Agung's posts with tag: heartwarming

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag heartwarming

Kalo lo mau beli sepatu di toko, dan sepatu yang lo pilih nggak tersedia ukurannya, apa yang biasanya dilakukan penjaga tokonya?

Kalo dia sekedar bilang, "Maaf, ukurannya nggak ada" mungkin lo akan maklum.

Kalo dia bilang "Maaf, ukurannya nggak ada. Berminat dengan model yang ini, barangkali?" lo mungkin akan sedikit terkesan dengan upaya si penjaga toko untuk membantu.

Tapi yang gue dan Ida alami kemarin bener-bener jauh melebihi ekspektasi kami atas pelayanan toko sepatu manapun yang pernah kami kunjungi.

Ceritanya, kemarin gue dan Ida jalan-jalan ke Grand Indonesia, refreshing dikit mumpung dapur kotakkue.com lagi libur. Niat awalnya sih cuma mau cuci mata, tapi akhirnya jadi ngiler waktu liat tulisan "discount" tergantung-gantung di toko Planet Sports. Ida lantas inget pernah ngincer sepatu merk Skechers beberapa waktu yang lalu. Kamipun mampir.

Pilih punya pilih, Ida akhirnya naksir sepasang sepatu tipe casual, dan minta dibawain nomor 37 kepada Mbak Pramuniaga. Si Mbak Pramuniaga yang belakangan kami tau bernama Mbak Dhayu kemudian membawakan - bukan cuma satu - tapi 3 (tiga) kotak sepatu bernomor 37 berlainan model. Maksudnya, biar pembeli bisa lebih leluasa milih sepatu yang dirasa paling cocok. Di sini Ida udah mulai terkesan dengan semangat proaktif Mbak Dhayu.

Dari ketiga model yang disodorkan, Ida memilih sepatu warna krem bermotif bunga-bunga kecil. Tapi... "Lho, mbak, ini kok ada noda di ujungnya, ada yang masih baru nggak?" tanya Ida.

"Wah sayangnya model ini tinggal satu-satunya... Sebentar ya Bu, saya coba bersihin dulu di belakang," katanya. Abis ngomong gitu dia pergi ke belakang menenteng sepatu pilihan Ida. Beberapa menit kemudian dia balik dengan tampang menyesal, "Bu, saya udah coba bersihin, tapi nodanya nggak mau hilang...maaf ya Bu... Ibu mau model lainnya?"

"Nggak mau, maunya yang itu aja... di toko lain ada nggak?"

"Sebentar ya Bu, saya coba telepon ke toko kami yang lain di Plaza Indonesia ya, siapa tau mereka masih punya stok sepatu ini." Mbak Dhayu mencoba menelepon, tapi ternyata di cabang sana sepatu itu juga udah nggak tersedia.

"Ibu, mohon maaf sekali... ternyata di cabang lainnya juga nggak ada..." kata Mbak Dhayu.

"Yaaah...."

"Iya, sayang sekali ya Bu..."

 "Tapi... hmmm... ya udah deh kalo gitu, saya beli yang ini aja," kata Ida.

Mbak Dhayu yang lagi sibuk membereskan kotak-kotak sepatu ternganga kaget. "Hah? Ibu mau? Tapi kan... sepatunya kotor gini, Bu... nggak papa?"

"Nggak papa deh, abis saya maunya yang ini. Lagian nodanya juga nggak terlalu keliatan kok."

"Mohon maaf sekali ya bu, soalnya ini tinggal satu-satunya..."

"Iya, nggak papa," kata Ida.

Di titik ini gue udah amat sangat terkesan dengan kesungguhan Mbak Dhayu melayani pembeli. Dia udah berusaha ngebersihin noda, nyariin ke toko lain, dan nampak bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik buat pembeli. Gue bisik-bisik ke Ida, "Luar biasa nih servisnya, oke banget... kasih tip gih..."

Ida juga terkesan banget, tapi dia ngerasa sungkan dan serba salah untuk ngasih tip. "Gimana ngasihnya, ntar diliat temen-temennya malah nggak enak lho.."

"Ya udah ntar abis bayar kita belaga liat-liat sepatu lainnya, nunggu sepi trus kasih tip ke dia... kan bisa."

Tapi ternyata waktu mau bayar di kasir, kejutan lainnya menanti.

Kasirnya bilang, "Ibu, ini Dhayu merasa bersalah sekali karena sepatu yang ibu beli ada cacatnya, oleh karena itu ibu mendapat discount khusus sebesar sekian persen, yang diambil dari jatah discount karyawan milik Dhayu..."

Jadi rupanya para pegawai toko Planet Sports punya jatah discount khusus untuk karyawan. Setau gue, discount ini hanya bisa digunakan secara terbatas. Wajar aja kalo dibatasi, sebab kalo nggak ntar para pegawainya pada rame-rame jual sepatu di rumahnya masing-masing, kan? Toh dengan fasilitas discount yang sebenarnya terbatas itu, Mbak Dhayu merelakannya untuk digunakan oleh pembeli, yang bukan siapa-siapanya, bukan saudara, bukan temen, hanya karena dia mau memberikan pelayanan terbaik! Dan fakta bahwa ada noda nempel di sepatu itu kan sama sekali bukan kesalahan dia, lho. Orang dia bawa sepatu dari gudang, masih dalam kotak, tau-tau setelah dibuka ada nodanya. Gue dan Ida sampe speechless mendapat pelayanan seperti itu.

"Mbak, nggak usah begitu, istri saya juga nggak keberatan kok dengan noda itu, toh nggak terlalu kelihatan juga. Ntar kalo Mbak sendiri mau beli sepatu di sini gimana dong, jatah discountnya udah kita pake?"

"Nggak papa Pak, soalnya saya nggak enak banget, sepatu yang Ibu beli ada cacatnya..."

Seumur-umur belum pernah gue nemuin tingkat pelayanan setinggi ini di toko sepatu manapun. Yang lebih luar biasa lagi, ini dilakukan atas inisiatif seorang pegawai biasa, bukan supervisor apalagi owner.

Pulang dari toko itu, gue dan Ida nggak bisa berhenti ngomongin soal betapa luar biasanya pelayanan yang diberikan Mbak Dhayu. "Kalo begini urusannya, mending dibuatin kue aja deh, DCC Special! Besok pagi kita ke sini lagi ya suami, anterin kue!"

***

Tadi pagi, gue, Ida dan Eriq yang seperti biasa selalu ngintil kemanapun kami pergi, dateng lagi ke Grand Indonesia dengan membawa sekotak DCC Special buat Mbak Dhayu. Di toko yang masih sepi pengunjung itu kami bertiga berbaris masuk. Kotak kue di tangan Ida, kamera siap di tangan gue dan Eriq. Kami langsung menemukan Mbak Dhayu lagi bertugas di bagian sepatu wanita.

Ida langsung menyodorkan kue sambil bilang, "Mbak Dhayu, saya sangat terkesan dengan bantuan Mbak Dhayu kemarin... jadi, ini saya bawakan kue untuk Mbak, terima kasih ya Mbak..."

Sekarang giliran Mbak Dhayu yang speechless. "Waduh ibu, nggak papa bu, itu kan barangnya udah reject sekali... saya... juga terkesan sekali ini...dapat kue begini..."

Eriq langsung mulai beraksi menjepretkan kamera, tapi karena umumnya di dalam toko kita nggak bisa seenaknya motret, maka buru-buru gue ajak Mbak Dhayu untuk berfoto bareng di depan toko. Jepret-jepret-jepret... beres, dan sebelum dia sepenuhnya sadar apa yang telah terjadi, kami langsung pamit pulang :-)




***

Buat para boss di PT.Mitra Adi Perkasa, pemilik jaringan Planet Sports, gue berharap ada apreasiasi lebih buat orang-orang seperti Mbak Dhayu. Dia membuktikan bahwa apapun pekerjaan kita, kalo dikerjakan dengan sepenuh hati dan nggak males berbuat lebih, maka efeknya juga akan sangat luar biasa. Saat memberikan pelayanan ke Ida, gue yakin Mbak Dhayu nggak akan menyangka perbuatannya akan diketahui oleh ratusan orang lewat tulisan ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi rekan-rekannya di Planet Sports, atau para pekerja di manapun, untuk nggak tanggung-tanggung saat bekerja. Lucunya, saat kita main 'hitung-hitungan' di pekerjaan, maka yang kita terima biasanya jauh di bawah hitungan. Tapi sebaliknya, saat kita berhenti berhitung dan rela berbuat lebih, biasanya yang kita dapet malah jauh melebihi harapan!

Semoga Mbak Dhayu makin sukses, dan buat kalian yang berencana beli sepatu dalam waktu dekat, gue rekomendasikan beli di Planet Sports Grand Indonesia dan jangan lupa cari Mbak Dhayu ya!



**posting ini juga gue kirimkan ke beberapa alamat e-mail yang gue temukan di situs PT. Mitra Adi Perkasa. Mudah-mudahan ada respon positif dari para boss di sana untuk Mbak Dhayu.

***Buat yang gemar copy-paste, untuk posting yang satu ini gue merelakan kalian meng-copy-paste sepuasnya, sekalipun nggak disebut sumbernya juga nggak papa.Silakan sebar luaskan cerita ini, gue ikhlasin deh :-)

Blog Entrykejutan besar dari si adik kecilMar 22, '08 12:34 PM
for everyone
Kalo nggak salah pas lagi ngurusin acara nasi kebuli tegang beberapa hari lalu, gue ngomongin rencana beli router ke Eriq.
"Riq, weekend ini temenin ke mangga dua ya, kali ini beneran deh gue mau pasang router wi-fi."

Soalnya dengan semakin meningkatnya aktivitas kotakkue.com, satu koneksi internet rasanya semakin nggak memadai. Apalagi kalo lagi ketamuan tim hore MP-ID, yang salah seorang di antaranya punya hobi langsung ngeloyor ke ruang komputer sambil tereak, "numpang NGEMPI yaaaa..."

Eriq pun menyanggupi ajakan tersebut.

Selesai acara, gue sendiri nggak terlalu inget dengan rencana beli router karena tiba-tiba badan terasa pegel - linu, bahkan pake meriang segala. Praktis liburan tanggal 20-21 Maret kemarin gue lalui antara sadar dan enggak karena kepala terasa cekot-cekot nggak karuan, pusingnya setengah mati.

Sadar-sadar tanggal 21 Maret, sore-sore, Ida ngebangunin gue dengan sebuah kabar mengejutkan,
"Yang! Itu lho, tadi eriq dateng masang router berdua Sigit, liat tuh sekarang di kamar udah ada router!"

Lho, emangnya sekarang udah hari Sabtu, ya?

Gue liat ke kamar, udah bertengger sebuah router wi-fi di atas CPU gue. Di meja gue temukan sebuah note tulisan eriq,

Buat mbot dan ida
selamat menempati
rumah baru...

semoga benda ini bisa
memberi manfaat
bagi orang rumah
maupun tamu yang datang



Gue telepon Eriq,
"Lho, gimana sih kok tau-tau udah pasang router? Jadi gue musti ganti berapa ini?"
"Lah gimana sih, nggak baca suratnya ya?"
"Jadi, maksudnya... ini kado?"
"Iya!"

Waduuh, terima kasih ya Eriq, bener-bener kejutan yang sangat bermanfaat buat gue dan tamu-tamu lain yang akan berkunjung ke rumah ini. Semoga dibalas dengan berlipat ganda oleh Allah SWT, dilancarkan rejekinya, dan yang lebih penting: didekatkan jodohnya.

Amiiin....


Category:Books
Genre: Other
Author:MP-ID

Kemulusan buku "One Gigabyte of Love" milik gue ternyata nggak berumur panjang. Baru tadi sore buku ini gue terima dari acara peluncurannya di Kafe Buku Depok, dan malam ini covernya udah nggak bisa nutup lurus karena keseringan dibolak-balik.

Ternyata kerja keras Mbak Helvy dan Mas Tomi sebagai para editor memang luar biasa. Buku kumpulan posting ini dikemas dalam penyajian bahasa yang enak dibaca. Walaupun sebagian besar penulisnya bukan penulis 'betulan', tapi nggak bakal malu-maluin deh kalo dipajang di toko buku. Lima puluh tiga cerita ditulis dengan lima puluh tiga gaya yang berbeda, dan semuanya keren! Ternyata banyak cerita yang mendadak jadi nampak jauh lebih menarik saat dipindahin dari layar monitor ke atas kertas.

Setelah beres ngebaca 290 halaman buku ini, gue dan Sigit yang lagi nongkrong di rumah gue mulai ngebahas satu per satu cerita yang ada di dalamnya. Akhirnya timbul ide untuk memilih "Top10" alias 10 cerita terbaik dari 53 cerita yang ada di buku "One Gigabyte of Love". Bukan berarti 43 cerita lainnya kurang keren lho ya, ini sekedar memilih 10 yang terbaik di antara 53 yang udah baik. Best of the best.

Kriteria yang gue pake ada 3, yaitu: Short, Sweet, and Sharp. Maksudnya:

Short
Bukan pendek dalam arti jumlah kata, tapi dari 'rasa' saat ngebacanya. Sepuluh cerita yang gue pilih sebagai terbaik ini terasa 'ngalir' saat dibaca, sehingga sekalipun panjang nggak terasa membosankan.

Sweet
Sesuai dengan 'spirit' untuk mengusung cerita yang dan menyentuh perasaan, maka kesepuluh cerita pilihan gue ini adalah cerita yang 'manis' - dalam arti bisa membuat pembacanya ngomong dalam hati 'ya, gue bisa turut merasakan apa yang lo rasakan'.

Sharp
Maksudnya seberapa jauh sebuah cerita mampu meninggalkan jejak di hati pembacanya. Seperti jagoan di film silat mukul lawan pake telapak tangan terus cetakan gambar tangannya nempel di badan lawan - pesan yang disampaikan kuat banget.

Dan inilah 10 cerita terbaik dalam buku One Gigabyte of  Love, versi si Mbot:

(dalam urutan halaman)

Ciuman Ibu di Pagi Hari, oleh Agung Krisnanto (halaman 29)
Cerita mengharukan tentang kebesaran hati seorang ibu menerima keputusan besar yang diambil anaknya.

Meraih Cinta dengan Kesabaran, oleh Dyah Retno Utari (halaman 39)
Tentang perjuangan seorang cowok menghadapi penolakan-penolakan cewek yang ditaksirnya. Inspirasi buat kaum jomblo di luar sana agar pantang menyerah (sekaligus kabar buruk buat yang belakangan lagi bete karena diuber-uber orang yang kebal penolakan). Kalimat terakhir dari paragraf ke dua sebelum akhir cerita sangat powerful, menurut gue.

Kisah Seorang Indigo, oleh Linda Emiyanti (halaman 105)
Pengalaman langsung berinteraksi dengan orang indigo - pengalaman yang jarang dimiliki orang. Gue yang sempet berkhayal ingin punya kemampuan orang indigo jadi mikir-mikir lagi bacanya.

Saling Mengerti, oleh Shanti Saptaning (halaman 123)
Perenungan dan pergulatan batin seorang istri yang suaminya absen jemput dari kantor. Lucu, sangat feminin, sekaligus menyentuh.

Seribu Pohon Cinta buat Richard, oleh Jullie Guerre (halaman 131)
Ternyata bayi merah yang belum tau apa-apa punya kekuatan luar biasa untuk membangkitkan motivasi seorang lelaki tua.

Rumah Milik Bersama, oleh Yudith Fabiola (halaman 149)
Cerita singkat tentang ketulusan untuk berbagi, inspiratif buat semua orang.

Bambang, oleh Bambang Priantono (halaman 160)
Ringan dan menggelitik, tentang suka-duka seseorang yang menyandang nama 'pasaran'. Gue jadi merasa ada temen senasib sepenanggungan.

Bahasa Gado-Gado, oleh Wendi Damita Ruky (halaman 177)
Lucunya perbedaan kultur saat berbahasa digambarkan secara manis.

Ayahku Funky, oleh Menhariq Noor (halaman 181)
Kegelisahan seorang anak yang ayahnya ternyata jauh lebih funky dari dirinya digambarkan dengan kocak. Sehabis baca cerita ini gue bisa langsung membayangkan seperti apa sosok ayahnya Eriq, dan ternyata saat betulan ketemu gambaran tersebut 100% akurat!

Lelaki yang Membuatku Jatuh Cinta Berulang Kali, oleh Indah Purwandani (halaman 209)
Cerita menyentuh tentang ketulusan seorang ayah yang berkarya dengan tangannya sendiri membuatkan hadiah buat anaknya. Terlepas dari hasil akhirnya, niat yang tersimpan di baliknya bener-bener luar biasa.

Itu tadi 10 cerita pilihan gue. Gimana dengan kalian, punya 10 cerita favorit yang lain? Silakan dishare di sini. Atau lebih bagus lagi, dishare di halaman MP-nya masing-masing, trus dilink dari sini.

Apa... belum punya bukunya? Keterlaluan, cepetan sana beli! Udah ada di toko-toko buku papan atas. Nggak akan rugi deh, karena selain dapet 53 cerita yang keren-keren, juga bisa nyumbang karena 100% keuntungan buku ini akan disumbangkan buat kegiatan Bakti Sosial MP-ID berikutnya.



Punya embel-embel 'psikolog' di belakang nama berarti harus siap dengan konsekuensi jadi ember curhat orang-orang di sekitar. Topik favorit: percintaan. Abis, apa lagi? Topik 'keuangan' jelas nggak masuk daftar keahlian gue... hehehe...

'Psikolog' tentunya cuma gelar, dan bukan jaminan bakal punya solusi buat semua masalah. Untungnya gue punya banyak temen yang mau berbagi pengalaman pribadi sebagai referensi.

Salah satu referensi yang baru-baru ini gue dapet adalah pengalaman 'Bunga' (tentunya bukan nama sebenernya) yang cerita soal pengalamannya menyelesaikan sebuah cinta segi tiga. Solusi yang dia pilih, menurut gue, butuh sesuatu yang belum tentu semua orang punya.

Berikut gue tulis ulang penuturan langsung dari Bunga:

Aku dulu pernah pacaran lamaaa... banget dengan seorang cowok, sebutlah namanya Steven. Aku dan Steven sebenernya saling cocok, tapi sayang kami beda agama. Kami sama-sama tau, masa depan kami suram, tapi untuk pisah rasanya berat.

Pada suatu waktu, aku kenalan dengan cowok lain, katakanlah bernama Rudi. Perhatian Rudi ternyata nggak kalah besar dari Steven, ditambah satu faktor penting: dia seiman dengan aku. Nggak lama kemudian kami jadian. Kedua cowok itu nggak saling kenal, dan nggak tau kalo aku diam-diam menduakan mereka.

Dua tahun aku jalani hubungan rahasia dengan Steven dan Rudi, sampe pada suatu titik aku merasa kondisinya nggak bisa begini terus-terusan. Sebenernya aku takut kehilangan Steven maupun Rudi, tapi aku merasa hubungan ini nggak adil buat mereka berdua. Aku harus mengakhirinya segera.

Pada suatu hari, sengaja aku undang Steven dan Rudi ke rumahku pada jam yang sama. Sengaja aku biarin mereka ketemu di teras, saling kenalan dan ngobrol lumayan lama. Aku sendiri masih di dalam, berusaha menguatkan diri untuk menjalankan rencanaku.

Setelah merasa cukup kuat, aku keluar menemui mereka. Tanpa basa-basi, aku ngomong,

"Steven, kenalin, ini Rudi. Selama dua tahun terakhir, aku jadian sama dia tanpa sepengetahuan kamu. Rudi, kenalin, ini Steven. Sebelum kita kenal, aku udah jadian sama dia beberapa tahun, sampai sekarang. Aku nggak berani bilang bahwa aku udah punya Steven, karena aku takut kehilangan kamu. Begitu juga dengan kamu, Steven, aku nggak berani bilang bahwa aku sekarang juga punya Rudi, karena aku nggak mau kehilangan kamu.

Aku tahu, perbuatanku salah, makanya aku mau mengakhiri sekarang. Aku mohon maaf sama kalian... aku sayang sama kalian berdua, aku juga merasa kalian sayang sama aku... tapi aku nggak berhak menerima cinta kalian berdua seperti ini... aku pasrah, aku rela kalau kalian berdua mau ninggalin aku sekarang. Aku nggak pantas kalian cintai..."

Habis ngomong gitu, aku cuma nangis, sementara mereka berdua shock. Aku ngerti, mereka pasti marah besar sama aku. Aku udah pasrah, aku nggak berhak mempermainkan mereka. Kalo mereka mau ninggalin aku, aku terima - walau berat. Yang jelas, setelah ngomong terus terang, aku ngerasa lega banget.

Dengan berapi-api, Steven mengekspresikan kemarahan dan kekecewaannya. Habis itu dia pergi, dan bersumpah nggak mau ketemu aku lagi. Sementara Rudi tetap tinggal, dan akhirnya ngomong,

"Bunga, perbuatan kamu memang salah. Aku ngerti alasan kamu melakukan ini karena takut kehilangan kami, tapi tetep aja itu salah. Tapi aku menghargai kejujuran kamu, dan aku masih sayang sama kamu. Kalo kamu mau janji nggak akan ngulangin perbuatan kaya gini lagi, aku masih mau kita sama-sama terus... aku nggak akan ninggalin kamu..."

Akhirnya, aku nerusin pacaran sama Rudi, dan beberapa tahun kemudian kami menikah. Sekarang Rudi udah jadi suamiku.


Seandainya cerita Bunga ini pertunjukan teater, gue serasa mau ngasih standing ovation.

Saat orang-orang lain memilih jalan 'damai' (baca: diam-diam) untuk menyelesaikan hubungan segi tiga, Bunga justru memilih untuk berterus terang - dengan resiko kehilangan dua-duanya.
Tapi Bunga yakin, sebuah kebohongan nggak akan mungkin diselesaikan dengan  kebohongan lain . Solusi terbaik adalah kejujuran - dan kadang untuk bersikap jujur butuh nyali yang besar. Salute, you've got the guts, girl!

Sekedar referensi, buat kalian yang mungkin punya masalah serupa...

Foto gue pinjem dari worth1000

Blog Entrycara mulia untuk komaOct 9, '07 1:05 PM
for everyone
Minggu lalu, seorang temen kantor gue mendapat telepon mengejutkan dari rumahnya: ayahnya terkena serangan jantung dan lagi dalam perjalanan menuju rumah sakit.  Denger berita kayak gitu, siapalah yang nggak panik. Dia langsung minta ijin ke boss, dan pergi menyusul ke rumah sakit.

Waktu ditemui, ayahnya masih dalam keadaan sadar. Tapi lama kelamaan kondisinya terus memburuk sampe akhirnya dinyatakan dalam kondisi koma.

Seluruh keluarganya berkumpul sambil berduka. Mereka bergantian menunggui ayahnya yang terbaring tak sadarkan diri, sampai akhirnya pada suatu hari terjadi 'keanehan'.

Masih dalam keadaan tak sadar, tiba-tiba aja bibir si ayah melantunkan ayat-ayat suci Al Quran secara berurutan, mulai dari depan ke belakang. Kalau udah sampe ke ayat terakhir, beliau mulai lagi membaca ayat pertama. Hampir non-stop seperti itu. Jadi selama semingguan terbaring koma, entah udah berapa kali beliau khatam Al Quran! Hebatnya lagi, raut mukanya selalu dalam keadaan tersenyum.

Ngeliat kondisi seperti ini, pihak keluarga yang tadinya terpukul pelan-pelan mulai pasrah. "Biarlah kalau Papa harus pergi, beliau pergi dalam keadaan yang baik..." kata temen gue. Malah kalau si ayah ini sedang terdiam, anak-anaknya yang menunggui suka iseng menantang, "ayoh Pa, baca surat sekian  ayat sekian... bisa nggak.." dan si ayah selalu mampu membacakan ayat yang dimaksud dengan ketepatan 100%.

Rahasianya, kata temen gue, ayahnya ini memang sejak dulu nggak pernah absen baca Al Quran SETIAP HARI. Betul-betul nggak ada hari yang terlewat tanpa ayat Al Quran. Itulah sebabnya saat kehilangan kesadaran, ayat-ayat Al Quran menjadi refleks yang berlangsung secara otomatis.

Sampai hari ini, beliau masih dalam keadaan koma, dan masih belum berhenti membaca ayat-ayat Al Quran. Semoga Allah SWT memberikan jalan keluar yang terbaik bagi beliau dan keluarganya, aaamiiin.

gambar gue edit dari gambar ini


Lagi-lagi istri berhasil membuat kejutan ultah yang nggak terduga. Setelah sebelumnya bikin surprise party dengan mendatangkan rombongan MP-ers di tengah malam, kali ini istri punya ide yang berbeda.

Awalnya, pas jam 12 teng, istri memotongkan kue ultah buatan sendiri. Ini nggak terlalu surprise karena pas pulang kantor kuenya udah ketahuan duluan lagi nongkrong di kulkas. Abis makan kue, istri bilang, "suami, cepetan tidur ya... besok harus bangun pagi-pagi."
"Kenapa?"
"Ya kan besok akhir pekan, kita mau jalan-jalan..."

Paginya, jam 7 kurang gue udah dibangunin.
"Suami, cepetan bangun, kadonya udah nunggu di depan!"
"Kenapa kadonya nggak dibawa ke sini aja sih!"
"Nggak bisa, harus ke depan."
Maka gue ke depan, dan ternyata... udah menunggu sebuah bajaj lengkap dengan supirnya, yang bernama Bang Taufik.

"Suami, ini kadonya. Katanya dulu suami ingin nyoba nyupir bajaj... ini istri nyewa bajaj sampe jam 9 untuk suami... nanti suami nyoba narik bajaj ya! Cari penumpang ya!"

Ya ampuun... ada-ada aja deh idenya istri. Gue emang pernah bilang, ingin tau rasanya nyupir bajaj barang sehari. Nggak nyangka ternyata hari ini jadi kenyataan!
"Sekarang suami belajar nyupir bajaj dulu ya, nanti diajarin sama bang Taufik ini," kata istri.

Maka gue menumpang bajaj tersebut ke seputaran jalan Cilacap - Bandung - Semarang yang tergolong sepi. Sementara itu, istri mendahului sampai di lokasi naik sepeda. Di jalan, bang Taufik mencoba membesarkan hati gue yang dalam hitungan menit akan mencoba jalur karir baru sebagai tukang bajaj, "Bawa bajaj itu gampang kok mas, kaya bawa vespa gitu. Mas pernah bawa vespa, kan?"
"Belum, bang."
O-Ow.. gawat - mungkin begitu pikiran Bang Taufik. "Kalo bawa motor bebek, pernah?"
"Belum pernah juga, bang."

Sesampainya di jalan Cilacap, gue pindah duduk di kursi kemudi. Gue mencoba menyalakan mesin bajaj dengan menarik starternya - itu lho, besi panjang di sebelah kiri kursi kemudi. Nggak berhasil- berhasil. Ternyata berat banget!!
"Sini, saya aja yang nyalain," kata Bang Taufik, "Ntar tangannya sakit kalo belum biasa. Sambil diputer gasnya ya."
-Ngeengg...!- bajaj berhasil nyala.
"Koplingnya tahan, masukin gigi satu, sambil pelan-pelan digas ya!" Bang Taufik memberikan petunjuk.
Gue mengikuti petunjuk tersebut
Trus bajajnya mati.
"Loh bang, kok mati?"
"Coba sini saya liat."
Bang Taufik mengutak-utik bajajnya, dan nggak lama kemudian melaporkan,"Waah.. kabel gasnya putus!"
"Yaaah... saya muternya kekencengan ya bang? Maaaappp."
"Ya udah nggak papa. Tapi masalahnya saya nggak bawa kabel cadangan nih. Saya mau ke Senen dulu ya, beli kabel gas, nanti ke sini lagi," katanya.
Maka acara kursus nyupir bajaj terpaksa ditunda dulu untuk sementara, dan gue jalan kaki pulang ke rumah.

Sekitar jam 8, Bang Taufik udah muncul lagi di depan rumah. Maka seperti tadi, gue numpang sampe jalan Cilacap, terus di sana kursus nyupir bajaj dimulai kembali.
"Ini kabelnya baru kok, jangan takut putus, tapi muternya juga jangan kenceng-kenceng ya!"

Gila, ternyata nyupir bajaj sama sekali nggak gampang. Bener-bener harus pake feeling karena nggak ada indikator apapun yang menunjukkan posisi gear. Kadang gue rasa masih gigi dua, ternyata udah masuk gigi empat. Kadang perasaan udah muter gas, ternyata belum. Sementara kalo muternya kekencengan, takut kabelnya putus lagi. Kalo kurang kenceng, mesin mati. Serba salah.

Baru beberapa menit nyoba, kabel gas kembali bermasalah. Gue udah cemas aja, tapi ternyata nggak putus, cuma lepas. Bang Taufik kembali sibuk mengutak-utik. Beberapa menit kemudian beres. Tapi gue jadi nggak enak banget, ngerusakin bajaj orang sampe dua kali gini.
"Bang, udahan aja deh nyetir bajajnya, nggak enak nih bajajnya rusak melulu gara-gara saya," kata gue
"Lho kok udahan... jangan putus aja, namanya juga baru belajar, ya biasa kalo kabelnya putus melulu," Bang Taufik dengan sabarnya membesarkan hati. Mengharukan, rupanya dia sungguh-sungguh mau ngajarin sampe gue bisa nyetir bajaj. Padahal kalo gue cepat putus asa kan lebih menguntungkan buat dia, urusan cepet beres sementara duit yang diterima tetep sesuai perjanjian.

Akhirnya gue mencoba lagi, dan alhamdulillah kali ini nggak pake acara kabel putus. Gue muter-muter di seputaran jalan Cilacap - Semarang - Bandung berkali-kali di bawah tatapan curiga dari para penduduk setempat. Soalnya selain bajajnya muterin tempat yang sama berkali-kali, posisinya memang nggak biasa, gue nyupir bajaj sementara Bang Taufik setengah nyantol di pintu belakang kayak stuntman lagi adegan kebut-kebutan.
"Bang, bajaj giginya sampe berapa sih?"
"Sampe empat, tapi kalo lagi belajar sampe gigi tiga aja dulu ya..." jawab Bang Taufik penuh antisipasi.

Cukup satu jam muter-muter, gue udah capek dan mengarah balik lagi ke rumah, diiringi senyum lega Bang Taufik yang rupanya rada setress gue bawa ngebut. "Ini baru belajar kok maunya jalan kenceng aja, saya jadi ngeri..." katanya. Alhamdulillah kami berhasil sampe di rumah lagi dengan selamat. Sayangnya Bang Taufik nggak punya telepon yang bisa dihubungi.
"Bang, kalo kapan-kapan saya mau latihan nyupir bajaj lagi gimana caranya nyari abang?"
"Ya udah nanti saya deh yang nelepon, kalo hari sabtu atau minggu gitu ya, biar jalanan nggak macet."

Terima kasih buat Bang Taufik yang dengan sabar udah mengajari gue nyupir bajaj, dan terutama buat istri yang selalu punya ide surprise yang menyenangkan buat suami. Terima kasih ya, istri! Luv u banget!



Photo Albummenyampaikan amanat dari anjingtanah (6 photos)Aug 22, '07 11:31 AM
for everyone

Sesuai dengan janji gue di posting yang ini, bahwa siapapun yang bisa mengajari gue membuat headshot bergerak berhak mendapatkan hadiah, maka user anjingtanah keluar sebagai pemenang.

Tapi rupanya ybs memilih untuk tidak mengambil hadiahnya. Berhubung gue udah berniat untuk mengeluarkan hadiah, maka gue menawarkan untuk menyumbangkan hadiah tersebut atas nama anjngtanah. anjingtanah setuju, dengan pesan agar gue menyumbangkannya kepada pengemis terdekat.

Personally gue nggak terlalu bersimpati kepada para pengemis, karena pada kenyataannya banyak orang lain yang hidupnya lebih susah masih berusaha untuk survive tanpa menadahkan tangan. Maka gue memprioritaskan target penyerahan hadiah kepada mereka yang hidupnya masih berkekurangan, namun nggak mengemis. Kalo memang nggak nemu yang kaya gitu, baru deh gue pilih para pengemis sebagai sasaran berikut.

Kebetulan hari Minggu 19 Agt kemarin, gue bersepeda di kota tua bersama rombongan MP yang terdiri atas Wib, Sigit, dan Eriq. Gue ceritain ke mereka rencana penyampaian hadiah itu, dan meminta mereka jadi saksi plus seksi dokumentasi sebagai bukti bahwa amanat telah disampaikan. Tentunya mereka dengan senang hati mau membantu gue.

Sepulang dari acara bersepeda, kami menyusuri sepanjang jalan Hayam Wuruk sambil jelalatan. Calon target pertama kami temukan di dekat Glodok Lama, seorang ibu penyapu jalan yang sudah cukup lanjut usia.

Wib yang langsung mendekati ibu itu, menjelaskan maksud kami memberikan sedikit hadiah, sementara Eriq, sesuai permintaan gue, mulai mengeluarkan kamera pohonnya. Eh, rupanya si ibu itu merasa shock melihat kamera Eriq, menyangka dirinya akan diliput media. Padahal, beliau saat ini tidak secara resmi bekerja sebagai penyapu jalan. Mungkin beliau khawatir, bila dirinya diekspos di media, malah akan mendatangkan kesulitan di belakang hari, misalnya dikejar-kejar petugas penyapu jalan yang resmi atau alasan lainnya yang gue juga nggak begitu tau. Yang jelas, beliau langsung kabur kenceng banget. Yah, gagal deh.

Jalan lagi, dan akhirnya Wib yang pertama kali ngeliat ibu dan anak penarik gerobak di pinggir kali Hayam Wuruk. Belajar dari pengalaman, Eriq dengan lensa ttele-nya akan memotret dari seberang jalan, dan hanya gue bersama Wib yang mendekati mereka.

Gue bilang sama mereka, bahwa sedikit hadiah yang gue berikan ini bukan milik gue, melainkan milik seorang teman. Semoga bermanfaat bagi mereka. Mereka menerima dengan senang hati, dan mengucapkan terima kasih.

Misi berhasil terlaksana.

Di kalangan temen-temen sekantornya, Alfian (nama fiktif tapi orangnya betulan) bukan sosok yang terlalu 'populer'.

Kalo ditanya kenapa, mungkin setiap orang bisa mengajukan alasan yang berbeda. Ada yang sebel sama kebiasaannya nyetel lagu dangdut techno dengan volume pol di jam kerja. Ada yang nuduh dia haus pengakuan karena kalo lagi teleponan sama boss / orang penting lainnya suaranya bisa kedengeran sampe ke ujung ruangan. Ada yang diam-diam dongkol karena tanpa rasa sungkan setitikpun Alfian sering membanggakan prestasi kerjanya. Ada yang merasa dia gabungan dari semua atribut tersebut di atas karena karena kalo baca e-mail suka tiba-tiba teriak, "Holy Sh!t - mother F***ER!! Masa achievement gue yang tertinggi lagi di periode ini. KE MANA AJA YANG LAINNYA NIH, TIDUR??!!" - tentunya setelah mengecilkan sedikit volume dangdut technonya - untuk memastikan agar semua orang denger. 

Tapi ternyata, di mata Indri (juga nama fiktif) Alfian adalah sosok yang berbeda.

Semuanya berawal waktu Indri dan timnya, termasuk Alfian, disuruh lembur oleh boss karena ada tugas urgent yang harus selesai malam itu juga. Satu tim kerja mati-matian, tapi sayangnya kerjaan baru selesai menjelang jam 12 malam.

Dasar sial si Indri, dia kebagian tugas merekap semua hasil kerja timnya, sehingga saat satu per satu rekan-rekan satu timnya beranjak pulang, dia malah baru mulai ribet di depan komputer. Yang tersisa cuma Alfian, nampak asik mendengarkan lagu-lagu dangdut techno kesukaannya.

Heran karena ngeliat Alfian masih terus bercokol, akhirnya Indri nanya, "Alfian, kok nggak pulang-pulang sih? Bagian lo kan udah beres?"
Indri surprise mendengar jawaban Alfian - yang diucapkan dengan nada kerasnya yang mirip orang membentak, "Ya nungguin elu selesai, lah! Ngapain lagi?"

Ternyata bukan cuma nungguin, tapi Alfian mengantar Indri sampai ke depan pagar rumahnya.
Padahal Indri udah menolak dengan, "Nggak usah sampe depan pager, gue turun di depan gang aja..."
"Kalo jam segini gue nganterin anak orang pulang, gue harus pastiin dia aman sampe rumah - sebab kalo ada apa-apa ntar gue yang harus tanggung jawab sama orang tuanya!"

Mengenang kejadian itu, Indri lantas mengambil sikap, "Sejak itu, kalo ada orang ngejelek-jelekin dia, gue nggak pernah ikutan nimbrung - karena di balik penampilannya yang 'kayak begitu itulah' ternyata dia berhati baik dan menghargai wanita."




note:

buat yang berprasangka bahwa Alfian berbaik hati kepada Indri karena 'ada maunya', sampe hari ini mereka tetep temen biasa aja - malah udah jarang berinteraksi karena udah beda lokasi kerja. Alfian sendiri udah berkeluarga, punya anak istri dan umurnya terpaut cukup jauh dengan Indri.

gambar gue impor dari picturequest.com

Blog EntryHobi masak Ida dan semangat baru IbuJun 3, '07 11:15 AM
for everyone
Soal masak - memasak, dari dulu Ida memang udah hobi. Tapi intensitas hobinya yang satu ini jadi meningkat pesat waktu beberapa minggu yang lalu dia menemukan website Natural Cooking Club.

Website yang memuat resep-resep plus aneka tips memasak ini juga punya milis, dan punya kegiatan kursus masak mingguan yang dikelola secara sangat profesional. Ida sempet ikutan kursusnya satu kali, dan abis itu jadi rewel minta beliin oven tangkring.

Walaupun rada nyebelin karena sejak keranjingan masak jadi males olah raga dan sepedaan, tapi dampak positifnya adalah gue jadi dapet pasokan makanan enak-enak. Tapi yang nggak terduga adalah efeknya terhadap Ibu gue.

Pasalnya, di NCC itu banyak ibu-ibu rumah tangga yang berbisnis makanan dengan omzet yang cukup mencengangkan (seriously - I'm talking about seven to eight figures numbers here). Ida lantas bercita-cita ingin ikutan berbisnis makanan dan menceritakan niatnya ini kepada Ibu. Sebagai veteran pebisnis makanan, kontan Ibu menyambut gembira. Dengan bersemangat Ibu berjanji akan menurunkan ilmu masaknya kepada Ida.

Tadinya gue kira Ibu cuma basa-basi doang. Eh, tau-tau hari Sabtu kemarin muncul dua orang bapak tua di rumah gue, mengaku ditelepon ibu untuk menservis kompor! Bukan cuma itu; hari ini Ibu juga diam2 udah mengutus Lis, asistennya urusan sapu-menyapu untuk belanja bahan makanan di supermarket. Sorenya, waktu Ida bangun tidur siang, Ibu udah standby di dapur siap menurunkan ilmu pertamanya!

Dari tiga orang anak perempuan ibu, nggak ada satupun yang tertarik mewarisi ilmu masak-memasak - apalagi berniat untuk menjadikannya sumber penghasilan. Makanya ibu semangat banget waktu tau menantunya ternyata berminat menekuni bidang yang jadi keahliannya dulu.

Dipikir-pikir, nggak papa deh Ida jadi males olah raga - karena hobinya ternyata bisa memberikan semangat hidup baru buat mertua...

Foto: Ibu dan Ida di dapur.

ReviewReviewReviewReviewNagabonar jadi 2Apr 9, '07 6:53 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy

"Udah nonton 'Nagabonar jadi 2' belum?"
"Belum."
"Waaah.. LO HARUS NONTON! Baguuuss... banget!"

Belum pernah gue denger sebelumnya, ada film Indonesia yang dikomentari orang kaya gitu. Bukan cuma satu atau dua yang ngomong, tapi semua orang yang udah nonton film ini berkomentar sama. Mereka bilang film ini 'lucu buanget tapi juga mengharukan', 'mendidik tanpa menggurui', etc etc.

Wow.

Jadi harap maklum kalo gue berharap film ini sekualitas 'As Good As It Gets' yang dulu ngeborong Oscar 1997 dan sukses pula di pasaran. Sayangnya film ini nggak terlalu berhasil memenuhi harapan gue.

Ceritanya seputar hubungan antara tokoh Nagabonar (Deddy Mizwar), veteran perang kemerdekaan yang hidup menyendiri di kampung dan Bonaga (Tora Sudiro), anak Nagabonar yang udah jadi pengusaha sukses di Jakarta. Bonaga mendapat tawaran investor asing untuk membangun resort di perkebunan kelapa sawit milik bapaknya. Bonaga menjemput bapaknya datang ke Jakarta supaya bisa mendapat penjelasan lengkap tentang rencana itu. Konflik antar generasi kemudian terjadi karena Nagabonar keberatan lahan kelapa sawit yang antara lain juga menyimpan jasad ibunya, istrinya, dan Bujang, sahabatnya di jaman perang diutak-atik.Apalagi waktu dia tau bahwa investornya orang Jepang, mantan penjajah.

Sebagai pemanis dihadirkan juga konflik percinta'an* antara Bonaga dan Monita (Wulan Guritno) yang selama ini bekerja membantu Bonaga sebagai konsultan.

Satu hal yang lumayan mengganggu buat gue (tapi anehnya nggak pernah diusik oleh penonton lainnya) adalah: memangnya berapa sih umur si Nagabonar ini?

Mari berhitung:
Film Nagabonar pertama (1987) mengambil setting nggak lama setelah proklamasi kemerdekaan RI. Artinya, tahun 1945. Dari penampakan sosok Nagabonar di film pertama itu, nampaknya dia berusia 30 tahun-an (sesuai dengan umur Deddy Mizwar yang lahir pada tahun 1955). Film Nagabonar jadi 2 mengambil setting tahun 2007 (ditinjau dari jenis mobil dan HP yang digunakan para tokohnya, serta kehadiran busway di jalanan ibukota). Artinya, Nagabonar di film ini udah berusia 94 tahun!

Yah memang banyak orang-orang tua yang cukup fit dan tampak awet muda, tapi rasanya jarang banget deh ya, ada kakek berusia 94 tahun kuat manjat patung Sudirman hanya dengan bergayut pada tambang....

Soal cocok-cocokan umur juga agak sedikit ganjil untuk tokoh Karina, istri Nagabonar. Jadi ceritanya, Karina meninggal waktu melahirkan Bonaga. Tora Sudiro pemeran Bonaga lahir tahun 1973, tapi mari kita kasih voor 3 tahun sehingga anggap tokoh Bonaga dilahirkan pas tahun 1970.

Kalo pada tahun 1945 Karina berusia 20-an tahun (sesuai dengan umur Nurul Arifin sebagai pemerannya yaitu 21 tahun pada tahun 1987), maka waktu hamil dan melahirkan Bonaga Karina udah berusia 46 tahun! Yah, kalo dicari-cari datanya mungkin ada aja sih orang yang hamil di usia 46 tahun, tapinya pastinya akan jarang buanget - atau mungkin sekalian disengaja sebagai latar belakang mengapa Karina sampai meninggal saat melahirkan?

Secara umum, cerita film ini nggak sedahsyat yang digembar-gemborkan orang. Jangan salah, bukannya film ini jelek, tapi juga bukan film yang' lucu buanget' - setengah jam pertama gue duduk anteng karena nggak ada adegan yang cukup menggelitik untuk dianggap lucu. Di beberapa bagian film ini terasa cerewet mencekoki penonton dengan nilai-nilai nasionalisme, dan yang paling konyol adalah adegan Nagabonar memanjat patung Sudirman karena dia mau menghimbau sang patung agar 'menurunkan hormatnya karena tidak semua orang yang melewatinya layak untuk dihormati'. Sudahlah Opung Naga, itu kan patung?         

Tapi di bagian lain juga ada beberapa adegan yang layak dicatat, antara lain adegan Nagabonar vs Polantas yang mencoba melarang bajajnya masuk jalan protokol, dan adegan emosional Nagabonar vs Bonaga di depan pintu kamar. Menurut gue, akting Tora di film ini jauh lebih baik dibanding film-film sebelumnya, termasuk Arisan!.

Kesimpulannya: sebuah film yang layak tonton, di atas rata-rata kualitas film Indonesia akhir-akhir ini, tapi kalo dibilang 'bagus buanget' ya... enggak juga sih.

Foto dari situs resmi film Nagabonar jadi 2

*harap dibaca dengan memperhatikan tanda ( ' )     



Blog EntryUpdate; Penyerahan SPT tahun iniMar 28, '07 11:56 AM
for everyone
Masih inget sama posting gue yang ini?
Nah tahun ini kembali gue harus melakukan salah satu kegiatan paling nggak guna di dunia yaitu menyerahkan SPT form 1770S. Berikut ini adalah list ringkasan pengalaman gue hari ini:
  • Alhamdulillah, gue masih dilayani kantor pajak yang sama yaitu yang di wisma bakrie kuningan.
  • Form 1770S versi baru hanya 1 lembar, seluruh lampirannya dipress supaya muat di halaman ke dua. Lebih gampang dan praktis ngisinya.
  • Ternyata sekarang setiap petugas pajak udah ditentukan harus melayani WP (wajib pajak) yang mana. Jadi saat gue dateng, ada petugas yang bantu ngecek di komputer untuk ngeliat siapa AR (Account Representative) yang akan membantu gue. Mungkin sistem ini dirancang untuk menghindari favoritism ya, karena kalo seorang petugas udah terkenal baik pelayanannya, nanti semua WP pada numpuk minta dilayani oleh dia doang.
  • Alhamdulillah lagi, AR yang ditunjuk untuk melayani gue adalah Pak Tri yang tahun lalu gue puji-puji kualitas pelayanannya. Tahun ini pun beliau masih mejalankan tugasnya dengan baik. Waktu gue dateng, beliau lagi melayani WP lain, seorang mbak-mbak yang membawa setumpuk berkas yang tersusun secara ngaco. Karena ngeliat gelagat gue akan nunggu lama, gue disuguhi segelas aqua :-)
  • Gue masih belum punya juga yang namanya Kartu Keluarga, dan lagi-lagi Pak Tri memberikan solusi yang termudah buat gue.
  • Prosedur penyerahan SPT-nya juga dipangkas. tahun lalu, setelah dicek oleh Pak Tri, gue harus ngantri lagi di ruang sebelah untuk menyerahkan berkas dan menerima tanda terima. Tahun ini, berkas bisa langsung diserahkan ke Pak Tri karena mereka kayaknya abis menginstall sistem printer yang terhubung lewat LAN - jadi tanda terima bisa langsung diprint di dekat meja petugas.
Kesimpulannya, gue cukup puas dengan upaya kantor pajak yang satu ini untuk terus memudahkan para WP. Sama seperti tahun lalu, gue juga berharap semoga kualitas pelayanan yang sama juga diterapkan di kantor-kantor pajak lainnya. Hmm... kalo semua pegawai pajak kayak Pak Tri, gue rela kok dipajakin :-))

ReviewReviewReviewReviewReviewRocky BalboaMar 11, '07 1:12 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Sports

Serial "Rocky" berawal dari film Rocky pertama yang dirilis tahun 1976. Film itu langsung melejitkan nama Stallone yang waktu itu masih anak bawang dan masih cari sesuap nasi dengan main film bokep* sebagai bintang papan atas Hollywood. Nggak tanggung-tanggung, film Rocky itu dinominasikan untuk 7 kategori Oscar, dan berhasil memenangkan 3 di antaranya - termasuk kategori "Film Terbaik"

Tapi sejak kesuksesan itu, otak dagang Stallone berputar lebih kenceng dari otak artistiknya sehingga berkembang-biaklah film Rocky jadi sequel-sequel yang makin lama makin nggak dilirik oleh para kritikus film sekalipun sukses secara komersial. Walaupun gue sendiri suka banget nonton Rocky IV tapi harus diakui film itu nggak lebih dari sebuah video-clip berdurasi panjang. Musiknya keren, gambarnya seru, tapi nggak ada ceritanya. Yang paling parah adalah Rocky V: udah dicaci-maki kritikus, nggak sukses pula di pasaran. Stallone sendiri mengakui, dia rada asal-asalan waktu menggarap film itu.   

Makanya waktu akhir tahun 2003 terdengar kabar Stallone mengajukan proposal untuk membuat film "Rocky VI" banyak fansnya yang berkomentar, "Ah sudahlah boss... apa lagi sih yang mau dibahas?" Umur Stallone udah lebih dari 50 tahun, dan kayaknya nggak terlalu banyak orang yang antusias ngeliat petinju keriput berdarah-darah. Udah gitu bocoran plot yang beredar di banyak forum penggemar Rocky juga nggak terlalu menarik, yaitu tentang Rocky tua yang mengelola sekolah tinju dan harus berhadapan dengan sekelompok berandalan yang mau mengganggu anak didiknya. Mungkin yang terdengar antusias dengan rencana pembuatan film Rocky VI cuma aktor Dolph Lundgren, yang pernah jadi Ivan Drago - petinju Soviet di film "Rocky IV". Lundgren yang sempet ngerasain hidup rada enak waktu main Rocky IV memang sekarang lagi terjerumus ke lembah nista perfilman kelas B** - nggak heran kalo dia berharap banget diajak.


Adegan puncak: Rocky vs. Dixon

Sejak 2003 itu gue nggak denger lagi kabar-kabar tentang rencana Rocky VI, sampe tau2 2 minggu yang lalu gue ngeliat poster film berjudul Rocky Balboa terpajang di bioskop. Wah, inikah Rocky VI? Ngeliat poternya yang sederhana banget, gue tadinya nggak terlalu berharap film ini akan bagus. Tapi waktu gue cek IMDB.com... weits.... dapet skor 7.5 / 10 dari para pengunjung! Kalo statistiknya diliat lebih lanjut, malah makin keren lagi: 40% dari 20 ribuan orang yang udah nonton film ini ngasih skor 10, plus 14% lainnya ngasih skor 9. Artinya 54% penonton "Rocky Balboa" berpendapat film ini buagus buanget!

Setelah beberapa kali gagal nonton, akhirnya hari ini berhasil juga. Kayaknya udah di detik-detik terakhir penayangannya di bisokop Jakarta karena yang muter film ini cuma bioskop Pondok Indah dan Gajah Mada Plaza. Gue pilih yang terakhir.

Seperti yang digambarkan oleh posternya, film ini mencoba menggambarkan kehidupan Rocky yang sederhana setelah pensiun jadi petinju. Adrian, istrinya, digambarkan udah meninggal tahun 2002, dan sekarang Rocky mengelola sebuah restoran kecil yang dinamai "Adrian's". Anaknya udah ngantor di kantor bagus, pake dasi. Pokoknya, dia udah hidup tenang deh. Sementara itu, ring tinju lagi dikuasai sama petinju bernama Mason Dixon (diperankan oleh Antonio Tarber - petinju betulan - terakhir dikalahkan oleh Bernard Hopkins Juni 2006 lalu) yang udah mulai kurang diminati akibat penonton bosen liat dia menang melulu.

Pada suatu hari, sebuah stasiun TV iseng menayangkan sebuah film animasi simulasi komputer***; apa yang akan terjadi kalo Mason Dixon melawan Rocky Balboa. Simulasi komputer menunjukkan Rocky akan berhasil mengalahkan Dixon. Manager Dixon melihat acara ini sebagai peluang untuk mengangkat pamor anak asuhnya, dan menawari Rocky untuk merealisasikannya.

You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. 
But it ain't how hard you hit; 
it's about how hard you can get hit, 
and keep moving forward.
=Rocky Balboa=

Stallone bilang, dia mau film Rocky yang terakhir ini punya 'feel' yang sama dengan Rocky yang pertama dulu: drama kemanusiaan dengan latar belakang dunia tinju - dan dengan takjubnya gue menyaksikan bahwa dia berhasil! Film ini beda banget dengan Rocky II - V yang cuma menjual serunya pukul-pukulan dengan lawan yang makin lama makin sangar plus kehidupan mewah Rocky sebagai petinju sukses (jgn2 Raam Punjabi sempet tanem saham di serial Rocky?). Di film ini Stallone berperan sebagai penulis naskah, sutradara, dan aktor secara sangat berhasil. Dialog-dialognya cerdas banget, nggak ngebosenin karena berulangkali mengajak penonton ngeliat permasalahan dari berbagai sudut. Simak antara lain dialog antara Rocky dan anaknya di luar resto "Adrian's", waktu anaknya menyatakan keberatan bapaknya naik ring lagi. Juga dialog antara Rocky dan Little Marie waktu Rocky nawarin kerja di restonya. Kalo dulu sequel-sequel Rocky selalu menawarkan tema "underdog yang pasti berhasil menang walaupun berdarah-darah asalkan rela berlatih habis2an", film ini mengemasnya dalam paket yang jauh lebih dalam dan menyentuh. Keren deh pokoknya! 

Buat fans film Rocky, terutama film yang pertama, akan merasa lega karena Rocky kembali jadi manusia - bukan sekedar merchandise. Di film2 Rocky sebelumnya, hasil pertandingan tinjunya selalu mudah ditebak - pastilah Rocky memang lagi - tapi ngeliat kondisi Rocky yang udah uzur gini, penonton nggak bisa seyakin dulu dan malah bikin ending film ini makin menegangkan. Buat yang gampang terharu, siapin tisu yang banyak karena ada banyak adegan mengharukan di film ini. Buat penggemar tinju, film ini menyajikan adegan tinju yang jauh lebih realistik daripada film-film Rocky sebelumnya (Sorry, adegan banting-bantingan seperti yang muncul di Rocky IV nggak bakal ada di sini). "Rocky Balboa" bisa jadi tontonan buat semua orang, maka nggak heran kalo film yang dibuat dengan budget 24 juta dollar ini udah berhasil mendatangkan pemasukan kotor (internasional) sebesar nyaris 750 juta dollar! 

Buat yang jadi tertarik nonton film ini, buruan, udah tinggal 2 bioskop lho yang masang. 

 

*Film porno yang pernah dibintangi oleh Stallone diedarkan ulang setelah Stallone ngetop dan dijuduli "The Italian Stallion" - julukan bagi tokoh Rocky Balboa dalam serial Rocky. Buat yang mau nonton film tersebut, silakan download di sini.   
**"B-Movie" adalah julukan untuk film-film berbudget  DAN berkualitas rendah. Tapi nggak semua film berbudget rendah adalah B-Movie lho, sebab banyak juga kok yang bagus. 
***Tahun 1970 pernah ada film yang dibuat berdasarkan perhitungan data komputer atas statistik Muhammad Ali dengan juara kelas berat yang nggak pernah terkalahkan, Rocky Marciano. Film itu diperankan langsung oleh kedua tokoh tersebut, dan hasil akhirnya adalah Marciano berhasil meng-KO Ali di ronde ke 13. Ali mengomentari "kekalahannya" itu dengan bilang, "Komputernya pasti buatan Alabama". 

Referensi:



ReviewReviewReviewReviewReviewTrailernya film World Trade CenterNov 4, '06 11:49 AM
for everyone
Category:Other
Sekali-sekali boleh dong orang ngereview TRAILER (iklan) sebuah film... hehehe... apalagi mengingat gue memang belum nonton FILMnya.

Mungkin kalian semua udah sering banget liat trailer film (baca: film Holywood) yang biasanya 'cerewet' banget dengan narasi - dengan pengisi suara yang kayaknya dia melulu. Pasti tau yang gue maksud, suara bapak2 macho yang ngebass membacakan sebaris demi sebaris tagline klise seperti:
"This summer... expect the unexpected..."
atau
"...from the creators of [nama film ngetop]...."
ditambah dengan kemunculan nama2 pemainnya dengan animasi yang dramatis.

Nah, trailernya WTC ini sepi banget dari hal-hal kaya gitu. Trailer cuma dibuka dengan kegiatan sehari-hari tokohnya (Nicolas Cage dkk) diiringi musik pelan. Ada beberapa dialog terdengar. Adegan kecelakaan pesawat hanya digambarkan sekilas, habis itu muncul adegan2 penyelamatan dalam gedung. Sama sekali nggak ada narasi. Trailer ditutup dengan tulisan "the world saw evil that day" dilanjutkan dengan "two men saw something else" baru abis itu muncul judul filmnya "world trade center". Bahkan nama pemainnya pun nggak dimunculin.

Terlepas dari kaya apa kualitas filmnya, tapi trailer ini bener simpel tapi powerful, dan mampu bikin orang jadi ingin nonton filmnya. Tadinya gue dan Ida berencana nonton film ini tanggal 5 November kemarin, tapi rupanya ada kejadian lebih penting yang harus kami hadiri :-)

Kalo mau nonton trailernya, bisa cek halaman Youtube yang ini.


Photo AlbumBuka Bareng Psiko Ui 91, 2006 (17 photos)Oct 6, '06 4:16 PM
for everyone

Nggak kerasa udah setahun lewat sejak terakhir kali buka bareng anak2 kampus. Kali ini kami berhasil memecahkan rekor, baik dari kecepatan perencanaan maupun jumlah peserta yang berkenan hadir. Kalo taun lalu butuh beberapa minggu untuk debat kusir di milis menentukan lokasi acara, tahun ini cuma butuh persiapan 3 hari via komunikasi sms dan e-mail Mungkin ini bisa jadi tips buat yang mau bikin acara bareng temen2nya: yang penting jangan banyak tanya pendapat orang - karena setiap orang punya kemauan yang beda-beda. Udah tentuin aja tempat dan tanggalnya, biasanya orang malah langsung akan hadir tanpa banyak cing-cong. Udah gitu yang ngumpul lumayan banyak, mungkin lebih dari setengah jumlah anak2 psiko ui angkatan 91 yang sekarang ada di Jakarta. Sementara sigit yang sekarang lagi berada nun jauh di Aceh menelepon sambil terdengar sedih di tengah acara. Nih git, minimal lo masih bisa liat foto2nya kan?

Lokasinya di Hartz chicken Pasar Festival Kuningan, penuhnya kaya terminal, tapi yang namanya ngumpul bareng temen lama tetep aja seru. As always, some new business prospects discussed, lot of gossips exchanged, a bunch of old friendships rekindled!

Good to see you again, guys!

Photo AlbumKondangan Fortheblossom - Kangbayu (82 photos)Sep 3, '06 10:57 PM
for everyone

Pastiiii udah pada nggak sabar nunggu munculnya foto2 ini kaaan? Hayooo ngaku! Yak, itu yang di belakang, jgn belaga ngga denger ya! Ikutan penasaran kan? Apa, enggak? Iya-lah pasti!

Inilah dia, foto2 selama acara resepsi pernikahan Ade dan Bayu, hari Minggu 3 September 2006 di kediaman Ade. Seperti biasa ulah anak2 MP udah serasa di rumah sendiri, lebih heboh dari yang punya hajat.

Foto-foto diambil dengan kamera pohon Eriq dan kamera kacang gue. Untuk membedakannya, liat aja foto-foto yang blur atau goyang, itu pasti menggunakan kamera kacang gue. Sisanya adalah dengan kamera Eriq.

Buat Ade dan Bayu, selamat ya... semoga menjadi keluarga yang sakinah, langgeng, damai sentosa penuh kasih sayang dan berkah Allah SWT. Amiiin.

Blog EntryDitolong tangan-tangan cantikAug 12, '06 6:32 AM
for everyone
H
ari ini, ibu membuat satu kemajuan lagi, yaitu jalan-jalan makan di luar rumah, untuk pertama kalinya sejak hampir 4 bulan terakhir. Sepulang dari rumah sakit untuk fisioterapi, gue, kakak gue, dan Nara, keponakan gue yang baru kelas 6 SD mampir di Satay House Jl. Kebon Sirih.

Berkat latihan berkali-kali dan kondisi ibu yang udah makin Ok, proses menurunkan ibu dari mobil ke kursi roda berjalan kurang dari 1 menit (itu termasuk waktu untuk membuka lipatan kursi rodanya lho!). Setelah ibu berhasil diturunkan, kakak gue cari parkir sementara Nara mendorong kursi roda ibu ke arah pintu masuk.

Di depan pintu masuk, ternyata ada halangan berupa sebuah undak-undakan setinggi ± 15cm.

"Wah gimana nih gung nggak bisa lewat," kata ibu mulai pesimis.
"Bisa dong, tinggal diangkat sedikit roda depannya," kata gue, stil yakin seperti biasa.

Dengan berpegangan pada rangka kursi roda, kedua roda depan berhasil gue naikin ke atas undakan.

"Ok Nara, sekarang dorong kursinya sambil Oom Agung tarik dari depan nih," kata gue. Nara berusaha mendorong sekuat tenaga tapi rupanya masih kurang kuat untuk membuat kursi rodanya beringsut naik. Tadinya sempet terpikir untuk tukeran posisi dengan Nara, gue yang dorong dari belakang sementara dia narik dari depan, tapi tiba-tiba muncul 4 orang dari arah belakang - nampaknya seperti sekeluarga bapak, ibu dan dua anak perempuan umur 20-an yang manis-manis. Belum sempet gue berganti posisi, kedua cewek ini dengan sigapnya mengambil alih pegangan kursi roda dan mengangkatnya hingga berhasil naik ke undakan!

Wah, surprisenya gue, ketemu lagi dengan orang baik di kota metropolitan ini. Buru-buru gue bilang terima kasih dan tau nggak, detik pertama setelah peristiwa tersebut terjadi, gue langsung keinget sama seseorang. Ah seandainya ada elu Riq, udah langsung gue jodohin deh. Orang cantik mah banyak, orang baik lumayan banyak, orang cantik yang baik hati? Hampir punah.

Buat kalian, para penumpang BMW 323 warna maroon dengan plat nomor B 2-sekian-sekian D-sekian yang mampir di Satay House Kebon Sirih sekitar jam 3 siang tanggal 12 Agustus 2006, terima kasih banyak ya. Semoga Tuhan membalas berlipat ganda, amin. Kalo ada di antara pembaca yang kenal dengan keluarga itu, tolong sampein terima kasih gue ya!  

Foto dari sini



Blog EntryDitolong tangan-tangan cantikAug 12, '06 6:32 AM
for everyone
H
ari ini, ibu membuat satu kemajuan lagi, yaitu jalan-jalan makan di luar rumah, untuk pertama kalinya sejak hampir 4 bulan terakhir. Sepulang dari rumah sakit untuk fisioterapi, gue, kakak gue, dan Nara, keponakan gue yang baru kelas 6 SD mampir di Satay House Jl. Kebon Sirih.

Berkat latihan berkali-kali dan kondisi ibu yang udah makin Ok, proses menurunkan ibu dari mobil ke kursi roda berjalan kurang dari 1 menit (itu termasuk waktu untuk membuka lipatan kursi rodanya lho!). Setelah ibu berhasil diturunkan, kakak gue cari parkir sementara Nara mendorong kursi roda ibu ke arah pintu masuk.

Di depan pintu masuk, ternyata ada halangan berupa sebuah undak-undakan setinggi ± 15cm.

"Wah gimana nih gung nggak bisa lewat," kata ibu mulai pesimis.
"Bisa dong, tinggal diangkat sedikit roda depannya," kata gue, stil yakin seperti biasa.

Dengan berpegangan pada rangka kursi roda, kedua roda depan berhasil gue naikin ke atas undakan.

"Ok Nara, sekarang dorong kursinya sambil Oom Agung tarik dari depan nih," kata gue. Nara berusaha mendorong sekuat tenaga tapi rupanya masih kurang kuat untuk membuat kursi rodanya beringsut naik. Tadinya sempet terpikir untuk tukeran posisi dengan Nara, gue yang dorong dari belakang sementara dia narik dari depan, tapi tiba-tiba muncul 4 orang dari arah belakang - nampaknya seperti sekeluarga bapak, ibu dan dua anak perempuan umur 20-an yang manis-manis. Belum sempet gue berganti posisi, kedua cewek ini dengan sigapnya mengambil alih pegangan kursi roda dan mengangkatnya hingga berhasil naik ke undakan!

Wah, surprisenya gue, ketemu lagi dengan orang baik di kota metropolitan ini. Buru-buru gue bilang terima kasih dan tau nggak, detik pertama setelah peristiwa tersebut terjadi, gue langsung keinget sama seseorang. Ah seandainya ada elu Riq, udah langsung gue jodohin deh. Orang cantik mah banyak, orang baik lumayan banyak, orang cantik yang baik hati? Hampir punah.

Buat kalian, para penumpang BMW 323 warna maroon dengan plat nomor B 2-sekian-sekian D-sekian yang mampir di Satay House Kebon Sirih sekitar jam 3 siang tanggal 12 Agustus 2006, terima kasih banyak ya. Semoga Tuhan membalas berlipat ganda, amin. Kalo ada di antara pembaca yang kenal dengan keluarga itu, tolong sampein terima kasih gue ya!  

Foto dari sini


Blog Entry1001 burung kertas dari istriJul 3, '06 1:50 PM
for everyone
Sore tadi, tiba-tiba ada telepon dari satpam di depan kantor.

"Ada kiriman, Pak," katanya.
"Dari siapa?"
"Ibu Ida."
"Siapa yang ngantar?"
"Ibu Ida sendiri, kelihatannya."
"Sekarang masih ada di depan?"
"Sudah pergi, pak."

Gue langsung keluar dan mendapati 2 buah paket di meja satpam. Yang satu adalah lasagna dalam wadah kaca tahan panas, satunya lagi kelihatannya toples berisi potongan-potongan kertas. Benda-benda itu gue bawa masuk dan mudah diduga, si lasagna langsung tamat riwayatnya dalam tempo beberapa menit saja berkat kesigapan temen-temen gue. Sementara itu gue lebih tertarik dengan toplesnya.

Potongan-potongan kertas di dalamnya ternyata adalah origami berbentuk burung dalam jumlah buanyaaak.... banget. Loh, burung? Kenapa burung?

Penjelasannya ternyata ada di surat yang terikat pada toples itu.

Ternyata ide kado burung-burungan ini didapat Ida dari salah satu cerita yang beredar luas di Internet, tentang seorang pemuda yang membuat 1001 burung kertas sebagai tanda cinta buat pacarnya. Ida betulan bikin 1001 burung, yang ternyata dia buat sejak bulan Januari 2006! Rupanya itu juga sebabnya kenapa dia suka tiba-tiba mengurung diri dalam kamar - yang antara lain memicu keisengan gue bermain dengan boneka dino di jendela. Huhuhu... maafin suami ya istri, istrinya lagi sibuk bikin kado buat suami eh malah digangguin..! Parahnya lagi, hari ini suami sama sekali nggak punya kado buat istri.

Ya, tanggal 3 Juli 2006 ini genap 1 tahun usia pernikahan kami. Sebuah pernikahan yang mungkin nggak bisa dikategorikan sebagai "normal" - mulai dari saling memanggil "suami" dan "istri" sementara orang lain sibuk mencari panggilan yang paling manis dan romantis buat pasangannya, atau tradisi untuk saling menciptakan keisengan-keisengan baru, atau kebiasaan untuk saling mempersonifikasi diri dalam tokoh-tokoh kartun saat berkomunikasi lewat tulisan, atau acara "honeymoon" yang lebih banyak diisi dengan acara perburuan warnet supaya bisa posting laporan harian online secara tepat waktu ... nggak heran ulah salah seorang blogger di luar sana menjuluki kami sebagai "suami-istri yang aneh"...

Well... I believe that all of us have the right to define "Love".

Gue percaya bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersatu. Mulai dari sederetan kebetulan yang mempertemukan kami secara ajaib, juga serangkaian "kebetulan" yang mengiringi hari H pernikahan kami, seolah merupakan pertanda bahwa dia adalah jodoh gue. Gue nggak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan hidup gue kalo istri gue bukanlah Ida.

Ngeliat toples berisi burung kiriman Ida, dan setelah mendapat sedikit penjelasan tentang makna di baliknya, salah seorang temen gue berkomentar,
"Toplesnya disimpen di kantor aja gung, supaya selalu inget istri - jadi lebih kuat menghadapi godaan."

Gue cuma nyengir. Ida has no rival. No one even close to be considered as one.

Toples itu gue bawa pulang.

Happy first anniversary, istri. With you in my life, miracles are still happening - every single day.



Cerita tentang 1001 burung kertas antara lain bisa dibaca di sini dan di sini.
Background dan ilustrasi: 1001 burung kertas buatan Ida.




Interaksi pertama gue dengan dunia perpajakan terjadi tahun 2001... atau 2002 ya? Pokoknya waktu itu presidennya Gus Dur, yang menghapus satu huruf dalam peraturan perpajakan. Satu huruf doang, tapi imbasnya melekat di diri gue sampe saatnya gue menghadap Allah nanti. Huruf yang gue maksud adalah bagian pasal, yang kalo gak salah bunyinya:

...Wajib Pajak yang tidak wajib memiliki NPWP adalah...

...
c. Wajib pajak orang pribadi yang hanya menerima penghasilan dari satu pemberi kerja dan tidak memiliki penghasilan tambahan lainnya.
...

Undang-undang tersebut direvisi menjadi:

c. Dihapus.

Udah gitu doang, tapi sebagai akibatnya gue jadi harus punya NPWP. Apalagi waktu itu gue berstatus sebagai pegawai BPPN yang mana adalah lembaga pemerintah - sehingga para pegawainya wajib memberikan teladan kepada masyarakat luas dengan menjadi pionir-pionir dalam hal memiliki NPWP. Padahal yang namanya NPWP ini nggak bisa dicabut selama orangnya masih hidup. Jadi, kalopun someday gue jobless, gue tetep harus dateng setiap tahun ke kantor pajak sekedar melaporkan bahwa di tahun berjalan gue gak dapet duit sepeser pun. Udah bokek, suruh lapor pula. Tega banget.

Acara penyerahan SPT Tahunan pertama gue berlangsung sungguh sangat senewen sekali. Waktu itu kantor pajaknya di jalan Sam Ratulangie Menteng. Gedungnya gedung rumah tua, para pengunjung harus ngantri di halaman bertenda yang walaupun bertenda namun masih sangat gerah, yang ngantri banyak, petugasnya ngebetein dan nanya suka nanya yang enggak-enggak.

Contoh:

Di salah satu kolom SPT ada isian mengenai harta benda. Karena gue merasa masih nebeng di rumah orang tua, mobil milik orang tua, tentunya kolom tersebut gue kosongin. Eh, taunya diusut loh sama petugasnya.

Berkat desakan sang petugas pajak bertampang ngeselin itu, maka gue masukin lah segala 'harta benda' gue seada-adanya, meliputi handphone, playsation, televisi...

"Ini kolom harta, kenapa kosong?"
"Ya karena emang nggak ada yang bisa diisi di situ Pak..."
"Ah masa?"
"Iya kok Pak."

"Rumah?"
"Masih ikut orang tua Pak."
"Mobil?"
"Punya orang tua juga Pak."
"Masa orang hidup nggak ada harta sama sekali. Perhiasan?"
"Nggak ada Pak."
"Handphone? Pasti punya dong."
"Handphone perlu ditulis di sini juga pak?"
"Perlu dong! Itu kan harta juga, belinya pake duit, kan?" kata si bapak petugas sok lucu. Enggak pak, pake daun. Itulah sebabnya halaman rumah gue selalu bersih dari dedaunan.

Berkat desakan sang petugas pajak bertampang ngeselin itu, maka gue masukin lah segala 'harta benda' gue seada-adanya, meliputi handphone, playsation, televisi... hampir jam tangan lucu-lucuan boleh beli di Melawai Plaza gue masukin juga di situ.

Belajar dari pengalaman pahit penyerahan SPT pertama, di tahun berikutnya gue mempersiapkan diri secara lebih matang. Waktu itu kan gue masih jadi pegawai HRD, jadi kenal sama pegawai HRD lain yang kerjanya ngurus pajak penghasilan. Namanya Mbak Thres. Wah si mbak satu ini sungguh jago tenan soal perpajakan. Saking jagonya, dia ngisi SPT kaya orang ngisi buku tamu kawinan - lancar nggak pake mikir.

Gue kursus privat sama Mbak Thres mengenai cara mengisi SPT, termasuk tips n trick kolom-kolom mana aja yang walaupun udah diisi secara bener masih potensial untuk mengundang keisengan para petugas pajak. Buat gue yang sangat gapjak, form itu sungguh ajaib mulai dari susunannya hingga pemilihan katanya. Salah satu angka aja, urusannya bisa dituduh 'menggelapkan pajak'. Pokoknya ngeri deh.

Berbekal ilmu dari Mbak Thres, gue melakukan penyerahan SPT tahun berikut dengan lebih percaya diri. Kali ini kantor pajaknya udah bukan yang di jalan Sam Ratulangie, tapi di kantor Pelayanan Pajak Menteng II di Wisma Bakrie Kuningan. Walaupun gedungnya udah tua dan liftnya suka mengeluarkan suara2 mencurigakan, minimal di sana pake AC sehingga orang bisa ngantri secara lebih manusiawi.

Terus terang waktu itu gue berangkat dengan otak penuh su'udzon... pasti resek nih orangnya... pasti ditanya yang enggak2... pasti dioper ke sana-sini.. pasti kalo gue dateng pagi, kantornya masih kosong... pasti para pegawainya pada males-malesan dan main freecell... Tapi ternyata setelah sampe di sana, gue ngintip ke komputer orang-orang.. eh, lagi pada kerja lho! Terus gue nanya Satpam loket mana yang harus didatangi...eh, dijawab dengan sopan lho! Waktu ketemu sama orangnya juga nggak ditanya macem-macem, begitu dia liat SPT gue udah terisi lengkap dan benar langsung dicap "OK" dan gue tinggal ambil tanda terima di loket sebelah. Seluruh prosesnya makan waktu nggak sampe 20 menit, dan di seluruh penjuru kantor ada pengumuman gede "SELURUH PROSES TIDAK DIPUNGUT BIAYA". Hmmm.... lumayan juga nih kantor pajak, ya?

Rasanya masih terlalu indah untuk menjadi kenyataan, jadi tahun berikutnya gue dateng ke sana masih berbekal su'udzon di kepala. Ternyata pelayanan yang gue terima masih dengan kualitas yang sama. Tahun berikutnya juga, sehingga akhirnya gue berani nyerahin SPT tanpa kursus dulu sama Mbak Thres. Lagian setelah BPPN bubar, gue juga kehilangan jejak di mana Mbak Thres sekarang.

Hari ini, di hari terakhir batas penyerahan SPT, gue menemukan diri gue maju selangkah lagi dalam urusan penyerahan SPT, yaitu: gue berani dateng ke kantor pajak dengan SPT yang masih kosong! Kalo sebelum-sebelumnya gue selalu dateng dengan form yang udah diisi secara penuh perhitungan, kali ini gue begitu merasa aman dengan pelayanan di sana sehingga gue yakin kalopun gue salah isi SPT, pasti dibantu sama petugas.

Jadilah hari ini gue berangkat ke Kantor Pajak Menteng II di Wisma Bakrie lantai 1, langsung nyari meja kosong di ruang tunggu, dan ngisi SPT di situ. Rupanya setelah bertahun-tahun ngisi SPT akhirnya gue 'agak' bisa juga ngisi dengan bener. Minimal gue mulai ngerti makna bahasa-bahasa asing yang tertera di situ. Padahal di tahun-tahun sebelumnya gue selalu lupa lagi lupa lagi cara ngisi SPT.

Ugh mampuuuz... sejak kawin gue belum pernah kepikiran ngurus KK!! Celaka deh...

Setelah gue isi lengkap, gue kasih liat ke petugas di loket penerimaan, terus sama petugas di sana diarahkan menemui seorang bapak bernama Tri Sulistya W, NIP: 060097824. SPT gue dibaca-baca sama Pak Tri ini, dibolak-balik, dan tiba-tiba bagai gledek di siang bolong* doi nanya,

"Mas, bawa copy kartu keluarga?"

Ugh mampuuuz... sejak kawin gue belum pernah kepikiran ngurus KK!! Celaka deh...

"Eee.. nggak punya pak, abis saya menikahnya juga baru sih..." Maksudnya 'baru' 8 bulan, belum 10 tahun, gituh.
"Oh... gitu ya? Tapi ini di bukti potongnya sudah berstatus K/0 (kawin, tanpa anak), yang artinya potongan pajak mas lebih besar dibanding waktu masih single. Dengan status seperti ini, SPT harus dilengkapi dengan KK sebagai bukti jumlah orang yang menjadi tanggungan mas...."
"Aduh, gimana ya pak, saya belum punya KK..." jawab gue mulai panik.
"Ya sudah kalau begitu mas buat surat keterangan saja... bisa tulis di kertas kosong ini, atau... sebentar, saya ada sih formulirnya, sebentar ya, saya carikan dulu..." kata Pak Tri sambil mulai ngubek-ngubek tumpukan berkasnya yang segunung itu.
"Eh ya udah ga usah repot-repot pak, saya tulis tangan juga nggak papa kok.." kata gue nggak enak hati ngeliat orang jadi repot hanya karena gue males ngurus KK.

Dengan tulisan serapi yang gue bisa, gue tulis lah surat keterangan di kertas kosong itu, lantas gue serahin ke Pak Tri. Pak Tri menerima surat keterangan gue, ngeprint dan ngecap tanda terima yang kemudian diserahin ke gue.
"Ini mas, sudah selesai."
"Sudah nih pak? Beres semuanya?"
"Sudah, terima kasih."
"Terima kasih ya Pak Tri..."

Udah, gitu doang. Gue nyaris menitikkan air mata haru melihat ternyata ada abdi masyarakat yang begitu service-oriented, nggak kaya iklan A-Mild yang 'barang gampang dibikin susah' itu. Gue yakin, kalo mau dia juga bisa memperpanjang masalah dengan nyuruh gue pulang lagi untuk ngurus KK; yang mana akan makan waktu seharian bahkan lebih, sehingga buntutnya gue akan telat nyerahin SPT dan kena denda 100 ribu. Tapi toh dia memilih cara yang mudah biar urusan bisa cepet beres. Sikap yang ditunjukkan juga sangat sopan dan penuh respek, sehingga gue pun jadi terdorong untuk balas bersikap lebih sopan lagi. Dan yang penting banget dicatat: sama sekali gak ada tanda-tanda minta 'diamplopin'! Luar biasa deh pokoknya.

Orang-orang yang gue ceritain tentang pelayanan Kantor Pajak Menteng II masih aja suka berkomentar sinis, "Ya tentu aja pelayanannya bagus, yang mereka hadapi kan orang2 Menteng yang rata2 pejabat, kalo mereka macem2 malah bisa repot sendiri. Menteng gitu loh!" Tapi gue berharap semoga standar layanan seperti ini ada di semua kantor pajak, di mana semua orang dikejutkan dengan pelayanan yang jauh melebihi ekspektasi mereka. Orang-orang dengan mindset seperti Pak Tri ini nggak cuma dapet gaji dari pekerjaannya, tapi juga sekalian ngumpulin pahala karena telah membantu orang lain - khususnya para wajib pajak yang males ngurus KK.

Buat Pak Tri, gue doain semoga bapak sukses lahir-bathin-dunia-akhirat ya pak, cepet naik pangkat, banyak rejeki, selamat sampe ke tujuan. Aaamiin.


*nanyanya sih pelan-pelan, cuma isi pertanyaannya itu yang bikin jantung kebat-kebit.



Pada suatu hari, temen gue yang bernama Ata bilang sama istrinya bahwa dia punya temen kantor yang suka nulis nggak karuan di blog bernama mbot.multiply.com. Istrinya Ata lantas masuk ke link tersebut, dan mengenali beberapa tokohnya seperti  Oom Jo dan Anto. (Cerita tentang Michael udah terlalu lama sih terbitnya, jadi lolos dari penemuan istrinya Ata). Istrinya Ata melaporkan penemuannya tersebut kepada suaminya dan besokannya kantor heboh karena para tokoh cerita itu baru tau kisah mereka telah melanglang dunia maya. Kebetulan, Oom Jo dan Anto duduknya bersebelahan dengan Ata. Anto di sebelah kanan, Oom Jo di sebelah kiri. Kata Ata,"Wah, mulai sekarang harus ati2 nih kalo ngobrol sama Agung, ntar dimuat di internet. Kanan-kiri gue udah kena."

Oleh karena itu, as per requested, sekarang gue tuliskan cerita tentang Ata

K
ejadian ini sebenernya udah agak lama. Waktu itu team gue butuh kamera pohon untuk pemotretan brosur, dan minjem kamera pohon milik Ata. Nanda, temen satu tim gue, bilang ke Ata, "Man, pinjem yah kameranya... sori nih man ngerepotin. Besok gue balikin deh..."
"Sip... nggak papa, pake aja", kata Ata.

Besokannya, kamera ternyata belum bisa dibalikin karena ada beberapa pemotretan yang harus diulang. Nanda ngomong lagi sama Ata, "Man, ternyata gue masih butuh kameranya, gue pinjem lagi ya... sori nih..."
"Iya, pake aja"
"Atau gue sewa deh biar enak..."
"Hahaha.. mau sewa berapa sih lu?"
"Lima belas ribu sehari"
"Hahaha... kalo gitu mending gue pinjemin gratis aja deh, dapet pahala! Daripada nyewain cuma dapet 15 ribu..."

=$$$=

Ata mungkin cuma ngomong iseng aja, tapi ucapannya mengingatkan bahwa dalam setiap perbuatan baik tersimpan tabungan buat hari nanti. Seringkali orang duluan bertanya,"Apa keuntungan (materi) yang bisa gue dapet kalo gue melakukan ini?" dan lupa bahwa di baliknya ada 'keuntungan' sesuatu yang jauh lebih berharga - seandainya perbuatan tersebut disertai sesuatu bernama keikhlasan.



Pages:12

Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.