Agung's posts with tag: aboutme

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag aboutme
Blog Entryfear (of height) is no longer a factor...Feb 3, '08 11:01 AM
for everyone
Dari dulu gue benci sama segala macem kegiatan outdoor. Mulai dari camping, hiking, rafting, dan segala konco-konconya, gue anti. Selain itu, gue juga takut ketinggian. Dan nggak bisa berenang (walaupun seneng main air di kolam renang).

Itulah sebabnya gue nggak menyambut antusias waktu acara 'watersports' terselip sebagai salah satu agenda acara workshop tahunan di Bali minggu lalu. Pas hari H, saat seluruh peserta disuruh kumpul di lobby hotel untuk naik bis menuju Tanjung Benoa, gue titip pesen sama salah satu temen, "Gue nggak ikut, mau browsing aja di kamar. Bisnya suruh jalan aja, jangan tunggu gue."

Abis itu gue beneran masuk kamar, nyalain laptop, dan mulai login ke MP. Eh, HP bunyi. Temen gue yang lain lagi nelepon.

"Gung! Ditungguin bis nih! Ikut?"
"Enggak! Udah jalan aja."

Eh nggak lama kemudian bunyi lagi. Nama boss muncul di layar.

"Agung..."
"Ya mbak?"
"Agung nggak ikut ya?"
"Males mbak."
"Agung, saya hari ini udah ngebatalin meeting dengan management supaya bisa sama-sama kalian semua. Masa Agung sendiri yang nggak ikut?"
"Huff..."
"Ikut ya? Nanti kalo di sana males main juga boleh kok..."
"Ya deh ya deh ikut ikut...!"

Kenapa sih orang-orang seneng banget main air di pantai, tempat aneka jenis bangkai terapung-apung, tempat mondar-mandirnya segala jenis binatang laut yang bisa nyengat, bisa nggigit, atau keduanya, tempat orang buang sampah, pipis, atau numpahin oli...?

Dengan bersungut-sungut gue ganti baju dan naik ke bis. Di bis si boss menyambut,

"Agung sebel ya?"
"Nggak, mbak. Males aja."

Di Tanjung Benoa, kami langsung disodori list aneka kegiatan yang bisa dilakukan. Ada diving, flying fish, banana boat, parasailing.. nggak ada satupun yang menarik minat gue. Kalo Ida sih pingin banget main flying fish, sayang waktu terakhir kali kami ke Bali dia lagi hamil 2 bulan.

Gue liat-liat ke arah pantai, ada beberapa speedboat yang udah mulai jalan menyeret flying fish. Buat yang belum tau kayak apa permainan flying fish; bentuknya mirip perahu karet lebar yang ditarik oleh speedboat. Penumpangnya 2 orang, dalam posisi telentang. Kalo ditarik dengan kecepatan tinggi, si flying fish ini bisa 'terbang' sampe ketinggian  7 meter di atas permukaan laut! Bentuknya kurang lebih kaya gini nih:


Bener-bener bukan kegiatan menarik buat gue yang takut ketinggian dan nggak bisa berenang ini. Tapi... pikir-pikir, kalo kata teori kan cara terbaik untuk mengalahkan rasa takut adalah dengan menghadapi sumber rasa takut itu, jadi...

"Ya udah, gue ikutan main flying fish deh!" kata gue ke mas-mas petugas.

Abis ngomong gitu sebenernya gue cukup deg-degan ngebayangin apa rasanya terbang setinggi 7 meter, tapi gue coba untuk nggak mikir ke sana.

Setelah nunggu 1 jam lebih, akhirnya gue dapet giliran naik flying fish bareng Anto si tukang sulap. Waktu kami naik, petugasnya bilang, "Waduh, penumpangnya besar-besar amat, mungkin terbangnya nggak tinggi ini..." FYI, berat gue 90 kilo dan Anto 85 kilo. Nampaknya bukan hari baik buat si flying fish yang malang.

Bener aja, pas speedboat mulai jalan, si flying fish kayaknya perlu ganti nama jadi ngesot fish karena dia lebih banyak keseret-seret di air ketimbang terbang. Tapi pada beberapa kesempatan dia lompat lumayan tinggi juga, sampe gue kehilangan orientasi mana atas dan mana bawah.

Cuma 15 menit, flying fish merapat lagi ke pantai dan gue pikir-pikir, "hey, ternyata nggak serem-serem amat. Mungkin gue perlu juga nih, nyoba parasailing..." Sama-sama ditarik speedboat, tapi kali ini kita 'terbang' pake parasut, dengan ketinggian 15-20 meter.

Sebelum sempet mikir kelamaan dan membatalkan niat, gue udah dipasangin harness, diiket ke parasut, dan disuruh lari ke arah laut. Tau2... hup, udah terbang aja.

Temen gue yang udah duluan dapet giliran bilang, "nanti di atas jangan lupa liat pemandangan, keren banget!" Ternyata prakteknya, gue harus setengah mati berusaha untuk nggak tutup mata. Gila ngeri banget, di atas gue sampe nggak ngenalin di mana titik gue berangkat tadi. Perjalanan muter 15 menit rasanya kayak 1 jam, tapi Alhamdulillah... akhirnya gue berhasil mendarat dengan selamat. Kalo mau liat tampang stress gue menjelang mendarat, ini fotonya:

Dengkul gue lemes, tangan gue sakit karena harus narik tali kemudi parasut yang ampun berat banget, tapi lega karena ternyata gue yang takut ketinggian ini berani juga terbang 20 meter Seperti kata Joe Rogan kepada pemenang di setiap episode "Fear Factor" - "Fear is no longer a factor for you!"

"Gimana Agung, senang?" boss gue nanya.
"Lumayan sih mbak. Tapi kalo disuruh milih, saya tetep lebih seneng browsing di kamar..."


YANG PERLU DIPERHITUNGKAN SEBELUM MAIN FLYING FISH / PARASAILING DI INDONESIA

Setelah mengamati, nyoba langsung, dan wawancara dengan para petugas watersports di Tanjung Benoa Bali, gue menemukan beberapa faktor yang mungkin bisa menimbulkan kecelakaan fatal. Seperti biasa, di Indonesia faktor-faktor ini diabaikan dan kebetulan memang jarang terdengar ada kasus kecelakaan akibat watersports. Bukan bermaksud nakut-nakutin,  tapi gue sarankan pertimbangkan dulu faktor-faktor berikut - jadi lo tau segala resiko yang mungkin terjadi.

Flying Fish

Di setiap flying fish yang beroperasi, selain 2 penumpang juga ada seorang operator. Ternyata fungsinya adalah menjaga keseimbangan flying fish saat lagi 'terbang'. Semakin tinggi terbangnya, semakin beresiko untuk terbalik dan jatuh ke permukaan air dengan posisi penumpang di bawah. FYI, jangan kira jatuh ke air itu enak. Semakin tinggi kecepatan dan semakin kecil sudut jatuh sebuah benda saat membentur air, permukaan airnya akan semakin keras. Ini menjelaskan kenapa di beberapa rekaman kecelakaan speedboat, speedboat yang celaka itu bisa terguling-guling dan terpantul-pantul di atas permukaan air - seperti lagi membentur lapisan beton. Pada beberapa kasus kecelakaan pesawat juga ditemukan pesawatnya pecah saat menabrak permukaan laut.

Dengan kata lain, nasib para penumpang flying fish tergantung sepenuhnya pada si operator - sedangkan saat naik kita nggak pernah tau seberapa tinggi tingkat kemahiran orang itu. Belum lagi faktor-faktor lainnya seperti kondisi kesehatan, konsentrasi, kelelahan akibat kejar setoran, dsb dsb. Operator yang membawa gue juga dengan entengnya cerita, "saya dulu waktu baru belajar bawa flying fish pernah jatuh pak, sampe muntah darah..."

Oh iya, satu lagi: saat naik flying fish, lo nggak dikasih pengaman apapun - termasuk safety belt. Jadi lo akan terbang 7 meter di atas permukaan laut hanya bermodalkan kekuatan tangan lo untuk pegangan ke tali. Kalo pegangan lo lepas atau talinya kendor, hmmm... bayangin aja sendiri.

Parasailing

Walaupun terbangnya lebih tinggi, sebenernya parasailing relatif lebih aman daripada flying fish, tapi tetep aja punya sederet resiko. Faktor alat keamanan, misalnya. Peserta nggak dilengkapi dengan helm atau pengaman lainnya. Pengaman lo hanya harness, itupun dipasang secara asal-asalan. Faktor angin juga bisa jadi sumber malapetaka - kalo mendadak berubah arah / kecepatan. Waktu mendarat, lo akan diarahkan menuju pantai - yang penuh dengan warung. Bayangin kalo saat itu tiba-tiba arah angin berubah, dan elo terseret angin menimpa atap-atap warung yang lancip itu. Atau sebaliknya, kalo elo mendarat di air, maka ada kemungkinan lo menginjak deretan karang bawah air. FYI, parasut bulat yang dipake untuk parasailing adalah jenis parasut yang relatif sulit buat dikendalikan, dibandingin sama parasut yang berbentuk persegi. Itulah sebabnya, di nomor ketepatan mendarat cabang olah raga terjun payung, nggak ada atlet yang make parasut bulat. Biasanya parasut bulat cuma dipake buat dropping pasukan perang.

Antisipasi resiko:
  • Sebisa mungkin cari operator watersports yang udah berpengalaman dan direkomendasikan oleh banyak orang.
  • Jangan memaksakan diri kalo badan lagi kurang fit. Walaupun keliatannya lucu, tapi flying fish dan parasailing butuh kekuatan tangan untuk pegangan / mengendalikan parasut.
  • Pastikan asuransi kesehatan lo mau membayar pengobatan akibat kecelakaan olah raga - karena dari pihak operator sama sekali nggak ada jaminan asuransi dalam bentuk apapun.
  • Untuk flying fish, usahakan cari partner penumpang yang bobotnya kurang lebih sama dengan elo, supaya flying fishnya lebih seimbang, nggak gampang terbalik.
  • Berdoa sebelum berangkat, dan jangan lupa pamit baik-baik pada orang tua.


Photo Albumsaying goodbye to a very old friend (17 photos)Nov 28, '07 12:54 PM
for everyone

Januari 1983, bapak gue meninggal. Pada suatu hari Sabtu, beliau pulang kantor dan mengeluh nggak enak badan, lantas muntah darah karena livernya pecah, dan keesokan harinya tanggal 23 Januari 1983, meninggal.

Waktu itu gue masih SD, baru 2 dari 3 kakak gue yang kuliah, dan ibu nggak bekerja. Kami sekeluarga harus mengambil langkah segera untuk memangkas pengeluaran sambil mengatur strategi agar keuangan keluarga nggak gonjang-ganjing. Keputusan pertama yang diambil ibu adalah menjual mobil peninggalan bapak, dan membeli mobil lain yang harganya lebih murah. Kelebihan uangnya disimpan untuk menghidupi kami sekeluarga.

Mobil yang jadi pilihan ibu waktu itu adalah sebuah Toyota Corona Mark II warna putih. Dasar pemikirannya hanya karena almarhum bapak punya hubungan baik dengan Toyota Astra Motor, jadi ibu nggak usah repot survey sana -sini untuk milih mobil. Tinggal telepon, mobil lama diambil dan mobil baru diantar.

Waktu mobilnya dianter ke rumah, kami sekeluarga ternganga liat nomor polisinya, yaitu B 2301 XM...  yang kalo mau dipas-pasin sama dengan tanggal meninggalnya bapak (23 Januari). Padahal waktu itu nggak ada yang secara khusus pesen nomer tertentu.

Sejak saat itu, si Mark II  putih jadi satu-satunya andalan transportasi kami sekeluarga. Dia pernah nganterin kami nyekar ke Jawa Tengah waktu kakak sulung gue mau nikah, juga membantu ibu mengangkut barang dagangan waktu buka cafetaria. Pokoknya, di tangan kami sekeluarga, si Mark II putih bekerja keras dengan perawatan yang sangat minimal.

Yah... maklum aja, dia berada di tangan sebuah keluarga yang buta sama sekali soal permesinan. Gue inget, pada suatu hari di tahun 1985-an, kakak ipar gue nanya ke kakak gue, "Mobil ini kapan ya, terakhir kali diganti olinya?"
Yang dijawab oleh kakak gue dengan pertanyaan juga, "Lho, memangnya oli tuh harus diganti ya? Kenapa?"
Luar biasa memang daya tahan si Mark II putih, 2 tahun lebih dia kerja keras, dipake mondar-mandir sana-sini tanpa pernah ganti oli!

Sekuat-kuatnya mobil, lama-lama dia reyot juga. Pelan-pelan karat mulai menggerogoti bodinya, dan beberapa kecelakaan 'konyol' membuat tampangnya makin lama makin nggak karuan. Antara lain dia pernah ditabrak angkot dari belakang di Bogor, dan bemper depannya pernah dicaplok singa horny di Taman Safari. Gue sendiri pernah dua kali ikut andil memperparah keadaan si Mark II putih. Yang pertama nabrak mobil orang waktu lagi belajar parkir, yang kedua nabrak mobil orang waktu nyetir sambil ngantuk.

Tahun 1997-an, kakak ipar gue yang nggak tega liat penampilan si Mark II putih membawanya ke bengkel perawatan bodi. Lumayan, pulang dari bengkel si Mark II putih nampak agak gantengan dikit - minimal karat2nya hilang. Tapi problem lainnya muncul: mesinnya mulai sering ngadat. Kata kakak ipar gue yang hobi utak-atik mobil, masalahnya terletak pada coil. Akhirnya kalo gue lagi bawa si Mark II putih, gue sedia beberapa botol air dan kain pel di bagasi. Kalo dia ngadat di tengah jalan, buka kap mesin, trus kompres coilnya biar dingin - pasti nyala lagi.

Tahun-tahun segitu gue lagi sibuk-sibuknya bikin skripsi, dan si Mark II putih sering nemenin gue keluyuran di tengah malam. Kalo udah mulai suntuk ngetik skripsi, gue keluarin mobil, trus... ngebut deh keliling Jakarta. Lagipula, kalo dipake jalan malam dia nggak cepat panas, jadi gue merasa lebih PD untuk ngajak dia ngebut keliling jalan tol dalam kota. Nggak ada tujuan jelas mau ke mana, cuma buat obat suntuk aja. Rasanya stress ilang kalo udah ngebut di atas 140 KM/J tanpa seat-belt, dengan jendela dibuka mentok :-) Cuma gue nggak menyarankan kalian melakukan hal yang sama sekarang ya, secara harga bensin sekarang hampir 10 kali lipet harga bensin tahun 1997.

Nggak lama setelah gue lulus kuliah tahun 1998, si Mark II putih akhirnya udah nggak kuat lagi dipaksa jalan. Dia mogok total. Berhubung gue pada dasarnya lebih suka naik kendaraan umum, jadi gue nggak merasa terlalu terganggu dengan absennya si Mark II putih. Bertahun-tahun dia cuma bengong aja ngejogrok di garasi.

Tahun 2005an, gue ada rejeki lebihan dikit, dan ditawarin  seorang temen yang punya bengkel untuk membangunkan si Mark II putih dari tidur panjangnya. Lumayan gede juga dana yang gue keluarkan waktu itu, tapi hasilnya memang oke. Sistem pengapian si Mark II putih diganti dengan tipe 'racing' sehingga tarikannya bisa lebih responsif, tenaganya lebih besar, dan bensinnya lebih irit! Untuk ukuran sebuah mobil tua bermesin 2000cc, konsumsi bensinnya 1 : 7 - nggak jelek kan?

Waktu itu dia sempet gue bawa ke Bandung, nyobain tol Cipularang yang baru dibuka. Si Mark II putih melaju mantap mengalahkan beberapa mobil yang 20 tahun lebih muda dari dia. Bahkan jarum speedometernya nyaris menyentuh angka 160 KM/J. Tapi masalah baru muncul, yaitu suhunya nggak stabil. Saat dipacu maksimal, jarum indikator suhu juga ikut-ikutan naik - jadinya gue nggak berani ngebut di atas 120 KM/J.

Menurut analisa montir langganan, radiator si Mark II putih masih dalam kondisi prima karena habis diservis total, jadi kemungkinan penyebab panas datang dari piston. Dengan kata lain si Mark II putih harus turun mesin.

Belum sempet ngurusin turun mesin, gue harus pergi beberapa hari ke luar kota, sehingga si Mark II putih nggak keurus di rumah. Pas gue pulang, akinya udah keburu soak karena nggak pernah dipanasin (padahal kabel aki udah gue copot lho) dan lagi-lagi si Mark II putih harus jadi hiasan garasi.

Dua tahun lewat sejak 2005, si Mark II putih masih aja bengong di garasi, ketika minggu lalu seorang mas-mas mampir ke rumah dan nanya, "Mas, mobilnya mau dijual nggak?"

Kebetulan, beberapa bulan belakangan gue memang sedang dihujani pertanyaan senada yang datang dari Ida, karena sekarang-sekarang ini kami lagi sibuk nyari rumah tinggal dan masih belum jelas akan dapet rumah kaya apa. Belum tentu rumah kami nanti muat untuk menyimpan sebuah mobil besar yang mogok. Kalo ditanya mau gue, tentunya gue kepingin menghidupkan si Mark II putih lagi. Sejak reparasi besar tahun 2005, udah banyak komponen mesinnya yang diganti baru, jadi gue yakin dia nggak akan butuh terlalu banyak dana lagi untuk kembali berjalan. Cuma masalahnya, sedikitnya akan butuh dana 4-5 juta, sementara secara rasional sekarang ini uang segitu mendingan buat tambahan beli rumah ketimbang buat reparasi mobil bobrok.

Mas Toto, mas-mas yang mampir itu, mengaku dapet info tentang keberadaan mobil gue dari salah seorang temennya yang kebetulan pernah lewat di depan rumah gue. Dia ini katanya hobi ngebangun mobil-mobil tahun 80-an, dan suka ngumpulin info tentang mobil-mobil tua yang bisa dibangun. Gue sendiri nggak pernah merasa ditanyain orang lewat tentang si Mark II putih, tapi mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan gue dengan Mas Toto untuk mengurangi masalah menjelang pindah ke rumah baru.

Akhirnya dengan berat hati gue mempertimbangkan tawaran Mas Toto, dan proses tawar-menawar harga berlangsung selama beberapa hari. Setelah browsing harga sana-sini, gue menemukan bahwa Corona Mark II lain yang seumur dengan si Mark II putih, dalam keadaan sehat dan jalan, rata-rata cuma ditawarkan dengan harga 8 jutaan. Sementara si Mark II putih dalam keadaan ban kempes empat-empatnya, STNK mati sejak Maret 2006, dan mogok. Untuk ban dan STNK aja dibutuhkan duit sedikitnya 2 jutaan, belum beli aki baru dan reparasi mesin. Jadi... yah, gue harus rela melepaskan si Mark II putih dengan harga 3,75jt, nggak sampe separo dari biaya reparasinya tahun 2005.

Malam ini, Mas Toto dateng ke rumah dengan sebuah mobil derek untuk membawa si Mark II putih. Ibu gue sampe bela-belain minta dianter naik kursi roda ke teras untuk melepas kepergian sahabat lamanya. Kita semua tau, si Mark II putih cuma sebongkah logam tua, tapi saking lamanya dia ada di rumah ini, rasanya dia udah jadi bagian dari keluarga ini. Somehow i feel there is a soul deep down inside that old engine...

Selamat jalan Mark II putih, semoga bahagia di tangan pemilik yang baru ya... yang mudah-mudahan bisa merawat dia dengan lebih baik. Gue bilang sama Mas Toto, kalo dia udah selesai ngebangun si Mark II putih, coba kontak gue lagi. Siapa tau saat itu gue lagi ada rejeki untuk ngebeli dia lagi.


Blog EntryIlusi? Atau cuma gue?Oct 17, '07 11:15 PM
for everyone
Ada yang melihat ilusi yang sama pada nama gedung ini?
   
Ada sebuah gedung di Jalan Sudirman, Jakarta, yang namanya selalu gue baca secara salah. Padahal udah beberapa kali lewat sana, dan gue juga udah tau apa nama sebenarnya, tapi tiap kali lewat situ selalu muncul nama yang salah di otak gue.


Ini dia nama sebenarnya:



Dan entah kenapa yang pertama kali terbaca oleh gue selalu:


Jangan-jangan plaza ini memang dijampi-jampi agar penghuninya selalu merasa "marem" (senang, puas, tenteram, bhs. Jawa)... hehehe...

Ada yang mengalami ilusi yang sama dengan gue? Atau cuma gue doang?


Blog Entry1991: mi ayam 700 perak? mahal!Aug 17, '07 4:57 PM
for everyone

Berhubung Ida lagi mudik ke Bandung, gue sendirian di rumah, timbul iseng bongkar-bongkar tumpukan buku lama. Eh, nemu diary jadul, tahun 1991. Di tahun itu, peristiwa bersejarah yang terjadi pada gue adalah lulus SMA dan mulai masuk kuliah. Di tahun itu juga gue mulai berkenalan dengan kota Bandung, gara-gara ikutan bimbingan tes untuk masuk FSRD ITB. Lumayan juga buat hiburan di tengah malam, ngetawain tingkah gue sendiri sebagai anak SMA. Selain itu, takjub juga baca harga barang-barang tahun segitu...oh, seandainya harga2 sekarang bisa balik kaya gitu lagi ya...  Berikut ini sebagian cuplikannya:  




1991

1 Januari

...ada temen dateng, jualan kaos yang dia bawa asli dari Amerika. Gambarnya logo band metal  'Slayer' sama 'Exodus'. Gue nggak pernah tau lagu-lagu band itu kaya apa, tapi gue beli juga karena gambarnya keren. Harganya 10 ribu per kaos. Ini murah, karena kalo di toko harganya bisa sampe 75 ribu. 


12 Februari

...asiiik... tabungan si Jempol gue udah 70 ribu. Nanti kalo udah nyampe 80 ribu, sebagian mau gue pindahin ke tabungan Bank Sampoerna ah, soalnya di sana bunganya 20% [imbas 'tight money policy', taun itu semua bank lagi jor-joran ngasih bunga gede untuk tabungan dan deposito. Bank Sampoerna, milik perusahaan rokok Sampoerna, malah punya produk deposito bernama 'Poendi Teratai' yang menjamin bila bunga naik maka nasabah otomatis ikut menikmati kenaikannya, tapi kalo bunga turun dia nggak akan ikut turun. Padahal waktu itu bunga deposito bisa sampe 36% per tahun. Bank ini bubar jalan setelah 'tight money policy' dihapuskan].  


28 Februari

...pergi ke Bank Bali, nyetor 6.600 ke tabungan [Bank Bali waktu itu adalah satu-satunya bank yang menetapkan minimal setoran sebesar 1.000. Di bank lain, minimal 10 ribu] 


22 Maret

...naik bajaj dari Jl. Teuku Umar. Berhubung abang bajajnya baik dan sopan, gue kasih agak lebih deh, 700


6 April

...borong kartu Lebaran, 19 biji. Buset, abis 7.800 perak! Gila, gede banget pengeluaran gue untuk Lebaran tahun ini...


9 April

...abis nempelin perangko buat kartu Lebaran. 40 biji perangko 75 perak yang gue beli kemarin sekarang abis semua deh.


10 April

...beli 100 dollar di money changer, harganya 193.700.


27 April

...nonton di Studio Twenty One Thamrin. Tiketnya mahal banget, 7.500 [Bioskop ini adalah bioskop 21 pertama di Indonesia, dan waktu itu jadi tempat nonton paling 'gawl'. Gedung bioskop ini sekarang udah beralih rupa jadi BII Tower] 


23 Mei

...di Bandung, mau ke rumah temen di Jl. Aceh. Dari stasiun naik becak. Ongkosnya 1.000


24 Mei

...hari pertama les di Villa Merah ['Villa Merah' adalah bimbingan belajar khusus untuk FSRD ITB. Jadi materinya ya teknik2 menggambar. Waktu itu gue bercita-cita kuliah di FSRD ITB, makanya sampe bela-belain ikut bimbingan di Bandung. Selama di Bandung, gue nebeng tinggal di rumah temen gue yang bernama Anton]


26 Mei

...beli jeans, t-shirt, dan jaket di Cihampelas. Total: 40 ribu.


1 Juni

...ke sekolah, pengumuman lulus SMA. Sialan, guru2 pada razia spidol supaya anak2 nggak pada coret-coret seragam. Untung gue cerdas, udah ngumpetin spidol gue di WC. Pulang sekolah ada acara makan-makan perpisahan di rumah temen di Grogol. Pulangnya naik bis 213, pake seragam yang penuh coret-coret. Cuek dong.


10 Juni

...ke sekolah, ada pembagian STTB. Pas giliran gue, wali kelas ngasih tau bahwa STTB gue ditahan karena gue belum balikin buku perpustakaan. Terpaksa pulang lagi ke rumah, ngambil buku itu. Mending kalo bukunya bagus.  


17 Juni

...ke kampus ITB, daftar masuk FSRD. Sampe sana baru inget: pas foto ketinggalan. Balik lagi ke rumah di Jl. Aceh. Balik lagi ke kampus ITB. Eh taunya ada lagi yang ketinggalan: surat keterangan bebas buta warna. Balik lagi ke Jl. Aceh. Untung pas balik ke kampus ITB, masih sempet pendaftaran. Panitianya udah nyaris bubaran. [kalo acara bolak-balik ketinggalan ini terjadi di tahun 2007, udah pasti gue batal pendaftaran deh. Soalnya Bandung sekarang macet.]


20 Juni

...hari ke dua UMPTN. Pulangnya rame-rame main ke Dufan.


22 Juni

...ke kampus UNPAR, pendaftaran. Pulang dari sana mampir ke tukang majalah, beli majalah Hai. Trus naik angkot, duduk di sebelah supir. Majalah dan berkas STTB & ijazah gue taro di dashboard. Pas turun, inget bawa majalahnya, berkas STTB & ijazah malah ketinggalan di angkot. Akhirnya terpaksa nyusulin ke St. Hall, seharian nunggu tu angkot pulang kandang. Untung ketemu.


24 Juni

...ujian FSRD ITB, trus pulangnya nonton film 'Ghost' (Demi Moore) di BIP. Udah berapa kali mau nonton film ini gagal melulu. Untung kali ini berhasil. Mau nonton yang jam 4, ngantrinya dari jam 1. [tahun itu, film Ghost jadi film paling fenomenal sedunia. Di Indonesia, dia bertahan sampe 6 bulanan di bioskop papan atas.] 


1 Juli

...makan bareng Tria dan 1 orang temennya sesama finalis Gadis Sampul di Pizza Hut  'Happy Times' (Plaza Indonesia). Beli 3 personal pan pizza dan 3 coca cola medium. Total 10.670. ['Happy Times' itu foodcourt, dulu letaknya di lantai 3 Plaza Indonesia. Sebelum jamannya 'Time Zone', di Happy Times ini juga ada game arcade yang bernama Sega World].   


17 Juli

...sialan, tabungan Si Jempol bikin peraturan baru: saldo minimum 25 ribu. Padahal duit gue di sana cuma ada 8.000. Terpaksa deh ke ATM Bank Exim, duit di sana masih ada 17.000, gue tarik 5.000. Nonton di TIM, harga tiket 4.000 [ajaib ya, dari ATM masih keluar pecahan 5 ribuan!] 


27 Juli

...temen gue  nelepon dari Bandung, ngasih tau hasil pengumuman tes masuk FSRD ITB. Gue nggak keterima. Sial.


3 Agustus

...pengumuman UMPTN, gue keterima di FPSI UI, horee...!!


8 September

...ke Blok M Plaza, beli dompet VW. Harganya 17.500. 


21 September

...nonton Naked Gun 2 1/2 di Metropole. Harga tiketnya: 5.000


11 November

...sakit cacar air. Obatnya mahal banget, 68 ribu.


1 Desember

...beli mug keramik di Sogo, harganya 2.500


24 Desember

...disuruh ibu beli ayam di Golden Thamrin. Pulangnya naik bajaj. Pas sampe rumah baru inget, belanjaan ayamnya ketinggalan di bajaj. Lumayan deh tuh abang bajaj, dapet 8 dada ayam gratis. Terpaksa beli ayam lagi deh, di Hero Gondangdia. [Golden Truly Supermarket ini sekarang udah jadi Oh La La Cafe dan Java Dept Store, di bawahnya bioskop Djakarta XXI. Dulu di jam-jam tertentu ada atraksi 'robot show', robotnya bisa ngobrol sama pengunjung! :-)]


25 Desember

...jalan-jalan di Blok M Plaza, trus laper. Makan mi ayam di depannya Blok M Plaza. Mahal banget, masa mi ayamnya 700, trus coca colanya juga 700. Padahal di Mesjid Sunda Kelapa mi ayam cuma 500.


29 Desember

...ngirim artikel ke majalah Humor, mudah-mudahan dimuat. Hadiahnya lumayan lho, 15 ribu.


31 Desember

...ke Pasar Baru, mau beli sepatu buat tahun baruan. Sepatu merk Carvil sekarang mahal-mahal, di atas 45 ribu. Untung akhirnya nemu sepatu - merknya nggak jelas, tapi harganya cuma 42.500, masih discount 10% jadi 38.750

  

Foto: cover album 'Step by Step'-nya NKOTB yang tahun segitu lagi ganteng-gantengnya digandrungi gadis belia di seluruh dunia. Sumber: wikipedia.


Apakah kalian merasakan hal yang sama dengan gue kalo nggak bisa login ke MP?
   
Alhamdulillah...  setelah sempat kehilangan semangat hidup akibat komputer rusak, sekarang hari-hari gue kembali ceria.

Sejak kemarin pagi sampai malam ini, total durasi gue nggak login ke MP adalah sekitar 36 jam. Dan rasanya kaya mau gila.

Gue baru nyerah nyoba segala macem cara untuk menghidupkan kembali si windows yang ngadat pada jam 03.00 dini hari tadi. Dan gue ngantor dengan tampang kaya abis keinjek ABRI baris.

"Kenapa sih tampang lu kusut amat?" tanya temen gue.
"Komputer gue mati sejak semalem..."
"Hahaha... kirain kenapa. Life goes on without computer, tau..."
"Not mine."

Di kantor gue nggak bisa berhenti mikirin si komputer, bertanya-tanya kiranya apa langkah solusi yang kelewat belum gue coba. Semua orang yang setau gue lulusan sekolah komputer gue ajak berkonsultasi sampe bosen. Sejam sekali gue ngabur ke tangga, nunggu inspirasi sambil ngerokok seperempat batang. Baru abis seperempat gue buang. Masuk lagi ke ruangan. Ceklak-ceklik mouse tanpa tujuan. Ke tangga lagi, ngerokok seperempat batang. Demikian seterusnya sampe siang.

Sesudah makan siang, Ida nelepon, ngabarin kalo dia udah sampe di rumah dan nyoba nyalain komputer lagi, tapi gagal. Pikiran gue makin kacau. Asbak di depan lift penuh sama puntung rokok gue, masing-masing panjangnya 3/4. Akhirnya gue dapet ide untuk posting journal yang tadi itu via e-mail - barangkali aja ada masukan dari para pengunjung Mbot's HQ.

Sorenya, gue login ke statcounter.com, memonitor arus pengunjung ke Mbot's HQ. Keliatan makin banyak yang reply, tapi karena dari kantor gue nggak bisa buka MP (diblok sama orang2 IT basi itu), gue nggak bisa baca apa isi replynya orang-orang. Nggak bisa berhenti bertanya-tanya, kira2 apakah ada di antara reply2 itu yang bisa menghidupkan komputer gue lagi. Sebungkus rokok yang baru gue beli tadi pagi udah pindah semua isinya ke asbak di depan lift, masing-masing cuma dibakar 1/4.

Pulang kantor langsung nyoba nyalain komputer lagi, nyoba install windows sekali lagi. Masih gagal. Rasanya ingin narik-narik rambut. Gue pergi cari makan bareng Ida, abis itu ke warnet untuk baca reply. Dapet inspirasi. Rasanya ingin lari pulang untuk praktekin solusi itu. Ida masih asik ngeMPi. Gue nunggu sambil mondar-mandir di depan warnet. Begitu Ida selesai, langsung gue seret pulang.

Sampe rumah langsung coba copot ethernet card... coba nyalain komputer... horeeee...!!!!

Hidup gue kembali berwarna.

Alhamdulillah...


Awal cerita, kedua kipas pendingin casing gue mulai berbunyi-bunyi aneh sejak beberapa bulan yang lalu. Trus dua minggu yang lalu kipas yang satu mati. Trus beberapa hari yang lalu satunya mulai macet-macet seperti mau mati. Maka akhirnya kemarin gue memutuskan untuk pasang kipas pendingin baru.

Kemarin malem, kedua kipas pendingin baru sukses gue pasang di casing. Komputer gue nyalain, muncul start-up screen: gambar langit dengan tulisan "Windows 98" (Iya, gue memang masih pake win 98, soalnya irit resource dan jalannya kenceng banget di spek komputer gue yang jadul ini. Dilarang protes). Abis itu seperti biasa dia load anti virus, AVG
boot scanner. Trus muncul start-up screen lagi. Trus macet, nggak mau lanjut loading windows.

Gue pencet tombol hard-reboot, kompi restart dan muncul pilihan untuk 'safe mode'. Gue pilih safe mode, eh SUKSES... bisa masuk ke windows. Trus gue pilih restart, eh dia macet lagi.

Walaupun ragu, gue sempet bertanya-tanya, jgn2 gara2 kedua kipas baru maka windows jadi macet. Maka kedua kipas baru gue lepas. Coba start windows lagi. Masih macet.

Start lagi di safe mode, gue jalanin scan disk dan disk defragmenter. "No errors found" katanya, dan disk defrag sukses diselesaikan. Gue restart windows, macet lagi.

Safe mode lagi, gue non-aktifkan beberapa program dari start-up. Restart, masih stuck di gambar langit.

Gue copotin modem (kali aja ngaruh, soalnya modemnya nyambung ke LAN Card). Restart windows, masih macet.

Akhirnya gue start di DOS prompt. Karena source Windows 98 udah gue copy di drive C, gue langsung jalanin C:\win98\setup.exe dari DOS prompt. Dulu-dulunya, kalo ada masalah dengan windows, gue overwrite dengan cara install ulang kaya gini, beres. Kali ini proses checking available space, scanning disk, copying files, dan installing berjalan mulus.
Setelah diinstall, dia minta restart. Pas direstart, ada warning 'there is an error in file system' trus otomatis restart and guess what... masih macet di gambar langit.

Gue masuk lagi ke safe mode, jalanin program Eusing Registry Cleaner (kali aja ada registry yang kusut). Abis itu gue restart. Masih nyangkut di start-up screen.

Sekarang gue udah kehabisan ide dan nyaris 'sakaw' karena udah lebih dari 24 jam nggak login ke MP. Ada yang bisa bantu ngasih inspirasi, apa lagi ya, kemungkinan sumber masalah yang kelewatan belum gue cek? Terima kasih lho sebelumnya.

Oh iya, ini gue post via e-mail kantor, jadi harap maklum kalo di bawah ini akan ada footer ngejembreng.

Blog EntryHobi masak Ida dan semangat baru IbuJun 3, '07 11:15 AM
for everyone
Soal masak - memasak, dari dulu Ida memang udah hobi. Tapi intensitas hobinya yang satu ini jadi meningkat pesat waktu beberapa minggu yang lalu dia menemukan website Natural Cooking Club.

Website yang memuat resep-resep plus aneka tips memasak ini juga punya milis, dan punya kegiatan kursus masak mingguan yang dikelola secara sangat profesional. Ida sempet ikutan kursusnya satu kali, dan abis itu jadi rewel minta beliin oven tangkring.

Walaupun rada nyebelin karena sejak keranjingan masak jadi males olah raga dan sepedaan, tapi dampak positifnya adalah gue jadi dapet pasokan makanan enak-enak. Tapi yang nggak terduga adalah efeknya terhadap Ibu gue.

Pasalnya, di NCC itu banyak ibu-ibu rumah tangga yang berbisnis makanan dengan omzet yang cukup mencengangkan (seriously - I'm talking about seven to eight figures numbers here). Ida lantas bercita-cita ingin ikutan berbisnis makanan dan menceritakan niatnya ini kepada Ibu. Sebagai veteran pebisnis makanan, kontan Ibu menyambut gembira. Dengan bersemangat Ibu berjanji akan menurunkan ilmu masaknya kepada Ida.

Tadinya gue kira Ibu cuma basa-basi doang. Eh, tau-tau hari Sabtu kemarin muncul dua orang bapak tua di rumah gue, mengaku ditelepon ibu untuk menservis kompor! Bukan cuma itu; hari ini Ibu juga diam2 udah mengutus Lis, asistennya urusan sapu-menyapu untuk belanja bahan makanan di supermarket. Sorenya, waktu Ida bangun tidur siang, Ibu udah standby di dapur siap menurunkan ilmu pertamanya!

Dari tiga orang anak perempuan ibu, nggak ada satupun yang tertarik mewarisi ilmu masak-memasak - apalagi berniat untuk menjadikannya sumber penghasilan. Makanya ibu semangat banget waktu tau menantunya ternyata berminat menekuni bidang yang jadi keahliannya dulu.

Dipikir-pikir, nggak papa deh Ida jadi males olah raga - karena hobinya ternyata bisa memberikan semangat hidup baru buat mertua...

Foto: Ibu dan Ida di dapur.

Baca ramenya soal pengalaman buruk kenalan di internet, gue jadi teringat pengalaman gue sendiri, beberapa tahun yang lalu. Gue share di sini sebagai bahan pertimbangan buat kalian yang akan atau sedang membina hubungan secara virtual. Mudah-mudahan bisa diambil hikmahnya.

Tahun 2002

Waktu itu gue lagi girang-girangnya main game online bernama Utopia (sampe sekarang game itu masih ada, walau gue udah nggak ikutan lagi. Klik di sini kalo mau liat). Ringkasnya, Utopia adalah game strategi di mana para pemainnya ceritanya berperan sebagai kepala provinsi di sebuah kerajaan. Nah, masing-masing kerajaan punya 'tema' sendiri, dan provinsi yang tergabung di dalamnya harus memilih nama yang selaras dengan tema kerajaannya. Kebetulan kerajaan tempat gue bergabung dengan garingnya memilih tema TAMAN.

Sebenernya gue rada kurang sreg dengan tema pertamanan karena rada sulit menyambungkannya dengan suasana game peperangan yang ganas dan sangar. Untung akhirnya gue dapet ide nama yang lumayan sangar walaupun rada maksa dikit yaitu "The Killer Tomatoes" (terinspirasi dari judul film tahun 70-an - link IMDB) sementara gue menggunakan nama alias "Del Monte" sebagai kepala provinsinya.

Untuk memudahkan komunikasi dengan rekan-rekan sekerajaan, maka gue memasang nama "Del Monte" tersebut sebagai identitas ICQ gue hingga pada suatu hari masuklah sebuah message sok akrab;

"Del Monte, kamu saos tomat ya?"
"Iya. Ini siapa ya?"
"Temennya saos tomat; ya kecap"

Ngobrol punya ngobrol, orang ber-ID kecap ini ternyata lucu juga. Dia mengaku dirinya seorang cewek, kuliah di Stekpi angkatan 92, SMAnya di Al-Azhar, udah married tapi belum punya anak, dan sekarang kerja di sebuah perusahaan IT di bilangan Tendean. Sejak perkenalan itu hampir setiap hari gue chatting sama si kecap. Mulai dari ngomongin soal kerjaan, film, musik, tv... macem-macem deh. Orangnya enak diajak ngobrol, adaaaa... aja topik pembahasannya setiap hari. Walaupun belakangan akhirnya saling tau nama asli masing-masing, dia tetep aja gue panggil "si kecap" dan dia manggil gue "si tomat".

Kami sempet kopdar 3 kali. Pertama kali waktu kebetulan gue dan dia sama-sama lagi makan siang di Plaza Senayan. Yang ke dua waktu gue diajak nonton bareng temen-temen kantornya. Yang ke tiga waktu dia bikin reuni bareng temen-temen SMA-nya di cafe milik kakak gue.

Tahun 2003

Nggak kerasa udah setahun lebih gue kenal sama kecap, sampe pada suatu hari, gue inget banget lagi bulan puasa, tiba-tiba dia nelepon gue ke HP.

"Tomat! Mau beli tivi murah nggak?"

Kecap lantas cerita bahwa dia punya temen yang kerja di pabrik sebuah produsen TV terkenal. Nah, perusahaan TV ini ngasih kesempatan bagi para pegawainya untuk beli TV dengan harga diskon sampe 40% dengan syarat belinya harus minimal 4 biji. Temennya si kecap udah mau beli 2, kecap beli 1, dan oomnya kecap juga udah mau ambil satu. Taunya menjelang saat transaksi, oomnya si kecap ini mendadak mengurungkan niat beli TV, jadi sekarang si kecap harus cari 1 orang lagi sebagai pengganti. Makanya kecap menawari gue.

Sebagai bukti, kecap menyuruh gue ngecek sendiri harga TV tersebut di Carrefour. Waktu makan siang gue cek, ternyata emang bener, harga yang ditawarkan kecap 40% lebih murah dari harga Carrefour. Akhirnya, entah dapet keyakinan dari mana, gue menerima tawaran kecap. Kebetulan waktu itu abis terima THR, jadi duit di rekening cukup. Kecap minta ditransfer hari itu juga via ATM, karena katanya TVnya mau langsung dibayar. Tapi, barangnya nggak bisa langsung keluar hari itu juga, harus tunggu 2 hari kemudian untuk memenuhi 'syarat administrasi pergudangan'.

Abis transfer duit ke kecap, gue cerita soal pembelian TV ini ke salah satu temen gue. Reaksinya bikin jantung gue serasa berhenti.

"GOBLOK lu! Lo tuh ditipu, tau nggak!?"

Habis itu temen gue mengajukan sederetan pertanyaan yang bikin gue makin mules, seperti 'emangnya lo udah kenal banget sama orang ini?' 'tau nggak rumahnya di mana?' 'lo yakin kantornya di Tendean?' dsb dsb yang semuanya gue jawab dengan 'enggak'. Iya juga, ya. Gue sebenernya nggak tau apa-apa soal si kecap. Artinya kalo tiba-tiba dia ngabur, gue nggak tau harus nguber ke mana. Sebelumnya gue pernah tanya temen-temen gue yang kuliah di Stekpi tahun segitu, nggak ada seorangpun yang kenal dengan kecap. Demikian juga temen-temen gue yang alumnus SMA Al-Azhar, nggak ada yang kenal sama orang dengan ciri-ciri si kecap ini. Dulunya sih gue pikir, 'wajar aja nggak kenal, Stekpi dan Al-Azhar kan muridnya banyak'. Tapi setelah gue mentransfer sekian juta ke rekening kecap, terus terang gue jadi deg-degan juga.

Dua hari berikutnya gue jadi rada susah tidur, walaupun mencoba pasrah. Kecap masih muncul di ICQ seperti biasa, tapi pada hari yang dijanjikan dia nggak online dari pagi. Gue SMS dia, "ke mana? kok nggak online hari ini?"

Dia jawab, "gue ijin hari ini dari kantor. kan mau ngambil tivi di Cikarang. Ntar sore abis maghrib gue anter ke rumah lu ya!"

Abis itu seharian dia nggak ada kabarnya.

Sore sekitar jam 5 gue pulang dari kantor, masih sempet mampir ke toko kue untuk beli suguhan buat kecap. Sampe rumah gue bilang sama ibu gue, "Bu, hari ini ada orang yang mau nganterin TV baru ke rumah. Doain ya bu, semoga ORANGNYA BETULAN DATENG."
"Lho, kok gitu? Emangnya kamu kenal orang ini di mana?"
"Di internet."
-"Hah? Trus kalo ditipu gimana?!"
-Arrrghh...

Jam 6 sore, kecap belum ada kabarnya. Jam 6 lewat, bedug maghrib, belum nongol juga. Gue makin mules.

Jam 6.30, telepon gue bunyi. Di layar tertulis, "kecap"

"Halo?"
"Tomat!"
"Ya?"
"Bukain! Gue ada di depan rumah lo nih!!"

Alhamdulillah, ternyata beneran lho si kecap dateng berdua sama suaminya, bawa TV baru gue!

"Sori telat," katanya. "Jalanan macet banget, gila."

TV yang dibawanya betul2 100% baru, dusnya masih disegel dan ada kartu garansi. Modelnya juga sesuai dengan yang dia sebut dulu. Saking leganya malam itu kecap dan suaminya gue traktir makan malam di cafe deket rumah. Kami ngobrol ngalor-ngidul, tapi sebelumnya si kecap berpesan sama gue via SMS, "Jangan bilang ke suami gue kalo lo kenal gue lewat ICQ ya! Tengsin gue kalo ketauan di kantor bukannya kerja malah chatting melulu!"

Sampe hari ini gue masih bertemen dengan si kecap, yang sekarang hidup berbahagia sebagai ibu 2 orang anak dan istri dari seorang suami yang nggak pernah tau bahwa istrinya tukang chatting di kantor... Oh iya, ternyata dia juga saling mengenal dengan Ibu Gubernur MP karena sama-sama anggota sebuah milis.

Pesan moral:

  1. Nggak selamanya hubungan yang dijalin di internet akan berujung pada penipuan. Akibat percaya pada 'temen di internet', dalam kasus gue, adalah bisa dapet TV dengan harga diskon 40% :-))
  2. Kadang alat terampuh untuk menentukan apakah seseorang patut dipercaya atau enggak adalah insting dan logika sederhana. Satu-satunya hal yang membuat gue yakin si kecap nggak bermaksud menipu adalah, "kalo memang dia mau nipu, ngapain harus nunggu setahun dulu hanya untuk ngembat duit yang cuma seharga TV?"
  3. Walaupun begitu, gue tidak merekomendasikan agar kalian melakukan tindakan yang sama dengan gue. Waktu itu gue masih dilindungi Allah karena ternyata kecap orang baik-baik. Tapi secara umum, gue sarankan kalian cek dan ricek berkali-kali sebelum menjalin relasi via internet, apalagi yang menyangkut duit dalam jumlah besar. Cash on Delivery adalah metode pembayaran teraman.

Penutup:

Bagi yang telah berprasangka buruk terhadap si kecap saat membaca posting ini, gue sarankan untuk minta ampun kepada Tuhan atas pikiran-pikiran jahat tersebut. :-PP

gambar kecap bersumber dari sini.


Blog Entryceletukan-celetukan akuratMay 7, '07 9:01 AM
for everyone
Kasus 1
Pada suatu hari, gue lagi mau ngerokok di tangga saat menemukan dua orang temen gue, Rudi dan Roy udah duluan ada di sana. Agak aneh menemukan Roy ada di tangga, karena dia bukan perokok. Kami bertiga lantas ngobrol ngalor-ngidul sampe akhirnya gue, entah dapet ilham dari mana, tiba-tiba nanya sama Roy, "Lo tuh betah banget ya kerja di sini? Apa nggak tertarik nyari kerjaan lain?"
Roy nampak agak kaget dan malah nanya balik, "kenapa sih, kok lo tiba-tiba nanya gitu?"
"Ya nggak pa-pa, rasanya di luaran akan ada banyak perusahaan yang rela bayar elo jauh lebih besar dari di sini," kata gue.
Dua minggu kemudian Roy mengumumkan pengunduran dirinya karena dapet tawaran lebih besar dari perusahaan lain! Dia juga ngaku bahwa saat ketemu gue di tangga, dia baru aja menandatangani offering letter dari tempat kerjanya yang baru, dan lagi 'curhat' soal itu kepada Rudi. Makanya dia heran banget denger pertanyaan gue.

Kasus 2
Gue lagi chatting dengan seseorang bernama A (cewek). A bercerita tentang temennya yang bernama B (cowok). Lagi-lagi tanpa ujan maupun gledek gue nanya, "Trus kenapa nggak lu pacarin aja tuh si B?"
Dengan surprise gue membaca reply dari A,"Mmm.. sebenernya sih udah beberapa bulan ini gue jadian sama B... kok lo tau sih?"

Kasus 3
Yang masih rada baru adalah waktu gue baca posting Bondan yang ini - di mana dia menceritakan rencananya mau mudik ke Magelang. Trus seperti biasa gue asal jeplak mereply
semoga acara lamarannya sukses yaaaa.....


*melontarkan bola liar pergunjingan*
waktu itu reply tersebut memang betulan menjadi bola liar pergunjingan, sampe ancur deh tu journal dengan aneka tawaran untuk jadi 'pager ayu' segala... padahal gue asli asal reply tanpa tau apa yang terjadi sebenernya. Eh taunya beberapa hari yang lalu Bondan memposting calendar berjudul 'our wedding day'. Di reply-nya, Bondan ngaku bahwa ternyata reply asal jeplak gue beberapa waktu sebelumnya adalah akurat - karena dia memang betulan pulang untuk acara lamaran!

***
Dibilang 'firasat' sih enggak juga, karena semuanya murni asal jeplak... tapi kok ya kebetulan akurat ya? Huff... untung yang gue celetukin hal-hal yang baik semua, jadi saat betulan terjadi malah ikut seneng! (kecuali untuk kasus 1 di mana pengunduran diri roy adalah 'musibah' untuk boss gue, hehehehe....)

Buat Bondan, selamat ya, semoga dilancarkan dan dimudahkan segala urusannya - serta dianugerahi berkah sebagai keluarga yang sakinah. Amiiin...

image: gambar yang ada di posting Bondan

Pesan Sponsor:
Planet Holiday Tour and
Travel


Blog Entryrealita hari ini: pedihnya persahabatanApr 11, '07 1:14 PM
for everyone

Friendship is a gift of God. Some of us are blessed with good friends. But as it happens, these friendships are taken for granted in some cases and not valued.

(kutipan dari artikel di sini). 

Yah, hari ini gue sejumlah kejadian yang pas banget dengan kalimat di atas; bahwa ternyata selama ini gue kurang memperhatikan eratnya persahabatan dengan orang-orang di sekitar gue. Dan ketika gue tersadarkan atas makna persahabatan itu sendiri, ternyata malah pedih yang terasa.

Jadi begini ceritanya;

Udah hampir 2 bulan terakhir ini, pundak kanan gue sakitnya luar biasa. Kaya keseleo, gitu. Anehnya, gue nggak bisa mengingat kapan, apa, dan di mana pangkal permasalahannya. Pokoknya tiba-tiba sakit, aja. Lengan kanan gue jadi nggak bisa diangkat tinggi-tinggi, karena baru digerakin ke atas dikit aja sakitnya bukan main. Lucunya*, sakitnya suka datang dan pergi gitu. Kadang sakiiit.. banget, kadang nggak terlalu terasa. 

Tiap malem udah gue gosokin pake salep pereda sakit otot sampe mata gue kiyer-kiyer kena uap panasnya, sakitnya nggak berkurang. Akhirnya gue pergi ke dokter spesialis urat dan syaraf. Eh, pas sampe ruang praktek dokter, tau-tau penyakitnya ngumpet. Sama dokter gue disuruh menggerak-gerakkan lengan ke segala arah, nggak ada rasa sakit sama sekali. Dokternya bingung, akhirnya gue dikasih surat pengantar untuk pemeriksaan MRI (Magnetic Resonance Imagery). Itu lho, yang alatnya canggih kaya di film sci-fi. Image yang dihasilkan alat ini lebih jelas daripada ronsen, bahkan bisa mendiagnosa kimia darah segala lho!

Waktu disuruh periksa MRI sih gue iya-iya aja. Pikir gue, 'wah seru nih, ngerasain periksa MRI, lumayan buat bahan posting di MP'. Eh ternyata belakangan gue tau bahwa untuk scanning pundak sebelah doang biayanya DUA KOMA TUJUH JETI RUPIAH (duit semua, nggak boleh campur daun). 

Memang sih gue dicover asuransi kesehatan dari kantor, tapi mbak-mbak petugas MRI dengan reseknya bilang bahwa kalo mau periksa MRI dengan dicover asuransi maka surat pengantar dokternya harus dilengkapi dengan diagnosa. Gue bilang sama tuh mbak-mbak, "justru dokter saya bingung mau diagnosa apaan, makanya saya disuruh MRI"  tapi dia tetep ngeyel. Ya sud, gue batalin MRI dengan niat kapan-kapan mau balik ke dokter untuk minta lengkapin surat pengantarnya.

Waktu berjalan, gue nggak sempet-sempet balik ke dokter lagi dan gue menjalani hari-hari sambil menguji kesabaran menahan sakit yang datang dan pergi. Gue berharap, mungkin kalo didiemin lama-lama ilang sendiri. Eh ternyata enggak. Sementara itu, Eveline sang instruktur fitness mengingatkan bahwa porsi latihan gue jadi nggak seimbang karena gue cuma berlatih cardiovasculer melulu tanpa latihan beban. Padahal boro-boro latihan beban, dipake buka singlet aja lengan gue sakit banget.

Alhamdulillah, pada suatu hari Allah memberikan petunjuk. Tiba-tiba gue teringat pada seorang temen lama, sesama pegawai BPPN dulu, yang jago banget ngurut orang keseleo dan patah tulang. Namanya Sulaiman alias Maman. Setelah tanya-tanya beberapa temen yang lain, akhirnya gue berhasil mendapatkan nomer teleponnya.Gue hubungi si Maman, dan untungnya dia masih inget gue sehingga 2 minggu yang lalu gue mampir ke rumahnya minta diurut. (Cerita lengkap tentang si Maman nanti gue tulis terpisah di review ya, barangkali ada di antara kalian yang butuh bantuan mengatasi problem dengan urat dan tulang).

Sebagai orang yang pada dasarnya nggak suka dengan aktivitas pijat-memijat, sesi pengurutan di rumah Maman terasa bagaikan kamp penyiksaan buat gue. Suakiiiit banget. Lucunya** dia mulai narik dari tempat yang kayanya nggak berhubungan dengan pundak, seperti dari punggung bawah dan siku kanan. Habis diurut-urut, baru lengan gue dipelintir ke atas. KRRKK! Man, sakitnya sampe mata gue berkunang-kunang.

Tapi walaupun tersiksa, ternyata sepulang dari rumah Maman pundak gue terasa lebih baik. Ada peningkatan mobilitas, lah. Kalo dulu baru posisi naik 25% aja udah sakit, sekarang lumayan, lengan bisa gue angkat sampe 50%.

Karena terkesan dengan hasil karya Maman, maka minggu depannya gue datang lagi ke rumahnya. Ditarik-tarik lagi, tapi nggak sesakit yang pertama. Habis itu kondisinya makin baik, bahkan gue mulai berani latihan beban lagi di gym. Tapi ternyata abis latihan beban sakitnya kumat lagi, jadi Selasa malem kemarin gue balik ke Maman.

Maman bilang, memang proses penyembuhannya belum selesai. Justru sekarang inti permasalahannya udah mau keluar ke permukaan, katanya - entah apa maksudnya. Yang jelas sesi pengurutan semalem itu bener-bener puncak dari segala macem rasa sakit yang pernah gue alami selama 33 tahun 7 bulan hidup gue di dunia. Jauuuuuuh.... lebih sakit dari 2 sesi sebelumnya. Bukan cuma ditarik dan diurut, tapi punggung gue juga digerus dengan buku-buku jarinya. Kalo mau ngebayangin rasanya, bayangin rasanya kerokan - tapi koinnya bukan cuma satu melainkan 4 biji, dan bukannya pake koin melainkan tutup botol softdrink, digores tegak lurus dari atas ke bawah dengan kekuatan penuh. Tau sendiri otot itu kan umumnya mengarah ke samping, jadi kalo digiles secara memotong jalur gitu akan terasa sangat sedap*** sekali deh ih.

Pulang dari rumah Maman, otot pundak dan punggung gue terasa lembek seperti buah Mengkudu mateng pohon. Jangankan kesenggol, kena getaran waktu gue jalan aja sakit. Dan kok ya kebetulan TAS GUE RANSEL. Ugh... mantap. Sampe di rumah, Ida shock waktu gue pamerin bekas urutan si Maman. Bentuknya memang rada mengerikan sih, kaya abis digiles roda mobil. Liat aja sendiri kalo nggak percaya:

Selain punggung, pundak kanan gue juga dipenuhi lingkaran-lingkaran lebam bekas tekanan jari-jemari si Maman.

Pagi ini, gue ngantor seperti biasa walaupun sambil sedikit meringis waktu masang ransel di pundak gue. Dan... terjadilah apa yang gue tulis di bagian awal posting ini, yaitu PEDIHNYA PERSAHABATAN. Atau dengan kata lain, hari ini gue baru menyadari bahwa ternyata temen-temen gue itu sangat gemar untuk saling MENEPUK PUNDAK!!

Pagi-pagi, baru mulai nyalain komputer, dateng seseorang yang mau nitip upload memo di website intranet gue.

"Gung, gue nitip memo nomer sekian-sekian untuk dimasukin ke library ya!"
"OK."
"Thanks Man!" [sambil nepuk pundak]
"AAAAAOOOWWW...!!!"
"Loh, loh, kenapa?"
"...blablabla..." [menceritakan kronologis pengurutan pundak]
"Oh gitu... wah sorry banget, gue nggak tau."
"Iya nggak papa."
"...tapi, tolong ya man, titip memonya." [sambil berancang-ancang mau nepuk pundak lagi]
"Iya. Awas tangannya, tangannyaaa...!!"
"Oh iya sorry lupa, kebiasaan."

Siangan dikit..
"Makan siang di mana kita Gung?" [sambil nepuk pundak]
"AAAAAOOOWWW...!!!"
"Loh, loh, kenapa?"
"...blablabla..." [menceritakan kronologis pengurutan pundak]
"Lagi pada ngomongin apa sih kok seru banget?" tanya seorang teman yang lain, sambil memijat pundak.
"$%@!!!! ^^&%!!!!!"

Sorenya, temen gue yang bernama Rudi minta tolong dibuatin logo dan proposal untuk sebuah band yang baru dibentuknya.
"Tolong yah gung, dibuat rada gimana gitu biar nggak malu-maluin waktu ngajuin ke produser rekaman," katanya
"Iya. Tapi TANGANNYA AWAS JANGAN NYENGGOL PUNDAK GUE!"
"Iya, iya..."

Beberapa saat kemudian,
"Nih Rud, proposalnya gue buat begini, oke nggak?"
"WUAH.. GUNG! KEREN PISAN EUY!!" serunya excited sambil... PLOOOK! menepuk pundak gue sekuat tenaga.  

Siapa sih pakar manajemen yang dulu pernah nyeletuk 'sebuah tepukan di pundak lebih berharga dari uang'? Pingin gue sobek-sobek mulutnya. 

 

*tentunya bukan dalam pengertian 'lucu' secara harfiah ya. 
**lagi-lagi tidak untuk diartikan secara harfiah.
***apalagi yang ini, sama sekali tidak bermakna harfiah.


Blog EntrySeandainya gue sapi...Mar 13, '07 10:49 AM
for everyone
Pada suatu hari, temen gue yang bernama Anto (pernah dijurnalin di sini) iseng memegang-megang lengan gue dan berkata,
"Seandainya elu sapi, harga lu murah banget. Soalnya keras, man..."

Walaupun kedengerannya aneh, itu adalah sebuah komplimen atas kerja keras gue selama hampir 4 bulan terakhir. Thanks ya To!

Banyak orang yang kehilangan motivasi berolah raga karena sasarannya adalah angka tertentu di timbangan atau di pita pengukur. Ketika angka-angka itu nggak juga tercapai, lantas putus asa dan berhenti berusaha. Padahal, ada banyak 'reward' yang mungkin terlewat dari pengamatan kita, seperti:
  • perasaan lebih fit waktu bangun tidur
  • sakit / nyeri di persendian yang mendadak ilang
  • makanan yang terasa lebih nikmat (waktu dimakan sehabis olah raga)
  • botol-botol saos yang terasa lebih gampang dibuka
  • ketahanan untuk keliling mall lebih lama
  • jarak-jarak yang terasa memendek (karena kita mampu berjalan lebih cepat)
  • ...atau fakta bahwa seandainya kita sapi, kita punya peluang hidup lebih panjang
Jangan cuma terpaku pada angka, hargai juga keberhasilan-keberhasilan kecil yang berhasil kita capai dengan olah raga. Nggak mesti jadi sapi yang paling murah, tapi minimal gue berusaha bahwa minggu depan gue adalah sapi yang lebih murah dari minggu ini. Appreciate your own effort! Yuk, mulai olah raga sekarang!

Oh iya, ngomong-ngomong, gue juga udah turun 2 kilo lagi sejak journal yang ini - tetep tanpa diet dan minum nescafe ice 2 kali sehari.

Gambar gue comot dari sini.

Blog Entrysogo: this used to be my playgroundFeb 25, '07 11:38 AM
for everyone
Hari Sabtu 24 Februari 2007 kemarin gue mampir ke Sogo Plaza Indonesia karena denger-denger mereka lagi ngadain big sale dalam rangka penutupan toko. Mulai 1 Maret 2007 nanti, Sogo akan menutup outletnya di Plaza Indonesia, konon karena terus merugi. Berhubung ini adalah closing sale, nggak heran kalo pengunjungnya tumplek blek kaya cendol.

Wah terus terang gue sedih juga mau kehilangan Sogo. jadi inget waktu SMA dulu, tempat ini jadi tujuan favorit selepas ngabur pelajaran olah raga seminggu sekali. (waktu itu gue anti banget sama yang namanya pelajaran olah raga, jadi tiap kali ada pelajaran itu gue ngabur. Di akhir tahun ajaran gue  disuruh ikut susulan, dalam satu hari harus ngelakuin semua kegiatan olah raga selama 1 semester. hasilnya badan gue remuk kaya abis digebukin orang sekampung).

Sebenernya nggak jelas juga sih kegiatan gue selama muter-muter di Sogo waktu SMA. Nggak pernah beli apa-apa di sana secara memang harganya nggak terjangkau kantong, cuma seneng aja liat barang bagus-bagus. Kadang jam 10 pagi gue udah ada di sana, barengan sama para penjaganya buka toko. Muter-muter keliling toko, cuma numpang baca buku sama liat2 mainan... eh, pernah ding gue beli sesuatu di Sogo, yaitu sebuah mug bergambar tokoh film Rocketeer yang harganya waktu itu (tahun 1991) lumayan mahal untuk harga sebuah mug yaitu Rp. 30.000 - sementara di luaran banyak dijual mug keramik seharga Rp. 2.000 -3.000 saja.

Hmmm... sekarang 'taman bermain' gue itu mau bubar... huhuhu... sedih... bye-bye Sogo, thanks for those wonderful years :-(

Foto: suasana pengunjung kalap merespon diskon gede2an di Sogo. Big sale ini masih akan berlangsung sampe 28 Februari 2007.

Photo AlbumHari geeneee posting banjir? (24 photos)Feb 18, '07 9:52 AM
for everyone

Ya ya ya... kayaknya ngomongin banjir udah basi kali nggak? Tapi lumayan lah sekedar buat kenang-kenangan, dan cerita ke anak-cucu bahwa di tahun 2007 Jakarta pernah banjir (ceritanya optimis bahwa someday Jakarta akan bebas banjir).

Ini rekaman kegiatan gue dari tanggal 5 sampai 7 Februari 2007. Kronologisnya:


Jum'at 2 Februari 2007

Paginya gue masih sok2an ngantor, tapi menemukan kantor kosong melompong. Cuma 5 orang dari total 18 orang di divisi gue yang masuk kerja. Setelah sholat Jum'at, gue pulang lagi :-)
Air di rumah mulai mati, tapi untung masih bisa nebeng mandi di gym :-)


Sabtu 3 Februari 2007

Kakak gue yang tinggal di Sunter mampir ke rumah untuk menjemput ibu mengungsi ke rumahnya. Di Sunter memang ada gejala air menggenangi jalan, tapi minimal air masih nyala - sementara kondisi ibu yang sekarang masih belum terlalu 'mobile' agak repot untuk hidup dengan air terbatas. Gue dan Ida memutuskan untuk ikutan ngungsi, sementara 2 orang 'asisten' urusat nyapu-nyapu tetap tinggal di rumah.
Malemnya, ada pengumuman di TV bahwa pintu air Manggarai udah dibuka. Ida menginstruksikan kedua 'asisten' lewat telepon untuk memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.
Sekitar jam 11 malem, kedua asisten di rumah melaporkan, air udah masuk rumah setinggi mata kaki. Listrik ikutan mati.
Malam itu gue begadang, sambil mengamati sebuah mobil yang parkir di seberang rumah kakak gue. Mobil itu gue jadiin patokan ketinggian air, dengan cara menghitung jumlah mur yang masih terlihat di atas permukaan air. Ada 4 mur di roda depan, dan malam itu air stabil di bawah mur ke tiga.


Minggu 4 Februari 2007

Belanja perbekalan di Carrefour Cempaka Mas. Sebagian jalan di sekitar Sunter bebas banjir, tapi Yos Sudarso terendam sampe setinggi kap mobil.

Berita Metro TV gue monitor terus, dan dari jam ke jam kayaknya makin mengkhawatirkan. Akhirnya gue memutuskan untuk mengungsikan ibu, Ida, dan bayi Rafi ke kakak gue yang lain, yang lagi nginep di sebuah hotel di kawasan Kuningan. Masalahnya kalo seandainya banjir sampe merendam lantai 1, gimana caranya memindahkan ibu yang masih berkursi roda ke lantai atas?

Gara-gara banjir di banyak titik akses, perjalanan dari Sunter menuju Kuningan harus melewati rute yang muter jauh banget: Sunter - Kemayoran - pintu tol Kemayoran - exit di pintu tol mampang. Di sepanjang jalan tol banyak orang parkir menyelamatkan mobilnya dari banjir. Setelah mendrop ibu, Ida, dan bayi Rafi di hotel, gue balik lagi ke Sunter. Begadang lagi, nontonin ketinggian air merendam ban mobil tetangga.


Senin 5 Februari 2007

Karena keliatannya ketinggian air nggak akan mencapai tingkat yang mengkhawatirkan, pagi-pagi gue berangkat lagi ke Kuningan menjemput ibu, Ida, dan byi Rafi. Dari sana mampir ke rumah untuk menjemput kedua asisten urusan sapu-menyapu yang hidup merana 2 hari tanpa air dan listrik. Luar biasa, mereka berinisiatif menampung air hujan dan memanfaatkannya untuk mengepel rumah, sehingga pas gue dateng rumah udah bersih kinclong tanpa ada bekas2 abis kebanjiran!

Malemnya begadang lagi.


Selasa 6 Februari 2007

Dini hari, gue kaget setengah mati waktu ngeliat ketinggian air tiba-tiba naik drastis. Yang tadinya masih di level 3 mur mobil, sekarang tinggal kelihatan 1 mur dalam waktu 15 menit!

Akhirnya di tengah pagi buta itu gue dan Ida kelimpungan sibuk menambal celah pintu dengan lilin mainan. Lumayan lho, 'seal' primitif ini. Walaupun mungkin masih ada air yang menerobos masuk, tapi minimal lumpurnya masih bisa tersaring.

Untungnya air nggak terus meninggi, dan setelah matahari terbit ada gejala air mulai menyurut.

Rabu 7 Februari

Air udah surut sepenuhnya, dan gue mulai ngantor lagi.

Blog EntryHoree... nyobain naik bajaj baru!Feb 14, '07 6:44 AM
for everyone

Kemarin pagi, pas mau berangkat ke kantor, ujan turun. Berhubung sebelumnya udah ada 'agreement' dengan sang tukang ojek langganan bahwa bila hari hujan mending beliau nggak usah jemput aja sekalian karena gue males naik ojek sambil ujan2an, maka otomatis hari ini beliau nggak nongol di depan pager rumah.

Setelah mempertimbangkan berbagai alternatif transportasi umum menuju kantor, akhirnya gue memutuskan untuk naik bajaj aja sampe halte busway terdekat trus lanjut naik busway. Eh, nggak lama kemudian, lewatlah bajaj versi baru yang berbahan bakar gas itu. Kebetulan gue belum pernah ngerasain naik benda ini, maka guepun naiklah dengan cerianya, dan berikut ini kesan-kesan gue:

Getarannya jauh lebih sedikit dari bajaj versi lama. Ruang tempat duduk penumpang terasa lebih lega karena interiornya serba lurus tanpa lekukan2 yang kurang perlu. Waktu mau belok, bajaj versi baru ini mampu melakukan sebuah hal yang jarang bisa dilakukan oleh bajaj lama yaitu: nyalain lampu sen. Selain itu dia juga mampu menyalakan wiper. Dan oh iya... entah dengan yang lainnya ya, tapi bajaj yang gue naikin ini FULL MUSIC! Yah, gue nggak bisa berharap banyak dari pilihan lagu sang pemilik bajaj, tapi minimal lumayan lah - ada hiburan dari sepasang speaker besar di belakang sandaran duduk penumpang. Hebat kan? Tarifnya sama aja dengan bajaj versi lama.

Yang jelas, saat naik bajaj baru ini gue nggak berani ngerokok sama sekali. Pertama karena bajajnya masih bersih banget, jadi sungkan. Kedua karena gue setress ngebayangin ada sebuah tabung gas bercokol di bawah pantat gue, kalo tiba-tiba bocor kan gawat...

*posting yang kurang penting ya?

Blog Entrygoing down...Jan 11, '07 9:38 AM
for everyone
Hari ini adalah hari yang bersejarah buat gue.
Setelah gabung di Gold's Gym selama kurang lebih 6 minggu, tadi gue nimbang dan.... hore,,, berat gue turun 2 kilo!!

Sebenernya dulu waktu gue baru join selama 2 minggu, timbangan sempet menunjukkan angka yang sama yaitu turun 2 kilo. Tentunya gue seneng buanget, tapi terus curiga: too good to be true, masa iya baru latihan 2 minggu udah turun 2 kilo aja. Iseng gue gebrak timbangannya, dan tuuuuut.... jarumnya naik ke angka 2 kilo lebih berat. Tuh kan, ternyata timbangannya sekedar meniupkan angin surga. Huh, timbangan pendusta!

Hari ini gue sempet memiliki kekhawatiran yang sama, makanya tu timbangan gue gebrak2 lagi waktu menunjukkan angka yang terlalu menggembirakan. Eh ternyata jarumnya stay di angka itu. Gue turun, naik lagi, turun lagi, naik lagi, angkanya tetep sama. Horeee....!! Memang penurunan berat badan nggak akan terus2an secepet ini - makin lama penurunannya akan semakin sedikit - tapi minimal lumayan buat penambah semangat.

Perlu dicatat bahwa prestasi ini gue capai TANPA diet sama sekali. Makan pagi pake nasi dan lauk pauk seperti biasa (walaupun porsinya nggak besar), makan siang porsi kuli, makan malemnya kadang porsi kuli lagi. Ngopi Nescafe Ice 2 kali sehari, pagi dan malem sebelum tidur (kalo lagi libur malah bisa 5 kali sehari), PLUS siangnya minum kopi kemasan Capuccini. Ngemil kacang sukro kalo lagi ngeMPi, dan rokok kretek minimal sebungkus sehari.

Buat yang mau ikutan nyoba, porsi latihan gue adalah:

Senin - Jum'at
  • 1 jam cardio exercise (apa aja, mulai dari treadmill, sepeda stasioner, sampe kelas aerobik - ganti2 setiap hari biar ga bosen). Pilih yang high intensity, yang kalo habis latihan kaosnya bisa diperes saking basahnya.
  • 30 menit latihan beban
  • 20 menit jalan kaki pulang ke rumah (sambil ngerokok sebatang, kadang ditemenin Original Popuccinno-nya Bengawan Solo, kadang kalo lagi laper - banget - seperti - serigala - abis - nyasar - 2 - minggu - di - gurun - sahara sambil ngemil bacang ayam).

Sabtu
  • 1 jam cardio exercise
  • 1,5 jam latihan beban
  • 20 menit jalan kaki ke rumah

Minggu - libur

Sejak tahun 2004 sebenernya gue udah gabung di fitness center lain, tapi efeknya nggak sedrastis ini. Di Gold's Gym latihan gue bisa lebih efektif karena tempatnya masih sepi sehingga kita bener2 diperhatiin sama instrukturnya. Kalo lagi ikut kelas, mereka akan ngasih tau personally gerakan2 mana aja yang salah / kurang optimal. Selain itu, lokasinya juga lebih deket ke rumah, kalo berangkat naik Kopaja 5 menit juga sampe.

Selain berat badan turun, gue juga merasakan dampak2 positif lainnya dari olah raga, seperti:

Di kantor gue bisa berkonsentrasi lebih lama. Dulu tiap sejam kerja gue mulai ngantuk dan males, trus ngabur ke tangga untuk ngerokok. Sekarang bisa 2-3 jam non-stop tanpa jeda. Efek dominonya, selain kerja juga jadi lebih efektif, konsumsi rokok juga jadi berkurang!

Perbaikan stamina juga ternyata berdampak besar terhadap tingkat "can do" attitude.

Dulu
: kalo musti ngelewatin jembatan penyeberangan gue akan mikir, "Oh sh!t, malesnyaaaa... musti naik tangga segitu banyaknya..."
Sekarang: "Musti naik tangga? Ya udah ayo, ada masalah?"

Dulu
: kalo nemuin dispenser air kosong, "Waduh, airnya abis... Mana sih OB-nya... "
Sekarang: "Mana tisu antiseptiknya, sini gue ganti sendiri. 19 kilo mah enteeeeng...." huhuhu...

Dulu: ada tikus lewat, lagi nggak megang senjata pemukul, "Yah... ada tikus..." (pasrah).
Sekarang: "Mana container buku, sini gue mejretin tuh tikus!!"


Karena gue latihannya malem (sepulang dari kantor), sampe rumah udah capek dan bikin tidur lebih nyenyak. Karena kualitas tidur membaik, maka gue bisa bangun dengan lebih segar dan lebih pagi! (Semakin baik kualitas tidur kita, maka semakin pendek durasi tidur yang dibutuhkan oleh tubuh).

Management stress yang lebih baik. Gue pernah baca somewhere bahwa olah raga membuat tubuh memproduksi zat tertentu yang membuat mood lebih ceria. Itu gue rasakan banget, sampe Ida pernah berkomentar sinis, "Suami kalo habis olah raga ngocehnya jadi lancar sekali ya?!" (saking sebelnya diledekin melulu oleh suami yang lagi euphoria pasca olah raga).

Wah, pokoknya banyak banget deh manfaat olah raga. Bukan cuma manfaat buat fisik, tapi buat psikis juga. Jadi, ayo mulai olah raga sekarang! (terutama buat kamu, kamu, dan kamu, iya, kamu itu yang di belakang, jangan ngumpet... kapan ya mau merealisasikan janjinya nemenin gue nge-gym bareng?)

image gue pinjem dari sini

Blog EntryDi rumah, ibu seperti wolverine!Jul 29, '06 1:57 PM
for everyone

K
eputusan untuk memulangkan ibu dari rumah sakit di awal Juni lalu sebenernya sangat dilematis. Di satu sisi, kondisi ibu masih jauh dari sembuh dan di Makassar ibu ditangani tim dokter yang kinerjanya sangat memuaskan. Seharusnya ibu masih terus dirawat di sana. Tapi di sisi lain, ibu nampak stress ingin segera pulang ke Jakarta. Kalau sedang demam tinggi, kadang ibu mengingau ngomong sama kursi kosong seolah-olah salah satu anaknya dari Jakarta duduk di situ. Dari hari ke hari kondisi ibu fluktuatif. Kalo hari ini nampak membaik, bisa ngobrol dan ketawa-ketawa, besokannya bisa tiba2 panas tinggi hingga lewat dari 39oC dan mengigau.

Akhirnya, tanggal 9 Juni kami mengambil keputusan berat itu: memulangkan ibu ke Jakarta. Sebuah perjalanan yang sangat sulit mengingat masih ada bekas operasi yang belum mengering di tangan kanan dan kaki kiri ibu. Tangan dan kaki yang sakit itu bengkak parah Jangankan digerakkan, kesenggol bantal aja ibu bisa berteriak-teriak kesakitan. Bayangin effort yang harus dikeluarkan untuk mengangkut ibu dari RS ke airport, memapah naik ke pesawat, menurunkannya lagi, menaikkan ke mobil dan menurunkan dari mobil sesampainya di rumah di Jakarta.

Waktu ibu sampai di Jakarta, kami anak-anaknya sempet berunding mempertimbangkan perlu atau enggaknya menyewa tenaga perawat profesional untuk merawat ibu di rumah. Kalau ditimbang dari segi kebutuhan, kehadiran seorang perawat jelas sangat perlu karena nggak ada seorangpun di antara kami yang berpengalaman merawat pasien dalam kondisi sulit bergerak seperti ibu. Tapi kami juga mempertimbangkan faktor psikologis ibu yang sebagaimana umumnya orang tua udah nggak mudah lagi beradaptasi dengan kehadiran orang baru. Gimana kalo ternyata perawat yang kami hire kurang berkenan di hati ibu? Atau, gimana kalau ibu malah merasa anak2nya udah nggak sudi lagi merawatnya sehingga menyerahkannya ke tangan suster? Bisa-bisa malah bikin ibu tambah stress! Akhirnya dengan mengucap Bismillah, kami memutuskan untuk mencoba merawat ibu sendiri.     

Kami langsung saling membagi tugas. Kakak gue yang nomer dua bertugas menyiapkan sarapan dan memandikan ibu, bergantian dengan kakak gue yang nomer satu. Ida juga membantu, memasak dan menyiapkan makanan buat ibu. Siang hari, keponakan2 gue yang baru pulang sekolah berkumpul di kamar ibu, tidur-tiduran sambil ngoceh cerita pengalaman mereka hari itu. Malem, giliran gue dan Ida atau kakak gue yang nomer dua tidur di kamar ibu. Praktis 24 jam sehari ibu dikelilingi anak dan cucu.   

Bagaimana dengan gue?

Gue, dapet tugas mengganti perban ibu dua kali sehari, cek gula darah, menyuntik insulin, plus urusan angkat-mengangkat ibu rute tempat tidur - kursi roda P.P.  Awalnya, urusan ganti perban cukup stressful juga buat gue karena sumpah deh, luka bekas operasi ibu khususnya yang di tangan tuh ngeri banget. Diameternya lebih dari 1 cm gitu, dan tiap kali perban dibuka ada darah segar mengucur. Kakak2 gue plus Ida pada takut darah, khususnya kakak gue yang nomer dua: dia kayaknya udah masuk kategori 'phobia' karena tiap kali liat darah dia menunjukkan gejala2 mau pingsan. Jadi nggak ada pilihan lain kecuali gue - yang mana juga nggak terlalu tega juga sih liat darah, tapi masih mendingan lah ketimbang mereka. Minimal gue pernah belajar tentang phobia dan panic attack jadi bisa mengindoktrinasi diri sendiri supaya nggak panik saat liat darah kayak air ngucur dari keran gitu.   

Walaupun sekilas kelihatan sepele, tapi proses merawat orang sakit bener2 bukan hal yang gampang bagi sekumpulan orang yang nggak berpengalaman seperti kami. Proses mengantar ibu ke dokter untuk pertama kalinya, misalnya, berjalan sangat heboh dan sulit. Waktu mau memindahkan ibu dari kursi roda ke mobil, gue yang kebagian tugas mengangkat ibu jadi serba salah karena pintu mobil membentuk sudut sempit yang sulit dimasuki oleh kursi roda. Hasilnya, pulang dari dokter pinggang gue keseleo dan kami jadi berkhayal, "coba punya mobil Toyota Alphard ya... kan enak, pintunya geser..."

tiap kali perban dibuka ada darah segar mengucur

Tapi hari demi hari, proses berjalan semakin mudah. Dari terapis yang datang untuk memberikan fisioterapi, kami belajar gimana cara mengangkat dan memindahkan ibu secara lebih cepat, aman dan nyaman. Gue mulai mendapati kegiatan ganti-mengganti perban sebagai kegiatan yang seru. Kayak main dokter2an, gitu. Gue pake masker kayak yang dipake dokter kalo mau operasi, pake sarung tangan karet yang steril, dengan dalih supaya luka ibu nggak kemasukan kuman - padahal diem2 ada faktor "supaya pengalaman dokter2annya lebih real" aja sih.... hehehe... 

Mungkin karena faktor psikologis berada di rumah dan dikelilingi orang-orang yang dekat dengannya, perbaikan kondisi ibu berjalan melebihi ekspektasi kami. Misalnya luka bekas operasi itu. Dokter di Makassar memperkirakan, dengan pertumbuhan kulit baru sekian milimeter per hari, luka sebesar itu baru akan menutup dalam 2 bulan. Nyatanya, baru dua minggu ibu di rumah, gue sebagai tukang ganti perban mulai kesulitan memasukkan gulungan perban ke luka ibu karena ukuran luka yang semakin mengecil. Di akhir bulan Juni kemarin, alias baru 3 minggu sejak kepulangan ibu, gue takjub mendapati luka ibu udah sepenuhnya menutup!           

Suhu ibu juga berangsur-angsur normal. Sebisa mungkin gue menekan penggunaan obat penurun panas, jadi begitu suhu ibu udah melewati 37.5oC ibu gue kasih 4 butir VCO kapsul. Tadinya ibu protes karena merasa lebih yakin pada obat ketimbang VCO, tapi gue bilang, "Ya udah, coba dulu minum VCO, kalo dalam 1 jam panasnya nggak turun baru minum obat deh..." Entah memang karena khasiat VCO atau karena sugesti ngeliat gue yang ngomong dengan stil yakin banget, biasanya cukup dengan minum VCO panas ibu merosot ke level di bawah 37.5oC. Jangan lupa, untuk wilayah Menteng, Kuningan, Thamrin dan Sudirman tersedia layanan antar gratis untuk pembelian VCO - pesan sponsor.  

Di bawah pengawasan mas fisioterapis, ibu juga terus berlatih menggerakkan tangan dan kaki. Setiap malem ibu gue tanya, "Udah bisa apa hari ini?" Kemajuan-kemajuan kecil seperti gerakan mengangkat tangan secara horisontal atau memegang kue sendiri jadi momen istimewa. Gue menyemangati ibu dengan cara membandingkan kemajuan yang berhasil dicapai dengan kondisi sebelumnya, seperti   "Inget nggak, waktu baru sampe Jakarta, cuma kesenggol bantal aja udah sakit, sekarang bisa megang gelas sendiri. Hebat, kan? Ayo latihan terus bu." Selain itu, foto2 ibu selama di RS di Makassar gue tayangin ke tivi dan gue komentarin, "Liat tuh bu, dulu ibu kayak gitu kondisinya... hiiy ngeri banget.... coba liat sekarang, jauh banget kan kemajuannya?" Kadang kalo lagi timbul putus asanya, ibu suka bilang, "Nanti kalo anakmu lahir, apa aku bisa ya nengok ke rumah sakit pake kursi roda?" yang gue jawab dengan "Lah, ngapain pake kursi roda, bulan November ibu kan udah bisa jalan!"    

Rupanya cara motivasi seperti ini lebih berkenan buat ibu, sampe ibu pernah bilang "Orang sedunia* pada ngoprak-oprak (ngejar-ngejar) aku, suruh cepet sembuh, cepet bisa jalan, cuma Agung yang memberi semangat."  Diam2 ternyata ibu bete kalo ada orang yang mencoba menyemangati dengan mengatakan hal-hal seperti "Ayo bu, cepet sembuh, biar kita bisa cepet jalan-jalan lagi" atau "Cepet sembuh dong bu, kan bosen di tempat tidur terus?"  karena buat ibu terasa seperti pressure, seperti target yang harus cepet diraih. "Emangnya siapa sih yang nggak mau cepet bisa jalan, tapi apa lu nggak tau, gue udah berusaha tapi kondisi gue masih seperti ini" mungkin begitu yang ada di benak ibu. Jadi pelajaran yang bisa gue tarik saat menangani orang sakit adalah,

Hargai kemajuan sekecil apapun yang udah berhasil dicapai, dan jangan membebani pikiran pasien dengan target muluk yang nggak usah diomongin juga semua orang sakit ingin mencapainya. 

Hari ini, ibu kembali membuat milestone karena berhasil jalan mengelilingi meja makan. Memang masih dengan dipengangin oleh mas fisioterapis dan sebelah tangan masih berpegangan ke meja, tapi ini sebuah lompatan besar untuk sebuah kondisi yang menurut dokter di Makassar "lukanya aja baru akan kering setelah 2 bulan". 

Saat didudukkan kembali ke kursi roda, ibu menengok ke sepasang sandalnya yang teronggok di sudut ruangan dan bilang ke Lis, asistennya urusan sapu menyapu, "Lis, tolong sandalku itu dibersihin ya, kali-kali aku sebentar lagi butuh untuk jalan..."

Ternyata, dirawat di rumah bikin ibu seperti Wolverine** :-)  

 

*ya, ibu juga suka hiperbola seperti anaknya. 
**tokoh komik yang memiliki 'healing factor' sehingga kalau cedera bisa langsung sembuh. Gambar Wolverine (kiri) lagi lawan Sabretooth(kanan) di atas adalah karya Jim Lee, gue ambil dari sini




Photo AlbumNgantor pake baju baru :-) (3 photos)Jul 24, '06 9:34 AM
for everyone

S
alah satu kebahagiaan yang gue rasakan di kantor yang sekarang adalah: nggak perlu pake dasi. Sebagai bank pasar, ada peraturan nggak tertulis bahwa para pegawainya - termasuk para boss - harus tampil sedemikian rupa sehingga nggak jadi barang aneh kalo keluyuran di pasar.

Buat para pegawai pria, ini artinya bebas mau pake baju apa aja ke kantor asalkan masih berbentuk kemeja. Celananya pun nggak usah pake yang resmi, bahkan ngantor pake celana cargo pun dijamin nggak ada yang komentar deh.

Lingkungan seperti ini tentunya sangat kondusif buat gue yang emang paling males pake baju resmi2an. Lah kalo para boss aja tampil santai, apalagi gue si kroco ini bukan? Maka sekalian aja gue manfaatkan untuk ajang promosi MP! Hehehe...

Gambarnya gue gambar freehand biasa di atas kertas, discan, diwarnain di photoshop, terus diprint di atas kertas t-shirt transfer. Ada yang mau pesen?

G
ue adalah orang yang percaya bahwa pengetahuan bisa datang dari mana aja. Tapi kadang, ada peristiwa di mana pengetahuan yang kita serap harus diteliti lebih lanjut. Bukan karena "salah" atau "nggak benar", tapi karena ada "sisi lain" yang mungkin "perlu dipertimbangkan". Mungkin pengalaman gue di bawah ini bisa sedikit memperjelas apa yang gue maksud :-)


Sekitar tahun 1995, gue memulai sebuah program yang oleh anak-anak psikologi (UI?) disebut stage (dilafalkan: stasye) atau stasis - program praktek setelah 3.5 tahun sebelumnya cuma belajar teori doang. Kalo nggak salah sekarang program ini udah nggak ada, karena di fak. Psikologi jaman sekarang pendidikan akademis udah dipisah dengan pendidikan profesi.

Waktu itu gue lagi menjalani stasis di jurusan Psikologi Klinis. Salah satu tugas gue adalah mewawancarai para penghuni panti "M", sebuah panti yang dikelola pemerintah, berlokasi di Jakarta Timur, yang menampung.. perempuan2 (yang dicurigai) sebagai PSK! Kenapa gue tulis 'yang dicurigai'? Karena cukup banyak juga penghuni panti ini yang salah tangkap. Mereka masuk ke sini krn kemalaman di jalan, kepergok sama patroli Polisi Pamong Praja, kena garuk dan terperangkap di sini. Jadi kalo sekarang orang ribut soal razia perempuan malam2 di Tangerang, sebenernya praktek sejenis udah ada sejak lama di Jakarta. Masalahnya memang sulit membuktikan dan menarik garis tegas apakah seseorang itu PSK atau bukan. Jadinya ya... para petugas di sana tutup mata dan kuping aja, pokoknya kalo sampe kena garuk ya artinya mereka PSK. Titik.  

Klien yang gue tangani di sana kita sebut aja bernama Nani. Berdasarkan hasil wawancara, dia ini sih kayaknya "beneran", bukan salah garuk. Dengan polosnya dia  menceritakan pengalaman pertamanya berkenalan dengan profesi yang sekarang, termasuk tarif yang biasa diterima. Dia biasanya beroperasi di sebuah hotel kecil di bilangan Pasar Baru.

Selama proses wawancara yang memakan waktu beberapa minggu itu, Nani sering mengeluh sakit. Katanya, dia udah lama menderita sejenis "infeksi perut".  

"Saya biasanya minum Supertetra Mas."

"Mas, bisa tolongin bawain obat buat saya nggak? Saya kan nggak boleh keluar dari sini, jadi nggak bisa beli obat. Tolong mas, sakit sekali," kata Nani kalo sedang kumat.
"Memang biasanya minum obat apa sih?"
"Saya biasanya minum Supertetra Mas. Obatnya murah kok, tapi manjur. Kalo udah minum itu biasanya sakitnya hilang."

Gue, tentu aja nggak tega melihat klien gue menderita. Lagian obat sebutir dua butir cuma berapa sih harganya, pikir gue. Tapi daripada salah, gue konsultasikan dulu dengan pembimbing gue dan ternyata ditolak mentah-mentah.

"Jangan! Di sana kita hanya bertugas mewawancarai mereka, nggak boleh lebih dari itu. Kalau sampe ketahuan mahasiswa sini membantu mereka dalam bentuk apapun, bisa2 ijin kita dicabut, nggak boleh praktek lagi di sana."

Ya sudah, dengan sangat menyesal gue sampaikan berita tersebut kepada Nani walaupun dalam hati nggak tega ngeliat dia melintir-melintir kesakitan gitu.

Setelah proses wawancara selesai, tiba waktunya untuk bikin laporan. Laporan yang harus gue bikin lumayan tebel karena mencakup berbagai aspek psikologis sang klien. Lumayan stress juga bikinnya karena deadlinenya mepet banget. Eh udah kondisinya kaya gitu, 'musibah' menimpa gue.

Gara-garanya ibu baru beli alat potong sayuran bernama SuperSlicer yang waktu itu lagi ngetop diiklanin di TV Media. Di tivi gue liat alat itu canggih banget, bisa motong aneka sayuran dengan gampang saking tajemnya. Dasar iseng, begitu liat ibu punya SuperSlicer diem2 gue nyomot sepotong timun busuk dan nyoba keampuhan alat itu. Sret-sret-sret, timun yang berukuran cukup besar itu terpotong dengan cepet dan gampang sekali, saking gampangnya sampe tau-tau SRET! Loh... kok jempol gue sakit? Loh, kok berdarah? Lha... ternyata jempol kanan gue ikutan teriris! Lumayan gede juga lukanya, ada secuil jempol gue tertinggal di alat itu. Darahnya ngalir keluar kayak dipompa sampe netes2 di lantai.

Darahnya ngalir keluar kayak dipompa sampe netes2 di lantai.

Dengan peralatan P3K seadanya gue obati luka itu sampe beberapa hari kemudian gue ngerasa badan gue makin nggak sehat. Gue demam, mata berkunang-kunang, pusing, jempol gue membengkak dan terasa nyut-nyutan. Padahal saat itu gue harus ngetik karena deadline nggak bisa ditawar-tawar. Gue udah coba obatin luka itu dengan cairan Betadine dan Sulfanilamide, bubuk pembersih luka, tapi nggak ada perbaikan. Kayaknya gue kena infeksi, karena sekarang bukan cuma jempol doang yang bengkak melainkan merambat sampe ke siku. Tangan kanan gue jadi segede tangan Popeye gitu. Sakitnya setengah mati. Melek pusing, tidur gelisah, serba salah.

Saat itulah gue teringat pada Nani dan obat Supertetranya. "Kata Nani, dia sakit infeksi dan sembuh kalo minum Supertetra. Hmm.. mungkin sebaiknya gue juga minum itu aja biar cepet sembuh dan bisa ngetik lagi," pikir gue. Maka gue pergi ke apotik, beli Supertetra.

Gue inget waktu itu mas-mas penjaga apotik sempet nanya, "Mau beli Supertetra?  Udah biasa pake?"
"Udah!" jawab gue sok yakin. Gue beli satu papan.

Sampe rumah, gue minum tuh obat. Bentuknya kaplet gitu, gede banget. Kurang lebih 2 kali ukuran kaplet Enervon-C deh. Abis minum Supertetra, gue tidur.

Tidur gue waktu itu gelisah banget, mimpi yang aneh2 dan serem2 termasuk mimpi kejeblos. Pernah kan mimpi kaya gitu? Serasa lagi kejeblos sampe kebangun? Sepanjang malam keringat mengucur sampe sprei gue basah kuyup.

Paginya gue bangun, dan... hei! Badan rasanya enak banget! Segar bugar, bengkak gue langsung kempes, dan tentu aja bisa ngetik laporan lagi. Dalam hati gue bersyukur dan berterima kasih atas pengetahuan dari Nani ini.

Beberapa bulan kemudian, kalo gak salah pas Lebaran, rumah rame dikunjungi sanak saudara. Ada salah seorang saudara gue yang dulunya kuliah di FISIP, jurusan Anthropologi. Gue ngobrol sama dia ngalor-ngidul termasuk pengalaman gue ketemu Nani, kena infeksi dan minum Supertetra.

Denger cerita gue dia ngakak nggak berenti-berenti.

"Tau nggak sih gung, Supertetra itu obat apa?"
"Obat infeksi, kalo kata klien gue sih..." jawab gue bingung.
"Iya memang dia obat infeksi. Dia itu sebenernya antibiotika dosis tinggi yang terkenal untuk mengobati... Sifilis dan G.O. !!!"

Whuaaa.. gubraks... pantesan mas-mas penjaga apotik menatap gue dengan pandangan aneh gitu waktu gue beli Supertetra. Mungkin dia pikir, "kasihan sekali anak ini, masih muda gini udah 'kena'" Huhuhuhu... siyal. Saudara gue itu cerita, dia dulu juga pernah kuliah praktek di lingkungan PSK, dan dari sana dia dapet pengetahuan tentang Supertetra ini. Bedanya, pengetahuan yang dia terima jauh lengkap dari gue!

Jadi anak-anak, pesan moralnya:

"seraplah pengetahuan dari lingkungan sebanyak-banyaknya, tapi jangan lupa bersikap kritis."

Sekian. 

 

Gambar gue comot dari sini




Blog EntryMisteri suara tangisan di baby monitorJun 21, '06 2:13 PM
for everyone

P
roblem kecil yang cukup mengganggu sejak kepulangan ibu adalah masalah komunikasi. Kamar ibu ternyata cukup kedap suara sehingga kalo ibu memanggil dari dalam kamar, sering nggak kedengeran dari bagian rumah yang lain - sekalipun dari ruang makan yang posisinya bersebelahan. Tadinya sempet kepikir mau pasang bel atau interkom untuk memudahkan kalo mau memanggil kami, tapi pikir-pikir percuma juga mengingat tangan ibu masih sangat kaku. Bel dan interkom kan dioperasikan dengan cara dipencet?

Akhirnya gue dapet ide: pake baby monitor aja!

Sejujurnya sih gue baru pernah liat benda ini di film-film hollywod; yaitu sepasang radio satu arah - yang satu hanya berfungsi memancarkan sinyal, sementara pasangannya hanya berfungsi menerima sinyal. Mirip walkie talkie tapi nggak bisa dipake buat ngobrol. Tentu aja benda ini nggak dibuat bisa komunikasi dua arah karena gunanya adalah memonitor keadaan bayi di kamar. Kalo bayinya nangis, alat pemancar otomatis nyala dan mengirimkan suara tangisan tersebut ke alat penerima yang berada di tangan sang pengasuh. Tujuannya tentu aja agar sang pengasuh bisa segera datang membantu si bayi - bukannya untuk ngajak ngobrol - makanya baby monitor hanya bisa dipake 1 arah.

Berhubung seumur-umur gue belum pernah liat benda ini dalam bentuk nyata, maka rada bingung juga mau nyari ke mana. Tadinya gue sempet kepikir nyari di toko2 yang jual pesawat telepon stasioner, tapi ternyata para penjualnya bahkan belum pernah mendengar benda bernama "baby monitor". Akhirnya gue nemu satu biji di toko Go-Lo Pasar Baru, tinggal satu-satunya dan dusnya udah berwarna sangat belel. Tapi berhubung nggak ada pilihan lain ya udah gue beli aja. Sebuah keputusan yang tepat karena belakangan Ida jalan-jalan ke toko bayi dan nemu baby monitor keluaran produsen perlengkapan bayi ternama seharga minimal 3 (yak betul, TIGAAA...) kali lipat harga baby monitor di toko Go-Lo. Bahkan ada juga yang harganya 5 kali lipat!!

Anyway, benda ini berfungsi secara memuaskan di rumah. Kami bisa meninggalkan ibu tidur sendirian di kamar dengan  tenang karena kalo sewaktu-waktu ibu bangun bisa kedengeran. Alat ini cukup sensitif juga, suara pelan seperti langkah kaki atau gerakan bantal digeser udah cukup untuk mengaktifkannya.

Peristiwa "misterius" terjadi hari ini, di hari ke empat alat ini beroperasi di rumah.

Pagi-pagi, ibu sedang tidur nyenyak sendirian di kamar. Lis, asisten ibu urusan sapu-menyapu, lagi cuci piring di dapur. Tiba-tiba terdengar distorsi dari baby monitor yang disusul dengan... suara ibu sedang menangis tersedu-sedu! Kontan Lis langsung terbirit-birit masuk ke kamar ibu, dan menemukan ibu masih tidur seperti tadi.

Lis agak "bingung", tapi berhubung orangnya nggak banyak ngomong, dia kembali kerja seperti biasa.

Rada siangan dikit, hadir dua orang kakak gue, Mbak Heni dan Mbak Doti. Sama seperti Lis tadi, mereka meninggalkan ibu sedang tidur di kamar. Mereka berdua ngobrol di depan tivi di belakang, ketika si baby monitor kembali membuat ulah. Benda itu mengeluarkan bunyi-bunyian pendek seperti yang biasa terjadi bila mendapat stimulus ringan (misalnya suara langkah kaki atau laci dibuka) habis itu terdengar suara ibu sedang ngobrol sambil tertawa-tawa dengan kakak gue yang bernama Mbak Wati. Suara seorang ibu ngobrol dengan anaknya, sebenarnya bukan hal yang aneh. Masalahnya, kakak gue yang bernama Mbak Wati itu saat ini sedang berada di Makassar!!! Mbak Heni dan Mbak Doti langsung terloncat dari tempat duduk untuk mendatangi ibu di kamar dan yah... bisa ditebak... ibunya sedang tidur pulas!!

Ketakutan, mereka mematikan kedua unit baby monitor sampe gue pulang. Tapi setelah gue ada di rumah, gue coba nyalain lagi benda itu dan nggak ada masalah sama sekali. Berfungsi normal seperti biasa.

Jadi, suara apa - atau siapa - yang tadi terdengar dari baby monitor itu?

Mbak Doti langsung memvonis, "Ini pasti ingon-ingon (peliharaan-bhs. Jawa) -nya Agung..." FYI, beberapa tahun yang lalu memang sempet terjadi sejumlah peristiwa 'misterius' di rumah gue yang udah tua ini, dan beberapa di antaranya didahului oleh celetukan iseng gue yang kebetulan menjadi kenyataan. Semua celetukan gue murni asal ngoceh doang, dan gue nggak pernah merasa punya "peliharaan" dalam bentuk yang nggak kasat mata, tapi sejak itu kakak2 gue selalu menimpakan tanggung jawab atas kejadian-kejadian aneh itu sebagai ulah "peliharaan" gue.

Hmm... ada apa sebenarnya di rumah ini ya?

Foto baby monitor gue ambil dari sini - modelnya beda dengan yang gue punya.