Agung's posts with tag: favorites
 | Category: | Books | | Genre: | Other | | Author: | MP-ID |
Kemulusan buku "One Gigabyte of Love" milik gue ternyata nggak berumur panjang. Baru tadi sore buku ini gue terima dari acara peluncurannya di Kafe Buku Depok, dan malam ini covernya udah nggak bisa nutup lurus karena keseringan dibolak-balik. Ternyata kerja keras Mbak Helvy dan Mas Tomi sebagai para editor memang luar biasa. Buku kumpulan posting ini dikemas dalam penyajian bahasa yang enak dibaca. Walaupun sebagian besar penulisnya bukan penulis 'betulan', tapi nggak bakal malu-maluin deh kalo dipajang di toko buku. Lima puluh tiga cerita ditulis dengan lima puluh tiga gaya yang berbeda, dan semuanya keren! Ternyata banyak cerita yang mendadak jadi nampak jauh lebih menarik saat dipindahin dari layar monitor ke atas kertas. Setelah beres ngebaca 290 halaman buku ini, gue dan Sigit yang lagi nongkrong di rumah gue mulai ngebahas satu per satu cerita yang ada di dalamnya. Akhirnya timbul ide untuk memilih "Top10" alias 10 cerita terbaik dari 53 cerita yang ada di buku "One Gigabyte of Love". Bukan berarti 43 cerita lainnya kurang keren lho ya, ini sekedar memilih 10 yang terbaik di antara 53 yang udah baik. Best of the best. Kriteria yang gue pake ada 3, yaitu: Short, Sweet, and Sharp. Maksudnya: Short Bukan pendek dalam arti jumlah kata, tapi dari 'rasa' saat ngebacanya. Sepuluh cerita yang gue pilih sebagai terbaik ini terasa 'ngalir' saat dibaca, sehingga sekalipun panjang nggak terasa membosankan. Sweet Sesuai dengan 'spirit' untuk mengusung cerita yang dan menyentuh perasaan, maka kesepuluh cerita pilihan gue ini adalah cerita yang 'manis' - dalam arti bisa membuat pembacanya ngomong dalam hati 'ya, gue bisa turut merasakan apa yang lo rasakan'. Sharp Maksudnya seberapa jauh sebuah cerita mampu meninggalkan jejak di hati pembacanya. Seperti jagoan di film silat mukul lawan pake telapak tangan terus cetakan gambar tangannya nempel di badan lawan - pesan yang disampaikan kuat banget. Dan inilah 10 cerita terbaik dalam buku One Gigabyte of Love, versi si Mbot: (dalam urutan halaman) Ciuman Ibu di Pagi Hari, oleh Agung Krisnanto (halaman 29) Cerita mengharukan tentang kebesaran hati seorang ibu menerima keputusan besar yang diambil anaknya. Meraih Cinta dengan Kesabaran, oleh Dyah Retno Utari (halaman 39) Tentang perjuangan seorang cowok menghadapi penolakan-penolakan cewek yang ditaksirnya. Inspirasi buat kaum jomblo di luar sana agar pantang menyerah (sekaligus kabar buruk buat yang belakangan lagi bete karena diuber-uber orang yang kebal penolakan). Kalimat terakhir dari paragraf ke dua sebelum akhir cerita sangat powerful, menurut gue. Kisah Seorang Indigo, oleh Linda Emiyanti (halaman 105) Pengalaman langsung berinteraksi dengan orang indigo - pengalaman yang jarang dimiliki orang. Gue yang sempet berkhayal ingin punya kemampuan orang indigo jadi mikir-mikir lagi bacanya. Saling Mengerti, oleh Shanti Saptaning (halaman 123) Perenungan dan pergulatan batin seorang istri yang suaminya absen jemput dari kantor. Lucu, sangat feminin, sekaligus menyentuh. Seribu Pohon Cinta buat Richard, oleh Jullie Guerre (halaman 131) Ternyata bayi merah yang belum tau apa-apa punya kekuatan luar biasa untuk membangkitkan motivasi seorang lelaki tua. Rumah Milik Bersama, oleh Yudith Fabiola (halaman 149) Cerita singkat tentang ketulusan untuk berbagi, inspiratif buat semua orang. Bambang, oleh Bambang Priantono (halaman 160) Ringan dan menggelitik, tentang suka-duka seseorang yang menyandang nama 'pasaran'. Gue jadi merasa ada temen senasib sepenanggungan. Bahasa Gado-Gado, oleh Wendi Damita Ruky (halaman 177) Lucunya perbedaan kultur saat berbahasa digambarkan secara manis. Ayahku Funky, oleh Menhariq Noor (halaman 181) Kegelisahan seorang anak yang ayahnya ternyata jauh lebih funky dari dirinya digambarkan dengan kocak. Sehabis baca cerita ini gue bisa langsung membayangkan seperti apa sosok ayahnya Eriq, dan ternyata saat betulan ketemu gambaran tersebut 100% akurat! Lelaki yang Membuatku Jatuh Cinta Berulang Kali, oleh Indah Purwandani (halaman 209) Cerita menyentuh tentang ketulusan seorang ayah yang berkarya dengan tangannya sendiri membuatkan hadiah buat anaknya. Terlepas dari hasil akhirnya, niat yang tersimpan di baliknya bener-bener luar biasa. Itu tadi 10 cerita pilihan gue. Gimana dengan kalian, punya 10 cerita favorit yang lain? Silakan dishare di sini. Atau lebih bagus lagi, dishare di halaman MP-nya masing-masing, trus dilink dari sini. Apa... belum punya bukunya? Keterlaluan, cepetan sana beli! Udah ada di toko-toko buku papan atas. Nggak akan rugi deh, karena selain dapet 53 cerita yang keren-keren, juga bisa nyumbang karena 100% keuntungan buku ini akan disumbangkan buat kegiatan Bakti Sosial MP-ID berikutnya. 
 | Category: | Restaurants | | Cuisine: | Asian | | Location: | Johar, Menteng (dekat Stasiun Gondangdia) |
Restoran ini dulunya bernama "Rendezvous", tapi gara-gara ada menteri atau siapalah itu di pertengahan dekade 90-an yang 'menghimbau' (baca: memaksa) agar nama-nama usaha yang berbahasa asing di-Indonesiakan, maka beralihlah namanya menjadi Restoran "Pertemuan". Dulunya dia berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto, bertetangga dengan bioskop Menteng. Waktu bioskop Menteng digusur, dia pindah ke lokasi barunya di bilangan Johar, dekat Stasiun Gondangdia sampai sekarang. Kalo mau ngebayangin lokasinya dulu, kurang lebih dia berada di lokasi Starbuck sekarang. Sebenernya yang terkenal dari resto ini adalah somaynya. Tapi berhubung di menunya terpampang masakan 'cap cay babi' dan 'kodok cah', maka gue memilih untuk cukup menikmati aneka es campurnya aja - yang juga istimewa. Ada 3 jenis es campur di resto ini: es shanghai, es teler dan es sekoteng. Semuanya dibandrol dengan harga yang sama yaitu 10 ribu rupiah (harga th 2007). Yang paling istimewa dari ketiganya menurut gue adalah es sekotengnya, karena ada sedikit aroma kayu manis yang bikin rasanya unik. Porsinya juga pas, nggak terlalu gede. Tempat ini juga cocok buat yang mau bernostalgia dengan suasana restoran di periode 80-an, karena setting ruangannya boleh dibilang sama persis dengan keadaannya di tahun segitu. Kalo kapan-kapan mampir ke sana, perhatikan kaca pembatas tempat pembuatan es campur yang bertuliskan aneka menu makanan dan minuman: kaca itu adalah kaca asli dari lokasi lamanya di HOS Cokroaminoto. 
 | Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Ini adalah film yang paling gue tunggu dengan harap-harap cemas di tahun 2007 ini. Di satu sisi gue udah nggak sabar ingin liat spiderman beraksi lagi, tapi di sisi lain rada kuatir juga denger rencana banyaknya super-villain yang akan dimunculkan di sini. Bukan apa-apa, soalnya gue masih trauma sama film "Batman & Robin" di mana muncul Batman, Robin, Batgirl, Dr. Freeze, dan Poison Ivy ngeriung nggak jelas dan menghasilkan salah satu film Batman ternorak yang pernah dibuat orang. "Batman & Robin" dengan 2 super-villain aja udah norak, apalagi Spiderman 3 yang menampilkan New goblin, Sandman, dan Venom sekaligus? Tapi begitu film dimulai... pheeew... gue bisa bernafas lega. Tangan dingin Sam Raimi yang udah sukses meramu 2 film Spiderman sebelumnya ternyata masih menunjukkan kesaktiannya. Ringkasan cerita: Film ini menceritakan kehidupan Spiderman yang lagi mulai 'menanjak'. Kehadirannya diterima masyarakat, berhasil pacaran sama Mary Jane, kuliah lancar, pokoknya tenang tenteram. Eh taunya muncul si Harry Osborn (James Franco), anaknya Norman Osborn sang Green Goblin yang masih penasaran ingin balas dendam kepada Spiderman. Disusul dengan Flint Marko alias Sandman (Thomas Hayden Chuch), buronan yang bertanggung jawab atas kematian paman Ben, dan terakhir Eddie Brock (Topher Grace) fotografer rival Peter Parker di Daily bugle yang belakangan berubah jadi Venom. Turut memeriahkan suasana, hadir juga Gwen Stacy (Bryce Dallas Howard), pacar Eddie Brock yang naksir Spiderman. Udah, segitu aja ya ringkasannya, biar nggak jadi spoiler! Maap kalo terlalu ringkas, namanya juga ringkasan. Tanggapan gue: Yang pertama-tama patut diacungi jempol adalah duet Kathy Driscoll dan Francine Maisler yang dengan jagonya memilih Bryce Dallas Howard untuk memerankan Gwen Stacy. Sosoknya bener2 mirip banget dengan gambaran Gwen Stacy di komik selama ini, lengkap dengan bibir sexy dan mata kucingnya. Coba bandingin sendiri:  Secara umum hasil karya mereka dalam memilih pemain sangat memuaskan, Tobey pas banget memerankan sosok Peter Parker yang cenderung nerd dan nggak terlalu menganggap diri super, apalagi keputusan mengajak Rosemary Harris sebagai Bibi May, pas buanget! Gue cuma nggak setuju sama Kirsten Dunst sebagai MJ - karena menurut gue seharusnya sosok MJ jauh lebih 'hot' dari yang diperankan Kirsten. Tokoh MJ di komik itu seharusnya super-model, lho! Kehadiran Thomas H Church awalnya sedikit membuat gue risih karena masih terbayang-bayang peran dodolnya sebagai Lowell di serial tivi "Wings". Tapi seiring berjalannya film, aktingnya semakin meyakinkan kok. Sedangkan Topher Grace sebagai Venom... hmmm.... seharusnya yang namanya Eddie Brock itu badannya jauh lebih gede - mirip binaragawan gitu (coba aja perhatiin di komik, badan Venom selalu digambarkan jauh lebih gede dari Spiderman). Yang gue suka dari film ini adalah, walaupun muatan cerita yang mau disampaikan cukup banyak, semuanya bisa disampaikan secara runut. Selama ini kan gue sering merewelkan kaitan sebab-akibat antar adegan, seperti "loh, kok tiba2 tokohnya melakukan itu? kenapa? apa latar belakangnya? dst- dst", nah di film Spiderman 3 pertanyaan rewel tersebut lumayan mendapat jawaban yang memuaskan. Tapi walaupun mampu bercerita dengan enak, tetep aja menurut gue film ini akan jauh lebih fokus kalo super-villainnya dikurangi. Seharusnya fokus aja antara Spiderman vs. Venom, nggak usah pake ada Sandman segala. Masalahnya, sebagai sutradara Sam Raimi punya penuh menentukan lakon dan personally dia nggak suka sama karakter Venom. Maka buat para penggemar Venom siap-siap kecewa ya liat tokoh ini tampil rada cemen dan terlalu 'lemah' untuk ukuran seorang Venom. Soal special effects, ah udahlah nggak usah dibahas lagi. Top banget. Gerakan symbiotes-nya persis sama seperti yang selama ini digambarkan di komik - cair tapi lengket. Dan nggak cuma mengandalkan SFX yang canggih, tapi juga kreatif mengolah latar belakang sebuah peristiwa sehingga jadi adegan yang menegangkan. Contohnya adegan crane ngamuk yang membabat gedung tetangga: perhatikan urutan kerusakan yang dibuat oleh crane - makin lama bikin situasinya makin tegang dan sulit ditangani! Pertanyaannya sekarang adalah; film ini bener-bener nggak menyisakan nafas buat sequel Spiderman berikutnya. Venom sebagai super-villain paling populer udah dikeluarin, lantas siapa dong yang bakal tampil sebagai super-villain di Spiderman 4? Atau Sam Raimi memang berencana mengakhiri sequel Spiderman di nomor 3 aja? 
 | Category: | Movies | | Genre: | Sports |
Serial "Rocky" berawal dari film Rocky pertama yang dirilis tahun 1976. Film itu langsung melejitkan nama Stallone yang waktu itu masih anak bawang dan masih cari sesuap nasi dengan main film bokep* sebagai bintang papan atas Hollywood. Nggak tanggung-tanggung, film Rocky itu dinominasikan untuk 7 kategori Oscar, dan berhasil memenangkan 3 di antaranya - termasuk kategori "Film Terbaik" Tapi sejak kesuksesan itu, otak dagang Stallone berputar lebih kenceng dari otak artistiknya sehingga berkembang-biaklah film Rocky jadi sequel-sequel yang makin lama makin nggak dilirik oleh para kritikus film sekalipun sukses secara komersial. Walaupun gue sendiri suka banget nonton Rocky IV tapi harus diakui film itu nggak lebih dari sebuah video-clip berdurasi panjang. Musiknya keren, gambarnya seru, tapi nggak ada ceritanya. Yang paling parah adalah Rocky V: udah dicaci-maki kritikus, nggak sukses pula di pasaran. Stallone sendiri mengakui, dia rada asal-asalan waktu menggarap film itu. Makanya waktu akhir tahun 2003 terdengar kabar Stallone mengajukan proposal untuk membuat film "Rocky VI" banyak fansnya yang berkomentar, "Ah sudahlah boss... apa lagi sih yang mau dibahas?" Umur Stallone udah lebih dari 50 tahun, dan kayaknya nggak terlalu banyak orang yang antusias ngeliat petinju keriput berdarah-darah. Udah gitu bocoran plot yang beredar di banyak forum penggemar Rocky juga nggak terlalu menarik, yaitu tentang Rocky tua yang mengelola sekolah tinju dan harus berhadapan dengan sekelompok berandalan yang mau mengganggu anak didiknya. Mungkin yang terdengar antusias dengan rencana pembuatan film Rocky VI cuma aktor Dolph Lundgren, yang pernah jadi Ivan Drago - petinju Soviet di film "Rocky IV". Lundgren yang sempet ngerasain hidup rada enak waktu main Rocky IV memang sekarang lagi terjerumus ke lembah nista perfilman kelas B** - nggak heran kalo dia berharap banget diajak.  Adegan puncak: Rocky vs. Dixon Sejak 2003 itu gue nggak denger lagi kabar-kabar tentang rencana Rocky VI, sampe tau2 2 minggu yang lalu gue ngeliat poster film berjudul Rocky Balboa terpajang di bioskop. Wah, inikah Rocky VI? Ngeliat poternya yang sederhana banget, gue tadinya nggak terlalu berharap film ini akan bagus. Tapi waktu gue cek IMDB.com... weits.... dapet skor 7.5 / 10 dari para pengunjung! Kalo statistiknya diliat lebih lanjut, malah makin keren lagi: 40% dari 20 ribuan orang yang udah nonton film ini ngasih skor 10, plus 14% lainnya ngasih skor 9. Artinya 54% penonton "Rocky Balboa" berpendapat film ini buagus buanget! Setelah beberapa kali gagal nonton, akhirnya hari ini berhasil juga. Kayaknya udah di detik-detik terakhir penayangannya di bisokop Jakarta karena yang muter film ini cuma bioskop Pondok Indah dan Gajah Mada Plaza. Gue pilih yang terakhir. Seperti yang digambarkan oleh posternya, film ini mencoba menggambarkan kehidupan Rocky yang sederhana setelah pensiun jadi petinju. Adrian, istrinya, digambarkan udah meninggal tahun 2002, dan sekarang Rocky mengelola sebuah restoran kecil yang dinamai "Adrian's". Anaknya udah ngantor di kantor bagus, pake dasi. Pokoknya, dia udah hidup tenang deh. Sementara itu, ring tinju lagi dikuasai sama petinju bernama Mason Dixon (diperankan oleh Antonio Tarber - petinju betulan - terakhir dikalahkan oleh Bernard Hopkins Juni 2006 lalu) yang udah mulai kurang diminati akibat penonton bosen liat dia menang melulu. Pada suatu hari, sebuah stasiun TV iseng menayangkan sebuah film animasi simulasi komputer***; apa yang akan terjadi kalo Mason Dixon melawan Rocky Balboa. Simulasi komputer menunjukkan Rocky akan berhasil mengalahkan Dixon. Manager Dixon melihat acara ini sebagai peluang untuk mengangkat pamor anak asuhnya, dan menawari Rocky untuk merealisasikannya. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain't how hard you hit; it's about how hard you can get hit, and keep moving forward. =Rocky Balboa= Stallone bilang, dia mau film Rocky yang terakhir ini punya 'feel' yang sama dengan Rocky yang pertama dulu: drama kemanusiaan dengan latar belakang dunia tinju - dan dengan takjubnya gue menyaksikan bahwa dia berhasil! Film ini beda banget dengan Rocky II - V yang cuma menjual serunya pukul-pukulan dengan lawan yang makin lama makin sangar plus kehidupan mewah Rocky sebagai petinju sukses (jgn2 Raam Punjabi sempet tanem saham di serial Rocky?). Di film ini Stallone berperan sebagai penulis naskah, sutradara, dan aktor secara sangat berhasil. Dialog-dialognya cerdas banget, nggak ngebosenin karena berulangkali mengajak penonton ngeliat permasalahan dari berbagai sudut. Simak antara lain dialog antara Rocky dan anaknya di luar resto "Adrian's", waktu anaknya menyatakan keberatan bapaknya naik ring lagi. Juga dialog antara Rocky dan Little Marie waktu Rocky nawarin kerja di restonya. Kalo dulu sequel-sequel Rocky selalu menawarkan tema "underdog yang pasti berhasil menang walaupun berdarah-darah asalkan rela berlatih habis2an", film ini mengemasnya dalam paket yang jauh lebih dalam dan menyentuh. Keren deh pokoknya! Buat fans film Rocky, terutama film yang pertama, akan merasa lega karena Rocky kembali jadi manusia - bukan sekedar merchandise. Di film2 Rocky sebelumnya, hasil pertandingan tinjunya selalu mudah ditebak - pastilah Rocky memang lagi - tapi ngeliat kondisi Rocky yang udah uzur gini, penonton nggak bisa seyakin dulu dan malah bikin ending film ini makin menegangkan. Buat yang gampang terharu, siapin tisu yang banyak karena ada banyak adegan mengharukan di film ini. Buat penggemar tinju, film ini menyajikan adegan tinju yang jauh lebih realistik daripada film-film Rocky sebelumnya (Sorry, adegan banting-bantingan seperti yang muncul di Rocky IV nggak bakal ada di sini). "Rocky Balboa" bisa jadi tontonan buat semua orang, maka nggak heran kalo film yang dibuat dengan budget 24 juta dollar ini udah berhasil mendatangkan pemasukan kotor (internasional) sebesar nyaris 750 juta dollar! Buat yang jadi tertarik nonton film ini, buruan, udah tinggal 2 bioskop lho yang masang. *Film porno yang pernah dibintangi oleh Stallone diedarkan ulang setelah Stallone ngetop dan dijuduli "The Italian Stallion" - julukan bagi tokoh Rocky Balboa dalam serial Rocky. Buat yang mau nonton film tersebut, silakan download di sini. **"B-Movie" adalah julukan untuk film-film berbudget DAN berkualitas rendah. Tapi nggak semua film berbudget rendah adalah B-Movie lho, sebab banyak juga kok yang bagus. ***Tahun 1970 pernah ada film yang dibuat berdasarkan perhitungan data komputer atas statistik Muhammad Ali dengan juara kelas berat yang nggak pernah terkalahkan, Rocky Marciano. Film itu diperankan langsung oleh kedua tokoh tersebut, dan hasil akhirnya adalah Marciano berhasil meng-KO Ali di ronde ke 13. Ali mengomentari "kekalahannya" itu dengan bilang, "Komputernya pasti buatan Alabama". Referensi: 
 | Category: | Music | | Genre: | Pop | | Artist: | Kelly Clarkson |
Y a ya ya, lagu ini memang udah basi. Dirilis bulan November 2005, trus gue baru heboh sekarang, gitu? Ke mana ajaaaa... Biarin, belakangan ini gue lagi seneng2nya sama lagu ini, yang mana memang baru berhasil gue dapatkan di belantara MP beberapa hari yang lalu. Waktu pertama kali denger lagu ini, kirain temanya nggak beda jauh sama "Because of You"-nya Keith Martin. Yah, nggak jauh dari gombal-gombalannya orang yang lagi cinta2an gitu deh! Tapi setelah gue dengerin sekali... dua kali... hmm... ntar dulu deh, kayaknya si Kelly Clarkson di lagu ini ngomongin hal yang sama sekali beda dengan Keith Martin. Coba deh simak lirik lagunya: Because of You I will not make the same mistakes that you did I will not let myself Cause my heart so much misery I will not break the way you did, You fell so hard I've learned the hard way To never let it get that far Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side so I don't get hurt Because of you I find it hard to trust not only me, but everyone around me Because of you I am afraid I lose my way And it's not too long before you point it out I cannot cry Because I know that's weakness in your eyes I'm forced to fake A smile, a laugh everyday of my life My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side so I don't get hurt Because of you I find it hard to trust not only me, but everyone around me Because of you I am afraid I watched you die I heard you cry every night in your sleep I was so young You should have known better than to lean on me You never thought of anyone else You just saw your pain And now I cry in the middle of the night For the same damn thing Because of you I never stray too far from the sidewalk Because of you I learned to play on the safe side so I don't get hurt Because of you I try my hardest just to forget everything Because of you I don't know how to let anyone else in Because of you I'm ashamed of my life because it's empty Because of you I am afraid Because of you Because of you Isi lagunya kayak lagi nyalahin seseorang gitu. Siapa sih yang dia maksud? Buat siapa sebenernya lagu ini ditujukan? Feeling gue sih lagu ini ditujukan buat orang tuanya, tapi untuk lebih pastinya lebih baik nanya sama google, kan? Hm... gue mulai penasaran. Cari punya cari, akhirnya gue sampe di sebuah situs blogcritics.org yang mereview lagu ini dengan komentar sbb: Clarkson details the emotionless person who raised her. If she was unsure of what to do and felt lost, she would be scolded for it. If she cried in front of the person, she would be berated for showing emotion. Ok deh. mungkin bener lagu ini adalah curhat seorang Kelly Clarkson tentang orang tuanya, tapi biar lebih afdol mending kita simak interview di situsnya EMI Music Publishing: Because Of You: written by Clarkson, Ben Moody, & David Hodges. "'Because Of You' isn't about breakups, it's about my family. It is about growing up in a broken home. My parents were together for 17 years or so, and then all of the sudden, something went wrong. But I've talked to lots of friends who have seen domestic violence in their homes; I didn't. But if you see those things as a child, you see a family member cheating or people not trusting each other or people not communicating with each other, that effects you. You end up afraid to trust people, because you think you're going to get screwed over. Me and a friend of mine were up late one night talking about our lives, and it led to this song. I wrote it when I was 16, my friend was having a really hard time with her family. It was a different situation than mine, but I could relate to what she was going through. My parents were together for a long time, and suddenly one thing happens, and it's over. That could happen to me. It made me feel like, why would I want to open up and trust someone? I know that it's a childish way to look at it; life is a risk, and anything worth having is worth taking a risk for, but I wrote it when I was 16. I have learned a lot since then. At the same time, it doesn't matter how old you are, you can still relate. I was 6 when my parents got divorced. I used to be the most closed off person. I didn't want to get hurt. I had been messed over by friends, and I had been through a lot with my family. I didn't pity myself, but I did put a wall up. I'm smarter now, but I have a good relationship with God, and that's gotten better over the years. That's why I've gotten smarter about situations. I'm a very trusting person now. I'm not going to let people screw me over left and right, but at the same time I'm not going to close myself off. That's a big step for me." Pantesan lagu ini terasa begitu "real" - wong pengalaman pribadi penyanyinya. Tanpa terlalu harus terlalu disimak apa isi liriknya, Kelly Clarkson berhasil mengekspresikan kegetiran dan kemarahannya lewat permainan vokalnya. Bagian yang paling gue suka adalah: You never thought of anyone else You just saw your pain And now I cry in the middle of the night For the same damn thing Kata-katanya keren abis! Dan lagu ini juga bukan lagu yang gampang untuk dinyanyiin iseng2 di karaoke, saking banyaknya bait-bait panjang yang bisa bikin kagok waktu mau narik nafas. Pemenggalan katanya juga terasa 'aneh' di beberapa bagian, tapi kok ya enak aja didenger. Contoh bagian yang ini nih, coba deh nyanyiin bagian yang ini tanpa denger lagu aslinya: My heart can't possibly break When it wasn't even whole to start with Kesimpulannya, sampe beberapa minggu mendatang kayaknya lagu ini masih bakalan menduduki tangga teratas di playlist winamp gue :-) Mau download lagu-lagunya Kelly Clarkson? Coba klik... 
 | Category: | Movies | | Genre: | Science Fiction & Fantasy |
==WARNING== Buat yang baca review ini untuk nyari referensi apakah film "Superman Returns" layak tonton atau enggak, gue sarankan jangan terusin baca. Penulisnya udah terlalu bias untuk menilai film ini secara obyektif. G ue baru bisa memaafkan Gene Hackman di film "Behind Enemy Lines" (2001) waktu dia berperan sebagai komandan yang rela mempertaruhkan jabatan demi menyelamatkan seorang anak buahnya. Sebelum itu, gue dendam kesumat sama dia, gara-gara perannya sebagai Lex Luthor di 3 film Superman. Sebegitu kuatnya efek film Superman buat gue, sampe bisa bikin gue sebel liat tampang aktor pemeran penjahatnya! Film "Superman Returns" ini udah seru sejak proses pembuatannya. Bayangin, sutradaranya sampe gonta-ganti 3 kali, belum lagi kehebohan waktu milih pemerannya. Satu nama yang sempet berkibar untuk memerankan adalah Nicolas Cage, yang gue sambut dengan "aduh... jangan dia dong... jangan dia... " Bukan apa2, masa Superman kok tua dan setengah botak gitu? Selain Cage, nama-nama seperti Josh Hartnett (Pear Harbour), Paul Walker (the Fast and the Furious), Brendan Fraser (Bedazzled), David Boreanaz (TV seri Angel), dan Jerry O' Connell (TV seri My Secret Identity dan Sliders) juga sempet dicasting untuk berperan sebagai Superman. Semuanya gagal; yang mana membuat gue sangat lega karena nggak ada satupun yang pantes meneruskan tahta Christopher Reeve. Hartnett terlalu bloon, Walker terlalu berandalan, Fraser terlalu komedi, Boreanaz terlalu "oh lihatlah daku nan cool dan sexy", dan O'Connell... bahkan nampak lebih bloon dari Hartnett. Sutradara Bryan Singer yang dibajak di tengah proyek film X-Men 3 ngotot nyari pemeran Superman yang belum terkenal, seperti dulu Christopher Reeve juga bukan siapa-siapa sebelum main Superman. Untunglah tahta Superman akhirnya jatuh ke tangan orang yang menurut gue cukup 'pantes' yaitu Brandon Routh. Lucunya, si Brandon ini yang sebelumnya bekerja sebagai bartender di sebuah tempat boling pernah memenangkan hadiah $100 dalam sebuah lomba kostum - di mana dia berperan sebagai Clark Kent! Routh punya bentuk muka dan postur tubuh yang rada mirip dengan Reeve. Eh... bentar, baru sadar nih: pemeran Superman yang dulu inisialnya "C.R.". Yang sekarang "B.R.". Berarti... buat yang punya nama Agus Rusmiyanto, Arif Rohmad, dan Alex Reksadiputra, serta yang punya nama berinisial A.R. lainnya, siap2 dari sekarang deh. - siapa tau kepilih sebagai pemeran di sequel film Superman tahun 2009. **garing** Tapi biarpun gimana, tetep the best Superman buat gue adalah Christopher Reeve. Selain mirip dengan penggambaran tokoh Superman di komik, dia juga cocok memerankan tokoh "pembela kebenaran" karena sorot matanya yang simpatik, sikap yang "don't worry, everything's going to be all right" dan gerak-geriknya yang 'berwibawa' (halah). Sedangkan di tangan Routh, Superman menjelma jadi sosok yang lebih manusiawi, punya ego sebagai lelaki yang nggak kepingin kalah bersaing dengan lelaki lain, bahkan sedikit narsis. Keliatannya emang tren film belakangan ini begitu, ya? Berusaha memanusiakan para superhero. Lex Luthor di film ini diperankan oleh Kevin Spacey (Pay It Forward, Dr. Evil di Austin Powers: Goldmember). Dia berhasil menghidupkan Lex Luthor yang lebih kompleks ketimbang versi Gene Hackman. Kalo ditonton lagi sekarang, Luthor versi Hackman itu sangat komik banget, lebih banyak konyolnya ketimbang jahatnya. Apalagi kalo udah muncul berdua dengan sidekicknya, si Otis. Sedangkan Spacey memerankan Luthor yang lebih berdarah dingin, licik dan berbahaya. Lois Lane... ah, kenapa juga harus Kate Bosworth yang meranin. Menurut gue dia sama sekali nggak meyakinkan sebagai reporter senior yang pernah menang Pulitzer. Gayanya mirip mbak-mbak kantoran biasa, bagian keuangan, administrasi, atau sejenisnya. Kalo gue disuruh jadi bagian casting, gue akan menunjuk Evangeline Lily, yang lagi naik daun di serial televisi "Lost". Cantik, nampak pintar, gesit, serta cukup atletis. Liat aja sendiri. Ok, cukup dengan para pemainnya. Sekarang tentang cerita filmnya sendiri. Diceritakan, Superman habis ngilang dari muka bumi selama 5 tahun. Gara-garanya para ahli menemukan tanda-tanda bahwa Planet Krypton, kampung halaman Superman, masih ada. Maka superman pergi ke sana, berharap masih ada sanak keluarga yang selamet barang satu - dua orang. Ternyata dia pulang lagi ke rumah keluarga Kent di Kansas dengan tangan hampa. Lucu, seinget gue di film Superman yang versi Reeve dulu diceritain bahwa Bapak dan Ibu Kent udah meninggal dua-duanya. Tapi... ya sud lah, suka-suka si Bryan Singer mau bikin cerita gimana, kan? Gara-gara Superman pergi kelamaan, Lois Lane udah keburu 'tunangan' dengan seseorang dan punya anak satu. Yah seperti kata tokoh Doni di film Jomblo, "Cinta mungkin bisa melakukan segalanya, kecuali satu: cinta tak bisa menunggu" (halah lagi). Sementara itu, Lex Luthor berhasil bebas dari hukuman dan mulai menyusun rencana jahat. Dia berhasil menemukan rahasia kryptonite dari serpihan meteorit yang jatuh di Addis Ababa, Ethiopia. Tolong koreksi kalo salah ya, tapi seinget gue di salah satu episode serial "Smallville" pernah diceritakan tentang meteorit mengandung kryptonite yang jatuh di sana - kayaknya si Singer sengaja memasukkan detil ini sebagai trivia. Akhirnya, tentu aja Luthor memanfaatkan penemuan ini untuk mencoba mengalahkan Superman. Berhasilkah Superman menghentikan rencana jahat Luthor? (halaaaah...!) Menurut gue, ide membuat Lois Lane udah terikat dengan seseorang bahkan udah punya anak segala adalah ide yang kreatif banget. Setting ini memungkinkan cerita berkembang ke berbagai arah, serta menjanjikan sequel yang (mudah2an) nggak terlalu mengada-ada. Adegan klasik Superman menyelamatkan pesawat jatuh juga diolah secara kreatif. Kalo di film2 Superman terdahulu penyebab pesawat jatuhnya paling cuma karena mesin mogok atau kesamber gledek (adegan ini muncul dalam berbagai versi film Superman, baik film animasi maupun film orang). Sedangkan di film ini pesawatnya mogok akibat Luthor iseng main2 dengan kristal ajaib milik Superman. Udah gitu, bukan cuma satu pesawat yang harus ditolong, melainkan dua. Pokoknya, seru deh! Dan oh ya, satu lagi: gue bersyukur banget Singer nggak mengganti main theme-nya. Main theme yang dipake masih milik film Superman yang lama, ciptaan John Williams. Tuh lagu emang cocok banget menggambarkan kehebatan Superman, dan saking semangatnya mau nonton Superman gue nyanyiin 8 not pertamanya berkali-kali sejak dua hari sebelum nonton - bikin semua orang di sekitar gue serasa ingin gila. Anyway, gue kasih 4 bintang untuk film ini. 5 bintang hanya gue kasih kalo pemeran Lois Lane-nya Evangeline Lily. Referensi: 

S iang tadi, kalo nggak salah setelah makan siang, Ida nelepon ke kantor.
"Yaaangggg... perutku makin besar nih, kayaknya sebentar lagi udah mau lahir!"
"Yang bener?"
"Iya! Hiii... senangnya, sebentar lagi kita akan punya anak sih..."
(seperti biasa dengan peletakan 'sih' yang kurang tepat intonasi -
mirip orang mengucapkan 'tuh').
"Kamarnya udah disiapin belum?"
"Udaaah... ! Tapi, aku ngelahirinnya nunggu kamu pulang kantor aja deh."
"Iya...!"
Tapi, waktu sorenya gue sampe di rumah...
"Yang... akunya udah ngelahirin sih, maaf ya nggak nungguin suami..."
"Hah? Anaknya laki atau perempuan?"
"Perempuan. Aku kasih nama Sarah. Nggak papa ya?"
"Ya udah deh terserah."
"Tadinya aku mau nunggu kamu ngasih nama, tapi pikir-pikir.. masa ngasih nama anak di mainan aja pake nunggu suami...."
Ya, dialog2 ajaib di atas mulai sering terdengar sejak hari Sabtu yang
lalu, di mana gue akhirnya berhasil menginstall game "The Sims 2 - University"
di komputer. Dulu gue pernah menginstall "The Sims 2" yang original
version, tapi setelah tokohnya makin banyak rupanya game itu makin
memakan tempat sehingga waktu nunggu loading awal bisa ditinggal
bikin Indomie dulu saking lamanya. Sekarang setelah punya ruang
harddisk yang lebih lega, gue memberanikan diri menginstall ulang game
itu plus extension packnya, dan ternyata berhasil...!
Sejak game itu sukses terinstall, maka isi obrolan antara gue dan Ida
yang selama ini udah cukup aneh jadi semakin ajaib. Misalnya,
"...masa tadi waktu aku lagi flirting sama tetangga, kamu marah, trus aku digaplokin sih..."
atau
"...aku sekarang makin jago masak lho! Kamu mau aku masakin babi panggang?"
atau
"...ck, payah nih, uangnya pas-pasan, padahal aku kan ingin beli bass sih...."
atau
"...hehehe, tadi waktu kamu main ke rumah, aku suruh masak!"
Mungkin kalo ada orang numpang nguping bisa bingung kali.
Yang baru dari The Sims 2 - University ini adalah, pemain bisa
mensimulasikan kehidupan mahasiswa yang tinggal di asrama. Selain itu
juga ada menu "inlfluence" di mana kita bisa nyuruh tokoh lain
melakukan sesuatu - mulai dari masak, bersih-bersih rumah, sampai
reparasi barang rusak!
(sekedar posting nggak penting menyambut kelahiran anak kami di dunia The Sims...)
image dari clipartheaven.com

| |