Agung's posts with tag: cubiclefarm

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag cubiclefarm
Blog EntryEksodusMar 3, '08 11:04 AM
for everyone
Kantor gue lagi digoyang eksodus besar-besaran.

Divisi gue yang anggotanya cuma ada 18 orang, selama bulan Februari kemarin harus kehilangan 5 orang - termasuk kepala divisinya. Dan ini masih akan terus berlanjut sampe tauk tersisa berapa ekor.

Awalnya, di akhir tahun 2004, bank tempat gue kerja membuka segmen Mass Market, segmen yang memfokuskan diri untuk melayani "unbankable customers". Mereka adalah para pedagang pasar yang selama ini ditolak melulu kalo mau minjem duit ke bank karena nggak punya jaminan. Dengan hanya bermodalkan 6 kantor cabang di akhir 2004, segmen ini ternyata berkembang pesat hingga sekarang punya lebih dari 700 cabang, hanya dalam tempo kurang dari 4 tahun. Portofolio kreditnya bukan lagi "M" atau "ratusan M", melainkan udah "T", setara dengan portofolio kredit sebuah bank menengah di Indonesia. Padahal ini cuma segmen, bagian, dari sebuah bank lain. Nggak heran kalo kemudian para investor dari luar negeri pada berdatangan dan mulai colek-colek para petinggi di tempat gue.   

Sekali - dua kali dicolek mungkin orang masih bisa tahan, tapi kalo keseringan kan lama-lama lemes juga. Akhirnya, di pertengahan Februari kemarin, Business Head gue, pimpinannya segmen Mass Market, mengumumkan pengunduran dirinya. Dia pindah ke sebuah bank yang baru dapet suntikan dana super gede dari investor luar negeri.

Kalo cuma dia seorang yang cabut mungkin masih nggak terlalu ngaruh ya, tapi dalam kasus ini, dia ngajak para bawahannya, yaitu para kepala divisi, untuk ikutan gabung ke kantornya yang baru. Para kepala divisi yang diajak, tentunya nggak lupa ngajak para managernya untuk ikut masuk gerbong. Dan para manager, tentunya nggak lupa sama anak buahnya - ikutan diajak juga. Akibatnya: eksodus terparah yang pernah terjadi di depan mata gue.

Divisi gue, contohnya. Anggotanya cuma 18 orang, dan selama bulan Februari kemarin udah kehilangan 5 orang - 4 di antaranya masuk dalam rombongan piknik ke bank tetangga. Berdasarkan arena gosip saat ngerokok bareng di tangga darurat, acara 'bedol desa' ini masih akan terus berlangsung. Yang udah santer kedengeran sih akan ada 2 sampe 3 orang lagi yang bakal cabut dalam kurun waktu 2 minggu ke depan.

Kebayang nggak sih, satu orang resign aja bisa bikin repot lainnya karena harus kerja dobel menghandle kerjaan orang yang resign itu. Lah ini sampe nyaris separo divisi pada angkat laptop (karena lebih banyak yang bawa laptop ketimbang bawa koper - jadi istilah 'angkat koper' kurang pas diterapkan di sini). Udah gitu, nggak pake acara ngajarin para calon pengganti, atau transfer kerjaan ke orang-orang yang tinggal, minimal ngasih tau kerjaan mereka apa dan gimana cara ngeberesinnya, sebagian besar main cabut mendadak aja kaya lagi kebelet ke jamban.

Tapi kalo cuma urusan kerjaan yang makin numpuk buat gue masih belum seberapa dibandingin sama dampak lain yang lebih parah: hubungan  antar anggota tim, baik yang udah, akan, maupun yang enggak ikutan eksodus jadi ikut-ikutan terganggu. Masalahnya, selama ini orang-orang di divisi gue punya hubungan informal yang lumayan deket. Bukan cuma terbatas hubungan kerja, tapi di luar kantor mereka juga akrab dan penuh keterbukaan. Prinsipnya, "boleh ngomong sebelum mikir asal jangan bikin orang mikir denger omongan kita".  

Eh, sekarang tiba-tiba aja jadi pada bungkam, sok misterius, dan akhirnya saling curiga satu dengan lainnya, kuatir temen yang lagi diandalin untuk gotong-royong ngeberesin benang kusut mendadak ikutan 'nyeberang'. Yang bikin gue sangat terganggu adalah, orang-orang yang mau ikut rombongan mendadak pada tutup mulut, nggak ngaku bahwa mereka mau ikut arus eksodus. Ini sebenernya mau pindah ke bank lain, atau direkrut jadi pengedar narkoba, sih?

Ada satu orang yang pas gue tanya ngakunya mau pindah ke 'konsultan', eh belakangan ketahuan ternyata ke sana juga. Lainnya ngaku mau 'bisnis sendiri', taunya ikut juga ke sana. Padahal, tiap kali gue ditanya sama orang dari divisi lain, gue selalu menjawab, "...enggak, mereka nggak ikut ke 'seberang' kok, yang satu mau ke konsultan, satunya mau bisnis sendiri..." Kebanyakan sih skeptis denger jawaban gue, tapi gue bersikeras, "Mereka nggak ikut, bener deh... mereka sendiri kok yang bilang sama gue..."  I feel so damn stupid for trusting their words that much.

Di acara farewell party sama kepala divisi hari Jumat minggu lalu, gue bilang terus terang di tengah forum, "Ada apa sih ini? Kenapa sih orang-orang yang mau ikut ke sana pada bohong semua? Emang diperintah untuk main rahasia, ya? Emangnya kalo kita tau mereka mau pindah ke sana, kenapa?"

Kepala divisi gue jawab, "Bukannya mau main rahasia-rahasiaan, tapi ibarat Agung mau beli rumah, udah sepakat sama pemilik rumah yang baru, tapi belum ada hitam di atas putih, kan nggak enak kalo Agung udah bilang ke orang-orang bahwa Agung adalah pemilik baru rumah tersebut. Siapa tau ada di antara penghuni rumah tersebut yang belum tau bahwa rumahnya udah berpindah tangan, kan mereka bisa jadi resah..."

Dengan kata lain, untuk menjaga stabilitas kondisi di 'seberang' harus mengorbankan stabilitas kondisi di tim sendiri? Well, sorry mbak, I think that is the biggest bullshit I've ever heard - so big that I can't imagine the size of the bull. Satu-satunya alasan yang masuk akal bagi gue adalah, karena rombongan itu pindah dengan tujuan 'mensabotase' perusahaan gue sekarang.
 
Trust is a very fragile thing. Sayang banget ngeliat kepercayaan yang udah terjalin di tim gue selama hampir 4 tahun ini mulai retak hanya gara-gara tawaran kerja di tempat lain. Gue sendiri udah memutuskan untuk nggak ikutan eksodus. Kalopun gue resign dari perusahaan ini, nggak sekarang, nggak akan ke sana, dan nggak akan dengan cara yang bikin susah orang.

Sebagai reminder untuk diri gue sendiri, dan saran untuk kalian yang berencana untuk resign dari kantor, berikut beberapa poin yang SEBAIKNYA dilakukan sebelum resign - kalo nggak ingin merusak hubungan dengan orang-orang yang kalian tinggal:

  • Terus terang. Kebanyakan orang yang mau resign memang 'terpaksa' merahasiakan rencananya sampe detik terakhir, karena kuatir akan  dihalang-halangi atau bahkan kena hukuman kalo sampe punya niatan pindah. Tapi begitu kesepakatan kerja dengan tempat baru ada di tangan, mendingan terus terang sama orang-orang di sekitar. Kasih tau bahwa dalam waktu dekat lo nggak akan ada untuk membantu mereka lagi. Nggak usah sok ngebohong karena cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar dan sekali lo ketahuan bohong, kredibilitas lo akan dipertanyakan.

  • Jangan ninggalin sampah. Beresin kerjaan lo sebelum resign, sampe tuntas. Kalo ada yang belum bisa dituntasin, ajarin cara ngeberesinnya ke para pengganti lo.

  • Ajukan pengganti. Masalah diterima atau enggak urusan belakang, tapi minimal tunjukkan niatan untuk mencari kandidat dengan kemampuan yang setara sama elo, untuk jadi pengganti lo nanti.
Gue pernah baca sebuah saran di artikel tentang resign, "never burn bridges behind you" - jangan pernah merusak hubungan dengan mantan rekan-rekan sekerja lo, karena lo nggak pernah tau kapan akan membutuhkan mereka lagi.

image gue pinjem dari sini

Blog Entryresolusi 2008: harus lebih menjaga ucapanDec 28, '07 3:58 PM
for everyone
Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, Anto beli sebuah laptop yang spesifikasinya lumayan canggih. Setiap hari dia bawa laptopnya ke kantor. Semua orang senang dengan kehadiran laptop Anto, terutama karena di situ terinstall game sepak bola. Sejak Anto punya laptop, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu - khususnya menjelang jam istirahat, saatnya main game sepak bola. Karena spesifikasi laptopnya memang tergolong 'super', animasi game sepak bola tampil sempurna di layar.

Pada suatu hari, gue kebetulan juga bawa laptop ke kantor. Dibanding laptop Anto, laptop gue jauh ketinggalan jaman. Anto yang lagi kurang kerjaan jalan-jalan ke deket meja gue, trus memperhatikan laptop gue.

"Hmmm.... berapa ini RAM-nya?" tanya Anto
"Cuma satu giga To..."
"Ckckck.. kecil sekali ya... apa rasanya ya, pake komputer yang RAM-nya cuma 1 giga..." kata Anto dengan gaya belagu. Bukan, bukan belagu betulan, tapi gayanya emang gitu. Dan gue tau dia cuma main-main, kok.
"Yah maklum lah To, gue mampunya cuma beli ginian, ini juga nyicil..."
"Selain itu.... hmmm... layarnya juga terbatas sekali ya? Coba, diliat dari agak samping begini, langsung nggak keliatan gambarnya."
"Ini juga udah Alhamdulillah kok To," jawab gue dengan nada memelas.
"Nggak ada webcamnya ya?"
"Nggak ada To..."
"Kasihan sekali..."

Ngeliat gayanya belagu banget, gue jadi iseng nyeletuk,

"Iya... dan gue sih berharap aja semoga JANGAN SAMPE TERJADI 'SESUATU' DENGAN LAPTOP LO YANG BAGUS ITU YA TO..."
"Ih... ih... Agung marah yaaa... ampuuun... ampuun... laptop gue jangan disumpahin guuuung..."
"Nggak nyumpahin, justru gue berharap JANGAN SAMPE LAPTOP LO KENAPA-NAPA gitu loooh..."
"Huhuhu... ampppuuun... jangaaaan..."

Beberapa hari kemudian, Anto iseng ingin nyoba pake dual-OS: Windows Vista dibarengi dengan Windows 2000. Nggak sengaja dia melakukan kesalahan fatal, yaitu file system Win Vista-nya ketiban sama Win2000. Akibatnya si laptop canggih nggak bisa nge-load Windows dan masuk ke safemode melulu.

Saat gue lewat deket mejanya, Anto lagi mengutak-atik si laptop super dengan tampang prihatin.

"Kenapa laptop canggih lo? Mampus?"
"Ah enggaaak... cuma salah sedikit aja waktu nginstall windows, ini lagi gue betulin."
"Oh... kirain mati total."
"Enggak doooong... gila aja."

Dua hari kemudian, suasana jam istirahat masih sepi - pertanda  laptop  Anto masih belum siuman.  Waktu gue tengok ke mejanya, laptopnya  lagi diformat.

"Laptop canggih kok layarnya gelap, To?"
"Aaah.. nggak papa, ini lagi gue format ulang aja biar beres semuanya. Nanti abis diformat kan nyala lagi."

Setelah diformat, Anto baru sadar bahwa dia nggak punya driver untuk VGA cardnya. Dia udah coba download drivernya dari internet, tapi ternyata nggak compatible dengan VGA cardnya.

Gue mampir lagi ke mejanya.

"Laptop pake VGA card kok gambarnya burem amat To?"
"Itu lagi safemode, dodooool..."
"OH? Masih RUSAK, rupanya?"
"Enggak, enggak rusak. Ini tinggal gue install ulang windowsnya juga beres kok."
"Kalo lagi safemode, gambarnya jelek ya To."
"..." Anto males jawab. Gue berlalu sambil ngetawain tampang Anto yang mulai frustrasi.

Beberapa hari kemudian dia bela-belain beli CD Windows XP "black edition" yang konon udah dilengkapi aneka driver hardware.

"Laptop masih mati, To?"
"Ini lagi mau gue install Windows XP, abis ini pasti nyala lagi deh."
"Mudah-mudahan ya To... soalnya... laptop bagus-bagus tapi nggak nyala kan percuma aja."
"Iya gung, iyaaaa...."

Beberapa hari berlalu, laptop Anto nggak nampak lagi di mejanya.
"Loh, LAPTOP MAHAL ke mana To?"
"Di bengkel. Nyerah gue, masih belum nyala juga."

Mengingat Anto adalah seorang programmer lulusan teknik informatika, ini aneh. Masa nginstall Windows aja sampe gagal? Gue jadi mulai nggak enak.

"Lah, kemarin lu beli Windows XP blacky itu, nggak bisa juga?"
"Enggak."
"Kenapa?"
"Nggak tau, aneh banget."
"Waduh, maap lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo kenapa-napa... bener deh..."
"Enggak... nggak rusak kok. Paling diservis sebentar juga udah beres lagi. Masih garansi ini."

Seminggu laptop Anto nginep di bengkel, belum beres juga.
"Laptop canggih apa kabarnya To?"
"Masih di bengkel."
"Kok lama amat?"
"Tauk tuh, kemarin gue telepon, masa tukang bengkelnya juga bingung..."
"Waduuuh... tapi bener lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo rusak..."
"Iya, iya."

Kemarin, Anto menelepon bengkel komputer. Kabar gembira: laptopnya udah beres dan bisa diambil.

Hari ini, Anto kebetulan cuti. Dari rumahnya di Pamulang, dia menelepon bengkel laptop di Ratu Plaza untuk memastikan sekali lagi bahwa laptopnya udah selesai direparasi.
"Udah siap Pak, tinggal ambil aja," kata tukang bengkelnya.

Maka pergilah Anto jauh-jauh dari Pamulang ke Ratu Plaza, dan sesampainya di sana...

"Aduh Pak, mohon maaf lho ini, ternyata LAPTOP BAPAK MASIH BELUM BERES."
"Heh? Kenapa lagi? Tadi saya telepon katanya udah bisa diambil?"
"Memang pak, kami sampe ganti motherboard dan semalem udah beres. Tapi barusan dicoba lagi ternyata masih belum bisa pak, mohon maaf. Ini kami mau ganti sekali lagi motherboardnya..."
"Motherboard? Awalnya kan cuma salah nginstall, kok bisa motherboardnya sampe kena?"
"Itulah Pak, kami juga bingung..."

Dengan bersungut-sungut Anto meninggalkan Ratu Plaza menuju ke kantor untuk ngomel, "INI SEMUA GARA-GARA AGUNG NYUMPAHIN LAPTOP GUE, LIAT TUH SEKARANG SAMPE UDAH DUA KALI GANTI MOTHERBOARD BELUM BERES JUGA!!"

Beneran deh, mulai sekarang gue harus lebih hati-hati menjaga ucapan... Maaf lho To, serius gue nggak pernah bermaksud ngedoain laptop lo rusak....

Posting lain tentang celetukan gue yang jadi kenyataan bisa diklik di sini.

Blog Entryhidangan jorok di hotel berbintang 5Nov 20, '07 10:29 AM
for everyone
Selama bulan Oktober - November, ada 5 orang di divisi gue yang ulang tahun. Berhubung kelimanya udah masuk golongan 'boss', maka todongan traktiran berada di level yang lebih tinggi dari sekedar sate atau mi ayam seputar kantor. Maka hari ini, kami sedivisi beramai-ramai ditraktir di restoran buffet sebuah hotel bintang lima di bilangan Mega Kuningan, dengan kelima orang tersebut sebagai penyandang dana patungan.

Di sana, terjadi percakapan semi fiktif yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

"Ih... ih... ih... liat deh nama makanan yang itu!"
"Ya ampun... joroknya..."
"Katanya hotel bintang lima, kok makanannya jorok gini sih..."
"Tega banget orang disuruh makan gituan."
"Butuh berapa orang ya, untuk bikin sepanci gede gitu...."
"Pantesan rasanya asin-asin gimanaaa.... gitu."
"Hiy... geli' gue ngebayanginnya, eneg tauu..."

"Pada ngomongin apaan sih?"
"Itu lho, liat deh, masa makanan yang itu namanya...


"ITU BACANYA KON-JI, DODOOOL... Artinya 'bubur'!"
"Lha iya, bubur conge, kan?"
"Hus, bukan. Liat dong, 'e'-nya ada dua. Jadi bacanya harus dipanjangin, kaya manggil dari kejauhan, gitu. Bubur Congeeeeeeee....."
"huhuhuhuhu..."
"hihihihihihihi..."

"...dasar rombongan manusia katro."

Blog EntryTips bikin outing suksesSep 9, '07 1:57 AM
for everyone
Hari Sabtu 8 September kemarin gue pulang dari outing bareng temen-temen kantor di Carita. Lagi-lagi bertugas jadi seksi acara. Artinya, sejak tahun 2000 sampai sekarang, gue udah  5 kali mengisi acara outing di kantor, dan hanya absen di tahun 2003 dan 2004. Biarpun kantornya gonta-ganti, kok ya tetep aja... gue lagi, gue lagi yang kepilih jadi seksi acara outing. Aneh.

Sebenernya, kalo boleh milih sih gue lebih suka jadi peserta ketimbang panitia outing. Bayangin aja, saat semua orang lagi hore-hore gitaran sambil nyanyi-nyanyi, atau foto-foto, atau berendem di kolam renang, gue masih harus sibuk nyiapin aneka peralatan games. Belum lagi kalo ada yang komplen karena merasa acara outingnya kurang nendang. Dikiranya panitia outing dapet honor tambahan, kali. Padahal boro-boro honor, seringkali malah nombok!

Tapi berdasarkan pengalaman berkali-kali ngurusin outing, akhirnya gue bisa menarik kesimpulan tentang manfaat dan tips bikin outing yang sukses. Gue tulis di sini sebagai referensi, kali aja ada di antara kalian yang bernasib sama seperti gue.

Definisi outing sukses menurut gue
Sebuah acara outing bisa dikategorikan 'sukses' kalo:
  1. Tingkat kehadiran lebih dari 80%
  2. Masih jadi topik pembicaraan hingga beberapa minggu setelah acaranya selesai
  3. Hubungan kerja antar bagian / departemen jadi lebih mulus atau minimal berkurang tingkat konfliknya
  4. Masing-masing peserta mendapat insight / inspirasi dari acara yang dikuti selama outing.
Manfaat outing
Selama outing, para peserta belajar untuk mengenal rekan-rekan kerjanya sebagai pribadi, bukan sekedar kotak dalam struktur organisasi. Outing yang sukses akan menghasilkan pembicaraan-pembicaraan seperti:

"Gue baru tau lho, ternyata Pak Anu itu suaranya bagus banget!"
atau...
"Ternyata Bu Anu yang gue kira pendiem itu bisa asik juga diajak ngobrol soal masak-memasak..."
atau...
"Ya ampuuun... taunya si Anu itu masih sepupu jauh sama gue!!"

Komentar-komentar seperti itu hanya mungkin muncul bila acara selama outing memfasilitasi para pesertanya untuk saling berinteraksi dan lebih mengenal satu dengan lainnya. Gimana caranya?

Elemen-elemen outing sukses

1. Keseimbangan antara acara bebas dan terstruktur

Supaya para peserta outing bisa saling mengenal satu dengan lainnya, maka HARUS ada acara khusus yang dedesain untuk itu. Masalahnya, acara outing biasanya diadakan pas weekend, waktu yang biasanya dimanfaatkan orang untuk beristirahat. Kalo selama outing penuh dengan acara permainan ini - itu yang nggak memberikan kesempatan istirahat, peserta malah akan kecapean dan nggak menikmati outingnya. Harus ada keseimbangan antara waktu untuk acara khusus dengan waktu untuk santai-santai. Tentang berapa persen waktu yang sebaiknya dibiarkan untuk acara bebas, bisa bervariasi tergantung karakter para peserta outingnya sendiri.

2. Akomodasi terpusat

Untuk penginapan, usahakan pilih tempat yang bikin para pesertanya ngumpul bareng, misalnya di villa. Hotel adalah pilihan yang jelek karena para peserta akan terpencar-pencar sehingga yang ada nanti mereka cuma akan ngilang sendiri-sendiri dan susah diajak ikutan acara bareng. Tahun 2005, gue outing di Bandung dengan akomodasi sebuah wisma milik kantor. Wismanya cuma punya 2 kamar sementara pesertanya ada 15 orang - sehingga ada yang terpaksa gelar koran di lantai atau tidur di mobil karena nggak kebagian tempat tidur - tapi mereka happy - happy aja dan proses interaksi antar peserta berjalan intens. Gimana nggak intens kalo tidurnya satu kasur bertiga.

3. Komitmen dari big boss

Sayangnya, nggak semua boss ngerti bahwa outing itu penting. Para boss yang basi dengan ngasih kata sambutan kepanjangan, dateng ke lokasi belakangan naik mobil pribadi sementara peserta lainnya naik bis, yang memaksakan acara-acara 'pesan sponsor' dengan porsi berlebihan, yang ujug2 ngomongin kerjaan saat makan malam, atau yang cuma mau nonton tanpa mau terlibat permainan, adalah elemen yang sangat berbahaya bagi kesuksesan sebuah outing. Idealnya, boss juga ikut terlibat dalam seluruh proses outing, termasuk berpartisipasi dalam aneka game konyol di dalamnya. Semangat outing adalah membuat semua orang menjadi manusia, termasuk para boss.

4. No Family allowed

Soal perlu atau enggaknya keluarga diajak saat outing, memang masih jadi pro dan kontra. Tapi gue sendiri lebih suka bila acara outing nggak melibatkan keluarga. Alasannya, bila masing-masing peserta membawa keluarga, maka nanti sepanjang acara mereka hanya akan sibuk ngurusin keluarganya. Mungkin ada yang anaknya sakit, berantem dengan anak orang, kelelep di kolam, mecahin piring, dlsb. Belum lagi kalo ada yang pasangannya cemburuan, sehingga sepanjang acara terpaksa 'jaim'. Kalo udah kaya gitu, gimana mau mulai proses interaksi antar peserta?

5. Keterlibatan para peserta dalam proses

Berdasarkan pengalaman gue, keterlibatan peserta berbanding lurus dengan kesuksesan outing. Peserta yang dilibatkan sejak awal sekali, misalnya dengan polling untuk menentukan lokasi outing, biasanya akan lebih antusias untuk berpartisipasi. Selain itu gue juga menemukan bahwa peserta yang harus urunan / patungan untuk membiayai outing biasanya lebih antusias untuk ikut ketimbang yang terima beres dan dibayarin kantor 100%. Kuncinya adalah membuat peserta berpikir bahwa acara ini milik mereka - bukan 'titipan sponsor' dari pihak management.

foto: gue di depan papan game hasil karangan gue sendiri :-)

Catatan:
Ini adalah 100% true story, tapi berhubung salah satu tokohnya melakukan tindakan yang sangat dodol, maka nama-nama tokohnya terpaksa diganti - daripada gue dibilang melakukan pencemaran nama baik...

Alkisah, hiduplah dua orang karyawati Bank Danamon (perhatikan baik-baik nama banknya ya... Bank Danamon) bernama Tuti dan Rini. Pada suatu siang, Tuti berjalan dari luar  menuju ke mejanya.  Rini yang kebetulan duduk di sebelahnya basa-basi bertanya, "Eh, dari mana lo, kok baru nongol sekarang?"

"Ini lho mbak, abis buka rekening tabungan di bawah..."

"Rekening tabungan buat siapa? Buat anak lo?"

"Bukan. Jadi kan gini ya... tadi tuh aku ditelepon sama bagian sales. Katanya, kita sebagai karyawan Danamon boleh ambil kredit dengan bunga lebih kecil. Tapi syaratnya, kita harus punya rekening tabungan yang bukan rekening payroll (pembayaran gaji - red)..."

"Iya betul, soalnya rekening payroll itu nggak bisa menerima transfer dari tempat lain, cuma bisa dari HRD aja. Trus?"

"Ya makanya tadi aku ke bawah, buka rekening tabungan baru, gitu loh!"

"...sebentar... kok lo buka rekening baru di bawah? Di gedung ini kan kita nggak punya kantor kas?!"

"Iya tau... makanya tadi aku buka rekening tabungan di BANK PERMATA... sama aja, kan? Sama-sama rekening tabungan, gitu. Ya kan, mbak? Loh, mbak, kok jedot-jedotin kepala ke meja, kenapa mbak? Mbak? Mbak...??"


Epilog:
Setelah mendapat penjelasan yang cukup 'menyakitkan' dari Rini, Tuti mencoba membela diri, "...lagian tadi salesnya nggak bilang kalo buka rekeningnya harus di Danamon juga, mana aku tau..."
Yang kemudian ditimpali oleh seseorang dengan, "Untung bukan rekening listrik yang lo buka tadi".


image berasal dari sini


Blog EntryKisah nyata: Hati-hati nerima SMS dari atasanJun 2, '07 2:47 PM
for everyone
Cerita ini sebenernya udah rada basi, yaitu waktu menjelang temen gue yang bernama Roy resign (pernah gue senggol diki di sini). Tapi gue jadi keinget lagi gara-gara beberapa hari yang lalu gue abis melepas temen yang lain lain lagi, yaitu Fredy, resign dari kantor.

Jadi begini ceritanya:

Waktu Roy secara resmi mengumumkan rencana pengunduran dirinya, maka temen-temen sedivisi gue pada berencana ngasih kenang-kenangan buat dia. Bentuknya adalah kumpulan foto temen-temenya, disertai pesan dan kesan tentang Roy.

Yang kebagian tugas bikin benda itu adalah seorang anak baru bernama Trini (waktu posisinya lowong pernah gue iklanin di sini). Karena waktunya mepet, maka setiap hari Trini nguber-nguber semua orang untuk cepetan ngumpulin pesan dan kesannya. Satu demi satu akhirnya semua orang udah mengumpulkan pesan dan kesannya, kecuali seorang yaitu Kepala Divisi gue yang bernama Mbak Ratih (pernah gue journalin waktu minta bikinin artikel iklan di sini). Waktu itu si Mbak memang lebih sering keluar kantor, jadi sulit dijangkau oleh Trini.

Sampailah pada deadline pengumpulan pesan dan kesan, tiba-tiba Mbak Ratih sadar bahwa dirinya belum ngumpulin pesan dan kesan untuk Roy. Berhubung saat itu dia masih sibuk di luar kantor, maka dia berniat mengirimkan pesan dan kesannya via SMS. Tapi, berhubung trini anak baru, dia belum punya nomor HP Trini. Maka sebagai alternatifnya dia mengirimkan SMS berisi pesan dan kesan buat Roy kepada Nanda (yang dulu pernah jalan-jalan ke Jogja bareng gue di sini).

Karena Roy termasuk orang yang berprestasi di pekerjaannya, maka nggak heran kalo SMS pesan dan kesan dari Mbak Ratih penuh dengan kata-kata positif, seperti:
"You are a very talented person..." "..humble..." "...focused in work..." "...outstanding..." "...excellent..." dst dst yang dirangkai dalam sebuah paragraf penuh kalimat mengharu-biru dan diakhiri dengan kalimat "I'm so glad i know you..."

Dan dikirimkanlah SMS pesan dan kesan tersebut kepada Nanda - maksudnya untuk diteruskan kepada Trini.

Dan diterimalah SMS itu oleh Nanda, yang dengan penuh rasa percaya diri menyangka SMS itu MEMANG DITUJUKAN UNTUK DIA. Maka Nanda membalas, "I'm glad I know you too, Mbak..."

Kesalahpahaman itu berhasil terselesaikan beberapa menit kemudian, dan Nanda sempat berharap Mbak Ratih mau kompakan merahasiakan 'insiden memalukan' yang menimpanya dari kuping anak-anak yang lain.

Tapi harapan tersebut pupus waktu Mbak Ratih membuka acara farewell party Roy dengan kalimat lantang, "Eh, kalian udah pada tau belum... masa ya... Nanda ge-er nerima SMS saya..."

Sesudahnya, wah... belum pernah gue ngeliat anak2 ketawa sekeras itu.
Pesan moral: hati-hati kalo nerima SMS dari atasan...

gambar gue pinjem dari sini.

Blog Entryada yang mampu berprasangka lebih baik dari gue?Apr 29, '07 11:06 PM
for everyone

Hari ini gue dapet e-mail forward-an yang menawarkan TV Sanyo flat
dengan harga khusus. Hal yang wajar dan biasa-biasa aja, kan? Tapi coba
deh baca e-mailnya baik-baik, khususnya di bagian "Note":

---------------
From: d****.l**
Sent: 27 April 2007 16:01
To: ***
Subject: FW: Sori... interrupt..... Ini iklan




Ada yang mau beli

SANYO TV 29' FLAT.

Kondisi Baru 100%.

Garansi 1 tahun. (asli SANYO)

Unit Terbatas, cuma 3000 buah.

Rp. 1.800.000,- (pasaran Rp. 2 jutaan)



Note : Tampilan awal ada tulisan "DIKNAS", selebihnya semua biasa.

Bagi yang berminat silakan kontak d**** l**
---------------

Hmmm...mari kita mencoba berprasangka baik ya...

Bukan, 3000 unit tv ini BUKAN hasil pengadaan Dept. Pendidikan Nasional
yang di-KORUPSI (ups, istilahnya kasar ya? hmmmm... gue ganti deh,
di-SIKAT) melainkan...

...program yang disponsori Depdiknas untuk mempermudah para karyawan
kantoran beli tv sehingga wawasannya lebih luas - selaras dengan
semangat 'mencerdaskan kehidupan bangsa'.

...perusahaan elektronika raksasa SANYO sedang mengalami kesulitan
keuangan sehingga membutuhkan suntikan modal dari Depdiknas RI. Sebagai
penghargaan, pihak SANYO mencantumkan logo Depdiknas di 3000 unit tv.

...Presdir Sanyo Indonesia sangat memperhatikan kemajuan pendidikan.
Untuk menunjukkan dukungannya, maka ia memajang logo Diknas di tv
keluaran terbaru.

...dalam rangka menyambut ujian nasional, Depdiknas menitipkan logonya
agar muncul di tv Sanyo sehingga anak-anak yang mau ujian kembali ingat
belajar saat nyalain tv.

...tv Sanyo ini di-asembling dari tivi merk Diknas, made in China. Kaya
kalo kita beli DVD merk "Chang-Hong" atau "Sang-Chung" atau apalah kan
pas disetel pertama suka keluar tulisan "Sony" atau "Pioneer".

...atau....

huff... ternyata susah ya berprasangka baik untuk urusan yang satu ini.
Ada yang mampu berprasangka lebih baik dari gue?

===
Buat sirtub, ini posted by e-mail, jadi harap maklum kalo nggak ada
gambarnya, ya...

Pesan Sponsor:
Planet Holiday Tour and<br>Travel


Blog Entryrealita hari ini: pedihnya persahabatanApr 11, '07 1:14 PM
for everyone

Friendship is a gift of God. Some of us are blessed with good friends. But as it happens, these friendships are taken for granted in some cases and not valued.

(kutipan dari artikel di sini). 

Yah, hari ini gue sejumlah kejadian yang pas banget dengan kalimat di atas; bahwa ternyata selama ini gue kurang memperhatikan eratnya persahabatan dengan orang-orang di sekitar gue. Dan ketika gue tersadarkan atas makna persahabatan itu sendiri, ternyata malah pedih yang terasa.

Jadi begini ceritanya;

Udah hampir 2 bulan terakhir ini, pundak kanan gue sakitnya luar biasa. Kaya keseleo, gitu. Anehnya, gue nggak bisa mengingat kapan, apa, dan di mana pangkal permasalahannya. Pokoknya tiba-tiba sakit, aja. Lengan kanan gue jadi nggak bisa diangkat tinggi-tinggi, karena baru digerakin ke atas dikit aja sakitnya bukan main. Lucunya*, sakitnya suka datang dan pergi gitu. Kadang sakiiit.. banget, kadang nggak terlalu terasa. 

Tiap malem udah gue gosokin pake salep pereda sakit otot sampe mata gue kiyer-kiyer kena uap panasnya, sakitnya nggak berkurang. Akhirnya gue pergi ke dokter spesialis urat dan syaraf. Eh, pas sampe ruang praktek dokter, tau-tau penyakitnya ngumpet. Sama dokter gue disuruh menggerak-gerakkan lengan ke segala arah, nggak ada rasa sakit sama sekali. Dokternya bingung, akhirnya gue dikasih surat pengantar untuk pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imagery). Itu lho, yang alatnya canggih kaya di film sci-fi. Image yang dihasilkan alat ini lebih jelas daripada ronsen, bahkan bisa mendiagnosa kimia darah segala lho!

Waktu disuruh periksa MRI sih gue iya-iya aja. Pikir gue, 'wah seru nih, ngerasain periksa MRI, lumayan buat bahan posting di MP'. Eh ternyata belakangan gue tau bahwa untuk scanning pundak sebelah doang biayanya DUA KOMA TUJUH JETI RUPIAH (duit semua, nggak boleh campur daun). 

Memang sih gue dicover asuransi kesehatan dari kantor, tapi mbak-mbak petugas MRI dengan reseknya bilang bahwa kalo mau periksa MRI dengan dicover asuransi maka surat pengantar dokternya harus dilengkapi dengan diagnosa. Gue bilang sama tuh mbak-mbak, "justru dokter saya bingung mau diagnosa apaan, makanya saya disuruh MRI"  tapi dia tetep ngeyel. Ya sud, gue batalin MRI dengan niat kapan-kapan mau balik ke dokter untuk minta lengkapin surat pengantarnya.

Waktu berjalan, gue nggak sempet-sempet balik ke dokter lagi dan gue menjalani hari-hari sambil menguji kesabaran menahan sakit yang datang dan pergi. Gue berharap, mungkin kalo didiemin lama-lama ilang sendiri. Eh ternyata enggak. Sementara itu, Eveline sang instruktur fitness mengingatkan bahwa porsi latihan gue jadi nggak seimbang karena gue cuma berlatih cardiovasculer melulu tanpa latihan beban. Padahal boro-boro latihan beban, dipake buka singlet aja lengan gue sakit banget.

Alhamdulillah, pada suatu hari Allah memberikan petunjuk. Tiba-tiba gue teringat pada seorang temen lama, sesama pegawai BPPN dulu, yang jago banget ngurut orang keseleo dan patah tulang. Namanya Sulaiman alias Maman. Setelah tanya-tanya beberapa temen yang lain, akhirnya gue berhasil mendapatkan nomer teleponnya.Gue hubungi si Maman, dan untungnya dia masih inget gue sehingga 2 minggu yang lalu gue mampir ke rumahnya minta diurut. (Cerita lengkap tentang si Maman nanti gue tulis terpisah di review ya, barangkali ada di antara kalian yang butuh bantuan mengatasi problem dengan urat dan tulang).

Sebagai orang yang pada dasarnya nggak suka dengan aktivitas pijat-memijat, sesi pengurutan di rumah Maman terasa bagaikan kamp penyiksaan buat gue. Suakiiiit banget. Lucunya** dia mulai narik dari tempat yang kayanya nggak berhubungan dengan pundak, seperti dari punggung bawah dan siku kanan. Habis diurut-urut, baru lengan gue dipelintir ke atas. KRRKK! Man, sakitnya sampe mata gue berkunang-kunang.

Tapi walaupun tersiksa, ternyata sepulang dari rumah Maman pundak gue terasa lebih baik. Ada peningkatan mobilitas, lah. Kalo dulu baru posisi naik 25% aja udah sakit, sekarang lumayan, lengan bisa gue angkat sampe 50%.

Karena terkesan dengan hasil karya Maman, maka minggu depannya gue datang lagi ke rumahnya. Ditarik-tarik lagi, tapi nggak sesakit yang pertama. Habis itu kondisinya makin baik, bahkan gue mulai berani latihan beban lagi di gym. Tapi ternyata abis latihan beban sakitnya kumat lagi, jadi Selasa malem kemarin gue balik ke Maman.

Maman bilang, memang proses penyembuhannya belum selesai. Justru sekarang inti permasalahannya udah mau keluar ke permukaan, katanya - entah apa maksudnya. Yang jelas sesi pengurutan semalem itu bener-bener puncak dari segala macem rasa sakit yang pernah gue alami selama 33 tahun 7 bulan hidup gue di dunia. Jauuuuuuh.... lebih sakit dari 2 sesi sebelumnya. Bukan cuma ditarik dan diurut, tapi punggung gue juga digerus dengan buku-buku jarinya. Kalo mau ngebayangin rasanya, bayangin rasanya kerokan - tapi koinnya bukan cuma satu melainkan 4 biji, dan bukannya pake koin melainkan tutup botol softdrink, digores tegak lurus dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tau sendiri otot itu kan umumnya mengarah ke samping, jadi kalo digiles secara memotong jalur gitu akan terasa sangat sedap*** sekali deh ih.

Pulang dari rumah Maman, otot pundak dan punggung gue terasa lembek seperti buah Mengkudu mateng pohon. Jangankan kesenggol, kena getaran waktu gue jalan aja sakit. Dan kok ya kebetulan TAS GUE RANSEL. Ugh... mantap. Sampe di rumah, Ida shock waktu gue pamerin bekas urutan si Maman. Bentuknya memang rada mengerikan sih, kaya abis digiles roda mobil. Liat aja sendiri kalo nggak percaya:

Selain punggung, pundak kanan gue juga dipenuhi lingkaran-lingkaran lebam bekas tekanan jari-jemari si Maman.

Pagi ini, gue ngantor seperti biasa walaupun sambil sedikit meringis waktu masang ransel di pundak gue. Dan... terjadilah apa yang gue tulis di bagian awal posting ini, yaitu PEDIHNYA PERSAHABATAN. Atau dengan kata lain, hari ini gue baru menyadari bahwa ternyata temen-temen gue itu sangat gemar untuk saling MENEPUK PUNDAK!!

Pagi-pagi, baru mulai nyalain komputer, dateng seseorang yang mau nitip upload memo di website intranet gue.

"Gung, gue nitip memo nomer sekian-sekian untuk dimasukin ke library ya!"
"OK."
"Thanks Man!" [sambil nepuk pundak]
"AAAAAOOOWWW...!!!"
"Loh, loh, kenapa?"
"...blablabla..." [menceritakan kronologis pengurutan pundak]
"Oh gitu... wah sorry banget, gue nggak tau."
"Iya nggak papa."
"...tapi, tolong ya man, titip memonya." [sambil berancang-ancang mau nepuk pundak lagi]
"Iya. Awas tangannya, tangannyaaa...!!"
"Oh iya sorry lupa, kebiasaan."

Siangan dikit..
"Makan siang di mana kita Gung?" [sambil nepuk pundak]
"AAAAAOOOWWW...!!!"
"Loh, loh, kenapa?"
"...blablabla..." [menceritakan kronologis pengurutan pundak]
"Lagi pada ngomongin apa sih kok seru banget?" tanya seorang teman yang lain, sambil memijat pundak.
"$%@!!!! ^^&%!!!!!"

Sorenya, temen gue yang bernama Rudi minta tolong dibuatin logo dan proposal untuk sebuah band yang baru dibentuknya.
"Tolong yah gung, dibuat rada gimana gitu biar nggak malu-maluin waktu ngajuin ke produser rekaman," katanya
"Iya. Tapi TANGANNYA AWAS JANGAN NYENGGOL PUNDAK GUE!"
"Iya, iya..."

Beberapa saat kemudian,
"Nih Rud, proposalnya gue buat begini, oke nggak?"
"WUAH.. GUNG! KEREN PISAN EUY!!" serunya excited sambil... PLOOOK! menepuk pundak gue sekuat tenaga.  

Siapa sih pakar manajemen yang dulu pernah nyeletuk 'sebuah tepukan di pundak lebih berharga dari uang'? Pingin gue sobek-sobek mulutnya. 

 

*tentunya bukan dalam pengertian 'lucu' secara harfiah ya. 
**lagi-lagi tidak untuk diartikan secara harfiah.
***apalagi yang ini, sama sekali tidak bermakna harfiah.


Blog Entrysebelah mananya sih yang kurang jelas?Mar 14, '07 4:27 AM
for everyone
Dalam rangka meningkatkan keamanan data di website intranet, beberapa bulan yang lalu divisi gue memberlakukan sistem username dan password. Jadi para pegawai yang mau mengakses data di website harus mengisi formulir permohonan username dan password dulu. Formulirnya dikirim ke gue, trus gue input ke sistem, habis itu pemohon gue kirimi e-mail berisi pemberitahuan username dan password. Nanti kalo mereka pake username dan password itu untuk mengakses website akan muncul pemberitahuan sbb:

Selamat datang ke website intranet!

Mohon ganti password Anda dengan memasukkan password baru ke tempat yang telah disediakan berikut ini:

Password baru :
Ulangi password baru :

Di bawah pengumuman itu ada 2 tempat isian password dan reconfirm password seperti LAZIMnya proses penggantian password di web yang udah umum berlaku sejak.... yah katakanlah 15 - 20 TAHUN YANG LALU. Semua perintah ditulis dalam bahasa indonesia, tampilan halamannya polos tanpa pernak-pernik yang mungkin akan mengganggu konsentrasi. Pokoknya simpel deh. Atau dengan kata lain; SEHARUSNYA sih simpel.

Tapi gue sungguh nggak ngerti kenapa sejak 2 hari yang lalu gue BANYAK* menerima telepon yang kutipan dialognya kurang lebih seperti ini:

"Halo, dengan Mas Agung?"
"Ya, ada yang bisa dibantu?"
"Gini mas, saya kan udah terima email dari mas yang isinya username dan password tuh, kok sekarang saya nggak bisa akses ke website ya?"
"Coba ceritain urutannya yang jelas, sejak terima e-mail saya kemarin Anda ngapain?"
"Ya kan di email ada username dan password, terus saya masukin ke website..."
"Ok, udah betul. Trus?"
"Trus ada perintah ganti password, saya bikin password baru."
"Betul. Trus?"
"Trus saya log-out, pas mau masuk lagi, eh passwordnya ditolak."
"...hmmm..."
"Kenapa ya mas...?"
"...ini sekedar nanya aja ya, tapi ngomong-ngomong waktu mau masuk lagi, pake password yang mana ya?"
"... ya pake PASSWORD YANG ADA DI EMAIL MAS"
"..."
"...mas?"
"Jadi kalo boleh saya ulang urutannya: Anda terima username dan password dari email, Anda pake password itu untuk mengakses website dan waktu login pertama kali udah diminta GANTI PASSWORD. Sekarang Anda bingung kenapa gagal waktu mencoba login pake PASSWORD YANG LAMA, gitu ya?
Gimana, menurut Anda ada yang terasa JANGGAL nggak dengan urutan tersebut?"
"...oh... jadi.... saya harus pake PASSWORD YANG BARU ya mas, yang saya buat sendiri?"
"Yak, seratus."
"Oh... gitu... maaf ya mas, maklum AGAK gaptek."
"AGAK? 'BANGET' mungkin lebih tepat. Selamat siang."


*=penekanan bahwa bukan cuma satu atau dua. Banyak.

[posted by e-mail]



Blog Entrymelemaskan otot... enaknya di mana ya?Dec 5, '06 10:47 AM
for everyone

Hari senin kemarin, terdengar sedikit kehebohan di kalangan temen2 kantor gue. Mereka nampak sedang mengerumuni sesuatu sambil cekikikan secara mencurigakan. Gue, tentu aja langsung mendekat.

Ternyata mereka lagi mengerumuni sebuah bulletin nasabah. Buat yang punya rekening tabungan di bank pastinya pernah nerima bulletin seperti ini, yang disisipkan di dalam amplop berisi laporan saldo bulanan. Isinya biasanya nggak jauh dari perkenalan produk-produk baru bank serta tak lupa kata sambutan dari boss bank yang bersangkutan.

Berhubung sebentar lagi musim liburan, maka bulletin nasabah bulan ini nggak lupa memuat artikel berjudul "TIPS AGAR FIT SELAMA BERLIBUR". Isinya ya kurang lebih hal-hal yang mungkin bayi Rafi juga udah tau seperti "jangan jajan sembarangan" atau "jangan mengabaikan jadwal makan" atau "jangan lupa membawa cemilan yang bergizi untuk bekal di jalan". Tapi ada satu poin yang amat sangat menarik perhatian dari tips tersebut yaitu:


(kalo mau baca lebih jelas bisa klik di sini)

"luangkan waktu untuk berolahraga, misalnya sempatkan diri untuk berenang di hotel atau LEMASKAN OTOT-OTOT YANG KAKU DI KAMAR HOTEL ATAU DI KAMAR KECIL."

...
......
...sebentar, sebentar...

Kira-kira aktivitas APAKAH yang secara SPESIFIK dilakukan di KAMAR HOTEL atau KAMAR KECIL yang dapat melemaskan otot??

Repotnya lagi, poin yang ambigu ini juga dapat mengundang spekulasi yang lebih lanjut seperti:
  • Apakah bila kita merasa ada sebagian "OTOT" yang kaku maka kita sebaiknya segera menuju ke kamar hotel atau kamar kecil?
  • Apakah bila kita memasuki kamar hotel atau kamar kecil dengan "OTOT" yang kaku maka setelahnya kita akan menjadi LEMAS?
  • Apakah ada alternatif lain di luar kamar hotel dan kamar kecil yang juga dapat me-LEMAS-kan "OTOT" yang kaku?
  • Apakah dengan demikian kita patut berhati-hati dalam memasuki kamar hotel atau kamar kecil karena setelah keluar dari sana kita dapat menjadi LEMAS?
  • "OTOT" apakah yang bila menjadi kaku hanya dapat di-LEMAS-kan di kamar hotel atau kamar kecil?
  • Apakah proses pe-LEMAS-an otot yang terjadi di kamar hotel atau kamar kecil terjadi secara suka rela atau harus melalui paksaan tertentu?
  • Di manakah kita bisa menemukan hotel tertentu yang menyediakan fasilitas untuk me-LEMAS-kan OTOT kaku di kamar hotel atau minimal kamar kecilnya?
Bener-bener sebuah tip yang kontroversial.

Buat mas / mbak yang kerjanya nulis bulletin nasabah, mbok ya lain kali kalo bikin tips yang tidak terlalu menimbulkan keresahan masyarakat gitu loh.

Blog Entryposting tamu: puisi2 SusantiDec 5, '06 9:54 AM
for everyone
Masih inget Susanti, temen kantor gue yang waktu itu nitip posting tulisan yang ini? Kali ini dia menitipkan 2 puisinya untuk ikutan nongol di Mbot's HQ.
FYI, dia ini lulusan biologi UGM - jadi harap maklum kalo puisi2nya bertaburan istilah2 biologis ya ;-)

Takut

Duduk di sudut ini....

Sudah 2 tahun berlalu
Makin berserakan, serpih ke serpih puzzle
Lelah menyangkal
Bahkan tangis semalam masih bersisa
Segores demi segores buat lukisan maya
Berpeluh keringat dosa, tetes darah termanifestasi tangis tak bersuara
Butir demi butir sederas hujan malam
Sedingin angin sebeku hati
 

Beku ?
Sekuat angan tuk mencinta
Setajam angan tuk meredam
Menyangkal
Gamang, ragu lahir prematur
Tanpa cukup bekal nutrisi kata
Cardium selapis epitel sederhana
Cranial rawan tanpa koneksi sempurna
Celah realita dan rasa, rasio dan emosi
Tercampur aduk limfe, hemoglobin
Bersenyawa oleh detak lemah nadi
Sebentuk nafas dalam selang oksigen nyali
Sayang…menguap dalam UV inkubator
Takut termanifestasi sebagai bentuk yang sempurna…

(jakarta, 4 des 2006 04.30 pm)

...*

Angan…
 
Lebih dari paruh umurku
Anganku padamu tak jua menyata
Damba memang ada, tapi harap kutawan
Lelahku melenguh…Magma erosku membatu
Dan harapku termetamorf

Anganku melangit melengkung
Tersapu awan kumulus
Kedua sayapku t’lah patah
Keping asaku t’lah meredup

Angin…
Sampaikan anganku pada terunaku
Karna mentari segra terbenam
Dan malam akan segra memeluk
Sementara erosku tak lagi mampu menyala

Terunaku…jemput aku di senja nan jingga ini

*abis yang ini nggak dikasih judul sama dia.


Blog Entry[sharing HRD] negosiasi gajiOct 1, '06 6:36 PM
for everyone

Menjawab permintaan dari salah seorang pengunjung di shoutbox gue, kali ini gue mau sharing sedikit pengetahuan yang gue punya tentang proses negosiasi gaji. Tapi perlu dicatat; mengingat sekarang gue udah cukup lama meninggalkan dunia per-HRD-an, mungkin informasi yang gue sampaikan di sini udah nggak terlalu update lagi. Jadi, jangan telen mentah2 apa kata gue, cek dan ricek lagi dari sumber yang lain ya!

Kenapa sih kita harus menegosiasikan gaji?

Kenapa nggak langsung aja ditentuin oleh perusahaan?
Untuk menjawab ini, pertama-tama perlu gue jelasin dulu bahwa struktur gaji di sebuah perusahaan biasanya ditentukan dalam range (rentang), dan range-nya saling overlap satu dengan lainnya. Memang nggak semua perusahaan menetapkan struktur gaji dalam range seperti ini, tapi sebagian besar sih begitu. 

Untuk jelaskan coba perhatiin tabel ilustrasi berikut:

Level

Gaji

I

900rb - 1.2 jt

 
II  

1 jt - 1.5 jt

 
III  

1.3 jt - 2.2 jt

...dst  

Ada 2 keuntungan penetapan gaji dengan sistem range, ditinjau dari sudut pandang perusahaan:

  1. Memberikan ruang bagi pihak HRD perusahaan tersebut untuk merekrut orang terbaik pada sebuah level. Untuk jelasnya coba simak contoh kasus sbb:

    Sebuah perusahaan berniat merekrut si X yang saat ini udah bekerja di perusahaan lain. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa X menerima gaji 1 juta di perusahaannya sekarang, dan berada di level I. X tentu menolak saat diajak pindah dengan penawaran gaji sama yaitu 1 juta. Berkat sistem gaji yang menggunakan range, maka perusahaan yang baru bisa memberikan penawaran menarik sebesar 1.2 juta kepada X, tanpa harus memposisikannya di level yang lebih tinggi (yang mana terkait dengan pemberian fasilitas / tunjangan yang lebih besar pula).

  2. Memungkinkan perusahaan untuk melakukan efisiensi pengeluaran gaji. Ingat, perusahaan sebagai institusi ekonomis, pastinya mengutamakan prinsip ekonomi pula: pengeluaran sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Kalo seorang pegawai happy-happy aja dengan digaji 900 ribu, kenapa harus ngasih 1 juta? Ilustrasi berikut mungkin bisa memperjelas: 

    Si Y adalah seorang pegawai lugu yang rela ngelembur tanpa banyak nuntut uang tambahan. Di kantor sekarang ia menduduki level I dengan gaji 750 ribu. Melihat fakta seperti ini, maka sambil sedikit bertanduk sang petugas HRD perusahaan tetangga menyodorkan penawaran gaji 900 ribu kepada Y, yang langsung diterima dengan penuh rasa syukur dan hati sumringah.

Nah, melihat kedua contoh di atas, jelas bahwa urusan negosiasi gaji bisa sangat menentukan besaran gaji yang kita terima. Si X dan si Y sama-sama menduduki posisi di level I, kerjaannya sama, tanggung jawab sama, tapi X bisa mendapat gaji lebih besar dari Y hanya karena perbedaan dalam proses negosiasi gaji!

Kesimpulannya: proses negosiasi gaji itu penting banget!

Apa yang harus disiapkan sebelum menegosiasikan gaji?

  1. Kenali pasaran
    Ini penting banget banget! Lo harus tau, untuk kualifikasi yang lo punya sekarang ini, berapa range gaji yang berlaku. Dengan demikian lo bisa mengajukan penawaran yang 'pas'.
  2. Tetapkan standar yang rasional
    Ini juga nggak kalah penting. Standar ditetapkan berdasarkan kondisi pribadi lo sekarang ini. Maksud gue gini:
    Kalo saat ini lo lagi happy-happy aja di perusahaan tempat kerja lo, trus dateng tawaran untuk pindah ke perusahaan lain, boleh lah lo jual mahal dikit. Minta gaji yang rada2 di luar range. Dikasih sukur, enggak ya udah.
    Tapi sebaliknya, kalo lo saat ini lagi nganggur, trus lo menolak tawaran pekerjaan dengan gaji 1 juta hanya karena lo tau untuk kualifikasi lo rangenya berkisar antara 1.2 - 1.5 juta, ya kurang bijaksana juga. What i'm saying is, memang perlu untuk mengetahui harga pasaran lo berapa, tapi jangan lantas terpaku dan terjebak dengan pasaran tersebut hingga akhirnya mematikan potensi lo untuk berkembang, gitu loh.    

Faktor apa aja yang mempengaruhi standar gaji dari sebuah perusahaan?

  1. Industri
    Beda industri, beda juga standar gajinya. Industri telekomunikasi, pertambangan / perminyakan, konsultan, dan consumer goods adalah beberapa industri yang standar gajinya relatif tinggi.
  2. Ukuran perusahaan
    Perusahaan multi-nasional biasanya punya standar gaji lebih tinggi dari perusahaan lokal dari bidang industri yang sama. Tapi, perusahaan2 kelas menengah biasanya masih belum punya standar gaji yang baku - sehingga justru dengan perusahaan tipe ini lo bisa nodong gaji seenaknya berdasarkan wangsit dan disetujui!
  3. Level / lingkup pekerjaan
    Gue sering menemukan, orang salah memperkirakan standar gaji pekerjaan yang dilamar karena terkecoh dengan title / judul pekerjaannya.
    Contoh kasus yang sering terjadi: lowongan pekerjaan dengan judul mentereng "sales supervisor" membuat pelamar mengira pekerjaannya di tingkat manajerial dan mengepalai sebuah tim, nyatanya harus kerja sendiri jualan barang. Atau yang pernah gue temui di sebuah perusahaan milik pemerintah daerah, terjadi kenaikan jabatan berkala secara otomatis - sehingga seorang staff biasa setelah sekian tahun kerja harus jadi "kepala" sesuatu. Akibatnya, struktur perusahaan tersebut mekar terus dari waktu ke waktu karena bermunculan "kepala2" baru, dan banyak "kepala seksi" yang nggak punya anak buah!
    Title pekerjaan bisa mengecoh, "manager" di perusahaan yang satu bisa saja selevel dengan seorang "supervisor" di perusahaan lain atau justru seorang "vice president" di perusahaan lainnya - tergantung seberapa besar beban kerja yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karena itu, sebelum bernegosiasi kenali dulu di level mana pekerjaan yang akan lo lamar ini.  

Gimana caranya mengetahui pasaran gaji untuk pekerjaan yang akan gue lamar?

Untuk urusan ini memang rada sulit. Kalo kebetulan lo punya temen yang kerja di industri yang sama, lo mungkin bisa nanya2 sama dia - walaupun pastinya nggak semua orang mau jawab saat ditanya gajinya. Gue salah satunya, sampe detik ini cuma ada satu temen gue yang tau persis gaji gue berapa. Selain itu lo juga bisa ikutan milis2 HRD - kadang di sana suka ada sharing mengenai standar gaji.

Tahap-tahap negosiasi gaji

  1. Pengisian formulir lamaran
    Ya, proses negosiasi gaji dimulai saat lo mengisi formulir lamaran pekerjaan. Biasanya di formulir tersebut ada isian tentang besar gaji yang diinginkan. Make sure lo isi kolom tersebut dengan jumlah yang lo inginkan, tentunya dengan mempertimbangkan faktor kemampuan diri sendiri dan faktor standar perusahaan. Tambah jumlah tersebut dengan 20-30% untuk memberikan ruang just in case ditawar.  Jangan, jangan pernah mengosongkan bagian ini, atau mengisinya dengan kata2 basi "mengikuti standar perusahaan" atau "terserah perusahaan". Waktu gue masih di HRD, kalo nemu pelamar yang ngisi begini suka gue tanya balik, "bener nih gajinya terserah? Dibayar ceban mau?" Oh ya, biar nggak salah paham, tulis jumlah gaji yang lo inginkan itu dalam satuan p.a. (per annuum alias per tahun). Soalnya, ada perusahaan yang menggaji karyawannya secara standar yaitu 12 bulan gaji plus 1 bulan THR, sementara ada juga perusahaan yang per tahunnya bisa belasan hingga puluhan kali gaji yang dibayarkan dalam bentuk bonus ini - itu.      
  2. Wawancara pertama
    Biasanya di tahap ini suka muncul pertanyaan tentang jumlah gaji yang lo tulis di formulir. Pertanyaan yang umum muncul adalah, "Jumlah ini negotiable nggak?" Karena tadi jumlahnya udah lo tambah, tentu aja lo jawab dengan "ya".  Pertanyaan lain yang sering muncul adalah "Kenapa Anda minta gaji sekian?" Nah, yang ini perlu dijawab dengan jurus khusus.
    Jangan pernah speechless saat ditanya begini, karena akan melemahkan posisi tawar lo di tahap selanjutnya. Lo akan terlihat asal2an dan nggak ngerti pasaran saat meminta gaji. Jawaban paling bijak adalah, "Karena nilai itu sesuai dengan kualifikasi yang saya miliki sekarang". Oh ya, saat mengucapkan kalimat itu usahakan intonasi tetap datar dan terkendali, jangan terkesan jumawa sehingga bikin petugas recruitment serasa ingin noyor kepala lo.
    Udah, sampe sebatas dua pertanyaan itu aja yang perlu lo jawab di tahap ini. Sebagaimana pernah gue bahas di sini, jangan mau kalo si petugas berusaha menawar permintaan gaji lo ke titik final di tahap ini. Masih terlalu dini untuk negosiasi gaji, sehingga jawab aja dengan "Biar lebih jelas, mungkin Anda bisa ceritakan dulu paket remunerasi lengkap yang berlaku di perusahaan ini, sebagai bahan pertimbangan saya?" Kalo si petugas recruitment waras dia juga belum mau membeberkan paket remunerasi lengkap di wawancara awal sehingga posisi menjadi case-closed, sama-sama paham belum waktunya untuk bernegosiasi gaji. Atau bila ternyata dia langsung blak2an membuka paket remunerasi lengkap yang ditawarkan, artinya wawancara awal ini sekaligus wawancara final - lo diminta memutuskan akan join atau enggak di tahap itu.    
  3. Proses negosiasi gaji
    Setelah rangkaian proses recruitment selesai dan lo berhasil lolos dari semua saringan, lo akan dipanggil sekali lagi untuk menegosiasikan gaji. Sebaiknya lo datang ke tahap ini dengan berbekal informasi, berapa jumlah saingan lo. Kalo ternyata cuma elo sendiri yang lolos, maka posisi tawar lo akan lebih kuat.
    Biasanya di tahap ini, petugas akan mulai dengan menceritakan seluruh paket remunerasi lengkap yang ditawarkan - mulai dari gaji hingga tunjangan2. Catet semuanya, jangan cuma dihafal karena biasanya komponennya cukup ribet. Perhatikan komponen tunjangan kesehatannya gimana? Penggantiannya berapa persen dari tagihan dokter? Berapa jumlah per tahun? Kalo rawat inap dapat kamar kelas berapa? Things like that. Pastikan lo dapet penjelasan yang selengkap mungkin.
    Setelah petugas menjelaskan, biasanya dia akan nanya, "Bagaimana, apakah paket kami sudah sesuai dengan ekspektasi Anda?" Kalo jumlahnya lebih besar dari ekspektasi lo ya case-closed, lo tinggal tanda tangan kontrak kerja. Tapi kalo belum, ya inilah saatnya lo bernegosiasi, tentunya dengan ekspresi yang terkendali dan tidak bikin orang serasa ingin noyor kepala lo, misalnya dengan bilang "Sebenarnya ekspektasi saya lebih besar dari jumlah ini, yaitu sekian rupiah (atau dollar - if you're one lucky bastard) per tahun." Kemukakan juga alasan lo, yaitu balik ke harga pasaran kualifikasi yang lo punya plus mengacu juga ke gaji yang lo terima di perusahaan sekarang (kalo elo udah kerja). Kalo lo mau jual mahal bisa bilang dengan "Saat ini saya merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang sekarang, tentunya saya butuh 'motivasi' yang lebih besar untuk berkarir di tempat lain."
    Ada dua kemungkinan yang akan dilakukan petugas saat mendengar jawaban lo (a) berkata, "sayang sekali, ini final offer dari kami". atau (b) "mohon tunggu sebentar, akan saya konsultasikan dengan atasan saya dulu".  Apapun yang terjadi, hari itu biasanya lo akan mendapat penawaran final dari perusahaan. Kalo ternyata penawaran finalnya tetep belum memenuhi harapan lo, JANGAN langsung menolak saat itu juga. Kesannya lo mata duitan banget (walaupun mungkin memang iya) dan hanya tertarik untuk bergabung karena faktor penghasilan. Entah kenapa, hari gini masih banyak aja boss2 di perusahaan besar yang berharap orang bergabung di perusahaannya "bukan semata-mata nyari duit" sehingga langsung bete pada kandidat2 yang secara jujur mengakui motivasi kerjanya adalah uang. Lantas kalo bukan karena nyari duit, buat apa dong orang ngelamar kerja? Kelebihan energi?     
    Anyway, JANGAN langsung menolak penawaran yang kurang memuaskan itu, dan bilang, "Baik kalau begitu akan saya pertimbangkan dulu di rumah. Boleh saya hubungi Anda lagi besok via telepon?"
    Dengan mengulur waktu seperti ini, lo menghindarkan diri lo sendiri dari keputusan impulsif yang mungkin akan lo sesali.
  4. Pasca negosiasi gaji
    Besokannya, hubungi lagi petugas yang temui kemarin tepat waktu sesuai janji, dan sampaikan keputusan lo. Kalo lo memutuskan untuk batal bergabung, tetep jaga sopan santun dengan bilang "Mohon maaf, setelah saya pikirkan masak2, saya memutuskan untuk tetap di perusahaan saya yang sekarang dulu". Nggak perlu belagu, lo nggak akan tau kapan lo harus berhadapan dengan si petugas itu lagi. Siapa tau saat ini lo merasa udah nggak butuh lagi dengan dia, eh taunya kapan2 lo ngelamar di tempat lain dan ketemu dia lagi. Biasanya para petugas HRD punya ingatan gajah lho. Jangan lupa bilang terima kasih atas segala effortnya mengurusi proses lamaran lo.

Ok, segitu dulu tips negosiasi gaji dari gue, semoga cukup jelas dan membantu.    

Gambar gue comot dari sini.


Blog Entryposting tamu: tips menolak cowokSep 29, '06 2:36 PM
for everyone
Gimana penilaian kalian terhadap tulisan Susanti?
   

Susanti, temen kantor gue, adalah pembaca setia >>>Mbot's HQ. Dia juga pernah muncul sebagai salah satu tokoh di journal gue yang ini. Rupanya dia ingin ikutan MP juga, tapi apa daya - di kantor nggak bisa akses internet sedangkan untuk nge-warnet sepulang kantor dia nggak punya waktu. Maka hari ini dia mengirimkan sebuah tulisan kepada gue, diiringi pesan menitipkan tulisannya itu untuk dipublish di sini. Intinya, dia ingin tulisannya dibaca orang lain supaya bisa dapet masukan.

Jadi, buat kalian yang mau mengirimkan kritik / saran, silakan reply nanti gue forward ke dia. Sedangkan yang mau ngajak kenalan, boleh juga kirim alamat e-mail / nomer HP via PM, nanti gue sampein deh ke dia. Fotonya terlampir, coba tebak dia yang mana :-)

Tanpa berpanjang-panjang, ini dia tulisan dari Susanti. Happy reading!

Tips Menolak Cowok

Buat gadis-gadis yang terpaksa sering menolak ungkapan cinta cowok*, jangan sekali-kali gunakan kalimat ini :

"Maaf, jika aku sakiti hatimu. Tapi aku tidak bisa bukan kerna salah di dirimu tapi bagiku kamu bukan sosok pelindung yang kuharapkan. Meski sangat ingin tapi tidak bisa..."

Kesalahan total berada pada kalimat terakhir : ”meski sangat ingin tapi tidak bisa”

Maksud si gadis mungkin supaya tidak terlalu menyakiti dibandingkan bilang, "kamu tu jelek... tahu diri dunks gw baru lihat elo aja udah ilfeel"

Tapi pria sudah dari sono dibentuk dengan perasaan yang tidak sensitif ditambah sifat minus yaitu over PD. Jadi pria bisa menafsirkan lain kalimat terakhir si Gadis. Yang tertangkap oleh pria adalah, si gadis mau melupakan si pria namun tidak bisa sehingga muncul jawaban sebagai berikut:

"Aku tahu kamu tidak akan bisa meninggalkanku, karena sebenarnya kita menginginkan hal yang sama, saling kangen n ingin sebuah kenyaman n kedamaian n itu ada jika kita bersatu. Yakinlah...!"

Yang ada si Gadis jadi tambah bingung....trus baca kalimat ”bersatu” nah klo si cewe dari Biologi ne...pasti langsung bayangin cacing kawin geeto...dua cacing berhimpitan trus saling mengeluarkan sekresi lendir trus saling menempel trus proses kawin berjalan... yuck!!!!

Blum lagi kesalahan berikutnya pada kalimat si Gadis yang ”kamu bukan sosok pelindung yang kuharapkan...” Yang terkandung di sini bagi Gadis khan banyak arti such as :

  1. Elo kan di luar kota, ngapain pacaran ma elo... capek... sama aja gak punya pacar. Elo ngajakin kawin? Tunggu dulu... elo minta gw pindah? Enak aja, elo dong yang kmari.
  2. ...ato elo sering lembur kapan maintain gw, tiap pacaran malem2 mulu jam 11 malem ke atas pulang pagi, elo mah gak punya puser gak capek, klo gw bisa-bisa gw darah rendah.
  3. ato elo ajah kerjanya blom mapan (klo lebih matre lagi ne...blum punya bla..bla..bla...) mending gw sendiri, gak susah, pacaran ato kawin koq jadi makin susah dst

Nah tapi si pria dasar kurang sensitive malah jawab geene :

“Mengenai perlindungan, tentunya kita punya pelindung yang agung yakni “beep..beep”(sensor, disini si pria sebut nama Tuhan dia yang Agung) . Tapi yakinlah melalui nafas dan doaku kamu cukup nyaman dalam perlindunganku”

Langsung keriput pertama si Gadis muncul... “melalui nafas dan doa”. Bodoh kali pria ini. Emang kita wanita hanya perlu ditiup-tiup dan didoa2in, sembur aja sekalian pake aer jadi dukun deh elo.

So girl, daripada timbul keriput sejumlah penolakan elo ke pria, better kita bicara straight forward ma “mahluk Tuhan yang dicipta tanpa braso di hatinya (baca gak sensitif)” klo perlu agak terang2-an meski bakal sakiti but believe me they (read :man) create as short term memory creature too. So pasti sebentar juga langsung lupa.

Jangan pula tambah syarat “gw mau koq terima elo jadi pacar gw tapi ada 8 syarat, pertama...bla..bla..” dst. Yang ada elo bakal kehilangan temen baik (baca : ttm).

*yah maklum kita-kita ini terlalu menarik (baca: have a great sex appeal, dan ini gak harus cantik)

Mau ikutan jadi pengisi posting tamu? Kirim aja tulisan lo ke si.mbot@gmail.com - tapi mendingan sih langsung aja ngedaftar sendiri di MP kali nggak?



Blog EntryTrip to Bandung: makna standby di IndonesiaSep 17, '06 11:33 AM
for everyone

"Suami lagi ngapain...?"
"Lagi standby."
"Standby untuk apa?"
"Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."

Cerita berawal beberapa minggu yang lalu, di mana boss di kantor merencanakan untuk menggelar workshop penyusunan budget 2007 di Bandung. Tadinya yang ditunjuk sebagai panitia urusan akomodasi adalah temen gue yang bernama Nanda, tapi karena ybs sakit pada saat-saat genting menjelang hari-H, maka guelah yang mendapat "kehormatan" menduduki "tahta" sebagai seksi akomodasi.

Singkat cerita, dengan perjuangan yang sulit dan berliku, akhirnya gue berhasil membooking hotel Bilique di bilangan Setiabudi Bandung. Boss menugaskan gue melakukan seluruh proses booking, tapi guenya nggak perlu ikut workshop. Nanti saat workshop berlangsung, gue tinggal oper urusan akomodasi di lapangan kepada the one and only Oom Jo.

Tanggal 11 September, sehari sebelum para peserta dijadwalkan mulai check-in ke hotel, seluruh urusan booking hotel dan ruang meeting udah gue beresin dari Jakarta, termasuk booking restoran2 tempat makan malam. Gue udah happy aja ngebayangin mulai tanggal 12-16 September kantor akan kosong yang mana merupakan iklim yang sangat kondusif untuk makan siang secara molor dan pulang kantor secara on-time. Sementara itu, Om Jo kebagian tugas menjemput boss yang baru pulang dari luar negeri (Thanks God kali ini dia nggak makan indomie sebelum berangkat).

Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor, terjadi perbincangan yang kurang lebih berbunyi sbb:
"Jo, gimana hotel, udah beres?"
"Udah mbak."
"Jadinya kita pake berapa kamar?"
"Hmm... lupa. Daftarnya ada di Agung."
"Trus nanti kita makan malam di mana aja?"
"Tauk ya. Agung tuh yang atur."
"Mobilnya cukup nggak nih untuk ngangkut peserta dari hotel ke restoran?"
"Cukup kali ya? Daftarnya ada di Agung."
"Haduuuuh....gimana sih ini, jadi nggak tenang saya, ya udah kalo gitu Agung besok diajak aja ke Bandung!"

=GUBRAXXXXX!!=

Seandainya si boss mau nunggu beberapa puluh menit lagi untuk menanyakan pertanyaan2 tsb di kantor.... tapi ternyata takdir menentukan lain. Maka besokannya berangkatlah gue ke Bandung diiringi derai air mata istri yang seumur-umur pernikahan belum pernah ditinggal lebih dari 1x24 jam. Setelah gue sampe di Bandung, terjadilah pembicaraan telepon di awal posting ini.

"Suami lagi ngapain...?"
"Lagi standby."
"Standby untuk apa?"
"Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."

Jadi begini ya, istri. Di Indonesia dikenal sebuah kegiatan bernama "standby". Untuk lebih jelasnya tergambar dari jadwal kegiatan gue selama di Bandung berikut ini:

12 September 2006

18.00 Sampe di Bandung mendahului rombongan untuk 'mempersiapkan segala sesuatu' (yang mana udah siap dari kemarin). Makan malam di Suis Butcher Setiabudi. Menu: Chicken Cream Soup dan Tenderloin steak. Beli Tiramisu juga, dibungkus.
19.30 Sampai di hotel Bilique, ngecek ruang meeting yang akan dipake besok. Ada sedikit kesalahan lay-out ruang.
23.00 Kesalahan lay-out ruang berhasil diperbaiki oleh pihak hotel. Gue balik ke kamar, standby sambil main game di laptop. Makan Tiramisu.

13 September 2006

01.00 Rombongan dari Jakarta sampe di hotel. Ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Bikin desain kartu ucapan terima kasih bagi peserta meeting hari pertama.
03.00 Tidur
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, "nyetak digital ucapan terima kasih buat peserta". Berangkat naik angkot ke Balubur.
10.15 Selesai nyetak digital di Balubur, jalan-jalan ke warnet Atheroz di Sulanjana. Ngempi.
11.30 Mulai lapar. Pergi dari Atheroz menuju resto "Nyonya Rumah" di Tirtayasa. Eh, kebetulan di tengah jalan ketemu mertua. Nemenin mertua makan ikan bakar di jalan Diponegoro sambil ngobrol ketawa-ketawa.
12.30 Mertua selesai makan ikan, gue melanjutkan perjalanan ke Nyonya Rumah. Makan sate campur gado-gado lontong... hmmm... yummy.
13.45 Selesai makan siang, balik ke hotel.
14.15 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 HP bunyi, dari Oom Jo di ruang meeting. "Friend, kita lagi coffee break nih, banyak makanan." Turun ke ruang meeting, nyemil sambil ngopi.
16.30 Balik ke kamar, melanjutkan standby sambil bobo siang.
18.00 Mandi, siap2 makan malam
19.00 Makan malam BBQ di depan api unggun. Steaknya empuk dan sedap. Gue makan 3 potong.
21.00 Jalan2 ke Kampung Daun, booking tempat untuk acara makan malam besok.
23.00 Balik ke hotel, orang2 lagi pada karaokean. Ikutan nyanyi sampe serak.

14 September 2006

02.00 Capek karaokean, pindah ke Famestation nonton band.
03.00 Balik ke kamar hotel, tidur.
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, "mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke dua". Berangkat naik angkot ke Balubur. Kenapa nggak sekalian dicetak kemarin? Supaya hari ini ada alasan jalan2, gitu loh.
10.00 Selesai nyetak, jalan2 ke warnet Atheroz. Ngempi.
11.30 Lapar. "Hmmm... makan siang di mana ya?" Oh iya, besok kan rombongan mau makan malam di Bumbu Desa, kalo gitu makanannya harus dibooking dari sekarang dong. Berangkat ke Resto Bumbu Desa Pasir Kaliki untuk ngatur menu.
11.40 Pas lagi nunggu angkot mendadak timbul ide, "jalan2 dulu ah ke toko Celebrate Dago, liat2 mainan".
12.20 Puas liat2 mainan, betulan berangkat ke Bumbu Desa PasKal, pesen makanan.
12.50 Selesai urusan di Bumbu Desa, jalan2 di Istana Plaza cuci mata.
13.30 Makan siang di resto "The Taste". Menu: Nasi tutug oncom dengan dada ayam goreng kering. Hmmm... yummy....
14.00 Selesai makan siang, beli donat J.Co buat cemilan di hotel. Balik naik angkot.
14.30 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
15.00 Boss nelepon dari ruang meeting "Gung, kamu ada di mana?"
"Di kamar, kenapa mbak?"
"Ooo... kirain udah pulang ke Jakarta, abis perasaan selama di sini saya nggak pernah ketemu kamu."

Huhuhu... nyindir niii....

16.00 Siaran ulangan. "Coffee break friend...". Turun ke ruang meeting, numpang nyemil doang, naik lagi ke kamar, nerusin bobo siang.
18.00 Mandi dan siap2 makan malam.
19.00 Makan malam di Kampung Daun. Menu: karedok, sate ayam dan kambing, gurame bakar. Selesai makan dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul, sambil cengengesan.Standby.
22.00 Bersama rombongan balik ke hotel.
22.30 Karaoke lagiiii....

15 September 2006

03.00 Selesai karaoke, tidur.
08.00 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Kembali mengemban misi, "mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke tiga". Kali ini beberapa temen gue kebetulan mau belanja di FO Dago. Nebeng sampe Dago.
10.00 Selesai nyetak, nongkrong minum Capucinno Blazt di FO Uptown bareng temen2.
12.00 Sholat Jumat di mesjid Salman ITB.
13.30 Balik ke hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 Biasa... coffee break.
18.00 Boss mengadakan meeting kecil dengan panitia, say thank you atas partisipasi dan "kerja keras"-nya. Peserta ternyata langsung membubarkan diri, acara makan di Bumbu Desa dibatalkan.

16 September 2006

10.00 Pulang ke Jakarta, bawa oleh2 kue Prima Rasa.

Atau berdasarkan definisi, "standby" di Indonesia berarti:

stand.by /[stænd-bahy]/
-verb, noun, adjective, slang.
Kata lain untuk kegiatan nongkrong-nongkrong, ketawa-ketawa, ngerokok, tidur-tiduran, main-main, serta kegiatan kontra-produktif lainnya sebagai akibat dari ketidakjelasan pengaturan tugas dan/atau saat seseorang dilibatkan dalam sebuah kegiatan yang sama sekali tidak memerlukan kehadirannya. Merupakan kegiatan yang paling digemari serta paling dikuasai oleh orang Indonesia.

Contoh lain aplikasi istilah "standby":

  • Kalo di kelurahan lagi ada acara panggung tujubelasan, lantas semalam sebelum hari H para pemuda setempat kedapatan ngobrol ngalor ngidul semaleman di lokasi acara, sambil ngopi dan ngemil kacang asin, maaf, mereka bukannya lagi iseng. Mereka lagi standby.
  • Kalo lagi ada acara bakti sosial yang butuh kegiatan mengangkat-angkat barang sumbangan tapi ternyata ada sebagian peserta yang bukannya bantuin nggotong malah nongkrong sambil cengengesan, maaf, mereka bukannya males. Mereka sedang sibuk standby.
  • Kalo abis lebaran orang pada masuk kantor cuma buat salam-salaman dan ngemil lapis legit serta bertukar pengalaman mudik dilanjutkan dengan browsing detik.com sampe sore, mereka bukannya kurang kerjaan. Lha itu, mereka lagi repot-repotnya standby.

Jadi, standby ya standby, nggak perlu penjelasan standby untuk apa - yang penting standby, gitu loh istri.... jadi jangan sirik yah kalo suami 4 hari terkesan cuma tidur2an dan piknik dibayarin kantor, ini suami lagi sibuk standby...

Foto dari sini

I
dealnya, sebelum memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan, kita udah punya gambaran detil tentang apa dan bagaimana sikon di perusahaan tersebut. Kaya apa culture-nya, keuangannya sehat apa enggak, jenjang karirnya prospektif atau enggak, dst. Tapi gimana kalo kita ditawari kerja di perusahaan yang sama sekali belum pernah kedengeran ceritanya? Langsung tolak? Ntar dulu. Nggak pernah kedengeran ceritanya bukan berarti jelek lho.

Satu-satunya jalan adalah dengan menganalisa proses yang terjadi sewaktu melamar.


Berikut ini beberapa "gejala" yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Nggak selamanya bener, tapi minimal bisa jadi bahan pertimbangan. Kalo cuma satu atau dua gejala yang muncul, yah, mungkin sekedar kebetulan aja. Tapi kalo hampir semua gejala ini terjadi, hmmm... hati-hati aja. Kalo masih punya pilihan, mending ngelamar di tempat lain aja deh!

1. Lo kurang dihargai sebagai manusia.
Kalo cuma si resepsionis yang tampangnya bete waktu menyambut elu, yah mungkin kebetulan dia abis ronda semalem, masih ngantuk. Kalo cuma pak satpam yang rada galak waktu minta elu nitip KTP, yah mungkin dia lagi mikirin anaknya sakit di rumah. Tapi kalo mulai dari tukang parkir, satpam, resepsionis, office boy, sampe tukang gorengan yang mangkal di depan pada kompakan menunjukkan perilaku yang kurang santun - warning - kemungkinan ada yang nggak beres dengan perusahaan ini. Yang gue maksud dengan perlakuan kurang santun antara lain: nggak mengucapkan salam saat menyambut, nada bicara yang kurang bersahabat, nunggu lama tanpa dikasih minum, sampe perlakuan yang kurang manusiawi seperti diminta mengisi formulir lamaran di tempat orang lalu lalang - sambil jongkok pula. FYI; formulir lamaran yang lo isi sewaktu melamar kerja itu adalah dokumen yang sifatnya pribadi dan rahasia. Seharusnya lo ditempatkan di ruangan yang tertutup dan nyaman - minimal ada meja dan kursi untuk tempat nulis - bukan di ruang resepsionis yang serba terbuka sehingga mas-mas kurir yang kebetulan lewat bisa nyeletuk, "wah rumahnya deketan nih sama rumah saya, kapan-kapan boleh main ya..."
Perusahaan yang sehat dan profesional sadar bahwa citra perusahaan dibangun mulai dari garda depan, dari bagaimana tamu disambut. Kalo untuk urusan remeh gini aja mereka nggak becus menangani, jgn2 untuk urusan yang besar-besar juga morat-marit.

2. Lo dicoba untuk ditempatkan dalam posisi lemah / dependen pada perusahaan
Yang gue maksud antara lain: petugas recruitment yang meminta elu untuk menyerahkan dokumen pendukung (ijazah, transkrip nilai, referensi kerja) yang ASLI, atau "menggantung" status kepegawaian lo di zona limbo antara kontrak dan permanen, penetapan masa percobaan yang kurang jelas, dan sebagainya. Khusus untuk urusan "menahan" dokumen pendukung, asal tau aja ya, sebenernya perusahaan nggak berhak melakukannya. Kecuali kalo elu udah jadi pegawai, terus disekolahin sama perusahaan dan setelah pendidikan selesai ijazah lo ditahan sampe masa ikatan dinas berakhir, itu lain perkara. Sedangkan yang terjadi di sini kan elu capek2 sekolah pake ongkos sendiri, eh begitu lulus ijazahnya disandera. Mengutip kata Mpok Jane dan Sarah, "WHO DO YOU THINK HE ARE??". Kalo tau-tau kantornya kebakaran, kebanjiran, atau diserbu tikus hingga dokumen penting itu rusak, siapa yang mau tanggung jawab?
Perusahaan yang menerapkan kebijakan konyol macam ini biasanya perusahaan yang udah menghadapi dilema: di satu sisi terlalu pelit / terlalu miskin untuk menaikkan kesejahteraan pegawai, di sisi lain butuh untuk mempertahankan jumlah pegawai yang loyal. Kalo perusahaan yang sehat pastinya akan mencoba membuat pegawainya betah dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka, bukan dengan menyandera dokumen! Dengan kata lain, ini tipe perusahaan yang ngajak susah bareng-bareng. Sama sekali nggak worthed untuk dilamar.

3. Lo diminta mondar-mandir kaya setrikaan
Lazimnya, proses seleksi pegawai dilakukan dalam 3 tahap:



  1. Wawancara dan psikotes awal - biasanya di tahap ini lo ketemu dengan petugas HR di level officer atau konsultan eksternal

  2. Tes kesehatan

  3. Wawancara dengan calon boss (user).

"Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2."

Kadang-kadang, ada 2 atau 3 tahap tambahan di mana elo diminta wawancara dengan bossnya HR, bossnya user, atau dengan big boss - biasanya terjadi di perusahaan kecil. Jadi maksimal elu mondar-mandir untuk keperluan melamar kerja adalah 6 kali. Nah kalo elo ketemu kantor yang meminta lo dateng untuk interview doang, habis itu psikotesnya di hari lain, habis itu di hari lainnya interview lagi dengan orang lain, habis itu "eh iya ada yang lupa ditanyain" dan lantas lo harus dateng lagi minggu depannya untuk wawancara lanjutan, baru abis itu wawancara dengan boss, terus minggu depannya lagi wawancara dengan boss yang lain lagi, baru abis itu tes kesehatan, terus "oh iya ada lagi ding yang kelupaan ditanya" sehingga lo harus wawancara dengan HR lagi... - warning - lo sedang berhadapan dengan perusahaan bingung. Kondisi kayak gini mengindikasikan ada masalah dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Lo diminta dateng berkali-kali dan ketemu dengan orang yang berbeda-beda karena nggak ada satu orang yang punya cukup nyali untuk bertanggung jawab atas keputusan menghire elu. Maksudnya kalo elu ternyata bertingkah setelah dihire jadi pegawai, biar nggak ada satu orang yang jadi kambing hitam, gitu. Makanya wawancaranya jadi tanggung renteng gitu. Pertanyaannya, lagi-lagi, kalo untuk mengambil keputusan menghire seseorang aja segitu ribetnya, gimana dengan pengambilan keputusan untuk urusan lain yang lebih penting dan genting? Selain itu, kembali pada poin pertama, mereka juga kurang menghargai waktu, biaya dan tenaga yang harus lo keluarkan untuk dateng ke kantor mereka.

4. Lo ditawar pada pertemuan pertama
Wawancara tahap pertama adalah saringan awal untuk memilih calon pegawai yang paling potensial.Kalo baru pada pertemuan pertama concern mereka terpaku pada gaji yang lo ajukan seperti "bisa turun nggak nih?" atau "negotiable nggak nih?" atau yang ngeselin "minta gajinya gede amat mas. bisa turun nggak?" - warning - mereka nggak peduli pada kualitas elo sebagai pegawai. Mereka cuma ingin cari tenaga murah. Tapi berita baiknya, kalo perusahaan yang lo lamar termasuk tipe yang begini, maka ada satu kiat jitu yang PASTI berhasil, yaitu jawab aja dengan "Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2."


Bukannya 'haram' untuk menanyakan apakah gaji yang lo minta itu negotiable pada pertemuan pertama, tapi bedakan antara yang sekedar nanya dengan yang maksa "kurang dikit dong mas!"


5. Lo diajak bersekongkol
Yang ini pengalaman pribadi gue nih. Di salah satu perusahaan sebelum kantor gue yang sekarang, masa HR managernya bilang gini, "Agung, tolong kalau kamu masuk tanggal 1 nanti, bilang sama orang-orang bahwa kamu udah mulai interview dengan saya sejak 2 bulan sebelumnya ya."
Gue, tentu aja bingung mendengar permintaan aneh ini, mengingat wawancara pertama cuma berjarak 1 bulan dari tanggal masuk gue.
"Nggak papa, sekedar supaya nggak heboh aja karena ada orang baru."
Sebuah jawaban yang nggak memuaskan, tapi waktu itu gue pikir, 'ah ini kan cuma soal kecil'.
Ternyata... setelah gue masuk baru ketauan bahwa alur komunikasi si boss dengan para bawahannya sangat parah. Lingkungan kantor dipenuhi desas-desus, termasuk tentang kehadiran gue. Parahnya, si boss sama sekali nggak bernyali untuk menghadapi para karyawan, minimal menjelaskan biar lurus, dan membantah isu yang ngaco. Kalo ada isu negatif ya begitulah yang dia lakukan, berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan yang sayangnya kurang cerdas.
Puncaknya, baru sebulan gue kerja di perusahaan tersebut, si boss yang ngajak sekongkolan tadi mendadak "resign" secara misterius karena baru ketahuan pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan perusahaan harus berurusan dengan pengadilan. Perusahaan yang mengajak lo menutup-nutupi sesuatu mengindikasikan bahwa mereka kesulitan mengelola iklim kerja. Dan seperti yang pernah gue sebut di sini, jangan kira tawaran paket remunerasi yang menarik bisa mengkompensasi iklim kerja yang parah.



foto: gettyimages.com



Blog EntryTips membantu petugas Helpdesk IT membantu kitaAug 10, '06 11:27 AM
for everyone

W
alaupun belum pernah kerja sebagai petugas Helpdesk IT, tapi di kantor yang lama gue bertugas ngurusin website intranet sehingga buat sebagian orang itu nampak sama aja dengan Helpdesk IT. Kadang para regular user ini rada enggan untuk minta bantuan petugas Helpdesk IT dengan alasan suka pada lelet, lambat kalo dimintai bantuan, suka nggak 'dong' kalo diajak ngomong, dll dsb.

Padahal, nggak selamanya kesalahan terletak pada para petugas Helpdesk IT. Kadang usernya sendiri yang menyulitkan para petugas Helpdesk IT untuk memberikan solusi. Karena itulah, di sini gue mencoba sharing tips untuk membantu para petugas Helpdesk IT membantu kita. Kalo mereka bisa menyelesaikan tugasnya secara lebih cepet, kita juga yang akan diuntungkan toh?

Cek dan ricek untuk mengeliminasi semua kemungkinan masalah

Contoh kasus:
Seorang user meminta bantuan gue si petugas Helpdesk gadungan dengan keluhan "Gung, gimana ini komputer gue nggak mau nyala sama sekaliiii..."
"Sama sekali?"
"Iyaaaa... tolonggg..." nadanya panik nyaris histeris. Eh, setelah diperiksa ternyata gara-garanya cuma kabel power yang kendor.

atau,

"Gung ini keyboard gue rusak ya? Dari tadi gue pencet-pencet kok nggak keluar apa-apa di layar..." Eh taunya kabel keyboard kurang nancep.

atau,

"Komputer gue masa dari tadi layarnya item terus nggak keluar windowsnya, gimana iniii..." Eh taunya tombol power di monitor belum dipencet.

Pokoknya sebelum memutuskan untuk panik dan histeris, cek dan ricek semua kemungkinan yang sifatnya mendasar.

Restart, restart, restart

Seperti balsem untuk orang yang mau pingsan, atau air kelapa untuk orang yang keracunan, restart adalah pertolongan pertama buat komputer yang mulai bertindak celeng. Selama komputer lo masih berbasis Windows, sebagian besar masalah bisa diatasi dengan restart. Mulai dari pointer mouse yang berjalan tersendat-sendat, proses data yang lelet, sampe hasil print-out yang berubah menjadi huruf yunani, umumnya bisa beres hanya dengan restart.

Jadi, sebelum bercucuran air mata memanggil petugas Helpdesk IT, coba deh restart dulu komputernya.

Komputer bukan tanaman...

...oleh karena itu nggak perlu disirami.

Kisah nyata: pada suatu hari seorang boss hendak berangkat untuk sebuah perjalanan dinas super-duper penting ke luar negeri. Di malam sebelum keberangkatan, si boss buka2 laptop. Maksudnya mau baca-baca materi yang akan dibahas di perjalanan dinasnya itu kali. Tentunya ini suatu hal yang normal2 aja, asalkan nggak dilakukan sambil... makan indomie kuah. Pada suatu saat tangannya yang memegang mangkok oleng dan CROT...! tumpahlah sebagian kuah ke atas laptop. Tentu aja si laptop langsung mampus. Berhubung pesawat akan berangkat subuh, maka habislah satu tim dibikin kalang kabut di tengah malam untuk membantu boss menghidupkan kembali laptopnya. Untungnya berhasil, dan setelah insiden tersebut berlalu masih sempet2nya berkomentar dengan nada setengah komplen, "Padahal yang tumpah cuma sedikit lho, nggak semuanya, kok bisa mati sih!?"

Mungkin karena kuahnya PEDES kali boss... dan oh ya, sampe sekitar seminggu setelah kejadian, santer terdengar obrolan santai di depan lift yang menanyakan, "Denger2 pada abis begadang ya, karena KOMPUTER BOSS KETUMPAHAN KUAH INDOMIE?"

Segala sesuatu yang ada tulisannya, biasanya perlu untuk dibaca

Sebuah ilustrasi yang lumayan sering terjadi:

"Ini komputer gue kenapa siiih... dari tadi kok bengong beginiiii..."
"Tenang, tenang, coba ceritain dulu, kronologisnya gimana?"
[menjelaskan kronologi kejadian] "Jadi tadi awalnya gue begini... terus gue begitu... terus gue giniin... terus tiba-tiba MUNCUL KOTAK. Gue klik 'OK', eh tau2 sekarang jadi gini!"
"Emangnya tulisan di kotak yang lu 'OK'-in tadi apaan?"
"Tauk!"

Kabar buruk, friends. Komputer yang selama ini dielu-elukan orang sebagai benda cerdas itu sebenarnya nggak cerdas-cerdas amat. Bertahun-tahun lo pelihara, dia nggak akan pernah bisa ngomong sendiri. Itulah sebabnya dia mencoba berkomunikasi lewat kotak-kotak yang muncul di layar. Ada kotak yang memang aman untuk di-'OK', tapi ada juga yang beresiko. Intinya, baca dulu tulisannya, sebelum mengklik 'OK'. Siapa tau suatu hari nanti lo akan ketemu kotak yang seperti ini:

Usahakan memberikan deskripsi sejelas mungkin

Terakhir, bila lo udah hati-hati merawat komputer tapi tetep aja ketiban apes sehingga harus berurusan dengan petugas Helpdesk IT, satu kata kunci yang perlu lo inget adalah DESKRIPSI. Biasanya, para petugas Helpdesk IT berada di lokasi yang terpisah dengan tempat kerja elu. Jadi, pertama-tama lo harus berhubungan dengan mereka via telepon atau e-mail, sehingga butuh upaya ekstra untuk menjelaskan permasalahan yang terjadi.

Ilustrasi berdasarkan pengalaman pribadi:
"Halo?"
"Halo...! Gung! Komputer gue kenapa sih ini kok gini?"
"Gini kenapa?"
"Ini lho, kan tadi gue klik ininya, nah biasanya dari situnya akan keluar tulisan, tapi kok sekarang nggak mau yah?"

Sampe di sini mungkin udah pada kebayang apa yang gue maksud. 'Gini', 'di sini', 'di situ', 'sininya', 'situnya', 'diginiin', 'digituin', adalah kata2 yang hanya bermakna saat diucapkan berbarengan dengan peragaan visual. Di telepon konvensional yang belum memungkinkan komunikasi tatap muka lewat video, penggunaan kata-kata tersebut hanyalah memancing keisengan sang petugas Helpdesk IT gadungan untuk mengeluarkan respon seperti:

"OOH... ITUnya toh yang lo klik, ya jelas salah dong... harusnya kan lo klik yang SANAAN dikit tuh, baru nanti ITUnya bisa BEGINI..."


Gambar dari picturequest.com



Blog Entry[being nice for dummies] #0002 Tombol LiftOct 2, '05 12:19 PM
for everyone
Di kantor gue yang dulu, lantai gue dijaga seorang Satpam bernama Pak Tarmin.

Mengingat divisi gue nggak terlalu banyak berhubungan dengan pihak luar, sebenernya beliau nggak terlalu berfungsi sebagai "pengaman".Tamu yang datang biasanya sesama karyawan dari divisi lain, atau paling banter salesman kartu kredit. Tugas harian beliau lebih mirip resepsionis ketimbang petugas keamanan.

Tapi toh, beliau tetep berhasil membuat dirinya menjadi istimewa di mata semua orang hanya dengan sebuah kebiasaan yang sederhana banget. Setiap kali dilihatnya ada karyawan yang keluar dari ruangan menuju lift, beliau akan mendahului menunggu di depan lift, dan setelah menanyakan tujuan (naik atau turun?) beliau memencetkan tombol lift -- lantas menemani ngobrol sampai liftnya datang.

Kebiasaan ini dilakukannya kepada semua orang tanpa pandang bulu. Mulai dari kepala divisi sampai yang kroco-kroco kaya gue ini mendapat 'pelayanan' yang sama. Dan beliau berhasil bikin semua orang terkesan.

Waktu ada rencana rotasi Satpam ke lantai2 lain, kepala divisi gue ngotot setengah mati minta
Pak Tarmin dipertahankan. Dan menjelang kantor gue bubar, beliau termasuk yang duluan 'terselamatkan' berhasil dapat pekerjaan baru - ditarik oleh salah seorang mantan karyawan yang udah pindah ke sebuah perusahaan properti.

By doing a simple favor like pushing the lift-button, he has opened the door to people's heart.

image dari picturequest.com