Agung's posts with tag: cubiclefarm
 | Eksodus | Mar 3, '08 11:04 AM for everyone |
 Kantor gue lagi digoyang eksodus besar-besaran. Divisi gue yang anggotanya cuma ada 18 orang, selama bulan Februari kemarin harus kehilangan 5 orang - termasuk kepala divisinya. Dan ini masih akan terus berlanjut sampe tauk tersisa berapa ekor. Awalnya, di akhir tahun 2004, bank tempat gue kerja membuka segmen Mass Market, segmen yang memfokuskan diri untuk melayani "unbankable customers". Mereka adalah para pedagang pasar yang selama ini ditolak melulu kalo mau minjem duit ke bank karena nggak punya jaminan. Dengan hanya bermodalkan 6 kantor cabang di akhir 2004, segmen ini ternyata berkembang pesat hingga sekarang punya lebih dari 700 cabang, hanya dalam tempo kurang dari 4 tahun. Portofolio kreditnya bukan lagi "M" atau "ratusan M", melainkan udah "T", setara dengan portofolio kredit sebuah bank menengah di Indonesia. Padahal ini cuma segmen, bagian, dari sebuah bank lain. Nggak heran kalo kemudian para investor dari luar negeri pada berdatangan dan mulai colek-colek para petinggi di tempat gue. Sekali - dua kali dicolek mungkin orang masih bisa tahan, tapi kalo keseringan kan lama-lama lemes juga. Akhirnya, di pertengahan Februari kemarin, Business Head gue, pimpinannya segmen Mass Market, mengumumkan pengunduran dirinya. Dia pindah ke sebuah bank yang baru dapet suntikan dana super gede dari investor luar negeri. Kalo cuma dia seorang yang cabut mungkin masih nggak terlalu ngaruh ya, tapi dalam kasus ini, dia ngajak para bawahannya, yaitu para kepala divisi, untuk ikutan gabung ke kantornya yang baru. Para kepala divisi yang diajak, tentunya nggak lupa ngajak para managernya untuk ikut masuk gerbong. Dan para manager, tentunya nggak lupa sama anak buahnya - ikutan diajak juga. Akibatnya: eksodus terparah yang pernah terjadi di depan mata gue. Divisi gue, contohnya. Anggotanya cuma 18 orang, dan selama bulan Februari kemarin udah kehilangan 5 orang - 4 di antaranya masuk dalam rombongan piknik ke bank tetangga. Berdasarkan arena gosip saat ngerokok bareng di tangga darurat, acara 'bedol desa' ini masih akan terus berlangsung. Yang udah santer kedengeran sih akan ada 2 sampe 3 orang lagi yang bakal cabut dalam kurun waktu 2 minggu ke depan. Kebayang nggak sih, satu orang resign aja bisa bikin repot lainnya karena harus kerja dobel menghandle kerjaan orang yang resign itu. Lah ini sampe nyaris separo divisi pada angkat laptop (karena lebih banyak yang bawa laptop ketimbang bawa koper - jadi istilah 'angkat koper' kurang pas diterapkan di sini). Udah gitu, nggak pake acara ngajarin para calon pengganti, atau transfer kerjaan ke orang-orang yang tinggal, minimal ngasih tau kerjaan mereka apa dan gimana cara ngeberesinnya, sebagian besar main cabut mendadak aja kaya lagi kebelet ke jamban. Tapi kalo cuma urusan kerjaan yang makin numpuk buat gue masih belum seberapa dibandingin sama dampak lain yang lebih parah: hubungan antar anggota tim, baik yang udah, akan, maupun yang enggak ikutan eksodus jadi ikut-ikutan terganggu. Masalahnya, selama ini orang-orang di divisi gue punya hubungan informal yang lumayan deket. Bukan cuma terbatas hubungan kerja, tapi di luar kantor mereka juga akrab dan penuh keterbukaan. Prinsipnya, "boleh ngomong sebelum mikir asal jangan bikin orang mikir denger omongan kita". Eh, sekarang tiba-tiba aja jadi pada bungkam, sok misterius, dan akhirnya saling curiga satu dengan lainnya, kuatir temen yang lagi diandalin untuk gotong-royong ngeberesin benang kusut mendadak ikutan 'nyeberang'. Yang bikin gue sangat terganggu adalah, orang-orang yang mau ikut rombongan mendadak pada tutup mulut, nggak ngaku bahwa mereka mau ikut arus eksodus. Ini sebenernya mau pindah ke bank lain, atau direkrut jadi pengedar narkoba, sih? Ada satu orang yang pas gue tanya ngakunya mau pindah ke 'konsultan', eh belakangan ketahuan ternyata ke sana juga. Lainnya ngaku mau 'bisnis sendiri', taunya ikut juga ke sana. Padahal, tiap kali gue ditanya sama orang dari divisi lain, gue selalu menjawab, "...enggak, mereka nggak ikut ke 'seberang' kok, yang satu mau ke konsultan, satunya mau bisnis sendiri..." Kebanyakan sih skeptis denger jawaban gue, tapi gue bersikeras, "Mereka nggak ikut, bener deh... mereka sendiri kok yang bilang sama gue..." I feel so damn stupid for trusting their words that much. Di acara farewell party sama kepala divisi hari Jumat minggu lalu, gue bilang terus terang di tengah forum, "Ada apa sih ini? Kenapa sih orang-orang yang mau ikut ke sana pada bohong semua? Emang diperintah untuk main rahasia, ya? Emangnya kalo kita tau mereka mau pindah ke sana, kenapa?" Kepala divisi gue jawab, "Bukannya mau main rahasia-rahasiaan, tapi ibarat Agung mau beli rumah, udah sepakat sama pemilik rumah yang baru, tapi belum ada hitam di atas putih, kan nggak enak kalo Agung udah bilang ke orang-orang bahwa Agung adalah pemilik baru rumah tersebut. Siapa tau ada di antara penghuni rumah tersebut yang belum tau bahwa rumahnya udah berpindah tangan, kan mereka bisa jadi resah..." Dengan kata lain, untuk menjaga stabilitas kondisi di 'seberang' harus mengorbankan stabilitas kondisi di tim sendiri? Well, sorry mbak, I think that is the biggest bullshit I've ever heard - so big that I can't imagine the size of the bull. Satu-satunya alasan yang masuk akal bagi gue adalah, karena rombongan itu pindah dengan tujuan 'mensabotase' perusahaan gue sekarang. Trust is a very fragile thing. Sayang banget ngeliat kepercayaan yang udah terjalin di tim gue selama hampir 4 tahun ini mulai retak hanya gara-gara tawaran kerja di tempat lain. Gue sendiri udah memutuskan untuk nggak ikutan eksodus. Kalopun gue resign dari perusahaan ini, nggak sekarang, nggak akan ke sana, dan nggak akan dengan cara yang bikin susah orang. Sebagai reminder untuk diri gue sendiri, dan saran untuk kalian yang berencana untuk resign dari kantor, berikut beberapa poin yang SEBAIKNYA dilakukan sebelum resign - kalo nggak ingin merusak hubungan dengan orang-orang yang kalian tinggal: - Terus terang. Kebanyakan orang yang mau resign memang 'terpaksa' merahasiakan rencananya sampe detik terakhir, karena kuatir akan dihalang-halangi atau bahkan kena hukuman kalo sampe punya niatan pindah. Tapi begitu kesepakatan kerja dengan tempat baru ada di tangan, mendingan terus terang sama orang-orang di sekitar. Kasih tau bahwa dalam waktu dekat lo nggak akan ada untuk membantu mereka lagi. Nggak usah sok ngebohong karena cepat atau lambat kebohongan itu akan terbongkar dan sekali lo ketahuan bohong, kredibilitas lo akan dipertanyakan.
- Jangan ninggalin sampah. Beresin kerjaan lo sebelum resign, sampe tuntas. Kalo ada yang belum bisa dituntasin, ajarin cara ngeberesinnya ke para pengganti lo.
- Ajukan pengganti. Masalah diterima atau enggak urusan belakang, tapi minimal tunjukkan niatan untuk mencari kandidat dengan kemampuan yang setara sama elo, untuk jadi pengganti lo nanti.
Gue pernah baca sebuah saran di artikel tentang resign, "never burn bridges behind you" - jangan pernah merusak hubungan dengan mantan rekan-rekan sekerja lo, karena lo nggak pernah tau kapan akan membutuhkan mereka lagi. image gue pinjem dari sini
 Sekitar dua atau tiga bulan yang lalu, Anto beli sebuah laptop yang spesifikasinya lumayan canggih. Setiap hari dia bawa laptopnya ke kantor. Semua orang senang dengan kehadiran laptop Anto, terutama karena di situ terinstall game sepak bola. Sejak Anto punya laptop, kehadirannya selalu ditunggu-tunggu - khususnya menjelang jam istirahat, saatnya main game sepak bola. Karena spesifikasi laptopnya memang tergolong 'super', animasi game sepak bola tampil sempurna di layar. Pada suatu hari, gue kebetulan juga bawa laptop ke kantor. Dibanding laptop Anto, laptop gue jauh ketinggalan jaman. Anto yang lagi kurang kerjaan jalan-jalan ke deket meja gue, trus memperhatikan laptop gue. "Hmmm.... berapa ini RAM-nya?" tanya Anto "Cuma satu giga To..." "Ckckck.. kecil sekali ya... apa rasanya ya, pake komputer yang RAM-nya cuma 1 giga..." kata Anto dengan gaya belagu. Bukan, bukan belagu betulan, tapi gayanya emang gitu. Dan gue tau dia cuma main-main, kok. "Yah maklum lah To, gue mampunya cuma beli ginian, ini juga nyicil..." "Selain itu.... hmmm... layarnya juga terbatas sekali ya? Coba, diliat dari agak samping begini, langsung nggak keliatan gambarnya." "Ini juga udah Alhamdulillah kok To," jawab gue dengan nada memelas. "Nggak ada webcamnya ya?" "Nggak ada To..." " Kasihan sekali..." Ngeliat gayanya belagu banget, gue jadi iseng nyeletuk, "Iya... dan gue sih berharap aja semoga JANGAN SAMPE TERJADI 'SESUATU' DENGAN LAPTOP LO YANG BAGUS ITU YA TO..." "Ih... ih... Agung marah yaaa... ampuuun... ampuun... laptop gue jangan disumpahin guuuung..." "Nggak nyumpahin, justru gue berharap JANGAN SAMPE LAPTOP LO KENAPA-NAPA gitu loooh..." "Huhuhu... ampppuuun... jangaaaan..." Beberapa hari kemudian, Anto iseng ingin nyoba pake dual-OS: Windows Vista dibarengi dengan Windows 2000. Nggak sengaja dia melakukan kesalahan fatal, yaitu file system Win Vista-nya ketiban sama Win2000. Akibatnya si laptop canggih nggak bisa nge-load Windows dan masuk ke safemode melulu. Saat gue lewat deket mejanya, Anto lagi mengutak-atik si laptop super dengan tampang prihatin. "Kenapa laptop canggih lo? Mampus?" "Ah enggaaak... cuma salah sedikit aja waktu nginstall windows, ini lagi gue betulin." "Oh... kirain mati total." "Enggak doooong... gila aja." Dua hari kemudian, suasana jam istirahat masih sepi - pertanda laptop Anto masih belum siuman. Waktu gue tengok ke mejanya, laptopnya lagi diformat. "Laptop canggih kok layarnya gelap, To?" "Aaah.. nggak papa, ini lagi gue format ulang aja biar beres semuanya. Nanti abis diformat kan nyala lagi." Setelah diformat, Anto baru sadar bahwa dia nggak punya driver untuk VGA cardnya. Dia udah coba download drivernya dari internet, tapi ternyata nggak compatible dengan VGA cardnya. Gue mampir lagi ke mejanya. "Laptop pake VGA card kok gambarnya burem amat To?" "Itu lagi safemode, dodooool..." "OH? Masih RUSAK, rupanya?" "Enggak, enggak rusak. Ini tinggal gue install ulang windowsnya juga beres kok." "Kalo lagi safemode, gambarnya jelek ya To." "..." Anto males jawab. Gue berlalu sambil ngetawain tampang Anto yang mulai frustrasi. Beberapa hari kemudian dia bela-belain beli CD Windows XP "black edition" yang konon udah dilengkapi aneka driver hardware. "Laptop masih mati, To?" "Ini lagi mau gue install Windows XP, abis ini pasti nyala lagi deh." "Mudah-mudahan ya To... soalnya... laptop bagus-bagus tapi nggak nyala kan percuma aja." "Iya gung, iyaaaa...." Beberapa hari berlalu, laptop Anto nggak nampak lagi di mejanya. "Loh, LAPTOP MAHAL ke mana To?" "Di bengkel. Nyerah gue, masih belum nyala juga." Mengingat Anto adalah seorang programmer lulusan teknik informatika, ini aneh. Masa nginstall Windows aja sampe gagal? Gue jadi mulai nggak enak. "Lah, kemarin lu beli Windows XP blacky itu, nggak bisa juga?" "Enggak." "Kenapa?" "Nggak tau, aneh banget." "Waduh, maap lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo kenapa-napa... bener deh..." "Enggak... nggak rusak kok. Paling diservis sebentar juga udah beres lagi. Masih garansi ini." Seminggu laptop Anto nginep di bengkel, belum beres juga. "Laptop canggih apa kabarnya To?" "Masih di bengkel." "Kok lama amat?" "Tauk tuh, kemarin gue telepon, masa tukang bengkelnya juga bingung..." "Waduuuh... tapi bener lho To, waktu itu gue nggak beneran nyumpahin laptop lo rusak..." "Iya, iya." Kemarin, Anto menelepon bengkel komputer. Kabar gembira: laptopnya udah beres dan bisa diambil. Hari ini, Anto kebetulan cuti. Dari rumahnya di Pamulang, dia menelepon bengkel laptop di Ratu Plaza untuk memastikan sekali lagi bahwa laptopnya udah selesai direparasi. "Udah siap Pak, tinggal ambil aja," kata tukang bengkelnya. Maka pergilah Anto jauh-jauh dari Pamulang ke Ratu Plaza, dan sesampainya di sana... "Aduh Pak, mohon maaf lho ini, ternyata LAPTOP BAPAK MASIH BELUM BERES." "Heh? Kenapa lagi? Tadi saya telepon katanya udah bisa diambil?" "Memang pak, kami sampe ganti motherboard dan semalem udah beres. Tapi barusan dicoba lagi ternyata masih belum bisa pak, mohon maaf. Ini kami mau ganti sekali lagi motherboardnya..." "Motherboard? Awalnya kan cuma salah nginstall, kok bisa motherboardnya sampe kena?" "Itulah Pak, kami juga bingung..." Dengan bersungut-sungut Anto meninggalkan Ratu Plaza menuju ke kantor untuk ngomel, "INI SEMUA GARA-GARA AGUNG NYUMPAHIN LAPTOP GUE, LIAT TUH SEKARANG SAMPE UDAH DUA KALI GANTI MOTHERBOARD BELUM BERES JUGA!!"Beneran deh, mulai sekarang gue harus lebih hati-hati menjaga ucapan... Maaf lho To, serius gue nggak pernah bermaksud ngedoain laptop lo rusak.... Posting lain tentang celetukan gue yang jadi kenyataan bisa diklik di sini.
Selama bulan Oktober - November, ada 5 orang di divisi gue yang ulang tahun. Berhubung kelimanya udah masuk golongan 'boss', maka todongan traktiran berada di level yang lebih tinggi dari sekedar sate atau mi ayam seputar kantor. Maka hari ini, kami sedivisi beramai-ramai ditraktir di restoran buffet sebuah hotel bintang lima di bilangan Mega Kuningan, dengan kelima orang tersebut sebagai penyandang dana patungan. Di sana, terjadi percakapan semi fiktif yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut: "Ih... ih... ih... liat deh nama makanan yang itu!" "Ya ampun... joroknya..." "Katanya hotel bintang lima, kok makanannya jorok gini sih..." "Tega banget orang disuruh makan gituan." "Butuh berapa orang ya, untuk bikin sepanci gede gitu...." "Pantesan rasanya asin-asin gimanaaa.... gitu." "Hiy... geli' gue ngebayanginnya, eneg tauu..." "Pada ngomongin apaan sih?" "Itu lho, liat deh, masa makanan yang itu namanya... "ITU BACANYA KON-JI, DODOOOL... Artinya 'bubur'!" "Lha iya, bubur conge, kan?" "Hus, bukan. Liat dong, 'e'-nya ada dua. Jadi bacanya harus dipanjangin, kaya manggil dari kejauhan, gitu. Bubur Congeeeeeeee....." "huhuhuhuhu..." "hihihihihihihi..." "...dasar rombongan manusia katro."
 Hari Sabtu 8 September kemarin gue pulang dari outing bareng temen-temen kantor di Carita. Lagi-lagi bertugas jadi seksi acara. Artinya, sejak tahun 2000 sampai sekarang, gue udah 5 kali mengisi acara outing di kantor, dan hanya absen di tahun 2003 dan 2004. Biarpun kantornya gonta-ganti, kok ya tetep aja... gue lagi, gue lagi yang kepilih jadi seksi acara outing. Aneh. Sebenernya, kalo boleh milih sih gue lebih suka jadi peserta ketimbang panitia outing. Bayangin aja, saat semua orang lagi hore-hore gitaran sambil nyanyi-nyanyi, atau foto-foto, atau berendem di kolam renang, gue masih harus sibuk nyiapin aneka peralatan games. Belum lagi kalo ada yang komplen karena merasa acara outingnya kurang nendang. Dikiranya panitia outing dapet honor tambahan, kali. Padahal boro-boro honor, seringkali malah nombok! Tapi berdasarkan pengalaman berkali-kali ngurusin outing, akhirnya gue bisa menarik kesimpulan tentang manfaat dan tips bikin outing yang sukses. Gue tulis di sini sebagai referensi, kali aja ada di antara kalian yang bernasib sama seperti gue. Definisi outing sukses menurut gueSebuah acara outing bisa dikategorikan 'sukses' kalo: - Tingkat kehadiran lebih dari 80%
- Masih jadi topik pembicaraan hingga beberapa minggu setelah acaranya selesai
- Hubungan kerja antar bagian / departemen jadi lebih mulus atau minimal berkurang tingkat konfliknya
- Masing-masing peserta mendapat insight / inspirasi dari acara yang dikuti selama outing.
Manfaat outingSelama outing, para peserta belajar untuk mengenal rekan-rekan kerjanya sebagai pribadi, bukan sekedar kotak dalam struktur organisasi. Outing yang sukses akan menghasilkan pembicaraan-pembicaraan seperti: "Gue baru tau lho, ternyata Pak Anu itu suaranya bagus banget!" atau... "Ternyata Bu Anu yang gue kira pendiem itu bisa asik juga diajak ngobrol soal masak-memasak..." atau... "Ya ampuuun... taunya si Anu itu masih sepupu jauh sama gue!!"
Komentar-komentar seperti itu hanya mungkin muncul bila acara selama outing memfasilitasi para pesertanya untuk saling berinteraksi dan lebih mengenal satu dengan lainnya. Gimana caranya? Elemen-elemen outing sukses1. Keseimbangan antara acara bebas dan terstrukturSupaya para peserta outing bisa saling mengenal satu dengan lainnya, maka HARUS ada acara khusus yang dedesain untuk itu. Masalahnya, acara outing biasanya diadakan pas weekend, waktu yang biasanya dimanfaatkan orang untuk beristirahat. Kalo selama outing penuh dengan acara permainan ini - itu yang nggak memberikan kesempatan istirahat, peserta malah akan kecapean dan nggak menikmati outingnya. Harus ada keseimbangan antara waktu untuk acara khusus dengan waktu untuk santai-santai. Tentang berapa persen waktu yang sebaiknya dibiarkan untuk acara bebas, bisa bervariasi tergantung karakter para peserta outingnya sendiri. 2. Akomodasi terpusatUntuk penginapan, usahakan pilih tempat yang bikin para pesertanya ngumpul bareng, misalnya di villa. Hotel adalah pilihan yang jelek karena para peserta akan terpencar-pencar sehingga yang ada nanti mereka cuma akan ngilang sendiri-sendiri dan susah diajak ikutan acara bareng. Tahun 2005, gue outing di Bandung dengan akomodasi sebuah wisma milik kantor. Wismanya cuma punya 2 kamar sementara pesertanya ada 15 orang - sehingga ada yang terpaksa gelar koran di lantai atau tidur di mobil karena nggak kebagian tempat tidur - tapi mereka happy - happy aja dan proses interaksi antar peserta berjalan intens. Gimana nggak intens kalo tidurnya satu kasur bertiga. 3. Komitmen dari big bossSayangnya, nggak semua boss ngerti bahwa outing itu penting. Para boss yang basi dengan ngasih kata sambutan kepanjangan, dateng ke lokasi belakangan naik mobil pribadi sementara peserta lainnya naik bis, yang memaksakan acara-acara 'pesan sponsor' dengan porsi berlebihan, yang ujug2 ngomongin kerjaan saat makan malam, atau yang cuma mau nonton tanpa mau terlibat permainan, adalah elemen yang sangat berbahaya bagi kesuksesan sebuah outing. Idealnya, boss juga ikut terlibat dalam seluruh proses outing, termasuk berpartisipasi dalam aneka game konyol di dalamnya. Semangat outing adalah membuat semua orang menjadi manusia, termasuk para boss. 4. No Family allowedSoal perlu atau enggaknya keluarga diajak saat outing, memang masih jadi pro dan kontra. Tapi gue sendiri lebih suka bila acara outing nggak melibatkan keluarga. Alasannya, bila masing-masing peserta membawa keluarga, maka nanti sepanjang acara mereka hanya akan sibuk ngurusin keluarganya. Mungkin ada yang anaknya sakit, berantem dengan anak orang, kelelep di kolam, mecahin piring, dlsb. Belum lagi kalo ada yang pasangannya cemburuan, sehingga sepanjang acara terpaksa 'jaim'. Kalo udah kaya gitu, gimana mau mulai proses interaksi antar peserta? 5. Keterlibatan para peserta dalam prosesBerdasarkan pengalaman gue, keterlibatan peserta berbanding lurus dengan kesuksesan outing. Peserta yang dilibatkan sejak awal sekali, misalnya dengan polling untuk menentukan lokasi outing, biasanya akan lebih antusias untuk berpartisipasi. Selain itu gue juga menemukan bahwa peserta yang harus urunan / patungan untuk membiayai outing biasanya lebih antusias untuk ikut ketimbang yang terima beres dan dibayarin kantor 100%. Kuncinya adalah membuat peserta berpikir bahwa acara ini milik mereka - bukan 'titipan sponsor' dari pihak management. foto: gue di depan papan game hasil karangan gue sendiri :-)
Catatan: Ini adalah 100% true story, tapi berhubung salah satu tokohnya melakukan tindakan yang sangat dodol, maka nama-nama tokohnya terpaksa diganti - daripada gue dibilang melakukan pencemaran nama baik... Alkisah, hiduplah dua orang karyawati Bank Danamon (perhatikan baik-baik nama banknya ya... Bank Danamon) bernama Tuti dan Rini. Pada suatu siang, Tuti berjalan dari luar menuju ke mejanya. Rini yang kebetulan duduk di sebelahnya basa-basi bertanya, "Eh, dari mana lo, kok baru nongol sekarang?" "Ini lho mbak, abis buka rekening tabungan di bawah..." "Rekening tabungan buat siapa? Buat anak lo?" "Bukan. Jadi kan gini ya... tadi tuh aku ditelepon sama bagian sales. Katanya, kita sebagai karyawan Danamon boleh ambil kredit dengan bunga lebih kecil. Tapi syaratnya, kita harus punya rekening tabungan yang bukan rekening payroll (pembayaran gaji - red)..." "Iya betul, soalnya rekening payroll itu nggak bisa menerima transfer dari tempat lain, cuma bisa dari HRD aja. Trus?" "Ya makanya tadi aku ke bawah, buka rekening tabungan baru, gitu loh!" "...sebentar... kok lo buka rekening baru di bawah? Di gedung ini kan kita nggak punya kantor kas?!" "Iya tau... makanya tadi aku buka rekening tabungan di BANK PERMATA... sama aja, kan? Sama-sama rekening tabungan, gitu. Ya kan, mbak? Loh, mbak, kok jedot-jedotin kepala ke meja, kenapa mbak? Mbak? Mbak...??" Epilog: Setelah mendapat penjelasan yang cukup 'menyakitkan' dari Rini, Tuti mencoba membela diri, "...lagian tadi salesnya nggak bilang kalo buka rekeningnya harus di Danamon juga, mana aku tau..." Yang kemudian ditimpali oleh seseorang dengan, "Untung bukan rekening listrik yang lo buka tadi".
image berasal dari sini
 Cerita ini sebenernya udah rada basi, yaitu waktu menjelang temen gue yang bernama Roy resign (pernah gue senggol diki di sini). Tapi gue jadi keinget lagi gara-gara beberapa hari yang lalu gue abis melepas temen yang lain lain lagi, yaitu Fredy, resign dari kantor. Jadi begini ceritanya: Waktu Roy secara resmi mengumumkan rencana pengunduran dirinya, maka temen-temen sedivisi gue pada berencana ngasih kenang-kenangan buat dia. Bentuknya adalah kumpulan foto temen-temenya, disertai pesan dan kesan tentang Roy. Yang kebagian tugas bikin benda itu adalah seorang anak baru bernama Trini (waktu posisinya lowong pernah gue iklanin di sini). Karena waktunya mepet, maka setiap hari Trini nguber-nguber semua orang untuk cepetan ngumpulin pesan dan kesannya. Satu demi satu akhirnya semua orang udah mengumpulkan pesan dan kesannya, kecuali seorang yaitu Kepala Divisi gue yang bernama Mbak Ratih (pernah gue journalin waktu minta bikinin artikel iklan di sini). Waktu itu si Mbak memang lebih sering keluar kantor, jadi sulit dijangkau oleh Trini. Sampailah pada deadline pengumpulan pesan dan kesan, tiba-tiba Mbak Ratih sadar bahwa dirinya belum ngumpulin pesan dan kesan untuk Roy. Berhubung saat itu dia masih sibuk di luar kantor, maka dia berniat mengirimkan pesan dan kesannya via SMS. Tapi, berhubung trini anak baru, dia belum punya nomor HP Trini. Maka sebagai alternatifnya dia mengirimkan SMS berisi pesan dan kesan buat Roy kepada Nanda (yang dulu pernah jalan-jalan ke Jogja bareng gue di sini). Karena Roy termasuk orang yang berprestasi di pekerjaannya, maka nggak heran kalo SMS pesan dan kesan dari Mbak Ratih penuh dengan kata-kata positif, seperti: "You are a very talented person..." "..humble..." "...focused in work..." "...outstanding..." "...excellent..." dst dst yang dirangkai dalam sebuah paragraf penuh kalimat mengharu-biru dan diakhiri dengan kalimat "I'm so glad i know you..."Dan dikirimkanlah SMS pesan dan kesan tersebut kepada Nanda - maksudnya untuk diteruskan kepada Trini. Dan diterimalah SMS itu oleh Nanda, yang dengan penuh rasa percaya diri menyangka SMS itu MEMANG DITUJUKAN UNTUK DIA. Maka Nanda membalas, "I'm glad I know you too, Mbak..."Kesalahpahaman itu berhasil terselesaikan beberapa menit kemudian, dan Nanda sempat berharap Mbak Ratih mau kompakan merahasiakan 'insiden memalukan' yang menimpanya dari kuping anak-anak yang lain. Tapi harapan tersebut pupus waktu Mbak Ratih membuka acara farewell party Roy dengan kalimat lantang, "Eh, kalian udah pada tau belum... masa ya... Nanda ge-er nerima SMS saya..."Sesudahnya, wah... belum pernah gue ngeliat anak2 ketawa sekeras itu. Pesan moral: hati-hati kalo nerima SMS dari atasan... gambar gue pinjem dari sini.
Hari ini gue dapet e-mail forward-an yang menawarkan TV Sanyo flat dengan harga khusus. Hal yang wajar dan biasa-biasa aja, kan? Tapi coba deh baca e-mailnya baik-baik, khususnya di bagian "Note": --------------- From: d****.l** Sent: 27 April 2007 16:01 To: *** Subject: FW: Sori... interrupt..... Ini iklan Ada yang mau beli SANYO TV 29' FLAT. Kondisi Baru 100%. Garansi 1 tahun. (asli SANYO) Unit Terbatas, cuma 3000 buah. Rp. 1.800.000,- (pasaran Rp. 2 jutaan) Note : Tampilan awal ada tulisan "DIKNAS", selebihnya semua biasa. Bagi yang berminat silakan kontak d**** l** --------------- Hmmm...mari kita mencoba berprasangka baik ya... Bukan, 3000 unit tv ini BUKAN hasil pengadaan Dept. Pendidikan Nasional yang di-KORUPSI (ups, istilahnya kasar ya? hmmmm... gue ganti deh, di-SIKAT) melainkan... ...program yang disponsori Depdiknas untuk mempermudah para karyawan kantoran beli tv sehingga wawasannya lebih luas - selaras dengan semangat 'mencerdaskan kehidupan bangsa'. ...perusahaan elektronika raksasa SANYO sedang mengalami kesulitan keuangan sehingga membutuhkan suntikan modal dari Depdiknas RI. Sebagai penghargaan, pihak SANYO mencantumkan logo Depdiknas di 3000 unit tv. ...Presdir Sanyo Indonesia sangat memperhatikan kemajuan pendidikan. Untuk menunjukkan dukungannya, maka ia memajang logo Diknas di tv keluaran terbaru. ...dalam rangka menyambut ujian nasional, Depdiknas menitipkan logonya agar muncul di tv Sanyo sehingga anak-anak yang mau ujian kembali ingat belajar saat nyalain tv. ...tv Sanyo ini di-asembling dari tivi merk Diknas, made in China. Kaya kalo kita beli DVD merk "Chang-Hong" atau "Sang-Chung" atau apalah kan pas disetel pertama suka keluar tulisan "Sony" atau "Pioneer". ...atau.... huff... ternyata susah ya berprasangka baik untuk urusan yang satu ini. Ada yang mampu berprasangka lebih baik dari gue? === Buat sirtub, ini posted by e-mail, jadi harap maklum kalo nggak ada gambarnya, ya... Pesan Sponsor:

Friendship is a gift of God. Some of us are blessed
with good friends. But as it happens, these friendships are taken for granted
in some cases and not valued. (kutipan dari artikel di sini).
Yah, hari ini gue sejumlah kejadian yang pas banget
dengan kalimat di atas; bahwa ternyata selama ini gue kurang memperhatikan
eratnya persahabatan dengan orang-orang di sekitar gue. Dan ketika gue
tersadarkan atas makna persahabatan itu sendiri, ternyata malah pedih yang
terasa. Jadi begini ceritanya; Udah hampir 2 bulan terakhir ini, pundak kanan gue
sakitnya luar biasa. Kaya keseleo, gitu. Anehnya, gue nggak bisa mengingat
kapan, apa, dan di mana pangkal permasalahannya. Pokoknya tiba-tiba sakit, aja.
Lengan kanan gue jadi nggak bisa diangkat tinggi-tinggi, karena baru digerakin
ke atas dikit aja sakitnya bukan main. Lucunya*, sakitnya suka datang dan pergi
gitu. Kadang sakiiit.. banget, kadang nggak terlalu terasa. Tiap malem
udah gue gosokin pake salep pereda sakit otot sampe mata gue kiyer-kiyer kena
uap panasnya, sakitnya nggak berkurang. Akhirnya gue pergi ke dokter spesialis
urat dan syaraf. Eh, pas sampe ruang praktek dokter, tau-tau penyakitnya
ngumpet. Sama dokter gue disuruh menggerak-gerakkan lengan ke segala arah,
nggak ada rasa sakit sama sekali. Dokternya bingung, akhirnya gue dikasih surat
pengantar untuk pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imagery). Itu lho,
yang alatnya canggih kaya di film sci-fi. Image yang dihasilkan alat ini lebih
jelas daripada ronsen, bahkan bisa mendiagnosa kimia darah segala lho! Waktu
disuruh periksa MRI sih gue iya-iya aja. Pikir gue, 'wah seru nih, ngerasain
periksa MRI, lumayan buat bahan posting di MP'. Eh ternyata belakangan gue tau
bahwa untuk scanning pundak sebelah doang biayanya DUA KOMA TUJUH JETI RUPIAH (duit semua,
nggak boleh campur daun). Memang sih gue dicover asuransi kesehatan dari kantor,
tapi mbak-mbak petugas MRI dengan reseknya bilang bahwa kalo mau periksa MRI
dengan dicover asuransi maka surat pengantar dokternya harus dilengkapi dengan diagnosa.
Gue bilang sama tuh mbak-mbak, "justru dokter saya bingung mau
diagnosa apaan, makanya saya disuruh MRI" tapi dia tetep
ngeyel. Ya sud, gue batalin MRI dengan niat kapan-kapan mau balik ke dokter
untuk minta lengkapin surat pengantarnya. Waktu berjalan, gue nggak
sempet-sempet balik ke dokter lagi dan gue menjalani hari-hari sambil menguji
kesabaran menahan sakit yang datang dan pergi. Gue berharap, mungkin kalo
didiemin lama-lama ilang sendiri. Eh ternyata enggak. Sementara itu, Eveline sang instruktur
fitness mengingatkan bahwa porsi latihan gue jadi nggak seimbang karena gue
cuma berlatih cardiovasculer melulu tanpa latihan beban. Padahal boro-boro
latihan beban, dipake buka singlet aja lengan gue sakit banget. Alhamdulillah,
pada suatu hari Allah memberikan petunjuk. Tiba-tiba gue teringat pada seorang
temen lama, sesama pegawai BPPN dulu, yang jago banget ngurut orang keseleo dan
patah tulang. Namanya Sulaiman alias Maman. Setelah tanya-tanya beberapa temen
yang lain, akhirnya gue berhasil mendapatkan nomer teleponnya.Gue hubungi si
Maman, dan untungnya dia masih inget gue sehingga 2 minggu yang lalu gue mampir
ke rumahnya minta diurut. (Cerita lengkap tentang si Maman nanti gue tulis
terpisah di review ya, barangkali ada di antara kalian yang butuh bantuan
mengatasi problem dengan urat dan tulang). Sebagai orang yang pada
dasarnya nggak suka dengan aktivitas pijat-memijat, sesi pengurutan di rumah
Maman terasa bagaikan kamp penyiksaan buat gue. Suakiiiit banget. Lucunya** dia
mulai narik dari tempat yang kayanya nggak berhubungan dengan pundak, seperti
dari punggung bawah dan siku kanan. Habis diurut-urut, baru lengan gue
dipelintir ke atas. KRRKK! Man, sakitnya sampe mata gue berkunang-kunang. Tapi
walaupun tersiksa, ternyata sepulang dari rumah Maman pundak gue terasa lebih
baik. Ada peningkatan mobilitas, lah. Kalo dulu baru posisi naik 25% aja udah
sakit, sekarang lumayan, lengan bisa gue angkat sampe 50%. Karena
terkesan dengan hasil karya Maman, maka minggu depannya gue datang lagi ke
rumahnya. Ditarik-tarik lagi, tapi nggak sesakit yang pertama. Habis itu kondisinya
makin baik, bahkan gue mulai berani latihan beban lagi di gym. Tapi ternyata
abis latihan beban sakitnya kumat lagi, jadi Selasa malem kemarin gue balik ke
Maman. Maman bilang, memang proses penyembuhannya belum selesai. Justru
sekarang inti permasalahannya udah mau keluar ke permukaan, katanya - entah apa
maksudnya. Yang jelas sesi pengurutan semalem itu bener-bener puncak dari
segala macem rasa sakit yang pernah gue alami selama 33 tahun 7 bulan hidup gue
di dunia. Jauuuuuuh.... lebih sakit dari 2 sesi sebelumnya. Bukan cuma ditarik
dan diurut, tapi punggung gue juga digerus dengan buku-buku jarinya. Kalo mau ngebayangin
rasanya, bayangin rasanya kerokan - tapi koinnya bukan cuma satu melainkan 4
biji, dan bukannya pake koin melainkan tutup botol softdrink, digores tegak
lurus dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tau sendiri otot itu kan
umumnya mengarah ke samping, jadi kalo digiles secara memotong jalur gitu akan
terasa sangat sedap*** sekali deh ih. Pulang dari rumah Maman, otot pundak dan punggung gue
terasa lembek seperti buah Mengkudu mateng pohon. Jangankan kesenggol, kena
getaran waktu gue jalan aja sakit. Dan kok ya kebetulan TAS GUE
RANSEL. Ugh... mantap. Sampe di rumah, Ida shock
waktu gue pamerin bekas urutan si Maman. Bentuknya memang rada mengerikan sih,
kaya abis digiles roda mobil. Liat aja sendiri kalo nggak percaya: Selain
punggung, pundak kanan gue juga dipenuhi lingkaran-lingkaran lebam bekas
tekanan jari-jemari si Maman. Pagi ini,
gue ngantor seperti biasa walaupun sambil sedikit meringis waktu masang ransel
di pundak gue. Dan... terjadilah apa yang gue tulis di bagian awal posting ini,
yaitu PEDIHNYA PERSAHABATAN. Atau dengan kata lain, hari ini gue baru menyadari
bahwa ternyata temen-temen gue itu sangat gemar untuk saling MENEPUK PUNDAK!!
Pagi-pagi, baru mulai nyalain komputer, dateng seseorang yang mau nitip upload
memo di website intranet gue. "Gung, gue nitip memo nomer sekian-sekian
untuk dimasukin ke library ya!" "OK." "Thanks
Man!" [sambil nepuk pundak] "AAAAAOOOWWW...!!!" "Loh, loh, kenapa?" "...blablabla..."
[menceritakan kronologis pengurutan pundak] "Oh gitu... wah
sorry banget, gue nggak tau." "Iya nggak papa." "...tapi,
tolong ya man, titip memonya." [sambil berancang-ancang
mau nepuk pundak lagi] "Iya. Awas tangannya,
tangannyaaa...!!" "Oh iya sorry lupa, kebiasaan." Siangan
dikit.. "Makan siang di mana kita Gung?" [sambil nepuk pundak] "AAAAAOOOWWW...!!!" "Loh,
loh, kenapa?" "...blablabla..." [menceritakan
kronologis pengurutan pundak] "Lagi pada ngomongin apa sih kok seru
banget?" tanya seorang teman yang lain, sambil
memijat pundak. "$%@!!!! ^^&%!!!!!" Sorenya,
temen gue yang bernama Rudi minta tolong dibuatin logo dan proposal untuk
sebuah band yang baru dibentuknya. "Tolong yah gung, dibuat rada gimana gitu
biar nggak malu-maluin waktu ngajuin ke produser rekaman," katanya "Iya.
Tapi TANGANNYA AWAS JANGAN NYENGGOL PUNDAK GUE!" "Iya,
iya..." Beberapa saat kemudian, "Nih Rud,
proposalnya gue buat begini, oke nggak?" "WUAH.. GUNG! KEREN
PISAN EUY!!" serunya excited sambil... PLOOOK! menepuk pundak gue sekuat tenaga. Siapa sih
pakar manajemen yang dulu pernah nyeletuk 'sebuah tepukan di pundak
lebih berharga dari uang'? Pingin gue sobek-sobek mulutnya.
*tentunya bukan dalam pengertian 'lucu' secara harfiah ya. **lagi-lagi
tidak untuk diartikan secara harfiah. ***apalagi yang ini, sama sekali tidak bermakna
harfiah.
Dalam rangka meningkatkan keamanan data di website intranet, beberapa bulan yang lalu divisi gue memberlakukan sistem username dan password. Jadi para pegawai yang mau mengakses data di website harus mengisi formulir permohonan username dan password dulu. Formulirnya dikirim ke gue, trus gue input ke sistem, habis itu pemohon gue kirimi e-mail berisi pemberitahuan username dan password. Nanti kalo mereka pake username dan password itu untuk mengakses website akan muncul pemberitahuan sbb: Selamat datang ke website intranet! Mohon ganti password Anda dengan memasukkan password baru ke tempat yang telah disediakan berikut ini: | Password baru : | | | Ulangi password baru : | |
Di bawah pengumuman itu ada 2 tempat isian password dan reconfirm password seperti LAZIMnya proses penggantian password di web yang udah umum berlaku sejak.... yah katakanlah 15 - 20 TAHUN YANG LALU. Semua perintah ditulis dalam bahasa indonesia, tampilan halamannya polos tanpa pernak-pernik yang mungkin akan mengganggu konsentrasi. Pokoknya simpel deh. Atau dengan kata lain; SEHARUSNYA sih simpel. Tapi gue sungguh nggak ngerti kenapa sejak 2 hari yang lalu gue BANYAK* menerima telepon yang kutipan dialognya kurang lebih seperti ini: "Halo, dengan Mas Agung?" "Ya, ada yang bisa dibantu?" "Gini mas, saya kan udah terima email dari mas yang isinya username dan password tuh, kok sekarang saya nggak bisa akses ke website ya?" "Coba ceritain urutannya yang jelas, sejak terima e-mail saya kemarin Anda ngapain?" "Ya kan di email ada username dan password, terus saya masukin ke website..." "Ok, udah betul. Trus?" "Trus ada perintah ganti password, saya bikin password baru." "Betul. Trus?" "Trus saya log-out, pas mau masuk lagi, eh passwordnya ditolak." "...hmmm..." "Kenapa ya mas...?" "...ini sekedar nanya aja ya, tapi ngomong-ngomong waktu mau masuk lagi, pake password yang mana ya?" "... ya pake PASSWORD YANG ADA DI EMAIL MAS" "..." "...mas?" "Jadi kalo boleh saya ulang urutannya: Anda terima username dan password dari email, Anda pake password itu untuk mengakses website dan waktu login pertama kali udah diminta GANTI PASSWORD. Sekarang Anda bingung kenapa gagal waktu mencoba login pake PASSWORD YANG LAMA, gitu ya? Gimana, menurut Anda ada yang terasa JANGGAL nggak dengan urutan tersebut?" "...oh... jadi.... saya harus pake PASSWORD YANG BARU ya mas, yang saya buat sendiri?" "Yak, seratus." "Oh... gitu... maaf ya mas, maklum AGAK gaptek." "AGAK? 'BANGET' mungkin lebih tepat. Selamat siang." *=penekanan bahwa bukan cuma satu atau dua. Banyak. [posted by e-mail]
Hari senin kemarin, terdengar sedikit kehebohan di kalangan temen2 kantor gue. Mereka nampak sedang mengerumuni sesuatu sambil cekikikan secara mencurigakan. Gue, tentu aja langsung mendekat. Ternyata mereka lagi mengerumuni sebuah bulletin nasabah. Buat yang punya rekening tabungan di bank pastinya pernah nerima bulletin seperti ini, yang disisipkan di dalam amplop berisi laporan saldo bulanan. Isinya biasanya nggak jauh dari perkenalan produk-produk baru bank serta tak lupa kata sambutan dari boss bank yang bersangkutan. Berhubung sebentar lagi musim liburan, maka bulletin nasabah bulan ini nggak lupa memuat artikel berjudul "TIPS AGAR FIT SELAMA BERLIBUR". Isinya ya kurang lebih hal-hal yang mungkin bayi Rafi juga udah tau seperti "jangan jajan sembarangan" atau "jangan mengabaikan jadwal makan" atau "jangan lupa membawa cemilan yang bergizi untuk bekal di jalan". Tapi ada satu poin yang amat sangat menarik perhatian dari tips tersebut yaitu: "luangkan waktu untuk berolahraga, misalnya sempatkan diri untuk berenang di hotel atau LEMASKAN OTOT-OTOT YANG KAKU DI KAMAR HOTEL ATAU DI KAMAR KECIL."... ...... ...sebentar, sebentar... Kira-kira aktivitas APAKAH yang secara SPESIFIK dilakukan di KAMAR HOTEL atau KAMAR KECIL yang dapat melemaskan otot?? Repotnya lagi, poin yang ambigu ini juga dapat mengundang spekulasi yang lebih lanjut seperti: - Apakah bila kita merasa ada sebagian "OTOT" yang kaku maka kita sebaiknya segera menuju ke kamar hotel atau kamar kecil?
- Apakah bila kita memasuki kamar hotel atau kamar kecil dengan "OTOT" yang kaku maka setelahnya kita akan menjadi LEMAS?
- Apakah ada alternatif lain di luar kamar hotel dan kamar kecil yang juga dapat me-LEMAS-kan "OTOT" yang kaku?
- Apakah dengan demikian kita patut berhati-hati dalam memasuki kamar hotel atau kamar kecil karena setelah keluar dari sana kita dapat menjadi LEMAS?
- "OTOT" apakah yang bila menjadi kaku hanya dapat di-LEMAS-kan di kamar hotel atau kamar kecil?
- Apakah proses pe-LEMAS-an otot yang terjadi di kamar hotel atau kamar kecil terjadi secara suka rela atau harus melalui paksaan tertentu?
- Di manakah kita bisa menemukan hotel tertentu yang menyediakan fasilitas untuk me-LEMAS-kan OTOT kaku di kamar hotel atau minimal kamar kecilnya?
Bener-bener sebuah tip yang kontroversial. Buat mas / mbak yang kerjanya nulis bulletin nasabah, mbok ya lain kali kalo bikin tips yang tidak terlalu menimbulkan keresahan masyarakat gitu loh.
 Masih inget Susanti, temen kantor gue yang waktu itu nitip posting tulisan yang ini? Kali ini dia menitipkan 2 puisinya untuk ikutan nongol di Mbot's HQ. FYI, dia ini lulusan biologi UGM - jadi harap maklum kalo puisi2nya bertaburan istilah2 biologis ya ;-) TakutDuduk di sudut ini.... Sudah 2 tahun berlalu Makin berserakan, serpih ke serpih puzzle Lelah menyangkal Bahkan tangis semalam masih bersisa Segores demi segores buat lukisan maya Berpeluh keringat dosa, tetes darah termanifestasi tangis tak bersuara Butir demi butir sederas hujan malam Sedingin angin sebeku hati Beku ? Sekuat angan tuk mencinta Setajam angan tuk meredam Menyangkal Gamang, ragu lahir prematur Tanpa cukup bekal nutrisi kata Cardium selapis epitel sederhana Cranial rawan tanpa koneksi sempurna Celah realita dan rasa, rasio dan emosi Tercampur aduk limfe, hemoglobin Bersenyawa oleh detak lemah nadi Sebentuk nafas dalam selang oksigen nyali Sayang…menguap dalam UV inkubator Takut termanifestasi sebagai bentuk yang sempurna… (jakarta, 4 des 2006 04.30 pm) ...*Angan… Lebih dari paruh umurku Anganku padamu tak jua menyata Damba memang ada, tapi harap kutawan Lelahku melenguh…Magma erosku membatu Dan harapku termetamorf Anganku melangit melengkung Tersapu awan kumulus Kedua sayapku t’lah patah Keping asaku t’lah meredup Angin… Sampaikan anganku pada terunaku Karna mentari segra terbenam Dan malam akan segra memeluk Sementara erosku tak lagi mampu menyala Terunaku…jemput aku di senja nan jingga ini *abis yang ini nggak dikasih judul sama dia.
Menjawab permintaan dari salah
seorang pengunjung di shoutbox gue, kali ini gue mau sharing sedikit
pengetahuan yang gue punya tentang proses negosiasi gaji. Tapi perlu dicatat;
mengingat sekarang gue udah cukup lama meninggalkan dunia per-HRD-an, mungkin
informasi yang gue sampaikan di sini udah nggak terlalu update lagi. Jadi,
jangan telen mentah2 apa kata gue, cek dan ricek lagi dari sumber yang lain ya!
Kenapa sih kita harus menegosiasikan
gaji? Kenapa nggak langsung aja
ditentuin oleh perusahaan? Untuk menjawab ini, pertama-tama perlu gue
jelasin dulu bahwa struktur gaji di sebuah perusahaan biasanya ditentukan dalam
range (rentang), dan range-nya saling overlap satu dengan lainnya. Memang nggak
semua perusahaan menetapkan struktur gaji dalam range seperti ini, tapi
sebagian besar sih begitu. Untuk jelaskan coba
perhatiin tabel ilustrasi berikut:
| Level | Gaji |
| I | 900rb - 1.2 jt | | | II | | 1 jt - 1.5 jt | |
| III | | 1.3 jt - 2.2 jt | | ...dst | |
Ada 2 keuntungan penetapan gaji dengan sistem range,
ditinjau dari sudut pandang perusahaan: - Memberikan
ruang bagi pihak HRD perusahaan tersebut untuk merekrut orang terbaik pada
sebuah level. Untuk jelasnya coba simak contoh kasus sbb:
Sebuah
perusahaan berniat merekrut si X yang saat ini udah bekerja di perusahaan lain.
Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa X menerima gaji 1 juta di
perusahaannya sekarang, dan berada di level I. X tentu menolak saat diajak
pindah dengan penawaran gaji sama yaitu 1 juta. Berkat sistem gaji yang menggunakan
range, maka perusahaan yang baru bisa memberikan penawaran menarik sebesar 1.2
juta kepada X, tanpa harus memposisikannya di level yang lebih tinggi (yang
mana terkait dengan pemberian fasilitas / tunjangan yang lebih besar pula).
- Memungkinkan perusahaan untuk melakukan
efisiensi pengeluaran gaji. Ingat, perusahaan sebagai institusi ekonomis,
pastinya mengutamakan prinsip ekonomi pula: pengeluaran
sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar-besarnya. Kalo
seorang pegawai happy-happy aja dengan digaji 900 ribu, kenapa harus ngasih 1
juta? Ilustrasi berikut mungkin bisa memperjelas:
Si Y
adalah seorang pegawai lugu yang rela ngelembur tanpa banyak nuntut uang
tambahan. Di kantor sekarang ia menduduki level I dengan gaji 750 ribu. Melihat
fakta seperti ini, maka sambil sedikit bertanduk sang petugas HRD perusahaan
tetangga menyodorkan penawaran gaji 900 ribu kepada Y, yang langsung diterima
dengan penuh rasa syukur dan hati sumringah. Nah,
melihat kedua contoh di atas, jelas bahwa urusan negosiasi gaji bisa sangat
menentukan besaran gaji yang kita terima. Si X dan si Y sama-sama menduduki
posisi di level I, kerjaannya sama, tanggung jawab sama, tapi X bisa mendapat
gaji lebih besar dari Y hanya karena perbedaan dalam proses negosiasi gaji!
Kesimpulannya: proses negosiasi gaji itu penting
banget! Apa yang harus disiapkan sebelum menegosiasikan
gaji? - Kenali
pasaran
Ini penting banget banget! Lo harus tau, untuk
kualifikasi yang lo punya sekarang ini, berapa range gaji yang berlaku. Dengan
demikian lo bisa mengajukan penawaran yang 'pas'. - Tetapkan
standar yang rasional
Ini juga nggak kalah penting.
Standar ditetapkan berdasarkan kondisi pribadi lo sekarang ini. Maksud gue
gini: Kalo saat ini lo lagi happy-happy aja di perusahaan tempat
kerja lo, trus dateng tawaran untuk pindah ke perusahaan lain, boleh lah lo
jual mahal dikit. Minta gaji yang rada2 di luar range. Dikasih sukur, enggak ya
udah. Tapi sebaliknya, kalo lo saat ini lagi nganggur, trus lo
menolak tawaran pekerjaan dengan gaji 1 juta hanya karena lo tau untuk
kualifikasi lo rangenya berkisar antara 1.2 - 1.5 juta, ya kurang bijaksana
juga. What i'm saying is, memang perlu untuk mengetahui harga pasaran lo
berapa, tapi jangan lantas terpaku dan terjebak dengan pasaran tersebut hingga
akhirnya mematikan potensi lo untuk berkembang, gitu
loh. Faktor apa aja yang
mempengaruhi standar gaji dari sebuah
perusahaan? - Industri
Beda industri, beda juga standar gajinya. Industri telekomunikasi, pertambangan
/ perminyakan, konsultan, dan consumer goods adalah beberapa industri yang
standar gajinya relatif tinggi. - Ukuran
perusahaan
Perusahaan multi-nasional biasanya punya standar
gaji lebih tinggi dari perusahaan lokal dari bidang industri yang
sama. Tapi, perusahaan2 kelas menengah biasanya masih belum punya
standar gaji yang baku - sehingga justru dengan perusahaan tipe ini lo bisa
nodong gaji seenaknya berdasarkan wangsit dan disetujui! - Level
/ lingkup pekerjaan
Gue sering menemukan, orang salah
memperkirakan standar gaji pekerjaan yang dilamar karena terkecoh dengan title
/ judul pekerjaannya. Contoh kasus yang sering terjadi: lowongan pekerjaan
dengan judul mentereng "sales supervisor" membuat pelamar
mengira pekerjaannya di tingkat manajerial dan mengepalai sebuah tim, nyatanya
harus kerja sendiri jualan barang. Atau yang pernah gue temui di sebuah
perusahaan milik pemerintah daerah, terjadi kenaikan jabatan berkala secara
otomatis - sehingga seorang staff biasa setelah sekian tahun kerja harus jadi
"kepala" sesuatu. Akibatnya, struktur perusahaan tersebut
mekar terus dari waktu ke waktu karena bermunculan "kepala2"
baru, dan banyak "kepala seksi" yang nggak punya anak buah!
Title pekerjaan bisa mengecoh, "manager" di
perusahaan yang satu bisa saja selevel dengan seorang "supervisor"
di perusahaan lain atau justru seorang "vice president" di
perusahaan lainnya - tergantung seberapa besar beban kerja yang menjadi
tanggung jawabnya. Oleh karena itu, sebelum bernegosiasi kenali dulu di level
mana pekerjaan yang akan lo lamar ini.
Gimana caranya mengetahui pasaran gaji untuk
pekerjaan yang akan gue lamar? Untuk
urusan ini memang rada sulit. Kalo kebetulan lo punya temen yang kerja di
industri yang sama, lo mungkin bisa nanya2 sama dia - walaupun pastinya nggak semua
orang mau jawab saat ditanya gajinya. Gue salah satunya, sampe detik ini cuma
ada satu temen gue yang tau persis gaji gue berapa. Selain itu lo juga bisa ikutan
milis2 HRD - kadang di sana suka ada sharing mengenai standar gaji. Tahap-tahap negosiasi
gaji - Pengisian
formulir lamaran
Ya, proses negosiasi gaji dimulai saat lo
mengisi formulir lamaran pekerjaan. Biasanya di formulir tersebut ada isian
tentang besar gaji yang diinginkan. Make sure lo isi kolom tersebut dengan
jumlah yang lo inginkan, tentunya dengan mempertimbangkan faktor kemampuan diri
sendiri dan faktor standar perusahaan. Tambah jumlah tersebut dengan 20-30%
untuk memberikan ruang just in case ditawar.
Jangan, jangan pernah mengosongkan bagian
ini, atau mengisinya dengan kata2 basi "mengikuti standar
perusahaan" atau "terserah
perusahaan". Waktu gue masih di HRD, kalo nemu pelamar yang
ngisi begini suka gue tanya balik, "bener nih gajinya terserah?
Dibayar ceban mau?" Oh ya, biar nggak salah paham, tulis jumlah gaji
yang lo inginkan itu dalam satuan p.a. (per annuum alias per tahun). Soalnya,
ada perusahaan yang menggaji karyawannya secara standar yaitu 12 bulan gaji
plus 1 bulan THR, sementara ada juga perusahaan yang per tahunnya bisa belasan
hingga puluhan kali gaji yang dibayarkan dalam bentuk bonus ini - itu.
- Wawancara pertama
Biasanya
di tahap ini suka muncul pertanyaan tentang jumlah gaji yang lo tulis di
formulir. Pertanyaan yang umum muncul adalah, "Jumlah ini
negotiable nggak?" Karena tadi jumlahnya udah lo
tambah, tentu aja lo jawab dengan "ya". Pertanyaan
lain yang sering muncul adalah "Kenapa Anda minta gaji
sekian?" Nah, yang ini perlu dijawab dengan jurus khusus. Jangan
pernah speechless saat ditanya begini, karena akan melemahkan posisi tawar lo
di tahap selanjutnya. Lo akan terlihat asal2an dan nggak ngerti pasaran saat
meminta gaji. Jawaban paling bijak adalah, "Karena nilai itu sesuai
dengan kualifikasi yang saya miliki sekarang". Oh ya, saat mengucapkan
kalimat itu usahakan intonasi tetap datar dan terkendali, jangan terkesan
jumawa sehingga bikin petugas recruitment serasa ingin noyor kepala lo.
Udah, sampe sebatas dua pertanyaan itu aja yang perlu lo jawab di tahap ini. Sebagaimana
pernah gue bahas di sini,
jangan mau kalo si petugas berusaha menawar permintaan gaji lo ke titik final
di tahap ini. Masih terlalu dini untuk negosiasi gaji, sehingga jawab aja
dengan "Biar lebih jelas, mungkin Anda bisa ceritakan dulu paket
remunerasi lengkap yang berlaku di perusahaan ini, sebagai bahan pertimbangan
saya?" Kalo si petugas recruitment waras dia juga belum mau
membeberkan paket remunerasi lengkap di wawancara awal sehingga posisi menjadi
case-closed, sama-sama paham belum waktunya untuk bernegosiasi gaji. Atau bila
ternyata dia langsung blak2an membuka paket remunerasi lengkap yang ditawarkan,
artinya wawancara awal ini sekaligus wawancara final - lo diminta memutuskan
akan join atau enggak di tahap itu.
- Proses negosiasi gaji
Setelah
rangkaian proses recruitment selesai dan lo berhasil lolos dari semua saringan,
lo akan dipanggil sekali lagi untuk menegosiasikan gaji. Sebaiknya lo datang ke
tahap ini dengan berbekal informasi, berapa jumlah saingan lo. Kalo ternyata
cuma elo sendiri yang lolos, maka posisi tawar lo akan lebih kuat. Biasanya
di tahap ini, petugas akan mulai dengan menceritakan seluruh paket remunerasi
lengkap yang ditawarkan - mulai dari gaji hingga tunjangan2. Catet semuanya,
jangan cuma dihafal karena biasanya komponennya cukup ribet. Perhatikan
komponen tunjangan kesehatannya gimana? Penggantiannya berapa persen dari
tagihan dokter? Berapa jumlah per tahun? Kalo rawat inap dapat kamar kelas
berapa? Things like that. Pastikan lo dapet penjelasan yang selengkap mungkin.
Setelah petugas menjelaskan, biasanya dia akan nanya,
"Bagaimana, apakah paket kami sudah sesuai dengan ekspektasi
Anda?" Kalo jumlahnya lebih besar dari ekspektasi lo ya case-closed,
lo tinggal tanda tangan kontrak kerja. Tapi kalo belum, ya inilah saatnya lo
bernegosiasi, tentunya dengan ekspresi yang terkendali dan tidak bikin orang
serasa ingin noyor kepala lo, misalnya dengan bilang "Sebenarnya
ekspektasi saya lebih besar dari jumlah ini, yaitu sekian rupiah (atau dollar -
if you're one lucky bastard) per tahun." Kemukakan
juga alasan lo, yaitu balik ke harga pasaran kualifikasi yang lo punya plus
mengacu juga ke gaji yang lo terima di perusahaan sekarang (kalo elo udah
kerja). Kalo lo mau jual mahal bisa bilang dengan "Saat ini saya
merasa tidak ada masalah dengan pekerjaan yang sekarang, tentunya saya butuh
'motivasi' yang lebih besar untuk berkarir di tempat lain." Ada
dua kemungkinan yang akan dilakukan petugas saat mendengar jawaban lo (a)
berkata, "sayang sekali, ini final offer dari kami". atau (b)
"mohon tunggu sebentar, akan saya konsultasikan dengan atasan saya dulu".
Apapun yang terjadi, hari itu biasanya lo akan mendapat penawaran final dari
perusahaan. Kalo ternyata penawaran finalnya tetep belum memenuhi harapan lo,
JANGAN langsung menolak saat itu juga. Kesannya lo mata duitan banget (walaupun
mungkin memang iya) dan hanya tertarik untuk bergabung karena faktor
penghasilan. Entah kenapa, hari gini masih banyak aja boss2 di perusahaan besar
yang berharap orang bergabung di perusahaannya "bukan semata-mata
nyari duit" sehingga langsung bete pada kandidat2 yang secara jujur
mengakui motivasi kerjanya adalah uang. Lantas kalo bukan karena nyari duit,
buat apa dong orang ngelamar kerja? Kelebihan energi?
Anyway, JANGAN langsung menolak penawaran yang kurang memuaskan itu,
dan bilang, "Baik kalau begitu akan saya pertimbangkan dulu di rumah.
Boleh saya hubungi Anda lagi besok via telepon?" Dengan
mengulur waktu seperti ini, lo menghindarkan diri lo sendiri dari keputusan
impulsif yang mungkin akan lo sesali. - Pasca
negosiasi gaji
Besokannya, hubungi lagi petugas yang temui
kemarin tepat waktu sesuai janji, dan sampaikan keputusan lo. Kalo lo
memutuskan untuk batal bergabung, tetep jaga sopan santun dengan bilang
"Mohon maaf, setelah saya pikirkan masak2, saya memutuskan untuk tetap
di perusahaan saya yang sekarang dulu". Nggak perlu belagu, lo nggak
akan tau kapan lo harus berhadapan dengan si petugas itu lagi. Siapa tau saat
ini lo merasa udah nggak butuh lagi dengan dia, eh taunya kapan2 lo ngelamar di
tempat lain dan ketemu dia lagi. Biasanya para petugas HRD punya ingatan gajah
lho. Jangan lupa bilang terima kasih atas segala effortnya mengurusi proses
lamaran lo. Ok, segitu dulu tips negosiasi
gaji dari gue, semoga cukup jelas dan membantu.
Gambar gue comot dari sini.
Susanti, temen kantor gue, adalah
pembaca setia >>>Mbot's HQ. Dia juga
pernah muncul sebagai salah satu tokoh di journal gue yang ini.
Rupanya dia ingin ikutan MP juga, tapi apa daya - di kantor nggak bisa akses
internet sedangkan untuk nge-warnet sepulang kantor dia nggak punya waktu. Maka
hari ini dia mengirimkan sebuah tulisan kepada gue, diiringi pesan menitipkan
tulisannya itu untuk dipublish di sini. Intinya, dia ingin tulisannya dibaca
orang lain supaya bisa dapet masukan.
Jadi, buat kalian yang
mau mengirimkan kritik / saran, silakan reply nanti gue forward ke dia.
Sedangkan yang mau ngajak kenalan, boleh juga kirim alamat e-mail /
nomer HP via PM, nanti gue sampein deh ke dia. Fotonya terlampir, coba tebak
dia yang mana :-) Tanpa berpanjang-panjang, ini dia tulisan
dari Susanti. Happy reading! Tips
Menolak Cowok Buat gadis-gadis yang terpaksa
sering menolak ungkapan cinta cowok*, jangan sekali-kali gunakan kalimat ini : "Maaf,
jika aku sakiti hatimu. Tapi aku tidak bisa bukan kerna salah di dirimu tapi
bagiku kamu bukan sosok pelindung yang kuharapkan. Meski sangat ingin tapi
tidak bisa..." Kesalahan total berada pada
kalimat terakhir : ”meski sangat ingin tapi
tidak bisa” Maksud si gadis mungkin supaya tidak terlalu
menyakiti dibandingkan bilang, "kamu tu jelek... tahu diri
dunks gw baru lihat elo aja udah ilfeel" Tapi pria
sudah dari sono dibentuk dengan perasaan yang tidak sensitif ditambah sifat minus
yaitu over PD. Jadi pria bisa menafsirkan lain kalimat
terakhir si Gadis. Yang tertangkap oleh pria adalah, si gadis mau melupakan si
pria namun tidak bisa sehingga muncul jawaban sebagai berikut: "Aku
tahu kamu tidak akan bisa meninggalkanku, karena sebenarnya kita menginginkan hal
yang sama, saling kangen n ingin sebuah kenyaman n kedamaian n itu ada jika kita
bersatu. Yakinlah...!" Yang ada si Gadis
jadi tambah bingung....trus baca kalimat ”bersatu” nah klo si cewe dari Biologi
ne...pasti langsung bayangin cacing kawin geeto...dua cacing berhimpitan trus
saling mengeluarkan sekresi lendir trus saling menempel trus proses kawin
berjalan... yuck!!!! Blum lagi kesalahan berikutnya
pada kalimat si Gadis yang ”kamu bukan sosok
pelindung yang kuharapkan...” Yang terkandung di sini bagi Gadis
khan banyak arti such as : - Elo kan di luar kota, ngapain
pacaran ma elo... capek... sama aja gak punya pacar. Elo ngajakin kawin? Tunggu
dulu... elo minta gw pindah? Enak aja, elo dong yang kmari.
- ...ato
elo sering lembur kapan maintain gw, tiap pacaran malem2 mulu jam 11 malem ke atas
pulang pagi, elo mah gak punya puser gak capek, klo gw bisa-bisa gw darah
rendah.
- ato elo ajah kerjanya blom mapan (klo lebih matre
lagi ne...blum punya bla..bla..bla...) mending gw sendiri, gak susah, pacaran
ato kawin koq jadi makin susah dst
Nah tapi si
pria dasar kurang sensitive malah jawab geene : “Mengenai perlindungan,
tentunya kita punya pelindung yang agung yakni “beep..beep”(sensor, disini si pria sebut nama Tuhan dia yang
Agung) . Tapi yakinlah melalui nafas dan doaku kamu
cukup nyaman dalam perlindunganku” Langsung keriput
pertama si Gadis muncul... “melalui
nafas dan doa”. Bodoh kali pria ini. Emang kita wanita hanya perlu
ditiup-tiup dan didoa2in, sembur aja sekalian pake aer jadi dukun deh elo. So
girl, daripada timbul keriput sejumlah penolakan elo ke pria, better kita
bicara straight forward ma “mahluk Tuhan yang dicipta tanpa braso di hatinya
(baca gak sensitif)” klo perlu agak terang2-an meski bakal sakiti but believe
me they (read :man) create as short term memory creature too. So pasti sebentar
juga langsung lupa. Jangan pula tambah syarat “gw mau koq terima elo
jadi pacar gw tapi ada 8 syarat, pertama...bla..bla..” dst. Yang ada elo bakal
kehilangan temen baik (baca : ttm). *yah maklum kita-kita
ini terlalu menarik (baca: have a great sex appeal, dan ini gak harus cantik)
Mau ikutan jadi pengisi posting tamu? Kirim aja tulisan
lo ke si.mbot@gmail.com - tapi
mendingan sih langsung aja ngedaftar sendiri di MP kali nggak?

"Suami lagi ngapain...?" "Lagi standby." "Standby untuk apa?" "Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."
Cerita berawal beberapa minggu yang lalu, di mana boss di kantor
merencanakan untuk menggelar workshop penyusunan budget 2007 di
Bandung. Tadinya yang ditunjuk sebagai panitia urusan akomodasi adalah
temen gue yang bernama Nanda, tapi karena ybs sakit pada saat-saat
genting menjelang hari-H, maka guelah yang mendapat "kehormatan"
menduduki "tahta" sebagai seksi akomodasi.
Singkat cerita, dengan perjuangan yang sulit dan berliku, akhirnya gue berhasil membooking hotel Bilique
di bilangan Setiabudi Bandung. Boss menugaskan gue melakukan seluruh
proses booking, tapi guenya nggak perlu ikut workshop. Nanti saat
workshop berlangsung, gue tinggal oper urusan akomodasi di lapangan
kepada the one and only Oom Jo.
Tanggal 11 September, sehari sebelum para peserta dijadwalkan mulai
check-in ke hotel, seluruh urusan booking hotel dan ruang meeting udah
gue beresin dari Jakarta, termasuk booking restoran2 tempat makan
malam. Gue udah happy aja ngebayangin mulai tanggal 12-16 September
kantor akan kosong yang mana merupakan iklim yang sangat kondusif untuk
makan siang secara molor dan pulang kantor secara on-time. Sementara
itu, Om Jo kebagian tugas menjemput boss yang baru pulang dari luar
negeri (Thanks God kali ini dia nggak makan indomie sebelum berangkat).
Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor, terjadi perbincangan yang kurang lebih berbunyi sbb: "Jo, gimana hotel, udah beres?" "Udah mbak." "Jadinya kita pake berapa kamar?" "Hmm... lupa. Daftarnya ada di Agung." "Trus nanti kita makan malam di mana aja?" "Tauk ya. Agung tuh yang atur." "Mobilnya cukup nggak nih untuk ngangkut peserta dari hotel ke restoran?" "Cukup kali ya? Daftarnya ada di Agung." "Haduuuuh....gimana sih ini, jadi nggak tenang saya, ya udah kalo gitu Agung besok diajak aja ke Bandung!"
=GUBRAXXXXX!!=
Seandainya si boss mau nunggu beberapa puluh menit lagi untuk
menanyakan pertanyaan2 tsb di kantor.... tapi ternyata takdir
menentukan lain. Maka besokannya berangkatlah gue ke Bandung diiringi
derai air mata istri yang
seumur-umur pernikahan belum pernah ditinggal lebih dari 1x24 jam.
Setelah gue sampe di Bandung, terjadilah pembicaraan telepon di awal
posting ini.
"Suami lagi ngapain...?" "Lagi standby." "Standby untuk apa?" "Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."
Jadi begini ya, istri. Di Indonesia dikenal sebuah kegiatan bernama
"standby". Untuk lebih jelasnya tergambar dari jadwal kegiatan gue
selama di Bandung berikut ini:
|
12 September 2006 |
| 18.00 |
Sampe di Bandung mendahului rombongan untuk 'mempersiapkan segala sesuatu'
(yang mana udah siap dari kemarin). Makan malam di Suis Butcher
Setiabudi. Menu: Chicken Cream Soup dan Tenderloin steak. Beli Tiramisu
juga, dibungkus. |
| 19.30 |
Sampai di hotel Bilique, ngecek ruang meeting yang akan dipake besok. Ada sedikit kesalahan lay-out ruang. |
| 23.00 |
Kesalahan lay-out ruang
berhasil diperbaiki oleh pihak hotel. Gue balik ke kamar, standby
sambil main game di laptop. Makan Tiramisu. |
|
13 September 2006 |
| 01.00 |
Rombongan dari Jakarta
sampe di hotel. Ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Bikin desain
kartu ucapan terima kasih bagi peserta meeting hari pertama. |
| 03.00 |
Tidur |
| 08.30 |
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran. |
| 09.30 |
Mengemban misi, "nyetak digital ucapan terima kasih buat peserta". Berangkat naik angkot ke Balubur. |
| 10.15 |
Selesai nyetak digital di Balubur, jalan-jalan ke warnet Atheroz di Sulanjana. Ngempi. |
| 11.30 |
Mulai lapar. Pergi dari
Atheroz menuju resto "Nyonya Rumah" di Tirtayasa. Eh, kebetulan di
tengah jalan ketemu mertua. Nemenin mertua makan ikan bakar di jalan
Diponegoro sambil ngobrol ketawa-ketawa. |
| 12.30 |
Mertua selesai makan ikan, gue melanjutkan perjalanan ke Nyonya Rumah. Makan sate campur gado-gado lontong... hmmm... yummy. |
| 13.45 |
Selesai makan siang, balik ke hotel. |
| 14.15 |
Sampe di hotel, standby sambil bobo siang. |
| 16.00 |
HP bunyi, dari Oom Jo di
ruang meeting. "Friend, kita lagi coffee break nih, banyak makanan."
Turun ke ruang meeting, nyemil sambil ngopi. |
| 16.30 |
Balik ke kamar, melanjutkan standby sambil bobo siang. |
| 18.00 |
Mandi, siap2 makan malam |
| 19.00 |
Makan malam BBQ di depan api unggun. Steaknya empuk dan sedap. Gue makan 3 potong. |
| 21.00 |
Jalan2 ke Kampung Daun, booking tempat untuk acara makan malam besok. |
| 23.00 |
Balik ke hotel, orang2 lagi pada karaokean. Ikutan nyanyi sampe serak. |
|
14 September 2006 |
| 02.00 |
Capek karaokean, pindah ke Famestation nonton band. |
| 03.00 |
Balik ke kamar hotel, tidur. |
| 08.30 |
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran. |
| 09.30 |
Mengemban misi, "mau
nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke dua".
Berangkat naik angkot ke Balubur. Kenapa nggak sekalian dicetak
kemarin? Supaya hari ini ada alasan jalan2, gitu loh. |
| 10.00 |
Selesai nyetak, jalan2 ke warnet Atheroz. Ngempi. |
| 11.30 |
Lapar. "Hmmm... makan siang di mana ya?"
Oh iya, besok kan rombongan mau makan malam di Bumbu Desa, kalo gitu
makanannya harus dibooking dari sekarang dong. Berangkat ke Resto Bumbu
Desa Pasir Kaliki untuk ngatur menu. |
| 11.40 |
Pas lagi nunggu angkot mendadak timbul ide, "jalan2 dulu ah ke toko Celebrate Dago, liat2 mainan". |
| 12.20 |
Puas liat2 mainan, betulan berangkat ke Bumbu Desa PasKal, pesen makanan. |
| 12.50 |
Selesai urusan di Bumbu Desa, jalan2 di Istana Plaza cuci mata. |
| 13.30 |
Makan siang di resto "The Taste". Menu: Nasi tutug oncom dengan dada ayam goreng kering. Hmmm... yummy.... |
| 14.00 |
Selesai makan siang, beli donat J.Co buat cemilan di hotel. Balik naik angkot. |
| 14.30 |
Sampe di hotel, standby sambil bobo siang. |
| 15.00 |
Boss nelepon dari ruang meeting "Gung, kamu ada di mana?" "Di kamar, kenapa mbak?" "Ooo... kirain udah pulang ke Jakarta, abis perasaan selama di sini saya nggak pernah ketemu kamu."
Huhuhu... nyindir niii.... |
| 16.00 |
Siaran ulangan. "Coffee break friend...". Turun ke ruang meeting, numpang nyemil doang, naik lagi ke kamar, nerusin bobo siang. |
| 18.00 |
Mandi dan siap2 makan malam. |
| 19.00 |
Makan malam di Kampung
Daun. Menu: karedok, sate ayam dan kambing, gurame bakar. Selesai makan
dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul, sambil cengengesan.Standby. |
| 22.00 |
Bersama rombongan balik ke hotel. |
| 22.30 |
Karaoke lagiiii.... |
|
15 September 2006 |
| 03.00 |
Selesai karaoke, tidur. |
| 08.00 |
Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran. |
| 09.30 |
Kembali mengemban misi,
"mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke
tiga". Kali ini beberapa temen gue kebetulan mau belanja di FO Dago.
Nebeng sampe Dago. |
| 10.00 |
Selesai nyetak, nongkrong minum Capucinno Blazt di FO Uptown bareng temen2. |
| 12.00 |
Sholat Jumat di mesjid Salman ITB. |
| 13.30 |
Balik ke hotel, standby sambil bobo siang. |
| 16.00 |
Biasa... coffee break. |
| 18.00 |
Boss mengadakan meeting kecil dengan panitia, say thank you atas partisipasi dan "kerja keras"-nya. Peserta ternyata langsung membubarkan diri, acara makan di Bumbu Desa dibatalkan. |
|
16 September 2006 |
| 10.00 |
Pulang ke Jakarta, bawa oleh2 kue Prima Rasa. | Atau berdasarkan definisi, "standby" di Indonesia berarti:
stand.by /[stænd-bahy]/ -verb, noun, adjective, slang. Kata
lain untuk kegiatan nongkrong-nongkrong, ketawa-ketawa, ngerokok,
tidur-tiduran, main-main, serta kegiatan kontra-produktif lainnya
sebagai akibat dari ketidakjelasan pengaturan tugas dan/atau saat
seseorang dilibatkan dalam sebuah kegiatan yang sama sekali tidak
memerlukan kehadirannya. Merupakan kegiatan yang paling digemari serta
paling dikuasai oleh orang Indonesia.
Contoh lain aplikasi istilah "standby":
- Kalo di kelurahan lagi ada acara panggung tujubelasan, lantas
semalam sebelum hari H para pemuda setempat kedapatan ngobrol ngalor
ngidul semaleman di lokasi acara, sambil ngopi dan ngemil kacang asin,
maaf, mereka bukannya lagi iseng. Mereka lagi standby.
- Kalo lagi ada acara bakti sosial yang butuh kegiatan
mengangkat-angkat barang sumbangan tapi ternyata ada sebagian peserta
yang bukannya bantuin nggotong malah nongkrong sambil cengengesan,
maaf, mereka bukannya males. Mereka sedang sibuk standby.
- Kalo abis lebaran orang pada masuk kantor cuma buat
salam-salaman dan ngemil lapis legit serta bertukar pengalaman mudik
dilanjutkan dengan browsing detik.com sampe sore, mereka bukannya
kurang kerjaan. Lha itu, mereka lagi repot-repotnya standby.
Jadi, standby ya standby, nggak perlu penjelasan standby untuk apa -
yang penting standby, gitu loh istri.... jadi jangan sirik yah kalo
suami 4 hari terkesan cuma tidur2an dan piknik dibayarin kantor, ini
suami lagi sibuk standby... Foto dari sini
 I dealnya, sebelum memutuskan untuk melamar kerja di sebuah perusahaan, kita udah punya gambaran detil tentang apa dan bagaimana sikon di perusahaan tersebut. Kaya apa culture-nya, keuangannya sehat apa enggak, jenjang karirnya prospektif atau enggak, dst. Tapi gimana kalo kita ditawari kerja di perusahaan yang sama sekali belum pernah kedengeran ceritanya? Langsung tolak? Ntar dulu. Nggak pernah kedengeran ceritanya bukan berarti jelek lho. Satu-satunya jalan adalah dengan menganalisa proses yang terjadi sewaktu melamar. Berikut ini beberapa "gejala" yang mungkin bisa dijadikan panduan untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Nggak selamanya bener, tapi minimal bisa jadi bahan pertimbangan. Kalo cuma satu atau dua gejala yang muncul, yah, mungkin sekedar kebetulan aja. Tapi kalo hampir semua gejala ini terjadi, hmmm... hati-hati aja. Kalo masih punya pilihan, mending ngelamar di tempat lain aja deh!
1. Lo kurang dihargai sebagai manusia. Kalo cuma si resepsionis yang tampangnya bete waktu menyambut elu, yah mungkin kebetulan dia abis ronda semalem, masih ngantuk. Kalo cuma pak satpam yang rada galak waktu minta elu nitip KTP, yah mungkin dia lagi mikirin anaknya sakit di rumah. Tapi kalo mulai dari tukang parkir, satpam, resepsionis, office boy, sampe tukang gorengan yang mangkal di depan pada kompakan menunjukkan perilaku yang kurang santun - warning - kemungkinan ada yang nggak beres dengan perusahaan ini. Yang gue maksud dengan perlakuan kurang santun antara lain: nggak mengucapkan salam saat menyambut, nada bicara yang kurang bersahabat, nunggu lama tanpa dikasih minum, sampe perlakuan yang kurang manusiawi seperti diminta mengisi formulir lamaran di tempat orang lalu lalang - sambil jongkok pula. FYI; formulir lamaran yang lo isi sewaktu melamar kerja itu adalah dokumen yang sifatnya pribadi dan rahasia. Seharusnya lo ditempatkan di ruangan yang tertutup dan nyaman - minimal ada meja dan kursi untuk tempat nulis - bukan di ruang resepsionis yang serba terbuka sehingga mas-mas kurir yang kebetulan lewat bisa nyeletuk, "wah rumahnya deketan nih sama rumah saya, kapan-kapan boleh main ya..." Perusahaan yang sehat dan profesional sadar bahwa citra perusahaan dibangun mulai dari garda depan, dari bagaimana tamu disambut. Kalo untuk urusan remeh gini aja mereka nggak becus menangani, jgn2 untuk urusan yang besar-besar juga morat-marit.
2. Lo dicoba untuk ditempatkan dalam posisi lemah / dependen pada perusahaan Yang gue maksud antara lain: petugas recruitment yang meminta elu untuk menyerahkan dokumen pendukung (ijazah, transkrip nilai, referensi kerja) yang ASLI, atau "menggantung" status kepegawaian lo di zona limbo antara kontrak dan permanen, penetapan masa percobaan yang kurang jelas, dan sebagainya. Khusus untuk urusan "menahan" dokumen pendukung, asal tau aja ya, sebenernya perusahaan nggak berhak melakukannya. Kecuali kalo elu udah jadi pegawai, terus disekolahin sama perusahaan dan setelah pendidikan selesai ijazah lo ditahan sampe masa ikatan dinas berakhir, itu lain perkara. Sedangkan yang terjadi di sini kan elu capek2 sekolah pake ongkos sendiri, eh begitu lulus ijazahnya disandera. Mengutip kata Mpok Jane dan Sarah, "WHO DO YOU THINK HE ARE??". Kalo tau-tau kantornya kebakaran, kebanjiran, atau diserbu tikus hingga dokumen penting itu rusak, siapa yang mau tanggung jawab? Perusahaan yang menerapkan kebijakan konyol macam ini biasanya perusahaan yang udah menghadapi dilema: di satu sisi terlalu pelit / terlalu miskin untuk menaikkan kesejahteraan pegawai, di sisi lain butuh untuk mempertahankan jumlah pegawai yang loyal. Kalo perusahaan yang sehat pastinya akan mencoba membuat pegawainya betah dengan cara meningkatkan kesejahteraan mereka, bukan dengan menyandera dokumen! Dengan kata lain, ini tipe perusahaan yang ngajak susah bareng-bareng. Sama sekali nggak worthed untuk dilamar.
3. Lo diminta mondar-mandir kaya setrikaan Lazimnya, proses seleksi pegawai dilakukan dalam 3 tahap:
- Wawancara dan psikotes awal - biasanya di tahap ini lo ketemu dengan petugas HR di level officer atau konsultan eksternal
- Tes kesehatan
- Wawancara dengan calon boss (user).
"Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2." Kadang-kadang, ada 2 atau 3 tahap tambahan di mana elo diminta wawancara dengan bossnya HR, bossnya user, atau dengan big boss - biasanya terjadi di perusahaan kecil. Jadi maksimal elu mondar-mandir untuk keperluan melamar kerja adalah 6 kali. Nah kalo elo ketemu kantor yang meminta lo dateng untuk interview doang, habis itu psikotesnya di hari lain, habis itu di hari lainnya interview lagi dengan orang lain, habis itu "eh iya ada yang lupa ditanyain" dan lantas lo harus dateng lagi minggu depannya untuk wawancara lanjutan, baru abis itu wawancara dengan boss, terus minggu depannya lagi wawancara dengan boss yang lain lagi, baru abis itu tes kesehatan, terus "oh iya ada lagi ding yang kelupaan ditanya" sehingga lo harus wawancara dengan HR lagi... - warning - lo sedang berhadapan dengan perusahaan bingung. Kondisi kayak gini mengindikasikan ada masalah dalam pembagian wewenang pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Lo diminta dateng berkali-kali dan ketemu dengan orang yang berbeda-beda karena nggak ada satu orang yang punya cukup nyali untuk bertanggung jawab atas keputusan menghire elu. Maksudnya kalo elu ternyata bertingkah setelah dihire jadi pegawai, biar nggak ada satu orang yang jadi kambing hitam, gitu. Makanya wawancaranya jadi tanggung renteng gitu. Pertanyaannya, lagi-lagi, kalo untuk mengambil keputusan menghire seseorang aja segitu ribetnya, gimana dengan pengambilan keputusan untuk urusan lain yang lebih penting dan genting? Selain itu, kembali pada poin pertama, mereka juga kurang menghargai waktu, biaya dan tenaga yang harus lo keluarkan untuk dateng ke kantor mereka.
4. Lo ditawar pada pertemuan pertama Wawancara tahap pertama adalah saringan awal untuk memilih calon pegawai yang paling potensial.Kalo baru pada pertemuan pertama concern mereka terpaku pada gaji yang lo ajukan seperti "bisa turun nggak nih?" atau "negotiable nggak nih?" atau yang ngeselin "minta gajinya gede amat mas. bisa turun nggak?" - warning - mereka nggak peduli pada kualitas elo sebagai pegawai. Mereka cuma ingin cari tenaga murah. Tapi berita baiknya, kalo perusahaan yang lo lamar termasuk tipe yang begini, maka ada satu kiat jitu yang PASTI berhasil, yaitu jawab aja dengan "Saya GRATIS pak, nggak usah digaji, soalnya tadi saya liat rumput di depan seger2." Bukannya 'haram' untuk menanyakan apakah gaji yang lo minta itu negotiable pada pertemuan pertama, tapi bedakan antara yang sekedar nanya dengan yang maksa "kurang dikit dong mas!" 5. Lo diajak bersekongkol Yang ini pengalaman pribadi gue nih. Di salah satu perusahaan sebelum kantor gue yang sekarang, masa HR managernya bilang gini, "Agung, tolong kalau kamu masuk tanggal 1 nanti, bilang sama orang-orang bahwa kamu udah mulai interview dengan saya sejak 2 bulan sebelumnya ya." Gue, tentu aja bingung mendengar permintaan aneh ini, mengingat wawancara pertama cuma berjarak 1 bulan dari tanggal masuk gue. "Nggak papa, sekedar supaya nggak heboh aja karena ada orang baru." Sebuah jawaban yang nggak memuaskan, tapi waktu itu gue pikir, 'ah ini kan cuma soal kecil'. Ternyata... setelah gue masuk baru ketauan bahwa alur komunikasi si boss dengan para bawahannya sangat parah. Lingkungan kantor dipenuhi desas-desus, termasuk tentang kehadiran gue. Parahnya, si boss sama sekali nggak bernyali untuk menghadapi para karyawan, minimal menjelaskan biar lurus, dan membantah isu yang ngaco. Kalo ada isu negatif ya begitulah yang dia lakukan, berusaha menutup-nutupi dengan kebohongan yang sayangnya kurang cerdas. Puncaknya, baru sebulan gue kerja di perusahaan tersebut, si boss yang ngajak sekongkolan tadi mendadak "resign" secara misterius karena baru ketahuan pernah melakukan sebuah kesalahan fatal yang menyebabkan perusahaan harus berurusan dengan pengadilan. Perusahaan yang mengajak lo menutup-nutupi sesuatu mengindikasikan bahwa mereka kesulitan mengelola iklim kerja. Dan seperti yang pernah gue sebut di sini, jangan kira tawaran paket remunerasi yang menarik bisa mengkompensasi iklim kerja yang parah.
foto: gettyimages.com


W alaupun belum pernah kerja sebagai petugas Helpdesk IT, tapi di kantor yang
lama gue bertugas ngurusin website intranet sehingga buat sebagian orang itu
nampak sama aja dengan Helpdesk IT. Kadang para regular user ini rada
enggan untuk minta bantuan petugas Helpdesk IT dengan alasan suka pada lelet,
lambat kalo dimintai bantuan, suka nggak 'dong' kalo diajak ngomong, dll dsb.
Padahal, nggak selamanya kesalahan terletak pada para petugas Helpdesk IT.
Kadang usernya sendiri yang menyulitkan para petugas Helpdesk IT untuk
memberikan solusi. Karena itulah, di sini gue mencoba sharing tips untuk
membantu para petugas Helpdesk IT membantu kita. Kalo mereka bisa menyelesaikan
tugasnya secara lebih cepet, kita juga yang akan diuntungkan toh?
Cek
dan ricek untuk mengeliminasi semua kemungkinan masalah
Contoh kasus: Seorang user meminta bantuan gue si petugas Helpdesk
gadungan dengan keluhan "Gung, gimana ini komputer gue nggak mau nyala sama
sekaliiii..." "Sama sekali?" "Iyaaaa... tolonggg..." nadanya panik nyaris
histeris. Eh, setelah diperiksa ternyata gara-garanya cuma kabel power yang
kendor.
atau,
"Gung ini keyboard gue rusak ya? Dari tadi gue pencet-pencet kok nggak keluar
apa-apa di layar..." Eh taunya kabel keyboard kurang nancep.
atau,
"Komputer gue masa dari tadi layarnya item terus nggak keluar windowsnya,
gimana iniii..." Eh taunya tombol power di monitor belum dipencet.
Pokoknya sebelum memutuskan untuk panik dan histeris, cek dan ricek semua kemungkinan yang sifatnya mendasar.
Restart, restart, restart
Seperti balsem untuk orang yang mau pingsan, atau air kelapa untuk orang yang
keracunan, restart adalah pertolongan pertama buat komputer yang mulai bertindak
celeng. Selama komputer lo masih berbasis Windows, sebagian besar masalah bisa
diatasi dengan restart. Mulai dari pointer mouse yang berjalan tersendat-sendat,
proses data yang lelet, sampe hasil print-out yang berubah menjadi huruf yunani,
umumnya bisa beres hanya dengan restart.
Jadi, sebelum bercucuran air mata memanggil petugas Helpdesk IT, coba deh
restart dulu komputernya.
Komputer bukan tanaman...
...oleh karena itu nggak perlu disirami.
Kisah nyata: pada suatu hari seorang boss hendak berangkat untuk sebuah
perjalanan dinas super-duper penting ke luar negeri. Di malam sebelum
keberangkatan, si boss buka2 laptop. Maksudnya mau baca-baca materi yang akan
dibahas di perjalanan dinasnya itu kali. Tentunya ini suatu hal yang normal2
aja, asalkan nggak dilakukan sambil... makan indomie kuah. Pada suatu saat
tangannya yang memegang mangkok oleng dan CROT...! tumpahlah sebagian kuah ke
atas laptop. Tentu aja si laptop langsung mampus. Berhubung pesawat akan
berangkat subuh, maka habislah satu tim
dibikin kalang kabut di tengah malam untuk membantu boss menghidupkan kembali
laptopnya. Untungnya berhasil, dan setelah insiden tersebut berlalu masih
sempet2nya berkomentar dengan nada setengah komplen, "Padahal yang tumpah cuma
sedikit lho, nggak semuanya, kok bisa mati sih!?"
Mungkin karena kuahnya PEDES kali boss... dan oh ya, sampe sekitar seminggu
setelah kejadian, santer terdengar obrolan santai di depan lift yang menanyakan,
"Denger2 pada abis begadang ya, karena KOMPUTER BOSS KETUMPAHAN KUAH
INDOMIE?"
Segala
sesuatu yang ada tulisannya, biasanya perlu untuk dibaca
Sebuah ilustrasi yang lumayan sering terjadi:
"Ini komputer gue kenapa siiih... dari tadi kok bengong
beginiiii..." "Tenang, tenang, coba ceritain dulu, kronologisnya
gimana?" [menjelaskan kronologi kejadian]
"Jadi tadi awalnya gue begini... terus gue begitu... terus gue giniin... terus
tiba-tiba MUNCUL KOTAK. Gue klik 'OK', eh tau2 sekarang jadi
gini!" "Emangnya tulisan di kotak yang lu 'OK'-in tadi
apaan?" "Tauk!"
Kabar buruk, friends. Komputer yang selama ini dielu-elukan orang sebagai
benda cerdas itu sebenarnya nggak cerdas-cerdas amat. Bertahun-tahun lo
pelihara, dia nggak akan pernah bisa ngomong sendiri. Itulah sebabnya dia
mencoba berkomunikasi lewat kotak-kotak yang muncul di layar. Ada
kotak yang memang aman untuk di-'OK', tapi ada juga yang beresiko. Intinya,
baca dulu tulisannya, sebelum mengklik 'OK'. Siapa tau suatu hari nanti lo akan
ketemu kotak yang seperti ini:

Usahakan memberikan deskripsi sejelas mungkin
Terakhir, bila lo udah hati-hati merawat komputer tapi tetep aja ketiban apes
sehingga harus berurusan dengan petugas Helpdesk IT, satu kata kunci yang perlu
lo inget adalah DESKRIPSI. Biasanya, para petugas Helpdesk IT berada di lokasi
yang terpisah dengan tempat kerja elu. Jadi, pertama-tama lo harus berhubungan
dengan mereka via telepon atau e-mail, sehingga butuh upaya ekstra untuk
menjelaskan permasalahan yang terjadi.
Ilustrasi berdasarkan pengalaman pribadi: "Halo?" "Halo...! Gung!
Komputer gue kenapa sih ini kok gini?" "Gini kenapa?" "Ini lho, kan
tadi gue klik ininya, nah biasanya dari situnya akan keluar
tulisan, tapi kok sekarang nggak mau yah?"
Sampe di sini mungkin udah pada kebayang apa yang gue maksud. 'Gini', 'di
sini', 'di situ', 'sininya', 'situnya', 'diginiin', 'digituin', adalah kata2
yang hanya bermakna saat diucapkan berbarengan dengan peragaan visual. Di
telepon konvensional yang belum memungkinkan komunikasi tatap muka lewat video,
penggunaan kata-kata tersebut hanyalah memancing keisengan sang petugas Helpdesk
IT gadungan untuk mengeluarkan respon seperti:
"OOH... ITUnya toh yang lo klik, ya jelas salah dong... harusnya kan
lo klik yang SANAAN dikit tuh, baru nanti ITUnya bisa
BEGINI..."
Gambar dari picturequest.com


Di kantor gue yang dulu, lantai gue dijaga seorang Satpam bernama Pak Tarmin. Mengingat divisi gue nggak terlalu banyak berhubungan dengan pihak luar, sebenernya beliau nggak terlalu berfungsi sebagai "pengaman".Tamu yang datang biasanya sesama karyawan dari divisi lain, atau paling banter salesman kartu kredit. Tugas harian beliau lebih mirip resepsionis ketimbang petugas keamanan. Tapi toh, beliau tetep berhasil membuat dirinya menjadi istimewa di mata semua orang hanya dengan sebuah kebiasaan yang sederhana banget. Setiap kali dilihatnya ada karyawan yang keluar dari ruangan menuju lift, beliau akan mendahului menunggu di depan lift, dan setelah menanyakan tujuan (naik atau turun?) beliau memencetkan tombol lift -- lantas menemani ngobrol sampai liftnya datang. Kebiasaan ini dilakukannya kepada semua orang tanpa pandang bulu. Mulai dari kepala divisi sampai yang kroco-kroco kaya gue ini mendapat 'pelayanan' yang sama. Dan beliau berhasil bikin semua orang terkesan. Waktu ada rencana rotasi Satpam ke lantai2 lain, kepala divisi gue ngotot setengah mati minta Pak Tarmin dipertahankan. Dan menjelang kantor gue bubar, beliau termasuk yang duluan 'terselamatkan' berhasil dapat pekerjaan baru - ditarik oleh salah seorang mantan karyawan yang udah pindah ke sebuah perusahaan properti. By doing a simple favor like pushing the lift-button, he has opened the door to people's heart. image dari picturequest.com

|
|