
Soal masak - memasak, dari dulu
Ida memang udah hobi. Tapi intensitas hobinya yang satu ini jadi meningkat pesat waktu beberapa minggu yang lalu dia menemukan website
Natural Cooking Club.
Website yang memuat resep-resep plus aneka tips memasak ini juga punya milis, dan punya kegiatan kursus masak mingguan yang dikelola secara sangat profesional. Ida sempet ikutan kursusnya satu kali, dan abis itu jadi rewel minta beliin
oven tangkring.
Walaupun rada nyebelin karena sejak keranjingan masak jadi males olah raga dan sepedaan, tapi dampak positifnya adalah gue jadi dapet pasokan makanan enak-enak. Tapi yang nggak terduga adalah efeknya terhadap Ibu gue.
Pasalnya, di NCC itu banyak ibu-ibu rumah tangga yang berbisnis makanan dengan omzet yang cukup mencengangkan
(seriously - I'm talking about seven to eight figures numbers here). Ida lantas bercita-cita ingin ikutan berbisnis makanan dan menceritakan niatnya ini kepada Ibu. Sebagai veteran pebisnis makanan, kontan Ibu menyambut gembira. Dengan bersemangat Ibu berjanji akan menurunkan ilmu masaknya kepada Ida.
Tadinya gue kira Ibu cuma basa-basi doang. Eh, tau-tau hari Sabtu kemarin muncul dua orang bapak tua di rumah gue, mengaku ditelepon ibu untuk menservis kompor! Bukan cuma itu; hari ini Ibu juga diam2 udah mengutus Lis, asistennya urusan sapu-menyapu untuk belanja bahan makanan di supermarket. Sorenya, waktu Ida bangun tidur siang, Ibu udah standby di dapur siap menurunkan ilmu pertamanya!
Dari tiga orang anak perempuan ibu, nggak ada satupun yang tertarik mewarisi ilmu masak-memasak - apalagi berniat untuk menjadikannya sumber penghasilan. Makanya ibu semangat banget waktu tau menantunya ternyata berminat menekuni bidang yang jadi keahliannya dulu.
Dipikir-pikir, nggak papa deh Ida jadi males olah raga - karena hobinya ternyata bisa memberikan semangat hidup baru buat mertua...
Foto: Ibu dan Ida di dapur.