Agung's posts with tag: horror
 Inspirasi pembuatan posting ini didapat dari kunjungan YM Ibu Gubernur MP Indonesia ke rumah gue, di mana obrolan ngelantur akhirnya berujung pada pembahasan kasus kekerasan di IPDN. "Ngomong-ngomong, IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri) itu kan dulunya STPDN (Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri), ya? Terus, apa sih bedanya Sekolah Tinggi dan Institut?" Jawabannya gue dapatkan hari ini di mana lagi kalo bukan wikipedia: Sekolah Tinggi...adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu tertentu dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.Institut...adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik atau pendidikan vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.Universitas...adalah lembaga pendidikan tinggi dan riset, yang memberikan gelar akademis. Kata universitas berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah umum dan menyeluruh.Di Wikipedia memang nggak dijelaskan secara eksplisit perbedaan ketiga jenis perguruan tinggi ini, tapi kalo menurut kesimpulan gue sendiri, yang membedakan ketiganya adalah seberapa heterogen disiplin ilmu yang diajarkan di sana. Jadi perbedaan dari 'Sekolah Tinggi' ke 'Universitas' adalah dari spesifik ke umum / general. Kembali ke kasus IPDN, sekarang semakin jelas kenapa kasus kekerasan terulang lagi di sana. Rupanya yang tadinya 'Sekolah Tinggi' - spesifik mempelajari ilmu pemerintahan saja, kini telah menjadi 'Insititut' yaitu mempelajari ilmu pemerintahan PLUS penindasan, kekerasan, dan semacamnya. Nggak heran. Keterangan foto: Rektor IPDN, I Nyoman Sumaryadi. Itu lho... yang bilang bahwa Alm. Cliff Muntu meninggal karena SAKIT LIVER.

 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Maya (Revalina S Temat) adalah seorang asisten dosen yang hanya hidup berdua dengan adiknya, Andin (Risty Tagor). Karena duit pas-pasan, Maya dengan dibantu oleh pacarnya, Adam (Agus Ringgo) mencari kost2an murah. Berdasarkan info dari iklan di koran, Maya menemukan sebuah apartemen yang disewakan dengan harga super murah. Maya memutuskan tinggal di sana, dan belakangan stress karena diganggu pocong gentayangan. Begitulah inti cerita dari film Pocong2. Sebenernya gue nggak terlalu banyak berharap dari film ini, mengingat misi utamanya hanyalah untuk menutup kerugian ongkos produksi akibat film Pocong 1 dilarang beredar. Tapi setelah gue tonton, eh ternyata film ini punya beberapa plus points seperti: - Akting para pemerannya lumayan bagus, terutama Risty Tagor; sukses meranin ABG resek yang susah diajak ngomong.baik-baik.
- Scriptnya, dalam arti susunan dialog, juga lumayan. Dialog-dialog yang muncul informatif dan nggak terdengar 'maksa'. Nggak heran, penulisnya adalah salah satu jagoan naskah Monty Tiwa.
- Alur ceritanya nyaman diikuti, ada keterkaitan logis antara satu adegan ke adegan lainnya.
Nah, kalo gitu, kenapa gue cuma kasih bintang 2? Itu karena adanya sejumlah kelemahan yang menurut gue cukup fatal, yaitu: **SPOILER ALERT** - Entah karena film ini memang mempersiapkan diri untuk segera nyemplung di layar kaca atau ada alasan lainnya, sering banget adegan super close-up di mana layar diisi oleh muka semua. Kalo di layar kaca emang lumrah teknik pengambilan gambar kaya gini (sering ditemui di sinetron2 kan?), tapi kalo untuk format bioskop lumayan bikin pusing juga.
- Pocongnya banci tampil, sering banget muncul jelas di layar. Padahal biasanya setan2 di film horror lainnya hanya muncul sekilas-sekilas biar makin serem dan bikin penasaran.
- Pocongnya nggak bisa ngapa-ngapain, cuma bisa nongol di sana sini dengan berbagai pose (termasuk pose duduk nyender di tangga). Bandingkan dengan Kuntilanak yang bisa nyulik orang, kan jauh lebih sangar tuh.
- Banyak adegan yang "terinspirasi" (gue nggak bilang jiplak lho ya, masih sopan nih) dari film2 horror Asia terutama The Eye, misalnya setan lidah panjang yang hobinya jilat-jilat. Bahkan ada adegan penampakan di restoran bakmi, luar biasa miripnya dengan salah satu adegan The Eye (gue tetep nggak bilang jiplak lho ya).
- Yang paling fatal adalah penjelasan di akhir film tentang kemunculan pocong-pocong itu. Penjelasannya adalah, 4 tahun yang lalu ada sebuah keluarga yang dibunuh dengan cara dibakar dalam rumah. Salah satu anggota keluarga itu, Wisnu, selamat tapi jadi rada 'aneh' Dia jadi dendam kesumat karena adik kesayangannya dibunuh dan diperkosa orang. (di bagian sini gue rada kurang mudeng deh, jadinya gimana sih, adiknya diperkosa dulu terus dibakar di rumah beserta anggota keluarga lainnya atau gimana?) Wisnu kemudian ikutan mati waktu mau balas dendam pada pembunuh adiknya, lantas arwahnya penasaran. Nah di sini mulai seru:
- Arwah Wisnu lantas menciptakan apartemen 'virtual' untuk menjebak Maya dan Andin dengan tujuan menculik Andin. Jadi, apartemen murah yang ditempati Maya dan Andin itu sebenarnya nggak pernah ada, itu hanya tanah kosong berisi pepohonan - cuma dalam penglihatan Maya, Andin, dan Adam bentuknya adalah apartemen. Pertanyaan gue; kalo selama ini Maya dan Andin tinggal di tanah kosong, lantas gimana mereka masak nasi goreng, nge-charge HP, mandi, dan nonton DVD? Listriknya dari mana?
- Wisnu mengincar hendak menculik Andin karena dendam telah kehilangan adiknya. Kalo dia dendam karena adiknya dibunuh orang, kenapa lantas jadi ngincer untuk membunuh adik orang lain?
- Kalo memang arwah Wisnu sedemikian saktinya sehingga bisa bikin apartemen virtual segede gitu, kenapa juga harus repot2 melibatkan Maya dan Adam? Kenapa nggak langsung aja nyulik si Andin waktu lagi cengok nunggu jemputan di depan sekolah?
- Kenapa arwah Wisnu bisa mengecoh Maya, Andin, dan Adam yang melihat tanah kosong itu sebagai apartemen besar tapi nggak bisa mengecoh temen2nya Andin yang nganter pulang sehabis dugem?
- Kalo memang seluruh lingkungan apartemen itu hanyalah ciptaan arwah Wisnu, lantas darimana munculnya para pocong yang konon hadir untuk memberikan peringatan? Seandainya gue jadi si Wisnu, gue akan bikin apartemen ciptaan gue aman dari berbagai gangguan supaya para penghuninya nggak curiga.
- Kalo memang yang gentayangan hanyalah arwahnya Wisnu, kenapa waktu nyulik Andin dia harus repot2 bungkus Andin pake kain kafan dan macul2 tanah? Apa iya arwah bisa macul?
- Yang paling parah adalah: KALO MEMANG APARTEMEN ITU NGGAK BETULAN ADA, KENAPA IKLANNYA BISA MUNCUL DI KORAN???
Itulah sebabnya, cukup bintang 2 untuk film ini. Mudah-mudahan di film Pocong 3 mas Rudi Soedjarwo bisa punya penjelasan cerita yang lebih logis, minimal logis untuk ukuran dunia film horror... Pesan sponsor: 
 | Category: | Movies | | Genre: | Horror |
Beberapa bulan yang lalu, HP gue berdering dan terjadilah pembicaraan berikut; "Halo, gung?" "Ya? Sapa ini ya?" "Ini Rizal gung.." "Rizal mana ya?" "Rizal Mantovani..." "...bentar... bentar... kok gue lupa-lupa inget yah... " "...yang sutradara..." "...oh... iya bener... sori nih, soalnya temen gue yang namanya Rizal banyak, untung yang sutradara cuma elu. Ada yang bisa dibantu Zal?" "Ini nih gung, gue sebelumnya mau minta ijin. Kan ceritanya sebentar lagi gue mau bikin film nih, nah gue kalo boleh mau minjem figur dan nama lo sebagai sosok psikolog idola gue ke dalam salah satu tokoh film itu, boleh nggak gung? Plis banget boleh ya man..." "Wah gimana ya Zal,. lo tau dong gue orangnya low-profile banget, nggak enak banget gue kalo terlalu diekspos di tengah masyarakat..." "Plis.." ".... Ya udah deh boleh.. boleh... jangan nangis dong..." "Wah!! Thanks banget man!! Tapi ini nih, sebelumnya gue mau minta maaf banget..." "Kenapa lagi?" "Gue kemarin udah kontak Brad Pitt untuk meranin elu, tapi gila aja man, dia minta honornya mahal banget, nggak sanggup gue..." "Oh ngga papa, nggak papa, diperanin sama yang lokal aja lah... takutnya film lo jadi aneh gitu man kalo tau2 pemerannya bule.." "Ya soalnya gue nggak enak aja sama elunya kalo pemeran yang gue pilih kurang ganteng gitu man... Justine Timberlake juga udah gue telepon katanya lagi nggak bisa... jadi ya terpaksa lah gue pake orang lokal, Evan Sanders gitu man, tapi tenang aja walaupun lokal tapi rada bule dikit kok!" "Iya.. iya ga papa, gue sih asik aja kok anaknya.." "Ya udah man, gitu aja, thanks banget ya!" Nah bagaimana, ada yang percaya bahwa percakapan barusan benar-benar pernah terjadi? Apa, enggak ada? Bagus. Tapi percayalah bahwa kemarin gue abis nonton film Kuntilanak dan ngantrinya kaya lagi mau beli tiket mudik. Film ini menceritakan tentang seorang mahasiswi bersama Sam (Julie Estelle) yang minggat dari rumah karena digangguin sama bapak tirinya yang gatelan dan memilih tinggal di rumah kos. Karena duitnya cekak, maka dia milih rumah kos yang murah dan ngekoslah dia di rumah Kuntilanak. Sebenernya kalo ngeliat penampakan rumahnya, gue sih ragu akan ada manusia waras yang mau tinggal di rumah itu dan bayar. Kata ibu kosnya sih, "maaf, rumah ini memang rumah tua," tapi nampaknya si ibu kos rancu membedakan makna kata antara "tua" dan "busuk". Maksud gue, rumah gue juga rumah tua lho ya, ibu gue beli rumah ini dari seseorang pada tahun 1959 dan orang itu dulu membelinya dari orang lain pada tahun 1928 - jadi nggak ketauan rumah ini dibuat tahun berapa, tapi sampe sekarang bentuknya (Alhamdulillah) masih mirip rumah. Sedangkan rumah yang dipake setting film ini, yah... mungkin kalo ada jin buang anak di sana, anak jinnya bela-belain jual kolor untuk ongkos pulang. Sumpah serem abis. Dan si Sam memilih ngekos di sana. Oke deh, namanya juga film. Sejak sebelum ngekos di rumah Kuntilanak, Sam udah sering diganggu mimpi misterius. Pacarnya yang bernama Agung (Evan Sanders) kebetulan kuliah psikologi dan dengan bantuan temennya yang juga anak psikologi bernama Iwang, dia mencoa menganalisa arti mimpi yang dialami Sam. Teknik analisa mimpinya ngaco banget dan kayanya nggak ada fakultas psikologi yang ngajarin teknik kaya gitu, tapi ya udahlah, namanya juga film. Belakangan ketahuan bahwa ternyata rumah itu dimiliki oleh trah Mangkujiwo, sebuah keluarga Jawa yang terkenal sejak jaman dulu kala senang mempraktekkan 'aliran sesat'. Yang dimaksud dengan 'aliran sesat' adalah keluarga tersebut memelihara Kuntilanak untuk pesugihan. Kemampuan mengendalikan 'Kuntilanak' ini dimiliki keluarga tersebut secara turun temurun, tapi sayang warisan ini terancam terputus karena orang terakhir di keluarga itu nggak punya anak.  Oki Lukman: TIDAK ikutan main film Kuntilanak. Ternyata si Kuntilanak kemudian memilih orang berikutnya yang berhak mengendalikan dirinya yaitu tak lain dan tak bukan adalah Sam. Mengapa sang Kuntilanak memilih Sam? Sebab kalo dia memilih Oki Lukman sang sutradara merasa kurang 'on'. Adapun cara memanggil Kuntilanak adalah dengan melantunkan sebuah tembang jawa yang secara nggak sengaja dibocorkan oleh ibu penjaga kos kepada Sam. Sejak mendengar lagu itu, maka setiap kali Sam bete / sebel kepada seseorang dia akan nyanyi lagu jawa yang akan membuat si korban menjadi mimisan, habis itu Sam akan muntah belatung, dan akhirnya si korban akan mati mengenaskan dengan kepala melintir*. Waktu pertama kali muncul adegan Sam nyanyi lagu Kuntilanak memang "agak sedikit"** menegangkan: suaranya spooky, matanya melotot serem, tak lupa efek rambut panjangnya berkibar-kibar tertiup angin. Horror abis deh. Tapi begitu orang berikut berulah, ritual yang sama berulang: nyanyi - mimisan - belatung - mati mengenaskan; gue mulai mikir "ya ampun, lagi?" Buat yang berniat nonton, bersiaplah: urutan tersebut akan berulang 5 kali. Kayaknya si Rizal orangnya tertib administrasi banget ya, selalu mengikuti prosedur, gitu. Setelah Sam nyanyiin beberapa temen kosnya, datanglah sang Ndoro Ayu, pemegang wangsit keluarga Mangkujiwo terakhir yang mencoba menarik Sam untuk bergabung. Mungkin karena gue tau si Rizal demen banget nonton Starwars, adengan dengan tokoh si Ndoro Ayu ini terasa sangat Starwars sekali - dia punya kemampuan mengendalikan pikiran orang seperti Jedi mindtrick, dan dialognya saat mengajak Sam bergabung seperti waktu the Emperor ngajakin Luke Skywalkers gabung ke darkside. Bagaimana kelanjutannya? Berhasilkah Ndoro Ayu menarik Sam ke dalam pengaruh buruk? Bagaimana dengan nasib Agung, apakah dia berhasil lulus dari fakultas Psikologi dengan teknik analisa mimpinya? Apakah pertanyaan2 barusan penting untuk ditanyakan? Secara umum film ini berusaha mengikuti pakem film horror yang baik dan benar (pernah gue posting di sini). Atau tepatnya, berusaha mengikuti pakem film Jelangkung. Inget nggak, di film Jelangkung sering banget ada adegan yang cuma muncul sepersekian detik menampilkan sosok manusia dengan kepala geleng2 nggak karuan? Nah di film ini ada lagi. Banyak. Dan Kuntilanaknya, mengapa gemar sekali ngesot walaupun dia bisa jalan bahkan nggelinding? Waktu muncul adegan tokoh bermobil, gue langsung berfirasat buruk... jangan-jangan setannya nemplok di kaca kaya di film "Shutter". Eh, taunya bener. Kenapa sih setan-setan di film nggak pernah nyamar jadi sesuatu yang lain, misalnya rem tangan kek, gantungan spion kek... kan masih banyak alternatif. Kesimpulannya: film ini masih jadi film standar sesuai ketentuan umum yang berlaku di dunia perfilmhorroran. Soal setting, yang mengganggu buat gue adalah visualisasi rumah tua dengan dinding berjamur: jamur2 di dindingnya adalah hasil coretan kuas dan itu nampak jelas banget. Disorot dari jauh aja keliatan bahwa jamurnya nggak betulan, eh ini kok ya berani amat bolak-balik ambil close-up. Coba perhatiin waktu adegan Ratu Felisha mandi, ada adegan sorot close-up lantai kamar mandi dan keliatan banget hasil sapuan2 kuas untuk membuat tegelnya nampak kusam. Terganggu gue liatnya. Dan oh ya, ngomong2 soal adegan mandi, kenapa sih hari gini masih banyak orang yang mempertanyakan apakah Ratu Felisha betulan bugil di adegan itu? Di film ini juga ada adegan sekumpulan peronda main gaple, mudah2an nggak ada yang nanya apakah mereka betulan taruhan pake duit sebab kalo iya itu namanya judi dan judi itu haram oleh karenanya film ini harus dilarang beredar. Yang perlu dipuji dari film ini adalah reinterpretasi sosok Kuntilanak yang biasanya digambarkan sebagai perempuan cantik berbaju putih dan berambut panjang, di sini jadi lain banget. Untuk aspek ininya lumayan kreatif lah. Juga pengambilan gambarnya yang rajin; dalam arti mau repot ngambil gambar dari sudut2 yang nggak biasa sehingga kesannya lebih dinamis. Kesimpulan akhir: 3 bintang dari gue. *Thanks God Sam nggak ikutan Indonesian Idol. **contoh penggunaan kata yang kurang efektif, sama seperti "sangat.... sekali" Gambar gue ambil dari sini. 
 Dalam rangka memanfaatkan libur setengah hari menyambut Natal, tadi siang gue janjian ketemuan sama Ida sepulang kantor. Makan siang telat jam 2 lewat di ayam bakar Megaria, abis itu Ida punya ide. (eh... berima, ya? Harusnya "Ida ada ide" biar lebih lucu... hmmm... atau "Ade Ida ada ide" -- ckkk... apa sih!) "Nonton yuk!" Wah bener juga, gue belom pernah nonton sekalipun sama dia. "Nonton apa?" "Tuh ada Brownies..." "Yaa... jangan Brownies deh..." "Apa dong?" "Yang itu kayanya seru tuh; Bangsal 13" "Ah, kayaknya serem gitu..." "Tapi bagus kok! Seru! Kaliii..." "Ya udah deh ayo."
Beli tiket, langsung masuk. Filmnya baru mulai. Adegan di layar: latar belakang hitam, tulisan model font ketikan warna hijau pudar, pemandangan sebuah rumah sakit tua berkelebatan. "Tuuu... kan filmnya horror...baru mulai aja udah gitu..." "Malah bagus kan, nanti kalo kamu takut kan aku jadi ada alasan meluk-meluk, kaya taktiknya anak SMA kalo ngajak cewe nonton" "Oh iya ya, nanti kalo aku takut dipeluk-peluk yaaaa... hihihihihi"
Beberapa saat kemudian...adegan di layar sejumlah korban kecelakaan didorong masuk ke ruang gawat darurat, pada aduh-aduhan sambil berdarah-darah. "Apa ngga sebaiknya kita nyari film yang adegannya lebih menyenangkan aja nih?" (mulai terganggu) "Lha ini menyenangkan, seneng kan, liat orang berdarah-darah gitu?" "Orang gila."
Film berjalan lagi... adegan: tokoh utama (cewek) muncul. "Ini siapa sih yang main, Dian Sastro ya?" "Kayanya bukan deh. Ih tampangnya jutek gitu, semoga cepet dimakan setan tu orang"
Adegan: tokoh utama film lagi ngerokok sendirian malem-malem di kamar mandi. "Ngapain sih dia ngerokok sendirian malem-malem gitu?" "Biasalah... namanya juga film horor" "Hiiyy... setannya mau keluar nih kayanya... aku mau takut ah!" "Asiik... sini sini aku pegangin kamu"
Beberapa menit berlalu, adegan masih si tokoh ngerokok di kamar mandi "Mana sih setannya?" (mulai kecewa) "Tau nih...ck..." (ikutan kecewa) Adegan: angin berhembus kencang. "Naaa... ini dia nih setannya muncul" "Hiyyy... aku takuuutt..." "Sini, sini..." Adegan: si tokoh matiin rokok "Lho, mana setannya, ga jadi muncul?" "Iya, payah deh ah!"
Adegan: suasana rumah sakit di malam hari, sepi. "Dari tadi kok ngga muncul-muncul sih setannya ya yang..." "...zzz..." "Heh! Kok malah tidur sih!" "...huh? Mana? Mana? Setannya keluar?" "Hu-uh!"
Adegan: tokoh menatap diri di dalam kaca. "Nih biasanya kalo adegannya gini, setan muncul di belakangnya nih... hiiiy..." "Iya kali nih" (penuh harap) Adegan: tokoh membalikkan badan, menyalakan rokok, terus menghisap rokok. "Lhaah... belom muncul juga setannya!" (mulai kesel)
Adegan: suasana rumah sakit di malam hari, sepi. "...zzz..." "Idih! Tidur lagi, sih!"
Adegan: muncul seorang suster, di seragamnya bertuliskan Frida "Ooo... namanya Frida, yang" "Siapa?" "Itu, susternya" "Pemainnya, namanya Frida?" "Bukan, susternya" "Kok tau?" "Itu ada tulisannya" "Tulisan apa? Di mana?" "Ah udahlah..."
Adegan: setannya muncul. "Huaaaa!!! Aku takuuuttt...." (dengan nada setengah lega krn akhirnya tu setan muncul juga) "Ah gimana sih, orang kalo rajin sholat tuh takutnya sama Allah, bukan sama setan." "..." (cemberut)
Adegan: suasana rumah sakit di malam hari, sepi. "...zzz..." "Daripada tidur gitu mending kita keluar aja kali, nggak?" "...huh? Bentar dong, kan aku penasaran pingin tau endingnya." "Aku enggak."
Adegan: tokoh ngobrol "Jam berapa sih sekarang?" "Empat kurang" "Masih lama ya..."
Adegan: di dapur 2 orang suster mengambilkan mi dari panci buat pasien. "Liat deh yang, mi-nya mi rebus kering gitu ngga ada kuahnya, apa rasanya ya?" "Sempet-sempetnya sih merhatiin mi-nya?"
Adegan: satpam mengunci pagar "Rumah sakit kok pagernya dikunci sih, kalo dateng pasien malem2 gimana coba?" "..." (sambil mikir 'sempet-sempetnya sih merhatiin pager?')
Adegan: penutup. Film selesai. "Idih! Endingnya gitu doang sih!" "Tuh kan, mendingan nonton Brownies kan tadi...!" "Kayaknya bagus nih buat ditulis di multiply..."
Image from 21cineplex.com 
| |