Agung's posts with tag: bahasa

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag bahasa
Blog Entrymas agus, rajinlah buka kamus...Jun 1, '08 10:24 AM
for everyone
Kemarin salah satu temen gue lagi browsing dan mengomentari sebuah berita sambil geleng kepala,"Homeless woman lived in man's closet for year... ada-ada aja ya..."

Berita yang dikomentarinya menceritakan tentang seorang perempuan tunawisma berumur 58 tahun di Jepang yang berhasil ngumpet di lemari penyimpanan seseorang selama setahun, tanpa ketahuan. Pemilik rumahnya mulai curiga karena sering kehilangan makanan, padahal nggak ada tanda-tanda kerusakan di pintu atau jendela. Akhirnya dia memasang kamera pengawas, dan terbongkarlah keberadaan si nenek. Berita lengkapnya bisa diklik di sini.

(btw, kalo kasus ini terjadi di Indonesia, mungkin pemilik rumahnya udah manggil paranormal, lantas rumahnya didiagnosa berada pas di lokasi taman bermain anak jin iprit sehingga solusinya harus bikin selametan dan potong kambing barang seekor. Kalo sesudahnya makanan masih aja ilang, paranormalnya bakal berkelit dengan bilang si empunya rumah PASTI udah melanggar salah satu persyaratan).

Anyway, balik ke si berita si nenek Jepang, pagi ini gue menemukan berita yang lebih menarik lagi di koran Pos Kota. Ini dia beritanya, ada di halaman 1:


Pertama
: "closet" (lemari) berubah jadi "toilet".
Ke dua: "nenek-nenek umur 58 tahun" berubah jadi "cewek".

Di bagian akhir artikel tercantum nama penulisnya, Agus W. Nah, Mas Agus, gue sarankan sampeyan mulai sekarang rada rajin buka kamus kalo lagi nyadur berita ya. Tulisan "closet" di berita ini beda lho, dengan "closet" yang  tertulis di  papan pengumuman WC umum "DILARANG MEMBUANG TISU KE DALAM CLOSET".

Dan, ehm... coba jangan terlalu sering download JAV biar fantasinya nggak mengaburkan akurasi berita :-)

Blog Entrykajian bahasa: saat yang netral jadi mesumJan 12, '08 11:53 AM
for everyone
Sehabis iseng-iseng baca posting gue sendiri yang ini tentang ocehan temen-temen kantor soal 'keluar' dan 'masuk' yang jadi ngelantur, ditambah pengamatan atas sejumlah fenomena di sekitar gue, maka timbul pertanyaan:

Kenapa ada sejumlah kata yang sebenernya bermakna netral bisa menimbulkan kesan mesum saat digabung dalam sebuah kalimat?

Contohnya sebagai berikut:

"Gila, barangnya udah besar, panjang, lagi..."

Kata "barang", "besar", dan "panjang" masing-masing memiliki makna netral, alias nggak mesum. Tapi kalo seseorang mengucapkan kalimat seperti di atas, besar kemungkinan orang-orang di sekitarnya bereaksi sama seperti habis denger omongan mesum. Bahkan bukan nggak mungkin si pembicara mendapat teguran seperti , "Hus! Ngomong apa sih!"

Tadinya gue berasumsi konotasi mesum timbul akibat subyek dalam kalimat di atas bermakna ambigu: "barang" berarti sesuatu yang "anonim" atau "nggak jelas".

Urutan logikanya adalah:
  • kata "barang" bermakna ambigu
  • kata-kata yang mesum biasanya dihaluskan dalam bentuk yang ambigu
  • kesimpulannya: kata "barang" pasti mesum.
Untuk kata-kata lain seperti "anunya" atau "Itunya", asumsi ini benar. Tapi ternyata nggak berlaku bila subyek diganti dengan kata-kata lain yang maknanya lebih jelas seperti "burung" atau "rudal".

Contoh:

"Gila, rudalnya udah besar, panjang, lagi..."
"Gila, burungnya udah besar, panjang, lagi..."

Saat mencari persamaan antara "rudal" dan "burung", gue berasumsi bahwa kata-kata tersebut menjadi mesum karena bentuk "rudal" dan "burung" cenderung "bulat memanjang" atau lonjong, mirip organ seksual pria. Ini dengan mengabaikan fakta bahwa banyak burung yang anatominya sama sekali nggak bulat atau panjang, seperti misalnya burung puyuh.

Urutan logikanya adalah:
  • "rudal" dan "burung" berbentuk bulat panjang
  • organ seksual pria berbentuk bulat panjang
  • "rudal" dan "burung" pasti mengacu pada organ seksual pria, karenanya menjadi mesum.
Asumsi ini benar bila kita mengambil contoh benda-benda lain yang juga berbentuk bulat panjang, seperti misalnya "torpedo", "terong", "pentungan", "sosis", atau "pisang".

Pertanyaannya, kenapa nggak semua benda bulat panjang menimbulkan konotasi mesum? "Kapsul" misalnya. Atau "senter". Kenapa?

Sampai di sini gue kehabisan asumsi.

Yang jelas, ciri selanjutnya adalah: semakin banyak kata-kata "ambigu" dalam sebuah kalimat, semakin mesum konotasinya.

Contoh:

"Gila, barangnya besar banget!"

terdengar sedikit lebih rendah derajat kemesumannya dibandingkan dengan:

"Gila, barangnya besar dan panjang banget!"

yan masih kalah mesum dibandingkan dengan:

"Gila, barangnya besar, panjang, tahan lama lagi!"

Kalimat itu sebenernya bisa aja merujuk pada benda apapun mulai dari ikat pinggang sampe penggaris, tapi kenapa tiba-tiba muncul konotasi mesum? Ada yang tau kenapa? Atau ada yang paham kenapa soal ginian aja penting banget untuk diposting?

Referensi:
Daftar kata-kata yang sering dituduh menimbulkan konotasi mesum

Kata benda
  • Barang
  • Itu
  • Anu
  • Lobang
  • Batang
  • Pentungan
  • Terong
  • Timun
  • Sosis
  • Pepaya
  • Cucakrowo
  • Biji
  • Melon
  • Semangka
  • Rudal
  • Roket
  • Burung
  • Bemo
  • Torpedo
  • Tonjolan / tongolan
  • Pisang
  • Gunung
  • Boncengan
  • Service / pelayanan
Kata sifat / kata kerja
  • Besar
  • Kecil
  • Panjang
  • Nongol
  • Nonjol
  • Pendek
  • Gondrong
  • Keriput / kisut
  • Lembek
  • Mentok
  • Loyo
  • Lemas
  • Bangun
  • Jilat
  • Sedot
  • Puas
  • Lebat
  • Basah
  • Kendor
  • Kenceng
  • Perkasa
  • Keras
  • Tahan lama
  • Cuma sebentar
  • K.O.
  • Nyampe
  • Enak
  • Sodok
  • Tancep
  • Kuat
  • Kental
  • Encer
  • Tegak
  • Keluar
  • Masuk
  • Muncrat
  • Naik
  • Geli
  • Turun
  • Kenyal
  • Ngemut
  • Goyang / Digoyang
  • Digenjot
  • Enjot-enjotan
  • Sempit
  • Jepit / jepitan
  • Merem - melek
  • Ngisep
  • Ngocok
  • Gandul / menggandul
  • Gituan / digituin
gambar gue pinjem dari sini


Blog Entryhidangan jorok di hotel berbintang 5Nov 20, '07 10:29 AM
for everyone
Selama bulan Oktober - November, ada 5 orang di divisi gue yang ulang tahun. Berhubung kelimanya udah masuk golongan 'boss', maka todongan traktiran berada di level yang lebih tinggi dari sekedar sate atau mi ayam seputar kantor. Maka hari ini, kami sedivisi beramai-ramai ditraktir di restoran buffet sebuah hotel bintang lima di bilangan Mega Kuningan, dengan kelima orang tersebut sebagai penyandang dana patungan.

Di sana, terjadi percakapan semi fiktif yang kurang lebih berbunyi sebagai berikut:

"Ih... ih... ih... liat deh nama makanan yang itu!"
"Ya ampun... joroknya..."
"Katanya hotel bintang lima, kok makanannya jorok gini sih..."
"Tega banget orang disuruh makan gituan."
"Butuh berapa orang ya, untuk bikin sepanci gede gitu...."
"Pantesan rasanya asin-asin gimanaaa.... gitu."
"Hiy... geli' gue ngebayanginnya, eneg tauu..."

"Pada ngomongin apaan sih?"
"Itu lho, liat deh, masa makanan yang itu namanya...


"ITU BACANYA KON-JI, DODOOOL... Artinya 'bubur'!"
"Lha iya, bubur conge, kan?"
"Hus, bukan. Liat dong, 'e'-nya ada dua. Jadi bacanya harus dipanjangin, kaya manggil dari kejauhan, gitu. Bubur Congeeeeeeee....."
"huhuhuhuhu..."
"hihihihihihihi..."

"...dasar rombongan manusia katro."

Blog EntryPenemuan hari ini... bahasa bakunya "stapler"Feb 11, '06 1:34 PM
for everyone
Udah tau tentang istilah "pengokot" sebelumnya?
   
PENGUMUMAN:
Ternyata posting gue yang satu ini beredar luas di jagad maya lewat milis dan blog. Mau baca lebih lanjut? Klik di sini.

Stapler adalah benda berguna yang sering membantu kita. Mulai dari orang kantoran sampe tukang manisan, semua merasakan manfaatnya. Kalo sampe ilang serasa bencana Orang yang suka minjem stapler dan ga balikin, terancam sanksi sosial berupa dicuekin di kantin. Stapler memegang peranan penting dalam kehidupan. Tapi apa balasan kita? Boro-boro menghargai, ngasih nama yang jelas aja enggak.

Benda malang ini telah lama hidup dengan nama yang sangat ambigu. Kadang memang kita menyebutnya stapler, sesuai nama aslinya. Tapi nggak jarang kita telah melekatkan nama-nama yang kurang terhormat bagi pembantu setia ini. Sebut saja misalnya CEKREKAN, CEPRETAN, JEGREKAN, bahkan ada yang menyebutnya CEPROTAN. Keterlaluan sekali bukan?

Benda ini pasti punya nama resmi dalam bahasa Indonesia. Masalahnya, namanya apa?

Jawabannya gue temukan dari majalah Tempo edisi 6-12 Februari 2006, halaman 10, dalam kolom surat pembaca. Kutipannya adalah:

...imbauan kepada seluruh masyarakat untuk memperlakukan uang rupiah dengan baik, di antaranya dengan tidak melipat, mengokot (stapling)...


STAPLING = MENGOKOT

Dengan demikian aman untuk kita simpulkan bahwa
ternyata nama resmi untuk stapler adalah:

PENGOKOT
Kotakkue.com

Seandainya gue jadi si stapler, mungkin gue lebih memilih dinamain cekrekan daripada pengokot - entah kenapa tapi yang terbayang di benak gue saat mendengar kata itu adalah sebuah benda lembek yang bau, berjamur, dan nyaris busuk - tapi ya sudahlah. Mari bersama-sama kita gunakan istilah resmi ini, untuk mempercepat proses penyerapannya dalam kehidupan bermasyarakat.

Misalnya:
...di kantor: "Boss, ini reportnya perlu dikokot atau cukup dimasukkan ke map?"
...di tukang foto kopi: "Bang, gimana sih lu, masa mengokot aja nggak becus... kan jadi rusak fotokopian gue!"
...juga saat bercakap dengan teman: "Bawel banget sih jadi orang, lama-lama gua kokot juga bibir lu...!"


Gambar pengokot gue ambil dari sini






Bahasa Indonesia campur-campur? Plis dong aaah...!

Di reply journalnya Sigit yang ini, Fer mempertanyakan kata-kata bahasa Indonesia yang campur-aduk sampe susah ditebak artinya. Apalagi kalo urusannya nyangkut ke bahasa gaul. Maka jurnal ini gue dedikasikan pada beliau, agar kalo someday mudik ke Indonesia nggak bingung dan nyasar kalo mau beli oleh-oleh barang antik Jl. Surabaya... :-p

Mungkin banyak yang udah sering denger istilah2 kayak bete, ilfeel, plis dong ah, dsb.
Ilfeel, yang dibahas di journal yang tadi itu, adalah penggal-sambung semena-mena dari kata 'Ilang Feeling', menggambarkan kondisi di mana seseorang kehilangan minat (birahi?) kepada orang lain akibat orang tersebut melakukan / mengalami sesuatu yang melunturkan minat. Contoh: "Cakep sih orangnya, tapi kalo denger tidurnya ngorok, ih... langsung IlFeel!"
Ada juga Bete. Yang ini masih kontroversial asal-usulnya. Yang jelas, ini bentuk turunan dari singkatan 'BT'. Nah, kepanjangan dari BT ini yang masih kontroversial. Ada yang bilang BT = 'Bad Trip', konteksnya waktu pil ecstasy masih fungki-fungkinya (ini kata serapan ngaco), kadang seorang pemakai apes dapat pil yang palsu / rendah mutunya (lokal punya, kalo mau yang bagus kan yang buatan Belanda - katanyaaa...) atau si DJ yang menyediakan musik pengiring kurang jago, sehingga acara 'tripping'-nya jadi kurang pol,
nah itu dia yang namanya Bad Trip. Efeknya, konon, ini konon lho, gue mah belom pernah, sumpah; sehabis ngalamin Bad Trip itu tadi orang jadi uring-uringan dan badan sakit-sakit. Pokoknya menderita. Ada lagi yang berkeyakinan, BT = 'Bad Temper'. Walaupun nggak berhubungan sama pil ecstasy, tapi kondisi yang digambarkan kurang lebih sama, sama-sama
uring-uringan. Yang agak lain, ada juga yang yakin banget bahwa BT = 'Birahi Tinggi' alias horny atau kalo pake istilah favoritnya Sigit - 'giras'... Mana yang bener? Ga jelas.
Plis dong ah, mudah ditebak merupakan turunan dari 'please dong ah',
ungkapan setengah jengkel kalo menghadapi situasi di mana lawan bicara
seharusnya tau apa yang baik / harus dilakukan, tapi kok ya malah
melakukan kebalikannya. Contohnya; "Elo, mau clubbing pake baju model
gitu?! Plis dong ah...!" Untuk kondisi tertentu yang udah sangat menjengkelkan, digunakan 'OMGPDA, gitu loh' (dilafalkan 'o-em-ji-pi-di-ei, gitu loooh') yang merupakan singkatan dari 'Oh My God, Plis Dong Ah, gitu looh...!' (gila bahasa gue ABG banget seh hihihi... :-))
Belum lagi ada istilah yang kacau karena tiba-tiba suatu kata bahasa Inggris
berubah makna di tengah percakapan bahasa Indonesia. Contohnya 'mellow',
yang harusnya kurang lebih berarti 'tenang / santai' artinya jadi berubah ke arah 'sedih, sendu, atau suntuk'. Gimana ceritanya?
Plis dong ah, mana gue tau...! Dugaan gue korsletnya di penggunaan istilah melodrama, selengkapnya bisa dibaca di reply journal ini.

Sekarang kalo pertanyaannya: apa iya, cuma orang Indonesia yang seneng nyampur2 istilah dari bahasa lain?
Hm...
ntar dulu. Liat deh bahasanya orang Malaysia. Soal campur-campuran dan
serap2an secara membabibutatuligagu, mereka ngga kalah jago (baca:
nekad). Kita mulai dari "mouse" (yg buat komputer, bukan yang buat ditembakin pake senapan angin kalo malem-malem lagi nggak ada kerjaan). Di sana disebut 'tikus'.
Artinya, kata tersebut diterjemahin aja artinya. Btw (ngomong2 ini juga udah
mulai mewabah di Indonesia, dikit2 orang ngomong "Btw...") di Indonesia, benda yang sama dibakuin jadi 'tetikus'. Istilah 'tetikus' ini belum umum dipake, gue baru liat dipake di koran Kompas.
Dan jangan tanya kenapa orang Malaysia mentah-mentah pake istilah 'tikus'
sementara kita sok lain jadi 'tetikus'; mungkin karena unsur gengsi juga kalo istilah2nya terlalu sama, mengingat istilah 'canggih' dipake di kedua negara secara -plek- sama.
Untuk kata-kata lain, Malaysia lebih seneng main sikat pelafalannya aja. Misalnya "fesyen" (fashion) atau "eksyen" (action).
Beberapa koran Indonesia sempet ikut2an make kata2 itu, tapi entah
kenapa sekarang reda lagi, trus balik lagi nulis istilah asingnya dengan cetak miring (fashion dan action). Tapiii... di bahasa Malaysia ada juga yang kata serapannya katanya kena sunat. Contohnya 'pojek', dari kata project. Kenapa tau2 r-nya ilang, coba? Kata favorit gue adalah kata 'konpius', jelmaannya 'confuse'... hehehe... tau2 kok jadi pake 'p' gitu sih Cik... :-D
Soal nyampur2? Sama juga. Di bahasa Malaysia juga sering ditemukan kata bahasa asing yang dikasih imbuhan melayu, misalnya se-best atau se-office. Sementara di kita sering terdengar orang ngomong nge-save atau kalo mau ceting "gue udah nginvite dia dari tadi kok nggak masuk-masuk sih??"

Terus gimana dengan bahasa Inggris, apakah bebas dari serap menyerap dan
campur-mencampur? Nggak juga. Malah boleh dibilang bahasa Inggris tuh
langganan tukang perkosa bahasa Latin dan Perancis. Kata 'meticulous' misalnya, tadinya bahasa Latin 'meticulosus' yang artinya 'ketakutan' yang turunannya kata 'metus'= takut. Tapi, maknanya juga dipengaruhi dari bahasa Perancis 'meticuleux' yang lebih deket dengan maknanya sekarang, yaitu 'hati-hati banget'.
Yang nggak kalah katro dengan pembentukan kata Ilfeel di atas adalah 'juxtapose', asal katanya 'juxtaposition', yang merupakan kongsi antara kata Latin 'juxta'=dekat, dan bahasa Inggris 'position'. Jadi deh kata juxtapose yang artinya 'bersebelah-sebelahan / bersisi-sisian'.

Jadi, kesimpulannya, mungkin di dunia ini cuma bahasa Latin yang boleh
sombong mengaku diri pejantan yang telah sukses memperawani
bahasa-bahasa lain. Ironisnya (serapan lagi), bahasa Latin sendiri udah
jarang banget dipake untuk percakapan sehari-hari. Penggunaannya cuma sebatas untuk terminologi ilmiah sama prosesi keagamaan doang.

Menurut gue, penggunaan suatu bahasa tuh sama aja seperti pemasaran suatu
produk; makin banyak orang yang mau pake, makin lama produk itu akan
bertahan di pasaran. Biar kata pusat bahasa udah sampe begadang-begadang nyariin istilah-istilah yang 'baku' buat ngebenahin bahasa Indonesia, tapi kalo
orang-orangnya pada males pake ya akhirnya punah sendiri. Seperti di era 90-an pusat bahasa dengan bangganya merilis istilah 'mangkus' = efektif dan 'sangkil' = efisien. Tapi kok dirasa2 ajaib bener kedua istilah tersebut, orang2 pada males pake, dan sekarang udah jarang lagi kedengeran orang ngomong mangkus atau sangkil, termasuk koran Kompas yang tertib-berbahasa itu.
Terus harus diapain dong sambung-potong berbagai istilah asing yang kacau
balau ini? Ya biarin aja, seleksi alam akan menentukan kata-kata mana yang bisa bertahan sampe lama. Mungkin dulu waktu kata 'juxtaposition' muncul pertama kali dalam literaturdi akhir abad 17-an, cukup banyak juga orang yang gatel kupingnya sehingga dia vakum kehilangan pemakai sampe muncul lagi di literatur pertengahan abad 19. Mungkin, entah berapa millennium lagi, saking semua bahasa udah saling serap sana-sini, bukan nggak mungkin cuma akan ada satu bahasa di muka bumi.
Siapa tau?

Sebagai penutup, gue kutipkan 1 paragraf dari buku "9 dari 10 kata bahasa
Indonesia adalah asing" karangan Alif Danya Munsyi alias Remy Silado.
Ini buku kompilasi dari berbagai artikelnya di beberapa majalah:
"Meski hari gerimis, setelah sembahyang lohor, para santri mengayuh roda sepedanya ke pasar, disuruh paderi membeli koran dan majalah, tetapi ternyata kiosnya disegel sebab bangkrut, jadi mampirlah semuanya di toko buku yang uniknya malah menyediakan perabotan khusus keluarga yang ditaburkan di meja baca, antara lain teko porselen, peniti emas, lap, setrika listrik, serta kalender berfoto artis idola."

Surprise-surprise, ternyata kata-kata yang di-bold (serapan kacau lagi) warna merah itulah yang kata bahasa Indonesia asli. Sisanya kata serapan... :-)

Referensi:
Munsyi, Alif Danya - "9 dari 10 Kata Bahasa Indonesia adalah Asing", Kepustakaan Populer Gramedia, 2003.
Strive.To/Word (homepage) - "Free News Letter" - http://ric1.com/go.e?001126 - sayangnya situs ini kayanya udah mati.

 

Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.