Agung's posts with tag: film

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag film
ReviewReviewReviewReviewTakenJul 17, '08 2:59 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure
Buat yang lagi bete: abis kena semprot boss di kantor, kena macet di jalan, kena copet di bis, atau gabungan ketiganya; film ini cocok untuk kalian.

Ceritanya sederhana aja: Bryan (Liam Neeson) adalah seorang veteran agen rahasia yang ngamuk berat gara2 anak gadisnya diculik orang waktu lagi liburan di Perancis. Bryan yang tinggalnya di Los Angeles langsung nyusul ke Paris dan memburu para penculik anaknya.

Walaupun cerita tentang seorang ayah yang kalap karena keluarganya dijahatin bukan tema yang baru (misalnya Ransom - Mel Gibson atau Firewall - Harrison Ford) tapi Taken tetep menarik buat ditonton. Yang bikin seru menurut gue adalah gaya penggarapan film ala Eropa (sutradaranya orang Perancis) yang terkesan beda, lebih 'dingin' dan 'sadis' ketimbang film2 Hollywood yang sering gue tonton. Kalo di film Hollywood adegan berantem sering keliatan terlalu dikoreografi biar rada artistik, di film ini si Liam Neeson asik2 aja main langsung patahin tangan dan leher orang tanpa banyak basa-basi. Selain itu, penonton juga boleh deg-degan menunggu ending film karena para pembuat film Eropa terkenal kurang fanatik dengan happy ending.

Yang jelas, para penonton (baca: gue) bisa turut menikmati ngeliat satu demi satu para penculik dipatah-patahin sama Liam Neeson. IYAAAK! HAJAR AJA BOS! TENDANG! INJEK!

Makanya; lagi bete? Nonton Taken.


ReviewReviewReviewReviewReviewhancockJul 6, '08 12:23 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Film-film yang gue suka umumnya punya salah satu dari beberapa elemen berikut:
  1. Lucu
  2. Special effectnya keren
  3. Ceritanya tentang super hero
  4. Adegan berantem / action-nya seru
  5. Ada pesan moralnya
  6. Ide ceritanya unik
  7. Endingnya nggak ketebak
  8. Bintangnya cantik


...dan menurut gue film "Hancock" punya semua elemen itu, jadi jangan salahin kalo gue kasih bintang 5 ya! :-)

Ceritanya, Hancock (Will Smith) adalah seorang 'super hero' yang tinggal di kota LA. Walaupun niatnya baik, yaitu memanfaatkan kekuatan supernya untuk menolong orang, tapi karena kalo kerja suka sambil mabok dan asal-asalan, efek samping yang ditimbulkannya seringkali lebih parah daripada masalah yang diselesaikan. Misalnya, waktu nangkep beberapa orang penjahat yang kabur naik sebuah SUV, dia nabrak papan-papan penunjuk jalan, ngerusak aspal, dan ngerepotin banyak orang karena mobil penjahatnya ditancepin di atap gedung pencakar langit. Kalo udah begitu, masyarakat malah sebel sama ulah Hancock.

Pada suatu hari, Hancock nolong seorang konsultan Public Relations bernama Ray (Jason Bateman). Sebagai balas budi, Ray menawari Hancock sebuah jasa konsultansi PR untuk memperbaiki image Hancock yang makin parah di mata masyarakat.

Hancock yang pada dasarnya nggak peduli apa pendapat orang tadinya nggak terlalu antusias dengan tawaran tersebut. Dia justru nampak 'antusias' ngeliat Mary (Charlize Theron). Sebaliknya, Mary keliatannya rada antipati sama sosok Hancock.

Waktu berjalan, kebencian masyarakat terhadap Hancock makin memuncak sampe akhirnya Hancock mau juga menerima tawaran Ray. Singkat kata, Ray berhasil memperbaiki citra Hancock: dia mulai diterima masyarakat dan kehidupannya membaik. Tapi justru di bagian sini ceritanya makin seru. Pelan-pelan terjawab pertanyaan tentang dari mana asal kekuatan super Hancock, siapa identitas aslinya, kenapa namanya mirip nama asuransi, dan yang lebih penting kenapa dia begitu 'berminat' ngeliat Mary (yang mana merupakan sebuah hal yang sangat wajar, menurut gue... Charlize Theron gitu loh... hmmmm!!!)

Gue nggak ngerti kenapa penilaian penonton di dua situs film andalan gue nggak terlalu 'hangat'. Di IMDB.com dia cuma dapet skor 6.9 dari skala 10, sementara di Rottentomatoes.com lebih parah lagi, hanya 36% dari skala 100%. Padahal kalo menurut gue sih, film ini bagus banget. Dari segi cerita, ide dasarnya unik. Jarang ada film yang menyoroti seorang super hero yang ulahnya sengaco Hancock. Actionnya juga seru dan porsinya pas. Special effectnya... yah nggak sempurna amat tapi juga nggak jelek lah. Twist cerita dan endingnya juga cukup di luar dugaan. Secara keseluruhan, film ini menghibur tapi ceritanya juga nggak kedodoran. Dan jangan salah, walaupun di bagian awal keliatannya komedi, tapi di bagian akhir juga ada adegan-adegan yang cukup mengharu-biru kok. Dan faktor penting yang nggak boleh dilupakan dalam film ini adalah: CHARLIZE THERON. Kecanggihan teknologi mungkin bisa membuat orang awet muda, maksudnya umur makin tua tapi penampilan tetap seperti waktu masih muda. Tapi untuk bisa jadi orang yang semakin tua nampak semakin 'yummy' hanya bisa dilakukan dengan skill - dan Charlize Theron adalah salah satu dari sedikit orang yang bisa melakukannya. Singkat kata: HOT MOMMA.

Eh kok jadi ngelantur sih... ya pokoknya film ini sangat gue rekomendasikan buat semua orang deh! Nonton gih, nonton...!




ReviewReviewthe happeningJun 15, '08 1:31 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Mystery & Suspense
Dari sekian banyak film karya M. Night Shyamalan, gue baru nonton tiga: Sixth Sense, The Sign, sama Unbreakable. Sama seperti kebanyakan orang, gue menganggap Sixth Sense adalah yang terbagus. Film ini jadi omongan banyak orang karena endingnya yang di luar dugaan penonton.

M. Night kayaknya mencoba mengulang kesuksesan kejutannya di Unbreakable, tapi film ini terlalu lamban menurut gue. Memang endingnya lumayan nggak ketebak, tapi proses menuju endingnya bikin ngantuk. Sedangkan di The Sign, kayaknya M. Night lagi kehabisan ide.

Sejak tiga film itu, gue nggak pernah lagi nonton filmnya M. Night. Bukan karena sentimen, tapi karena selalu nggak pas aja waktunya. Cuma gue selalu mengikuti resensinya di media, dan kalo denger kata orang sih kayaknya M. Night belum berhasil lagi bikin masterpiece sekualitas Sixth Sense.

Berbekal kepercayaan bahwa masih akan ada materi cerita bagus dari tangan M. Night, gue nonton The Happening.

Awalnya sih cukup menjanjikan ya. Film ini dibuka dengan adegan-adegan ngeri saat sebagian besar penduduk kota New York rame-rame bunuh diri. Seiring dengan perkembangan cerita, dijelaskan bahwa yang mempengaruhi mereka kemungkinan adalah sejenis neurotoksin yang dikeluarkan oleh tumbuhan. Jadi, film ini berusaha meyakinkan penonton bahwa tumbuhan nggak sepasif yang kita kira. Mereka bisa merasa kalo dirinya terancam bahaya, dan kalo dalam keadaan terancam mereka bisa melakukan tindakan bela diri (jangan ketawa, udah nurut aja apa kata M. Night).

Nah, yang bikin orang-orang bertindak gila dengan bunuh diri adalah sejenis racun yang disebarkan ke udara oleh para tanaman. Kalo racun itu terhirup, maka ada sebagian neurotransmitter di sel syaraf (jadi inget mata kuliah Psikologi Faal) yang terhambat sehingga orang kehilangan insting untuk mempertahankan hidup. Dengan kata lain, memilih untuk bunuh diri.

Film ini berkembang makin mencekam karena tiap beberapa menit sekali di layar muncul adegan orang bunuh diri dengan aneka cara yang tragis. Harapan gue juga semakin besar karena gue sendiri nggak kebayang ending macam apa yang mungkin disodorkan M. Night dengan perkembangan cerita kaya gini.

Dan akhirnya... Ya Tuhan, salah satu ending terjelek yang pernah gue tonton. Untuk bikin ending kaya gini mah nggak usah M. Night yang jadi sutradara, Koya Pagayo juga udah cukup. Gue yang tadinya udah siap-siap mau kasih bintang 5 jadi memutuskan untuk men-discount 60%.

Buat M. Night, mungkin memang sulit menandingi karya sebagus Sixth Sense, tapi mbok ya jangan separah ini amat dong boss. Ayo coba lagi... kamu pasti bisa!

gambar gue pinjem dari situs 21cineplex.com


ReviewReviewReviewReviewThe Tarix JabrixMay 4, '08 11:37 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Nonton film ini serasa nonton rekaman video handycam sekumpulan anak iseng yang bertingkah aneh. Bukan karena sengaja kepingin sok aneh, tapi karena memang begitulah adanya mereka - cuma kebetulan aja kontras dengan situasi yang melingkupinya.

Ceritanya tentang seorang remaja Bandung biasa-biasa aja bernama Cacing alias Caca Sutarya yang tiba-tiba ingin tampil lebih keren dengan menjadi anggota geng motor. Belum-belum dia udah merasa konflik batin karena persyaratan untuk bergabung cukup berat, antara lain harus berani melanggar peraturan lalu lintas dan harus durhaka pada orang tua. Padahal, Cacing sangat menghormati ibunya dan takut dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang.

Ada tiga tes yang harus dijalani supaya lulus. Tes pertama: uji ketahanan dengan cara digebuki pria bertubuh kekar. Cacing yang kurus kering ini gagal. Tes ke dua, uji kekejaman dengan menjambret tas ibu-ibu di pinggir jalan. Lagi-lagi Cacing gagal karena ingat nasehat ibunya agar menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tas udah berhasil dijambret, eh dia balik lagi karena nggak tega ngeliat korbannya tergeletak di pinggir jalan. Tes ke tiga: uji keterampilan dengan cara mengendarai motor tanpa lampu dan tanpa rem. Walaupun sudah baca bismillah berkali-kali, Cacing juga gagal karena menghindari anak kucing nyeberang jalan. Kesimpulannya, Cacing nggak lulus ujian masuk geng motor.

Sebagai gantinya, Cacing akhirnya bertekad mendirikan geng motor sendiri dengan mengajak 4 orang temannya - yang sebenernya bukan tipe 'anak motor' sama sekali. Dadang, misalnya, kedekatannya dengan dunia motor hanya karena bapaknya punya bengkel motor. Mulder, malah nggak punya motor sama sekali karena dilarang oleh Papa. Demi mengikuti ajakan Cacing, dia terpaksa minjem motor supirnya. Sedangkan si kembar Coki dan Ciko, punya motor tapi hanya satu yang bisa nyetir motor - jadi yang satunya cuma bisa ngebonceng. Cacing mendeklarasikan geng motornya sebagai geng motor yang patuh peraturan lalu lintas dan menghormati orang tua.

Selanjutnya, film ini bercerita tentang petualangan Cacing dan The Tarix Jabrix, geng motor ciptaannya melawan geng motor lain yang disinyalir terlibat narkoba. Sebagai bumbu, tak lupa dihadirkan unsur percintaan lewat sosok Calista, teman sekolah Cacing sekaligus adik pentolan geng motor rival The Tarix Jabrix.

Sebagai film, sebenernya "The Tarix Jabrix" (selanjutnya gue singkat TTJ) punya modal yang cukup untuk jadi populer. Dia mengangkat tema geng motor Bandung yang belakangan sempet jadi omongan tingkat nasional karena meresahkan masyarakat. Tapi entah kenapa gaungnya nggak terlalu kedengeran. Gue baru tau tentang keberadaan film ini sekitar akhir April - padahal dia udah diluncurkan sejak 2 minggu sebelumnya. Mungkin dana promosinya kurang gede kali ya? Atau poster filmnya yang kurang menarik? Coba aja liat, selintas orang mungkin nggak nangkep judul film ini karena judul film ditulis dengan font yang terlalu kurus dan warna yang kurang kontras dengan background. Mungkin lho...

Padahal, gue yakin tema-tema alternatif seperti TTJ banyak ditunggu oleh penonton seperti gue, yang udah nyaris muntah liat rombongan film bertema horror belakangan ini. TTJ sukses membangun komedi situasi, di mana kelucuan dibangun dari kontras sifat para tokoh dengan situasi sekitar. Sifat Cacing yang hormat pada orang tua, misalnya, kontras dengan kehidupan geng motor yang 'keras'. Juga fakta konyol bahwa kok ya ada sih, anggota geng motor nggak bisa nyetir motor seperti si kembar Coki dan Ciko... Buat "orang Bandung" yang paham dengan idiom-idiom khas Bandung juga akan menemukan banyak dialog yang "Bandung tea", bertebaran mencuri senyum di sepanjang film.

Sedangkan kelemahan film ini adalah kurang faktor cerita yang berpotensi bikin penonton penasaran dengan akhir filmnya. Adegan demi adegan lucu mengalir, tapi di sekitar pertengahan film gue mulai bertanya-tanya ceritanya mau dikembangin ke arah mana. Mungkin kalo konflik dengan geng motor rival dimulai lebih awal bisa memancing rasa penasaran penonton.

Adegan Cacing naik motor dengan gaya bodor muncul terlalu sering. Awalnya lucu tapi pas ke sekian kalinya mulai rada garing. Ceramah Cacing tentang cita-cita membangun geng motor teladan juga terasa rada berlebihan karena diulang-ulang di beberapa adegan.

Tapi terlepas dari kekurangannya, gue suka banget dengan TTJ. Para aktor pendukung seperti Joe Project P dan cameo sang produser sekaligus "supervising director" (emang lazim ya, jabatan kaya gini di dunia perfilman internasional? baru denger gue) berhasil mencuri perhatian. Dan yang lebih penting; gue salut dengan keberanian film ini tampil di tengah arus besar film horror bodoh dan film percintaan basi.

Buat yang tertarik nonton, buruan! Minggu ini TTJ udah mulai terdesak ke bioskop kelas B dan C. Gue nggak yakin TTJ bisa bertahan lebih dari 2 minggu lagi di layar jaringan 21.


ReviewReviewReviewReviewIron ManMay 1, '08 1:33 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
Akhirnya... setelah trilogi Spiderman, muncul lagi sebuah film berbasis komik yang sukses mengangkat sisi manusiawi karakter pahlawan super.

Alkisah hiduplah Tony Stark (Robert Downey Jr.) seorang pengusaha yang kaya raya dari perdagangan senjata. Digambarkan tokoh Tony Stark ini sebagai sosok flamboyan yang doyan pesta-pesta, main cewek, pokoknya hidup sesuka hati deh. Tapi semuanya berubah waktu dia disandera sama sekelompok teroris. Di situ dia ngeliat langsung betapa berbahayanya senjata-senjata yang dia jual selama ini kalo sampe jatuh ke tangan orang yang salah.

Berkat keahliannya merakit senjata dari peralatan sekedarnya, Tony berhasil meloloskan diri dan insyaf nggak mau jualan senjata lagi. Sebagai gantinya dia memilih jadi pahlawan super bernama Iron Man.

Plotnya utamanya memang sederhana, tapi film ini jadi tontonan yang enak diliat berkat kejelian para penulis skripnya menambahkan elemen-elemen lain ke dalam cerita: ada unsur politik bisnis, bumbu cinta-cintaan dikit, dan nggak lupa sisipan humor dalam porsi yang pas.

Robert Downey Jr. membuktikan bahwa sekalipun terkenal tukang bikin onar di Hollywood sampe bolak-balik keluar masuk penjara, dia juga seorang aktor berbakat. Pernah jadi nominator Oscar di film "Chaplin" dan pernah menang Emmy Award waktu bantuin film "Ally MacBeal", Bobby bikin karakter Tony Stark jadi lebih bernyawa. Dari Tony yang playboy cunihin di awal film bermetamorfosa jadi Tony yang lebih peduli sesama - walaupun tetap narsis. Gwyneth Paltrow berperan sebagai personal assistant-nya Tony, Pepper Potts. Walaupun gue nggak ngefans sama Gwyneth, tapi di film ini dia berhasil membuat penonton (baca: gue dan seseorang yang duduk di sebelah kanan gue, yang sering ngintil kemanapun gue pergi) jatuh hati pada karakter Pepper - mbak-mbak karyawan yang giat bekerja dan nggak banyak cingcong. Jeff Bridges... ya ampun, gue sampe nggak ngenalin dengan kepala botak dan jenggot papa smurfnya itu. Dia juga bermain bagus sebagai seseorang yang jeli memainkan kartu truf di kancah peperangan bisnis.

Tapi satu yang menurut gue paling pantes dapet acungan jempol banyak dari film ini adalah desain produksinya. Kostum Iron Man yang serba canggih itu keliatannya meyakinkan banget sehingga gue nggak ragu sedikitpun bahwa benda itu betulan bisa terbang. Proses perancangan, mekanisme gerakan, sampe desain H.U.D. (head up display - monitor yang muncul di depan muka si pemakai kostum) ditampilkan detil banget... keren! Nggak heran karena urusan special effect dipegang sama tim ILM - miliknya juragan George Lucas pencipta Star Wars.

Walaupun secara keseluruhan film ini bagus, tetep sih ada beberapa pertanyaan bawel dari gue yaitu:

***AWAS SPOILER***
  1. Waktu disandera, Tony luka parah karena ada beberapa pecahan bom nancep di dadanya. Untuk mencegah pecahan bom itu terbawa aliran darah sampe ke jantung, seorang tawanan lain mengobati Tony dengan memasang sebuah elektro-magnet di dadanya. Pertanyaan gue; emang bisa ya, ngebolongin dada orang untuk masang benda sebesar itu tanpa motong tulang rusuk? Trus kok nggak infeksi, padahal peralatan medisnya serba sederhana?
  2. Elektro-magnetnya kan untuk mencegah biar potongan bom nggak kebawa ke jantung. Trus, kenapa setelah Tony kembali ke peradaban nggak buru-buru minta dikeluarin lewat operasi? Kenapa betah amat make alat itu terus?
  3. Kalo fungsi alat itu sekedar untuk mencegah potongan bom masuk ke jantung, kenapa setiap kali dilepas tony langsung loyo seperti Superman ketemu Kryptonite? Padahal sesuai penjelasan Yinsen, orang yang mengoperasi Tony, prosesnya butuh waktu relatif lama, yaitu beberapa hari. 
Kesimpulan akhir, terlepas dari beberapa pertanyaan mengganggu tentang peran si elektro-magnet di dada Tony, ini film yang bagus dalam arti bukan sekedar ngasih tontonan kecanggihan special effect tapi juga punya jalan cerita yang bagus. Walaupun begitu, buat para orang tua gue sarankan jangan ngajak anak-anak yang terlalu kecil karena adegan kekerasannya cukup intens.

Foto gue pinjem dari halaman tentang Iron Man di IMDB


Blog Entryhow low will you go?Mar 23, '08 12:13 PM
for everyone
Memang... kita nggak boleh menilai sebuah buku hanya dari sampulnya,
atau sebuah film dari judulnya... atau dari posternya...

tapi rasanya sih sulit ngebayangin, kualitas kaya apa yang bisa diharapkan dari film berjudul

SKANDAL CINTA BABI NGEPET:
DEMI CINTA AKU TERPAKSA JADI BUDAK SETAN

Abis ini kira-kira muncul film apa ya?

..."DESAH GELISAH KUNTILANAK BISPAK: biar bau menyan asal prima di pelayanan"...?
..."AKU DIHAMILI POCONG BENCONG: kutunggu tanggung jawab cintamu"...?
..."GEJOLAK ASMARA SUNDEL BOLONG VS. PREDATOR: biar sangar asal barang impor"...?

(Mudah-mudahan penilaian gue salah... buat yang udah nonton cerita-cerita ya, filmnya kaya apa... gue kayaknya nggak kuat deh nonton film ini.)

ReviewReviewReviewayat-ayat cintaMar 4, '08 1:48 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
Sebelumnya perlu gue informasikan dulu bahwa gue belum baca novel "ayat-ayat cinta", jadi review ini murni penilaian gue atas filmnya tanpa membandingkan dengan bukunya.

WARNING: MILD SPOILER AHEAD

Alkisah hiduplah Fahri, seorang mahasiswa Indonesia yang lagi kuliah pasca sarjana di Universitas Al Azhar Mesir. Fahri ini ganteng, baik hati, rajin sholat, sopan santun, gemar menolong dan tidak sombong. Pendeknya, tinggal tambahin mobil BMW sama rumah mewah, jadilah dia si Boy.

Saking kharismatiknya si Fahri ini, sampe aneka jenis cewe dari seantero Mesir lintang pukang naksir sama dia. Mulai dari Maria - tetangganya, Nurul - temen kuliahnya, Aisha - kenalan di kereta api, sampe Noura - korban bayi ketuker di RS.

Saking banyaknya yang naksir, tentunya Fahri menjadi bingung. Tapi akhirnya, dia mengambil langkah yang bijaksana namun realistis, yaitu mengawini cewe yang paling kaya. Sebagai akibatnya, 1 cewe stress sampe sekarat, 1 cewe nekad minta dipoligami, dan 1 cewe kalap lapor polisi. Akhirnya, Fahri masuk penjara karena fitnah.

Secara umum, film ini lumayan 'menyegarkan' karena settingnya yang nggak umum - yaitu kehidupan para mahasiswa Indonesia di Mesir, dan latar belakang tokoh2nya yang sangat Islami. Tapi sayangnya, berbagai kendala yang menghambat proses pengambilan gambarnya ternyata kebawa juga sampe ke layar. Setting Mesirnya nampak kurang meyakinkan, sehingga tema utama yang seharusnya 'eksotis' ini jadi rada kurang greget.

Walaupun nggak ada yang menonjol banget, para pemainnya bekerja dengan lumayan 'mulus'. Cuma satu yang gue rasa cukup mengganggu yaitu pemilihan Surya Saputra sebagai pamannya Aisha. Ngeliat dia muncul di layar dengan tampang yang 'Surya Saputra banget' tapi ditempeli jenggot dan gamis malah bikin geli. Dandanannya malah mirip dandanan bintang tamu di Extravaganza, tau nggak sih. Waktu gue nonton di bioskop Setiabudi 21, tiap kali Surya muncul penonton pada ketawa. Bikin mood romantis jadi nge-drop banget.

Walaupun belum baca bukunya, tapi nonton paruh pertama film ini memang terasa banget dia 'kejar setoran' ingin memampatkan sekian ratus halaman novel ke dalam beberapa belas menit jam tayang film. Adegan-adegan berganti-ganti dan walaupun nggak sampe memusingkan tapi lumayan bikin nggak nyaman aja. Rasanya kaya lagi ngunyah tahu goreng trus dijejelin kue cubit, klepon, dan emping melinjo. Sisi baiknya, gue jadi nggak ngantuk - walaupun sebelumnya gue nggak terlalu tertarik sama film ini, orang niatnya sekedar nemenin Ida doang kok.

Begitu masuk paruh ke dua, saat Fahri mulai masuk penjara, nah mulai deh waktunya tidur-tidur ayam. Alurnya jadi terasa lambaaat banget, dan mulailah muncul kebiasaan buruk para pembuat film Indonesia: ceramah. Teman satu selnya Fahri mendadak jadi filsuf yang ngoceh aneka petuah-petuah bla-bla-bla. Segi bagusnya, di bagian ini muncul tokoh pengacara dari Indonesia yang diperbantukan untuk membebaskan Fahri. Sepanjang proses persidangan dia cuma mengajukan 1 usulan bodoh yang langsung ditolak oleh hakim, dan matanya nampak berbinar setuju saat pihak keluarga mulai putus asa dan timbul ide menyuap hakim. Lho, apa bagusnya? Bagus, karena ini gambaran yang sesuai dengan kenyataannya. Ups.

Singkat cerita, Fahri berhasil lolos dari hukuman. Dia disambut meriah oleh temen-temennya. Semua senang. Saat yang baik untuk menamatkan film. Tapi rupanya waktu mas sutradara beli rol film lagi ada promo "buy 1 get 1", jadi rol filmnya masih kelebihan. Sayang kalo nggak dipake. Maka mas sutradara memutuskan untuk melanjutkan film dengan menceritakan kehidupan Fahri selepas masa tahanan dengan 2 istri. Nah, mulai dari titik inilah film terasa makin ke belakang makin sinetron banget, dengan cucuran air mata setiap 3 menit sekali. Malesin banget.

Kesimpulan:

Plus points: setting dan tema cerita unik, theme songnya enak, para pemainnya enak diliat, dan paruh pertama nggak ngebosenin untuk ditonton orang yang kurang niat seperti gue.

Minus points: Surya Saputra, pemilihan titik ending yang kurang pas, kegagalan menahan nafsu ceramah, paruh terakhir yang sinetron banget, Surya Saputra (iya memang dua kali soalnya kemunculannya gangguuu... banget).

Penilaian akhir: 3 bintang - bukan film yang buaguuus banget, tapi OK lah.


ReviewReviewReviewReviewReviewThe Heartbreak KidDec 9, '07 12:25 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Sebenernya gue nggak terlalu berharap banyak pada film ini. Gue nggak nge-fans amat sama Ben Stiller, dan kalo diliat dari trailernya - kayaknya udah ketebak ceritanya akan gimana. Eh, ternyata perkiraan gue salah. Tapi gue nggak merekomendasikan film ini bagi para jomblo.

Ringkasan:

Eddie (Ben Stiller) adalah seorang pemilik toko alat olah raga yang masih aja ngejomblo di usia yang lumayan telat. Yang selalu jadi kekuatirannya adalah, bagaimana caranya bisa yakin bahwa dia nggak akan salah pilih. Bagaimana caranya bisa yakin bahwa orang yang dikawininya nanti adalah orang yang terbaik, dan nggak ada orang lain yang lebih baik.

Gara-gara sebuah insiden penjambretan, Eddie kenalan dengan Lila (Malin Akerman) - seorang cewek yang cantik dan 'nampaknya' sempurna. Eddie akhirnya memutuskan untuk mengawini Lila, mengajaknya bulan madu ke Cabo, Mexico, dan di sana kekuatirannya terbukti. Lila ternyata orang yang sangat ajaib dan menjengkelkan.

Di resort tempat mereka berbulan madu, Eddie kenalan dengan Miranda (Michelle Monaghan) yang lagi liburan bareng keluarga besarnya. Eddie naksir Miranda, dan gayung bersambut - sampe akhirnya Eddie memutuskan akan menceraikan Lila.

Komentar gue:

Yang menarik dari film ini adalah, alur ceritanya dibangun dengan latar belakang yang kuat. Kenapa tokoh Eddie yang tadinya takut kawin bisa 'berani' mengawini orang yang baru dia kenal selama 6 minggu, kenapa Miranda bisa nggak tau bahwa Eddie udah beristri, dan kenapa Lila bisa nggak tau Eddie pacaran lagi sama orang lain di tengah bulan madu mereka - semua dikasih latar belakang yang menurut gue cukup logis.

Selain itu, yang juga gue suka dari film ini adalah: semua tokohnya adalah 'manusia biasa'. Nggak tokoh yang dipaksakan jadi super bego, super culas, atau super gila untuk memancing tawa penonton. Semuanya adalah sosok-sosok yang biasa aja, yang mungkin kita temui dalam kehidupan nyata. Keadaan lah yang bkin mereka terlibat dalam situasi yang menggelikan - sebagaimana layaknya sebuah sitcom.
Lagipula, memang adegan2 dalam film ini nggak seluruhnya dirancang untuk memancing penonton ketawa, kok. Yang ada malah pentonton diajak ikutan introspeksi, bila mereka berada dalam situasi yang sama, apa yang akan mereka lakukan?

Catatan khusus buat Malin Akerman yang dengan sukses berubah drastis dari cewek menggiurkan di awal film, jadi makhluk menjijikkan di tengah film. Mudah-mudahan setelah ini dia dapet peran-peran yang lebih menjanjikan.

Yang terakhir, film ini gue suka karena sampe adegan terakhir gue nggak bisa nebak akan gimana endingnya. Bahkan sampe beberapa detik menjelang film selesai, masih ada satu kejutan lagi buat penonton.

Memang tetep ada beberapa adegan yang sedikit dilebih-lebihkan, tapi secara umum ini film yang memuaskan gue - baik secara emosional maupun rasional , sehingga dia layak dapet 5 bintang. Film yang sangat gue rekomendasikan untuk ditonton untuk semua orang, kecuali ya itu tadi... bagi para jomblo!

**sayangnya, di IMDB.com dia cuma dapet skor 5.8 dari skala 10.


ReviewReviewquickie expressNov 23, '07 3:37 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy

"Sebutkan 10 nama yang hadir disini berawalan 'Y'!"
"Yanti, yayuk, yuli...siapa lagi ya..udah abis tuh"
"Ya ada tutik, ya ada nanik, ya ada imron,ya ada joni, ya ada kamu...ha...ha...ha"



Barusan itu adalah sebuah joke - yang enggak lucu.

Kenapa nggak lucu?

Karena dari awalnya udah ketebak akan gimana akhirnya. Umumnya lelucon yang dinilai lucu adalah yang menyimpan kejutan. Kalo kejutan itu udah ketebak dari awal, leluconnya jadi nggak lucu.

Problem yang sama dialami oleh film "Quickie Express"

Film ini menceritakan pengalaman tiga orang gigolo: Jojo (Tora S), Marley (Aming) dan Piktor (Lukman S). Mereka bergabung di sebuah 'perusahaan jasa' gigolo yang menyamar jadi restoran pizza.

Sebelum jadi gigolo, Jojo sempet kerja jadi petugas cleaning service. Di hari pertama kerja Jojo dikasih pengarahan oleh bossnya "ingat ya, kalo ngepel, obat pel-nya cukup satu takaran saja, sebab kalo lebih dari satu maka lantai akan jadi licin."

Pengarahan itu diulang-ulang oleh si boss, yang lantas meninggalkan Jojo kerja sendiri. Maka adegan selanjutnya adalah.... (pastinya bisa nebak dong).

Tempat kerja Jojo adalah sebuah supermarket yang sedang menggelar program diskon 70%. Calon pembeli udah ngantri di luar toko, nggak sabar ingin borong, tapi pintu toko masih terkunci. Jojo ngepel toko, lantas membuka pintu. Calon pembeli menyerbu masuk. Maka adegan selanjutnya adalah.... (pastinya bisa nebak dong).

Singkat cerita, setelah beralih profesi beberapa kali, akhirnya Jojo terbujuk untuk kerja sebagai gigolo. Tapi... yah begitulah, adegan demi adegan yang sepertinya sih diniatkan untuk mengundang tawa, berlalu tanpa kesan karena udah pada ketebak duluan arahnya. Bahkan kemunculan Roy Tobing* sebagai 'trainer' para calon gigolo terjebak dalam lelucon paling basi dalam perfilman Indonesia yaitu: bertingkah kebanci-bancian. Apa dikiranya penonton belum bosen ya, ngetawain banci? Gue sih udah loh. Kita cari obyek ketawaan yang lain aja yuk, wahai para pembuat film Indonesia...

Kondisi jalan cerita yang serba ketebak masih bertahan terus sampai Jojo cs mulai menjalankan profesinya sebagai gigolo. Masing-masing ketemu klien yang aneh-aneh, mengingatkan para film Deuce Bigalow: Male Gigolo. Klien-nya Jojo, misalnya. Wanita cantik bersuara berat. Mereka janjian ketemu di sebuah restoran. Baru ngobrol sebentar, si klien permisi ke kamar mandi. Saat si klien pergi, pelayan mendekati Jojo, berusaha ngasih tau bahwa si wanita tersebut sebenarnya adalah...(pastinya bisa nebak dong).

Karena sebuah insiden di bar, Jojo kenalan dengan cewek bernama Lila (diperankan pendatang baru Sandra Dewi) trus naksir trus pacaran. Di saat yang bersamaan, Jojo punya klien bernama tante Mona (Ira Maya Sopha). Pada suatu hari, Lila mengundang Jojo ke rumahnya untuk dikenalkan dengan orang tuanya. Ternyata orang tua Lila adalah... (pastinya bisa nebak dong).

Marley beli 40 ekor ikan yang kata penjualnya sih ikan Lohan tapi tampangnya sama sekali nggak mirip ikan Lohan. Ternyata ikan-ikan itu sebenarnya adalah.... (pastinya bisa nebak dong). Dan karena nggak tau, Marley mandi di bathtub bareng seekor ikannya dan akhirnya digigit di bagian...(pastinya bisa nebak dong).

Begitulah, joke - joke basi gantian muncul di layar, selang - seling dengan joke 'dewasa' (baca: cabul) seputar alat kelamin. Kondisi diperparah ketika menjelang akhir, sekonyong-konyong ceritanya ingin 'berbobot' dengan konflik-konflik yang kurang penting dan maksa abis.

Kalo diliat dari riwayat karirnya, sutradara Dimas Djayadiningrat masih belum bisa lepas dari kegemarannya mengutak-atik gambar sehingga terlihat artistik tapi kelupaan ngurus cerita sehingga ngambang - seperti yang dia lakukan pada Tusuk Jelangkung. Mungkin sebaiknya dia fokus aja deh bikin video klip seperti dulu.

Tora dan Aming berakting persis seperti penampilan mereka di Extravaganza. Abis mau gimana lagi, ceritanya aja garing gini. Bahkan Lukman Sardi yang biasanya berakting cemerlang di sini nampak janggal dengan kegagapannya melafalkan huruf 'p' dan 'f/v' yang terlihat sangat nggak natural banget deh. Sedangkan si pendatang baru Sandra Dewi itu nggak memberikan andil yang berarti terhadap jalan cerita kecuali dalam bentuk tampil mulus berkilauan dan mengucapkan dialog2 yang 'cewek banget' dalam suara tikus** yang bikin para penonton pria ingin punya nomer HPnya, seperti "Yah... kita nggak jadi ketemuan ya... sedih deh..."

Untungnya masih ada Ira Maya Sopha yang tampil meyakinkan sebagai tante-tante horny, juga Tio Pakusadewo yang bikin gue pangling dalam wig ajaibnya sebagai Mateo. Kedua orang ini membuat gue ikhlas memberikan dua bintang, setelah nyaris ngasih satu. Oh iyam nilai plus juga buat gambarnya yang artistik dan penggarapan settingnya yang serius banget.



*itu lho... yang duluuuu sempet ngetop dengan senam 'Body Langugage'-nya
**maksudnya suara halus dengan trebel tinggi - banyak desahannya, gitu deh.


ReviewReviewReviewReviewGet MarriedNov 18, '07 11:29 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy

"Get Married" membuktikan bahwa film bisa menyampaikan pesan bagus tanpa harus jadi sok tau, dan bisa menghibur tanpa harus jadi tolol. Ceritanya sederhana banget: tentang upaya tokoh Mae alias Maemun yang diperankan Nirina mencari jodoh. Yang bikin seru adalah kondisi di mana tokoh Mae ini digambarkan sebagai cewe tomboi yang setiap hari kerjanya main gaple di pinggir kali, bersama 3 orang teman cowoknya (Desta, Agus Ringgo, dan Aming) yang diam-diam nggak rela ditinggal kawin oleh Mae.

Kedua orang tua Mae (Jaja Miharja dan Meriam Bellina) mengupayakan segala cara untuk nyari calon mantu ideal, tapi satu per satu 'diusir' oleh Mae. Caranya adalah, kalo Mae merasa kurang berkenan dengan pria yang menemuinya, dia akan ngasih kode berupa kibaran kain merah kepada 3 orang teman cowoknya itu. Berdasarkan kode itu, nanti mereka bertiga akan 'membujuk' si pria agar jangan pernah mampir ke kampung mereka lagi.

Komplikasi terjadi ketika Mae akhirnya menemukan calon yang diminati, tapi Aming yang buta warna salah mengartikan kode kibaran kain Mae sehingga pria idaman itu pun ikut-ikutan kena 'bujuk' sampai babak belur. Mae patah hati, ibunya juga jatuh sakit karena stress memikirkan putrinya nggak kawin-kawin, dan ketiga temannya merasa harus bertanggung jawab menyelesaikan urusan salah paham ini.

Hasilnya adalah adegan puncak yang kacau-balau...

Yang gue suka dari film ini adalah: dari tema yang begitu 'ringan', dia menyajikan potret nyata masyarakat sekarang dan ngajak penonton untuk ngetawain ulah mereka sendiri. Mulai dari beratnya tekanan sosial bagi para cewek - dan orang tuanya - untuk cepat kawin, ironisnya kebiasaan pergi ke dukun yang dilakoni oleh kaum berduit dan berpendidikan, serta masalah pengangguran yang bikin orang cepat naik darah. Sindiran terhadap masyarakat modern yang terbiasa menyelesaikan masalah dengan kekerasan juga digambarkan secara unik dengan kilasan-kilasan gambar manusia prasejarah yang menenteng gada.

Nirina lagi-lagi membuktikan bakatnya berakting, dan untuk cewek se-imut dia, kok ya mau-maunya tampil acak-acakan dengan coreng-moreng bedak dan lipstik di muka akibat kalah main gaple. Salut!

Aming juga lumayan berhasil keluar dari stereotipe perannya di Extravaganza, walaupun di banyak kesempatan gue nggak bisa denger dialognya saking cepetnya dia ngomong. Untuk di film selanjutnya kayaknya Aming mesti belajar teknik pelafalan dialog yang lebih jelas deh.

Agus Ringgo... yah, sebenernya sih aktingnya oke-oke aja, tapi jujur gue mulai bosen deh liat tampang dia muncul di mana-mana. Coba aja itung berapa iklan yang dia bintangi, plus film, plus sinetron, plus acara talk-shownya yang garing itu (masih tayang nggak sih acara itu?). Waktu pertama kali liat dia muncul di film Jomblo sih lucu ya, tapi sekarang kalo liat dia dengan gaya khasnya memonyong-monyongkan bibir itu rasanya pingin... AAAARRGGGHHHH!!!

Cameo yang perlu dicatat dalam film ini adalah si pemeran Rahmat di serial Jomblo yang hobinya ngomong 'daripada' itu... huhuhu... lucu banget!

Akhir kata, 4 bintang dari gue. Lima bintang gue kasih seandainya nggak ada Agus Ringgo.



ReviewReviewReviewReviewBeowulfNov 16, '07 1:01 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy
"suami, kita mau nonton apa sih?"
"beowulf"
"apa - wolf?"
"beowulf"
"itu film apa?"
"film beowulf"
"maksudnya, filmnya tentang apa, gituuu..."
"pokoknya ada panah-panahan, pedang-pedangan, trus ada naganya juga deh. Kayaknya seru"
"trus ceritanya gimana?"
"nggak tau"


Kurang lebih sebegitulah referensi yang gue punya saat memutuskan nonton film ini: cuma liat trailernya yang kayaknya seru, banyak orang saling bunuh-bunuhan, dan ada monsternya. MY kind of movie.

Begitu film mulai... hmmm... kok orang-orangnya nampak agak aneh, ya? Apanya sih yang aneh? Setelah film berjalan beberapa menit baru ngeh.... YA ALLAH, TERNYATA INI FILM ANIMASI!

Gambar animasi paling realistis yang pernah gue tonton sebelumnya adalah Final Fantasy (2001), dan ternyata Beowulf mampu menyuguhkan gambar yang lebih realistis lagi sampe gue nyaris ketipu. Tapi untuk sementara para aktor belum perlu takut kehilangan pekerjaan karena tetep aja keliatan kok animasinya. Kata seorang temen yang pakar animasi, saat berinteraksi dengan manusia betulan sebenernya kita menangkap ribuan detil kecil yang nggak kita sadari seperti gerakan mata, atau gerakan otot dan kulit. Nah, detil2 kecil ini yang kadang kelewat saat pembuatan film animasi - bisa jadi karena kelalaian pembuatnya, atau bisa juga karena keterbatasan waktu dan biaya. Makanya kita masih bisa membedakan mana gambar animasi dan mana yang orang betulan. Itu kata temen gue lho...

Ringkasan cerita

Ada sebuah kerajaan yang hidup menderita karena setiap kali bikin pesta, mereka diganggu monster raksasa berwujud aneh. Ini sebenernya masalah perbedaan perspektif aja sih, karena dari sudut pandang si monster justru kerajaan itulah yang berisik mengganggu tidurnya. Pesan moralnya, dalam hidup bermasyarakat kita harus menjunjung tinggi toleransi dan "tepo seliro".

Lanjut.

Putus asa dirongrong monster, rajanya membuat sayembara: bagi siapapun yang mampu membunuh Grendel, si monster usil, akan dihadiahi setengah harta kerajaan. Maka datanglah ksatria Beowulf dari tanah seberang, membawa pasukan kecilnya yang berjumlah 14 orang, untuk menjawab tantangan. Singkat cerita, Beowulf dengan tangan kosong - tanpa senjata apapun - bahkan tanpa baju dan celana, mampu mengalahkan Grendel. Ini sebenarnya salah Grendel sendiri yang kurang kreatif saat bertarung. Daripada capek-capek memukul, menendang dan membanting yang hanya berbuah kekalahan, seharusnya dia cukup menyentil bagian "tertentu" dari Beowulf yang lagi telanjang bulat itu, dijamin pasti menang. Untungnya ini film epik, bukan film warkop, jadi adegan sentil-menyentil dirasa kurang 'klop' dengan tema cerita secara keseluruhan.

Lanjut.

"Underneath your glamour, you are as much a monster as my son, Grendel"
Grendel's mother to Beowulf
Biarpun Grendel adalah monster, dia punya ibu juga. Ibu mana sih yang rela anaknya dibunuh orang? Maka ibunya Grendel beralih wujud jadi naga raksasa dan mengacak-acak rumah penduduk. Raja pusing lagi, dan kembali minta Beowulf untuk sekalian menyelesaikan ibunya Grendel 'secara adat'. Beowulf berangkat mendatangi sarang monster, tapi sesampainya di sana dia bukannya berantem malah ternganga-nganga liat kecantikan ibunya Grendel. Gimana nggak nganga, kalau ibunya Grendel sedang berwujud Angelina Jolie bugil berkulit emas, yang saat muncul dari dalam air lapisan emasnya luntur dan hanya tersisa di 'bagian-bagian tertentu' yang kurang penting. Gue rasa Lembaga Sensor Film dibikin pusing sama film ini: serba salah, kalo disensor nanti penonton kehilangan alur cerita penting karena dialog jalan terus saat adegan bugil berlangsung. Mau nggak disensor, nanti banyak yang protes. Akhirnya mereka memilih untuk nggak menyensor sambil berharap semoga nggak ada orang iseng yang nulis review tentang kebugilan film ini di blog. Jadi saran gue sih, buat yang berniat nonton film ini, buruan deh nonton sekarang juga sebelum ditarik dari peredaran gara2 diprotes FPI.

Lanjut.

Ibunya Grendel menawarkan perjanjian kerja sama dengan Beowulf, yaitu apabila Beowulf bersedia untuk :
(1.) menyerahkan piala wasiat kerajaan, dan...
(2.) menitipkan benih anak di rahimnya (sebagai ganti anak yang telah dibunuh Beowulf)
...maka dia akan membuat Beowulf dibanjiri harta dan kekuasaan, langgeng menduduki tahta raja. Atau dengan kata lain, film ini bisa dijuduli "PINTU HIDAYAH: DERITA DUNIA AKIBAT TERJERAT PESUGIHAN".

Lanjut.

Alur waktu bergeser beberapa puluh tahun ke depan. Beowulf udah mapan menduduki tahta raja dan dielu-elukan orang sebagai pahlawan, ketika pada suatu hari ada seorang gembel iseng ngorek-ngorek rawa dan nemu piala wasiat yang dulu diserahkan Beowulf kepada ibunya Grendel. Beowulf pucat pasi, karena bila piala itu telah kembali ke tangannya maka itu pertanda bahwa ibunya Grendel akan segera mengakhiri perjanjian kerja sama. Bener aja, nggak lama kemudian muncul seekor naga raksasa mengacak-acak rumah penduduk. Beowulf langsung mendatangi sarang naga untuk membuat perhitungan dengan ibunya Grendel.

Bagaimana kelanjutannya? Berhasilkah Beowulf mengalahkan naga dan menyelamatkan kerajaan? Saksikan saja di bioskop kesayangan Anda.

Komentar gue

Walaupun ceritanya relatif gampang ditebak, film ini adalah tontonan yang menghibur. Dengan sangat kupernya, setelah nonton gue baru tau bahwa cerita film ini berasal dari legenda lama, dan bukan kali pertama diangkat ke layar lebar.

Buat penggemar animasi komputer, silakan terkagum-kagum melihat kehalusan teknik animasi yang canggih. Penokohan Beowulf juga kuat. Dia memang pahlawan yang pemberani, ksatria, tapi dia juga kejam, narsis, dan serakah. Gak heran mengingat sutradaranya adalah Robert Zemeckis, sutradara kawakan yang pernah menggarap film dengan tema yang beraneka: mulai dari sci-fi seperti trilogi "Back to the Future", sampe thriller kaya "What Lies Beneath". Beowulf adalah film full animasi yang ke dua setelah "Polar Express", tapi duluuu... banget dia pernah juga bikin film campuran animasi dan live action berjudul "Who Framed Roger Rabbit". Sebagai teman yang baik, Zemeckis juga nggak lupa mengajak sobat lamanya Alan Silvestri, untuk menata musik di film ini. Hasilnya, jangan heran kalo lagu temanya yang keren itu masih terngiang-ngiang di kuping setelah filmnya selesai!

Buat para orang tua yang punya anak kecil, gue sarankan anaknya dititip dulu aja di rumah eyangnya kalo mau nonton film ini. Selain adegan bugil-bugilan yang lumayan eksplisit, adegan berantemnya juga sadis. Biarpun ini film animasi, tapi kalo gambarnya realistis gitu kan efeknya lumayan sangar juga. Beberapa menu kekerasan yang muncul antara lain: adegan perut orang ketancep tombak, tangan Grendel diputusin, dan badan orang terbelah dua.

Gambar gue pinjem dari official website film Beowulf.


ReviewReviewReviewReviewBatman: Dead EndOct 16, '07 1:35 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Ngomong-ngomong soal Batman Vs. Predator, ternyata ada lho fanfilm tentang Batman vs. Predator dan Alien!

Fanfilm adalah film 'amatir' (dalam konotasi 'tidak dibuat untuk tujuan komersial') yang dibuat para fans suatu tokoh / cerita. Tapi jangan salah, walaupun fanfilm umumnya dibuat secara rumahan dengan anggaran terbatas, nggak sedikit yang hasilnya keren.

Batman: Dead End (selanjutnya disingkat BDE) ini salah satu yang dapet banyak pujian. Nggak heran karena Sandy Collora, si pimpro-nya, punya pengalaman cukup banyak sebagai concept artist / creature fx crew / set designer. Di IMDB, BDE dapet skor 7.5 / 10 dari 1900-an orang, dan mengundang 102 komentar. Sebuah prestasi yang lumayan banget untuk ukuran sebuah film amatir berdurasi 8 menit 4 detik!

Film dibuka dengan adegan Batman ngejar Joker yang kabur dari penjara Arkham. Di sebuah gang sempit, Batman berhasil menyudutkan Joker. Tiba-tiba muncul Alien yang menyeret Joker ke atas gedung dan menyerang Batman. Nggak lama kemudian, muncul pula si Predator ikutan nimbrung.


Satu hal yang istimewa dari film ini adalah: walaupun dibuat dengan anggaran terbatas, BDE tetep mampu menampilkan special effect yang meyakinkan. Yah, okelah, buntut si Alien keliatan banget digantung pake tali, tapi selebihnya bagus kok. Bahkan di akhir cerita bermunculan beberapa Predator dengan variasi kostum yang lebih keren dari yang pernah muncul di film Predator 'asli'.

Filmnya bisa didownload gratis di sini. Kalo mau download, gue sarankan pake download manager soalnya ukuran medium-res-nya aja 48 MB. Atau boleh juga kapan-kapan mampir ke rumah gue bawa CD kosong :-))



ReviewReviewReviewReviewReviewRatatouilleAug 16, '07 5:03 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Animation

Film yang wajib tonton buat para kritikus / penulis review bidang apapun (film, musik, resto, semuanya deh).

Kenapa? Hmmm... baca aja dulu review ini ya!

Sejak pertama kali melihat trailer film ini tahun lalu, gue udah nggak sabar ingin nonton. Dari trailernya, film ini menjanjikan tema cerita yang beda dari film animasi (komputer) pada umumnya. Tema yang sering diangkat biasanya kan seputar 'sekumpulan tokoh berkelana menuju tempat yang jauh' - seperti yang bisa kita liat di film Ice Age 1 & 2, Madagascar, atau Happy Feet. Sedangkan Ratatouille ini dengan cueknya bercerita tentang seekor tikus yang mati-matian mewujudkan impian untuk menjadi koki. Lho?

 

Sinopsis


Alkisah, hiduplah seekor tikus bernama Remy yang bahagia di tengah koloni ratusan tikus bersama Django - ayahnya, dan Emile - adiknya. Pada suatu hari, Remy menyadari bahwa dia punya 'bakat' khusus  yaitu memiliki penciuman yang tajam plus selera makan yang tinggi. Dengan kata lain, dia nggak doyan makan sampah seperti lazimnya tikus. Dia ingin makan makanan yang segar dan berkualitas. Lebih lagi, dia ingin memasak makanan yang segar dan berkualitas alias ingin jadi koki.

Saking gemarnya Remy pada dunia masak - memasak, dia sampai bela-belain menyelundup ke rumah seorang nenek tua untuk numpang nonton acara masak di tv. Remy mengidolakan Gusteau, seorang koki selebriti yang sering dilihatnya di acara tv.  Pada suatu hari, akibat seubah insiden yang nggak disengaja, Remy merantau ke kota dan terdampar tepat di bawah restoran bintang lima milik Gusteau. Gusteau-nya sendiri udah meninggal, dan restorannya sekarang dipimpin oleh seorang koki senior bernama Skinner.   

Pada saat yang kurang lebih bersamaan, restoran Guesteau baru merekrut seorang tukang pel bernama Linguini. Baruuu.... aja diterima kerja, belum-belum Linguini udah menumpahkan sepanci besar sup. Dia mencoba menutupi kesalahannya dengan membuat sup baru, tapi Remy yang mengamati dari tempat persembunyian tau bahwa tindakan Linguini justru akan membuat rasa sup menjadi rusak. Akhirnya Remy turun tangan dan membantu Linguini memasak sup - yang ternyata disukai oleh seluruh pengunjung resto. Sayangnya, Remy tertangkap basah oleh Skinner yang langsung menjatuhkan vonis hukuman mati. Skinner memerintahkan Linguini untuk membuang Remy ke kali.

Di pinggir kali, Linguini ragu-ragu karena nggak tega membuang Remy. Akhirnya dia malah berteman dengan si tikus, dan menjalin 'kontrak kerja' yang saling menguntungkan. Remy membantu menaikkan pamor Linguini dengan memasak makanan enak, dan Linguini akan membantu Remy mewujudkan cita-citanya untuk jadi koki. Yang kemudian mengancam hubungan tikus - manusia ini antara lain adalah Anton Ego, seorang kritikus resto yang dijuluki "The Grim Eater" karena terkenal dengan review2nya yang sadis dan mematikan.  

 

Komentar


Tadinya gue nggak berharap banyak dari perkembangan cerita film ini, karena (gue kira) tema besar ceritanya udah digelar semua di trailernya. Pokoknya ini film tentang tikus ajaib yang ingin jadi koki, titik. Gue nonton film ini karena ingin tau alasan kenapa si tikus sampe tertarik jadi koki, dan sedikit mengantisipasi adegan-adegan lucu yang mungkin terjadi saat si tikus sedang menjalankan tugas sebagai koki. Udah, gitu doang.

Tapi ternyata film ini jauh melebihi ekspektasi gue. 

Jawaban atas pertanyaan utama gue, 'kenapa si tikus ingin jadi koki' diolah jadi pesan yang dalam banget. Argumen keluarga tikus: "kenapa sih elu nggak bisa bersyukur dan hidup bahagia ditakdirkan sebagai tikus" vs argumen Remy "kenapa sih kita harus membatasi cita-cita hanya karena situasi dan kondisi" dikemas dengan cerdas. Diseling dengan pertanyaan-pertanyaan kritis Remy terhadap Django si ayah seperti,

"Kenapa sih kita ini harus hidup dengan mencuri makanan?"
"Kita nggak mencuri, karena yang kita makan adalah sampah - yaitu benda yang udah nggak dibutuhkan lagi"
"Kalau memang benda itu udah nggak dibutuhkan lagi, kenapa kita harus sembunyi-sembunyi waktu mengambilnya?"

Permasalahan terus berkembang saat kemudian Linguini meraih popularitas sebagai koki jagoan - padahal dia nggak bisa apa-apa karena selama ini yang menggerakkan tangannya adalah Remy si tikus. Ketika penghargaan dan pujian semuanya terarah buat Linguini, lantas siapa memanfaatkan siapa? Apakah Linguini yang memanfaatkan Remy untuk mencapai popularitas? Atau Remy yang telah menjadikan Linguini sekedar sebagai boneka, alat mencapai ambisi pribadi sebagai koki?

Anak-anak mungkin menikmati film ini dari segi kelucuan tokoh-tokoh kartunnya (catatan buat yang ngajak anak nonton film ini: awas, ada 2 adegan ciuman!), sedangkan para penonton dewasa akan diajak sedikit merenung tentang banyak hal mendasar tentang kehidupan. Tapi jangan salah, walaupun sarat pesan moral, bukan berati film ini lantas jadi berat buat dicerna.

Soal teknik animasi, udahlah, Pixar jaminan mutu. Animasi gerakan air yang konon paling sulit dilakukan, di film ini tampil mulus sampe nggak bisa dibedain dengan air betulan. Konon untuk menciptakan efek air menempel di baju basah, salah satu tim animator Pixar bela-belain betulan nyemplung ke kolam renang dengan berbaju lengkap - supaya efek kain basah yang menempel ke kulit bisa ditiru ke dalam film. Animasi gerakan tikusnya: mulai dari gerakan jalan, lari, gerakan moncong dan kuping - semuanya  realistis banget, dan lagi-lagi ini adalah hasil observasi atas perilaku tikus betulan plus masukan dari konsultan pakar tikus. Saking realistisnya, mungkin buat yang punya phobia pada tikus bisa sedikit 'merinding' menyaksikan adegan koloni tikus berlarian keluar dari persembunyian.

Terakhir, yang lumayan sukses menyentil gue - yang selama ini doyan nulis review dan kritik - adalah komentar tokoh kritikus Anton Ego di salah satu adegan:


In many ways, the work of a critic is easy. We risk very little yet enjoy a position over those who offer up their work and their selves to our judgment. We thrive on negative criticism, which is fun to write and to read. But the bitter truth we critics must face is that, in the grand scheme of things, the average piece of junk is more meaningful than our criticism designating it so.

Hmmm... memang iya, ngritik itu gampang, dan saat mengkritik mau nggak mau seorang kritikus akan memposisikan dirinya di atas orang yang dia kritik. Kritik itu menghibur pembaca, dan dalam beberapa kesempatan bisa dimanfaatkan sebagai penyaluran hasrat agresif sang kritikus untuk menjatuhkan orang lain.

Pertanyaannya: apa sih karya nyata yang telah disumbangkan para kritikus kepada dunia? Apa sih yang membuat seorang kritikus berhak merasa dirinya lebih baik dari orang yang dia kritik?    

Sebuah bahan introspeksi buat seluruh kritikus di luar sana (termasuk gue)... :-)

Referensi:



ReviewReviewReviewReviewSuperman II: The Richard Donner CutJul 24, '07 2:36 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Berdasarkan info dari Denny di posting gue yang ini, akhirnya gue berhasil nonton film Superman II: The Richard Donner Cut - FULL!! Thanks atas infonya ya Den!

Wah, nggak percuma deh komputer gue kerja lembur selama lebih dari 38 jam non-stop untuk mendownload film ini. Keren banget! Ada banyak adegan yang nggak ada di versi bioskopnya, dan runutan ceritanya juga lebih baik.

Mengingat film ini dibuat berbarengan dengan film Superman: The Movie, maka nggak heran kalo koneksi ceritanya sangat erat berkaitan. Film dibuka dengan beberapa adegan Jor-El mengirimkan 3 penjahat Krypton ke penjara kristal, disambung dengan beberapa cuplikan adegan dari film Superman: The Movie antara lain adegan Luthor meluncurkan 2 buah rudal dan aksi Superman membelokkan rudal2 itu ke angkasa luar. Rudal nyasar itu bertabrakan dengan penjara kristal dari Krypton, dan lepaslah 3 kriminal tadi.

Selain menarik karena menyuguhkan adegan-adegan baru, film ini juga memberikan penjelasan untuk beberapa 'lubang' di plot cerita Superman II versi bioskop, antara lain:

  • Proses Clark Kent kembali bisa jadi Superman setelah kehilangan kekuatannya. Di versi bioskop, cuma dikasih liat Clark jalan-jalan di padang es, nemu kristal hijau, trus tau2 aja udah jadi Superman lagi. Kalo di versi Donner ini, dikasih liat dialog antara Clark dan hologram Jor-El. Dalam dialog itu ada kata-kata yang di kemudian hari muncul di film Superman Returns, yaitu "the son becomes the father, the father becomes the son". Pantesan banyak kritikus yang bilang bahwa 'Superman Returns' adalah kelanjutan dari Superman II dan seharusnya Superman III dan IV nggak pernah ada.
  • Proses membuat Lois Lane melupakan identitas rahasisa Clark Kent. Di versi bioskop, cuma digambarkan keesokan harinya Lois mendadak lupa siapa Clark. Sedangkan di versi Donner, dijelaskan bahwa lagi-lagi Superman terbang mengelilingi bumi dan memutar balik waktu. Seluruh kerusakan yang pernah timbul akibat ulah 3 kriminal Krypton kembali utuh seperti semula, bahkan penjara kristal mereka nggak jadi bertabrakan dengan rudal. Semua orang lupa bahwa bumi pernah didatangi kriminal super dari Krypton. Tapi dengan penjelasan ini malah timbul lubang plot baru, yaitu: kalo memang semua orang lupa, kenapa supir truk dan pemilik diner masih ingat dengan Clark yang pernah digebukin waktu kehilangan kesuperannya?

Beberapa adegan yang hilang dari versi bioskopnya antara lain adegan Lois mencemplungkan diri ke sungai untuk membuktikan bahwa Clark adalah Superman. Di film ini, Lois dua kali mencoba melakukan pembuktian: yang pertama dengan loncat dari jendela gedung Daily Planet, dan yang ke dua dengan cara yang rada ekstrim: Clark ditembak pake pistol! Selain itu beberapa adegan konyol waktu pertempuran antara Superman vs. 3 kriminal Krypton di tengah kota seperti adegan orang yang tetep nelepon walaupun box teleponnya udah ketiup angin, dan adegan orang yang rambut palsunya copot dihilangkan. Salah satu komentar Donner terhadap Superman II versi Lester adalah, "dia memasukkan terlalu banyak unsur komedi di tempat yang tidak seharusnya".

Akhir kata, sama seperti warning gue di awal review yang ini, jangan dengerin review gue kalo filmnya film Superman. Gue udah terlalu bias! :-) Buat yang berminat ngopy film ini, silakan lho mampir2 ke rumah gue.

Foto-foto cuplikan adegan film ini bisa dilihat di album gue yang ini




Beberapa cuplikan adegan film "Superman II: The Richard Donner Cut" yang beda dengan Superman II versi Richard Lester.
Review lengkapnya ada di sini.

Udah pernah tau tentang keberadaan film Superman II: The Richard Donner Cut ?
   
Sensor internet di kantor gue makin lama makin ngeselin: tiap kali ngeklik sebuah link, ada 90% peluang akan kena sensor. Kadang yang disensor suka nggak masuk akal, seperti misalnya link menuju situs Himpsi Jaya (Himpunan Psikologi) - dengan alasan termasuk situs 'professional organization'. Memangnya kenapa sih, takut gue nyari kerjaan lain di luaran, ya?

Karena mau buka ini itu kena block melulu, akhirnya kalo lagi iseng di jam makan siang gue lebih banyak main-main di wikipedia. Awalnya cuma iseng aja, daripada nggak browsing sama sekali, tapi lama-lama gue ketagihan juga main di wiki. Yang bikin seru adalah, dengan nyasar-nyasar asal klik link yang ada di sana, kadang-kadang gue nemu informasi yang sama sekali baru.

Salah satunya adalah tentang keberadaan film yang berjudul Superman II: The Richard Donner Cut. Jadi ceritanya, waktu shooting film Superman the Movie tahun 1977 dulu, rupanya Richard Donner sang sutradara juga udah mulai mengambil gambar untuk sequelnya, Superman II. Jadi film Superman I dan II dishoot secara simultan.

Tapi karena ada berbagai perselisihan dengan sang empunya proyek yaitu Alexander dan Ilya Salkind, Donner meninggalkan proyek Superman II setelah 75% adegan selesai dishoot. Posisinya sebagai sutradara lantas digantikan oleh Richard Lester.

Tahun 2006, Donner mendapat kesempatan untuk meneruskan proyeknya yang tertunda dan merilisnya dalam bentuk DVD. Konon, 51% gambar yang muncul di film Superman II versi Richard Donner ini belum pernah disaksikan penonton sebelumnya, karena dulunya dibabat oleh Richard Lester di meja editing dengan berbagai alasan. Selain itu, Donner juga menambahkan beberapa computer generated special effects, agar filmnya bisa memuaskan ekspektasi penonton jaman sekarang yang tentunya udah lebih tinggi daripada penonton tahun 80-an. Walaupun bukan yang pertama kali terjadi dalam sejarah, tapi peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat jarang; di mana seorang sutradara kembali meneruskan film yang pernah digarapnya - bahkan udah pernah rilis di tangan sutradara yang berbeda.

Gue sendiri belum nonton film ini, tapi penasaran banget ingin liat kayak apa sih Superman II versi Donner ini. Seru kali ya? Kalo ada yang punya info di mana gue bisa beli DVDnya, kabar2in ya!

Update: Hore! Udah berhasil nonton film ini. Reviewnya bisa diklik di sini;. Cuplikan adegannya bisa dilihat di sini.

Gambar cover DVD dan keterangan lengkap tentang film Superman II: The Richard Donner Cut bisa diklik di halaman wiki yang ini. Sedangkan cerita seputar kontroversi di balik pembuatan film Superman II bisa diklik di sini.


ReviewReviewReviewReviewSpiderman 3May 2, '07 2:43 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Action & Adventure

Ini adalah film yang paling gue tunggu dengan harap-harap cemas di tahun 2007 ini. Di satu sisi gue udah nggak sabar ingin liat spiderman beraksi lagi, tapi di sisi lain rada kuatir juga denger rencana banyaknya super-villain yang akan dimunculkan di sini. Bukan apa-apa, soalnya gue masih trauma sama film "Batman & Robin" di mana muncul Batman, Robin, Batgirl, Dr. Freeze, dan Poison Ivy ngeriung nggak jelas dan menghasilkan salah satu film Batman ternorak yang pernah dibuat orang.

"Batman & Robin" dengan 2 super-villain aja udah norak, apalagi Spiderman 3 yang menampilkan New goblin, Sandman, dan Venom sekaligus?

Tapi begitu film dimulai... pheeew... gue bisa bernafas lega. Tangan dingin Sam Raimi yang udah sukses meramu 2 film Spiderman sebelumnya ternyata masih menunjukkan kesaktiannya.

Ringkasan cerita:

Film ini menceritakan kehidupan Spiderman yang lagi mulai 'menanjak'. Kehadirannya diterima masyarakat, berhasil pacaran sama Mary Jane, kuliah lancar, pokoknya tenang tenteram. Eh taunya muncul si Harry Osborn (James Franco), anaknya Norman Osborn sang Green Goblin yang masih penasaran ingin balas dendam kepada Spiderman. Disusul dengan Flint Marko alias Sandman (Thomas Hayden Chuch), buronan yang bertanggung jawab atas kematian paman Ben, dan terakhir Eddie Brock (Topher Grace) fotografer rival Peter Parker di Daily bugle yang belakangan berubah jadi Venom. Turut memeriahkan suasana, hadir juga Gwen Stacy (Bryce Dallas Howard), pacar Eddie Brock yang naksir Spiderman.  

Udah, segitu aja ya ringkasannya, biar nggak jadi spoiler! Maap kalo terlalu ringkas, namanya juga ringkasan.

Tanggapan gue:

Yang pertama-tama patut diacungi jempol adalah duet Kathy Driscoll dan Francine Maisler yang dengan jagonya memilih Bryce Dallas Howard untuk memerankan Gwen Stacy. Sosoknya bener2 mirip banget dengan gambaran Gwen Stacy di komik selama ini, lengkap dengan bibir sexy dan mata kucingnya. Coba bandingin sendiri:

Secara umum hasil karya mereka dalam memilih pemain sangat memuaskan, Tobey pas banget memerankan sosok Peter Parker yang cenderung nerd dan nggak terlalu menganggap diri super, apalagi keputusan mengajak  Rosemary Harris sebagai Bibi May, pas buanget! Gue cuma nggak setuju sama Kirsten Dunst sebagai MJ - karena menurut gue seharusnya sosok MJ jauh lebih 'hot' dari yang diperankan Kirsten. Tokoh MJ di komik itu seharusnya  super-model, lho!

Kehadiran Thomas H Church awalnya sedikit membuat gue risih karena masih terbayang-bayang peran dodolnya sebagai Lowell di serial tivi "Wings". Tapi seiring berjalannya film, aktingnya semakin meyakinkan kok.  Sedangkan Topher Grace sebagai Venom... hmmm.... seharusnya yang namanya Eddie Brock itu badannya jauh lebih gede - mirip binaragawan gitu (coba aja perhatiin di komik, badan Venom selalu digambarkan jauh lebih gede dari Spiderman).

Yang gue suka dari film ini adalah, walaupun muatan cerita yang mau disampaikan cukup banyak, semuanya bisa disampaikan secara runut. Selama ini kan gue sering merewelkan kaitan sebab-akibat antar adegan, seperti "loh, kok tiba2 tokohnya melakukan itu? kenapa? apa latar belakangnya? dst- dst", nah di film Spiderman 3 pertanyaan rewel tersebut lumayan mendapat jawaban yang memuaskan. Tapi walaupun mampu bercerita dengan enak, tetep aja menurut gue film ini akan jauh lebih fokus kalo super-villainnya dikurangi. Seharusnya fokus aja antara Spiderman vs. Venom, nggak usah pake ada Sandman segala. Masalahnya, sebagai sutradara Sam Raimi punya penuh menentukan lakon dan personally dia nggak suka sama karakter Venom. Maka buat para penggemar Venom siap-siap kecewa ya liat tokoh ini tampil rada cemen dan terlalu 'lemah' untuk ukuran seorang Venom.

Soal special effects, ah udahlah nggak usah dibahas lagi. Top banget. Gerakan symbiotes-nya persis sama seperti yang selama ini digambarkan di komik - cair tapi lengket. Dan nggak cuma mengandalkan SFX yang canggih, tapi juga kreatif mengolah latar belakang sebuah peristiwa sehingga jadi adegan yang menegangkan. Contohnya adegan crane ngamuk yang membabat gedung tetangga: perhatikan urutan kerusakan yang dibuat oleh crane - makin lama bikin situasinya makin tegang dan sulit ditangani!  

Pertanyaannya sekarang adalah; film ini bener-bener nggak menyisakan nafas buat sequel Spiderman berikutnya. Venom sebagai super-villain paling populer udah dikeluarin, lantas siapa dong yang bakal tampil sebagai super-villain di Spiderman 4? Atau Sam Raimi memang berencana mengakhiri sequel Spiderman di nomor 3 aja?     



ReviewReviewReviewReviewNagabonar jadi 2Apr 9, '07 6:53 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy

"Udah nonton 'Nagabonar jadi 2' belum?"
"Belum."
"Waaah.. LO HARUS NONTON! Baguuuss... banget!"

Belum pernah gue denger sebelumnya, ada film Indonesia yang dikomentari orang kaya gitu. Bukan cuma satu atau dua yang ngomong, tapi semua orang yang udah nonton film ini berkomentar sama. Mereka bilang film ini 'lucu buanget tapi juga mengharukan', 'mendidik tanpa menggurui', etc etc.

Wow.

Jadi harap maklum kalo gue berharap film ini sekualitas 'As Good As It Gets' yang dulu ngeborong Oscar 1997 dan sukses pula di pasaran. Sayangnya film ini nggak terlalu berhasil memenuhi harapan gue.

Ceritanya seputar hubungan antara tokoh Nagabonar (Deddy Mizwar), veteran perang kemerdekaan yang hidup menyendiri di kampung dan Bonaga (Tora Sudiro), anak Nagabonar yang udah jadi pengusaha sukses di Jakarta. Bonaga mendapat tawaran investor asing untuk membangun resort di perkebunan kelapa sawit milik bapaknya. Bonaga menjemput bapaknya datang ke Jakarta supaya bisa mendapat penjelasan lengkap tentang rencana itu. Konflik antar generasi kemudian terjadi karena Nagabonar keberatan lahan kelapa sawit yang antara lain juga menyimpan jasad ibunya, istrinya, dan Bujang, sahabatnya di jaman perang diutak-atik.Apalagi waktu dia tau bahwa investornya orang Jepang, mantan penjajah.

Sebagai pemanis dihadirkan juga konflik percinta'an* antara Bonaga dan Monita (Wulan Guritno) yang selama ini bekerja membantu Bonaga sebagai konsultan.

Satu hal yang lumayan mengganggu buat gue (tapi anehnya nggak pernah diusik oleh penonton lainnya) adalah: memangnya berapa sih umur si Nagabonar ini?

Mari berhitung:
Film Nagabonar pertama (1987) mengambil setting nggak lama setelah proklamasi kemerdekaan RI. Artinya, tahun 1945. Dari penampakan sosok Nagabonar di film pertama itu, nampaknya dia berusia 30 tahun-an (sesuai dengan umur Deddy Mizwar yang lahir pada tahun 1955). Film Nagabonar jadi 2 mengambil setting tahun 2007 (ditinjau dari jenis mobil dan HP yang digunakan para tokohnya, serta kehadiran busway di jalanan ibukota). Artinya, Nagabonar di film ini udah berusia 94 tahun!

Yah memang banyak orang-orang tua yang cukup fit dan tampak awet muda, tapi rasanya jarang banget deh ya, ada kakek berusia 94 tahun kuat manjat patung Sudirman hanya dengan bergayut pada tambang....

Soal cocok-cocokan umur juga agak sedikit ganjil untuk tokoh Karina, istri Nagabonar. Jadi ceritanya, Karina meninggal waktu melahirkan Bonaga. Tora Sudiro pemeran Bonaga lahir tahun 1973, tapi mari kita kasih voor 3 tahun sehingga anggap tokoh Bonaga dilahirkan pas tahun 1970.

Kalo pada tahun 1945 Karina berusia 20-an tahun (sesuai dengan umur Nurul Arifin sebagai pemerannya yaitu 21 tahun pada tahun 1987), maka waktu hamil dan melahirkan Bonaga Karina udah berusia 46 tahun! Yah, kalo dicari-cari datanya mungkin ada aja sih orang yang hamil di usia 46 tahun, tapinya pastinya akan jarang buanget - atau mungkin sekalian disengaja sebagai latar belakang mengapa Karina sampai meninggal saat melahirkan?

Secara umum, cerita film ini nggak sedahsyat yang digembar-gemborkan orang. Jangan salah, bukannya film ini jelek, tapi juga bukan film yang' lucu buanget' - setengah jam pertama gue duduk anteng karena nggak ada adegan yang cukup menggelitik untuk dianggap lucu. Di beberapa bagian film ini terasa cerewet mencekoki penonton dengan nilai-nilai nasionalisme, dan yang paling konyol adalah adegan Nagabonar memanjat patung Sudirman karena dia mau menghimbau sang patung agar 'menurunkan hormatnya karena tidak semua orang yang melewatinya layak untuk dihormati'. Sudahlah Opung Naga, itu kan patung?         

Tapi di bagian lain juga ada beberapa adegan yang layak dicatat, antara lain adegan Nagabonar vs Polantas yang mencoba melarang bajajnya masuk jalan protokol, dan adegan emosional Nagabonar vs Bonaga di depan pintu kamar. Menurut gue, akting Tora di film ini jauh lebih baik dibanding film-film sebelumnya, termasuk Arisan!.

Kesimpulannya: sebuah film yang layak tonton, di atas rata-rata kualitas film Indonesia akhir-akhir ini, tapi kalo dibilang 'bagus buanget' ya... enggak juga sih.

Foto dari situs resmi film Nagabonar jadi 2

*harap dibaca dengan memperhatikan tanda ( ' )     



ReviewReviewReviewReviewReviewRocky BalboaMar 11, '07 1:12 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Sports

Serial "Rocky" berawal dari film Rocky pertama yang dirilis tahun 1976. Film itu langsung melejitkan nama Stallone yang waktu itu masih anak bawang dan masih cari sesuap nasi dengan main film bokep* sebagai bintang papan atas Hollywood. Nggak tanggung-tanggung, film Rocky itu dinominasikan untuk 7 kategori Oscar, dan berhasil memenangkan 3 di antaranya - termasuk kategori "Film Terbaik"

Tapi sejak kesuksesan itu, otak dagang Stallone berputar lebih kenceng dari otak artistiknya sehingga berkembang-biaklah film Rocky jadi sequel-sequel yang makin lama makin nggak dilirik oleh para kritikus film sekalipun sukses secara komersial. Walaupun gue sendiri suka banget nonton Rocky IV tapi harus diakui film itu nggak lebih dari sebuah video-clip berdurasi panjang. Musiknya keren, gambarnya seru, tapi nggak ada ceritanya. Yang paling parah adalah Rocky V: udah dicaci-maki kritikus, nggak sukses pula di pasaran. Stallone sendiri mengakui, dia rada asal-asalan waktu menggarap film itu.   

Makanya waktu akhir tahun 2003 terdengar kabar Stallone mengajukan proposal untuk membuat film "Rocky VI" banyak fansnya yang berkomentar, "Ah sudahlah boss... apa lagi sih yang mau dibahas?" Umur Stallone udah lebih dari 50 tahun, dan kayaknya nggak terlalu banyak orang yang antusias ngeliat petinju keriput berdarah-darah. Udah gitu bocoran plot yang beredar di banyak forum penggemar Rocky juga nggak terlalu menarik, yaitu tentang Rocky tua yang mengelola sekolah tinju dan harus berhadapan dengan sekelompok berandalan yang mau mengganggu anak didiknya. Mungkin yang terdengar antusias dengan rencana pembuatan film Rocky VI cuma aktor Dolph Lundgren, yang pernah jadi Ivan Drago - petinju Soviet di film "Rocky IV". Lundgren yang sempet ngerasain hidup rada enak waktu main Rocky IV memang sekarang lagi terjerumus ke lembah nista perfilman kelas B** - nggak heran kalo dia berharap banget diajak.


Adegan puncak: Rocky vs. Dixon

Sejak 2003 itu gue nggak denger lagi kabar-kabar tentang rencana Rocky VI, sampe tau2 2 minggu yang lalu gue ngeliat poster film berjudul Rocky Balboa terpajang di bioskop. Wah, inikah Rocky VI? Ngeliat poternya yang sederhana banget, gue tadinya nggak terlalu berharap film ini akan bagus. Tapi waktu gue cek IMDB.com... weits.... dapet skor 7.5 / 10 dari para pengunjung! Kalo statistiknya diliat lebih lanjut, malah makin keren lagi: 40% dari 20 ribuan orang yang udah nonton film ini ngasih skor 10, plus 14% lainnya ngasih skor 9. Artinya 54% penonton "Rocky Balboa" berpendapat film ini buagus buanget!

Setelah beberapa kali gagal nonton, akhirnya hari ini berhasil juga. Kayaknya udah di detik-detik terakhir penayangannya di bisokop Jakarta karena yang muter film ini cuma bioskop Pondok Indah dan Gajah Mada Plaza. Gue pilih yang terakhir.

Seperti yang digambarkan oleh posternya, film ini mencoba menggambarkan kehidupan Rocky yang sederhana setelah pensiun jadi petinju. Adrian, istrinya, digambarkan udah meninggal tahun 2002, dan sekarang Rocky mengelola sebuah restoran kecil yang dinamai "Adrian's". Anaknya udah ngantor di kantor bagus, pake dasi. Pokoknya, dia udah hidup tenang deh. Sementara itu, ring tinju lagi dikuasai sama petinju bernama Mason Dixon (diperankan oleh Antonio Tarber - petinju betulan - terakhir dikalahkan oleh Bernard Hopkins Juni 2006 lalu) yang udah mulai kurang diminati akibat penonton bosen liat dia menang melulu.

Pada suatu hari, sebuah stasiun TV iseng menayangkan sebuah film animasi simulasi komputer***; apa yang akan terjadi kalo Mason Dixon melawan Rocky Balboa. Simulasi komputer menunjukkan Rocky akan berhasil mengalahkan Dixon. Manager Dixon melihat acara ini sebagai peluang untuk mengangkat pamor anak asuhnya, dan menawari Rocky untuk merealisasikannya.

You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. 
But it ain't how hard you hit; 
it's about how hard you can get hit, 
and keep moving forward.
=Rocky Balboa=

Stallone bilang, dia mau film Rocky yang terakhir ini punya 'feel' yang sama dengan Rocky yang pertama dulu: drama kemanusiaan dengan latar belakang dunia tinju - dan dengan takjubnya gue menyaksikan bahwa dia berhasil! Film ini beda banget dengan Rocky II - V yang cuma menjual serunya pukul-pukulan dengan lawan yang makin lama makin sangar plus kehidupan mewah Rocky sebagai petinju sukses (jgn2 Raam Punjabi sempet tanem saham di serial Rocky?). Di film ini Stallone berperan sebagai penulis naskah, sutradara, dan aktor secara sangat berhasil. Dialog-dialognya cerdas banget, nggak ngebosenin karena berulangkali mengajak penonton ngeliat permasalahan dari berbagai sudut. Simak antara lain dialog antara Rocky dan anaknya di luar resto "Adrian's", waktu anaknya menyatakan keberatan bapaknya naik ring lagi. Juga dialog antara Rocky dan Little Marie waktu Rocky nawarin kerja di restonya. Kalo dulu sequel-sequel Rocky selalu menawarkan tema "underdog yang pasti berhasil menang walaupun berdarah-darah asalkan rela berlatih habis2an", film ini mengemasnya dalam paket yang jauh lebih dalam dan menyentuh. Keren deh pokoknya! 

Buat fans film Rocky, terutama film yang pertama, akan merasa lega karena Rocky kembali jadi manusia - bukan sekedar merchandise. Di film2 Rocky sebelumnya, hasil pertandingan tinjunya selalu mudah ditebak - pastilah Rocky memang lagi - tapi ngeliat kondisi Rocky yang udah uzur gini, penonton nggak bisa seyakin dulu dan malah bikin ending film ini makin menegangkan. Buat yang gampang terharu, siapin tisu yang banyak karena ada banyak adegan mengharukan di film ini. Buat penggemar tinju, film ini menyajikan adegan tinju yang jauh lebih realistik daripada film-film Rocky sebelumnya (Sorry, adegan banting-bantingan seperti yang muncul di Rocky IV nggak bakal ada di sini). "Rocky Balboa" bisa jadi tontonan buat semua orang, maka nggak heran kalo film yang dibuat dengan budget 24 juta dollar ini udah berhasil mendatangkan pemasukan kotor (internasional) sebesar nyaris 750 juta dollar! 

Buat yang jadi tertarik nonton film ini, buruan, udah tinggal 2 bioskop lho yang masang. 

 

*Film porno yang pernah dibintangi oleh Stallone diedarkan ulang setelah Stallone ngetop dan dijuduli "The Italian Stallion" - julukan bagi tokoh Rocky Balboa dalam serial Rocky. Buat yang mau nonton film tersebut, silakan download di sini.   
**"B-Movie" adalah julukan untuk film-film berbudget  DAN berkualitas rendah. Tapi nggak semua film berbudget rendah adalah B-Movie lho, sebab banyak juga kok yang bagus. 
***Tahun 1970 pernah ada film yang dibuat berdasarkan perhitungan data komputer atas statistik Muhammad Ali dengan juara kelas berat yang nggak pernah terkalahkan, Rocky Marciano. Film itu diperankan langsung oleh kedua tokoh tersebut, dan hasil akhirnya adalah Marciano berhasil meng-KO Ali di ronde ke 13. Ali mengomentari "kekalahannya" itu dengan bilang, "Komputernya pasti buatan Alabama". 

Referensi:



ReviewTerowongan CasablancaMar 4, '07 3:06 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Other
PERINGATAN:
  1. Walaupun ini nampak seperti review, dan gue posting di section review, ini bukanlah review (Eriq jangan protes). Ini adalah ekspresi perasaan, tumpahan unek-unek setelah nonton film "Terowongan Casablanca". Jadi kalo ada di antara kalian yang merasa posting ini terlalu 'bias' atau 'subyektif'; MEMANG IYA BANGET KOK.
  2. Posting ini puanjang banget. Jangan baca kalo lagi sibuk.
  3. Awas spoiler. Bukannya 'banyak' spoiler - tapi seluruh posting ini adalah spoiler semuanya.

Di manakah Anya?

Film dibuka dengan adegan sebuah mobil mercy melintas malam-malam di jalan Jenderal Sudirman. Penumpangnya antara lain diperankan oleh Ray Sahetapy, sedangkan yang dua lagi, seorang laki-laki dan seorang perempuan, nggak gue ketahui namanya karena tidak cukup penting (bukan lantas berarti Ray Sahetapy adalah penting). Dari pembicaraan yang terjadi, terkesan mereka baru pulang dari 'ajeb-ajeb'. Si perempuan menggelayut manja pada Ray Sahetapy. Ia mengajak 'lanjut' karena merasa dirinya saat itu sudah 'kenceng'. Entah kegiatan apa yang diusulkannya, mungkin sejenis perlombaan (sebab apa lagi yang lazim dilakukan orang2 kenceng kalo bukan berlomba?).

Di tengah jalan, penumpang ke tiga yang duduk bagaikan obat nyamuk di jok belakang melihat bayangan misterius melintas di luar mobil. Ia lantas meminta Ray Sahetapy menepi sebentar untuk memeriksa. Ray Sahetapy menurutinya. Tentu saja mereka nggak menemukan apa-apa di luar mobil. Ray Sahetapy lantas meneruskan perjalanan. Mereka melintasi Terowongan Casablanca. Kali ini giliran Ray Sahetapy yang melihat sosok aneh di luar mobil. Ia panik, lantas gambar berikutnya menunjukkan mobil telah ringsek.

Adegan berpindah, kali ini menampilkan tokoh bernama Tari yang sayangnya nggak gue ketahui nama pemerannya karena kurang penting (tapi, sekali lagi, bukan berarti Ray Sahetapy penting). Bila dilihat dari seragamnya, Tari adalah seorang siswi SMA. Namun bila dilihat dari make-up di wajahnya, nampaknya dia seorang staff administrasi sebuah BUMN yang 2 bulan lagi akan menerima piagam 10 tahun masa kerja. Tari sedang bersama pacarnya yang bernama Refa, diperankan oleh VJ Nino (ini gue tahu karena kebetulan dibahas di salah satu website - bukan karena dia lebih penting dari Ray Sahetapy). Refa mengajak Tari menghadiri pesta perayaan lulus sekolah. Tadinya Tari menolak tapi akhirnya mau juga.

Adegan berpindah menyorot suasana sebuah 'rave party' - ada DJ dan tarian erotis segala. Kamera menyorot Refa dan Tari sedang bermesraan, lantas tidak lama kemudian Tari mengucapkan sebuah kalimat yang denger-denger sebentar lagi akan dirayakan sebagai "kalimat yang telah diucapkan sebanyak 1.500.000 kali dalam sepanjang sejarah perfilman dan persinetronan Indonesia" yaitu:

"Tapi... bagaimana jika aku nanti hamil?"

Seandainya gue menjadi penulis skenario film ini, maka gue akan membuat tokoh Refa menjawab,

"Tentu saja kau akan menjadi gendut dan kebelet pipis 5 menit sekali"

...tapi sayangnya gue bukanlah penulis skenario film ini sehingga tokoh Refa menjawab dengan bujukan bahwa semua akan baik-baik saja dan ia pasti akan bertanggung jawab atas segalanya.

Adegan berpindah menyorot sosok seorang mbak-mbak yang diperankan oleh Five V (ini gue ketahui karena Ida mengenali wajah Five V, bukan karena ia terlihat lebih penting daripada Ray Sahetapy maupun VJ Nino). Mbak Five V nampak sedang menelepon seseorang menggunakan HP, tapi kelihatannya HP orang yang dituju malah berbunyi di dekatnya. Ia memungut HP tersebut dan menemukan SMS undangan rave party.

Adegan berpindah, kali ini menampilkan Refa dan Tari sedang main tindih-tindihan di sudut arena 'rave party'. Nampak Mbak Five V memasuki arena 'rave party', celingukan. Pindah adegan lagi, nampak Tari sudah selesai main tindih-tindihan dan sedang memakai celana dalam. Nampaknya celana dalam Tari kesempitan karena ia nampak meringis-ringis saat memakainya. Tiba-tiba masuklah Mbak Five V ke dalam ruangan dan langsung mendamprat Tari, "Heh! Mana Anya? Awas kamu ya, kalau Anya sampai kenapa-napa!"

Mbak Five V juga menasehati Tari agar tidak mudah percaya pada Refa sebab bila Tari sampai 'kenapa-napa', Mbak Five V meragukan kesanggupan Refa untuk bertanggung jawab. Untunglah tidak lama kemudian Refa kembali masuk ke ruangan dan menyelamatkan Tari dari amukan Mbak Five V.

Serius nih, di mana sih si Anya?

Konon kabarnya, seorang teman dari temannya keponakan gue ngacir keluar dari bioskop saat film baru berjalan 1/2 jam karena nggak kuat mengahan ngeri nonton film ini. Sedangkan berdasarkan pengalaman gue, batas setengah jam durasi film baru sampai adegan Refa menyelamatkan Tari dari labrakan Mbak Five V. Memang di titik itu gue juga merasa ingin ngacir keluar, tapi untuk alasan yang berbeda yaitu memastikan kepada petugas bioskop apa benar film yang sedang gue tonton ini adalah film horror. Jangan2 tukang proyektornya teledor, masang film "Gairah Malam II".

Singkat cerita, belakangan terbukti bahwa Tari betulan menjadi 'bagaimana' (baca: hamil). Apa daya Refa malah pergi ke Australia untuk melanjutkan sekolah. Maka Tari pun pasrah hingga pada suatu hari Refa pulang untuk berlibur di Jakarta dan dilihat oleh seorang teman Tari. Temannya Tari buru-buru menelepon Tari, memintanya datang ke sebuah cafe dan meminta 'pertanggungjawaban' kepada Refa. Ditemani seorang teman, Tari segera berangkat ke cafe naik taksi. Taksi melewati Terowongan Casablanca dan di sana supir taksi membunyikan klakson 3 kali. Saat ditanya alasannya, supir taksi menjelaskan bahwa itu adalah 'syarat' agar selamat dari gangguan makhluk halus. Tari juga sempat melihat sekelebat bayangan misterius di pinggir jalan.

Di taksi Tari melamun mengenang saat dia datang ke rumah Refa. Dia ditemui oleh bapaknya Refa yang tak lain dan tak bukan adalah.... Ray Sahetapy! Oooh... jadi Ray Sahetapy itu adalah bapaknya Refa toh, baru jelas di sini. Dalam lamunan Tari digambarkan, Ray Sahetapy memberi tahu Tari bahwa Refa sudah pergi ke luar negeri dan baru pulang 3 tahun yang akan datang. Ray Sahetapy juga memberikan segepok uang kepada Tari, mungkin sebagai pengganti ongkos 'bagaimana', namun Tari menolaknya. Perlu dicatat bahwa dalam lamunan tersebut bahwa Ray Sahetapy nampak sehat-sehat saja. Loh, lantas, bagaimana dengan adegan kecelakaan di awal film? Oh, mungkin Ray Sahetapy sudah sembuh dari kecelakaan tersebut.

Di sana Refa dihadang seorang bapak cebol yang kemunculannya (diharapkan) cukup mengejutkan (sayangnya enggak).

Di cafe Tari meminta pertanggungjawaban Refa hingga terjadi cek-cok. Refa berusaha menenangkan Tari dan menyodorkan sebotol wiski. Berhubung Tari biasa minum air kendil, baru dikasih wiski seteguk dia langsung teler. Bersama beberapa orang teman, Refa membawa Tari yang sudah teler ke sebuah rumah terpencil. Di sana Refa dihadang seorang bapak cebol yang kemunculannya (diharapkan) cukup mengejutkan (sayangnya enggak). Refa bilang sama si bapak cebol, dia ingin menemui Nyai Pandansari. Siapakah Nyai Pandansari? Apakah ini nama alias bagi si Anya? Kurang jelas.

Adegan langsung berpindah menyorot seorang ibu setengah baya sedang sendirian di rumah. Siapakah ibu ini? Apakah dia yang bernama Nyai Pandansari? Atau jangan-jangan, dialah Anya? Kurang jelas juga. Yang jelas, dia nampak gelisah di dalam rumah, lantas keluar ke teras. Eh ternyata di luar ada di Tari, dengan ekspresi bengong, lagi menggendong bayi. Ibu itu berkata kepada Tari, "tunggu sebentar ya, ibu siapkan air panas untuk mandi". Tari menjawab, "tidak usah, saya mau istirahat sebentar di sini". Saat si ibu membalikkan badan, Tari menghilang. Ibu itu nampak bingung. Gue, lebih bingung lagi.

Terus, bagaimana dengan Anya?

Sejak itu, kehidupan Refa dan teman-temannya menjadi tidak tenang. Refa sering diganggu secara 'standar'. Maksudnya, gangguan dalam bentuk yang standar dan sudah muncul jutaan kali dalam film2 Suzanna yaitu suara ketok2 di pintu, korden berkibar, dan suara tangis bayi. Suara tangis bayinya mirip suara bayi Rafi sehingga bikin film ini makin tidak serem dan makin bikin gue ingin segera pulang untuk bermain dengan bayi Rafi. Oh iya, mobil Refa juga sempat diganduli kuntilanak di kaca jendela, sebuah adegan yang YA - AMPUN - ALANGKAH - BASINYA - DI - SEANTERO - FILM - HORROR - BAIK - IMPOR - MAUPUN - LOKAL

Selain Refa, 2 orang temannya yang lain yang kita sebut saja bernama Ucup dan Acing juga diganggu (jangan salahin gue kalo milihin nama yang kurang 'funky' - habis di sepanjang film nggak dijelaskan siapakah nama mereka). Alkisah Ucup sedang main di rumah Acing yang kebetulan ada kolam renangnya, ditemani seorang cewek yang juga nggak jelas siapa namanya (jangan-jangan... dialah yang bernama Anya?). Ucup sedang santai di atas kasur apung di kolam renang, saat Acing dan si cewek keluar sebentar karena dikirimi SMS iseng oleh seseorang bernama Timbo (kalo yang ini memang bener nama tokoh dalam film).

Saat ditinggal sendirian, Ucup diganggu oleh kuntilanak sehingga mati tenggelam. Yah, memang kalau nasib sedang apes bisa saja orang tenggelam di kolam renang sekalipun airnya cuma setinggi perut. Ketika balik ke kolam, Acing kaget menemukan Ucup sudah mati mengapung. Nah, berikut ini ada sedikit kuis bagi kalian:

Apa yang akan kalian lakukan bila menemukan seorang teman tenggelam di kolam renang?
  1. Memberikan pernafasan buatan bila mampu dan mengerti tekniknya
  2. Memanggil dokter / ambulans
  3. Mengantar korban ke dokter ke rumah sakit
  4. Menjerit-jerit, mengguncang-guncang tubuh korban, lantas menggendong korban secara sempoyongan sehingga ketika mendadak diganggu oleh kuntilanak menjadi hilang keseimbangan d