S etahun kemarin, tanggal 3 Juli 2005 jadi hari paling bersejarah dalam hidup gue. Salah satu faktor yang turut andil di dalamnya adalah kehadiran rekan-rekan MPers Indonesia di acara resepsi pernikahan gue, datang dari berbagai penjuru sampe ada yang nyeberang lautan segala, membawakan kado yang berkesan banget berupa piala bergilir dan kumpulan foto / puisi dalam pigura besar. Tanggal 3 September 2006, giliran Bayu si penyusun kado kumpulan foto / puisi itu yang menikah. Maka waktu Ari* sang bupati memposting journal tentang rencana pemberian kado dari MPers Indonesia buat Ade dan Bayu, gue langsung merasa sebagai yang paling berkepentingan untuk mewujudkannya. Apalagi kalo inget waktu itu Bayu bikinnya penuh cucuran darah dan air mata, dalam arti nyaris harfiah. Ide dasarnya sama, yaitu memberikan kenang-kenangan berupa kumpulan foto kepada mempelai berdua. Ari lantas membuat network message yang intinya meminta semua orang yang berkenan ditampilkan wajahnya dalam kado tersebut untuk mengirimkan foto berkualitas high resolution ke alamat e-mail gue dan Ari, selambat-lambatnya Kamis tanggal 31 Agustus 2006. Berikut ini adalah urutan kronologis pembuatan kado tersebut. Rabu 30 Agustus 2006 Gue cek e-mail gmail gue yang dipublish sebagai tempat penampungan kiriman foto: baru ada 10-an foto yang terkumpul. Wajar mengingat Ari baru mengumumkan rencana ini sehari yang lalu. Selain itu, di pengumuman awal sempet terjadi salah tulis alamat e-mail, sehingga e-mail kiriman foto banyak yang mental. Gue mulai mikir-mikir, kalo yang ngirim foto cuma sedikit, kira2 diisi apa lagi ya kado berukuran kertas A3 itu biar nggak nampak lowong? Kamis 31 Agustus 2006 Pagi2 gue cek lagi Gmail: baru sekitar 30-an foto terkumpul. Wah, untung gue minta kirimnya foto kualitas hi-res, jadi kalo fotonya cuma sedikit, bisa diperbesar ukurannya untuk memenuhi bidang A3 itu, pikir gue. Foto-foto yang masuk baru gue liat2 doang, belum mulai gue download. Besok ajalah, besok kan masih ada hari. Malemnya gue belum sempet ngecek email lagi. Jum'at 1 September 2006 Hari ini niatnya mau pulang cepet dari kantor, apa daya boss minta dibuatin proposal untuk sebuah kegiatan yang akan dijalankan 2 minggu lagi. Bolak-balik revisi ini itu, proposal baru beres jam 9 malem. Pulang ke rumah dengan badan setengah remuk, cek gmail, dan... waaaikkksss... ada 50-an email foto yang masuk! Buset! Ari juga mengirimkan foto-foto yang masuk ke dia dalam paket-paket winrar. Gue download paket2 tersebut. Semuanya berhasil terdownload, tapi aneh... nggak semua foto bisa terbuka. Misalnya paket winrar pertama berisi 3 foto, cuma 2 foto yang bisa dibuka. . Sabtu 2 September 2006 - dini hari Kebetulan gue liat Ari online di YM. mbot (1:32:16 AM): ri ri ari_sang_bupati_MP (1:32:21 AM): yaaa si_mbot (1:32:28 AM): cek ricek si_mbot (1:32:34 AM): jumlah fotonya adalah si_mbot (1:32:44 AM): 56 si_mbot (1:32:47 AM): betul? ari_sang_bupati_MP (1:32:54 AM): ha masa si? ari_sang_bupati_MP (1:33:01 AM): ada 59 harusnyah ari_sang_bupati_MP (1:33:08 AM): 61 tambah gue ari_sang_bupati_MP (1:33:11 AM): sama titin Hmmm... mulai aneh nih. Akhirnya dengan bantuan program ACDsee, gue bikin file listing dari semua file yang udah masuk trus gue kirim ke Ari dalam bentuk excel biar dicocokin dengan foto yang masuk ke dia. Rupanya akibat sempet ada salah tulis alamat email, jumlah foto yang masuk ke email gue dan email Ari jadi beda. Sambil meneliti rekap file terjadi pembicaraan berikut ari_sang_bupati_MP (2:09:36 AM): sori harusnya 61 bukan 71 si_mbot (2:09:52 AM): oh beda tipis dong kalo gitu si_mbot (2:09:59 AM): jd sapa yang gue belum dpt/ ari_sang_bupati_MP (2:10:24 AM): ntar dulu ari_sang_bupati_MP (2:10:26 AM): manual neh ari_sang_bupati_MP (2:10:32 AM): gue lagi kasi warna ari_sang_bupati_MP (2:10:38 AM): ntar gue kirim balik ke eluh si_mbot (2:10:42 AM): pake function "IF" aja ri ari_sang_bupati_MP (2:11:06 AM): kampret udah setengah lebih si_mbot (2:11:21 AM): ya ya ya sana terusin kasih warnaaaaa si_mbot (2:11:32 AM): huh kurang optimal memanfaatkan fitur ari_sang_bupati_MP (2:12:43 AM): udah jgn banyak bacot Memang begitulah figur pejabat jaman sekarang, suka sewenang-wenang terhadap rakyat kecil. Akhirnya setelah direkap, ditemukanlah jumlah final foto yang masuk sejumlah 70 foto, termasuk foto gue dan Ida. Mampuuus.... banyak amat... mau gue apain nih foto sebanyak ini?  contoh pilihan download gmail Tapi sebagai pribadi yang efektif sesuai anjuran Steven Covey, first thing first. Lebih baik gue mulai download semua foto yang ada dalam daftar, baru nanti pikirin desain akhirnya kaya apa. Satu per satu gue buka e-mail kiriman foto di gmail. Ada 2 pilihan, "view" atau langsung "download" attachment. Tentunya karena gue diburu waktu, gue pilih langsung "download" aja. Urutannya, buka sebuah email, klik "download" attachment, balik ke inbox, buka e-mail berikutnya, klik "download" attachment, balik lagi ke inbox, dan seterusnya hingga attachment dari beberapa email bisa terdownload secara simultan. Saat itulah gue baru menemukan bahwa ternyata gmail adalah penipuuu.... Awalnya gue curiga karena proses download foto-foto itu begitu cepatnya selesai. File foto hi-res berukuran 1.7 MB selesai didownload dalam 30 detik, file 950KB 15 detik... hmmm... kayaknya nggak mungkin deh koneksi internet gue se-tokcer ini. Too good to be true. Maka gue cek satu-satu file foto yang udah masuk folder download dan... tuh... bener kan... downloadnya pada belum sempurna! Jadi fotonya cuma nongol setengah gitu, ada yang baru muncul jidatnya, ada yang baru nongol hidungnya... wah repot nih. Proses download gue ulang, terjadi lagi hal yang sama. Di monitor tertulis "download completed" tapi pas dibuka fotonya pada setengah jadi gitu. Hmmm... apa yang salah ya? Gue ganti strategi. Kali ini gue pilih "view". Nanti kan kalo gambarnya udah kebuka semua tinggal klik kanan dan "save as". Memang lebih lama, tapi mudah-mudahan lebih reliable ketimbang pake cara download langsung, begitu pikir gue. Ternyata enggak. Pas diklik "View", terbuka window baru yang me-load attachment foto, dan foto baru muncul sampe alis udah berhenti. Grrrrr.. nyebelin banget. Gue pencet F5 buat ngerefresh, nggak ada hasilnya. Kadang malah lebih parah. Sampe jam 1/2 5 pagi gue begadang cuma buat download foto doang, belum mulai proses pembuatan sama sekaliii... hiii... senewen gue. Tadinya gue mau maju terus pantang mundur begadang sampe pagi, tapi ternyata jam 1/2 5 itu batas terakhir ketahanan gue. Layar monitor di depan mata jadi hilang timbul saking ngantuknya. Ah ya sudahlah, memang umur nggak pernah bohong. Gue memutuskan untuk tidur aja. Kali-kali aja besok paginya koneksi ke Gmail bisa bagusan dikit. Sabtu 2 September 2006 - pagi Tidur gue dihantui mimpi buruk kado yang belum jadi, sehingga gue kebangun jam 7 pagi. Teruhuyung-huyung jalan ke depan komputer, pegang mouse, dan... ketiduran sambil duduk. Ida kesenengan banget nemu pose langka ini dan buru-buru ambil kamera, tapi demi alasan stabilitas nasional mohon maaf, fotonya nggak bisa gue posting di sini. Setelah puas motretin suami ketiduran di depan komputer, Ida bangunin gue dan gue balik ke kamar tidur lagi sampe siang. Sabtu 2 September 2006 - siang Gue kembali duduk di depan komputer, putus asa mikirin downloadnya gmail yang aneh bin ajaib itu. Masih aja ngadat. Tiap kali buka attachment foto, baru muncul setengah, stop. Muncul seperempat, stop. Muncul 2/3, stop. hkjg hkjghkjghkjghkjg... gemes! Sementara itu, problem lain timbul yaitu masalah pencetakannya. Tadinya kan gue berencana mau nyetak di Subur, yang udah jelas terbukti hasil cetaknya paling bagus. Nah, berhubung sampe siang gini nasib foto-foto yang mau gue download masih belum jelas, tentu gue juga jadi senewen mikirin sampe jam berapakah Subur buka di akhir pekan yang indah seperti ini? Gue telepon Subur Wolter Monginsidi. "Oh, untuk hari Sabtu, Subur yang Wolter Monginsidi buka sampe jam 4 sore pak," kata mbak penerima telepon. Hm, kalo dia bilang 'Subur yang Wolter Monginsidi buka sampe jam 4' berarti setiap cabang Subur mungkin punya jam buka yang berbeda dong, begitu pikir gue. Mudah2an cabang lainnya punya jam buka yang rada panjangan dikit. "Kalo Subur yang cabang lain tutup jam berapa memangnya mbak?" "Jam 1 pak." "Minggu buka nggak mbak?" "Tutup pak" Whaaat...?? Celaka... selambat-lambatnya desain kado ini harus selesai jam 3 sore supaya bisa sampe di Subur jam 4 - padahal gimana caranya, orang download gambarnya aja belum beres! Gimana ya? Gue kebingungan sendiri sampe akhirnya muncul ide untuk nanya ke Putra. Dia kan desainer, pastinya tau tempat nyetak digital yang buka sampe malem. Hmmm... mana ya kartu nama Putra, perasaan waktu makan bubur bareng dulu itu kan dikasih? Gue aduk-aduk semua tas dan dompet - nggak ketemu.Kalo tanya Bayu sih pasti dia tau, tapi... nanti kalo dia nanya buat apa gue butuh nomer HP Putra, kan repot. Kan nggak mungkin gue jawab "Ini... buat nyari percetakan untuk nyetak kado buat elu". Akhirnya gue keinget untuk nanya ke Eriq, yang kemudian menelepon 'asisten'-nya di rumah, yang kemudian membacakan nomor telepon di kartu nama Putra via telepon kepada Eriq, yang kemudian mengirimkan nomor tersebut via SMS. Terima kasih Eriq! "Ooo... cari aja di Benhil banyak kok yang buka 24 jam," kata Putra kalem. Sedangkan Nozqa yang gue hubungi waktu belum berhasil nemu nomernya Putra menyarankan ke Snappy yang cabangnya ada di mana2. Hm, waktu itu gue belum tau bahwa Nozqa pasti lagi repot menjaga Baghol di RS - maaf ya Noz, udah mengganggu... Setelah tenang dengan urusan percetakan, tiba-tiba gue dapet ilham untuk mengatasi problem download di gmail. Gimana kalo e-mailnya gue forward aja ke e-mail gue di CBN, terus gue download pake Outlook Express? Gue coba satu biji... horeee... berhasil! Huh, kenapa ide yang cemerlang sering muncul terlambat sih? Sabtu 2 September 2006 - Sore Selesai download semua foto, sekarang mikirin problem berikut yaitu mau diapain 70 biji foto ini hingga muat ke dalam bidang seukuran 420 x 29.7 cm tanpa terkesan maksa. Gue bengong-bengong di depan komputer, nunggu ilham yang nggak kunjung muncul. Tadinya mau gue bikin mozaik berbentuk logo MP, tapi setelah gue hitung-hitung waktu yang tersedia - hmm... kayaknya nggak mungkin deh. tapi apa dong? Idenya harus sesuatu yang bisa diwujudkan dalam waktu beberapa jam aja, dan stylenya harus "MP banget". Sampe malem gue masih belum tau harus bikin apa. Sabtu 2 September 2006 - Malem Gue pergi makan malem bareng kakak dan keponakan gue, dalam rangka ultah kemarin. Baru sampe rumah lagi jam 10 malem, tentunya langsung buka MP. Pas ngeliat halaman message boardnya, langsung timbul ide, "gimana kalo layoutnya ngikutin layout message board aja?" Halaman message board MP gue capture, trus gue poles2 dikit pake photoshop - antara lain bar biru di sebelah kiri gue buang karena menuh2in tempat. User name di kanan atas gue ganti dengan "fortheblossom - kangbayu". Berikutnya, semua foto yang masuk gue crop dengan dimensi bujur sangkar (tinggi = lebar) pake photoshop. Biar cepet, di crop tool gue input dimensi yang gue mau, jadi tinggal tarik kursor satu kali udah langsung membentuk bidang bujur sangkar. Setelah semua foto selesai dicrop, gue import ke file kosong di Corel Draw dengan screen capture message board sebagai latar belakang. Gue save file dan gue cek sizenya: wuakss... belom2 udah 138 MB saja! Langsung gue berdoa dalam hati, "Ya Allah, berikanlah kekuatan kepada laptop cungkring kreditanku ini agar mampu mengolah file di luar batas kemampuannya." Untunglah permohonan gue dikabulkan Tuhan, komputer gue mampu bertahan tanpa hang hingga desain selesai. Minggu 3 September 2006 - Dini hari Sekitar jam 2-an, desain selesai dan langsung gue burn ke CD. Ida udah tidur, tapi tadi dia minta diajak kalo gue mau pergi ke percetakan jadi gue bangunin dia. Jam 1/2 3 pagi dapet taksi, tujuan awal ke Snappy di Thamrin - perasaan dulu di situ ada Snappy, tapi ternyata udah bubar. Langsung ganti arah menuju Benhil. Berhenti di tempat foto kopi pertama yang kita lewatin, yang memajang tulisan gede-gede "TERIMA CETAK DIGITAL". Sambil nungguin fotonya dicetak, gue berunding sama Ida alternatif apa yang harus diambil kalo besok pagi... eh... tepatnya "nanti pagi" ternyata nggak ada tukang frame yang buka di Mampang. Masa kadonya cuma digulung dan dikaretin, kan nggak lucu banget. Tadinya gue mikir kalo ternyata nggak ada tukang frame yang buka, terpaksa ngasih kadonya nyusul aja. Tapi terus Ida memberikan usul Plan B: pake aja frame yang punya kita dulu! Kebetulan gambar yang dibuat Bayu untuk kado kami tahun lalu juga berukuran A3, jadi kalo mau mengkanibal framenya ukurannya udah pas banget. Hmmm... mudah2an nggak harus sampe mengkanibal frame, tapi lumayan sebagai alternatif rencana. Jam setengah 4 gambar selesai dicetak, gue langsung pulang dan tidur. Minggu 3 September 2006 - pagi - the D-Day Gue dibangunin Ida jam 8, dan tanpa gosok gigi apalagi mandi langsung nyegat taksi menuju Mampang. Selepas perempatan Kuningan gue udah mulai celingukan... uff mampus, pada tutup semua gini... gue minta diturunin beberapa meter sebelum Hero. Celingukan lagi, sambil berdoa semoga hari ini Tuhan memberikan kerajinan kepada para penjual frame di Mampang sehingga mereka tergugah untuk buka toko pagi2. Gue jalan kaki menyusuri deretan toko-toko frame yang masih pada tutup itu, dan naaah... ada satu yang bukaaa..! Bener2 cuma dia doang yang buka loh! Ajaib! Langsung gue pesen di sana, nawar basa-basi (sebab kalo main tahan2an harga gue nggak punya alternatif lain) dan langsung menetapkan pilihan pada model frame yang paling minimalis. Sekitar jam 9.15, drama perjuangan pembuatan kado buat Ade dan Bayu berakhir saat mas-mas pembuat frame berkata, "Ini mas, sudah selesai..." Hufff... leganya... segala pusing dan senewen yang terjadi selama dua hari belakangan serasa langsung lenyap waktu liat benda itu terpampang rapi dalam frame! Epilog: Setelah acara kawinan selesai, Ida baru bilang, "Kenapa sih kemarin repot amat nyari nomer teleponnya Putra? Di undangannya kan tercantum tuh, design by Putra 081-sekian-sekian..."
*kalo ga mau dibilang bupati, ya udah eskponen deeeh... |