Agung's posts with tag: family
 Menjelang rencana renovasi rumah, salah satu wacana yang mengemuka di keluarga gue adalah soal perlu - enggaknya menutup sumur tua di belakang. "Dulu memang sudah ada rencana menutup sumur itu, soalnya sempet makan korban lho..." kata Ibu. "Hah, siapa?" tanya gue. "Kucing. Duluuu... waktu baru pindah ke rumah ini (yaitu sekitar tahun 60-an) Ibu dikasih kucing bagus sama eyang, eh tau-tau kucingnya nyemplung sumur itu." "Mati?" "Ya mati, lah! Sayang banget, padahal kucingnya bagus." Aneh, kucing kan terkenal sebagai binatang yang cekatan, kok bisa segitu begonya sampe nyemplung ke sumur, sih? "Trus gimana caranya Ibu bisa tau bahwa kucingnya ada di dalem sumur?" "Ya kan seperti biasa, pagi-pagi ibu buatin rebusan kangkung buat makanannya, ibu panggil-panggil kucingnya, nggak dateng-dateng..." "Bentar... bentar... makanan kucingnya rebusan kangkung?" "Iya. Kenapa?" "Pantesan dia nyemplung sumur!" "Apa hubungannya sih! Memang dia sukanya makan kangkung kok!" "Itu kan menurut ibu, padahal mungkin diam-diam dia frustrasi. Pikirnya , 'percuma aku jadi kucing, di sini aku diperlakukan seperti kelinci... dikasih makan kangkung tiap hari... lebih baik aku mati dalam sumur ini... selamat tinggal dunia... AAAAAAAAA......' ...huhuhuhu..!" "...bocah gendeng" foto kucing gue pinjem dari sini
Link: http://www.planetholiday.co.idB aru-baru ini, kakak gue memulai usaha kecil-kecilan yaitu mengambil alih sebuah biro perjalanan bernama Planet Holiday (baru tadi siang gue googling dan nemu banyak banget biro perjalanan bernama sama, hehehe...). Planet Holiday yang ini nggak ada hubungan apapun dengan Planet Holiday lainnya, apalagi dengan Planet Holywood. Gue tentunya berusaha turut bantu-bantu sesuai kebisaan gue, yaitu bikinin website. Yah tentunya sebisanya gue aja, namanya juga baru pertama kali bikin website yang bener-bener dari nol. Masih cupu banget, bener2 HTML murni tanpa script apapun soalnya urusan PHP baru sampe level beli bukunya dan download Apachenya, masih jauh deh perjalanan ini. Kalo iseng, tolong ya website pertama gue ini ditengok-tengok. Masih terus diupdate, jadi jangan heran kalo cuma nemu 3 paket wisata di sana. Aslinya sih banyaaak, guenya aja yang belum sempet masukin ke situ. Oh iya, kalo ada kritik / saran tentang desain webnya, entah loading time yang terlalu lelet, gambar yang garing, huruf yang sulit dibaca, peletakan yang norak, pokoknya apapun, jangan sungkan-sungkan, kirim langsung ke gue yak! Sedangkan kalo ada yang mau nanya-nanya soal paket wisata, mending langsung kontak aja ke 021-650-9999. Nanti tiketnya bisa diantar ke tempat, gratis! Trivia: foto pantai yang jadi headernya itu, berasal dari album yang ini. 

H
ari ini, ibu membuat satu kemajuan lagi, yaitu
jalan-jalan makan di luar rumah, untuk pertama kalinya sejak hampir 4 bulan
terakhir. Sepulang dari rumah sakit untuk fisioterapi, gue, kakak gue, dan Nara, keponakan gue yang
baru kelas 6 SD mampir di Satay House Jl. Kebon Sirih.
Berkat latihan berkali-kali dan kondisi ibu yang udah makin Ok, proses
menurunkan ibu dari mobil ke kursi roda berjalan kurang dari 1 menit (itu
termasuk waktu untuk membuka lipatan kursi rodanya lho!). Setelah ibu berhasil
diturunkan, kakak gue cari parkir sementara Nara mendorong kursi roda ibu ke
arah pintu masuk.
Di depan pintu masuk, ternyata ada halangan berupa sebuah undak-undakan
setinggi ± 15cm.
"Wah gimana nih gung nggak bisa lewat," kata ibu mulai pesimis. "Bisa
dong, tinggal diangkat sedikit roda depannya," kata gue, stil yakin seperti
biasa.
Dengan berpegangan pada rangka kursi roda, kedua roda depan berhasil gue
naikin ke atas undakan.
"Ok Nara, sekarang dorong kursinya sambil Oom Agung tarik dari depan nih,"
kata gue. Nara berusaha mendorong sekuat tenaga tapi rupanya masih kurang kuat
untuk membuat kursi rodanya beringsut naik. Tadinya sempet terpikir untuk
tukeran posisi dengan Nara, gue yang dorong dari belakang sementara dia narik
dari depan, tapi tiba-tiba muncul 4 orang dari arah belakang - nampaknya seperti
sekeluarga bapak, ibu dan dua anak perempuan umur 20-an yang manis-manis. Belum
sempet gue berganti posisi, kedua cewek ini dengan sigapnya mengambil alih
pegangan kursi roda dan mengangkatnya hingga berhasil naik ke undakan!
Wah, surprisenya gue, ketemu lagi dengan orang baik di kota metropolitan ini.
Buru-buru gue bilang terima kasih dan tau nggak, detik pertama setelah peristiwa
tersebut terjadi, gue langsung keinget sama seseorang. Ah seandainya ada elu Riq, udah langsung gue jodohin deh.
Orang cantik mah banyak, orang baik lumayan banyak, orang cantik yang baik hati? Hampir punah.
Buat kalian, para penumpang BMW 323 warna maroon dengan plat nomor B
2-sekian-sekian D-sekian yang mampir di Satay House Kebon Sirih sekitar jam 3
siang tanggal 12 Agustus 2006, terima kasih banyak ya. Semoga Tuhan membalas
berlipat ganda, amin. Kalo ada di antara pembaca yang kenal dengan keluarga itu,
tolong sampein terima kasih gue ya!
Foto dari sini

H
ari ini, ibu membuat satu kemajuan lagi, yaitu
jalan-jalan makan di luar rumah, untuk pertama kalinya sejak hampir 4 bulan
terakhir. Sepulang dari rumah sakit untuk fisioterapi, gue, kakak gue, dan Nara, keponakan gue yang
baru kelas 6 SD mampir di Satay House Jl. Kebon Sirih.
Berkat latihan berkali-kali dan kondisi ibu yang udah makin Ok, proses
menurunkan ibu dari mobil ke kursi roda berjalan kurang dari 1 menit (itu
termasuk waktu untuk membuka lipatan kursi rodanya lho!). Setelah ibu berhasil
diturunkan, kakak gue cari parkir sementara Nara mendorong kursi roda ibu ke
arah pintu masuk.
Di depan pintu masuk, ternyata ada halangan berupa sebuah undak-undakan
setinggi ± 15cm.
"Wah gimana nih gung nggak bisa lewat," kata ibu mulai pesimis. "Bisa
dong, tinggal diangkat sedikit roda depannya," kata gue, stil yakin seperti
biasa.
Dengan berpegangan pada rangka kursi roda, kedua roda depan berhasil gue
naikin ke atas undakan.
"Ok Nara, sekarang dorong kursinya sambil Oom Agung tarik dari depan nih,"
kata gue. Nara berusaha mendorong sekuat tenaga tapi rupanya masih kurang kuat
untuk membuat kursi rodanya beringsut naik. Tadinya sempet terpikir untuk
tukeran posisi dengan Nara, gue yang dorong dari belakang sementara dia narik
dari depan, tapi tiba-tiba muncul 4 orang dari arah belakang - nampaknya seperti
sekeluarga bapak, ibu dan dua anak perempuan umur 20-an yang manis-manis. Belum
sempet gue berganti posisi, kedua cewek ini dengan sigapnya mengambil alih
pegangan kursi roda dan mengangkatnya hingga berhasil naik ke undakan!
Wah, surprisenya gue, ketemu lagi dengan orang baik di kota metropolitan ini.
Buru-buru gue bilang terima kasih dan tau nggak, detik pertama setelah peristiwa
tersebut terjadi, gue langsung keinget sama seseorang. Ah seandainya ada elu Riq, udah langsung gue jodohin deh.
Orang cantik mah banyak, orang baik lumayan banyak, orang cantik yang baik hati? Hampir punah.
Buat kalian, para penumpang BMW 323 warna maroon dengan plat nomor B
2-sekian-sekian D-sekian yang mampir di Satay House Kebon Sirih sekitar jam 3
siang tanggal 12 Agustus 2006, terima kasih banyak ya. Semoga Tuhan membalas
berlipat ganda, amin. Kalo ada di antara pembaca yang kenal dengan keluarga itu,
tolong sampein terima kasih gue ya!
Foto dari sini
 K eputusan untuk memulangkan ibu dari
rumah sakit di awal Juni lalu sebenernya sangat dilematis. Di satu
sisi, kondisi ibu masih jauh dari sembuh dan di Makassar ibu ditangani
tim dokter yang kinerjanya sangat memuaskan. Seharusnya ibu masih terus
dirawat di sana. Tapi di sisi lain, ibu nampak stress ingin segera
pulang ke Jakarta. Kalau sedang demam tinggi, kadang ibu mengingau
ngomong sama kursi kosong seolah-olah salah satu anaknya dari Jakarta
duduk di situ. Dari hari ke hari kondisi ibu fluktuatif. Kalo hari ini
nampak membaik, bisa ngobrol dan ketawa-ketawa, besokannya bisa tiba2
panas tinggi hingga lewat dari 39 oC dan mengigau. Akhirnya,
tanggal 9 Juni kami mengambil keputusan berat itu: memulangkan ibu ke
Jakarta. Sebuah perjalanan yang sangat sulit mengingat masih ada bekas
operasi yang belum mengering di tangan kanan dan kaki kiri ibu. Tangan
dan kaki yang sakit itu bengkak parah Jangankan digerakkan, kesenggol
bantal aja ibu bisa berteriak-teriak kesakitan. Bayangin effort yang
harus dikeluarkan untuk mengangkut ibu dari RS ke airport, memapah naik
ke pesawat, menurunkannya lagi, menaikkan ke mobil dan menurunkan dari
mobil sesampainya di rumah di Jakarta. Waktu ibu sampai di
Jakarta, kami anak-anaknya sempet berunding mempertimbangkan perlu atau
enggaknya menyewa tenaga perawat profesional untuk merawat ibu di
rumah. Kalau ditimbang dari segi kebutuhan, kehadiran seorang perawat
jelas sangat perlu karena nggak ada seorangpun di antara kami yang
berpengalaman merawat pasien dalam kondisi sulit bergerak seperti ibu.
Tapi kami juga mempertimbangkan faktor psikologis ibu yang sebagaimana
umumnya orang tua udah nggak mudah lagi beradaptasi dengan kehadiran
orang baru. Gimana kalo ternyata perawat yang kami hire kurang berkenan
di hati ibu? Atau, gimana kalau ibu malah merasa anak2nya udah nggak
sudi lagi merawatnya sehingga menyerahkannya ke tangan suster?
Bisa-bisa malah bikin ibu tambah stress! Akhirnya dengan mengucap Bismillah, kami memutuskan untuk mencoba merawat ibu sendiri. Kami
langsung saling membagi tugas. Kakak gue yang nomer dua bertugas
menyiapkan sarapan dan memandikan ibu, bergantian dengan kakak gue yang
nomer satu. Ida juga membantu, memasak dan menyiapkan makanan buat
ibu. Siang hari, keponakan2 gue yang baru pulang sekolah berkumpul
di kamar ibu, tidur-tiduran sambil ngoceh cerita pengalaman mereka hari
itu. Malem, giliran gue dan Ida atau kakak gue yang nomer dua tidur di
kamar ibu. Praktis 24 jam sehari ibu dikelilingi anak dan cucu.
Bagaimana dengan gue? Gue, dapet tugas
mengganti perban ibu dua kali sehari, cek gula darah, menyuntik
insulin, plus urusan angkat-mengangkat ibu rute tempat tidur - kursi
roda P.P. Awalnya, urusan ganti perban cukup stressful juga buat
gue karena sumpah deh, luka bekas operasi ibu khususnya yang di tangan
tuh ngeri banget. Diameternya lebih dari 1 cm gitu, dan tiap kali
perban dibuka ada darah segar mengucur. Kakak2 gue plus Ida pada takut darah, khususnya kakak gue yang nomer dua: dia kayaknya udah masuk kategori 'phobia'
karena tiap kali liat darah dia menunjukkan gejala2 mau pingsan. Jadi
nggak ada pilihan lain kecuali gue - yang mana juga nggak terlalu tega
juga sih liat darah, tapi masih mendingan lah ketimbang mereka. Minimal
gue pernah belajar tentang phobia dan panic attack jadi bisa mengindoktrinasi diri sendiri supaya nggak panik saat liat darah kayak air ngucur dari keran gitu. Walaupun
sekilas kelihatan sepele, tapi proses merawat orang sakit bener2 bukan
hal yang gampang bagi sekumpulan orang yang nggak berpengalaman seperti
kami. Proses mengantar ibu ke dokter untuk pertama kalinya,
misalnya, berjalan sangat heboh dan sulit. Waktu mau memindahkan ibu
dari kursi roda ke mobil, gue yang kebagian tugas mengangkat ibu jadi
serba salah karena pintu mobil membentuk sudut sempit yang sulit
dimasuki oleh kursi roda. Hasilnya, pulang dari dokter pinggang gue
keseleo dan kami jadi berkhayal, "coba punya mobil Toyota Alphard ya...
kan enak, pintunya geser..." tiap kali perban dibuka ada darah segar mengucur Tapi
hari demi hari, proses berjalan semakin mudah. Dari terapis yang datang
untuk memberikan fisioterapi, kami belajar gimana cara mengangkat dan
memindahkan ibu secara lebih cepat, aman dan nyaman. Gue mulai
mendapati kegiatan ganti-mengganti perban sebagai kegiatan yang seru.
Kayak main dokter2an, gitu. Gue pake masker kayak yang dipake dokter
kalo mau operasi, pake sarung tangan karet yang steril, dengan dalih
supaya luka ibu nggak kemasukan kuman - padahal diem2 ada faktor
"supaya pengalaman dokter2annya lebih real" aja sih.... hehehe...
Mungkin karena faktor psikologis berada di rumah dan
dikelilingi orang-orang yang dekat dengannya, perbaikan kondisi ibu
berjalan melebihi ekspektasi kami. Misalnya luka bekas operasi itu.
Dokter di Makassar memperkirakan, dengan pertumbuhan kulit baru sekian
milimeter per hari, luka sebesar itu baru akan menutup dalam 2 bulan.
Nyatanya, baru dua minggu ibu di rumah, gue sebagai tukang ganti perban
mulai kesulitan memasukkan gulungan perban ke luka ibu karena ukuran
luka yang semakin mengecil. Di akhir bulan Juni kemarin, alias baru 3
minggu sejak kepulangan ibu, gue takjub mendapati luka ibu udah
sepenuhnya
menutup! Suhu
ibu juga berangsur-angsur normal. Sebisa mungkin gue menekan penggunaan
obat penurun panas, jadi begitu suhu ibu udah melewati 37.5oC ibu gue kasih 4 butir VCO
kapsul. Tadinya ibu protes karena merasa lebih yakin pada obat
ketimbang VCO, tapi gue bilang, "Ya udah, coba dulu minum VCO, kalo
dalam 1 jam panasnya nggak turun baru minum obat deh..." Entah memang
karena khasiat VCO atau karena sugesti ngeliat gue yang ngomong dengan
stil yakin banget, biasanya cukup dengan minum VCO panas ibu merosot ke
level di bawah 37.5oC. Jangan lupa, untuk wilayah
Menteng, Kuningan, Thamrin dan Sudirman tersedia layanan antar gratis
untuk pembelian VCO - pesan sponsor. Di bawah
pengawasan mas fisioterapis, ibu juga terus berlatih menggerakkan
tangan dan kaki. Setiap malem ibu gue tanya, "Udah bisa apa hari ini?"
Kemajuan-kemajuan kecil seperti gerakan mengangkat tangan secara
horisontal atau memegang kue sendiri jadi momen istimewa. Gue
menyemangati ibu dengan cara membandingkan kemajuan yang berhasil
dicapai dengan kondisi sebelumnya, seperti "Inget nggak,
waktu baru sampe Jakarta, cuma kesenggol bantal aja udah sakit,
sekarang bisa megang gelas sendiri. Hebat, kan? Ayo latihan terus bu."
Selain itu, foto2 ibu selama di RS di Makassar gue tayangin ke tivi dan
gue komentarin, "Liat tuh bu, dulu ibu kayak gitu kondisinya... hiiy
ngeri banget.... coba liat sekarang, jauh banget kan
kemajuannya?" Kadang kalo lagi timbul putus asanya, ibu suka
bilang, "Nanti kalo anakmu lahir, apa aku bisa ya nengok ke rumah sakit
pake kursi roda?" yang gue jawab dengan "Lah, ngapain pake kursi roda,
bulan November ibu kan udah bisa jalan!" Rupanya cara motivasi seperti ini lebih berkenan buat ibu, sampe ibu pernah bilang "Orang sedunia*
pada ngoprak-oprak (ngejar-ngejar) aku, suruh cepet sembuh, cepet bisa
jalan, cuma Agung yang memberi semangat." Diam2 ternyata ibu bete
kalo ada orang yang mencoba menyemangati dengan mengatakan hal-hal
seperti "Ayo bu, cepet sembuh, biar kita bisa cepet jalan-jalan lagi"
atau "Cepet sembuh dong bu, kan bosen di tempat tidur terus?"
karena buat ibu terasa seperti pressure, seperti target yang
harus cepet diraih. "Emangnya siapa sih yang nggak mau cepet bisa
jalan, tapi apa lu nggak tau, gue udah berusaha tapi kondisi gue masih
seperti ini" mungkin begitu yang ada di benak ibu. Jadi pelajaran yang
bisa gue tarik saat menangani orang sakit adalah, Hargai
kemajuan sekecil apapun yang udah berhasil dicapai, dan jangan
membebani pikiran pasien dengan target muluk yang nggak usah diomongin
juga semua orang sakit ingin mencapainya. Hari ini, ibu kembali membuat milestone
karena berhasil jalan mengelilingi meja makan. Memang masih dengan
dipengangin oleh mas fisioterapis dan sebelah tangan masih berpegangan
ke meja, tapi ini sebuah lompatan besar untuk sebuah kondisi yang
menurut dokter di Makassar "lukanya aja baru akan kering setelah 2
bulan". Saat didudukkan kembali ke kursi roda, ibu
menengok ke sepasang sandalnya yang teronggok di sudut ruangan dan
bilang ke Lis, asistennya urusan sapu menyapu, "Lis, tolong sandalku itu dibersihin ya, kali-kali aku sebentar lagi butuh untuk jalan..." Ternyata, dirawat di rumah bikin ibu seperti Wolverine** :-) *ya, ibu juga suka hiperbola seperti anaknya.
**tokoh komik yang memiliki 'healing factor' sehingga kalau cedera bisa
langsung sembuh. Gambar Wolverine (kiri) lagi lawan Sabretooth(kanan)
di atas adalah karya Jim Lee, gue ambil dari sini.

 P roblem kecil yang cukup mengganggu sejak kepulangan ibu adalah masalah komunikasi.
Kamar ibu ternyata cukup kedap suara sehingga kalo ibu memanggil dari dalam
kamar, sering nggak kedengeran dari bagian rumah yang lain - sekalipun dari
ruang makan yang posisinya bersebelahan. Tadinya sempet kepikir mau pasang bel
atau interkom untuk memudahkan kalo mau memanggil kami, tapi pikir-pikir
percuma juga mengingat tangan ibu masih sangat kaku. Bel dan interkom kan
dioperasikan dengan cara dipencet? Akhirnya gue dapet ide: pake baby monitor aja! Sejujurnya
sih gue baru pernah liat benda ini di film-film hollywod; yaitu sepasang radio
satu arah - yang satu hanya berfungsi memancarkan sinyal, sementara pasangannya
hanya berfungsi menerima sinyal. Mirip walkie talkie tapi nggak bisa dipake
buat ngobrol. Tentu aja benda ini nggak dibuat bisa komunikasi dua arah karena
gunanya adalah memonitor keadaan bayi di kamar. Kalo bayinya nangis, alat
pemancar otomatis nyala dan mengirimkan suara tangisan tersebut ke alat
penerima yang berada di tangan sang pengasuh. Tujuannya tentu aja agar sang pengasuh
bisa segera datang membantu si bayi - bukannya untuk ngajak ngobrol - makanya
baby monitor hanya bisa dipake 1 arah. Berhubung seumur-umur gue belum pernah liat benda ini
dalam bentuk nyata, maka rada bingung juga mau nyari ke mana. Tadinya gue
sempet kepikir nyari di toko2 yang jual pesawat telepon stasioner, tapi
ternyata para penjualnya bahkan belum pernah mendengar benda bernama
"baby monitor". Akhirnya gue nemu satu biji di toko Go-Lo
Pasar Baru, tinggal satu-satunya dan dusnya udah berwarna sangat belel. Tapi
berhubung nggak ada pilihan lain ya udah gue beli aja. Sebuah keputusan yang
tepat karena belakangan Ida jalan-jalan ke toko bayi dan nemu baby monitor
keluaran produsen perlengkapan bayi ternama seharga minimal 3 (yak betul, TIGAAA...) kali
lipat harga baby monitor di toko Go-Lo. Bahkan ada juga yang harganya 5 kali
lipat!! Anyway, benda ini berfungsi secara memuaskan di rumah. Kami bisa
meninggalkan ibu tidur sendirian di kamar dengan tenang karena kalo
sewaktu-waktu ibu bangun bisa kedengeran. Alat ini cukup sensitif juga, suara
pelan seperti langkah kaki atau gerakan bantal digeser udah cukup untuk
mengaktifkannya. Peristiwa "misterius" terjadi hari
ini, di hari ke empat alat ini beroperasi di rumah. Pagi-pagi, ibu sedang tidur
nyenyak sendirian di kamar. Lis, asisten ibu urusan sapu-menyapu, lagi cuci
piring di dapur. Tiba-tiba terdengar distorsi dari baby monitor yang disusul
dengan... suara ibu sedang menangis tersedu-sedu! Kontan Lis langsung
terbirit-birit masuk ke kamar ibu, dan menemukan ibu masih tidur seperti tadi. Lis agak
"bingung", tapi berhubung orangnya nggak banyak ngomong, dia
kembali kerja seperti biasa. Rada siangan dikit, hadir dua orang kakak gue, Mbak
Heni dan Mbak Doti. Sama seperti Lis tadi, mereka meninggalkan ibu sedang tidur
di kamar. Mereka berdua ngobrol di depan tivi di belakang, ketika si baby
monitor kembali membuat ulah. Benda itu mengeluarkan bunyi-bunyian pendek
seperti yang biasa terjadi bila mendapat stimulus ringan (misalnya suara
langkah kaki atau laci dibuka) habis itu terdengar suara ibu sedang ngobrol
sambil tertawa-tawa dengan kakak gue yang bernama Mbak Wati. Suara seorang ibu
ngobrol dengan anaknya, sebenarnya bukan hal yang aneh. Masalahnya, kakak gue
yang bernama Mbak Wati itu saat ini sedang berada di Makassar!!! Mbak Heni
dan Mbak Doti langsung terloncat dari tempat duduk untuk mendatangi ibu di
kamar dan yah... bisa ditebak... ibunya sedang tidur pulas!! Ketakutan,
mereka mematikan kedua unit baby monitor sampe gue pulang. Tapi setelah gue ada
di rumah, gue coba nyalain lagi benda itu dan nggak ada masalah sama sekali.
Berfungsi normal seperti biasa. Jadi, suara apa - atau siapa - yang tadi terdengar
dari baby monitor itu? Mbak Doti langsung memvonis, "Ini pasti
ingon-ingon (peliharaan-bhs. Jawa) -nya Agung..." FYI, beberapa
tahun yang lalu memang sempet terjadi sejumlah peristiwa 'misterius' di rumah
gue yang udah tua ini, dan beberapa di antaranya didahului oleh celetukan iseng
gue yang kebetulan menjadi kenyataan. Semua celetukan gue murni asal ngoceh
doang, dan gue nggak pernah merasa punya "peliharaan" dalam
bentuk yang nggak kasat mata, tapi sejak itu kakak2 gue selalu menimpakan tanggung
jawab atas kejadian-kejadian aneh itu sebagai ulah
"peliharaan" gue. Hmm... ada apa sebenarnya di rumah ini ya?
Foto baby monitor gue ambil dari sini - modelnya beda dengan yang gue punya.


|  | Ini dia foto-foto selama di Makassar. Cerita lengkapnya bisa dibaca di journal gue: Klik di sini untuk baca bagian pertama. Klik di sini untuk baca bagian ke dua. Klik di sini untuk baca bagian ke tiga. |

Sabtu 13 Mei 2006 H ari ini kakak gue yang paling
tua dateng, dengan demikian Ibu dikerumuni oleh 4 anak, 3 menantu, dan
4 cucu. Kondisi ibu udah makin membaik, minimal udah nggak demam lagi
dan udah mau makan. Berdasarkan penjelasan dokter, kemungkinan parahnya
kondisi ibu antara lain disebabkan oleh pengobatan yang selama ini
dijalani di Jakarta. Seperti udah gue ceritain di bagian pertama,
Ibu punya dokter langganan yang rutin ngobatin ibu dengan sebuah
suntikan 'mujarab'. Efek suntikan ini rata-rata cuma bertahan sebulan,
makanya Ibu harus ke dokter itu sebulan sekali. Denger
deskripsi tentang dokter langganan ibu ini, dokter-dokter di Makassar
menduga bahwa suntikan "mujarab" itu sebenarnya adalah steroid!
Ciri-cirinya ya begitu itu, badan yang sakit-sakit bisa langsung segar
bugar kaya disulap. Konon di kalangan kedokteran, steroid disebut
sebagai 'obat dewa' karena keampuhannya 'mengobati' berbagai penyakit.
'Mengobati' dalam tanda kutip karena efek steroid ini 'semu', sekedar
memberi rasa nyaman tanpa menyembuhkan sumber penyakitnya. Akibatnya,
penyakit di persendian Ibu semakin lama jadi semakin parah. Dokter-dokter
di Makassar juga bilang, steroid punya efek samping mengurangi
kemampuan tubuh mengendalikan kadar gula darah. Orang sehat aja bisa
naik kadar gula darahnya kalo terus-terusan disuntikin steroid; apalagi
pengidap diabetes seperti Ibu. Suntikan steroid biasanya hanya
diberikan sebagai alternatif terakhir, kalau udah terpaksa sekali,
itupun dengan frekuensi yang sangat jarang - bukannya rutin sebulan
sekali seperti yang diberikan dokter di Jakarta. Seandainya dokter itu
waras dan menjalankan kode etik kedokteran secara baik dan benar,
seharusnya sebagai dokter umum dia merujuk Ibu pada dokter ahli urusan
syaraf dan tulang - bukannya main suntik steroid padahal dia tahu betul
Ibu mengidap diabetes. Dugaan bahwa suntikan dari dokter
langganan Ibu adalah steroid makin menguat saat dokter di Makassar juga
menjelaskan bahwa terapi steroid sangat populer di kalangan penderita
alergi dan asma - matched dengan fakta bahwa 80% pasiennya adalah
penderita asma. Memang kalo diinget-inget, tu dokter emang rada
meragukan sih kompetensinya. Sekali waktu gue pernah demam tinggi,
berobat ke dokter kesayangan Ibu itu dan divonis "masuk angin" lantas
dikasih resep antibiotik aneh-aneh seharga ratusan ribu rupiah.
Seminggu gue makan tu obat-obatan tanpa ada perbaikan, akhirnya gue
pindah dokter dan ketahuan bahwa sebenernya gue sakit thypus! Padahal
selama seminggu itu gue udah makan segala macem, termasuk yang
asem-asem dan pedes-pedes. Untung nggak 'lewat'. Trus pernah juga di
kesempatan lain, dengan positive thinking bahwa doctors are human and it's human to make mistake,
gue panas tinggi lagi dan kembali berobat pada dokter bego itu.
Lagi-lagi diagnosanya "masuk angin", dikasih obat mahal-mahal, seminggu
nggak beres, pindah dokter dan ketahuan bahwa gue sebenernya kena demam
berdarah! Sekarang gue lagi pikir-pikir gimana caranya
memperkarakan dokter langganan Ibu itu. Mungkin di negara kacau ini
ujungnya nggak akan sampe pada pencabutan ijin praktek si dokter
(mengingat di daerah-daerah terpencil seorang lulusan SMP bisa sukses
praktek jadi dokter bertahun-tahun sebelum akhirnya ketahuan). Tapi
kalo gue berhasil mengumpulkan bukti kuat bahwa dia memang melakukan
malpraktek, sebuah publikasi virtual mungkin cukup ampuh untuk
menurunkan jumlah pasiennya secara signifikan - dan buat si dokter itu
sama parahnya dengan kehilangan ijin praktek. We'll see.
Karena yang jagain Ibu udah makin banyak, malemnya gue dan Ida
jalan-jalan sekalian belanja keperluan Ibu. Lagi-lagi kami diantar Pak
Aswadi. tujuan: mall. Kami menuju ke mal yang konon terbesar di Makassar. Kalo orang Jawa tergila-gila pada huruf O sehingga kalo punya anak dikasih nama agung nugrOhO, punya kota dikasih nama sOlO, punya jalanan dikasih nama MaliObOrO, dan kalo bingung nanya 'OnO OpO thO', maka orang Makassar tergila-gila pada NG. Orang-orang dipanggil daeNG, jalanan dan daerahnya dikasih judul LatimojoNG, MamajaNG, dan BawakaraeNG, kalo lapar minta makaNG, makanannya disebut Nyuk-NyaNG (bakso), dan kalo punya Mal tentu aja dikasih nama PanakkukaNG.
Mal Panakkukang ini secara menakjubkan mirip sekali dengan Mal Kelapa
Gading. Mulai dari suasana jalanan yang menuju ke sana - lengkap dengan
Karaoke NAV, sampe supermarket di dalamnya yang bermerk Diamond dan
posisinya berdekatan dengan foodcourt. Persis banget deh!
Karena males makan berjejal-jejal sambil dikerumuni asep rokok, kami
makan di sebuah resto bernama Indigo. Penampilannya mirip-mirip resto
Platinum, yang waktu itu dipilih jadi tempat kopdar MPers waktu
bagi-bagi kalender. Ida pesen rawon, yang waktu nongol ternyata baunya
mirip coto sehingga Ida memutuskan pesen kangkung cah sapi.
Selesai makan, seperti biasa gue motret-motret keadaan sekitar termasuk
motretin toko J.CO donuts yang baru buka di sana. Eh, tau2 gue
didatengin sama dua orang berseragam J.CO. "Maaf Pak, bapak dari mana ya?" "...? Dari Jakarta. Kenapa emangnya?" "Begini Pak, peraturan di toko ini dilarang memotret Pak."
Whaaaat...? Gue bahkan nggak masuk ke area tokonya. Orang gue lagi
berdiri di tengah-tengah mal, kan terserah gue mau motret ke mana?
Sejak kapan ada larangan motret di mal? Tapi... baiklah. Kedua petugas
J.CO telah meminta gue untuk tidak memotret tokonya. Fine. Mari kita
hormati permintaan mereka. Ooops...
lho kok malah nongol di sini sih fotonya? Aduh, maaf lho mas-mas J.CO,
ini pasti kesalahan teknis deh. Orang dilarang motret kok malah
diposting di internet sih... maaf, maaf lho.... sengaja!
Ealaaaa... ini kok malah mucul satu lagi, gimana sih... aduh, ck. Emang
repot deh kalo hari gini mau ngelarang2 orang motret, sekalinya
dilarang malah nongol di internet. Kacau, kacau! Gini aja deh mas, kalo
keberatan silakan tuntut aja lah. Kali aja mas bisa nemu pasal larangan
memotret di dalam mal. Monggo lho! Mengingat malam itu tempat
gue di kamar RS telah tergusur oleh kedatangan kakak gue yang tertua,
gue nginep di rumah kakak gue yang nomer 3. Tepatnya sih 'numpang
begadang', karena malam itu gue manfaatkan dengan ngetik sampe Subuh. Minggu 14 Mei 2006
U dah lupa bangun jam berapa, pokoknya semua orang udah pada rapi jali
siap jalan. Tentunya untuk menghemat waktu gue langsung ikutan cabut
tanpa mandi. Di tengah perjalanan menuju RS, rombongan mampir dulu di
sebuah resto bernama "Nelayan". Coba tebak hidangan apakah gerangan
yang disajikannya? Untungnya resto ini punya ayam goreng
mentega yang cukup oke, jadi gue rada terhibur dikit lah. Ipar gue
akhirnya pesen Kudu-kudu goreng, dan percayalah, tampangnya setelah
digoreng jauh lebih ajaib ketimbang waktu masih mentah. Apalagi setelah
dicuwil sana sini, bentuknya jadi makin nggak keruan - seperti seonggok
onderdil motor yang kusut. Selain Kudu-kudu juga ada hidangan telur
Ikan Tuing-tuing. Bentuknya mirip biji delima tapi warnanya coklat dan
konon rasanya lembek-lembek amis. Gue, tentu aja males mencicip
walaupun hanya sesendok.
Dari resto "Nelayan" rombongan berpisah jalan. Sebagian
menuju RS, sementara gue dan Ida mampir beli oleh-oleh wajib dari
Makassar: Minyak Tawon. Toko yang jual Minyak Tawon ini
namanya "Sulawesi Art Shop", dan sesuai dengan namanya, dia jual
berbagai cindera mata khas Sulawesi - bukan cuma dari Makassar doang.
Ada miniatur rumah Toraja, gantungan kunci berbentuk badik, mutiara,
sirup Markisa, kacang disko, serta aneka rupa madu dan minyak gosok
dari seluruh penjuru Sulawesi - termasuk minyak lawang, minyak kayu
putih, dan minyak telon. Minyak Tawon sendiri punya 2 varian tambahan
selain Minyak Tawon versi 'original' yang bertutup botol merah, yaitu: - Minyak
Tawon tutup putih; harganya 3 kali lipet yang tutup merah karena konon
bahan-bahannya lebih murni sehingga lebih 'mujarab' dan tentunya lebih
panas.
- Minyak 608 (udah kaya model Levi's), yang lebih panas
lagi dari Minyak Tawon tutup putih. Baunya sih seperti Minyak Tawon,
tapi panasnya seperti minyak lawang.
Selain kedua varian tersebut, juga ada Minyak Tawon versi balsem. Setelah
ngumpul sebentar plus numpang mandi (khusus gue) di RS, kami berangkat
ke airport jam 2 waktu setempat. Kali ini pulangnya naik AdamAir,
ngaret setengah jam dari jadwal sehingga baru sampe Jakarta sekitar jam
7 malem. Begitu sampe rumah, langsuuuung buka MP! =TAMAT= Foto: sunset dari jendela pesawat menuju Jakarta.


G ara-gara sakit, ada kebiasaan Ibu yang berubah. Yang
tadinya siang-siang bolong masih doyan aja minum teh anget, sekarang minta AC
kamar disetel pol. Minta blower AC maksimal di angka 18 o C, yang
saat berpadu dengan hawa dingin dari luar gue yakin akan menghasilkan suhu di bawah angka
tersebut . Bahkan gue yang bersemboyan “cold is always better than
hot” akhirnya nyerah juga. Jaket masih terasa kurang, sehingga gue kerudungan
sarung sebelum begadang nungguin ibu. Sekalian gue manfaatin kesempatan itu untuk
ngetik sebuah personal project yang udah lama nggak kelar-kelar. Sekali lagi
membuktikan, selalu ada hikmah dari setiap kejadian. Sekitar jam 2-an datang
seorang suster untuk ngecek tekanan darah dan suhu. Waktu itu kondisi kamar
gelap total, satu-satunya sumber cahaya cuma dari layar laptop. Posisi duduk
gue waktu itu pas di depan pintu. Jadi saat buka pintu, suster malang itu
disambut pemandangan kamar gelap, ada cahaya remang-remang menerangi seonggok
bayangan berkerudung sarung. Logis bila kemudian mbak suster berujar,
“Whuaaa...!” “Tenang-tenang suster, ini saya, lagi kedinginan...!” Sementara itu
kakak gue sedemikian excited-nya melihat penampilan gue sampe ingin mengabadikannya.
“Hihihihi... ya ampuuuun... tampangmu kayak wewe gombel! Mana kamera, mana
kamera, sini ta’ foto...!” Dia langsung sibuk mengacak-acak ke sana kemari mencari
kamera, dan dengan teriakan penuh kemenangan dia menyomot.... MP3 player gue. “Eh... tapi... ini bukan kamera ya? Ini apaan sih?”
katanya kebingungan sambil membolak-balik benda itu. Memang gitulah kalo orang
gaptek sok mau iseng. Selain
karena sibuk ngetik, malam itu gue kurang berselera tidur karena rupanya jalan
raya di depan RS adalah tempat favorit untuk para anak GAWL Makassar main
tarik-tarikan motor. Nanti kalo udah capek tarik-tarikan, mereka pada nongkrong
di pinggir jalan, setel musik kenceng-kenceng kaya tukang getuk lindri,
minum-minum, lantas botolnya dibuang ke tengah
jalan. Tapi
sekali lagi, setiap kejadian ada hikmahnya. Karena nggak tidur semaleman, gue
bisa menyaksikan saat-saat terakhir sebelum bulan terbenam di ufuk barat. Bagus
banget, mana kebetulan lagi purnama dan sinarnya membayang di permukaan laut.
Gue kira pemandangan kaya gini cuma ada di postcard. 12 Mei 2006 Berdasarkan
pemeriksaan hasil ronsen dan serangkaian tes yang udah dijalankan kemarin, tim dokter
memutuskan pagi ini ibu akan menjalani operasi ringan untuk mengeluarkan nanah
yang terakumulasi di persendiannya. Gue sendiri nggak nungguin operasinya, krn
lagi tidur pules sehabis begadang semaleman. Siangnya, gue dan Pak Aswadi sholat Jum’at di mesjid deket hotel.
Rupanya ada yang beda dengan acara sholat Jum’at kali ini. Sebelum pak khatib
naik mimbar, pak Camat naik duluan untuk menyampaikan himbauan agar masyarakat
nggak bertindak anarkis. Tema ceramah Jum'atnya juga senada. Rupanya, akibat
langsung bersarang di kamar RS sejak dateng, gue sampe lupa bahwa penduduk kota
ini lagi dihantui kerusuhan. Dalam perjalanan pulang Pak Aswadi sengaja ngambil
jalan muter biar gue bisa liat-liat keadaan di daerah pertokoan. Sebagian besar
toko tutup, kalopun buka cuma buka separo pintu, biar bisa cepet ditutup lagi
kalo ‘ada apa-apa’. Sementara itu, di depan Polwiltabes Makassar segerombolan
orang berkaos item lagi demo. Padahal perlu dicatat dan digarisbawahi, saat itu
matahari lagi terik-teriknya. Gue sama sekali
nggak mudeng apa sebenernya yang mereka tuntut. Pangkal permasalahannya kan
karena ada orang membunuh pembantu, itupun pelakunya juga udah ditangkep. Terus
mau apa lagi? Apa lagi yang mau didemo? Minta pelakunya disate di tengah lapangan?
Atau sekedar caper? Sampe di RS, istri hamil tau-tau
ingin sambel mangga. Tepat di depan RS ada resto padang dan bakso, kalo mau
jalan ke sanaan dikit juga ada yang jual ayam goreng, tapi tetep... yang dimaui
adalah sambel mangga. Maka lagi-lagi Pak Aswadi bertugas nganter ke sebuah
resto seafood bernama Bahari. Bentuknya sumpah aneh abis, mirip setrika terbalik. Celakanya
jalan-jalan ke kota pesisir seperti Makassar adalah: resto-resto andalan di sini
sebagian besar jualan seafood, sementara gue nggak doyan ikan. Koleksi ikannya
sih lengkap banget, aneka bentuk dan warna ada. Yang warnanya belang-belang
kuning seperti ikan hias sampe nggak terlihat seperti makanan juga ada. Tapi
yang paling aneh adalah ikan yang disebut ikan Kudu-kudu. Bentuknya sumpah aneh
abis, mirip setrika terbalik. Kulitnya item dan keras, di bagian atas bermotif
polkadot sementara di bagian samping bermotif segi enam seperti tempurung
kura-kura. Penjualnya dengan bangga memamerkan ikan bertampang purba itu dari
dalam kotak es, sementara dengan sangat menyesal gue pesen ayam goreng. Konon
ikan Kudu-kudu itu hidangan istimewa karena sulit ditangkep, tapi sori nih mas,
kita mah doyannya makanan yang lumrah-lumrah aja deh. Namanya resto seafood, tentu nggak banyak yang bisa
diharapkan dari rasa ayam gorengnya. Lembek dan berminyak banget. Tapi kayaknya
resto “Bahari” ini cukup terkenal juga di sini, buktinya Pak Walikota juga
memilih resto ini sebagai tempat makan siang. Seperti umumnya pejabat daerah,
kedatangan Pak Walikota menimbulkan kehebohan di seantero restoran. Beliau
dikawal oleh seorang pria yang sangat mengikuti "pakem"
banget: berkulit gelap, kumis baplang, pake kaos item bertuliskan judul sebuah
kongres politik, dan jangan lupa: seluruh jari tangan penuh dengan cincin batu
akik segede-gede belimbing wuluh. Sayangnya dia pake sepatu, jadi gue nggak
bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga atau enggak. Selesai makan, gue dan Ida jalan kaki balik ke RS.
Waktu menyusuri pantai Losari, Ida kumat. "Yang..., kira-kira
sore nanti kamu capek nggak ya?"
Sayangnya dia
pake sepatu, jadi gue nggak bisa confirm apakah di jari kakinya ada cincin juga
atau enggak. "Hmm. Kenapa, ingin makan apa lagi?" "Enggak..
aku ingin main bebek-bebekan..." Udah
ratusan kilometer dari Jakarta, nyeberang laut pula, dan istri
ingin main bebek-bebekan yang mana di Taman Mini juga buanyak. Tapi berhubung gue adalah
seorang suami yang bertanggung jawab memberikan nafkah lahir dan bathin kepada
istri, sore harinya gue dan Ida main bebek-bebekan di pantai Losari. Buat yang
tertarik nyoba hal yang sama, gue kasih tau aja nih, nggenjotnya lumayan pegel.
Dan airnya agak bau. Selesai main bebek-bebekan kami pulang ke RS, ketemu
Nara keponakan gue, yang dengan ceria berkata, "Oom Aguuung... besok
aku juga mau dong main bebek-bebekan! Temenin ya!" "Tuh sana ajak tante Ida aja, dia yang doyan
main gituan." Akibat
main bebek-bebekan, malam itu gue cuma kuat melek sampe jam 2. Capek bo'. Foto: di depan pantai Losari, dengan topi serba guna peninggalan acara jalan-jalan ke Solo.


M inggu ini diawali dengan berita kurang menyenangkan dari kakak gue yang
tinggal di Makassar: ibu gue masuk RS! Sejak kakak gue pindah ke Makassar, Ibu
memang sering mondar-mandir ke sana sebagai variasi kalo lagi bosen di Jakarta.
Pas lagi di sana, tau-tau sakit. Masuk RS, lagi. Cukup
kaget juga gue dengernya, mengingat selama ini Ibu termasuk manula yang sehat
dan nggak bisa diem. Waktu masih di Jakarta, kalo siang-siang iseng nggak ada
kerjaan, suka ngajak Lis - asistennya urusan sapu-menyapu - makan gado-gado di
Plaza Indonesia. Atau kalo obatnya abis suka pergi sendiri naik taksi ke Pasar
Baru. Selain itu ikut pengajian dua kali seminggu di dua tempat yang
berbeda. Memang kadang Ibu suka mengeluh persendiannya sakit
dan kaku, tapi dia punya dokter langganan yang punya suntikan manjur. Tiap kali
disuntik sama dokter itu, sakitnya hilang. Tapi hanya tahan sekitar sebulan.
Makanya Ibu rutin berobat ke dokter itu sebulan sekali. Denger
kabar Ibu sakit, kakak gue yang tinggal di Jakarta langsung berangkat ke
Makassar. Ida juga jadi rewel ngajakin
segera pergi ke sana. "Akunya jadi sedih denger Ibu sakit..."
kata Ida sambil bercucuran air mata. "Kamu pasti nggak sedih ya?" Menurut
gue, kalo semua orang panik dan sedih saat ada orang sakit, nanti nggak ada
yang bisa mikir dengan kepala dingin - urusan malah akan jadi kacau semua.
Daripada sedih nggak ada gunanya, mending gue ekstra lembur ngeberesin semua
kerjaan kantor biar bisa minta cuti hari Kamis. Waktu
dapet kabar dari kakak gue, pertanyaan pertama gue adalah, "Kapan kondisi
Ibu bisa cukup stabil untuk dibawa ke Jakarta?" Senewen gue mikir Ibu
sakit di seberang pulau yang mungkin kualitas dokternya masih kurang jelas.
Kakak gue jawab belum tau. Pokoknya sekarang Ibu nggak bisa jalan. Boro-boro
jalan, kesenggol bantal aja seluruh sendinya sakit-sakit. Selain itu, Ibu juga
demam cukup tinggi, sampe 390 C. Kamis, 11 Mei 2006 Gue dan
Ida berangkat ke Makassar naik penerbangan Batavia Air pertama jam 5 pagi. On
time, jam 5 teng take-off dan sampe Makassar jam 8 waktu setempat. Langsung
dijemput sama Pak Aswadi, supir kantornya ipar gue, dan dibawa ke RS tempat Ibu
dirawat. Namanya RS Stella Maris. Reaksi
pertama gue waktu ngeliat bentuknya RS Stella Maris ini adalah: makin nggak
sabar ngebawa Ibu pulang ke Jakarta. Gimana enggak, gedungnya gedung tua
peninggalan Belanda. Lift cuma dua, itu juga ditempelin pengumuman "khusus
untuk pasien dan petugas". Pantesan waktu demam tinggi Ibu sempet ngeliat
'makhluk-makhluk ajaib' berkeliaran di kamarnya. Mungkin para penunggu lama
gedung spooky ini kali, pikir gue. Tapi ternyata belakangan
terbukti gue terlalu underestimate RS tua ini. Pelayanan
kesehatan di sana OK banget: dokternya ramah dan komunikatif, perawatnya juga
helpful banget. Untuk lengkapnya, bisa dibaca di review. Hari itu
Ibu dironsen seluruh persendiannya. Gue ikutan ke kamar ronsen dengan tujuan
bantuin para perawat dan petugasnya nggeser-geser badan Ibu supaya pas dengan
posisi mesin ronsennya. Di situlah gue semakin menyadari betapa kayanya budaya
Indonesia. Nggak usah jauh-jauh mikirin tarian dan nyanyian daerah, yang gue
maksud di sini jauh lebih umum dan 'sehari-hari', yaitu intonasi. Korslet
komunikasi pertama terjadi waktu petugas ruang ronsen menyambut kedatangan Ibu
dengan kalimat mengejutkan: "Ibu ini habis jatuh!" "Heh?
Kapan?" tanya gue kaget. Setahu gue Ibu nggak pake acara jatuh kok. "Bukan,
Ibu ini habis jatuh! Kenapa lututnya bengkak!!" Gue mikir sebentar.
Kayaknya ada yang salah nih. Setelah mikir dulu, baru gue ngeh, bahwa ternyata
si mas-mas petugas ronsen itu NANYA, sementara dari intonasi nadanya gue kirain dia NGASIH
TAU. Jadi sebenernya dia mau ngomong, "Apakah Ibu ini habis
jatuh? Kok lututnya bengkak?" gitu loooh... Huh, dasar guenya yang telmi. Waktu mau
bayar obat di apotek, kakak gue juga mengalami korslet yang sama. Berhubung
kakak gue nggak bawa duit tunai di dompetnya, dia nanya apakah di sini bisa
pake debit card. Kata petugas apoteknya, "Di sini tidak bisa debit!" "Kalo
credit card bisa nggak?" "Credit card bisa! Tapi Ibu KELUAR SAJA DULU
SANA!" "Hah, kenapa saya diusir?" "Sebab kalau pake
credit card nanti Ibu ada kena charge 3%, lebih baik Ibu pergi cari ATM saja
dulu di luar sana!" Ternyata maksudnya, "Di sini sih kalo mau
pake credit card bisa-bisa aja, tapi kena charge 3%. Kan sayang. Mendingan Ibu
ambil cash aja dulu di ATM, ntar balik lagi ke sini." Logat dan intonasi ala Makassar ini juga jadi bahan obrolan favorit gue
dan kakak-kakak gue dengan para suster. "Suster, suster,
ajarin dong kapan harus pake 'MI', kapan harus pake 'JI'," kata kakak gue.
FYI, orang Makassar tuh punya sejumlah kata-kata pelengkap yang sulit dicari
terjemahannya, tapi perlu untuk melengkapi kalimat biar 'afdol'. Jadi fungsinya
mirip dengan 'dong', 'deh', 'sih' -nya logat Jakarta. Kalo nggak salah inilah yang
namanya 'partikel', ya? Contoh penggunaannya antara lah, "Sudah MI!"
atau "Sudah JI!". Tadinya gue kira penggunaan MI dan JI ini dibedakan
tergantung jenis kelamin lawan bicara, tapi ternyata enggak juga. Kalo udah
ditanyain gini, paling para suster itu cuma ketawa-ketawa kegelian, mungkin
sambil mikir 'nih tamu-tamu dari Jawa norak bener sih, liat orang Makassar
ngomong aja heran'. "Itu susah ditentukan, Ibu. Ibu harus ada sering-sering
bicara dengan orang Makassar, baru nanti lama-lama Ibu bisa sendiri TOH?"
'Toh' ini juga salah satu celetukan favorit mereka, dan dengan kampungnya
kakak-kakak gue pada kesenengan membeo-beo, "Iya TOH suster?" Kadang
kami coba-coba niru gaya bicara mereka, seperti "Suster, apa ini sudah ada
waktunya untuk suster ambil Ibu saya punya tensi, TOH?" Yang
dijawab "Sudahlah Ibu, saya jadi pusing..." Malam itu gue cuma ngendon
di kamar RS. Selain karena tujuan utama dateng ke sini untuk ngejagain Ibu,
juga karena hilang selera jalan-jalan ngeliat matahari terik banget.


P ada suatu hari, keponakan gue yang bernama Nara ditelepon sama ibunya.
"Nara, hari ini mama akan terlambat jemput Nara karena masih ada urusan. Nara pulang sendiri aja dulu ke rumah eyang (=rumah gue), nanti Mama jemput di sana agak sorean. Bisa?"
Berhubung jarak antara sekolah Nara dengan rumah gue cuma sekitar 700 meter, Nara menjawab mantap, "Bisa Ma."
"Nanti Nara pulangnya bareng sama Nabil aja, kan searah tuh."
"Ok," kata Nara. Nabil adalah anak tetangga gue, umurnya sebaya dengan
Nara, dan rumahnya cuma berselang 2 rumah dari rumah gue.
Menuruti pesan Mamanya, Nara mendatangi Nabil.
"Nabil," kata Nara, "Hari ini Mamaku nggak bisa jemput. Boleh nggak aku pulang jalan kaki bareng kamu?"
"Hmmm.. sebenernya aku lagi nungguin Mamaku jemput," jawab Nabil, "Tapi ayo deh kita pulang jalan kaki sama-sama!"
Maka pulanglah kedua anak itu berjalan kaki. Setelah sampai di rumah
gue, Nara berkata kepada Nabil, "Terima kasih ya Nabil, udah nemenin
jalan kaki pulang."
"Sama-sama", jawab Nabil sambil balik badan.
"Sekarang kamu mau ke mana?" tanya Nara, bingung melihat Nabil malah menjauhi rumahnya yang udah tinggal bbrp langkah lagi.
Jawaban Nabil:
"Aku mau balik ke
sekolah lagi, karena sebentar lagi mamaku kan mau jemput aku ke sana,
nanti kalo aku nggak ada Mamaku bingung..."


|  | Hasil karya keponakan-keponakan gue kalo dibiarin mainan digicam... manis2 sekali kan...? |
| |