Agung's posts with tag: bandung

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bandung
ReviewReviewReviewReviewThe Tarix JabrixMay 4, '08 11:37 AM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
Nonton film ini serasa nonton rekaman video handycam sekumpulan anak iseng yang bertingkah aneh. Bukan karena sengaja kepingin sok aneh, tapi karena memang begitulah adanya mereka - cuma kebetulan aja kontras dengan situasi yang melingkupinya.

Ceritanya tentang seorang remaja Bandung biasa-biasa aja bernama Cacing alias Caca Sutarya yang tiba-tiba ingin tampil lebih keren dengan menjadi anggota geng motor. Belum-belum dia udah merasa konflik batin karena persyaratan untuk bergabung cukup berat, antara lain harus berani melanggar peraturan lalu lintas dan harus durhaka pada orang tua. Padahal, Cacing sangat menghormati ibunya dan takut dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang.

Ada tiga tes yang harus dijalani supaya lulus. Tes pertama: uji ketahanan dengan cara digebuki pria bertubuh kekar. Cacing yang kurus kering ini gagal. Tes ke dua, uji kekejaman dengan menjambret tas ibu-ibu di pinggir jalan. Lagi-lagi Cacing gagal karena ingat nasehat ibunya agar menjadi orang yang berguna bagi nusa dan bangsa. Tas udah berhasil dijambret, eh dia balik lagi karena nggak tega ngeliat korbannya tergeletak di pinggir jalan. Tes ke tiga: uji keterampilan dengan cara mengendarai motor tanpa lampu dan tanpa rem. Walaupun sudah baca bismillah berkali-kali, Cacing juga gagal karena menghindari anak kucing nyeberang jalan. Kesimpulannya, Cacing nggak lulus ujian masuk geng motor.

Sebagai gantinya, Cacing akhirnya bertekad mendirikan geng motor sendiri dengan mengajak 4 orang temannya - yang sebenernya bukan tipe 'anak motor' sama sekali. Dadang, misalnya, kedekatannya dengan dunia motor hanya karena bapaknya punya bengkel motor. Mulder, malah nggak punya motor sama sekali karena dilarang oleh Papa. Demi mengikuti ajakan Cacing, dia terpaksa minjem motor supirnya. Sedangkan si kembar Coki dan Ciko, punya motor tapi hanya satu yang bisa nyetir motor - jadi yang satunya cuma bisa ngebonceng. Cacing mendeklarasikan geng motornya sebagai geng motor yang patuh peraturan lalu lintas dan menghormati orang tua.

Selanjutnya, film ini bercerita tentang petualangan Cacing dan The Tarix Jabrix, geng motor ciptaannya melawan geng motor lain yang disinyalir terlibat narkoba. Sebagai bumbu, tak lupa dihadirkan unsur percintaan lewat sosok Calista, teman sekolah Cacing sekaligus adik pentolan geng motor rival The Tarix Jabrix.

Sebagai film, sebenernya "The Tarix Jabrix" (selanjutnya gue singkat TTJ) punya modal yang cukup untuk jadi populer. Dia mengangkat tema geng motor Bandung yang belakangan sempet jadi omongan tingkat nasional karena meresahkan masyarakat. Tapi entah kenapa gaungnya nggak terlalu kedengeran. Gue baru tau tentang keberadaan film ini sekitar akhir April - padahal dia udah diluncurkan sejak 2 minggu sebelumnya. Mungkin dana promosinya kurang gede kali ya? Atau poster filmnya yang kurang menarik? Coba aja liat, selintas orang mungkin nggak nangkep judul film ini karena judul film ditulis dengan font yang terlalu kurus dan warna yang kurang kontras dengan background. Mungkin lho...

Padahal, gue yakin tema-tema alternatif seperti TTJ banyak ditunggu oleh penonton seperti gue, yang udah nyaris muntah liat rombongan film bertema horror belakangan ini. TTJ sukses membangun komedi situasi, di mana kelucuan dibangun dari kontras sifat para tokoh dengan situasi sekitar. Sifat Cacing yang hormat pada orang tua, misalnya, kontras dengan kehidupan geng motor yang 'keras'. Juga fakta konyol bahwa kok ya ada sih, anggota geng motor nggak bisa nyetir motor seperti si kembar Coki dan Ciko... Buat "orang Bandung" yang paham dengan idiom-idiom khas Bandung juga akan menemukan banyak dialog yang "Bandung tea", bertebaran mencuri senyum di sepanjang film.

Sedangkan kelemahan film ini adalah kurang faktor cerita yang berpotensi bikin penonton penasaran dengan akhir filmnya. Adegan demi adegan lucu mengalir, tapi di sekitar pertengahan film gue mulai bertanya-tanya ceritanya mau dikembangin ke arah mana. Mungkin kalo konflik dengan geng motor rival dimulai lebih awal bisa memancing rasa penasaran penonton.

Adegan Cacing naik motor dengan gaya bodor muncul terlalu sering. Awalnya lucu tapi pas ke sekian kalinya mulai rada garing. Ceramah Cacing tentang cita-cita membangun geng motor teladan juga terasa rada berlebihan karena diulang-ulang di beberapa adegan.

Tapi terlepas dari kekurangannya, gue suka banget dengan TTJ. Para aktor pendukung seperti Joe Project P dan cameo sang produser sekaligus "supervising director" (emang lazim ya, jabatan kaya gini di dunia perfilman internasional? baru denger gue) berhasil mencuri perhatian. Dan yang lebih penting; gue salut dengan keberanian film ini tampil di tengah arus besar film horror bodoh dan film percintaan basi.

Buat yang tertarik nonton, buruan! Minggu ini TTJ udah mulai terdesak ke bioskop kelas B dan C. Gue nggak yakin TTJ bisa bertahan lebih dari 2 minggu lagi di layar jaringan 21.


ReviewReviewReviewReviewmajalah "koenjit"Apr 27, '08 11:03 AM
for everyone
Category:Other
Pas lagi mampir di toko M&M Dago, Bandung, gue tertarik liat ada sebuah kaleng krupuk warna kuning ngejreng bertengger di meja kasir. Di bagian depannya ada foto perempuan berlumuran kunyit, dan tulisan "koenjit - perjalanan rasa. Edisi Perdana Mei - Juni 2008 GRATIS!"

"Ini isinya majalah gratis, mbak?"
"Iya," kata si kasir
"Kalo gitu saya boleh ambil ya?"
"Tapi minimum pembelanjaan 100 ribu pak"

Satu lagi ciri khas 'melayu', belum terbiasa dengan promosi via media gratisan jadinya salah kaprah gini: dibuat seolah jadi iming-iming hadiah bagi pembelanjaan nilai tertentu. Praktek yang mirip juga terjadi di sejumlah cafe. Media yang jelas-jelas bertuliskan 'GRATIS' ditulisi 'milik cafe, jangan dibawa pulang' - karena cafe ybs ingin punya nilai 'plus' dengan menyediakan bacaan buat pengunjung, tapi terlalu pelit untuk beli majalah berbayar!

Untunglah gue berhasil menemukan kaleng krupuk kuning lainnya di markas Cititrans waktu mau berangkat pulang ke Jakarta.

Sekilas penampakan, majalah ini tampil cukup mewah untuk sebuah majalah gratisan. Yah minimal nampak jauh lebih meyakinkan ketimbang majalah gratisan lainnya yang isinya copy paste dari internet. Foto covernya keren, sedemikian realistiknya sampe salah seorang temannya Bayu dan Ade yang suka ngintil melulu kemanapun mereka pergi berkomentar, "Makanya kalo naro majalah jangan sembarangan dong, liat nih sampe kotor gini..." Selain itu tulisan logo "koenjit" pake finishing UV segala!

Majalah ini memuat 52 halaman (tidak termasuk 4 halaman cover) dengan ukuran yang lumayan unik karena 'tanggung', 17 x 24 cm. Ada 15 rubrik di dalamnya, sebagian besar konsisten mengulas tentang makanan - kecuali sebuah rubrik berjudul 'bungkus' yang menghabiskan 4 halaman untuk foto orang lagi piknik naik vespa tanpa keterangan apapun. Sungguh sebuah rubrik yang kurang jelas dan kurang penting, untungnya rubrik lainnya nggak demikian.

Ada 'santapan utama' (headline) yang membahas kuliner tradisional sunda, ada 'djadoel' yang ngomongin perbedaan kemasan makanan dulu dan sekarang, ada resep masak cumi, komik, dan yang lebih penting info soal jajanan baru di Bandung. Semua artikelnya dihiasi dengan foto-foto keren, terutama sebuah foto essay di halaman 28-31 tentang proses pembuatan oncom.

Secara umum "koenjit" mengisyaratkan diri sebagai sebuah majalah yang dikelola serius, dan menurut gue pangsa pasarnya gede banget. Salah satu tujuan utama orang jalan2 di Bandung, selain beli baju, adalah nyari tempat makan baru, kan? Makanya harapan gue porsi tentang info tempat jajanan baru ditambah.

Mudah-mudahan majalah ini panjang umur dan banyak peminatnya, dan nggak dititipkan di tempat yang salah kaprah seperti M&M Dago.


ReviewReviewReviewReviewBandung SukiDec 23, '07 12:35 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Braga, Bandung
"JANGAN PERNAH MENILAI RESTORAN DARI TAMPAK LUARNYA"

Demikianlah pelajaran berharga yang gue petik dari hasil kunjungan ke resto Bandung Suki, di jalan Braga, Bandung.

Berlokasi tepat di seberang Braga City Walk, restoran ini nampak sangat kurang meyakinkan. Udah namanya terdengar janggal (rasanya kata "Bandung" sangat nggak nyambung dijejerkan dengan "Suki"), tampilan luarnya juga suram dan kurang menarik. Ditambah lagi ada spanduk besar yang menawarkan diskon 50% untuk dim-sum di jam makan siang.

"Wah, ini pasti restoran "desperado" dalam upayanya menarik pengunjung," pikir gue.

Tertarik dengan iming2 dimsum harga diskon, gue dan ida iseng2 mampir dan.. suprise... ternyata restoran ini besar dan rame banget! Bangunannya memanjang ke belakang, mungkin tembus ke jalan Naripan (hiperbola dikit). Hampir semua kursi terisi pengunjung, dan berhubung makanannya tergolong 'cemilan' yang bisa dibereskan dalam tempo singkat, rotasi pengunjungnya tinggi banget.



Soal rasa juga terbilang enak. Walaupun xiao long bao alias dimsum kleponnya masih kalah enak dari Din Tai Fung, tapi secara keseluruhan rasanya cukup meyakinkan.

Harga per porsi dimsum di sini berkisar 15 ribu-an SEBELUM DISKON 50%. Jadi, kunjungan kami kemarin hanya menelan ongkos di bawah 50 ribu saja - udah termasuk minum.

Makanan enak biasanya nggak murah, makanan murah biasanya nggak enak, maka kalo ada makanan enak yang murah, layak dapet bintang 4...



Hari Minggu 4 November 2007, gue dan Ida mampir ke Bandung secara dadakan. Ngeliat prospek suram di arah balik Cipularang yang macet total, ditambah kondisi belum punya bookingan travel untuk pulang ke Jakarta, kami memutuskan untuk naik kereta api. Itung-itung nostalgia.

Sebelumnya gue udah menduga bahwa sejak ada tol Cipularang dan maraknya layanan travel Jakarta - Bandung P.P., pasti akan mengancam KA Parahyangan, tapi gue nggak nyangka efeknya akan separah ini.

Dulu, kalo lo mau naik kereta dari Bandung ke Jakarta di hari Minggu, mesti nyiapin sabar yang banyak karena antrenya bisa berjam-jam. Atau kalo nggak sabar, ya harus rela beli karcis berdiri. Atau beli dari calo. Jangankan beli tiket keretanya, jalan menuju stasiun pun akan macet total. Jadi sekalipun lo udah pegang tiket di tangan, lo harus siapin waktu ekstra untuk menuju stasiun. Nggak heran kalo kereta api ekspres Parahyangan sempet jadi 'tambang emas' buat PT Kereta Api.

Kemarin ini, pemandangannya bener-bener beda banget. Loket yang dulunya diantri ratusan orang, sekarang kosong melompong. Nggak ada cerita antri-antrian: gue tinggal dateng dan beli tiket - selesai. Pemesanan tiket untuk hari yang sama, yang dulu nggak dilayani, sekarang bisa.

Terus terang gue miris ngeliat kondisi kaya gini. Di atas kertas seharusnya kereta api bisa mengungguli transportasi via tol. Karena punya jalur sendiri yang bebas macet, seharusnya kereta api bisa punya jadwal yang lebih konsisten. Tapi kenyataannya kereta 'ekspres' Parahyangan langganan telat dari dulu sampe sekarang. Bahkan kereta eksekutif Argobromo Argogede yang dengan penuh percaya diri memasang angka '250' (melambangkan kereta ekspres yang mampu melalap jalur Jakarta - Bandung hanya dalam tempo 2 jam, dan diluncurkan pada ulang tahun RI ke 50 tahun 1995) nggak pernah berhasil mencapai rekor tersebut. Yah, mungkin pernah satu kali, yaitu waktu peresmian dan penumpangnya adalah Presiden Suharto...

Kendalanya konon banyak, mulai dari usia lokomotif yang udah lewat masa pensiun, kondisi alam pegunungan yang banyak tanjakan, kondisi rel yang kurang terawat, jalur lintasan yang padat, dsb dsb. Akhirnya, kemarin itu gue berangkat dari Bandung jam 19.30 dan baru sampe Jakarta 3 jam 20 menit kemudian.

Di atas kertas, seharusnya kereta api bisa lebih aman dari mobil. Kenyataannya, masih banyak aja ancaman keselamatan para pengguna kereta. Mulai dari penduduk yang suka iseng ngelemparin kereta pake batu, copet berkeliaran, sampe kelalaian petugas kereta sendiri yang berakibat kecelakaan besar. Nggak usah jauh-jauh, minggu lalu baru terjadi kebakaran di sebuah gerbong. Dalam usaha memadamkan api, kereta berhenti di sebuah stasiun, gerbong yang terbakar dilepas dari rangkaian, dan... meluncur (lupa masang rem?) mundur menghantam loko kereta berikutnya. Korbannya: 2 orang tewas.

Apa iya sih segitu suramnya masa depan perkeretaapian kita?

Blog Entry1991: mi ayam 700 perak? mahal!Aug 17, '07 4:57 PM
for everyone

Berhubung Ida lagi mudik ke Bandung, gue sendirian di rumah, timbul iseng bongkar-bongkar tumpukan buku lama. Eh, nemu diary jadul, tahun 1991. Di tahun itu, peristiwa bersejarah yang terjadi pada gue adalah lulus SMA dan mulai masuk kuliah. Di tahun itu juga gue mulai berkenalan dengan kota Bandung, gara-gara ikutan bimbingan tes untuk masuk FSRD ITB. Lumayan juga buat hiburan di tengah malam, ngetawain tingkah gue sendiri sebagai anak SMA. Selain itu, takjub juga baca harga barang-barang tahun segitu...oh, seandainya harga2 sekarang bisa balik kaya gitu lagi ya...  Berikut ini sebagian cuplikannya:  




1991

1 Januari

...ada temen dateng, jualan kaos yang dia bawa asli dari Amerika. Gambarnya logo band metal  'Slayer' sama 'Exodus'. Gue nggak pernah tau lagu-lagu band itu kaya apa, tapi gue beli juga karena gambarnya keren. Harganya 10 ribu per kaos. Ini murah, karena kalo di toko harganya bisa sampe 75 ribu. 


12 Februari

...asiiik... tabungan si Jempol gue udah 70 ribu. Nanti kalo udah nyampe 80 ribu, sebagian mau gue pindahin ke tabungan Bank Sampoerna ah, soalnya di sana bunganya 20% [imbas 'tight money policy', taun itu semua bank lagi jor-joran ngasih bunga gede untuk tabungan dan deposito. Bank Sampoerna, milik perusahaan rokok Sampoerna, malah punya produk deposito bernama 'Poendi Teratai' yang menjamin bila bunga naik maka nasabah otomatis ikut menikmati kenaikannya, tapi kalo bunga turun dia nggak akan ikut turun. Padahal waktu itu bunga deposito bisa sampe 36% per tahun. Bank ini bubar jalan setelah 'tight money policy' dihapuskan].  


28 Februari

...pergi ke Bank Bali, nyetor 6.600 ke tabungan [Bank Bali waktu itu adalah satu-satunya bank yang menetapkan minimal setoran sebesar 1.000. Di bank lain, minimal 10 ribu] 


22 Maret

...naik bajaj dari Jl. Teuku Umar. Berhubung abang bajajnya baik dan sopan, gue kasih agak lebih deh, 700


6 April

...borong kartu Lebaran, 19 biji. Buset, abis 7.800 perak! Gila, gede banget pengeluaran gue untuk Lebaran tahun ini...


9 April

...abis nempelin perangko buat kartu Lebaran. 40 biji perangko 75 perak yang gue beli kemarin sekarang abis semua deh.


10 April

...beli 100 dollar di money changer, harganya 193.700.


27 April

...nonton di Studio Twenty One Thamrin. Tiketnya mahal banget, 7.500 [Bioskop ini adalah bioskop 21 pertama di Indonesia, dan waktu itu jadi tempat nonton paling 'gawl'. Gedung bioskop ini sekarang udah beralih rupa jadi BII Tower] 


23 Mei

...di Bandung, mau ke rumah temen di Jl. Aceh. Dari stasiun naik becak. Ongkosnya 1.000


24 Mei

...hari pertama les di Villa Merah ['Villa Merah' adalah bimbingan belajar khusus untuk FSRD ITB. Jadi materinya ya teknik2 menggambar. Waktu itu gue bercita-cita kuliah di FSRD ITB, makanya sampe bela-belain ikut bimbingan di Bandung. Selama di Bandung, gue nebeng tinggal di rumah temen gue yang bernama Anton]


26 Mei

...beli jeans, t-shirt, dan jaket di Cihampelas. Total: 40 ribu.


1 Juni

...ke sekolah, pengumuman lulus SMA. Sialan, guru2 pada razia spidol supaya anak2 nggak pada coret-coret seragam. Untung gue cerdas, udah ngumpetin spidol gue di WC. Pulang sekolah ada acara makan-makan perpisahan di rumah temen di Grogol. Pulangnya naik bis 213, pake seragam yang penuh coret-coret. Cuek dong.


10 Juni

...ke sekolah, ada pembagian STTB. Pas giliran gue, wali kelas ngasih tau bahwa STTB gue ditahan karena gue belum balikin buku perpustakaan. Terpaksa pulang lagi ke rumah, ngambil buku itu. Mending kalo bukunya bagus.  


17 Juni

...ke kampus ITB, daftar masuk FSRD. Sampe sana baru inget: pas foto ketinggalan. Balik lagi ke rumah di Jl. Aceh. Balik lagi ke kampus ITB. Eh taunya ada lagi yang ketinggalan: surat keterangan bebas buta warna. Balik lagi ke Jl. Aceh. Untung pas balik ke kampus ITB, masih sempet pendaftaran. Panitianya udah nyaris bubaran. [kalo acara bolak-balik ketinggalan ini terjadi di tahun 2007, udah pasti gue batal pendaftaran deh. Soalnya Bandung sekarang macet.]


20 Juni

...hari ke dua UMPTN. Pulangnya rame-rame main ke Dufan.


22 Juni

...ke kampus UNPAR, pendaftaran. Pulang dari sana mampir ke tukang majalah, beli majalah Hai. Trus naik angkot, duduk di sebelah supir. Majalah dan berkas STTB & ijazah gue taro di dashboard. Pas turun, inget bawa majalahnya, berkas STTB & ijazah malah ketinggalan di angkot. Akhirnya terpaksa nyusulin ke St. Hall, seharian nunggu tu angkot pulang kandang. Untung ketemu.


24 Juni

...ujian FSRD ITB, trus pulangnya nonton film 'Ghost' (Demi Moore) di BIP. Udah berapa kali mau nonton film ini gagal melulu. Untung kali ini berhasil. Mau nonton yang jam 4, ngantrinya dari jam 1. [tahun itu, film Ghost jadi film paling fenomenal sedunia. Di Indonesia, dia bertahan sampe 6 bulanan di bioskop papan atas.] 


1 Juli

...makan bareng Tria dan 1 orang temennya sesama finalis Gadis Sampul di Pizza Hut  'Happy Times' (Plaza Indonesia). Beli 3 personal pan pizza dan 3 coca cola medium. Total 10.670. ['Happy Times' itu foodcourt, dulu letaknya di lantai 3 Plaza Indonesia. Sebelum jamannya 'Time Zone', di Happy Times ini juga ada game arcade yang bernama Sega World].   


17 Juli

...sialan, tabungan Si Jempol bikin peraturan baru: saldo minimum 25 ribu. Padahal duit gue di sana cuma ada 8.000. Terpaksa deh ke ATM Bank Exim, duit di sana masih ada 17.000, gue tarik 5.000. Nonton di TIM, harga tiket 4.000 [ajaib ya, dari ATM masih keluar pecahan 5 ribuan!] 


27 Juli

...temen gue  nelepon dari Bandung, ngasih tau hasil pengumuman tes masuk FSRD ITB. Gue nggak keterima. Sial.


3 Agustus

...pengumuman UMPTN, gue keterima di FPSI UI, horee...!!


8 September

...ke Blok M Plaza, beli dompet VW. Harganya 17.500. 


21 September

...nonton Naked Gun 2 1/2 di Metropole. Harga tiketnya: 5.000


11 November

...sakit cacar air. Obatnya mahal banget, 68 ribu.


1 Desember

...beli mug keramik di Sogo, harganya 2.500


24 Desember

...disuruh ibu beli ayam di Golden Thamrin. Pulangnya naik bajaj. Pas sampe rumah baru inget, belanjaan ayamnya ketinggalan di bajaj. Lumayan deh tuh abang bajaj, dapet 8 dada ayam gratis. Terpaksa beli ayam lagi deh, di Hero Gondangdia. [Golden Truly Supermarket ini sekarang udah jadi Oh La La Cafe dan Java Dept Store, di bawahnya bioskop Djakarta XXI. Dulu di jam-jam tertentu ada atraksi 'robot show', robotnya bisa ngobrol sama pengunjung! :-)]


25 Desember

...jalan-jalan di Blok M Plaza, trus laper. Makan mi ayam di depannya Blok M Plaza. Mahal banget, masa mi ayamnya 700, trus coca colanya juga 700. Padahal di Mesjid Sunda Kelapa mi ayam cuma 500.


29 Desember

...ngirim artikel ke majalah Humor, mudah-mudahan dimuat. Hadiahnya lumayan lho, 15 ribu.


31 Desember

...ke Pasar Baru, mau beli sepatu buat tahun baruan. Sepatu merk Carvil sekarang mahal-mahal, di atas 45 ribu. Untung akhirnya nemu sepatu - merknya nggak jelas, tapi harganya cuma 42.500, masih discount 10% jadi 38.750

  

Foto: cover album 'Step by Step'-nya NKOTB yang tahun segitu lagi ganteng-gantengnya digandrungi gadis belia di seluruh dunia. Sumber: wikipedia.


Marketplace ItemFor Sale: Risol Kribo goes to Bandung!Aug 12, '07 3:35 PM
for everyone
Category:   Other/General
Price:   IDR 3.000

Dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan RI (halah), dari tanggal 17 Agustus sampai 19 Agustus 2007 Ida akan berada di Bandung. Jadi, buat penduduk Bandung yang penasaran ingin ngicipin Risol Kribo, silakan langsung kontak Ida di 0815-7114356 ya!


Click a thumbnail to enlarge:
 


Blog Entrykeanehan terbaru seorang istri: nyurengJul 1, '07 9:20 AM
for everyone
Pada suatu siang, di kota Bandung.

Gue dan Ida lagi naik angkot yang lumayan penuh. Di hadapan kami duduk seorang ibu yang udah rada 'sepuh'. Setelah beberapa saat angkot berjalan, istri mulai colek-colek.
"Suami... suami... "
"Apa?"
"Itu... ibu di depan kok 'gitu' sih?"
"Gitu gimana?"
"Itu... nyureng terus..." FYI, nyureng = mengerutkan pangkal alis, ekspresi yang biasanya muncul saat orang lagi mikir. Tapi kalo dalam kasus si ibu ini, ekspresinya lebih mirip orang kejepit.
"Ya biarin ajalah, terserah dia mau nyureng atau enggak."
"Kakinya ketindihan kardus si mas yang di sana itu ya?"
"Enggak."

Beberapa saat lagi berlalu.
"Suamiii...."
"Apa sih!"
"Aku pusing liat dia nyureng gitu terus!"
"Pusing kenapa sih?"
"Akunya jadi ingin ikutan nyureng..."
"Aneh-aneh aja sih istriii..."
"Beneran, aku jadi ikutan pusing... aduuh... kapan sih ibu itu mau turun?!"

Nggak lama kemudian...
"Alhamdulillaah... suamiiii... ibu itu turun..."
"..."
"Huuuf... akunya jadi lega..."
"..."
"SUAMIII..!!! KENAPA SEKARANG KAMUNYA IKUTAN NYUREENG...!!"

Huahahaha... sekarang gue punya cara baru untuk mengintimidasi istri, yaitu cukup dengan 'nyureng'.... istri yang aneh...

Gambar dipinjem dari picturequest

Photo Albumhappy birthday tante winda! (38 photos)Jun 26, '07 11:01 AM
for everyone

Tanggal 25 Juni kemarin, gue, Ida dan bayi Rafi lagi mudik ke Bandung. Kebetulan, hari itu Winda ultah. Telepon punya telepon, kami janjian ketemuan di Paris van Java dan cihuy... ditraktir makan di zenbu!

Bukan cuma ditraktir, pulangnya dianterin pulak sampe rumah. Namanya ada tamu harus dihibur, apalagi tamunya lagi ultah, maka kami menhibur Winda dengan memanggil... topeng monyet!

Bayi Rafi awalnya seneng banget liat topeng monyet, tapi lama-lama jadi takut waktu monyetnya jadi agresif ngejar-ngejar gue dan Winda. Kayaknya tu monyet tersinggung setiap kali dibidik pake kamera. Entahlah, mungkin dia anggota Nikon club.

Anyway, happy birthday tante Winda, semoga sukses lahir-bathin, dan dunia-akhirat... amiiin...!

Photo AlbumBlitz Megaplex bersama tante winda (13 photos)Jan 7, '07 11:02 AM
for everyone

wuah, ini albumnya udah telat banget, tapi mendingan telat daripada enggak sama sekali, kan?

Sabtu 18 November 2006, Tante Winda berkunjung ke rumah neneknya bayi Rafi di Bandung. Setelah acara foto-foto, giliran bapak dan bundanya bayi Rafi nyulik tante Winda ke Paris van Java - tempat penongkrongan baru di Bandung - yang rupanya pas hari itu lagi grand opening. Wuah, manusia di mana-mana, puenuuuuuh... banget! Untung tante Winda udah parkir mobil duluan di Hotel Sukajadi.

Terima kasih ya tante Winda, udah mau diculik bapak dan bundanya Rafi cari hiburan di malam minggu yang indah :-)

Blog Entrysikap yang positifJan 7, '07 10:41 AM
for everyone
harga-harga naik...

jalanan macet...

kerjaan numpuk...

banjir...

genteng bocor...

internet lemot...

anak sakit...

putus cinta...

boss resek...

mungkin sebagian dari kita pernah mengalaminya.

hidup terasa berat, bikin patah semangat.

tapi, kita harus tetap menjaga sikap yang positif, yaitu sikap...




ingat, pake "F" ya... biar aPdol gitu loh

foto diambil di perempatan selepas tol Pasteur

truk Bandung tea...!

huhuhu...tetap semangat!

Blog Entrytips kunjungan efektif dan efisien ke BandungSep 17, '06 12:04 PM
for everyone

Banyak orang yang berkunjung ke Bandung untuk liburan mengeluh, "Kenapa sih orang2 pada seneng banget jalan2 di Bandung, isinya cuma macet gitu! Kalo mau nyari macet sih di Jakarta juga banyak, nggak usah jauh2 ke Bandung!"

Sebagai penggemar kota Bandung, gue tentunya sangat prihatin mendengar keluhan ini. Untuk menikmati Bandung dalam waktu yang singkat, kuncinya sebenernya hanya pada masalah timing dan penentuan rute. Kalo kedua hal ini disiasati secara tepat, gue jamin kunjungan ke Bandung lo akan efektif, efisien, dan menghasilkan.

Sebelum jalan-jalan ke Bandung, sebelumnya tentukan dulu tujuan lo, mau ngapain di sana? Biasanya sih orang main2 ke Bandung untuk 2 hal: nyoba makanan enak, dan belanja baju murah. Kalo memang kedua hal itu yang jadi tujuan lo, coba deh panduan gue berikut ini:

Hari: Sabtu
Kenapa harus hari Sabtu? Karena di hari Minggu ada pasar kaget di Gasibu, yang mana akan menimbulkan kemacetan di banyak titik - mengingat lokasi itu ada di tengah kota. Lagipula kalo ternyata lo capek setelah muter2 seharian, lo masih bisa punya pilihan untuk buka kamar dadakan di hotel terdekat - not recommended di bulan2 liburan sekolah atau waktu long weekend. Nggak akan dapet!
05.00 Lo harus udah mulai masuk pintu tol di Jakarta, minimal pintu tol di seputaran Cawang. Silakan atur sendiri mau berangkat jam berapa dari rumah biar bisa sampe pintu tol jam segini.
07.00 Kalo elo berangkat tepat jam 5, maka jam segini biasanya udah mulai masuk pintu tol Pasteur. Tujuan pertama: ke Prima Rasa cabang Kamuning. Rute yang lo ambil: keluar tol, lurus naik fly-over, turun menjelang Dago, belok kanan untuk mengarah ke Dago bawah, belok kiri di Jl. RE Martadinata (Riau), masuk ke jl. Kamuning lewat Gandapura. Jam segini lo bisa memilih kue yang lo mau secara nyaman dan manusiawi. Telat 1 jam aja, siap2 ketemu antrian ibu2 kalap berebut brownies. Oleh2 yang bisa lo beli di sini: Brownies, Roti Pizza, Picnic Roll.
07.30 Selesai belanja di Prima Rasa. Telusuri lagi jalan Riau mengarah ke Dago. Di perempatan yang ada Kimia Farmanya, belok kanan. Belok kiri saat ada Kimia Farma lain di sebelah kiri jalan. Lo memasuki Jalan Sulanjana. Tujuan: Bubur Mang Oyo, bubur ayam terenak nomor 2 di Indonesia. Jam segini juga belum ngantri. Rekomendasi: Bubur ayam komplit dengan telur pindang dan ati ampela.
08.15 Selesai makan bubur, masih butuh oleh2? Telusuri Dago menuju ke atas. Di sebelah kiri jalan lo akan menemukan salah satu cabang Kartika Sari dan Mobil Keliling penjual Brownies Kukus Amanda.
09.00 Kalo elo menelusuri Dago sampe ke Mobil Keliling Amanda, artinya lo mencapai titik yang udah rada atas (mendekati simpang besar Dago). Puter balik di sekitar situ, mengarah lagi ke Dago bawah. Sekarang waktunya belanja di FO. Parkir mobil lo di halamannya Happening / Rich & Famous, di seberang Holiday Inn. Habis itu lo nyeberang, cegat angkot yang mengarah ke Dago atas. Pilih aja angkot yang bertuliskan "Dago" di kaca depannya - jangan kuatir, dia nggak akan melenceng ke mana2.

Lho, ngapain mondar-mandir? Supaya waktu lo nggak habis untuk keluar masuk parkiran, cukup parkir mobil di FO yang letaknya paling ujung.

Gue sarankan lo mulai berkelana di FO yang di sebelahnya Grande (gue lupa namanya). Di sana jual jeans murah2 BANGET. Jangan lupa mampir di Victoria kalo mau beli kaos unik Mahanagari. (updated: Mahanagari-nya udah pindah, sorry) Kalo hobi ngumpulin mobil2 miniatur, mampir deh ke Gift Shop Celebrate. Koleksinya banyak, dan kalo lo beruntung ketemu dengan pemiliknya, lo bisa diajak masuk ke ruang penyimpanan khusus di lantai atas. Di sana dia punya banyak stok yang nggak pasaran dengan harga lebih murah dari di Jakarta!

11.00 Jam segini biasanya tingkat kepadatan FO udah mulai 'mengerikan'. Segera keluar dari sana, selesai tidak selesai kumpulkan di kasir. Kalo lo belum mencapai titik yang deket dengan tempat parkir lo, segera cegat angkot yang pertama lewat. Ambil angkot yang jalurnya lewat BIP.
11.15 Waktunya makan siang, tujuan Bakmi Akung. Ambil jalur Dago turun terus sampe Merdeka, luruuus terus sampe mentok di pertigaan Hotel Panghegar, belok kiri, luruuus lagi ngelewatin Jl. Veteran alias Jl. Bungsu. Nyeberang Jalan Sunda sampe mentok dan arus lalu lintas mengarah ke kanan ke arah simpang 5. Ikuti arus, di sebelah kiri akan terlihat jejeran toko sepeda. Di simpang 5, belok kiri ke arah Gatot Subroto. Belok kanan di monumen tank mungil segede starlet terus luruuuus terus ikutin jalan besar (di sebuah titik jalan akan memecah 2, ikutin jalan yang besar). Lo akan menemukan Mi Akung di sebelah kiri jalan, menjelang perempatan besar.

Kalo lo berhasil mencapai tempat ini sebelum jam 12, lo beruntung. Setelah jam tsb lo bisa cengok nungguin antrian tempat. O iya, di sini juga tersedia musholla. Sekalian aja sholat di sini.

13.00 Cabut dari Mi Akung, lo puter balik menelusuri jalan arah lo dateng tadi. Pasang mata ke arah sebelah kanan jalan, siap2 ketemu Batagor Riri. Kalo udah ketemu, parkir aja di sebelah kiri jalan, jangan puter balik. Inget, timing is critical. Beli batagornya dibungkus aja, ga usah makan di sana. Pastinya udah kenyang makan mi, kan?
13.30 Teruskan perjalanan menelusuri jalur kedatangan lo tadi sampe ketemu simpang lima. Belok kanan menuju jalan Sunda. Luruuuuusss sampe mentok di sebuah taman besar. Belok kanan. Lihat di sebelah kiri, setelah taman ada belokan ke kiri pertama. Cuekin aja. Lanjut terus, belok kiri di belokan ke dua (setelah GOR Saparua). Luruuuus sampe ketemu perempatan besar, di sebelah kiri ada The Summit, di sebelah kanan ada Heritage. Lo parkir di The Summit. Nah, belanja deh di situ.

Di jam segini tingkat kepadatan FO udah mendekati histeris, tapi santai aja. Tas belanjaan lo udah terisi sebagian dari hasil perburuan di Dago, kan? Tempat yang perlu dikunjungi di deretan FO Jl. Riau ini adalah Heritage, Summit, dan For Men. Boleh Juga mampir di Edward Forrer di seberang Summit. JANGAN mampir di Coralia, Renariti atau China Emporium - buang2 waktu aja.

16.00 Lo akan butuh waktu lebih lama untuk belanja sore ini, jadi baru selesai sekitar jam 4 sore. Sekarang waktunya minum2 yoghurt dingin di Cisangkuy. Telusuri Jl. Riau ke arah Jl. Laswi (arah sebaliknya bila menuju Dago). Belok kiri kalo di sebelah kanan ada KFC. Lo akan ketemu mesjid besar bernama Istiqomah. Belok kanan di depan mesjid itu, terus luruuus sampe ketemu SMA 20 di sebelah kiri. Belok kiri setelah SMA itu. Luruuuus ikutin jalan, nah, gue rada lupa nih belokan ke berapa - lo tanya aja sama tukang kuda yang banyak mangkal di situ. Cisangkuynya udah nggak jauh.

Buat yang nggak doyan yoghurt (spt gue) lo bisa pesen milkshake juga di Cisangkuy.

17.00 Cabut dari Cisangkuy. Mungkin lo belum terlalu lapar sekarang, tapi perjalanan menuju tempat makan malam terbaik harus dimulai dari sekarang. Tujuan: makan malam di Sierra, Dago Pakar. Keluar dari jalanan yang ada Cisangkuynya itu, lo akan ketemu dengan jalan Diponegoro. Ikutin jalan itu luruuuus.... nanti lo akan ketemu perempatan Sulanjana - Dago. Belok kanan di sana, menuju ke atas. Luruuuuus aja. Ikuti petunjuk jalan, ada banyak sign menuju Sierra.

Kalo karena satu dan lain hal lo baru bisa nyampe di titik ini setelah jam 18.00, mending batalin rencana ke Dago Pakar daripada kelaparan di jalan. Akan sangat macet dan ngantri. Mending sebelum perempatan Dago - Sulanjana lo belok kiri ke jalan Maulana Yusuf. Di sana ada sate terenak di Indonesia, menyediakan sate ayam, kambing, sapi, ati-ampela, usus, dan kulit. Komplit!

18.00 Kalo timing lo pas, jam segini lo udah sampe di Sierra. Ambil tempat duduk di teras, biar bisa liat pemandangan lampu2 kota Bandung. Nikmati juga pemandangan orang2 yang telat dateng dan nggak kebagian kursi sambil nganga kelaparan :-) Bisa juga numpang sholat maghrib di sini.
19.30 Kenyang makan, telusuri rute kedatangan lo tadi untuk turun balik ke Bandung. Di simpang besar Dago (yang ada Mc D di sebelah kanan) belok kanan. Kalo lo ambil lurus, lo akan terjebak di kemacetan parah Dago setiap malam minggu. Setelah belok kanan, telusuri jalan turun melewati Cihampelas. Silakan mampir kalo mau beli jeans atau beli baju2 army look di seberang Ci-Walk. Setelah menyusuri Cihampelas, lo akan ketemu jalan layang. Belok kanan di situ, lo udah menuju Jakarta.

Selamat jalan2 di Bandung!

Foto dari sini

Google Custom Search

Blog EntryTrip to Bandung: makna standby di IndonesiaSep 17, '06 11:33 AM
for everyone

"Suami lagi ngapain...?"
"Lagi standby."
"Standby untuk apa?"
"Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."

Cerita berawal beberapa minggu yang lalu, di mana boss di kantor merencanakan untuk menggelar workshop penyusunan budget 2007 di Bandung. Tadinya yang ditunjuk sebagai panitia urusan akomodasi adalah temen gue yang bernama Nanda, tapi karena ybs sakit pada saat-saat genting menjelang hari-H, maka guelah yang mendapat "kehormatan" menduduki "tahta" sebagai seksi akomodasi.

Singkat cerita, dengan perjuangan yang sulit dan berliku, akhirnya gue berhasil membooking hotel Bilique di bilangan Setiabudi Bandung. Boss menugaskan gue melakukan seluruh proses booking, tapi guenya nggak perlu ikut workshop. Nanti saat workshop berlangsung, gue tinggal oper urusan akomodasi di lapangan kepada the one and only Oom Jo.

Tanggal 11 September, sehari sebelum para peserta dijadwalkan mulai check-in ke hotel, seluruh urusan booking hotel dan ruang meeting udah gue beresin dari Jakarta, termasuk booking restoran2 tempat makan malam. Gue udah happy aja ngebayangin mulai tanggal 12-16 September kantor akan kosong yang mana merupakan iklim yang sangat kondusif untuk makan siang secara molor dan pulang kantor secara on-time. Sementara itu, Om Jo kebagian tugas menjemput boss yang baru pulang dari luar negeri (Thanks God kali ini dia nggak makan indomie sebelum berangkat).

Dalam perjalanan dari bandara menuju kantor, terjadi perbincangan yang kurang lebih berbunyi sbb:
"Jo, gimana hotel, udah beres?"
"Udah mbak."
"Jadinya kita pake berapa kamar?"
"Hmm... lupa. Daftarnya ada di Agung."
"Trus nanti kita makan malam di mana aja?"
"Tauk ya. Agung tuh yang atur."
"Mobilnya cukup nggak nih untuk ngangkut peserta dari hotel ke restoran?"
"Cukup kali ya? Daftarnya ada di Agung."
"Haduuuuh....gimana sih ini, jadi nggak tenang saya, ya udah kalo gitu Agung besok diajak aja ke Bandung!"

=GUBRAXXXXX!!=

Seandainya si boss mau nunggu beberapa puluh menit lagi untuk menanyakan pertanyaan2 tsb di kantor.... tapi ternyata takdir menentukan lain. Maka besokannya berangkatlah gue ke Bandung diiringi derai air mata istri yang seumur-umur pernikahan belum pernah ditinggal lebih dari 1x24 jam. Setelah gue sampe di Bandung, terjadilah pembicaraan telepon di awal posting ini.

"Suami lagi ngapain...?"
"Lagi standby."
"Standby untuk apa?"
"Istri... istri... rupanya kamu belum memahami konsep standby ya..."

Jadi begini ya, istri. Di Indonesia dikenal sebuah kegiatan bernama "standby". Untuk lebih jelasnya tergambar dari jadwal kegiatan gue selama di Bandung berikut ini:

12 September 2006

18.00 Sampe di Bandung mendahului rombongan untuk 'mempersiapkan segala sesuatu' (yang mana udah siap dari kemarin). Makan malam di Suis Butcher Setiabudi. Menu: Chicken Cream Soup dan Tenderloin steak. Beli Tiramisu juga, dibungkus.
19.30 Sampai di hotel Bilique, ngecek ruang meeting yang akan dipake besok. Ada sedikit kesalahan lay-out ruang.
23.00 Kesalahan lay-out ruang berhasil diperbaiki oleh pihak hotel. Gue balik ke kamar, standby sambil main game di laptop. Makan Tiramisu.

13 September 2006

01.00 Rombongan dari Jakarta sampe di hotel. Ngobrol-ngobrol sambil ketawa-ketawa. Bikin desain kartu ucapan terima kasih bagi peserta meeting hari pertama.
03.00 Tidur
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, "nyetak digital ucapan terima kasih buat peserta". Berangkat naik angkot ke Balubur.
10.15 Selesai nyetak digital di Balubur, jalan-jalan ke warnet Atheroz di Sulanjana. Ngempi.
11.30 Mulai lapar. Pergi dari Atheroz menuju resto "Nyonya Rumah" di Tirtayasa. Eh, kebetulan di tengah jalan ketemu mertua. Nemenin mertua makan ikan bakar di jalan Diponegoro sambil ngobrol ketawa-ketawa.
12.30 Mertua selesai makan ikan, gue melanjutkan perjalanan ke Nyonya Rumah. Makan sate campur gado-gado lontong... hmmm... yummy.
13.45 Selesai makan siang, balik ke hotel.
14.15 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 HP bunyi, dari Oom Jo di ruang meeting. "Friend, kita lagi coffee break nih, banyak makanan." Turun ke ruang meeting, nyemil sambil ngopi.
16.30 Balik ke kamar, melanjutkan standby sambil bobo siang.
18.00 Mandi, siap2 makan malam
19.00 Makan malam BBQ di depan api unggun. Steaknya empuk dan sedap. Gue makan 3 potong.
21.00 Jalan2 ke Kampung Daun, booking tempat untuk acara makan malam besok.
23.00 Balik ke hotel, orang2 lagi pada karaokean. Ikutan nyanyi sampe serak.

14 September 2006

02.00 Capek karaokean, pindah ke Famestation nonton band.
03.00 Balik ke kamar hotel, tidur.
08.30 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Mengemban misi, "mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke dua". Berangkat naik angkot ke Balubur. Kenapa nggak sekalian dicetak kemarin? Supaya hari ini ada alasan jalan2, gitu loh.
10.00 Selesai nyetak, jalan2 ke warnet Atheroz. Ngempi.
11.30 Lapar. "Hmmm... makan siang di mana ya?" Oh iya, besok kan rombongan mau makan malam di Bumbu Desa, kalo gitu makanannya harus dibooking dari sekarang dong. Berangkat ke Resto Bumbu Desa Pasir Kaliki untuk ngatur menu.
11.40 Pas lagi nunggu angkot mendadak timbul ide, "jalan2 dulu ah ke toko Celebrate Dago, liat2 mainan".
12.20 Puas liat2 mainan, betulan berangkat ke Bumbu Desa PasKal, pesen makanan.
12.50 Selesai urusan di Bumbu Desa, jalan2 di Istana Plaza cuci mata.
13.30 Makan siang di resto "The Taste". Menu: Nasi tutug oncom dengan dada ayam goreng kering. Hmmm... yummy....
14.00 Selesai makan siang, beli donat J.Co buat cemilan di hotel. Balik naik angkot.
14.30 Sampe di hotel, standby sambil bobo siang.
15.00 Boss nelepon dari ruang meeting "Gung, kamu ada di mana?"
"Di kamar, kenapa mbak?"
"Ooo... kirain udah pulang ke Jakarta, abis perasaan selama di sini saya nggak pernah ketemu kamu."

Huhuhu... nyindir niii....

16.00 Siaran ulangan. "Coffee break friend...". Turun ke ruang meeting, numpang nyemil doang, naik lagi ke kamar, nerusin bobo siang.
18.00 Mandi dan siap2 makan malam.
19.00 Makan malam di Kampung Daun. Menu: karedok, sate ayam dan kambing, gurame bakar. Selesai makan dilanjutkan dengan ngobrol ngalor-ngidul, sambil cengengesan.Standby.
22.00 Bersama rombongan balik ke hotel.
22.30 Karaoke lagiiii....

15 September 2006

03.00 Selesai karaoke, tidur.
08.00 Sarapan pagi di coffee-shop hotel. Ngopi-ngopi. Ngerokok. Baca koran.
09.30 Kembali mengemban misi, "mau nyetak desain ucapan terima kasih untuk peserta meeting hari ke tiga". Kali ini beberapa temen gue kebetulan mau belanja di FO Dago. Nebeng sampe Dago.
10.00 Selesai nyetak, nongkrong minum Capucinno Blazt di FO Uptown bareng temen2.
12.00 Sholat Jumat di mesjid Salman ITB.
13.30 Balik ke hotel, standby sambil bobo siang.
16.00 Biasa... coffee break.
18.00 Boss mengadakan meeting kecil dengan panitia, say thank you atas partisipasi dan "kerja keras"-nya. Peserta ternyata langsung membubarkan diri, acara makan di Bumbu Desa dibatalkan.

16 September 2006

10.00 Pulang ke Jakarta, bawa oleh2 kue Prima Rasa.

Atau berdasarkan definisi, "standby" di Indonesia berarti:

stand.by /[stænd-bahy]/
-verb, noun, adjective, slang.
Kata lain untuk kegiatan nongkrong-nongkrong, ketawa-ketawa, ngerokok, tidur-tiduran, main-main, serta kegiatan kontra-produktif lainnya sebagai akibat dari ketidakjelasan pengaturan tugas dan/atau saat seseorang dilibatkan dalam sebuah kegiatan yang sama sekali tidak memerlukan kehadirannya. Merupakan kegiatan yang paling digemari serta paling dikuasai oleh orang Indonesia.

Contoh lain aplikasi istilah "standby":

  • Kalo di kelurahan lagi ada acara panggung tujubelasan, lantas semalam sebelum hari H para pemuda setempat kedapatan ngobrol ngalor ngidul semaleman di lokasi acara, sambil ngopi dan ngemil kacang asin, maaf, mereka bukannya lagi iseng. Mereka lagi standby.
  • Kalo lagi ada acara bakti sosial yang butuh kegiatan mengangkat-angkat barang sumbangan tapi ternyata ada sebagian peserta yang bukannya bantuin nggotong malah nongkrong sambil cengengesan, maaf, mereka bukannya males. Mereka sedang sibuk standby.
  • Kalo abis lebaran orang pada masuk kantor cuma buat salam-salaman dan ngemil lapis legit serta bertukar pengalaman mudik dilanjutkan dengan browsing detik.com sampe sore, mereka bukannya kurang kerjaan. Lha itu, mereka lagi repot-repotnya standby.

Jadi, standby ya standby, nggak perlu penjelasan standby untuk apa - yang penting standby, gitu loh istri.... jadi jangan sirik yah kalo suami 4 hari terkesan cuma tidur2an dan piknik dibayarin kantor, ini suami lagi sibuk standby...

Foto dari sini

Photo AlbumOleh-oleh Pasar Seni ITB 2006 (63 photos)Sep 11, '06 12:51 PM
for everyone

Ikutan aaah.... kayaknya lagi pada rame nih upload foto Pasar Seni ITB 2006.

Hari Minggu 10 September 2006 kemarin, gue, istri, Ade dan Bayu piknik bersama ke pasar seni ITB. Penuhnya ngujubilah, tapi berhubung acara ini cuma ada 5 tahun sekali, yah... dibela-belain deh.

Di sana janjian ketemuan Winda dan Tei, dan pas udah sorean ketemu juga dengan rombongan MPers lainnya.

Dibandingin sama Pasar Seni ITB sebelumnya (2000), Pasar Seni kali ini terasa lebih 'ala kadarnya'. Pemanfaatan area yang jauh lebih sempit, serta wahana permainan yang kalah lucu. Tapi sebagai sebuah event, Pasar Seni tetap istimewa. Gue yakin dengan segala keterbatasannya sekarang masih mampu menghibur penonton.

Ini dia foto-foto kami selama di sana, cerita lengkapnya ada di keterangan masing-masing foto ya!

Photo AlbumNongkrong di Oh La La Dago (5 photos)Sep 4, '06 10:21 AM
for everyone

Utang lama nih.... Sabtu 19 Agustus 2006 di tengah libur panjang bagi masyarakat umum namun tidak bagi kami, pergilah kami ke Bandung setelah sekian bulan nggak menginjak kota kesayangan gue ini.

Malemnya, acara ketemuan di Oh La La Dago dengan Winda, Tei, Kurrz, dan temennya (btw sebenernya nama temennya siapa sih - abis waktu kenalan ngomongnya bisik2... hehehe).

Topik pembicaraan malam itu, selain updating gosip seputar MPers, juga pembahasan sejumlah 'prospek' yang saat ini 'belum' jadi gosip namun diduga keras 'akan'. Untuk lengkapnya silakan PM ke Tei deh (sok rahasia tapi nyusahin orang hehehe... maap ya Tei).

Photo AlbumWarung Sate Shinta in pictures (7 photos)Aug 21, '06 1:14 PM
for everyone

Foto-foto Warung Sate Shinta, resto baru di seberang gedung Pusda'i Bandung. Reviewnya bisa dibaca di sini.

ReviewReviewReviewReviewWarung Sate ShintaAug 21, '06 1:10 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Eclectic
Location:Jl. Diponegoro 54, Bandung
Setelah sebelumnya dihuni oleh resto "Bawang Merah" yang "heboh" itu (baca reviewnya di sini, lo akan ngerti apa yang gue maksud dengan "heboh"), sepetak tanah di seberang gedung Pusda'i kembali berganti penghuni. Hm.. kenapa ya di lokasi yang sepintas keliatan strategis ini justru banyak usaha yang gagal?

Penghuni baru di sini bernama "Warung Sate Shinta" (selanjutnya gue tulis WSS). Konon sih resto ini cabang dari Cipanas Puncak, cuma berhubung gue jarang main ke puncak gue nggak tau juga seberapa ngetop dia di sana.

Sesuai namanya, tentu aja menu andalan di sini adalah sate. Ada 3 jenis sate yang ditawarkan, yaitu ayam sapi dan kambing. Gue coba yang ayam dan kambing.

Ciri khas yang langsung terasa dari sajian sate mereka adalah aroma kari di bumbunya. Sate memang salah satu hidangan yang lumayan susah untuk dimodifikasi tanpa melenceng dari 'pakem' - dan menurut gue yang dilakukan oleh WSS cukup berhasil. Ukuran satenya juga pas, dan dibandingkan dengan Sate Has Senayan (d/h Satay House Senayan), satenya WSS lebih terasa 'asli' dan 'pinggir jalan' walaupun disajikan di atas hotplate.

Selain sate, buku menu WSS juga memuat aneka pilihan hidangan mulai dari sup asparagus, karedok, hingga steak. Gue cobain soup unik yaitu campuran antara sup asparagus dan sup ayam. Waktu terhidang, kedua jenis sup itu berdampingan tanpa bercampur dalam satu mangkok. penampilannya jadi unik, belang putih - hijau di dalam mangkok. Gimana cara nuangnya ke situ ya?

Urusan penampilan kayaknya cukup mendapat perhatian di sini. Mulai dari tuangan kecap di atas saos kacang yang cukup 'artistik', hingga bentuk cetakan nasi putih yang mirip tumpeng mini. Lucu juga.

Faktor minus yang menghalangi gue untuk ngasih 5 bintang ke resto ini adalah jumlah laler yang masih tetep aja segambreng seperti waktu jamannya "Bawang Merah" dulu (emang kenapa sih dengan lampu2 penangkap laler itu? udah nggak ngetrend atau gimana?) dan waktu tunggu yang relatif lama - sekalipun gue berkunjung bukan di jam sibuk.

Foto-foto lainnya tentang resto ini bisa diklik di sini.


ReviewReviewReviewReviewReviewSierraJun 24, '05 3:18 PM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Eclectic
Location:Dago Atas, Bandung
Sebagai orang yang udah menjelajahi Bandung lebih dari 10 tahun,* gue cukup surprise waktu baca reviewnya Rani yang ini tentang Sierra, resto yang gue sama sekali belum pernah denger sebelumnya. Gue emang belum nyobain semua tempat di Bandung sih, tapi biasanya sekalipun belum pernah ngedatengin, paling enggak gue pernah denger namanya. Makanya gue penasaran banget pingin liat kayak apa tempatnya, apalagi Rani ngasih 5 bintang gitu di reviewnya.

Sialnya, di banyak kesempatan gue ke Bandung setelah review itu online, adaaa aja halangannya sehingga gue batal ke Sierra. Yang lagi nggak bawa mobil lah (tempatnya susah dijangkau pake kendaraan umum), yang mendadak pingin nyoba tempat lain lah, yang nggak sempet lah... Sampe akhirnya pas minggu lalu gue ke Bandung, kesampean juga gue ke sana.

Dari tampak luarnya aja resto ini cukup mengesankan. Seperti jamaknya view restaurant lain di Bandung, dia menjual pemandangan kota Bandung dari ketinggian. Dan mulai lo masuk ke parkiran pun lo udah disuguhi pemandangan yang bagus banget. Perlu dicatet juga, gue ke sana siang2. Gue yakin kalo malem2 pasti pemandangannya lebih bagus lagi!

Konsep bangunannya serba minimalis, dengan jendela2 setinggi ruangan yang bikin suasana jadi lebih alami. Lo bisa pilih, duduk di dalem atau di balkon yang mengelilingi resto ini. Dengan adanya jendela2 yang segede-gede gaban** itu, lo tetep bisa menikmati pemandangan sekalipun duduknya di dalem.

Sekarang tentang menunya. Mereka menyajikan berbagai jenis masakan, ada Indonesia, Eropa, sampe Jepang. Gue pesen Chicken Sierra. Sajiannya berupa ayam goreng yang diisi bayam... unik banget. Dan enak juga, dengan porsi yang melegakan bagi orang yang telat makan seperti gue waktu itu. Makanan yang dipesen Ida gue lupa namanya, pokoknya sejenis pasta gitu deh. Enak juga. Sup krimnya pake roti gembung di atasnya, ala Zuppa-Zuppa, tapi di menu namanya bukan Zuppa-Zuppa. Apa, gitu, lupa gue. Yang jelas enak. Cara penyajiannya juga cukup diperhatikan, jadi selain bikin kenyang juga enak dilihat. Yang paling mengesankan buat gue, pramusajinya cukup ramah dan punya product-knowledge yang memadai. Penyakitnya view-restaurant lain di Bandung seperti the Peak, the Valley, atau Kampung Daun adalah pelayanannya yang buruk. Kemungkinan karena nggak usah dilayani dengan baik aja orang udah pada mau dateng dengan motivasi ingin menikmati keindahan pemandangan. Contohnya salah satu kejadian yang bikin gue males dateng lagi ke the Valley: sekitar jam 11 gue manggil waiter untuk mesen minuman dan dijawab dengan fungkeh banget "Udah last order pak, tadi kan udah dibilangin!" Idih, kapan dia ngomongnya sama gue??

Anyway, balik ke Sierra, dengan segala plus point tersebut, harga makanannya juga terjangkau banget. Rata2 20 ribuan, walau ada juga sih steak yang 80 ribuan.
Kesimpulannya: highly recommended banget, Sierra adalah tempat yang wajib dikunjungi kalo ke Bandung, dan the Valley adalah tempat yang wajib dihindari.

Foto: pemandangan dari balkon Sierra, diperagakan oleh model.
*hiperbola banget, kenyataannya cuma 2 bulan di tahun 91, 2 minggu di tahun 93, 3 hari di tahun 97, dan seminggu-seminggu di setiap tahun sesudahnya.
**sebuah ungkapan yang kurang tepat sebenernya, karena gaban itu gak gede2 amat. Nggak segede robotnya Goggle V atau Godzilla, yang jelas.Klik di sini untuk mengunjungi situs tentang serial Space Cop Gaban.


Blog EntryHotel-hotel di BandungJun 19, '05 1:04 PM
for everyone

Dengan semakin dekatnya acara tanggal 3 Juli nanti, ini gue post beberapa info tentang hotel di Bandung. Siapa tau berguna.

Jarak yang gue tulis di sini adalah jarak dari hotel menuju lokasi resepsi, dalam satuan waktu. Karena tau sendiri, dengan kemacetan bandung yang kaya gitu, jarak deket bisa aja waktu tempuhnya lama. Jarak waktu yang gue tulis di sini udah dengan estimasi situasi kemacetan di hari Minggu siang, di mana jalan2 kota Bandung akan sangat padat oleh mobil2 ber-pelat B

Semua harga yang gue tulis di sini net, termasuk pajak.

Hotel Santika
Lokasi: deket BIP
Jarak: 25 menit lewat Dago, belok di Surapati trus luruuus...
No. telp: 022-4203009.
Ini adalah hotel dengan service paling T-O-P di Bandung, menurut gue. Strategis, makanan enak, pelayanan ramah. Sampe tukang listriknya aja bilang selamat pagi kalo ketemu tamu.
Cuma published rate-nya emang rada mahal: sekitar 500-600 rb termasuk breakfast. Terakhir nanin booking di sana, masih dapet kamar.

Hotel Baltika
Lokasi: Gatot Subroto, sejurusan sama Bandung Super Mal
Jarak: 30-40 menit
No. telp: 022-7313331
Ini best-value, dalam arti murah dengan tempat lumayan strategis, ukuran kamar gede, dan bersih dalam arti suasana nggak (terlalu) mesum. Buat yang matanya sensitif gue sarankan bawa sunglasses, krn korden kamarnya warna pink doger. Oh iya, berhadiah sandal jepit warna ijo.
Published rate murah meriah 160-175 rb nggak termasuk breakfast dan dia emang nggak serve breakfast (th 2004). Dan dengan published rate segitu, jangan expect kasur yang terlalu nyaman. Kasurnya busa (bukan spring bed), sehingga kalo bangun tidur suka bikin punggung pegel linu.
Ini hotel laris banget, mungkin udah sold out, tapi coba aja. Kadang kalo lagin peak season mereka suka males dibooking, takut tamunya nggak dateng. Jadi kalo nelp ke sana, bilang lo bersedia bayar di muka via transfer.

Hotel Papandayan
Lokasi: di seberang hotel Baltika
No. telp 022-7310799
Jarak: 30-40 menit
Untuk ukuran hotel bintang 4, dia termasuk murah. Published rate 400-500 ribu termasuk breakfast. Fasilitasnya ada kolam renang gede dan fitness center. Walaupun kolamnya suka rada ijo airnya, dan fitness centernya cuma ada 3 potong alat beban, 1 speda stasioner dan 1 treadmill, yang penting kan ada. Kamarnya juga lumayan luas, dan pelayanannya hampir seramah Santika. Menu sarapannya enak.

Hotel Utari
Lokasi: Dago, di seberang Dago Plaza (sebelah Dago Stock Export, deket perempatan Sulanjana tempat Mang Oyo)
Jarak: 20 menit
No. telp 022-4206810
Harga 200-250 rb, kl mau pake makan pagi tambah sekitar 40 rb-an. Jenis kasur sama dengan Baltika, bikin sakit punggung.
Fun fact: di balkon hotel ini gue pernah berfoto, terus fotonya gue post di friendster, dan jadi awal pembicaraan waktu pertama kali kirim2an message sama Ida
"Itu fotonya di mana sih, kok kayaknya tempatnya romantis"
"Itu di Utari, Bandung."
"Oh ya? Kok aku nggak ngenalin yah"
dst dst dst :-)
Sekarang, foto di profil friendster gue udah gue ganti. Lokasinya tetep sama, di balkon Utari, tapi kali ini bareng Ida...

Hotel / Apartemen Provence
Lokasi: Geger Kalong
Jarak: 1 jam-an (jauuuh dan ngelewatin bbrp titik macet)
No. telp 022-2010959, 022-2013907, 022-2013786.
Ini tempat paling cocok untuk pergi rame2. Dia sediain 2 jenis kamar, kamar 'apartemen' dan hotel. Jangan bayangin apartemen bertingkat banyak seperti apartemen rasuna, karena bangunannya cuma 2 lantai.
Yang apartemen itu tdd 2 kamar tidur, ruang tamu termasuk tv, 2 kamar mandi, dan dapur termasuk tabung gas elpiji dan air galonan. harga 400 rb (th 2003) termasuk makan pagi nasi goreng/roti dan kopi / teh untuk 4 orang, dianter ke kamar. Lumayan enak juga nasi gorengnya. Nggak pake AC, tapi berhubung lokasinya di Geger Kalong, dijamin nggak akan kepanasan deh. Kalo mau ambil extra bed seharga 175rb, kamar apartemen ini bisa ditambah kapasitasnya sampe 6-8 orang. Setiap extra bed berhak juga dapet jatah sarapan.
Sedangkan untukkamar hotel dia pasang harga 175-200 ribu, pake AC. Juga dapet nasi goreng dan teh / kopi, untuk 2 orang. Cuma yang versi hotel ini kamarnya sempit.
Konon punyanya AA Gym, makanya deket sama lokasi padepokan DT.
Fasilitas tambahan: ada kolam ikan dan ayunan, kali2 aja penting buat lo.
Kelemahannya: servicenya nggak 24 jam. Pernah suatu kali gue nyari bellboy sekitar jam 5 pagi, taunya lagi pada bobo di ruang reception. Selain itu kelemahannya ya itu tadi, lokasinya jauh banget. Mau ke outlet / distro juga jauh.

Hotel Jayakarta
Lokasi: Dago atas
Jarak: 45 menitan
No. telp 022-2505888
Published rate-nya sih gahar, 500 ribuan, tapi dia sering kasih diskon ini-itu. Terakhir gue ke sana 2003 dapet rate 200rb! Kelemahannya: sarapannya nggak enak, dan daerah macet. Keluar dari situ lo ketemu perempatan dago, nowhere to run deh. Ada kolam renang dan whirlpool segala, tapi kayaknya whirlpoolnya nggak berfungsi deh.

Hotel Bilique
Lokasi: Sersan Bajuri, masuk dari seberang terminal Ledeng, arah ke Lembang
Jarak: sulit diprediksi, yang jelas di atas 1 jam
No telp 022-2011330 Fax.022-204668
website: www.bilique-hotel.com
Dari segi desain sih ni hotel oke banget. Interiornya serba minimalis, pemandangannya dari atas bukit gitu. Liat aja di websitenya, dijamin romantis deh. Tapi lokasinya itu... jauh dari mana2.
Terakhir gue ke sana kolam renang belum jadi, nggak tau deh sekarang. Published rate sekitar 500-600 ribu.

Hotel Malya
Lokasi:Rancabentang, Ciumbeuleuit (eh, bener nggak nih gue nulisnya?)
Jarak: 50 menit - 1 jam
No telp 022-203 0333 Fax 022-203 0633
website: malyabandung.com
Gue pernah ke sini waktu namanya masih hotel Chedi. Dibayarin kantor, kalo bayar sendiri mana mampu wong roomratenya paling murah 1 juta. Tempatnya romantis banget. Karena dia ada di sisi bukit, lobbynya ada di lantai paling atas dan lantai2 lainnya ada di bawahnya. Kalo pagi lo bisa jalan2 ke bukit di deketnya, liat2 monyet.
Fasilitas: lengkap, termasuk kolam renang dan banyak bule berbikini berjemur di sekitarnya.
Kotakkue.com
Hotel Corsica
Lokasi: Supratman
Jarak: 15 menit atau kurang
No telp: 022-7214521, 022-7214591 Fax: 022-727 7255
Deket banget sama rumah Ida. Sekelas dengan Utari tapi kasurnya lebih enak walaupun sama2 kasur busa dan secara keseluruhan lebih bersih. Harga 250-275 (th 2005). Ada kolam renang ukuran super... super mini, maksudnya, karena yang muat berenang di situ cuma anak2.

Hotel Barito Sinta
Lokasi: Supratman, 20 m dari hotel Corsica
Jarak: 15 menit atau kurang
No telp: 022-721 7765, 022-727 8829, Fax: 022-727 8839
Ini hotel tak berjendela yang gue inepin bareng Sigit di journal yang ini. Nggak terlalu recommended tapi dari segi jarak paling deket sama lokasi resepsi. Ngineplah di sini kalo udah nggak ada alternatif lain.

Hotel Kedaton
Lokasi: Jl. Suniaraja, deket stasiun kereta
Jarak: 30 - 40 menit
No telp: 022-4219898, 022-4211518, 022-4211527, 022-4211534, 022-4211535, 022-4211536
Dari segi lokasi, sebenernya hotel ini cukup strategis dalam arti berada di (rada) tengah kota dan deket stasiun. Tapi pengaturan lalu-lintas Bandung yang banyak jalan satu arahnya bikin posisinya jadi serba nanggung. Jarak yang sebenernya deket, kalo ditempuh dari hotel ini akan jadi jauh karena harus muter-muter.
Pelayanannya nggak terlalu istimewa. Gue dua kali nginep di sini. Yang pertama karena dibayarin kantor, yang ke dua karena nggak dapet hotel lainnya. Get the picture? Gue nggak akan nginep di sini selama masih ada pilihan lain.

Hotel New Naripan
Lokasi: Jl. Naripan, deket Jl. Braga dan Asia Afrika
Jarak: 30 - 40 menit
No telp: 022-4204167, 022-4200636, 022-4206124, 022-4207009
Pernah denger ungkapan "Udah jelek, sombong"? Nah hotel ini contoh nyatanya.
Sekitar tahun 2000-an gue emang sering nginep di sini. Awalnya karena dikirim kantor, berikutnya jadi kenal sama salah satu pegawainya yang mau ngasih diskon lumayan banyak, akhirnya tiap liburan gue nginep di sini sampe di kantor gue sering dikatain "Anak Naripan".
Waktu itu published rate-nya sekitar 200 rb, dan gue bisa dapet 119 rb saja. Lumayan, kan?
Baru-baru ini (akhir 2004), waktu hotel2 se-Bandung lagi pada fully booked, gue iseng nanya room rate hotel ini lagi dan ternganga denger mereka pasang harga 450 ribu!
Sebagai ilustrasi: nggak ada termos listrik buat masak air, shower kadang bocor, kamar nggak pake karpet, sarapan cuma 2 menu (nasi goreng atau soto atau rawon atau tumis sayuran - pokoknya nasi goreng nggak pernah absen), pemandangan dari kamar tembok gedung sebelah, lokasi terdekar cuma jalan Braga dan kawasan red light district... kok berani2nya pasang rate segitu. Dan oh iya, sebelum Wib komentar, hotel ini juga punya reputasi rada 'miring'. Konon tamu pria yang sendirian suka diketok2 kamarnya untuk ditawari 'selimut'. Gue sih belum pernah ngalamin, walaupun beberapa kali sendirian nginep di situ.
Plus pointnya, dari hotel ini punya akses gampang (bukan berarti dekat) ke Bandung Super Mal, dan beberapa tempat makan enak seperti mi akung dan kedai nyonya rumah. Mau ke Dago juga tinggal jalan dikit dan naik angkot 1 kali.

Hotel Nyland
Lokasi: Pasteur, deket sama pintu tol
Jarak: 50 menit -1 jam (macet)
No telp: 022-6040705
Gue belum pernah nginep di sini, tapi temen gue pernah dan gue sempet main ke kamarnya.
Kondisi kamar jauh lebih sederhana dari Utari, dan emang sebanding dengan harganya yang kalo nggak salah di bawah 150rb.

Beberapa referensi lain yang belum pernah gue coba:
Hotel Gandapura, di belakang SPBU Jl Riau, deket sama pangkalnya Jl Gandapura. 022-7231201. Jarak: 20 menitan. Published rate sekitar 150 ribuan.
Hotel Sukajadi Jl. Sukajadi, deket sama FO Mooi. 022-2033888. Rate sekitar 300 ribuan. Jarak: 1 jam-an.

Daftar alamat dan telepon sejumlah hotel di Bandung juga bisa ditemukan di sini.


Blog EntryPengkhianatan di balik legenda Mang OyoJun 6, '05 2:33 PM
for everyone
Cerita ini sebenernya udah rada basi, udah lewat sebulan kejadiannya. Tapi gue pikir, informasi di dalamnya cukup penting diketahui khalayak, jadi gue tulis juga.

Seminggu setelah Ari berkelana ke Bandung bersama sang MG, gue mengajak Ida dan oknum yang saat itu sama sekali belum gue ketahui identitas rahasianya sebagai MG untuk menjajal jalan tol Cipularang. Kalo diinget2 lagi sekarang, memang terdapat kejanggalan pada diri oknum MG waktu itu. Bagaimana mungkin si MG yang setahu gue jarang piknik ke Bandung itu bisa ngerti banget soal Cipularang? Sepanjang jalan berulang kali terdengar dia berceloteh; "Nah, abis belokan yang ini akan ada anu… nanti di deket bukit yang itu kita bisa liat anu… kalo kita udah bisa liat anu, berarti udah hampir sampe…" Fasih banget.

Belakangan baru gue mafhum, ternyata itulah ekspresi orang yang tengah berbunga-bunga mengenang perjalanan cinta seminggu kemarin. Tapi.. ah sudahlah… lengkapnya baca aja di sini.

Bandung, punya sejumlah titik yang wajib gue kunjungi. Salah satunya adalah bubur Mang Oyo. Sebagaimana tercantum di review gue yang ini, tadinya gue cuma tau bubur Mang Oyo ada di deket Edward Forrer Dago sejak pindah dari H Wasid. Tapi sejak pengalaman buruk ngantri kelamaan waktu kunjungan ke Bandung yang ini, gue jadi lebih suka dateng ke cabangnya yang di Sulanjana. Tempatnya lebih nyaman, antrian lebih pendek. Tempat ini kalo malem dipake buat kafe taman, jadi settingnya juga lebih cozy tanpa bangku plastik. Kurang lebih kayak Toko Yu yang di depan RS Boromeus deh.

Waktu lagi tengah-tengah makan, tiba-tiba nongol seorang bapak berkemeja putih dan berpeci… tak lain tak bukan, Mang Oyo "the Legend" himself! Masih seperti dulu, Mang Oyo tampil menghibur pengunjung dengan joke2nya dengan perbandingan 60:40 antara yang garing dan yang lucu. Dan baru kali ini gue ngeliat langsung beliau mendemonstrasikan atraksi andalannya: membalikkan semangkok bubur tanpa tumpah!

Kebetulan beliau berdiri agak deket sama meja kami, jadi sekalian aja gue tanggap. Tanpa disengaja, baru pertanyaan pertama udah langsung menyenggol topik sensitif.
"Wah Mang Oyo, tambah banyak ya cabangnya! Buka di mana lagi sih Mang, selain di sini dan di Dago?"
Tiba-tiba wajahnya yang selalu ceria itu berubah serius. "Yang di Dago itu mah PALSU!"
"Loh, palsu gimana Mang? Saya liat yang jualan kan ibu-ibu yang itu juga, yang dulu bantuin di Haji Wasid?"
"Iya, si teteh itu kan, yang dulu bagian keuangan? Dia itu jahat, mau mematikan saya."

Ternyata begini ceritanya:
Mang Oyo pindah dari lokasi H Wasid karena udah nggak diijinkan lagi sama warga sekitar. Mungkin penghuni sana sumpek juga kali, tiap hari di depan rumah penuh mobil pengunjung. Akhirnya Mang Oyo dapet lokasi baru, di Sulanjana dan di Gelap Nyawang.
Kebetulan pada saat yang bersamaan, si teteh bagian keuangan tersebut di atas mengajukan pengunduran diri dengan alasan ingin mencoba usaha bubur sendiri, dan minta ijin pasang bandrol "Bubur Ayam Mang Oyo".

"Mang Oyo mah waktu itu ngasih aja, namanya kita kenal udah lama , udah kaya sodara sendiri."
"Saya kira si teteh itu emang sodara, Mang. Bukan ya?"
"Bukan."

Mang Oyo melanjutkan cerita:
Biar para pelanggan setia nggak kecele, Mang Oyo memasang pengumuman di lokasi lamanya di H. Wasid: "Bubur Mang Oyo pindah ke Sulanjana, Gelap Nyawang, dan Dago." Waktu baru pindah ke Sulanjana, pengunjung menurun drastis. Awalnya Mang Oyo masih maklum, mungkin orang masih belum tau. Tapi setelah cukup lama ternyata belum ada perbaikan juga, masih tetep aja sepi.

Baru belakangan Mang Oyo mencium gelagat nggak beres waktu salah satu pengunjung ada yang bilang, "Saya baru tahu Mang Oyo buka juga di Sulanjana, kirain cuma di Dago."

Lho, kan di pengumuman udah ditulis, cabangnya ada 3? Kenapa orang cuma tau yang di Dago? Mang Oyo mendatangi lokasi lamanya di H. Wasid dan menemukan, papan pengumumannya telah digantimenjadi "Bubur Ayam Mang Oyo pindah ke Dago" tanpa menyebut-nyebut cabang Sulanjana dan Gelap Nyawang.

"Mang Oyo langsung ngomong sama si teteh, Mang Oyo bilang, 'Teteh, kalo mau usaha harus yang jujur, ini kan namanya ngebohongin orang tua!' Mang Oyo nggak terima, si teteh kok begitu caranya, mematikan usaha Mang Oyo. Mang Oyo kan masih punya istri, punya anak-anak yang butuh sekolah."

Sebagai langkah korektif, Mang Oyo mencetak flyer yang dengan huruf bold yang digaris bawah menginformasikan "Bubur Mang Oyo hanya buka di dua cabang, Sulanjana dan Gelap Nyawang."

"Sekalian aja Mang Oyo tempel2in pengumuman itu di sekitar cabang Dago. Sejak itu, Alhamdulillah, orang jadi pada tau, dan di sini jadi mulai rame lagi."

Gue ternganga takjub mendengar persaingan bisnis di level bubur ayam pinggir jalan ternyata juga kejam dan penuh intrik.

"Jadi, Mang Oyo sendiri lebih banyak di sini atau di Gelap Nyawang?"
"Di sini ajalah, adem," jawab Mang Oyo yang udah kembali ke gaya ngebodornya. Mungkin jengkelnya udah reda.
"Kok nggak pake topi koki dan celemek seperti dulu Mang?" Dulu, Mang Oyo suka tampil dengan topik koki dan celemek dengan warna menyolok, berkeliling ke meja-meja pengunjung untuk ngebodor atau sekedar menyapa.
"Enggak lah, Mang Oyo udah tua. Topinya masih ada di rumah, udah dipensiun," kata legenda jajanan kota Bandung yang berjualan bubur ayam sejak tahun 70-an itu menutup obrolan.

Jadi, buat yang mau nyoba Bubur Ayam Mang Oyo, pastikan dateng ke cabang resminya ya, yaitu yang di Sulanjana dan Gelap Nyawang!

Foto bubur gue sendok dari sini.



ReviewReviewReviewReviewReviewBakmi AkungMar 28, '05 10:46 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Jl. Lodaya 123, Bandung (dekat pasar buku Palasari)
Ini bakmi terenak di Indonesia, menurut gue yang kalo ketemu makanan enak langsung ngasih gelar "terenak di Indonesia".
Cocok buat para pengunjung kota Bandung di akhir pekan yang abis pegel-linu kena macet trus kelaparan; porsinya gede bangeeeet!
Sebenernya kalo dibandingkan dengan sewaktu masih berlokasi di bilangan GOR Saparua, porsinya sekarang rada mengecil. Mungkin untuk menahan agar harga tidak naik terlalu banyak. Tapi tetep aja, terlalu gede untuk dimakan sambil mengikuti tata krama John Robert Powers. Sebagai ilustrasi, pernah pada suatu waktu gue ada tugas kantor ke Bandung, dianter sopir kantor. Akibat kena macet etc etc, kita berangkat jam 1/2 11 dan baru sampe Bandung jam 3 lewat. gue pikir, nih pak sopir pastinya lapar berat, maka langsung gue ajak ke tempat ini dan gue beliin porsi full. Eh, ternyata doi nggak sanggup loh ngabisinnya. Malah dia mencurigai gue, "Pak, ini sebenernya porsi untuk berapa orang sih?"

Pilihan menunya sederhana aja: Mi atau Bihun. Masing2 dibagi jadi 2 pilihan, biasa atau yamin (pake kecap manis). Pilihan toppingnya: Baso Pangsit Somay Tahu Ceker. Lo bebas mau pesen kelima topping tersebut atau sebagian aja. Jadi, cara nulis pesanannya kurang lebih sbb:
1 Mi Yamin BPS
1 Bihun PSC
1/2 Mi BC
dst.

Berkaitan dengan ukuran porsinya yang luar biasa itu, gue sarankan kalo lo mau nyoba kelima toppingnya, mi-nya cukup pesen 1/2 porsi aja deh, daripada mubazir.

Oh iya, prosedur pemesanannya: begitu dateng lo langsung ke kasir, minta bon pemesanan. Lo tulis deh tuh pesenan lo di bon itu, trus balikin ke si kasir. Nanti sama dia lo dikasih nomer meja. Kalo udah dapet nomer meja, lo tinggal cari tempat duduk, dan pastikan tu nomer meja ada pada posisi yang mudah dilihat. Nanti waiternya akan nganterin pesanan berdasarkan nomer tersebut.
Sedikit tips untuk yang tertarik nyoba: kalo bisa dateng sebelum jam makan siang, sekitar jam 11-an gitu. Sebab mulai jam 12 sampe seterusnya, penuhnya kaya terminal Kampung Rambutan di H-2. dan kalo udah ketemu 'peak season' kaya gitu, lo jadi serba salah: nunggu pesenan kok nggak dateng2, tapi mau ngemil sambil nunggu, takut nanti gak sanggup ngabisin bakminya.
Tentang rasa bakminya sendiri, nggak banyak yang bisa gue ceritain. Dari segi isi nggak ada yang istimewa, sebenernya. Nggak kaya bakmi lain yang suka pake jamur atau apalah sebagai pelengkap. Cuma bakmi dan ayam, dan kalo mau kelima topping yang disebut di atas. Tapi yang jelas rasa bakminya mantap banget, sedap deh pokoknya!
Harga per porsi, termasuk minum teh botol berkisar belasan ribu, nggak sampe 20 ribu perak.

Foto2 dari multiplynya windageulis

Pages:12

Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the