Agung's posts with tag: 80

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag 80
Photo Albumsaying goodbye to a very old friend (17 photos)Nov 28, '07 12:54 PM
for everyone

Januari 1983, bapak gue meninggal. Pada suatu hari Sabtu, beliau pulang kantor dan mengeluh nggak enak badan, lantas muntah darah karena livernya pecah, dan keesokan harinya tanggal 23 Januari 1983, meninggal.

Waktu itu gue masih SD, baru 2 dari 3 kakak gue yang kuliah, dan ibu nggak bekerja. Kami sekeluarga harus mengambil langkah segera untuk memangkas pengeluaran sambil mengatur strategi agar keuangan keluarga nggak gonjang-ganjing. Keputusan pertama yang diambil ibu adalah menjual mobil peninggalan bapak, dan membeli mobil lain yang harganya lebih murah. Kelebihan uangnya disimpan untuk menghidupi kami sekeluarga.

Mobil yang jadi pilihan ibu waktu itu adalah sebuah Toyota Corona Mark II warna putih. Dasar pemikirannya hanya karena almarhum bapak punya hubungan baik dengan Toyota Astra Motor, jadi ibu nggak usah repot survey sana -sini untuk milih mobil. Tinggal telepon, mobil lama diambil dan mobil baru diantar.

Waktu mobilnya dianter ke rumah, kami sekeluarga ternganga liat nomor polisinya, yaitu B 2301 XM...  yang kalo mau dipas-pasin sama dengan tanggal meninggalnya bapak (23 Januari). Padahal waktu itu nggak ada yang secara khusus pesen nomer tertentu.

Sejak saat itu, si Mark II  putih jadi satu-satunya andalan transportasi kami sekeluarga. Dia pernah nganterin kami nyekar ke Jawa Tengah waktu kakak sulung gue mau nikah, juga membantu ibu mengangkut barang dagangan waktu buka cafetaria. Pokoknya, di tangan kami sekeluarga, si Mark II putih bekerja keras dengan perawatan yang sangat minimal.

Yah... maklum aja, dia berada di tangan sebuah keluarga yang buta sama sekali soal permesinan. Gue inget, pada suatu hari di tahun 1985-an, kakak ipar gue nanya ke kakak gue, "Mobil ini kapan ya, terakhir kali diganti olinya?"
Yang dijawab oleh kakak gue dengan pertanyaan juga, "Lho, memangnya oli tuh harus diganti ya? Kenapa?"
Luar biasa memang daya tahan si Mark II putih, 2 tahun lebih dia kerja keras, dipake mondar-mandir sana-sini tanpa pernah ganti oli!

Sekuat-kuatnya mobil, lama-lama dia reyot juga. Pelan-pelan karat mulai menggerogoti bodinya, dan beberapa kecelakaan 'konyol' membuat tampangnya makin lama makin nggak karuan. Antara lain dia pernah ditabrak angkot dari belakang di Bogor, dan bemper depannya pernah dicaplok singa horny di Taman Safari. Gue sendiri pernah dua kali ikut andil memperparah keadaan si Mark II putih. Yang pertama nabrak mobil orang waktu lagi belajar parkir, yang kedua nabrak mobil orang waktu nyetir sambil ngantuk.

Tahun 1997-an, kakak ipar gue yang nggak tega liat penampilan si Mark II putih membawanya ke bengkel perawatan bodi. Lumayan, pulang dari bengkel si Mark II putih nampak agak gantengan dikit - minimal karat2nya hilang. Tapi problem lainnya muncul: mesinnya mulai sering ngadat. Kata kakak ipar gue yang hobi utak-atik mobil, masalahnya terletak pada coil. Akhirnya kalo gue lagi bawa si Mark II putih, gue sedia beberapa botol air dan kain pel di bagasi. Kalo dia ngadat di tengah jalan, buka kap mesin, trus kompres coilnya biar dingin - pasti nyala lagi.

Tahun-tahun segitu gue lagi sibuk-sibuknya bikin skripsi, dan si Mark II putih sering nemenin gue keluyuran di tengah malam. Kalo udah mulai suntuk ngetik skripsi, gue keluarin mobil, trus... ngebut deh keliling Jakarta. Lagipula, kalo dipake jalan malam dia nggak cepat panas, jadi gue merasa lebih PD untuk ngajak dia ngebut keliling jalan tol dalam kota. Nggak ada tujuan jelas mau ke mana, cuma buat obat suntuk aja. Rasanya stress ilang kalo udah ngebut di atas 140 KM/J tanpa seat-belt, dengan jendela dibuka mentok :-) Cuma gue nggak menyarankan kalian melakukan hal yang sama sekarang ya, secara harga bensin sekarang hampir 10 kali lipet harga bensin tahun 1997.

Nggak lama setelah gue lulus kuliah tahun 1998, si Mark II putih akhirnya udah nggak kuat lagi dipaksa jalan. Dia mogok total. Berhubung gue pada dasarnya lebih suka naik kendaraan umum, jadi gue nggak merasa terlalu terganggu dengan absennya si Mark II putih. Bertahun-tahun dia cuma bengong aja ngejogrok di garasi.

Tahun 2005an, gue ada rejeki lebihan dikit, dan ditawarin  seorang temen yang punya bengkel untuk membangunkan si Mark II putih dari tidur panjangnya. Lumayan gede juga dana yang gue keluarkan waktu itu, tapi hasilnya memang oke. Sistem pengapian si Mark II putih diganti dengan tipe 'racing' sehingga tarikannya bisa lebih responsif, tenaganya lebih besar, dan bensinnya lebih irit! Untuk ukuran sebuah mobil tua bermesin 2000cc, konsumsi bensinnya 1 : 7 - nggak jelek kan?

Waktu itu dia sempet gue bawa ke Bandung, nyobain tol Cipularang yang baru dibuka. Si Mark II putih melaju mantap mengalahkan beberapa mobil yang 20 tahun lebih muda dari dia. Bahkan jarum speedometernya nyaris menyentuh angka 160 KM/J. Tapi masalah baru muncul, yaitu suhunya nggak stabil. Saat dipacu maksimal, jarum indikator suhu juga ikut-ikutan naik - jadinya gue nggak berani ngebut di atas 120 KM/J.

Menurut analisa montir langganan, radiator si Mark II putih masih dalam kondisi prima karena habis diservis total, jadi kemungkinan penyebab panas datang dari piston. Dengan kata lain si Mark II putih harus turun mesin.

Belum sempet ngurusin turun mesin, gue harus pergi beberapa hari ke luar kota, sehingga si Mark II putih nggak keurus di rumah. Pas gue pulang, akinya udah keburu soak karena nggak pernah dipanasin (padahal kabel aki udah gue copot lho) dan lagi-lagi si Mark II putih harus jadi hiasan garasi.

Dua tahun lewat sejak 2005, si Mark II putih masih aja bengong di garasi, ketika minggu lalu seorang mas-mas mampir ke rumah dan nanya, "Mas, mobilnya mau dijual nggak?"

Kebetulan, beberapa bulan belakangan gue memang sedang dihujani pertanyaan senada yang datang dari Ida, karena sekarang-sekarang ini kami lagi sibuk nyari rumah tinggal dan masih belum jelas akan dapet rumah kaya apa. Belum tentu rumah kami nanti muat untuk menyimpan sebuah mobil besar yang mogok. Kalo ditanya mau gue, tentunya gue kepingin menghidupkan si Mark II putih lagi. Sejak reparasi besar tahun 2005, udah banyak komponen mesinnya yang diganti baru, jadi gue yakin dia nggak akan butuh terlalu banyak dana lagi untuk kembali berjalan. Cuma masalahnya, sedikitnya akan butuh dana 4-5 juta, sementara secara rasional sekarang ini uang segitu mendingan buat tambahan beli rumah ketimbang buat reparasi mobil bobrok.

Mas Toto, mas-mas yang mampir itu, mengaku dapet info tentang keberadaan mobil gue dari salah seorang temennya yang kebetulan pernah lewat di depan rumah gue. Dia ini katanya hobi ngebangun mobil-mobil tahun 80-an, dan suka ngumpulin info tentang mobil-mobil tua yang bisa dibangun. Gue sendiri nggak pernah merasa ditanyain orang lewat tentang si Mark II putih, tapi mungkin Tuhan memang sengaja mempertemukan gue dengan Mas Toto untuk mengurangi masalah menjelang pindah ke rumah baru.

Akhirnya dengan berat hati gue mempertimbangkan tawaran Mas Toto, dan proses tawar-menawar harga berlangsung selama beberapa hari. Setelah browsing harga sana-sini, gue menemukan bahwa Corona Mark II lain yang seumur dengan si Mark II putih, dalam keadaan sehat dan jalan, rata-rata cuma ditawarkan dengan harga 8 jutaan. Sementara si Mark II putih dalam keadaan ban kempes empat-empatnya, STNK mati sejak Maret 2006, dan mogok. Untuk ban dan STNK aja dibutuhkan duit sedikitnya 2 jutaan, belum beli aki baru dan reparasi mesin. Jadi... yah, gue harus rela melepaskan si Mark II putih dengan harga 3,75jt, nggak sampe separo dari biaya reparasinya tahun 2005.

Malam ini, Mas Toto dateng ke rumah dengan sebuah mobil derek untuk membawa si Mark II putih. Ibu gue sampe bela-belain minta dianter naik kursi roda ke teras untuk melepas kepergian sahabat lamanya. Kita semua tau, si Mark II putih cuma sebongkah logam tua, tapi saking lamanya dia ada di rumah ini, rasanya dia udah jadi bagian dari keluarga ini. Somehow i feel there is a soul deep down inside that old engine...

Selamat jalan Mark II putih, semoga bahagia di tangan pemilik yang baru ya... yang mudah-mudahan bisa merawat dia dengan lebih baik. Gue bilang sama Mas Toto, kalo dia udah selesai ngebangun si Mark II putih, coba kontak gue lagi. Siapa tau saat itu gue lagi ada rejeki untuk ngebeli dia lagi.


ReviewReviewReviewReviewes campur resto Pertemuan (d/h Rendezvous)Nov 18, '07 11:25 AM
for everyone
Category:Restaurants
Cuisine: Asian
Location:Johar, Menteng (dekat Stasiun Gondangdia)

Restoran ini dulunya bernama "Rendezvous", tapi gara-gara ada menteri atau siapalah itu di pertengahan dekade 90-an yang 'menghimbau' (baca: memaksa) agar nama-nama usaha yang berbahasa asing di-Indonesiakan, maka beralihlah namanya menjadi Restoran "Pertemuan".

Dulunya dia berlokasi di Jl. HOS Cokroaminoto, bertetangga dengan bioskop Menteng. Waktu bioskop Menteng digusur, dia pindah ke lokasi barunya di bilangan Johar, dekat Stasiun Gondangdia sampai sekarang. Kalo mau ngebayangin lokasinya dulu, kurang lebih dia berada di lokasi Starbuck sekarang.

Sebenernya yang terkenal dari resto ini adalah somaynya. Tapi berhubung di menunya terpampang masakan 'cap cay babi' dan 'kodok cah', maka gue memilih untuk cukup menikmati aneka es campurnya aja - yang juga istimewa.

Ada 3 jenis es campur di resto ini: es shanghai, es teler dan es sekoteng. Semuanya dibandrol dengan harga yang sama yaitu 10 ribu rupiah (harga th 2007). Yang paling istimewa dari ketiganya menurut gue adalah es sekotengnya, karena ada sedikit aroma kayu manis yang bikin rasanya unik. Porsinya juga pas, nggak terlalu gede.

Tempat ini juga cocok buat yang mau bernostalgia dengan suasana restoran di periode 80-an, karena setting ruangannya boleh dibilang sama persis dengan keadaannya di tahun segitu. Kalo kapan-kapan mampir ke sana, perhatikan kaca pembatas tempat pembuatan es campur yang bertuliskan aneka menu makanan dan minuman: kaca itu adalah kaca asli dari lokasi lamanya di HOS Cokroaminoto.




ReviewReviewReviewReviewSuperman II: The Richard Donner CutJul 24, '07 2:36 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Science Fiction & Fantasy

Berdasarkan info dari Denny di posting gue yang ini, akhirnya gue berhasil nonton film Superman II: The Richard Donner Cut - FULL!! Thanks atas infonya ya Den!

Wah, nggak percuma deh komputer gue kerja lembur selama lebih dari 38 jam non-stop untuk mendownload film ini. Keren banget! Ada banyak adegan yang nggak ada di versi bioskopnya, dan runutan ceritanya juga lebih baik.

Mengingat film ini dibuat berbarengan dengan film Superman: The Movie, maka nggak heran kalo koneksi ceritanya sangat erat berkaitan. Film dibuka dengan beberapa adegan Jor-El mengirimkan 3 penjahat Krypton ke penjara kristal, disambung dengan beberapa cuplikan adegan dari film Superman: The Movie antara lain adegan Luthor meluncurkan 2 buah rudal dan aksi Superman membelokkan rudal2 itu ke angkasa luar. Rudal nyasar itu bertabrakan dengan penjara kristal dari Krypton, dan lepaslah 3 kriminal tadi.

Selain menarik karena menyuguhkan adegan-adegan baru, film ini juga memberikan penjelasan untuk beberapa 'lubang' di plot cerita Superman II versi bioskop, antara lain:

  • Proses Clark Kent kembali bisa jadi Superman setelah kehilangan kekuatannya. Di versi bioskop, cuma dikasih liat Clark jalan-jalan di padang es, nemu kristal hijau, trus tau2 aja udah jadi Superman lagi. Kalo di versi Donner ini, dikasih liat dialog antara Clark dan hologram Jor-El. Dalam dialog itu ada kata-kata yang di kemudian hari muncul di film Superman Returns, yaitu "the son becomes the father, the father becomes the son". Pantesan banyak kritikus yang bilang bahwa 'Superman Returns' adalah kelanjutan dari Superman II dan seharusnya Superman III dan IV nggak pernah ada.
  • Proses membuat Lois Lane melupakan identitas rahasisa Clark Kent. Di versi bioskop, cuma digambarkan keesokan harinya Lois mendadak lupa siapa Clark. Sedangkan di versi Donner, dijelaskan bahwa lagi-lagi Superman terbang mengelilingi bumi dan memutar balik waktu. Seluruh kerusakan yang pernah timbul akibat ulah 3 kriminal Krypton kembali utuh seperti semula, bahkan penjara kristal mereka nggak jadi bertabrakan dengan rudal. Semua orang lupa bahwa bumi pernah didatangi kriminal super dari Krypton. Tapi dengan penjelasan ini malah timbul lubang plot baru, yaitu: kalo memang semua orang lupa, kenapa supir truk dan pemilik diner masih ingat dengan Clark yang pernah digebukin waktu kehilangan kesuperannya?

Beberapa adegan yang hilang dari versi bioskopnya antara lain adegan Lois mencemplungkan diri ke sungai untuk membuktikan bahwa Clark adalah Superman. Di film ini, Lois dua kali mencoba melakukan pembuktian: yang pertama dengan loncat dari jendela gedung Daily Planet, dan yang ke dua dengan cara yang rada ekstrim: Clark ditembak pake pistol! Selain itu beberapa adegan konyol waktu pertempuran antara Superman vs. 3 kriminal Krypton di tengah kota seperti adegan orang yang tetep nelepon walaupun box teleponnya udah ketiup angin, dan adegan orang yang rambut palsunya copot dihilangkan. Salah satu komentar Donner terhadap Superman II versi Lester adalah, "dia memasukkan terlalu banyak unsur komedi di tempat yang tidak seharusnya".

Akhir kata, sama seperti warning gue di awal review yang ini, jangan dengerin review gue kalo filmnya film Superman. Gue udah terlalu bias! :-) Buat yang berminat ngopy film ini, silakan lho mampir2 ke rumah gue.

Foto-foto cuplikan adegan film ini bisa dilihat di album gue yang ini




Beberapa cuplikan adegan film "Superman II: The Richard Donner Cut" yang beda dengan Superman II versi Richard Lester.
Review lengkapnya ada di sini.

Udah pernah tau tentang keberadaan film Superman II: The Richard Donner Cut ?
   
Sensor internet di kantor gue makin lama makin ngeselin: tiap kali ngeklik sebuah link, ada 90% peluang akan kena sensor. Kadang yang disensor suka nggak masuk akal, seperti misalnya link menuju situs Himpsi Jaya (Himpunan Psikologi) - dengan alasan termasuk situs 'professional organization'. Memangnya kenapa sih, takut gue nyari kerjaan lain di luaran, ya?

Karena mau buka ini itu kena block melulu, akhirnya kalo lagi iseng di jam makan siang gue lebih banyak main-main di wikipedia. Awalnya cuma iseng aja, daripada nggak browsing sama sekali, tapi lama-lama gue ketagihan juga main di wiki. Yang bikin seru adalah, dengan nyasar-nyasar asal klik link yang ada di sana, kadang-kadang gue nemu informasi yang sama sekali baru.

Salah satunya adalah tentang keberadaan film yang berjudul Superman II: The Richard Donner Cut. Jadi ceritanya, waktu shooting film Superman the Movie tahun 1977 dulu, rupanya Richard Donner sang sutradara juga udah mulai mengambil gambar untuk sequelnya, Superman II. Jadi film Superman I dan II dishoot secara simultan.

Tapi karena ada berbagai perselisihan dengan sang empunya proyek yaitu Alexander dan Ilya Salkind, Donner meninggalkan proyek Superman II setelah 75% adegan selesai dishoot. Posisinya sebagai sutradara lantas digantikan oleh Richard Lester.

Tahun 2006, Donner mendapat kesempatan untuk meneruskan proyeknya yang tertunda dan merilisnya dalam bentuk DVD. Konon, 51% gambar yang muncul di film Superman II versi Richard Donner ini belum pernah disaksikan penonton sebelumnya, karena dulunya dibabat oleh Richard Lester di meja editing dengan berbagai alasan. Selain itu, Donner juga menambahkan beberapa computer generated special effects, agar filmnya bisa memuaskan ekspektasi penonton jaman sekarang yang tentunya udah lebih tinggi daripada penonton tahun 80-an. Walaupun bukan yang pertama kali terjadi dalam sejarah, tapi peristiwa ini adalah peristiwa yang sangat jarang; di mana seorang sutradara kembali meneruskan film yang pernah digarapnya - bahkan udah pernah rilis di tangan sutradara yang berbeda.

Gue sendiri belum nonton film ini, tapi penasaran banget ingin liat kayak apa sih Superman II versi Donner ini. Seru kali ya? Kalo ada yang punya info di mana gue bisa beli DVDnya, kabar2in ya!

Update: Hore! Udah berhasil nonton film ini. Reviewnya bisa diklik di sini;. Cuplikan adegannya bisa dilihat di sini.

Gambar cover DVD dan keterangan lengkap tentang film Superman II: The Richard Donner Cut bisa diklik di halaman wiki yang ini. Sedangkan cerita seputar kontroversi di balik pembuatan film Superman II bisa diklik di sini.


Blog Entrysiapa bilang posting berantai nggak ada gunanya?Feb 16, '07 10:49 AM
for everyone

Tadinya sih gue ogah-ogahan waktu bikin journal berantai tentang 'records' yang ini. Tapi ternyata posting itu membawa berkah.
Diawali dengan masuknya sebuah SMS pagi ini yang berbunyi,
gung, cd mp3 warkops dah ada. gw antar ke ktr lo bgmn. ktr lo dimana sih.tx. Anwar.
Whaaaat??? Yang bener nih?

Memang si Anwar, yang mana adalah temen seangkatan di psiko ui dulu, sempet reply di journal yang tadi bahwa dia punya mp3 warkop komplit yang dia rekam dari koleksi kaset lama.
Wah, tentu aja sms menarik itu langsung gue reply secara sangat positif, dan... bener aja, sekitar 1 jam kemudian dia udah nyampe di kantor gue, bawa CD mp3 Warkop komplit! Yippiee..!!

Alhamdulillah, gara2 posting berantai, gue bisa dapet benda langka yang udah lama banget gue idam2kan. Thanks a LOT ya War, gimana balas dendamnya nih... udah direkamin, dianterin pulak... pokoknya I love you banget! Huhuhuhu...!



Pesan moral; sesuatu yang tadinya nampak seperti kegiatan iseng doang ternyata bisa mendatangkan manfaat. Siapa bilang posting berantai nggak ada gunanya, heh?


Gold Account



This is my Google PageRankâ?¢ - SmE Rank free service Powered by Scriptme
KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
' /
Mau dikabari via e-mail kalo ada posting baru? Klik di sini


kotakkue.com
rumahnya risol kribo



Yang terbaru dari
Planet Holiday
Tour & Travel


pernah baca ini?

Silakan teriak di sini:




View Agung Nugroho's profile on LinkedIn

tracker

Save halaman ini di:

Subscribe with Bloglines' /







© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help

Modified from Mediterranean by John Whittet.
Originally on the CSS Zen Garden.
Used and Modified with permission from the author.