Sejak hari Selasa 31 Oktober, gue bolos kerja. Gara-garanya, suhu badan gue rada-rada naik melewati 38o C dan kepala nyut-nyutan sampe nggak kuat melek. Berhubung gue punya riwayat pernah kena typhus dan DBD masing2 2 kali, maka gue nggak mau ambil resiko - langsung periksa ke dokter. Selasa siang gue pergi ke RS Medistra, niatnya mau menemui dokter langganan sekaligus tetangga dekat rumah yang praktek di sana. Tapi sayang pak dokter langganan lagi cuti sampe tanggal 5. Daripada nggak berobat sama sekali, maka gue mendaftarkan diri untuk ditangani dokter pengganti. Namanya Dr. Dave Soeliantoro. Periksa punya periksa, kata Dr. Dave gue cuma kena radang tenggorokan biasa. Dikasih resep antibiotika dan tablet hisap, serta pesan kalau suhu naik lagi minum aja obat penurun suhu yang bisa dibeli bebas seperti Panadol dan sejenisnya.
Rabu 1 November, niat hati udah mau masuk kerja lagi tapi waktu bangun tidur kok kepala masih nyut-nyutan, nggak sanggup gue. Bolos lagi. Setiap kali suhu naik, gue minum Panadol. Hari ini, Kamis 2 November, gue bangun pagi-pagi dan merasa belum ada peningkatan kondisi. Jadi gue bolos sehari lagi dan sekitar jam 10 nelepon RS Medistra minta untuk daftar ketemu Dr. Dave lagi. Kata petugas pendaftarannya, gue dapet giliran nomor 3, dan diminta dateng ke sana antara jam 10.30 - 11.00.
Sekitar jam 11 lewat gue nyampe sana, dikasih tanda bukti pendaftaran sama bagian Admin, plus selembar kertas kuning kecil.
"Ini apa mas?" tanya gue sambil menunjukkan si kertas kuning kecil.
"Ini angket kualitas pelayanan kami Pak, mohon kesediaannya untuk mengisi ya..."
"Ok,"
Setibanya di depan ruang praktek dokter, pasien nomor urut 2 pas baru masuk ruang praktek - maka gue duduk anteng ngantri sambil nonton tivi (eh berima ya? hihihi...) Sekitar 15-20 menit gue nunggu, akhirnya pintu terbuka dan gue dengan penuh semangat bersiap-siap masuk. Eh, lho... tapi kok... dokternya ikutan keluar...?
Dengan kebingungan gue ngeliatin si dokter kasak-kusuk sama mbak suster yang jaga di depan ruang praktek sambil memegang-megang berkas pendaftaran para pasien, salah satunya milik gue. Gue mendekat, dan nggak lama kemudian mendapat kejelasan duduk permasalahannya.
"Ini maaf ya, saya sudah ditunggu rapat, jadi pemeriksaannya nanti saja sesudah rapat, ya?" dengan santai serta senyum innocent terkembang.
Namanya orang lagi kurang sehat, otak gue perlu waktu sedikit lebih lama dari biasanya untuk mencerna informasi, "Jadi SAYA harus nunggu DOKTER rapat dulu??!!"
"Iya, rapatnya sebentar kok, paling 1/2 jam, lagipula saya ada di sini sampe jam 4," kata Dr. Dave sambil ngeloyor meninggalkan gue dan mbak suster pendaftaran yang nampak mulai gelisah.
Ok, mari kita analisa situasi:
- Rapat di Indonesia, kecil kemungkinannya untuk bisa berlangsung efisien hingga bisa selesai dalam setengah jam.
- Kalaupun betul rapatnya cuma setengah jam, artinya total waktu gue nunggu buang-buang umur di sana adalah nyaris 1 jam. Lagi sehat aja gue nggak sudi nunggu apapun selama itu, apalagi dengan kepala nyut-nyutan seperti sekarang ini.
Nggak deh Dok, makasih. Ini Jakarta, kota di mana tiap jalan kaki 20 meter bisa nemu plang praktek dokter 2 biji, kenapa juga musti bela2in nungguin elu seorang rapat? Yang gue nggak abis pikir, emang kenapa sih kalo dia telat dateng rapat barang 10 menit, untuk meriksa gue doang - secara gue pasien terakhir yang ngantri di situ, yang mana udah dateng tepat waktu sesuai anjuran pihak administrasi?
Gue tanya sama suster yang jaga di depan ruang praktek, "Ada dokter lain nggak yang bisa saya temui SEKARANG?" - penekanan pada kata 'SEKARANG' dalam arti nggak pake nunggu setengah jam gitu loh.
"Nggak ada pak, semua dokter ikut rapat,"
Nah ini dia keajaiban berikut dari RS ini: udah tau jam segini jadwalnya rapat para dokter, KENAPA JUGA PETUGAS ADMINISTRASINYA MASIH NERIMA PENDAFTARAN UNTUK JAM 11!? Bener-bener hebat deh ni RS satu.
Hikmah positifnya, mendadak gue jadi merasa beberapa persen lebih sehat. Untung gue langsung inget sama kertas kuning kecil - angket kepuasan itu, sehingga dengan penuh semangat gue bisa mencurahkan unek-unek di situ. Masih belum puas, gue langsung buru2 cegat taksi untuk pulang dengan satu tekad: POSTING... POSTING.. POSTINGG...!! Oh iya, dan nggak lupa gue juga kirim link menuju posting ini ke customercare@medistra.com. Pingin tau, akan dapet balasan atau enggak ya dari mereka?
Gambar gue ambil dari website resmi RS Medistra.