Agung's posts with tag: being nice

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag being nice

Kalo lo mau beli sepatu di toko, dan sepatu yang lo pilih nggak tersedia ukurannya, apa yang biasanya dilakukan penjaga tokonya?

Kalo dia sekedar bilang, "Maaf, ukurannya nggak ada" mungkin lo akan maklum.

Kalo dia bilang "Maaf, ukurannya nggak ada. Berminat dengan model yang ini, barangkali?" lo mungkin akan sedikit terkesan dengan upaya si penjaga toko untuk membantu.

Tapi yang gue dan Ida alami kemarin bener-bener jauh melebihi ekspektasi kami atas pelayanan toko sepatu manapun yang pernah kami kunjungi.

Ceritanya, kemarin gue dan Ida jalan-jalan ke Grand Indonesia, refreshing dikit mumpung dapur kotakkue.com lagi libur. Niat awalnya sih cuma mau cuci mata, tapi akhirnya jadi ngiler waktu liat tulisan "discount" tergantung-gantung di toko Planet Sports. Ida lantas inget pernah ngincer sepatu merk Skechers beberapa waktu yang lalu. Kamipun mampir.

Pilih punya pilih, Ida akhirnya naksir sepasang sepatu tipe casual, dan minta dibawain nomor 37 kepada Mbak Pramuniaga. Si Mbak Pramuniaga yang belakangan kami tau bernama Mbak Dhayu kemudian membawakan - bukan cuma satu - tapi 3 (tiga) kotak sepatu bernomor 37 berlainan model. Maksudnya, biar pembeli bisa lebih leluasa milih sepatu yang dirasa paling cocok. Di sini Ida udah mulai terkesan dengan semangat proaktif Mbak Dhayu.

Dari ketiga model yang disodorkan, Ida memilih sepatu warna krem bermotif bunga-bunga kecil. Tapi... "Lho, mbak, ini kok ada noda di ujungnya, ada yang masih baru nggak?" tanya Ida.

"Wah sayangnya model ini tinggal satu-satunya... Sebentar ya Bu, saya coba bersihin dulu di belakang," katanya. Abis ngomong gitu dia pergi ke belakang menenteng sepatu pilihan Ida. Beberapa menit kemudian dia balik dengan tampang menyesal, "Bu, saya udah coba bersihin, tapi nodanya nggak mau hilang...maaf ya Bu... Ibu mau model lainnya?"

"Nggak mau, maunya yang itu aja... di toko lain ada nggak?"

"Sebentar ya Bu, saya coba telepon ke toko kami yang lain di Plaza Indonesia ya, siapa tau mereka masih punya stok sepatu ini." Mbak Dhayu mencoba menelepon, tapi ternyata di cabang sana sepatu itu juga udah nggak tersedia.

"Ibu, mohon maaf sekali... ternyata di cabang lainnya juga nggak ada..." kata Mbak Dhayu.

"Yaaah...."

"Iya, sayang sekali ya Bu..."

 "Tapi... hmmm... ya udah deh kalo gitu, saya beli yang ini aja," kata Ida.

Mbak Dhayu yang lagi sibuk membereskan kotak-kotak sepatu ternganga kaget. "Hah? Ibu mau? Tapi kan... sepatunya kotor gini, Bu... nggak papa?"

"Nggak papa deh, abis saya maunya yang ini. Lagian nodanya juga nggak terlalu keliatan kok."

"Mohon maaf sekali ya bu, soalnya ini tinggal satu-satunya..."

"Iya, nggak papa," kata Ida.

Di titik ini gue udah amat sangat terkesan dengan kesungguhan Mbak Dhayu melayani pembeli. Dia udah berusaha ngebersihin noda, nyariin ke toko lain, dan nampak bersungguh-sungguh ingin memberikan yang terbaik buat pembeli. Gue bisik-bisik ke Ida, "Luar biasa nih servisnya, oke banget... kasih tip gih..."

Ida juga terkesan banget, tapi dia ngerasa sungkan dan serba salah untuk ngasih tip. "Gimana ngasihnya, ntar diliat temen-temennya malah nggak enak lho.."

"Ya udah ntar abis bayar kita belaga liat-liat sepatu lainnya, nunggu sepi trus kasih tip ke dia... kan bisa."

Tapi ternyata waktu mau bayar di kasir, kejutan lainnya menanti.

Kasirnya bilang, "Ibu, ini Dhayu merasa bersalah sekali karena sepatu yang ibu beli ada cacatnya, oleh karena itu ibu mendapat discount khusus sebesar sekian persen, yang diambil dari jatah discount karyawan milik Dhayu..."

Jadi rupanya para pegawai toko Planet Sports punya jatah discount khusus untuk karyawan. Setau gue, discount ini hanya bisa digunakan secara terbatas. Wajar aja kalo dibatasi, sebab kalo nggak ntar para pegawainya pada rame-rame jual sepatu di rumahnya masing-masing, kan? Toh dengan fasilitas discount yang sebenarnya terbatas itu, Mbak Dhayu merelakannya untuk digunakan oleh pembeli, yang bukan siapa-siapanya, bukan saudara, bukan temen, hanya karena dia mau memberikan pelayanan terbaik! Dan fakta bahwa ada noda nempel di sepatu itu kan sama sekali bukan kesalahan dia, lho. Orang dia bawa sepatu dari gudang, masih dalam kotak, tau-tau setelah dibuka ada nodanya. Gue dan Ida sampe speechless mendapat pelayanan seperti itu.

"Mbak, nggak usah begitu, istri saya juga nggak keberatan kok dengan noda itu, toh nggak terlalu kelihatan juga. Ntar kalo Mbak sendiri mau beli sepatu di sini gimana dong, jatah discountnya udah kita pake?"

"Nggak papa Pak, soalnya saya nggak enak banget, sepatu yang Ibu beli ada cacatnya..."

Seumur-umur belum pernah gue nemuin tingkat pelayanan setinggi ini di toko sepatu manapun. Yang lebih luar biasa lagi, ini dilakukan atas inisiatif seorang pegawai biasa, bukan supervisor apalagi owner.

Pulang dari toko itu, gue dan Ida nggak bisa berhenti ngomongin soal betapa luar biasanya pelayanan yang diberikan Mbak Dhayu. "Kalo begini urusannya, mending dibuatin kue aja deh, DCC Special! Besok pagi kita ke sini lagi ya suami, anterin kue!"

***

Tadi pagi, gue, Ida dan Eriq yang seperti biasa selalu ngintil kemanapun kami pergi, dateng lagi ke Grand Indonesia dengan membawa sekotak DCC Special buat Mbak Dhayu. Di toko yang masih sepi pengunjung itu kami bertiga berbaris masuk. Kotak kue di tangan Ida, kamera siap di tangan gue dan Eriq. Kami langsung menemukan Mbak Dhayu lagi bertugas di bagian sepatu wanita.

Ida langsung menyodorkan kue sambil bilang, "Mbak Dhayu, saya sangat terkesan dengan bantuan Mbak Dhayu kemarin... jadi, ini saya bawakan kue untuk Mbak, terima kasih ya Mbak..."

Sekarang giliran Mbak Dhayu yang speechless. "Waduh ibu, nggak papa bu, itu kan barangnya udah reject sekali... saya... juga terkesan sekali ini...dapat kue begini..."

Eriq langsung mulai beraksi menjepretkan kamera, tapi karena umumnya di dalam toko kita nggak bisa seenaknya motret, maka buru-buru gue ajak Mbak Dhayu untuk berfoto bareng di depan toko. Jepret-jepret-jepret... beres, dan sebelum dia sepenuhnya sadar apa yang telah terjadi, kami langsung pamit pulang :-)




***

Buat para boss di PT.Mitra Adi Perkasa, pemilik jaringan Planet Sports, gue berharap ada apreasiasi lebih buat orang-orang seperti Mbak Dhayu. Dia membuktikan bahwa apapun pekerjaan kita, kalo dikerjakan dengan sepenuh hati dan nggak males berbuat lebih, maka efeknya juga akan sangat luar biasa. Saat memberikan pelayanan ke Ida, gue yakin Mbak Dhayu nggak akan menyangka perbuatannya akan diketahui oleh ratusan orang lewat tulisan ini. Mudah-mudahan bisa menginspirasi rekan-rekannya di Planet Sports, atau para pekerja di manapun, untuk nggak tanggung-tanggung saat bekerja. Lucunya, saat kita main 'hitung-hitungan' di pekerjaan, maka yang kita terima biasanya jauh di bawah hitungan. Tapi sebaliknya, saat kita berhenti berhitung dan rela berbuat lebih, biasanya yang kita dapet malah jauh melebihi harapan!

Semoga Mbak Dhayu makin sukses, dan buat kalian yang berencana beli sepatu dalam waktu dekat, gue rekomendasikan beli di Planet Sports Grand Indonesia dan jangan lupa cari Mbak Dhayu ya!



**posting ini juga gue kirimkan ke beberapa alamat e-mail yang gue temukan di situs PT. Mitra Adi Perkasa. Mudah-mudahan ada respon positif dari para boss di sana untuk Mbak Dhayu.

***Buat yang gemar copy-paste, untuk posting yang satu ini gue merelakan kalian meng-copy-paste sepuasnya, sekalipun nggak disebut sumbernya juga nggak papa.Silakan sebar luaskan cerita ini, gue ikhlasin deh :-)

Punya embel-embel 'psikolog' di belakang nama berarti harus siap dengan konsekuensi jadi ember curhat orang-orang di sekitar. Topik favorit: percintaan. Abis, apa lagi? Topik 'keuangan' jelas nggak masuk daftar keahlian gue... hehehe...

'Psikolog' tentunya cuma gelar, dan bukan jaminan bakal punya solusi buat semua masalah. Untungnya gue punya banyak temen yang mau berbagi pengalaman pribadi sebagai referensi.

Salah satu referensi yang baru-baru ini gue dapet adalah pengalaman 'Bunga' (tentunya bukan nama sebenernya) yang cerita soal pengalamannya menyelesaikan sebuah cinta segi tiga. Solusi yang dia pilih, menurut gue, butuh sesuatu yang belum tentu semua orang punya.

Berikut gue tulis ulang penuturan langsung dari Bunga:

Aku dulu pernah pacaran lamaaa... banget dengan seorang cowok, sebutlah namanya Steven. Aku dan Steven sebenernya saling cocok, tapi sayang kami beda agama. Kami sama-sama tau, masa depan kami suram, tapi untuk pisah rasanya berat.

Pada suatu waktu, aku kenalan dengan cowok lain, katakanlah bernama Rudi. Perhatian Rudi ternyata nggak kalah besar dari Steven, ditambah satu faktor penting: dia seiman dengan aku. Nggak lama kemudian kami jadian. Kedua cowok itu nggak saling kenal, dan nggak tau kalo aku diam-diam menduakan mereka.

Dua tahun aku jalani hubungan rahasia dengan Steven dan Rudi, sampe pada suatu titik aku merasa kondisinya nggak bisa begini terus-terusan. Sebenernya aku takut kehilangan Steven maupun Rudi, tapi aku merasa hubungan ini nggak adil buat mereka berdua. Aku harus mengakhirinya segera.

Pada suatu hari, sengaja aku undang Steven dan Rudi ke rumahku pada jam yang sama. Sengaja aku biarin mereka ketemu di teras, saling kenalan dan ngobrol lumayan lama. Aku sendiri masih di dalam, berusaha menguatkan diri untuk menjalankan rencanaku.

Setelah merasa cukup kuat, aku keluar menemui mereka. Tanpa basa-basi, aku ngomong,

"Steven, kenalin, ini Rudi. Selama dua tahun terakhir, aku jadian sama dia tanpa sepengetahuan kamu. Rudi, kenalin, ini Steven. Sebelum kita kenal, aku udah jadian sama dia beberapa tahun, sampai sekarang. Aku nggak berani bilang bahwa aku udah punya Steven, karena aku takut kehilangan kamu. Begitu juga dengan kamu, Steven, aku nggak berani bilang bahwa aku sekarang juga punya Rudi, karena aku nggak mau kehilangan kamu.

Aku tahu, perbuatanku salah, makanya aku mau mengakhiri sekarang. Aku mohon maaf sama kalian... aku sayang sama kalian berdua, aku juga merasa kalian sayang sama aku... tapi aku nggak berhak menerima cinta kalian berdua seperti ini... aku pasrah, aku rela kalau kalian berdua mau ninggalin aku sekarang. Aku nggak pantas kalian cintai..."

Habis ngomong gitu, aku cuma nangis, sementara mereka berdua shock. Aku ngerti, mereka pasti marah besar sama aku. Aku udah pasrah, aku nggak berhak mempermainkan mereka. Kalo mereka mau ninggalin aku, aku terima - walau berat. Yang jelas, setelah ngomong terus terang, aku ngerasa lega banget.

Dengan berapi-api, Steven mengekspresikan kemarahan dan kekecewaannya. Habis itu dia pergi, dan bersumpah nggak mau ketemu aku lagi. Sementara Rudi tetap tinggal, dan akhirnya ngomong,

"Bunga, perbuatan kamu memang salah. Aku ngerti alasan kamu melakukan ini karena takut kehilangan kami, tapi tetep aja itu salah. Tapi aku menghargai kejujuran kamu, dan aku masih sayang sama kamu. Kalo kamu mau janji nggak akan ngulangin perbuatan kaya gini lagi, aku masih mau kita sama-sama terus... aku nggak akan ninggalin kamu..."

Akhirnya, aku nerusin pacaran sama Rudi, dan beberapa tahun kemudian kami menikah. Sekarang Rudi udah jadi suamiku.


Seandainya cerita Bunga ini pertunjukan teater, gue serasa mau ngasih standing ovation.

Saat orang-orang lain memilih jalan 'damai' (baca: diam-diam) untuk menyelesaikan hubungan segi tiga, Bunga justru memilih untuk berterus terang - dengan resiko kehilangan dua-duanya.
Tapi Bunga yakin, sebuah kebohongan nggak akan mungkin diselesaikan dengan  kebohongan lain . Solusi terbaik adalah kejujuran - dan kadang untuk bersikap jujur butuh nyali yang besar. Salute, you've got the guts, girl!

Sekedar referensi, buat kalian yang mungkin punya masalah serupa...

Foto gue pinjem dari worth1000

Di kalangan temen-temen sekantornya, Alfian (nama fiktif tapi orangnya betulan) bukan sosok yang terlalu 'populer'.

Kalo ditanya kenapa, mungkin setiap orang bisa mengajukan alasan yang berbeda. Ada yang sebel sama kebiasaannya nyetel lagu dangdut techno dengan volume pol di jam kerja. Ada yang nuduh dia haus pengakuan karena kalo lagi teleponan sama boss / orang penting lainnya suaranya bisa kedengeran sampe ke ujung ruangan. Ada yang diam-diam dongkol karena tanpa rasa sungkan setitikpun Alfian sering membanggakan prestasi kerjanya. Ada yang merasa dia gabungan dari semua atribut tersebut di atas karena karena kalo baca e-mail suka tiba-tiba teriak, "Holy Sh!t - mother F***ER!! Masa achievement gue yang tertinggi lagi di periode ini. KE MANA AJA YANG LAINNYA NIH, TIDUR??!!" - tentunya setelah mengecilkan sedikit volume dangdut technonya - untuk memastikan agar semua orang denger. 

Tapi ternyata, di mata Indri (juga nama fiktif) Alfian adalah sosok yang berbeda.

Semuanya berawal waktu Indri dan timnya, termasuk Alfian, disuruh lembur oleh boss karena ada tugas urgent yang harus selesai malam itu juga. Satu tim kerja mati-matian, tapi sayangnya kerjaan baru selesai menjelang jam 12 malam.

Dasar sial si Indri, dia kebagian tugas merekap semua hasil kerja timnya, sehingga saat satu per satu rekan-rekan satu timnya beranjak pulang, dia malah baru mulai ribet di depan komputer. Yang tersisa cuma Alfian, nampak asik mendengarkan lagu-lagu dangdut techno kesukaannya.

Heran karena ngeliat Alfian masih terus bercokol, akhirnya Indri nanya, "Alfian, kok nggak pulang-pulang sih? Bagian lo kan udah beres?"
Indri surprise mendengar jawaban Alfian - yang diucapkan dengan nada kerasnya yang mirip orang membentak, "Ya nungguin elu selesai, lah! Ngapain lagi?"

Ternyata bukan cuma nungguin, tapi Alfian mengantar Indri sampai ke depan pagar rumahnya.
Padahal Indri udah menolak dengan, "Nggak usah sampe depan pager, gue turun di depan gang aja..."
"Kalo jam segini gue nganterin anak orang pulang, gue harus pastiin dia aman sampe rumah - sebab kalo ada apa-apa ntar gue yang harus tanggung jawab sama orang tuanya!"

Mengenang kejadian itu, Indri lantas mengambil sikap, "Sejak itu, kalo ada orang ngejelek-jelekin dia, gue nggak pernah ikutan nimbrung - karena di balik penampilannya yang 'kayak begitu itulah' ternyata dia berhati baik dan menghargai wanita."




note:

buat yang berprasangka bahwa Alfian berbaik hati kepada Indri karena 'ada maunya', sampe hari ini mereka tetep temen biasa aja - malah udah jarang berinteraksi karena udah beda lokasi kerja. Alfian sendiri udah berkeluarga, punya anak istri dan umurnya terpaut cukup jauh dengan Indri.

gambar gue impor dari picturequest.com

Interaksi pertama gue dengan dunia perpajakan terjadi tahun 2001... atau 2002 ya? Pokoknya waktu itu presidennya Gus Dur, yang menghapus satu huruf dalam peraturan perpajakan. Satu huruf doang, tapi imbasnya melekat di diri gue sampe saatnya gue menghadap Allah nanti. Huruf yang gue maksud adalah bagian pasal, yang kalo gak salah bunyinya:

...Wajib Pajak yang tidak wajib memiliki NPWP adalah...

...
c. Wajib pajak orang pribadi yang hanya menerima penghasilan dari satu pemberi kerja dan tidak memiliki penghasilan tambahan lainnya.
...

Undang-undang tersebut direvisi menjadi:

c. Dihapus.

Udah gitu doang, tapi sebagai akibatnya gue jadi harus punya NPWP. Apalagi waktu itu gue berstatus sebagai pegawai BPPN yang mana adalah lembaga pemerintah - sehingga para pegawainya wajib memberikan teladan kepada masyarakat luas dengan menjadi pionir-pionir dalam hal memiliki NPWP. Padahal yang namanya NPWP ini nggak bisa dicabut selama orangnya masih hidup. Jadi, kalopun someday gue jobless, gue tetep harus dateng setiap tahun ke kantor pajak sekedar melaporkan bahwa di tahun berjalan gue gak dapet duit sepeser pun. Udah bokek, suruh lapor pula. Tega banget.

Acara penyerahan SPT Tahunan pertama gue berlangsung sungguh sangat senewen sekali. Waktu itu kantor pajaknya di jalan Sam Ratulangie Menteng. Gedungnya gedung rumah tua, para pengunjung harus ngantri di halaman bertenda yang walaupun bertenda namun masih sangat gerah, yang ngantri banyak, petugasnya ngebetein dan nanya suka nanya yang enggak-enggak.

Contoh:

Di salah satu kolom SPT ada isian mengenai harta benda. Karena gue merasa masih nebeng di rumah orang tua, mobil milik orang tua, tentunya kolom tersebut gue kosongin. Eh, taunya diusut loh sama petugasnya.

Berkat desakan sang petugas pajak bertampang ngeselin itu, maka gue masukin lah segala 'harta benda' gue seada-adanya, meliputi handphone, playsation, televisi...

"Ini kolom harta, kenapa kosong?"
"Ya karena emang nggak ada yang bisa diisi di situ Pak..."
"Ah masa?"
"Iya kok Pak."

"Rumah?"
"Masih ikut orang tua Pak."
"Mobil?"
"Punya orang tua juga Pak."
"Masa orang hidup nggak ada harta sama sekali. Perhiasan?"
"Nggak ada Pak."
"Handphone? Pasti punya dong."
"Handphone perlu ditulis di sini juga pak?"
"Perlu dong! Itu kan harta juga, belinya pake duit, kan?" kata si bapak petugas sok lucu. Enggak pak, pake daun. Itulah sebabnya halaman rumah gue selalu bersih dari dedaunan.

Berkat desakan sang petugas pajak bertampang ngeselin itu, maka gue masukin lah segala 'harta benda' gue seada-adanya, meliputi handphone, playsation, televisi... hampir jam tangan lucu-lucuan boleh beli di Melawai Plaza gue masukin juga di situ.

Belajar dari pengalaman pahit penyerahan SPT pertama, di tahun berikutnya gue mempersiapkan diri secara lebih matang. Waktu itu kan gue masih jadi pegawai HRD, jadi kenal sama pegawai HRD lain yang kerjanya ngurus pajak penghasilan. Namanya Mbak Thres. Wah si mbak satu ini sungguh jago tenan soal perpajakan. Saking jagonya, dia ngisi SPT kaya orang ngisi buku tamu kawinan - lancar nggak pake mikir.

Gue kursus privat sama Mbak Thres mengenai cara mengisi SPT, termasuk tips n trick kolom-kolom mana aja yang walaupun udah diisi secara bener masih potensial untuk mengundang keisengan para petugas pajak. Buat gue yang sangat gapjak, form itu sungguh ajaib mulai dari susunannya hingga pemilihan katanya. Salah satu angka aja, urusannya bisa dituduh 'menggelapkan pajak'. Pokoknya ngeri deh.

Berbekal ilmu dari Mbak Thres, gue melakukan penyerahan SPT tahun berikut dengan lebih percaya diri. Kali ini kantor pajaknya udah bukan yang di jalan Sam Ratulangie, tapi di kantor Pelayanan Pajak Menteng II di Wisma Bakrie Kuningan. Walaupun gedungnya udah tua dan liftnya suka mengeluarkan suara2 mencurigakan, minimal di sana pake AC sehingga orang bisa ngantri secara lebih manusiawi.

Terus terang waktu itu gue berangkat dengan otak penuh su'udzon... pasti resek nih orangnya... pasti ditanya yang enggak2... pasti dioper ke sana-sini.. pasti kalo gue dateng pagi, kantornya masih kosong... pasti para pegawainya pada males-malesan dan main freecell... Tapi ternyata setelah sampe di sana, gue ngintip ke komputer orang-orang.. eh, lagi pada kerja lho! Terus gue nanya Satpam loket mana yang harus didatangi...eh, dijawab dengan sopan lho! Waktu ketemu sama orangnya juga nggak ditanya macem-macem, begitu dia liat SPT gue udah terisi lengkap dan benar langsung dicap "OK" dan gue tinggal ambil tanda terima di loket sebelah. Seluruh prosesnya makan waktu nggak sampe 20 menit, dan di seluruh penjuru kantor ada pengumuman gede "SELURUH PROSES TIDAK DIPUNGUT BIAYA". Hmmm.... lumayan juga nih kantor pajak, ya?

Rasanya masih terlalu indah untuk menjadi kenyataan, jadi tahun berikutnya gue dateng ke sana masih berbekal su'udzon di kepala. Ternyata pelayanan yang gue terima masih dengan kualitas yang sama. Tahun berikutnya juga, sehingga akhirnya gue berani nyerahin SPT tanpa kursus dulu sama Mbak Thres. Lagian setelah BPPN bubar, gue juga kehilangan jejak di mana Mbak Thres sekarang.

Hari ini, di hari terakhir batas penyerahan SPT, gue menemukan diri gue maju selangkah lagi dalam urusan penyerahan SPT, yaitu: gue berani dateng ke kantor pajak dengan SPT yang masih kosong! Kalo sebelum-sebelumnya gue selalu dateng dengan form yang udah diisi secara penuh perhitungan, kali ini gue begitu merasa aman dengan pelayanan di sana sehingga gue yakin kalopun gue salah isi SPT, pasti dibantu sama petugas.

Jadilah hari ini gue berangkat ke Kantor Pajak Menteng II di Wisma Bakrie lantai 1, langsung nyari meja kosong di ruang tunggu, dan ngisi SPT di situ. Rupanya setelah bertahun-tahun ngisi SPT akhirnya gue 'agak' bisa juga ngisi dengan bener. Minimal gue mulai ngerti makna bahasa-bahasa asing yang tertera di situ. Padahal di tahun-tahun sebelumnya gue selalu lupa lagi lupa lagi cara ngisi SPT.

Ugh mampuuuz... sejak kawin gue belum pernah kepikiran ngurus KK!! Celaka deh...

Setelah gue isi lengkap, gue kasih liat ke petugas di loket penerimaan, terus sama petugas di sana diarahkan menemui seorang bapak bernama Tri Sulistya W, NIP: 060097824. SPT gue dibaca-baca sama Pak Tri ini, dibolak-balik, dan tiba-tiba bagai gledek di siang bolong* doi nanya,

"Mas, bawa copy kartu keluarga?"

Ugh mampuuuz... sejak kawin gue belum pernah kepikiran ngurus KK!! Celaka deh...

"Eee.. nggak punya pak, abis saya menikahnya juga baru sih..." Maksudnya 'baru' 8 bulan, belum 10 tahun, gituh.
"Oh... gitu ya? Tapi ini di bukti potongnya sudah berstatus K/0 (kawin, tanpa anak), yang artinya potongan pajak mas lebih besar dibanding waktu masih single. Dengan status seperti ini, SPT harus dilengkapi dengan KK sebagai bukti jumlah orang yang menjadi tanggungan mas...."
"Aduh, gimana ya pak, saya belum punya KK..." jawab gue mulai panik.
"Ya sudah kalau begitu mas buat surat keterangan saja... bisa tulis di kertas kosong ini, atau... sebentar, saya ada sih formulirnya, sebentar ya, saya carikan dulu..." kata Pak Tri sambil mulai ngubek-ngubek tumpukan berkasnya yang segunung itu.
"Eh ya udah ga usah repot-repot pak, saya tulis tangan juga nggak papa kok.." kata gue nggak enak hati ngeliat orang jadi repot hanya karena gue males ngurus KK.

Dengan tulisan serapi yang gue bisa, gue tulis lah surat keterangan di kertas kosong itu, lantas gue serahin ke Pak Tri. Pak Tri menerima surat keterangan gue, ngeprint dan ngecap tanda terima yang kemudian diserahin ke gue.
"Ini mas, sudah selesai."
"Sudah nih pak? Beres semuanya?"
"Sudah, terima kasih."
"Terima kasih ya Pak Tri..."

Udah, gitu doang. Gue nyaris menitikkan air mata haru melihat ternyata ada abdi masyarakat yang begitu service-oriented, nggak kaya iklan A-Mild yang 'barang gampang dibikin susah' itu. Gue yakin, kalo mau dia juga bisa memperpanjang masalah dengan nyuruh gue pulang lagi untuk ngurus KK; yang mana akan makan waktu seharian bahkan lebih, sehingga buntutnya gue akan telat nyerahin SPT dan kena denda 100 ribu. Tapi toh dia memilih cara yang mudah biar urusan bisa cepet beres. Sikap yang ditunjukkan juga sangat sopan dan penuh respek, sehingga gue pun jadi terdorong untuk balas bersikap lebih sopan lagi. Dan yang penting banget dicatat: sama sekali gak ada tanda-tanda minta 'diamplopin'! Luar biasa deh pokoknya.

Orang-orang yang gue ceritain tentang pelayanan Kantor Pajak Menteng II masih aja suka berkomentar sinis, "Ya tentu aja pelayanannya bagus, yang mereka hadapi kan orang2 Menteng yang rata2 pejabat, kalo mereka macem2 malah bisa repot sendiri. Menteng gitu loh!" Tapi gue berharap semoga standar layanan seperti ini ada di semua kantor pajak, di mana semua orang dikejutkan dengan pelayanan yang jauh melebihi ekspektasi mereka. Orang-orang dengan mindset seperti Pak Tri ini nggak cuma dapet gaji dari pekerjaannya, tapi juga sekalian ngumpulin pahala karena telah membantu orang lain - khususnya para wajib pajak yang males ngurus KK.

Buat Pak Tri, gue doain semoga bapak sukses lahir-bathin-dunia-akhirat ya pak, cepet naik pangkat, banyak rejeki, selamat sampe ke tujuan. Aaamiin.


*nanyanya sih pelan-pelan, cuma isi pertanyaannya itu yang bikin jantung kebat-kebit.



Serial 'being nice' kali ini rada beda dengan sebelumnya, karena gue nggak bisa menceritakan identitas tokohnya. Pokoknya ini kejadian nyata yang terjadi pada 2 orang yang gue kenal, biar gampangnya kita sebut aja si A dan si B. Dan... bukan, gue bukanlah si A maupun si B. Suer!

B
, yang saat ini sedang nganggur, ketemu dengan A di sebuah acara. Setelah obrolan standar tentang cuaca dan kemacetan lalu linta, B bisik-bisik kepada A, "A, gue sekarang lagi nganggur nih, ada lowongan nggak di kantor elo?"
A menjawab, "Ya nanti gue liat deh. Lo bikin aja CV, nanti titipin ke gue."
"Sip, makasih ya A...!"

Beberapa hari kemudian, B menelepon A, "Boss, CV gue udah jadi nih!"
"Oh, ok!"
"Jadi, kapan lo bisa ambil ni CV ke rumah gue?"

=$$$=

Mungkin ini kabar mengejutkan bagi para manusia ndablek di luar sana, tapi sekedar info aja.. "peraturan dasar saat kita minta bantuan orang lain adalah: kita berkewajiban (moral) untuk tidak merepotkan orang tersebut."

Peraturan yang sederhana, jelas, tapi kok ya hari gini masih ada aja orang yang nggak mudeng sih?


Image berasal dari sini.


Pada suatu hari, temen gue yang bernama Ata bilang sama istrinya bahwa dia punya temen kantor yang suka nulis nggak karuan di blog bernama mbot.multiply.com. Istrinya Ata lantas masuk ke link tersebut, dan mengenali beberapa tokohnya seperti  Oom Jo dan Anto. (Cerita tentang Michael udah terlalu lama sih terbitnya, jadi lolos dari penemuan istrinya Ata). Istrinya Ata melaporkan penemuannya tersebut kepada suaminya dan besokannya kantor heboh karena para tokoh cerita itu baru tau kisah mereka telah melanglang dunia maya. Kebetulan, Oom Jo dan Anto duduknya bersebelahan dengan Ata. Anto di sebelah kanan, Oom Jo di sebelah kiri. Kata Ata,"Wah, mulai sekarang harus ati2 nih kalo ngobrol sama Agung, ntar dimuat di internet. Kanan-kiri gue udah kena."

Oleh karena itu, as per requested, sekarang gue tuliskan cerita tentang Ata

K
ejadian ini sebenernya udah agak lama. Waktu itu team gue butuh kamera pohon untuk pemotretan brosur, dan minjem kamera pohon milik Ata. Nanda, temen satu tim gue, bilang ke Ata, "Man, pinjem yah kameranya... sori nih man ngerepotin. Besok gue balikin deh..."
"Sip... nggak papa, pake aja", kata Ata.

Besokannya, kamera ternyata belum bisa dibalikin karena ada beberapa pemotretan yang harus diulang. Nanda ngomong lagi sama Ata, "Man, ternyata gue masih butuh kameranya, gue pinjem lagi ya... sori nih..."
"Iya, pake aja"
"Atau gue sewa deh biar enak..."
"Hahaha.. mau sewa berapa sih lu?"
"Lima belas ribu sehari"
"Hahaha... kalo gitu mending gue pinjemin gratis aja deh, dapet pahala! Daripada nyewain cuma dapet 15 ribu..."

=$$$=

Ata mungkin cuma ngomong iseng aja, tapi ucapannya mengingatkan bahwa dalam setiap perbuatan baik tersimpan tabungan buat hari nanti. Seringkali orang duluan bertanya,"Apa keuntungan (materi) yang bisa gue dapet kalo gue melakukan ini?" dan lupa bahwa di baliknya ada 'keuntungan' sesuatu yang jauh lebih berharga - seandainya perbuatan tersebut disertai sesuatu bernama keikhlasan.



S
etiap pagi, gue berangkat ke kantor dianter tukang ojek langganan bernama Pak Hadi. Minggu lalu, pas gue keluar rumah, pas mulai ujan. Berhubung kultur yang berlaku di kantor gue sekarang ini lebih 'concern' terhadap jam pulang ketimbang jam masuk (artinya nggak papa dateng telat asal pulangnya malem), maka gue santai aja ngajak Pak Hadi duduk-duduk dulu di teras sambil nunggu ujan brenti.

Pak Hadi ini tadinya kurir di sebuah trading company. Tapi karena cerita klasik bernama krismon, dia kehilangan pekerjaan dan sebagai gantinya ngojek sampe sekarang. Gue nggak tau umurnya berapa, perkiraan gue sih di atas 50 tahun. Betawi asli. Sekarang tinggal sama istri dan seorang anaknya yang masih bujang. Ada lagi anaknya yang lain, tapi udah married dan nggak tinggal sama dia lagi.

Abis ngobrolin ujan seperti kebanyakan orang yang lagi nunggu ujan, Pak Hadi cerita pengalamannya beberapa hari yang lewat.
"Pagi-pagi nih gung, abis nganter Agung, bapak baruuu.. aja sampe di pangkalan, eh udah ada penumpang. Cewek, baru turun dari ojek juga, nanya ke saya, 'Bang, mau nggak nganter saya? Saya mau keliling2 nih, mau nagih ke wartel-wartel'.

Tadinya saya bingung juga gung, lah, kan dia baru aja turun dari ojek? Saya tanya sama dia 'Itu ojeknya kenapa?'
Kata dia, 'Ah itu ojeknya brengsek, tadi dari rumah katanya mau, sampe sini dia banyak alasan. Katanya mau anter anak sekolah segala. Makanya saya mau ganti ojek aja. Gimana, abang mau nggak nganter saya keliling2 nagih, sampe ke depok segala nih!'

Depok kan jauh gung, makanya bapak langsung mau aja. Eh si cewek itu bilang lagi, 'kalo gitu saya pinjem duitnya dulu deh pak, 20 ribu, buat bayar ojek yang brengsek itu'.
Kebetulan bapak emang lagi pegang duit temen, dititipin 25 ribu. Pagi-pagi gitu bapak kan belom pegang duit. Ya udah, yang 20 ribu bapak kasih dia. Trus kita jalan deh.

Wah beneran loh dia minta anter keliling-keliling gung... pertamanya ke wartel di stasiun cikini. Abis itu dia minta anter ke Manggarai. Terus ke Saharjo. Tiap kali brentinya di wartel-wartel gitu, cuma masuk sebentar keluar lagi. Teruuus... begitu sampe ke Tebet segala. Nggak kerasa udah hampir jam ½ 1 tuh gung, belum beres-beres juga.

Abis dari Tebet dia minta anter ke Mangga Dua. Waktu di perjalanan ke Mangga dua saya udah sempet mikir nih gung, kayanya mending sampe sana saya minta uangnya aja. Udah siang gini, belum makan, belum sholat. Lagian di sana juga kan banyak tukang ojek, dia bisa cari ganti yang lain.

Eeeh.. biar kata udah diniatin begitu, pas sampe sana entah kenapa mulut rasanya kayak dikunci. Dia nyuruh bapak nunggu di depan Mal Mangga Dua. Otak sebenernya udah mau ngomong nih gung, 'jangan mau, kalo dia masuk ke Mal gini kan susah nyarinya.' Tapi dasar mulut malah cuma bengong aja, iya aja.

Taunya bener gung. Dari jam ½ 2 nyampe di sana, saya tunggu sampe jam 3 dia nggak keluar-keluar. Saya sempet bimbang juga, saya tunggu terus atau saya tinggal nih. Tapi mau ditinggal gimana, bensin udah abis banyak, uang belum dapet sama sekali - malah duit temen udah kepake 20 ribu. Saya tunggu terus sampe jam 4, ½ 5, jam 5... akhirnya saya nyerah gung. Saya pulang aja.

Bapak pulangnya udah keliyengan, belum makan, belum minum seharian, duit nggak ada. Bener-bener tega tuh orang nipu orang susah kaya bapak gini..."

"Sialan tuh orang, maunya apa sih!" kata gue. "Kalo bapak mau, mending kita lacak aja ke wartel-wartel yang dia datengin itu pak, siapa tau ada yang kenal dia atau tau rumahnya di mana!"
"Ah nggak usah deh gung, kalo bapak sih mending bapak doain aja dah..."
"Doain biar celaka aja ya pak!"
"Loh, bukan. Kita doain aja semoga dia cepet disadarkan sama Allah. Kalo dia sadar kan siapa tau jadi tergerak hatinya untuk bayar ongkos ke bapak. Kalopun enggak, ya... minimal dia kan jadi nggak bikin susah orang lain..."

Kalo kita lagi nerima hadiah, nerima kebaikan dari orang lain, berdoa itu urusan gampang. Tapi berdoa untuk orang yang jahat sama kita.... kayaknya bukan level pelajaran yang mampu dicerna para dummies...

Buat siapa kita sanggup berdoa?


Image dari masiro online



Blog Entry[being nice for dummies] #0005: SMS empatiFeb 6, '06 2:26 AM
for everyone

Hari Jum'at kemarin, sms ini masuk ke HP gue:

Boss, bole minta kopi vcd yg kmaren disetel dirumahmu ga? Buat Nono dimalang neh, biar ga mela melo lagi.. Kalo blh nanti ge ambil, selasa ge mau ke sby mlg.

"Being nice" selalu diawali dengan empati - kemampuan untuk memahami perasaan dan situasi orang lain - yang dilanjutkan dengan tindakan nyata. Pengirim sms ini memahami perasaan cak Nono yang lagi mela-melo karena berjauhan dengan anggota keluarga besar MP lainnya, lantas tergerak menawarkan tindakan nyata untuk membantu. Sayangnya, gue belum bisa memenuhi permintaan itu. Tapi, terlepas dari apakah tawaran itu bisa direalisasikan, niat baik yang ada di baliknya tetap bisa jadi satu lagi contoh tentang how to be nice...even for dummies.

Oh iya... hampir lupa: pengirim sms itu adalah Wib.

Note: Buat Cak Nono, maaf ya, gue belum bisa ngopy-in cd resepsi itu untuk dititip ke wib. Bukannya nggak mau, tapi gue nggak ngerti caranya. Videonya dalam format DVD yang terbagi dalam 3 chapter. Gue udah berhasil mengcopy 1 chapter yang menampilkan anak2 MP lagi beraksi di panggung, tapi problemnya chapter itu sendiri besarnya 1 GB - jauh melebihi kapasitas sebuah CD (biasa) yang cuma 700 MB. Sementara, gue nggak punya DVD burner. Gue mau convert file itu ke format yang lebih umum seperti wmv, avi, atau mpg, tapi baik program Adobe Premiere dan Ulead Studio 8 yang gue pake boro2 mengconvert; keduanya sama2 nggak mengenali file berformat DVD itu. Program MPG2cut2 yang disarankan Wib juga nggak bisa. Jadi, sekalian nih, buat yang tau program apa yang bisa gue pake untuk mengedit atau minimal mengconvert file DVD, gue tunggu masukannya ya. Sabar ya Cak. Kalo udah nemu caranya pasti gue kirimin video itu deh


Cerita oleh2 waktu ke Bandung 2 minggu yang lalu.

Gue dan Ida jalan-jalan di Ci-Walk sampe haus, dan akhirnya mampir di foodcourtnya. Baik gue maupun Ida waktu itu sama2 baru ngeh bahwa ada di Ci-Walk ada foodcourt. Abis, tempatnya nggak strategis banget: di lantai paling atas, satu lantai dengan bioskopnya, dan dari depan bioskop pun masih harus belok ke kanan terus kiri sedikit baru deh sampe ke sana. Sementara di bawah udah segitu banyaknya tempat makan yang asik-asik. Nggak heran tu foodcourt sepi banget. 

Berhubung niatnya cuma mau beli minum, maka gue langsung menuju booth minuman yang kebetulan letaknya paling deket sama kasir dan pintu masuk. Gue beli cappuccino es seharga 7000 perak, sedangkan Ida mau beli air mineral (baca: air minum kemasan, yang sebenernya belum memenuhi syarat kecukupan kandungan mineral untuk disebut 'air mineral').

"Wah di sini nggak jual air mineral mbak", kata mbak-mbak penjaganya. "Yang jual air mineral di sana", katanya sambil menunjuk booth lain, "tapi mbak harus beli kupon dulu di kasir."
Beli kupon dulu? Heran juga dengernya, hari gini kok masih ada sih foodcourt yang pake sistem kupon2an? Maka Ida beranjak ke kasir yang posisinya bersebelahan dengan booth minuman tsb, dan mendapat keterangan mengenai prosedur yang berlaku sebagai berikut:

Sebelum mulai berbelanja, pengunjung harus menyetorkan sejumlah uang ke kasir. Sebagai gantinya, pengunjung akan dapet sebuah kartu yang nilainya udah diprogram sesuai jumlah uang yang disetorkan (mirip kartu di Timezone). Setelah punya kartu, pengunjung membayar pesanannya dengan cara menggesekkan kartu. Nanti nominal kartu akan berkurang sesuai dengan nilai transaksi. Kalau total transaksi lebih sedikit dari nominal awal, maka pengunjung harus dateng lagi ke kasir untuk me-refund uangnya.

"Tapi mbak, saya cuma mau beli air mineral segelas", kata Ida. "Nggak bisa bayar langsung di tempatnya ya?"
"Nggak bisa mbak, harus taro uang dulu di sini", kata mbak Kasir, "Sepuluh ribu juga cukup."
"Harga air mineral segelas kan nggak sampe 10 ribu mbak", kata Ida
"Iya, nggak papa, nanti habis beli kartunya mbak bawa lagi ke sini untuk dikembalikan uangnya".
"Kalo saya taro uangnya seharga airnya, misalnya 2000 perak, boleh?"
"Nggak bisa mbak, minimal 10 ribu."
"Ah ya udah deh mbak, nggak jadi. Ribet bener sih mau beli air segelas aja."  kata Ida bersungut-sungut.

Abis itu gue dan Ida milih duduk nggak jauh dari situ, untuk meminum si cappuccino es yang kalo gue pikir2 sekarang, kok bisa ya dibeli tanpa harus pake acara tuker2 uang di kasir? Ida masih aja ngomel2 soal betapa ribetnya prosedur yang harus dilalui untuk mendapatkan segelas air di foodcourt ini, dan menganalisa mungkin itu sebabnya di sini nampak kurang pengunjung.

Nggak lama kemudian, tiba2 mbak2 dari booth minuman manggil2,
"Mbak... mbak... psst... "
"Ya, kenapa?" kata Ida
"Mbak mau air ya? Air biasa aja mau ya mbak?"
"Mau sih..."
"Ya udah, sebentar ya, kita punya kalo cuma air biasa aja sih..." habis itu mereka ngambilin air dari kulkas, dan menghidangkannya dalam gelas plastik.
"Berapa mbak?"
"Udah, nggak usah...! " dan mereka bener2 nggak mau dibayar. Sampe mau pulang, Ida mencoba lagi ngasih uang, tapi mereka tetep aja nggak mau. "Cuma air aja kok", katanya.

Memang 'cuma' segelas air yang mungkin nggak nilainya, tapi kepedulian di baliknya adalah barang mahal - yang nggak semua orang mampu memilikinya.

Ini foto kedua mbak2 baik hati itu:




Gue punya keponakan bernama Dian (FYI - dia ini cowok, krn nggak sedikit orang yang salah sangka, gara2 nama dan tampangnya). Kejadian ini udah agak lama, kalo nggak salah waktu Dian umur 7 atau 8 tahun.

Pada suatu hari, Dian jalan2 sama ibunya di mall. Ketemu orang yang bagi-bagi brosur. Berhubung ibunya Dian paling males nerima brosur, maka Dian yang nerima. Beberapa saat Dian nampak serius banget baca brosur, sampe akhirnya colek-colek ibunya,
"Ma, titip ini dong Ma, di tas Mama... biar nggak ilang..."
"Brosur? Ngapain sih kamu nyimpenin brosur, cuma jadi sampah aja nanti."
"Titip Ma... buat Oom Agung..."
"Emang apa pentingnya oom Agung dapet brosur ginian?" ibunya jadi tertarik baca brosur itu, terus ketawa, "Ooo... pantes, ini brosur obat turun berat badan, biar Oom Agung kurusan ya?"
"Bukan Ma, sebab di situ ditulis, 'BERIKAN KEPADA ORANG YANG ANDA CINTAI'..."



Have you ever been loved this much?
Sampe sekarang brosur itu masih gue simpen.

Blog Entry[being nice for dummies] #0002 Tombol LiftOct 2, '05 12:19 PM
for everyone
Di kantor gue yang dulu, lantai gue dijaga seorang Satpam bernama Pak Tarmin.

Mengingat divisi gue nggak terlalu banyak berhubungan dengan pihak luar, sebenernya beliau nggak terlalu berfungsi sebagai "pengaman".Tamu yang datang biasanya sesama karyawan dari divisi lain, atau paling banter salesman kartu kredit. Tugas harian beliau lebih mirip resepsionis ketimbang petugas keamanan.

Tapi toh, beliau tetep berhasil membuat dirinya menjadi istimewa di mata semua orang hanya dengan sebuah kebiasaan yang sederhana banget. Setiap kali dilihatnya ada karyawan yang keluar dari ruangan menuju lift, beliau akan mendahului menunggu di depan lift, dan setelah menanyakan tujuan (naik atau turun?) beliau memencetkan tombol lift -- lantas menemani ngobrol sampai liftnya datang.

Kebiasaan ini dilakukannya kepada semua orang tanpa pandang bulu. Mulai dari kepala divisi sampai yang kroco-kroco kaya gue ini mendapat 'pelayanan' yang sama. Dan beliau berhasil bikin semua orang terkesan.

Waktu ada rencana rotasi Satpam ke lantai2 lain, kepala divisi gue ngotot setengah mati minta
Pak Tarmin dipertahankan. Dan menjelang kantor gue bubar, beliau termasuk yang duluan 'terselamatkan' berhasil dapat pekerjaan baru - ditarik oleh salah seorang mantan karyawan yang udah pindah ke sebuah perusahaan properti.

By doing a simple favor like pushing the lift-button, he has opened the door to people's heart.

image dari picturequest.com



Blog Entry[being nice for dummies] #0001 Kartu NamaAug 3, '05 10:55 AM
for everyone
Bikin serial baru ah (setelah "Tips HTML", "Sharing HRD", dan "Penemuan hari ini")

Serial ini terinspirasi dari keprihatinan gue atas persepsi orang2 mengenai 'being nice'.

"Dia orangnya baik deh, kalo abis pergi suka beliin oleh-oleh"
"Baik banget orangnya, suka nraktir..."
"...kalo ngasih duit royal..."

Padahal 'being nice' nggak selamanya berhubungan sama beli-membeli, atau bayar-membayar.

Di serial ini, gue mau coba share hal2 sederhana yang gue alami / lihat sendiri, yang menurut gue nice. Kali aja bisa jadi inspirasi. To make this world a better place... and less materialistic

#0001 Kartu Nama
Semua orang yang kenal gue umumnya tau gue tergila-gila sama starwars.
Ada seorang temen gue, pas lagi jalan2 ke mal Ambas, mampir ke Hanuracraft (toko pernak-pernik yang antara lain jualan benda2 starwars). Ngeliat banyak benda2 starwars di situ, dia secara khusus nyimpenin kartu nama toko itu, dan besokannya dia kasih ke gue. "Lo musti liat toko itu gung, banyak mainan starwars yang bagus2...!"

Walaupun gue udah tau toko itu, tetep aja tindakan temen gue itu so nice, dan menyenangkan.



Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.