Agung's posts with tag: hrd
 | Eksodus | Mar 3, '08 11:04 AM for everyone |
 Kantor gue lagi digoyang eksodus besar-besaran. Divisi gue yang anggotanya cuma ada 18 orang, selama bulan Februari kemarin harus kehilangan 5 orang - termasuk kepala divisinya. Dan ini masih akan terus berlanjut sampe tauk tersisa berapa ekor. Awalnya, di akhir tahun 2004, bank tempat gue kerja membuka segmen Mass Market, segmen yang memfokuskan diri untuk melayani "unbankable customers". Mereka adalah para pedagang pasar yang selama ini ditolak melulu kalo mau minjem duit ke bank karena nggak punya jaminan. Dengan hanya bermodalkan 6 kantor cabang di akhir 2004, segmen ini ternyata berkembang pesat hingga sekarang punya lebih dari 700 cabang, hanya dalam tempo kurang dari 4 tahun. Portofolio kreditnya bukan lagi "M" atau "ratusan M", melainkan udah "T", setara dengan portofolio kredit sebuah bank menengah di Indonesia. Padahal ini cuma segmen, bagian, dari sebuah bank lain. Nggak heran kalo kemudian para investor dari luar negeri pada berdatangan dan mulai colek-colek para petinggi di tempat gue. Sekali - dua kali dicolek mungkin orang masih bisa tahan, tapi kalo keseringan kan lama-lama lemes juga. Akhirnya, di pertengahan Februari kemarin, Business Head gue, pimpinannya segmen Mass Market, mengumumkan pengunduran dirinya. Dia pindah ke sebuah bank yang baru dapet suntikan dana super gede dari investor luar negeri. Kalo cuma dia seorang yang cabut mungkin masih nggak terlalu ngaruh ya, tapi dalam kasus ini, dia ngajak para bawahannya, yaitu para kepala divisi, untuk ikutan gabung ke kantornya yang baru. Para kepala divisi yang diajak, tentunya nggak lupa ngajak para managernya untuk ikut masuk gerbong. Dan para manager, tentunya nggak lupa sama anak buahnya - ikutan diajak juga. Akibatnya: eksodus terparah yang pernah terjadi di depan mata gue. Divisi gue, contohnya. Anggotanya cuma 18 orang, dan selama bulan Februari kemarin udah kehilangan 5 orang - 4 di antaranya masuk dalam rombongan piknik ke bank tetangga. Berdasarkan arena gosip saat ngerokok bareng di tangga darurat, acara 'bedol desa' ini masih akan terus berlangsung. Yang udah santer kedengeran sih akan ada 2 sampe 3 orang lagi yang bakal cabut dalam kurun waktu 2 minggu ke depan. Kebayang nggak sih, satu orang resign aja bisa bikin repot lainnya karena harus kerja dobel menghandle kerjaan orang yang resign itu. Lah ini sampe nyaris separo divisi pada angkat laptop (karena lebih banyak yang bawa laptop ketimbang bawa koper - jadi istilah 'angkat koper' kurang pas diterapkan di sini). Udah gitu, nggak pake acara ngajarin para calon pengganti, atau transfer kerjaan ke orang-orang yang tinggal, minimal ngasih tau kerjaan mereka apa dan gimana cara ngeberesinnya, sebagian besar main cabut mendadak aja kaya lagi kebelet ke jamban. Tapi kalo cuma urusan kerjaan yang makin numpuk buat gue masih belum seberapa dibandingin sama dampak lain yang lebih parah: hubungan antar anggota tim, baik yang udah, akan, maupun yang enggak ikutan eksodus jadi ikut-ikutan terganggu. Masalahnya, selama ini orang-orang di divisi gue punya hubungan informal yang lumayan deket. Bukan cuma terbatas hubungan kerja, tapi di luar kantor mereka juga akrab dan penuh keterbukaan. Prinsipnya, "boleh ngomong sebelum mikir asal jangan bikin orang mikir denger omongan kita". Eh, sekarang tiba-tiba aja jadi pada bungkam, sok misterius, dan akhirnya saling curiga satu dengan lainnya, kuatir temen yang lagi diandalin untuk gotong-royong ngeberesin benang kusut mendadak ikutan 'nyeberang'. Yang bikin gue sangat terganggu adalah, orang-orang yang mau ikut rombongan mendadak pada tutup mulut, nggak ngaku bahwa mereka mau ikut arus eksodus. Ini sebenernya mau pindah ke bank lain, atau direkrut jadi pengedar narkoba, sih? Ada satu orang yang pas gue tanya ngakunya mau pindah ke 'konsultan', eh belakangan ketahuan ternyata ke sana juga. Lainnya ngaku mau 'bisnis sendiri', taunya ikut juga ke sana. Padahal, tiap kali gue ditanya sama orang dari divisi lain, gue selalu menjawab, "...enggak, mereka nggak ikut ke 'seberang' kok, yang satu mau ke konsultan, satunya mau bisnis sendiri..." Kebanyakan sih skeptis denger jawaban gue, tapi gue bersikeras, "Mereka nggak ikut, bener deh... mereka sendiri kok yang bilang sama gue..." I feel so damn stupid for trusting their words that much. Di acara farewell party sama kepala divisi hari Jumat minggu lalu, gue bilang terus terang di tengah forum, "Ada apa sih ini? Kenapa sih orang-orang yang mau ikut ke sana pada bohong semua? Emang diperintah untuk main rahasia, ya? Emangnya kalo kita tau mereka mau pindah ke sana, kenapa?" Kepala divisi gue jawab, "Bukannya mau main rahasia-rahasiaan, tapi ibarat Agung mau beli rumah, udah sepakat sama pemilik rumah yang baru, tapi belum ada hitam di atas putih, kan nggak enak kalo Agung udah bilang ke orang-orang bahwa Agung adalah pemilik baru rumah tersebut. Siapa tau ada di antara penghuni rumah tersebut yang belum tau bahwa rumahnya udah berpindah tangan, kan mereka bisa jadi resah..." Dengan kata lain, untuk menjaga stabilitas kondisi di 'seberang' harus mengorbankan stabilitas kondisi di tim sendiri? Well, sorry mbak, I think that is the biggest bullshit I've ever heard - so big that I can't imagine the size of the bull. Satu-satunya alasan yang masuk akal bagi gue adalah, karena rombongan itu pindah dengan tujuan 'mensabotase' perusahaan gue sekarang. Trust is a very fragile thing. Sayang banget ngeliat kepercayaan yang udah terjalin di tim gue selama hampir 4 tahun ini mulai retak hanya gara-gara tawaran kerja di tempat lain. Gue sendiri udah memutuskan untuk nggak ikutan eksodus. Kalopun gue resign dari perusahaan ini, nggak sekarang, nggak akan ke sana, dan nggak akan dengan cara yang bikin susah orang. Sebagai reminder untuk diri gue sendiri, dan saran untuk kalian yang berencana untuk resign dari kantor, berikut beberapa poin yang SEBAIKNYA dilakukan sebelum resign - kalo nggak ingin merusak hubungan dengan orang-orang yang kalian tinggal: - Terus terang. Kebanyakan orang yang mau resign memang 'terpaksa' merahasiakan rencananya sampe detik terakhir, karena kuatir akan dihalang-halangi atau bahkan kena hukuman kalo sampe punya niatan pindah. Tapi begitu kesepakatan kerja dengan tempat baru ada di tangan, mendingan terus terang sama orang-orang di sekitar. Kasih tau bahwa dalam waktu dekat lo nggak akan ada untuk membantu mereka lagi. Nggak usah sok ngebohong karena cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar dan sekali lo ketahuan bohong, kredibilitas lo akan dipertanyakan.
- Jangan ninggalin sampah. Beresin kerjaan lo sebelum resign, sampe tuntas. Kalo ada yang belum bisa dituntasin, ajarin cara ngeberesinnya ke para pengganti lo.
- Ajukan pengganti. Masalah diterima atau enggak urusan belakang, tapi minimal tunjukkan niatan untuk mencari kandidat dengan kemampuan yang setara sama elo, untuk jadi pengganti lo nanti.
Gue pernah baca sebuah saran di artikel tentang resign, "never burn bridges behind you" - jangan pernah merusak hubungan dengan mantan rekan-rekan sekerja lo, karena lo nggak pernah tau kapan akan membutuhkan mereka lagi. image gue pinjem dari sini
Link: http://www.danamon.co.id/onform.phpBuat yang lagi bosen sama kantornya yang sekarang, atau yang baru lulus kuliah dan baru mulai cari kerja, barangkali link ini bisa membantu.
Di sini lo bisa ngisi formulir CV online yang nantinya akan tersimpan di database Bank Danamon. Bebas biaya perangko :-)
Buat yang mau nambah2in pahala nolongin temen2nya yang belum dapet kerja, link ini boleh kok diforward ke mana aja. 
Menjawab permintaan dari salah
seorang pengunjung di shoutbox gue, kali ini gue mau sharing sedikit
pengetahuan yang gue punya tentang proses negosiasi gaji. Tapi perlu dicatat;
mengingat sekarang gue udah cukup lama meninggalkan dunia per-HRD-an, mungkin
informasi yang gue sampaikan di sini udah nggak terlalu update lagi. Jadi,
jangan telen mentah2 apa kata gue, cek dan ricek lagi dari sumber yang lain ya!
Kenapa sih kita harus menegosiasikan
gaji? Kenapa nggak langsung aja
ditentuin oleh perusahaan? Untuk menjawab ini, pertama-tama perlu gue
jelasin dulu bahwa struktur gaji di sebuah perusahaan biasanya ditentukan dalam
range (rentang), dan range-nya saling overlap satu dengan lainnya. Memang nggak
semua perusahaan menetapkan struktur gaji dalam range seperti ini, tapi
sebagian besar sih begitu. Untuk jelaskan coba
perhatiin tabel ilustrasi berikut:
| Level | Gaji |
| I | 900rb - 1.2 jt | | | II | | 1 jt - 1.5 jt | |
| III | | 1.3 jt - 2.2 jt | | ...dst | |
Ada 2 keuntungan penetapan gaji dengan sistem range,
ditinjau dari sudut pandang perusahaan: - Memberikan
ruang bagi pihak HRD perusahaan tersebut untuk merekrut orang terbaik pada
sebuah level. Untuk jelasnya coba simak contoh kasus sbb:
Sebuah
perusahaan berniat merekrut si X yang saat ini udah bekerja di perusahaan lain.
Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa X menerima gaji 1 juta di
perusahaannya sekarang, dan berada di level I. X tentu menolak saat diajak
pindah dengan penawaran gaji sama yaitu 1 juta. Berkat sistem gaji yang menggunakan
range, maka perusahaan yang baru bisa memberikan penawaran menarik sebesar 1.2
juta kepada X, tanpa harus memposisikannya di level yang lebih tinggi (yang
mana terkait dengan pemberian fasilitas / tunjangan yang lebih besar pula).
- Memungkinkan perusahaan untuk melakukan
efisiensi pengeluaran gaji. Ingat, perusahaan sebagai institusi ekonomis,
pastinya mengutamakan prinsip ekonomi pula: pengeluaran
sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Kalo
seorang pegawai happy-happy aja dengan digaji 900 ribu, kenapa harus ngasih 1
juta? Ilustrasi berikut mungkin bisa memperjelas:
Si Y
adalah seorang pegawai lugu yang rela ngelembur tanpa banyak nuntut uang
tambahan. Di kantor sekarang ia menduduki level I dengan gaji 750 ribu. Melihat
fakta seperti ini, maka sambil sedikit bertanduk sang petugas HRD perusahaan
tetangga menyodorkan penawaran gaji 900 ribu kepada Y, yang langsung diterima
dengan penuh rasa syukur dan hati sumringah. Nah,
melihat kedua contoh di atas, jelas bahwa urusan negosiasi gaji bisa sangat
menentukan besaran gaji yang kita terima. Si X dan si Y sama-sama menduduki
posisi di level I, kerjaannya sama, tanggung jawab sama, tapi X bisa mendapat
gaji lebih besar dari Y hanya karena perbedaan dalam proses negosiasi gaji!
Kesimpulannya: proses negosiasi gaji itu penting
banget! Apa yang harus disiapkan sebelum menegosiasikan
gaji? - Kenali
pasaran
Ini penting banget banget! Lo harus tau, untuk
kualifikasi yang lo punya sekarang ini, berapa range gaji yang berlaku. Dengan
demikian lo bisa mengajukan penawaran yang 'pas'. - Tetapkan
standar yang rasional
Ini juga nggak kalah penting.
Standar ditetapkan berdasarkan kondisi pribadi lo sekarang ini. Maksud gue
gini: Kalo saat ini lo lagi happy-happy aja di perusahaan tempat
kerja lo, trus dateng tawaran untuk pindah ke perusahaan lain, boleh lah lo
jual mahal dikit. Minta gaji yang rada2 di luar range. Dikasih sukur, enggak ya
udah. Tapi sebaliknya, kalo lo saat ini lagi nganggur, trus lo
menolak tawaran pekerjaan dengan gaji 1 juta hanya karena lo tau untuk
kualifikasi lo rangenya berkisar antara 1.2 - 1.5 juta, ya kurang bijaksana
juga. What i'm saying is, memang perlu untuk mengetahui harga pasaran lo
berapa, tapi jangan lantas terpaku dan terjebak dengan pasaran tersebut hingga
akhirnya mematikan potensi lo untuk berkembang, gitu
loh. Faktor apa aja yang
mempengaruhi standar gaji dari sebuah
perusahaan? - Industri
Beda industri, beda juga standar gajinya. Industri telekomunikasi, pertambangan
/ perminyakan, konsultan, dan consumer goods adalah beberapa industri yang
standar gajinya relatif tinggi. - Ukuran
perusahaan
Perusahaan multi-nasional biasanya punya standar
gaji lebih tinggi dari perusahaan lokal dari bidang industri yang
sama. Tapi, perusahaan2 kelas menengah biasanya masih belum punya
standar gaji yang baku - sehingga justru dengan perusahaan tipe ini lo bisa
nodong gaji seenaknya berdasarkan wangsit dan disetujui! - Level
/ lingkup pekerjaan
Gue sering menemukan, orang salah
memperkirakan standar gaji pekerjaan yang dilamar karena terkecoh dengan title
/ judul pekerjaannya. Contoh kasus yang sering terjadi: lowongan pekerjaan
dengan judul mentereng "sales supervisor" membuat pelamar
mengira pekerjaannya di tingkat manajerial dan mengepalai sebuah tim, nyatanya
harus kerja sendiri jualan barang. Atau yang pernah gue temui di sebuah
perusahaan milik pemerintah daerah, terjadi kenaikan jabatan berkala secara
otomatis - sehingga seorang staff biasa setelah sekian tahun kerja harus jadi
"kepala" sesuatu. Akibatnya, struktur perusahaan tersebut
mekar terus dari waktu ke waktu karena bermunculan "kepala2"
baru, dan banyak "kepala seksi" yang nggak punya anak buah!
Title pekerjaan bisa mengecoh, "manager" di
perusahaan yang satu bisa saja selevel dengan seorang "supervisor"
di perusahaan lain atau justru seorang "vice president" di
perusahaan lainnya - tergantung seberapa besar beban kerja yang menjadi
tanggung jawabnya. Oleh karena itu, sebelum bernegosiasi kenali dulu di level
mana pekerjaan yang akan lo lamar ini.
Gimana caranya mengetahui pasaran gaji untuk
pekerjaan yang akan gue lamar? Untuk
urusan ini memang rada sulit. Kalo kebetulan lo punya temen yang kerja di
industri yang sama, lo mungkin bisa nanya2 sama dia - walaupun pastinya nggak semua
orang mau jawab saat ditanya gajinya. Gue salah satunya, sampe detik ini cuma
ada satu temen gue yang tau persis gaji gue berapa. Selain itu lo juga bisa ikutan
milis2 HRD - kadang di sana suka ada sharing mengenai standar gaji. Tahap-tahap negosiasi
gaji - Pengisian
formulir lamaran
Ya, proses negosiasi gaji dimulai saat lo
mengisi formulir lamaran pekerjaan. Biasanya di formulir tersebut ada isian
tentang besar gaji yang diinginkan. Make sure lo isi kolom tersebut dengan
jumlah yang lo inginkan, tentunya dengan mempertimbangkan faktor kemampuan diri
sendiri dan faktor standar perusahaan. Tambah jumlah tersebut dengan 20-30%
untuk memberikan ruang just in case ditawar.
Jangan, jangan pernah mengosongkan bagian
ini, atau mengisinya dengan kata2 basi "mengikuti standar
perusahaan" atau "terserah
perusahaan". Waktu gue masih di HRD, kalo nemu pelamar yang
ngisi begini suka gue tanya balik, "bener nih gajinya terserah?
Dibayar ceban mau?" Oh ya, biar nggak salah paham, tulis jumlah gaji
yang lo inginkan itu dalam satuan p.a. (per annuum alias per tahun). Soalnya,
ada perusahaan yang menggaji karyawannya secara standar yaitu 12 bulan gaji
plus 1 bulan THR, sementara ada juga perusahaan yang per tahunnya bisa belasan
hingga puluhan kali gaji yang dibayarkan dalam bentuk bonus ini - itu.
- Wawancara pertama
Biasanya
di tahap ini suka muncul pertanyaan tentang jumlah gaji yang lo tulis di
formulir. Pertanyaan yang umum muncul adalah, "Jumlah ini
negotiable nggak?" Karena tadi jumlahnya udah lo
tambah, tentu aja lo jawab dengan "ya". Pertanyaan
lain yang sering muncul adalah "Kenapa Anda minta gaji
sekian?" Nah, yang ini perlu dijawab dengan jurus khusus. Jangan
pernah speechless saat ditanya begini, karena akan melemahkan posisi tawar lo
di tahap selanjutnya. Lo akan terlihat asal2an dan nggak ngerti pasaran saat
meminta gaji. Jawaban paling bijak adalah, "Karena nilai itu sesuai
dengan kualifikasi yang saya miliki sekarang". Oh ya, saat mengucapkan
kalimat itu usahakan intonasi tetap datar dan terkendali, jangan terkesan
jumawa sehingga bikin petugas recruitment serasa ingin noyor kepala lo.
Udah, sampe sebatas dua pertanyaan itu aja yang perlu lo jawab di tahap ini. Sebagaimana
pernah gue bahas di sini,
jangan mau kalo si petugas berusaha menawar permintaan gaji lo ke titik final
di tahap ini. Masih terlalu dini untuk negosiasi gaji, sehingga jawab aja
dengan "Biar lebih jelas, mungkin Anda bisa ceritakan dulu paket
remunerasi lengkap yang berlaku di perusahaan ini, sebagai bahan pertimbangan
saya?" Kalo si petugas recruitment waras dia juga belum mau
membeberkan paket remunerasi lengkap di wawancara awal sehingga posisi menjadi
case-closed, sama-sama paham belum waktunya untuk bernegosiasi gaji. Atau bila
ternyata dia langsung blak2an membuka paket remunerasi lengkap yang ditawarkan,
artinya wawancara awal ini sekaligus wawancara final - lo diminta memutuskan
akan join atau enggak di tahap itu.
- Proses negosiasi gaji
Setelah
rangkaian proses recruitment selesai dan lo berhasil lolos dari semua saringan,
lo akan dipanggil sekali lagi untuk menegosiasikan gaji. Sebaiknya lo datang ke
tahap ini dengan berbekal informasi, berapa jumlah saingan lo. Kalo ternyata
cuma elo sendiri yang lolos, maka posisi tawar lo akan lebih kuat. Biasanya
di tahap ini, petugas akan mulai dengan menceritakan seluruh paket remunerasi
lengkap yang ditawarkan - mulai dari gaji hingga tunjangan2. Catet semuanya,
jangan cuma dihafal karena biasanya komponennya cukup ribet. Perhatikan
komponen tunjangan kesehatannya gimana? Penggantiannya berapa persen dari
tagihan dokter? Berapa jumlah per tahun? Kalo rawat inap dapat kamar kelas
berapa? Things like that. Pastikan lo dapet penjelasan yang selengkap mungkin.
Setelah petugas menjelaskan, biasanya dia akan nanya,
"Bagaimana, apakah paket kami sudah sesuai dengan ekspektasi
Anda?" Kalo jumlahnya lebih besar dari ekspektasi lo ya case-closed,
lo tinggal tanda tangan kontrak kerja. Tapi kalo belum, ya inilah saatnya lo
bernegosiasi, tentunya dengan ekspresi yang terkendali dan tidak bikin orang
serasa ingin noyor kepala lo, misalnya dengan bilang "Sebenarnya
ekspektasi saya lebih besar dari jumlah ini, yaitu sekian rupiah (atau dollar -
if you're one lucky bastard) per tahun." Kemukakan
juga alasan lo, yaitu balik ke harga pasaran kualifikasi yang lo punya plus
mengacu juga ke gaji yang lo terima di perusahaan sekarang (kalo elo udah
kerja). Kalo lo mau jual mahal bisa bilang dengan "Saat ini saya
merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang sekarang, tentunya saya butuh
'motivasi' yang lebih besar untuk berkarir di tempat lain." Ada
dua kemungkinan yang akan dilakukan petugas saat mendengar jawaban lo (a)
berkata, "sayang sekali, ini final offer dari kami". atau (b)
"mohon tunggu sebentar, akan saya konsultasikan dengan atasan saya dulu".
Apapun yang terjadi, hari itu biasanya lo akan mendapat penawaran final dari
perusahaan. Kalo ternyata penawaran finalnya tetep belum memenuhi harapan lo,
JANGAN langsung menolak saat itu juga. Kesannya lo mata duitan banget (walaupun
mungkin memang iya) dan hanya tertarik untuk bergabung karena faktor
penghasilan. Entah kenapa, hari gini masih banyak aja boss2 di perusahaan besar
yang berharap orang bergabung di perusahaannya "bukan semata-mata
nyari duit" sehingga langsung bete pada kandidat2 yang secara jujur
mengakui motivasi kerjanya adalah uang. Lantas kalo bukan karena nyari duit,
buat apa dong orang ngelamar kerja? Kelebihan energi?
Anyway, JANGAN langsung menolak penawaran yang kurang memuaskan itu,
dan bilang, "Baik kalau begitu akan saya pertimbangkan dulu di rumah.
Boleh saya hubungi Anda lagi besok via telepon?" Dengan
mengulur waktu seperti ini, lo menghindarkan diri lo sendiri dari keputusan
impulsif yang mungkin akan lo sesali. - Pasca
negosiasi gaji
Besokannya, hubungi lagi petugas yang temui
kemarin tepat waktu sesuai janji, dan sampaikan keputusan lo. Kalo lo
memutuskan untuk batal bergabung, tetep jaga sopan santun dengan bilang
"Mohon maaf, setelah saya pikirkan masak2, saya memutuskan untuk tetap
di perusahaan saya yang sekarang dulu". Nggak perlu belagu, lo nggak
akan tau kapan lo harus berhadapan dengan si petugas itu lagi. Siapa tau saat
ini lo merasa udah nggak butuh lagi dengan dia, eh taunya kapan2 lo ngelamar di
tempat lain dan ketemu dia lagi. Biasanya para petugas HRD punya ingatan gajah
lho. Jangan lupa bilang terima kasih atas segala effortnya mengurusi proses
lamaran lo. Ok, segitu dulu tips negosiasi
gaji dari gue, semoga cukup jelas dan membantu.
Gambar gue comot dari sini.
 I dealnya, sebelum memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan, kita udah punya gambaran detil tentang apa dan bagaimana sikon di perusahaan tersebut. Kaya apa culture-nya, keuangannya sehat apa enggak, jenjang karirnya prospektif atau enggak, dst. Tapi gimana kalo kita ditawari kerja di perusahaan yang sama sekali belum pernah kedengeran ceritanya? Langsung tolak? Ntar dulu. Nggak pernah kedengeran ceritanya bukan berarti jelek lho. Satu-satunya jalan adalah dengan menganalisa proses yang terjadi sewaktu melamar. Berikut ini beberapa "gejala" yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Nggak selamanya bener, tapi minimal bisa jadi bahan pertimbangan. Kalo cuma satu atau dua gejala yang muncul, yah, mungkin sekedar kebetulan aja. Tapi kalo hampir semua gejala ini terjadi, hmmm... hati-hati aja. Kalo masih punya pilihan, mending ngelamar di tempat lain aja deh!
1. Lo kurang dihargai sebagai manusia. Kalo cuma si resepsionis yang tampangnya bete waktu menyambut elu, yah mungkin kebetulan dia abis ronda semalem, masih ngantuk. Kalo cuma pak satpam yang rada galak waktu minta elu nitip KTP, yah mungkin dia lagi mikirin anaknya sakit di rumah. Tapi kalo mulai dari tukang parkir, satpam, resepsionis, office boy, sampe tukang gorengan yang mangkal di depan pada kompakan menunjukkan perilaku yang kurang santun - warning - kemungkinan ada yang nggak beres dengan perusahaan ini. Yang gue maksud dengan perlakuan kurang santun antara lain: nggak mengucapkan salam saat menyambut, nada bicara yang kurang bersahabat, nunggu lama tanpa dikasih minum, sampe perlakuan yang kurang manusiawi seperti diminta mengisi formulir lamaran di tempat orang lalu lalang - sambil jongkok pula. FYI; formulir lamaran yang lo isi sewaktu melamar kerja itu adalah dokumen yang sifatnya pribadi dan rahasia. Seharusnya lo ditempatkan di ruangan yang tertutup dan nyaman - minimal ada meja dan kursi untuk tempat nulis - bukan di ruang resepsionis yang serba terbuka sehingga mas-mas kurir yang kebetulan lewat bisa nyeletuk, "wah rumahnya deketan nih sama rumah saya, kapan-kapan boleh main ya..." Perusahaan yang sehat dan profesional sadar bahwa citra perusahaan dibangun mulai dari garda depan, dari bagaimana tamu disambut. Kalo untuk urusan remeh gini aja mereka nggak becus menangani, jgn2 untuk urusan yang besar-besar juga morat-marit.
2. Lo dicoba untuk ditempatkan dalam posisi lemah / dependen pada perusahaan Yang gue maksud antara lain: petugas recruitment yang meminta elu untuk menyerahkan dokumen pendukung (ijazah, transkrip nilai, referensi kerja) yang ASLI, atau "menggantung" status kepegawaian lo di zona limbo antara kontrak dan permanen, penetapan masa percobaan yang kurang jelas, dan sebagainya. Khusus untuk urusan "menahan" dokumen pendukung, asal tau aja ya, sebenernya perusahaan nggak berhak melakukannya. Kecuali kalo elu udah jadi pegawai, terus disekolahin sama perusahaan dan setelah pendidikan selesai ijazah lo ditahan sampe masa ikatan dinas berakhir, itu lain perkara. Sedangkan yang terjadi di sini kan elu capek2 sekolah pake ongkos sendiri, eh begitu lulus ijazahnya disandera. Mengutip kata Mpok Jane dan Sarah, "WHO DO YOU THINK HE ARE??". Kalo tau-tau kantornya kebakaran, kebanjiran, atau diserbu tikus hingga dokumen penting itu rusak, siapa yang mau tanggung jawab? Perusahaan yang menerapkan kebijakan konyol macam ini biasanya perusahaan yang udah menghadapi dilema: di satu sisi terlalu pelit / terlalu miskin untuk menaikkan kesejahteraan pegawai, di sisi lain butuh untuk mempertahankan jumlah pegawai yang loyal. Kalo perusahaan yang sehat pastinya akan mencoba membuat pegawainya betah dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka, bukan dengan menyandera dokumen! Dengan kata lain, ini tipe perusahaan yang ngajak susah bareng-bareng. Sama sekali nggak worthed untuk dilamar.
3. Lo diminta mondar-mandir kaya setrikaan Lazimnya, proses seleksi pegawai dilakukan dalam 3 tahap:
- Wawancara dan psikotes awal - biasanya di tahap ini lo ketemu dengan petugas HR di level officer atau konsultan eksternal
- Tes kesehatan
- Wawancara dengan calon boss (user).
"Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2." Kadang-kadang, ada 2 atau 3 tahap tambahan di mana elo diminta wawancara dengan bossnya HR, bossnya user, atau dengan big boss - biasanya terjadi di perusahaan kecil. Jadi maksimal elu mondar-mandir untuk keperluan melamar kerja adalah 6 kali. Nah kalo elo ketemu kantor yang meminta lo dateng untuk interview doang, habis itu psikotesnya di hari lain, habis itu di hari lainnya interview lagi dengan orang lain, habis itu "eh iya ada yang lupa ditanyain" dan lantas lo harus dateng lagi minggu depannya untuk wawancara lanjutan, baru abis itu wawancara dengan boss, terus minggu depannya lagi wawancara dengan boss yang lain lagi, baru abis itu tes kesehatan, terus "oh iya ada lagi ding yang kelupaan ditanya" sehingga lo harus wawancara dengan HR lagi... - warning - lo sedang berhadapan dengan perusahaan bingung. Kondisi kayak gini mengindikasikan ada masalah dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Lo diminta dateng berkali-kali dan ketemu dengan orang yang berbeda-beda karena nggak ada satu orang yang punya cukup nyali untuk bertanggung jawab atas keputusan menghire elu. Maksudnya kalo elu ternyata bertingkah setelah dihire jadi pegawai, biar nggak ada satu orang yang jadi kambing hitam, gitu. Makanya wawancaranya jadi tanggung renteng gitu. Pertanyaannya, lagi-lagi, kalo untuk mengambil keputusan menghire seseorang aja segitu ribetnya, gimana dengan pengambilan keputusan untuk urusan lain yang lebih penting dan genting? Selain itu, kembali pada poin pertama, mereka juga kurang menghargai waktu, biaya dan tenaga yang harus lo keluarkan untuk dateng ke kantor mereka.
4. Lo ditawar pada pertemuan pertama Wawancara tahap pertama adalah saringan awal untuk memilih calon pegawai yang paling potensial.Kalo baru pada pertemuan pertama concern mereka terpaku pada gaji yang lo ajukan seperti "bisa turun nggak nih?" atau "negotiable nggak nih?" atau yang ngeselin "minta gajinya gede amat mas. bisa turun nggak?" - warning - mereka nggak peduli pada kualitas elo sebagai pegawai. Mereka cuma ingin cari tenaga murah. Tapi berita baiknya, kalo perusahaan yang lo lamar termasuk tipe yang begini, maka ada satu kiat jitu yang PASTI berhasil, yaitu jawab aja dengan "Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2." Bukannya 'haram' untuk menanyakan apakah gaji yang lo minta itu negotiable pada pertemuan pertama, tapi bedakan antara yang sekedar nanya dengan yang maksa "kurang dikit dong mas!" 5. Lo diajak bersekongkol Yang ini pengalaman pribadi gue nih. Di salah satu perusahaan sebelum kantor gue yang sekarang, masa HR managernya bilang gini, "Agung, tolong kalau kamu masuk tanggal 1 nanti, bilang sama orang-orang bahwa kamu udah mulai interview dengan saya sejak 2 bulan sebelumnya ya." Gue, tentu aja bingung mendengar permintaan aneh ini, mengingat wawancara pertama cuma berjarak 1 bulan dari tanggal masuk gue. "Nggak papa, sekedar supaya nggak heboh aja karena ada orang baru." Sebuah jawaban yang nggak memuaskan, tapi waktu itu gue pikir, 'ah ini kan cuma soal kecil'. Ternyata... setelah gue masuk baru ketauan bahwa alur komunikasi si boss dengan para bawahannya sangat parah. Lingkungan kantor dipenuhi desas-desus, termasuk tentang kehadiran gue. Parahnya, si boss sama sekali nggak bernyali untuk menghadapi para karyawan, minimal menjelaskan biar lurus, dan membantah isu yang ngaco. Kalo ada isu negatif ya begitulah yang dia lakukan, berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan yang sayangnya kurang cerdas. Puncaknya, baru sebulan gue kerja di perusahaan tersebut, si boss yang ngajak sekongkolan tadi mendadak "resign" secara misterius karena baru ketahuan pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan perusahaan harus berurusan dengan pengadilan. Perusahaan yang mengajak lo menutup-nutupi sesuatu mengindikasikan bahwa mereka kesulitan mengelola iklim kerja. Dan seperti yang pernah gue sebut di sini, jangan kira tawaran paket remunerasi yang menarik bisa mengkompensasi iklim kerja yang parah.
foto: gettyimages.com

 "Waduh Mbot, hari ini aku nggak semangat kerja deh..." "Kenapa?" "Udah dua minggu ini nggak ada kerjaan, demotivasi deh rasanya."
H ampir di semua kantor yang pernah gue singgahi, gue ketemu orang yang curhat seperti ini: bete / kehilangan gairah hidup / kurang pe-de / nggak semangat / loyo / lesu karena di kantor nggak punya kerjaan alias 'masuk kotak' .
Mungkin aneh kedengerannya, orang ngantor tapi nggak punya kerjaan, tapi ini terjadi di mana-mana. Penyebabnya macem-macem. Bisa karena si karyawan itu sendiri yang dianggap kurang kompeten oleh atasan, tapi di sisi lain nggak melakukan kesalahan yang cukup 'fatal' untuk di-PHK. Bisa juga karena 'politik' kantor: ada boss baru, sementara si karyawan udah kadung menyandang 'cap' sebagai 'bawaan' atau 'pro' boss yang lama sehingga harus 'dinetralisir'. Atau karena karyawannya lalai mengupdate kemampuannya sendiri, sehingga lama kelamaan 'kesalip' sama tenaga2 yang lebih muda dan pinter. Atau akibat kesalahan setting organisasi perusahaannya: karyawan di-hire secara permanen untuk mengerjakan sebuah proyek yang sifatnya temporer. Tentu aja setelah proyeknya selesai karyawan ybs jadi nggak punya kerjaan. Tapi ada juga sih organisasi yang sedemikian nggak efisiennya sehingga terus menerus merekrut pegawai baru padahal pegawai yang udah ada aja kerjanya kurang jelas... gue nggak sebut nama organisasinya lho ya, takut nanti ada yang tersinggung.
Dampak psikologis dari 'pengangguran terselubung' di kantor ini bisa cukup serius lho. Karyawan yang mengalaminya bisa jadi minder, lantas uring-uringan, sampe mengganggu kehidupannya di luar kantor. Dari pengakuan sebagian orang yang mengalami, mereka merasa kurang berharga, sampah masyarakat, malu sama teman2 di sekitar karena dia cuma bisa bengong sementara yang lain sibuk kerja.
Sementara setiap kali gue mendengar keluhan semacam ini, gue malah mikir, "WOOOW... THAT IS MY DREAM JOB...!"
Lha coba aja bayangin: lo dibayar gaji penuh setiap bulan, hanya untuk duduk2 di kantor, dan disediain perangkat komputer gratis pula! Seandainya gue yang berada dalam posisi seperti itu, ada banyaaak banget hal menyenangkan yang bisa gue kerjain. Journal ini gue tulis sekaligus sebagai reminder terhadap diri gue sendiri, bila suatu hari nanti dapet giliran 'masuk kotak'. Oh iya, tentunya setelah terlebih dahulu memastikan apa iya gue beneran 'masuk kotak', atau sekedar berada dalam posisi untuk kreatif dan proaktif menciptakan pekerjaan sendiri.
Ini list yang bisa gue kerjain dari dalam 'kotak':
- NGEMPI, tentu aja!! Mungkin bisa 10 posting sehari gue bikin. Ganti template CSS tiap hari.
- Belajar aneka program komputer. Mulai dari teknik2 Photoshop baru. Nanti kalo udah jago di photoshop, belajar corel, adobe illustrator, flash, premiere, 3d max, autocad, excel... wah banyak deh. Oh iya, gue juga ingin belajar tentang javascript, dan visual basic. Kayaknya 'cool' :-)
- Baca novel yang setebel-tebel bantal. Sekarang aja udah banyak banget buku yang gue beli tapi belum sempet dibaca.
- Belajar nggambar wajah orang yang betulan. Selama ini gue hanya bisa nggambar kartun doang. Kalo sok2an nggambar muka orang, pasti orangnya protes krn merasa nggak mirip.
- Belajar bahasa baru. Itali, spanyol, mandarin dan jepang udah ada dalam list gue. Belajarnya bisa dari paket buku yang ada kasetnya untuk melatih pelafalan.
- Terima bikin terjemahan film, seperti waktu jaman kuliah dulu. Wah, ini pekerjaan yang menyenangkan banget, krn film2 yang gue terjemahin biasanya telenovela. Tau sendiri telenovela paling apa sih dialognya? Nggak jauh2 dari "Aku cinta padamu, Alejandro" - "Pergi kau keparat!" - "Maukah kau menikah denganku?" - dulu program MS Word gue penuh dengan autocorrect untuk memunculkan kata-kata standar tersebut.
- Main The Sims sampe simsnya beranak cucu.
- Terima pesanan bikin website. Wah, proyek ginian duitnya kenceng lho! Kerjaannya menyenangkan, lagi. Sekalian terima pesenan desain2 yang lain deh: poster, kartu nama, spanduk...
- Ngedesain brosur2 baru untuk jualan VCO.
- Belajar origami. Siapa tau nanti bisa bikin 2002 bebek2an untuk membalas 1001 burung dari istri.
- Terima pesenan bikin baju pake t-shirt transfer :-)
- Belajar sulap. Gue paling seneng nonton sulap, khususnya close-up trick. Itu ada bukunya dan bisa dipelajari sendiri lho!
- Nulis novel, cerpen, naskah. Tuh, tambahan duit masuk lagi deh.
- Belajar siul.
- Ngarang aneka games baru untuk training atau acara2 keriaan lainnya di mana gue seringkali ditodong untuk mengisi acara.
- Terima pesenan edit video. Satu lagi sumber duit masuk. Terima video aneka jenis deh, kerahasiaan dijamin.
- Olah raga teratur. Namanya orang nggak ada kerjaan tentu bisa pulang tepat waktu dong? Jadi pulang kantor masih bisa olah raga dengan kondisi yang relatif seger, nggak sambil setengah tidur.
- Terima pesenan bikin ilustrasi untuk buku dan majalah. Lagi-lagi bisa nambah penghasilan, dengan cara yang menyenangkan.
- Jadi broker jual beli rumah. Cukup bermodalkan rajin2 posting di marketnya MP dan aneka situs jualan di internet, beres.
- Kerja 'ngasong' bikin laporan wawancara recruitment. Ini sumber obyekan utama anak2 psikologi sejak jaman dahulu kala.
Hidup ini tetap indah kok, sekalipun lo udah masuk 'kotak'. Mungkin malah jadi tambah indah.
Gambar dari mana lagi kalo bukan Picturequest.com, gue modif sedikit.


Memang bener, kita nggak bisa menilai sesuatu cuma dari kemasannya
doang. Tapi juga nggak bisa dipungkiri, benda yang sama bisa nampak
lebih menarik, bahkan punya harga jual yang jauh lebih tinggi, karena
kemasan yang beda. Contoh kasus: ketoprak; isinya toge-toge juga,
tahu-tahu juga, bihun-bihun juga, tapi di pinggir jalan cuma 4 ribu,
begitu dikemas di Spice Garden bisa jadi 14 ribu.
Gue akan skip beberapa faktor yang udah sering dibahas di tips2 lainnya
seperti jangan telat dan pake baju yang rapi. Itu mah emang udah harus,
dan mendasar banget. Di sini akan gue share beberapa hal yang sebaiknya
jangan lo lakuin waktu lagi di-interview, yaitu:
1. Jangan ngomong mulu
Ngomong tanpa henti malah makin menunjukkan bahwa elo grogi, dan cepat
atau lambat lo akan ngomongin hal2 yang akhirnya menjebak diri lo
sendiri.
"Anda sekarang sudah bekerja, kenapa tertarik untuk melamar ke perusahaan ini?"
"Karena begini nih pak, dulu kan saya masuk sana tahun sekian, waktu
itu perusahaannya masih kecil tuh pak, saya waktu itu diinterview
langsung sama Pak Anu, bossnya. Kenal pak? Enggak ya? Ya udah, terus
saya langsung diterima, blablabla... blablabla... blabla... sampe
akhirnya saya pikir, 'bosen ah kerja di belakang meja mulu...[GOTCHA!]"
"Jadi Anda mudah bosan dengan pekerjaan di belakang meja? Pekerjaan
yang Anda lamar sekarang ini juga di belakang meja terus, lho..."
Nah, abis itu dia bingung sendiri deh ngejelasinnya.
2. Jangan belagu
Di buku2 panduan interview memang sering disarankan agar kita tampil
percaya diri saat interview. Sayangnya, banyak orang yang masih sulit
membedakan antara PD dan belagu. Contoh kasus: Gue dan Landy
mewawancara seorang kandidat. Di akhir wawancara, kami menjelaskan
secara lebih detil pekerjaan yang akan menjadi tanggung jawabnya,
ditutup dengan pertanyaan, "...jadi bagaimana, apakah anda tertarik
dengan pekerjaan ini?"
Merespon pertanyaan kami, sang kandidat tersenyum angkuh, lantas
mengembangkan kedua tangan sambil berkata, "Yah.. itu sih tergantung
ya, tergantung berapa penawaran dari perusahaan ini... hahaha..." habis
ngomong gitu, mungkin untuk menambah efek dramatis, dia nyender.
Rupanya, kursi yang dia pake udah rada dol pernya, sehingga sandarannya
jadi agak condong ke belakang saat menerima beban tubuhnya. Nggak sampe
jatuh sih, cuma doyong doang, tapi rupanya dia jadi kaget setengah mati
dan... latah. "Eee.. eeh... COPOT-COPOT..!!"
Perlu dicatat dua kondisi yang menyertai kejadian:
a. bahwa kandidat tersebut berjenis kelamin laki-laki, dan sudah
tergolong mas-mas, sehingga sangat tidak pantes banget latah
e-copot-e-copot.
b. bahwa salah satu gigi depan dalam keadaan ompong, sehingga kondisi butir a. di atas makin nggak pantes lagi.
Maka pesan moralnya, bedakan antara PD dan belagu, dan orang2 belagu
punya probabilita lebih besar untuk apes dan menderita tengsin.
3. Jangan galak
Di mana2 juga orang dateng ke interview biasanya siap untuk
ditanya-tanyain, eh gue pernah lho ketemu kandidat yang menjawab
pertanyaan gue dengan "...itu kan udah saya tulis di CV! Baca aja tuh
di situ!"
4. Jangan terburu-buru
Dalam hal apapun, baik ngisi formulir, menjawab pertanyaan, duduk,
ambil minum, buka pintu... pokoknya apapun, jangan lakukan dengan
buru-buru. Santai aja, tenang, tarik nafas. Kadang perlu buat ngomong
sendiri dalam hati "ayo, tarik nafas, tenang..." agar nggak mengalami
kejadian berikut ini:
Gue mewawancarai seorang kandidat yang pernah kerja di pabrik produsen
2 merek shampoo. Gue tanya, "Antara merek A dan B yang diproduksi di
pabrik Anda, mana yang kualitasnya lebih baik?"
"Merk A pak!"
"Kenapa?"
"Karena kalo merek B, saya lihat seringkali bahan bakunya dibiarkan
terbuka, sehingga bisa
TERKONTANA... TERKONTINIMA... TERKONAMANA... TERKON... TERKON..."
Sebagai interviewer yang menjunjung tinggi profesionalisme, gue
berhasil mempertahankan agar wajah tetap lurus dan tenang,
" Terkontaminasi, maksud Anda?" walaupun udah sakit perut nahan ketawa.
"Iya betul Pak, atau dengan kata lainnya, maap-maap, TENGIK, pak..."
Kalo mau ngebayangin kayak apa potongan si kandidat itu, bayangin alm.
Gepeng, anggota Srimulat. Persis kaya gitu, mulai dari kurusnya,
botaknya, sampe medoknya.
5. Jangan sok centil
Selama pekerjaan yang lo lamar nggak mensyaratkan faktor "kecentilan",
jangan centil. Contoh kasus: gue lagi mewawancara sejumlah cewe untuk
mengisi posisi sekretaris. Kandidat yang satu ini dari awal wawancara
emang udah bikin senewen karena posisi duduknya berubah-ubah saban 1
menit sekali kaya cacing kepanasan, dan banyak melakukan gerakan2 gak
perlu seperti mengelus-elus rambut(-nya sendiri, tentu), megang2
anting, narik2 kerah, mainan bolpen sampe bolpennya nggelinding jatuh
dan jatuhnya di sudut yang nyelip, muter2 cincin, mengibas2 rambut
seperti iklan shampoo, pokoknya resek deh.
Gue lega banget waktu wawancara menjelang selesai. Sebagai prosedur
standar, wawancara, gue tutup dengan "Ada yang ingin ditanyakan?"
Cewe itu senyum2, miring2in kepala, muter2 bola mata, terus dengan
spektakulernya berkata, "nggg.. ada sih pak, tapi pertanyaannya pribadi
nih, boleh minta nomer HP bapak nggak, biar saya tanya langsung aja
nanti, after office hours, gitu?"
6. Jangan nggak menjawab pertanyaan yang seharusnya bisa dijawab
Biasanya yang suka begini nih para kandidat fresh-graduate; yang
seringkali muncul di tempat wawancara tanpa persiapan mental yang
matang.
"Saya baca di sini, Anda lulusan fakultas ekonomi ya..."
"iya pak..."
"Coba ceritakan, kenapa Anda tertarik untuk masuk fakultas ekonomi?"
"...(senyum-senyum doang)"
"...(nunggu sampai hitungan 15)"
"...(masih senyum-senyum)"
"(memutuskan untuk lanjut ke pertanyaan berikut)..."
beberapa saat kemudian...
"Anda juga pernah ikut kursus bahasa Inggris sampai level intermediate, ya?"
"betul pak"
"kenapa kok nggak dilanjutkan?"
"...(senyum-senyum lagi)" dan seterusnya.
Makanya biar impas, waktu terakhirnya dia nanya, "Pak, jadi kapan hasil wawancara ini keluar?"
Gue menjawab dengan senyum semanis madu.
Demikian beberapa poin yang perlu diperhatikan waktu wawancara. Jangan
salah, poin2 ini mungkin bukan poin yang krusial dalam arti menentukan
apakah elo akan diterima atau enggak. Tapi daripada interviewernya
keburu bete liat elo dan akhirnya menimbulkan penilaian yang menjurus
negatif, nggak ada salahnya diperhatikan, toh?
Gambar gue tilep dari sini.

 Pengantar:Sebagai seorang (mantan) makhluk HRD, pikir2 kok gue malah jarang ya nulis tentang per-HRD-an di multiply. Padahal dari obrolan2 sehari-hari, keliatannya cukup banyak juga orang yang tertarik soal HRD. Wajar mengingat di manapun lo kerja, nggak akanmungkin lepas dari urusan sama HRD. Dan untuk beberapa hal, ketidaktahuan bisa berakibat cukup fatal. Di sini gue akan coba share beberapa hal yang gue tau soal HRD, moga2 bermanfaat. Maap-maap sebelumnya kalo ada yang salah! Bayangin, pada suatu hari lo lagi baik-baik browsing kaskus.com kerja, tiba2 dapet telepon dari head hunter yang nawarin lo kerjaan baru dengan gaji 2 kali lipat. Langsung sikat? Woohoo... sabar dulu boss, urusan pindah kerja nggak sesederhana itu. Pastikan dulu lo udah perhitungin faktor-faktor di bawah ini: A. Faktor-faktor "Paket" Kali-kalian Misalkan gaji lo sekarang 1 juta, terus lo ditawarin kerjaan dengan gaji 1.5 juta. Kenaikan 50%? Ntar dulu. Bisa aja kerjaan baru dengan gaji 1.5 juta itu cuma dibayarkan secara standar aja, 12 bulan per tahun plus bonus 1 bulan THR - totalnya 19.5 juta per tahun. Sementara kerjaan lo sekarang memang cuma 1 juta per bulan, tapi di pertengahan tahun ada bonus 3 bulan gaji, di akhir tahun ada bonus 3 bulan lagi, bonus etc 2 bulan gaji, masih ditambah THR pulak 1 bulan. Totalnya? 21 juta. Jelas lebih besar dibanding 19.5 juta. Ini kali-kalian sederhana banget, tapi banyak orang yang nggak ngeh dan keburu nafsu aja waktu nerima tawaran. Pajak Gue sendiri nggak terlalu ngeh soal itung2an PPh 21, tapi biar aman, make sure gaji yang baru itu setelah atau sebelum dipotong pajak. Selisihnya bisa gede banget, lho. Cash Benefit Gaji sekarang 1 juta. Tapi masih ditambah tunjangan2 cash seperti uang transport 100 ribu per bulan, tunjangan pendidikan anak 100 ribu, tunjangan ini itu 300 ribu... total 1.5 juta per bulan. Dapet tawaran baru bergaji 1.5 juta? Ngapain. Non-Cash Benefit. Non-cash benefit adalah tunjangan yang tidak bisa dicairkan dalam bentuk uang, tapi bisa lo manfaatkan dalam keadaan tertentu, biasanya dengan sistem reimbursement (penggantian). Yang paling umum diberikan dalam bentuk ini adalah tunjangan kesehatan. Ada juga beberapa kantor di mana lo bisa reimburse pulsa HP, biaya training, bahkan pakaian. Bajunya lo beli sendiri, trus bonnya bisa lo ganti jadi duit di kantor. Kadang orang nggak memperhitungkan tunjangan model ini dengan pemikiran "toh palingan nggak akan kepake ini lah". Tapi sebagai orang yang pernah masuk RS seminggu dan dapet bill hampir 6 juta, i suggest you should. B. Faktor-faktor "Personal Development" Jenjang karir Mungkin kalo dilihat dari paket, yang dikasih oleh perusahaan lo sekarang kalah dibandingkan perusahaan yang lagi berusaha 'membajak' elo. Tapi perusahaan lo sekarang ini adalah perusahaan yang dikelola secara profesional, bisnisnya lagi tumbuh, dan stabil sementara di perusahaan yang 'sana' dirutnya sepupunya owner, direktur finance menantu, asisten managernya keponakan... wah, pikir2 lagi deh sebelum telanjur frustrasi akibat karir mentok dihadang silsilah! Jenis pekerjaan Uang nggak bisa membeli kebahagiaan (baca: kepuasan kerja). Ini pepatah jadul, tapi hasil pengamatan atas pengalaman orang-orang di sekitar gue menunjukkan kebenaran pepatah itu. Mungkin lo akan ngira selama lo dapet paket lebih bagus, nggak papa deh punya kerjaan basi-basi dikit, yang penting duit, Man! Tapi percaya deh; ke-BETE-an saat berhadapan dengan kerjaan baru yang berlawanan dengan minat dan kompetensi elo, bahkan parahnya nggak menjanjikan keahlian / pengetahuan baru, nggak akan bisa dikompensasi dengan uang. Lebih baik lo stay di kantor lama! C. Faktor "Biaya" Biaya harian Balik ke contoh di atas, dikantor sekarang lo digaji 1 juta dan ada kantor baru menjanjikan gaji 1.5 juta. Tapi itung juga biaya harian yang ahrus lo keluarin, apakah lebih kecil, sama, atau bahkan lebih besar? Misalkan di kantor sekarang, lo cukup naik bis 1 kali ke kantor. Pengeluaran lo 2400 perak per hari, atau 12 ribu per minggu, atau 48 ribu per bulan. Sedangkan di kantor baru lo harus naik 2 bis plus 1 kali ojek satu kali jalan, sehingga butuh 10 ribu per hari, 50 ribu per minggu, dan 200 ribu per bulan. Nutup nggak dengan kenaikan 'paket' yang ditawarkan? Biaya harian ini mencakup juga: - biaya makan; apakah di kantor baru nanti juga ada warung-warung murah seperti di kantor lo yang sekarang, atau harus makan di foodcourt mahal tiap hari?
- biaya pendukung tugas; misalnya apakah di kantor baru nanti lo harus sering jalan ke luar kantor pake mobil pribadi tanpa ada penggantian bensin dan parkir, atau harus make HP lo lebih sering?
Biaya 'reputasi' Boss gue di kantor sebelumnya pernah bilang "Reputasi itu lebih berharga dari uang" dan gue sepenuhnya setuju. Misalkan lo harus pindah ke perusahaan kompetitor, atau harus pindah dalam waktu yang baru sebentar banget (di bawah 1 tahun), atau harus pindah secara mendadak (kurang dari 1 bulan sejak pemberitahuan), itung semua itu sebagai credit minus terhadap reputasi lo. Catatan2 itu akan terbawa sepanjang umur karir lo, dan potensial untuk jadi bahan pertanyaan waktu wawancara interview kerjaan2 berikutnya. Jangan salah paham, bukannya gue menentang orang untuk pindah ke kompetitor atau jadi kutu loncat, tapi make sure apa yang akan lo dapet di tempat baru sepadan dengan credit2 minus itu. Pastikan kerjaan baru lo nanti memang layak untuk diraih dengan 'pengorbanan' tersebut. Kesimpulan: Jangan mudah tergiur sama tawaran kerjaan baru. Patokannya gampang aja: pastikan keputusan lo pindah ke kantor baru akan membawa manfaat yang lebih besar ke diri lo, ketimbang stay di kantor lama. Tapi kalo setelah semua faktor lo itung untung-ruginya dan ternyata emang bener2 untung, tunggu apa lagi, cabuuut! Image dari careerchange.com 
| |