orang dewasa kan berbeda-beda? Coba aja bayangin: Shaquille O Neal dan Sonny Tulung, misalnya (sekedar ilustrasi tanpa bermaksud mendiskreditkan tinggi badan pihak tertentu) - keduanya sama-sama orang dewasa, tapi kan tinggi badannya terpaut jauh banget? Untuk itu, gue menyarankan agar pemberitaan banjir menggunakan ukuran-ukuran yang lebih akurat / seragam agar tidak menimbulkan salah persepsi di kalangan masyarakat. Lebih bagus lagi, kalo ukuran yang digunakan konteksnya sesuai dengan urusan banjir itu sendiri. Jadi, gimana kalo pemberitaannya ditulis sbb: Banjir di kelurahan anu telah mencapai ketinggian setara dengan kumis Fauzi Bowo...atau
Perumahan anu direndam banjir setinggi 2 Fauzi Bowo bila ditumpuk tegak ke atas... Biar gak bosan, bisa juga menggunakan variasi yang telah umum diketahui masyarakat seperti Daerah anu sejak kemarin dilanda banjir setinggi ahlinya tata kota yang sekarang jadi gubernur DKI...
atau
Kelurahan anu kebanjiran setinggi lehernya si abang yang tempo hari nyuruh kita lapor kemacetan sama Tuhan... Biar pemberitaannya berimbang, bisa juga pake ukuran lain yang juga akurat dan kontekstual seperti: Banjir mencapai ketinggian yang sama dengan tinggi bemper mobil dinas mewah anggota DPRD DKI...Gimana, ada media massa yang tertarik menyerap usulan gue? foto banjir gue pinjem dari situs liputan6.com
Kemarin sore, akhirnya air di rumah gue nyala lagi setelah pingsan sejak tanggal 15. Sesuai dugaan, yang ngucur pertama dari keran adalah cairan seperti ini:  ...yang mana harus gue bayar 7.450 per M 3 di tagihan bulan depan. Tadinya gue pikir, kok berani-beraninya sih PALYJA menyebut diri sebagai perusahaan "air minum"? Emangnya siapa yang sudi minum air kaya gini bentuknya? Tapi gue pikir-pikir, bener juga sih... mereka kan nggak menyebutkan, air minum untuk siapa. Mungkin kalo sejenis badak, kuda nil, atau kebo dengan suka cita mau minum air ginian.
 Hari ini agenda kami seharusnya adalah ngepel rumah dan ngeberesin cucian piring yang udah numpuk sejak lebaran . Tau-tau,,,, lho... kok airnya nggak keluar? Padahal pompa dalam keadaan nyala. Gue langsung telepon customer service Palyja di 57986555. "Mohon maaf pak, air memang mati karena baknya sedang dikuras..." demikian jawab petugasnya. "Trus kapan mau nyala lagi?" "Tanggal 17 pak" Whaaat?? Sekarang baru tanggal 15, artinya gue bertiga harus hidup tanpa air selama 2 hari? Kalo soal mandi sih gampang, bisa nebeng di gym... tapi trus gimana dengan acara ngepel dan cuci piring? Bikin susu dan makanan bayi? Cuci baju? Mungkin karena abis lebaran, dikiranya semua orang mudik jadi... "nguras bak lucu juga kali ye..."Udah gitu nanti setelah mati biasanya air yang keluar jadi ekstra dekil (bukan berarti air yang keluar di hari lainnya nggak dekil), yang baru akan 'normal' kembali setelah keran dibuka beberapa saat - tentunya dengan meteran yang jalan terus. Dengan kata lain, gara-gara para dogol di Palyja itu kuras-kuras bak, gue jadi ketempuhan harus keluar biaya ekstra untuk: - beli sumber air lain selama air keran mati
- bayar air kotor yang harus dibuang saat air keran baru nyala lagi
Belum lagi kerugian 'non-meteril' berupa kerepotan yang ditimbulkan, rencana-rencana yang terpaksa diskedul ulang, dan kerjaan rumah yang jadi numpuk. Kira-kira bisa nggak sih kita para pelanggan rame-rame nuntut Palyja untuk bayar ganti rugi bangsa 10 - 20 miliar setiap kali air mati? Duitnya boleh deh disumbangin ke mana gitu, yang penting mereka akan pikir2 lebih panjang lagi kalo lain kali mau kuras bak. gambar gue pinjem dari sini
 Bulan ini, DPRD DKI Jakarta kembali tampil dengan produk barunya: Perda no. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum. Perda ini mengancam berbagai pelanggaran ketertiban umum dengan hukuman kurungan mulai 10 hingga 180 hari, atau denda mulai dari 100 ribu hingga 50 juta perak. Ringkasan peraturannya gue baca di Majalah Tempo edisi 17 - 23 September 2007 halaman 42. Antara lain ngatur tentang larangan orang ngasih uang ke pengemis, beli barang dari pedagang asongan, buang sampah sembarangan, buang air sembarangan, dan... ngangkut barang bau dan berdebu dengan angkutan terbuka. Dan seperti biasa, gue nggak bisa menahan diri untuk membayangkan yang enggak-enggak. ***
Di suatu siang yang panas... "Selamat siang, Pak. Bisa pinggirkan mobilnya sebentar?" "Ada apa ya? Saya buru-buru nih." "Ehm. Begini Pak, Anda telah melanggar Perda no. 8 tahun 2007 tentang Ketertiban Umum dengan ancaman hukuman kurungan 10 hingga 60 hari atau denda 100 ribu hingga 20 juta." "Apaaa?? Emangnya saya salah apa?" "Mobil yang Anda kendarai ini... Mobil terbuka kan pak?" "Iya, ini Mercy SLK Convertible. So?" "Begini Pak, Perda melarang MENGANGKUT BARANG BERDEBU DAN BERBAU BUSUK DENGAN ANGKUTAN TERBUKA. Faktanya, mobil Anda terbuka dan Anda sendiri.... Bau, Pak." "KURANG AJAR KAMU YA!!""Mohon maaf pak, memang sudah peraturannya demikian." "Ok, ok... Tapi peraturannya kan melarang barang berdebu DAN berbau busuk. Artinya kalo cuma berbau busuk DOANG nggak melanggar dong?" "Betul juga ya, pak." "Nah saya kan cuma bau doang, nggak pake berdebu. Artinya boleh jalan lagi dong?" "Hmmm.... Yah apa boleh buat, silakan pak." Angin berhembus. "Pak... Pak... Tunggu dulu." "Ada apa lagi?" "Barusan ada angin lewat, Pak." "Trus?" "Nampaknya sekarang bapak berdebu. Sebentar ya pak saya cek.... Yak! Ternyata betul. Sekarang bapak telah memenuhi syarat sebagai barang yang BERDEBU DAN BERBAU BUSUK. Selamat. Silakan pinggirkan lagi mobilnya pak." ***
Pesan moralnya: buat para pemilik mobil sport convertible di jakarta, kalo mau bepergian jangan lupa mandi dulu. *posted by e-mail 

|  | Tadinya agenda kami untuk hari Minggu 2 September 2007 ini sederhana aja: nyekar ke makam bapak gue, dalam rangka menyambut bulan Ramadhan. Nggak nyangka akhirnya hari ini jadi hari yang heboh banget! Tapi ceritanya panjang nih, buat yang lagi sibuk nggak usah dibaca juga nggak papa kok :-)
Gue dan istri berangkat dari rumah jam 3 sore. Tujuan: TPU Tanah Kusir. Tadinya kami bercita-cita naik Patas 16 jurusan Lebak Bulus, trus nyambung lagi naik Metro Mini jurusan Bintaro dari Arteri Pondok Indah. Ternyata P16-nya nggak lewat-lewat. Akhirnya naik bis Patas AC jurusan Ciputat (nomornya lupa, kalo nggak salah 76 deh).
Turun di perempatan Melawai, naik Metro Mini 74 jurusan Bintaro. Baru jalan sebentar, sampe di perempatan deket Bulungan tiba-tiba... BRAAAK.... Metro Mini gue nabrak Metro Mini depan yang lagi ngetem!! Untungnya nggak terlalu keras, jadi nggak ada penumpang yang cedera (minimal di Metro Mini gue ya, nggak tau deh di Metro Mini depan gimana). Yang jelas kaca belakang Metro Mini depan rada retak dikit.
Mudah diduga, insiden ini disusul dengan adu teriak antara supir dan kenek Metro Mini gue vs supir dan kenek Metro Mini depan. Dengan urat leher bermunculan, supir Metro Mini gue teriak ke keneknya, "UDAH TANYA AJA, DIA POOLNYA DI MANA, NTAR KITA BERESIN DI POOL!" Tentunya kenek Metro Mini gue menyampaikan pesan tersebut kepada kenek Metro Mini depan,"POOLNYA DI MANA? NTAR KITA BERESIN DI POOL!" Teriakan tersebut dibalas oleh teriakan lain dari kenek Metro Mini depan yang sayangnya kurang jelas terdengar. Supir Metro Mini gue nampak kurang sabar, lantas dia memberikan instruksi kepada keneknya, "CK, UDAH DEH, LAMA!! KITA JALAN AJA!"
Ngeeeng... Metro Mini gue kembali melaju. Di deket RSPP, nyaris terjadi insiden ke dua. Tiba-tiba ada motor memotong dari arah kanan, nyaris tegak lurus dengan arah lintasan Metro Mini. Ciiiit....! Metro Mini gue banting setir ke kiri diiringi alunan backing vocal jeritan para penumpang. Supir Metro Mini gue kembali berteriak kepada si pengendara motor, yang intinya menghimbau agar 'lain kali hati-hati dalam mengemudikan motor dan tidak suka memotong jalur lintasan kendaraan lain khususnya yang berukuran jauh lebih besar'. Teriakan tersebut dibalas oleh pengendara motor, yang intinya adalah himbauan agar supir Metro Mini 'lebih sering menggunakan matanya saat mengemudikan kendaraan'. Tentunya yang gue tuliskan di sini hanya inti percakapannya saja, sementara pemilihan kata dalam dialog yang sebenarnya cenderung lebih 'kasual'.
Menjelang pasar Mayestik, Metro Mini yang tadi ditabrak dari belakang rupanya masih panas hati. Dengan manuver yang lebih pantas dilakukan oleh kendaraan seukuran sepeda mini ketimbang Metro Mini, dia memotong Metro Mini dari sebelah kiri lantas menghentikan kendaraannya secara diagonal di tengah jalan. Pokoknya persis adegan di game NFS-Underground.
Karena jalan terblokir, terpaksa deh Metro Mini gue berhenti. Adu teriak kembali terjadi. Parahnya, yang terpaksa berhenti bukan cuma Metro Mini gue, melainkan praktis seluruh pengguna jalan di seputaran RSPP, Mayestik, Barito, hingga Bulungan. Dengan kata lain: macet total.
Beberapa pemuda berbaju lusuh yang entah muncul dari mana naik ke Metro Mini gue sambil berteriak-teriak, sementara supir Metro Mini gue nampak makin kesal. "UDAH LO PADA NGGAK USAH BERISIK DEH! ORANG SAMA-SAMA KULI AJA... NGAPAIN RIBUT SIH? URUSAN GUE BUKAN SAMA ELU-ELU PADE, TAPI SAMA JURAGAN LO! NTAR GUE BERESIN DI POOL!!"
Merasa terintimidasi oleh adegan demi adegan yang terjadi, beberapa penumpang memutuskan turun - termasuk gue. Pertimbangan gue antara lain karena setelah berada di luar Metro Mini, pencahayaan serta sudut untuk memotret bisa lebih leluasa.
Akhirnya, setelah adu teriak tanpa menemukan mufakat, kedua Metro Mini bermasalah berkenan untuk melanjutkan perjalanan. Mungkin sedikit banyak dipengaruhi oleh desakan puluhan pengguna jalan lainnya yang klaksonnya udah pada nyaris putus karena dipencetin terus dari tadi.
Gue dan istri melanjutkan perjalanan dengan selamat naik Metro Mini nomor 71. Nyekar sebentar di kuburan, trus kami melanjutkan perjalanan naik taksi. Tujuan kali ini adalah ITC Permata Hijau. Agendanya: beli baby walker untuk bayi Rafi. Dia sekarang udah bisa jalan sedikit-sedikit, dan mulai bosan dikurung terus di box bayi. Tadinya Ida mau beliin baby walker yang bentuknya mirip bangku beroda, tapi gue nggak setuju. Masalahnya dengan baby walker jenis itu, anak nggak belajar melangkah melainkan mengayuh seperti bebek berenang. Akibatnya malah anak semakin males berjalan karena cukup dengan mengayuh-ngayuh sedikit aja dia bisa bergerak jauh lebih cepat. Gue lebih suka baby walker yang didorong, karena anak dibiasakan untuk melangkahkan kaki - bukan mengayuh.
Setelah muter-muter di lantai dasar tanpa hasil, akhirnya kami sampe di sebuah toko di lantai 1 yang koleksinya lengkap banget. Dia jual aneka perlengkapan dan mainan bayi dan balita. Udah gitu untuk setiap item-nya dia juga menyediakan pilihan yang banyak banget. Dengan kata lain: ini tempat yang sangat berbahaya untuk dikunjungi di bulan-bulan nanggung saat belum gajian.
Setelah tawar-menawar, akhirnya kami berhasil memboyong sebuah baby walker tipe dorong yang nampaknya cukup seru karena dilengkapi aneka tombol warna-warni yang bisa bunyi dan nyala. Tombolnya cukup banyak untuk membuat bayi Rafi kalap.
Berhubung udah kadung sampe di ITC Permata Hijau yang punya Carrefour di lantai basement, maka sambil menenteng dus baby walker seukuran 3 kardus indomi kami lanjut ke Carrefour untuk belanja popok dan susu bayi. Untung di sana ada penitipan barang, jadi untuk sementara gue bisa terbebas dari dus baby walker.
Proses belanja beres dalam tempo kurang dari setengah jam. Pas lagi bayar-bayaran di kasir, istri pergi duluan untuk ngambil titipan barang dan kembali dengan wajah berseri-seri. "Suami... suami... ayo cepetan bayarnya, ada Tukul! Ayo, kita foto bareng Tukul!"
Maka dengan tergopoh-gopoh membawa tentengan 4 kardus susu plus seplastik besar popok bayi plus beberapa barang lainnya, gue menuju ke tempat yang ditunjukkan istri, yaitu kios penjual minuman di depan dekat eskalator. Ternyata bener ada Tukul, lagi jalan-jalan bareng keluarganya. Tentu aja kehadirannya langsung menyedot perhatian pengunjung. Dia lagi dikerubuti orang yang minta foto bareng. Kasihan juga liatnya, orang cuma mau beli minuman doang jadi lama banget karena para fans bergantian minta foto bareng.
Puas foto bareng Tukul, perut lapar. Maka tujuan berikut adalah bubur ayam terenak di Indonesia, bubur Barito. Selesai makan, pas lagi bengong-bengong nunggu taksi, istri teringat pada niatnya kemarin yaitu ingin ngasih kado kue buat Ade dan Bayu yang hari Senin 3 September besok akan merayakan ulang tahun perkawinan yang pertama. "Telepon dulu," kata gue, "ntar tau-tau mereka nggak pulang ke kos." Maka istri nelepon Ade, ngibul dengan bilang kami akan mampir sepulang 'kondangan di bilangan Haji Ten'. Memang bener sih ada kondangan di Haji Ten, tapi kejadiannya udah sekitar 2 bulan yang lalu!
Ade memberikan jawaban positif sambil bertanya-tanya, kenapa tumben amat kami mendadak ingin bertamu malam-malam. Tanpa memberikan keterangan lebih lanjut, istri cuma bilang kami akan mampir sekitar jam 9 malam. Setelah teleponan dengan Ade, kami berhasil mencegat sebuah taksi dan meluncur pulang.
Sampe rumah sekitar jam 7 malem. Gue langsung sibuk bongkar pasang baby walker baru, sementara istri mengurus plastik-plastik belanjaan. Tiba-tiba..."Suamiiii.... susunya bayi ke mana ya?" "Lah, masa nggak ada?" "Nggak ada, ini cuma ada belanjaan peralatan masak." "Waduh... berarti... KETINGGALAN DI KIOS MINUMAN TEMPAT FOTO BARENG TUKUL!!" "Waaaa...."
Sial bener, 4 kotak besar susu bayi itu harganya nyaris sama dengan si baby walker. Istri langsung mengambil inisiatif, "Ya udah, aku balik lagi deh ke sana, kali aja masih ada." "Heh? Susu 4 kotak ditinggal di tempat rame gitu, pastinya udah disikat orang lah!" "Ya coba aja dulu, siapa tau kan?"
Maka istri balik lagi ke Permata Hijau, sementara gue meneruskan acara bongkar pasang baby walker. Sesuai dugaan, bayi Rafi seneng banget dengan mainan barunya.
Jam 8 lewat, istri pulang lagi dengan membawa kantong plastik berisi 4 kotak susu bayi. "Ketemu, susunya?" "Ketemu, disimpenin sama mbak-mbak yang jual minuman!" Ya ampun, baiknya si mbak itu. Gue doakan banyak rejeki deh. Buat yang sering belanja di Carefour Permata Hijau, gue himbau agar jangan lupa beli minuman di kios depan kasir di sana ya! Pokoknya cari aja kios minuman yang terdekat dari eskalator lantai 1, mengarah ke sebelah kanan.
Berhubung ada insiden susu ketinggalan, maka acara pembuatan kue untuk Ade dan Bayu jadi ikutan molor. Jam 10 malem baru selesai. "Telepon dulu, jangan-jangan udah pada tidur," kata gue. Maka istri menelepon Ade, yang ternyata masih bangun. Skenario masih tetap sama, yaitu ada kondangan di Haji Ten. Padahal, kondangan apaan sih yang baru bubar jam 10 malem?
Sambil menenteng bayi Rafi yang kebetulan terbangun, kami bertiga naik taksi ke Kramat Sentiong, tempat kosnya Ade dan Bayu. Wah, Ade sampe berkaca-kaca terharu menerima kado dari Ida. Senangnya kalo bikin surprise yang berhasil! Kesan-kesan Ade bisa dibaca di sini.
Sepulang dari rumah Ade dan Bayu, istri langsung tidur kecapean, sementara gue... hmm... ngapain lagi kalo bukan posting pengalaman seru hari ini :-)) |
 Sepulang dari acara bersepeda di kota toea, pundak kiri gue terasa kaku. Dalam perjalanan pulang udah terasa makin sulit mengendalikan sepeda, tapi gue paksain aja. Paling cuma capek, pikir gue. Malemnya, tu pundak terasa makin parah. Tangan kiri gue nggak bisa diangkat tinggi-tinggi. Megang kuping sendiri aja nggak bisa. Besokannya, sepulang dari kantor, gue memutuskan untuk berkunjung ke rumah Maman, naik ojek. By default, para tukang ojek yang mangkal di depan kantor gue akan langsung membawa gue pulang begitu gue nangkring di jok - nggak usah pake ngomong. Makanya kali ini gue bilang, "nggak ke rumah bang, ke rawajati timur. mau ke rumah temen." "mau main ya boss?" kata tukang ojeknya berbasa-basi "bukan, mau urut. Ini pundak gue kaku." "Oooh... kalo pundak kaku itu biasanya karena kurang minum air putih boss. Saya dulu juga pernah gitu, kurang banyak minum air putih badan terasa pada kaku. Makanya kalo pagi bangun tidur, jangan langsung ngopi boss, minum air putih dulu barang segelas..." tukang ojeknya menjelaskan panjang lebar. "Oh, gitu ya?" jawab gue sekedarnya. Buat gue, hubungan antara kurang minum dan badan pegel sama ngaconya seperti hubungan antara tangan kedutan dan mau dapet duit. Tapi demi sopan santun tentunya gue nggak buru-buru membantah pendapat tersebut. Toh ini cuma obrolan basa-basi. Anehnya, setelah ketemu dengan Maman, dia juga heran dengan kondisi pundak gue kali ini. "Ini bukan keseleo biasa nih gung. Kaya ada yang ganjel, gitu," kata Maman. Pulang dari tempat Maman, tumben nggak ada perbaikan yang berarti dengan lengan gue. Masih tetep aja kaku. Akhirnya tadi sore gue memutuskan untuk ke dokter spesialis bedah tulang di RS MMC, namanya dokter Thamrin Hasbullah. Pundak gue dipencet-pencet dan digerak-gerakin oleh pak dokter, terus disuruh rontgen. Foto rontgen-nya langsung jadi, trus gue kasih liat ke pak dokter. "Hmm... benar dugaan saya, ada endapan di sendi Anda. Kemungkinan ini adalah endapan uric acid (asam urat) yang telah mengkristal. Saat digerakkan, dia bergesekan dengan jaringan sendi, sehingga terasa sakit. " "Penyebabnya apa dok?" "Ya terutama makanan yang memicu produksi uric acid, misalnya suka makan jeroan, emping, udang, kol, bayam..." "Saya nggak doyan jeroan dan udang dok. Kol dan bayam sih makan tapi rasanya nggak banyak. Kenapa tiba-tiba bisa jadi endapan?" "Begini: pada dasarnya tubuh kita memproduksi uric acid setiap hari. Endapan bisa terbentuk di sendi bila konsentrasi uric acid dalam darah meningkat. Konsentrasi uric acid dalam darah bisa meningkat kalau kita makan makanan yang memicu produksi uric acid, ATAU kalau kurang minum..." Exactly like abang ojek said. Pesan moralnya: nilailah omongannya, bukan siapa yang ngomong. Dan kalo lo mendengar seseorang menyampaikan informasi yang konyol, coba introspeksi dulu - siapa tau justru elo sendiri yang kurang wawasan...  Artikel tentang uric acid serta asal muasal gambar ilustrasi bisa diklik di sini.
 Sepulang dari acara bersepeda di kota toea hari Minggu (19 Agt) yang lalu, gue dan rombongan mampir di sebuah pertokoan di bilangan Cikini untuk makan siang yang kesorean. Selesai makan, gue melipir sebentar ke pasar swalayan untuk beli coca-cola. Pas lagi ngantri di kasir, gue lihat mbak-mbak yang ada di depan gue kok wajahnya familiar ya? Oh, ternyata dia adalah seorang pengarang novel yang cukup kondang di negeri ini. Dia lagi bareng seorang pria. Menjelang proses bayar-membayar selesai, tiba-tiba mbak pengarang ini seperti teringat akan sesuatu. Trus dia ngomong dengan lantangnya kepada temannya, "OH IYA...!! Tadi kan kamu bilang mau beli VIGEL ya?" Dengan wajah pias temannya si mbak pengarang tadi langsung membantah, "A... apa? Ah, enggak kok! Enggak!" "Iya, ah!! Masa kamu lupa sih! Tadi kan kamu sendiri yang bilang, mau beli VIGEL!" "Enggak!" si teman masih membantah dengan wajah yang campur aduk antara bingung dan tengsin. Orang-orang di sekitar, termasuk si kasir, menyimak perbincangan tersebut dengan wajah, "aiii... mau beli vigel ya mas... abis ini mau ngapain siiiy". Mungkin ini kali pertama juga bagi mereka, ada orang mau beli VIGEL dengan demikian lantang dan terang-terangan. Si mbak pengarang nampak kurang sabar menghadapi bantahan temannya, dia beralih ngomong ke kasir, "Ah udahlah, masa baru sebentar aja udah lupa sih. Mbak, di sini jual VIGEL nggak?" "Jual, mbak," kata kasir. "Mana, mana, saya mau beli..." Mbak kasir berjalan keluar dari posnya ke arah rak farmasi, mengambil sekotak VIGEL, dan menyerahkannya kepada mbak pengarang. Mbak pengarang menerimanya, lantas membolak-balik kotaknya dengan tampang bingung. "Loh... kok... beginian sih mbak?" "Ya tadi katanya mau beli VIGEL. Ini VIGEL..." "Tapi maksud saya bukan yang ini.... itu lho mbak, yang buat pelembab kulit biar nggak kering itu apa sih.." "Hmmm... maksudnya VASELINE hand and body lotion kali mbak?""Nhaaa... iyaaa... maksud saya itu tadi....ih kok ingetnya jadi VIGEL sih ya..." Para penonton langsung pada pura-pura sibuk untuk nahan ketawa campur kasihan kepada mas-mas temennya mbak pengarang yang udah kadung ketiban tengsin gara-gara krim pelembab kulit... Gambar gue pinjem dari siniAda yang nggak tau apa itu vigel? klik aja link-link di tulisan vigel...
 Hari ini ada berita gembira dari Ira sang prajurit kecil. Ceritanya, beberapa hari yang lalu Ira pesen risol kribo untuk suguhan para wartawan. Waktu itu kami berpesan kepada Ira, "Kalo bisa, fotoin Pak Adang / Pak Dani makan risol kribo dong..." Bukan apa-apa, kan bangga aja gitu, kalo risol dagangan kami sempet dicicipi orang-orang penting seperti Cagub /Cawagub DKI, hehehehe... Tapi sebagaimana ditulis Ira di postingnya yang ini, sayang sekali risol kribonya keburu ludes disikat tim kepanduan sebelum sempat sampai ke tangan Pak Adang maupun Pak Dani. Padahal konon Pak Dani adalah penggemar risol. Makanya berita yang dikirimkan Ira hari ini adalah berita gembira, yaitu dia mau pesen risol kribo lagi untuk dikirimkan khusus buat Pak Dani. Langsung aja gue menawarkan diri untuk mengantarkan risol-risol tersebut. Toh rumah Pak Dani di jalan Kebon Pala nggak terlalu jauh dari rumah gue. Sengaja gue desain kotak khusus dengan tulisan RISOL KRIBO 5 kali lipat lebih gede dari biasanya supaya kalo difoto kelihatan, hehehehe... Jam setengah 9 teng, dengan penuh semangat gue menggenjot sepeda menuju rumah Pak Dani. Nggak lupa kamera juga tersimpan di ransel. Ira udah menghubungi rumah Pak Dani untuk menitipkan pesan bahwa akan datang seorang tukang risol yang bermaksud minta berfoto bareng Pak Dani. Jam 9 kurang gue berhasil menemukan rumah Pak Dani. Waduh, rame banget! Di terasnya penuh dengan wartawan aneka media. Terlihat seorang mas-mas baru menyuguhkan teh buat para wartawan. Dengan asumsi si mas ini adalah bagian dari tim Pak Dani, maka sekotak risol gue serahkan padanya. Dia masuk ke dalam sebentar, trus keluar lagi. "Kuenya sudah diserahkan ya mas?" tanya gue. "Sudah, terima kasih" katanya. Gue sempet bimbang. Trus, gimana caranya gue minta foto bareng dengan Pak Dani? Kamera gue keluarin dari ransel, trus gue pikir-pikir lagi. Dengan segini banyak wartawan ada di depan rumah, dan Pak Dani 'ngumpet' di dalem, kemungkinan besar beliau sedang nggak ingin ditanya-tanya wartawan. Masa gara-gara seorang tukang risol mau minta foto bareng dia harus keluar dari persembunyian dan beresiko diserbu wartawan? Jadi... ya sudahlah, mungkin memang belum rejekinya gue berfoto bareng Pak Dani. Maka gue putuskan untuk pulang aja lagi. Sesampainya di rumah, Ida mengabarkan bahwa Ira baru aja kirim SMS, ngomel2in ajudan Pak Dani yang kurang kooperatif memberikan kesempatan berfoto bareng bagi si tukang risol ini. Hehehe... nggak papa Ra, mungkin kapan-kapan kalo Pak Dani mau pesen risol lagi ya? Nggak lama kemudian, datang kakak gue yang mau mengantar ibu untuk mencoblos di TPS. Gue ikut juga sekalian. Gue dan Ibu kebagian TPS no 18 di Taman Suropati, yang kebetulan juga jadi TPS-nya sejumlah pejabat dan mantan pejabat seperti Mantan Wapres Try Sutrisno dan Gubernur Sutiyoso. Nggak heran kalo ada banyak wartawan mangkal di TPS ini. Berhubung sebelum sakit Ibu pernah menjabat sebagai ketua RT selama lebih dari 20 tahun, maka nggak heran kalo pas tiba di lokasi TPS banyak orang yang menyambut dan menyalami, mulai dari Hansip sampe Pak RW. Ngeliat orang-orang pada rame menyalami Ibu, rupanya para wartawan jadi salah sangka. Dikiranya Ibu gue mantan pejabat juga kali. Maka langsung aja puluhan moncong kamera foto dan televisi merekam gerak-gerik Ibu yang gue dorong di atas kursi roda: mulai dari datang, mendaftar, sampai memasukkan kertas suara. Hehehe... kasian deh pada kecele :-) Berhubung TPSnya sepi (banget), proses pencoblosan berjalan lancar tanpa ngantri. Abis nyoblos, gue kembali pulang dan meneruskan ngeMPi. Trus, apa hubungannya dengan judul posting ini? Oh iya, hampir lupa. Beberapa hari sebelum pelaksanaan Pilkada, gue mendengar sebuah kabar yang lucu namun agak mengenaskan: seorang Ketua RW di sebuah pelosok Jakarta senewen karena ada sebuah RT di wilayahnya yang proses pendataan pemilihnya terbengkalai. Udah deket ke Hri H belum ada laporan pendataan ulang calon pemilih di RT tersebut. Pak RW mencoba menghubungi Ketua RT yang bersangkutan, tapi HP-nya selalu non-aktif. Ditelepon ke rumah nggak pernah ada yang angkat. Sampe akhirnya pada suatu Pak RW berhasil tersambung ke anaknya Pak RT dan mendengar jawaban mengejutkan, "Pak RW, papah sekarang udah nggak tinggal di sini lagi. Papah kawin lagi, terus pergi dari rumah. Sekarang Papah tinggal di rumah istri baru. Kami serumah nggak ada yang tau di mana alamatnya. Nomor teleponnya yang baru juga nggak tau. Harap maklum."Ealah Pak RT... Pak RT... mbok ya kalo mau poligami jangan sampe menghambat proses demokrasi dong...
Foto: kelingking gue setelah pencoblosan
Apa jadinya kalo sebuah traffic light mengidap inferiority complex alias minder? Mungkin seperti ini:  ...dan ngomong-ngomong, rumah pojokan di seberang jalan, sekitar 10 meter di belakang traffic light minder itu, adalah rumah salah satu pejabat tinggi kepolisian.  Memang sih, yang berwenang ngurusin traffic light maupun dedaunan di jalan bukannya polisi, tapi minimal kan si bapak pejabat polisi itu bisa iseng2 nyeletuk, "Eh traffic light ini kok ketutupan daun sih? Coba kamu, wahai kroco, segera hubungi pihak berwenang deh, jangan sampai ada pelanggaran lalu lintas gara2 orang nggak liat traffic lightnya.." Atau minimal nyuruh salah satu kroco penjaga yang hari itu apes telat dateng, "Sebagai hukuman, kamu saya perintahkan potong daun di deket traffic light situ! Laksanakan!"FYI, menurut artikel di Gatra, listrik untuk menyalakan sebuah traffic light itu senilai Rp. 500 ribu per bulan. Asalnya dari duit pajak elu-elu semua, dan tujuannya untuk mengatur lalu lintas - bukan untuk ditutupin daun. Lokasi: perempatan jalan Sutan Syahrir dan Teuku Umar, Menteng.
 Malam ini, di Hero cabang Gondangdia... Gue lagi bayar belanjaan di kasir ketika tiba-tiba ada seekor kucing hamil nyelonong dari luar dan ngumpet di bawah meja kasir. Kasirnya langsung teriak manggil satpam, "Yudiii...!*" Yang dipanggil langsung datang setengah berlari. "Siap!" katanya. "Yud, urusin nih peliharaan lo ngumpet di bawah meja gue, ntar tau-tau dia beranak lagi di situ!" "Peliharaan gue?" "Tuh... kucing!" Wajah Satpam Yudi langsung agak sedikit memudar warnanya. "Wah... kalo kucing sih... gue..." "Kenapa, takut lo sama kucing, heh?" "Bukan gitu, masalahnya gue alergi sama bulunya, bisa gatelan.."Pernyataan ini nampaknya kurang bisa diterima oleh pegawai Hero lainnya, yang langsung ngakak keras-keras. "HUAHAHAHAHA.... Huuu... satpam alergi! Nggak pantes! Bilang aja lo takut!" Satpam Yudi berusaha mempertahankan harga diri, "Serius.. gue bukannya takut nih ya... cuma alergi, gitu..." Insiden kucing akhirnya dibereskan dengan bantuan seorang petugas bagian timbang buah. Yah, satpam juga berhak ngaku 'alergi', walaupun mungkin dia sebenernya phobia... *bukan nama sebenarnya. Tadinya sih mau kasih nama 'Eriq' tapi berhubung nggak ada peluang kemunculan tokoh Chika dalam cerita ini, jadi gue batalkan. Foto satpam gue sedot dari sini.
Mungkin udah banyak yang tau ya, belakangan ini beredar film2 DVD original dengan harga yang relatif terjangkau yaitu 15.000. Tentunya jangan berharap dapet full feature seperti interview dengan pemeran atau alternate ending seperti di DVD original yang harganya ratusan ribu, tapi minimal gambarnya dijamin mulus dan yang lebih penting lagi: bayar pajak untuk disetor ke kas pemerintah! (sebagai ekspresi nasionalisme gue, seorang warga negara yang bertanggung jawab -mantap kan? huahahahaha...-).
Kemasannya sederhana, cuma cover kertas yang dibungkus plastik, tanpa kotak. Di covernya tercetak harga resminya yang 15.000 itu tadi. Biasanya gue beli DVD model beginian di Pasar Festival, kalo masuk dari arah pintu yang ada Dunkin Donuts-nya, letaknya ada di sebelah kanan - sebelum toko sepatu. Tapi kalo nggak salah di sebuah toko CD di Setiabudi Building juga ada.
Nah, beberapa hari yang lalu, gue menemukan benda yang sama di Mal Taman Anggrek. Bedanya di toko ini DVD-nya dikemas dalam kotak. Harga resmi yang tercetak di cover dicoret pake spidol hitam, dan ditempeli label harga baru yaitu 17.500 - alias lebih mahal 2.500.
Artinya, dengan menambahkan kotak plastik yang harganya nggak sampe 500 perak, toko ini menjual benda 15.000 seharga 17.500.
Pertanyaan gue: Gimana menurut kalian, trik yang dilakukan toko CD di Mal Taman Anggrek ini termasuk penipuan, atau sekedar kreatif memberikan nilai tambah terhadap produk?
Gak penting sih sebenernya, cuma penasaran aja :-)
Gambarnya menyusul ya, kamera lagi gue tinggal di kantor. 
Hari Selasa tanggal 29 Mei kemarin, ada acara kantor di Training Center Ciawi. Pulangnya gue naik angkot sampe Bogor, trus nyambung naik KRL. Yah berhubung namanya juga kota hujan, cuaca di Bogor rupanya bisa berubah saban 5 menit. Pas kereta masuk stasiun, ujan turun deres banget, komplit pake geledek. Udah gitu PT Kereta Api kayaknya lagi menggalakkan semangat efisiensi: gerbong segede gambreng itu lampunya cuma sebiji. Di ujung, lagi. Biasanya kalo lagi naik KRL sumber hiburan gue adalah ulah para pedagang asongan yang aneh-aneh, tapi berhubung keadaan lagi gelap gulita gitu ya gue cuma bisa terduduk manyun. Sampe akhinya muncullah sebuah cahaya di tengah kegelapan. Ternyata sumbernya adalah seorang abang-abang penjual bola karet jabrik berisi cairan yang bisa nyala kalo digoyang. Kaya gini nih bentuknya:  Sebenernya sih mainan ini udah banyak dijual di mana-mana. Tapi berhubung situasi lagi gelap, dan cara menawarkannya juga unik, kehadiran si abang cukup berhasil menyedot perhatian penumpang. Begini katanya: "Anak ubur-ubur... anak ubur-ubur... kesian kagak ade emaknye... dua rebuan dua rebuan... anak ubur-ubur..." Seorang ibu berkerudung nampak tertarik pada si abang penjual anak ubur-ubur. "Bang, sini bang..!" panggilnya. Abang penjual mendekat. Maka terjadilah dialog berikut: "Ini apaan sih Bang?" "Anak ubur-ubur Bu!" "Ah si abang! Yang bener dong bang!" "Ya jelas ini maenan bu..." "Trus maeninnye gimane Bang?" "...terserah ibu, diremes bisa, digoyang nyala... remes sama goyang aja kan pastinya ibu pinter dong..." jawaban si abang mulai nyerempet-nyerempet. "Ih Abang! Kok die bisa nyala sih bang?" "Saya baca-bacain Bu tadi waktu mao berangkat..." "Bang!" "Ya kapan ade batu (baterai)-nye bu.. ah si Ibu deh..." "Trus kalo batunye abis gimane gantinye Bang?" "Dibelek (potong / sembelih) aje Bu," Abang penjualnya terdengar mulai bete ditanya melulu. "Yeee.. ntar nggak bisa dimaenin lagi dong Bang, gimane sih. Ya udah beli tiga deh! Lima rebu ya!" "Kapan satunye dua rebu bu, kalo tiga ya enem rebu dong." "Ya ini saya nawar.." "Ooo... nawar... ya udah deh ambil." "Pilihin Bang! Saye mau yang warnanye merah, ijo, sama biru ya!" kata si Ibu, mengabaikan kondisi gerbong yang sedang gelap gulita. Abang penjual menyerahkan 3 biji sambil menahan perasaan. Ibu pembeli jadi curiga. "Bener nih warnanya merah, ijo sama biru bang? Yakin?" "Enggak. Lah, orang gelap gini mana keliatan bu..." "Huuu.... si Abang... ya udah nih duitnye! Kembali lima belas rebu bang!" Si Ibu menyerahkan selembar dua puluh ribuan. Abang penjual menerima duit, dan menyerahkan beberapa lembar kembalian. "Kembaliannya bu... makasi ye..." "Eee.. ntar dulu Bang! Bener nggak nih kembaliannya 15 rebu? Ntar taunya kurang, lagi!" Entah karena telah mencapai puncak kebetean karena ditanya mulu sementara belinya cuma 3 biji, atau emang dasar si Abangnya bocor, dia mengeluarkan jawaban lantang yang bikin si Ibu tengsin berat, "YA BENER DONG BU, MASA KITA BO'ONG SAMA KAKAK IPAR...." Huhuhuhu... seisi gerbong ketawa-ketawa denger jawaban si Abang Penjual; sementara si Ibu nampak terpukul karena nggak merasa pernah menikahi abangnya penjual anak ubur-ubur. Habis ngomong gitu si Abang ngeloyor dengan santainya, kembali menawarkan dagangan "Anak ubur-ubur... anak ubur-ubur... kesian kagak ade emaknye... dua rebuan dua rebuan... anak ubur-ubur..." Senangnya naik KRL! :-) Foto 'anak ubur-ubur' dipinjem dari sini. Foto pedagang asongan gue potret waktu perjalanan berangkatnya.
| |